METODE PENELITIAN
4.2. Rumusan Kebijakan Pendidikan Gratis 1 Payung Hukum
4.2.2 Sumber Anggaran
merupakan aset sangat menentukan maju mundurnya suatu daerah. Sebagai provinsi yang baru berkembang, Gorontalo membutuhkan fokus dan sasaran pembangunan yang dapat mempengaruhi sektor lain secara akseleratif dan diharapkan dapat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan, watak serta bermartabat dalam kehidupannya melalui perkembangan potensi, disertai dengan akhlak mulia, kecakapan, kreatifitas dan kemandirian dalam suatu negara.
Konsep tersebut sangat ideal dan mulia, tapi pada tataran implementasi kebijakan masih ditemukan adanya hambatan dan gesekan dari sisi koordinasi pemerintahan antara pemerintah Provinsi Gorontalo dengan para bupati/walikota, baik secara tekhnis maupun secara manejerial, oleh karena belum adanya regulasi yang tegas memberi tekanan ke pemerintah kab/kota.
4.2.2 Sumber Anggaran
Merumuskan sebuah kebijakan sampai dengan tataran implementasinya secara realistis harus diikuti oleh anggaran sebagai sumber pembiayaan. Penyelenggaraan kebijakan pendidikan gratis, sangat terkait langsung dengan anggaran dan perencanaan dalam nilai moneter. Konsep anggaran dalam berbagai cara telah menekankan pada dimensi politiknya, apa lagi program kebijakan pendidikan gratis untuk rakyat, yang rumusannya lahir dari aktor seorang pejabat publik berasal dari warna politik tertentu berbeda dengan warna politik keanggotaan pada institusi DPRD.
Pada tahap berikutnya memfokuskan tentang bagaimana konflik yang terjadi disekitar dalam pembahasan anggaran telah diperluas dan diperdalam serta bagaimana konflik tersebut telah dipecahkan dalam konteks institusional, dalam
48
hal ini lembaga legislatif dapat menjalankan fungsi budgeting. Sejak dicanangkan program pendidikan gratis tahun 2012 sebagai konsekwensi tanggung jawab politik aktor pejabat publik, dalam hal ini Gubernur Rusli Habibi dan Wakil Gubernur Idris Rahim kepada masyarakat yang mempercayainya.
Perumusan kebijakan tersebut melalui tahapan yang panjang, termasuk pembahasan melalui DPRD Provinsi Gorontalo. Pemerintah daerah telah menetapkan total anggaran operasional sekolah sebesar Rp 34. 106. 400 .000 (Tiga puluh empat miliyar, empat ratus juta, empat ratus ribuh rupiah) bersumber dari dana alokasi umum (DAU). Anggaran ini untuk biaya operasional satuan pendidikan se provinsi gorontalo tahun 2012. Bantuan hibah penyelenggaraan pendidikan gratis bagi sekolah jenjang pendidikan menengah atas, dengan jumlah siswa 32.843 orang, tersebar pada 113 sekolah yang ada di kabupaten/kota Provinsi Gorontalo.
Dalam penelitian ini peneliti membatasi pada lingkup operasional sekolah pada jenjang menengah atas. Untuk lebih jelasnya uraian anggarannya perjumlah siswa sebagai berikut:
Tabel 3: Penerima Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan Gratis bagi SMA/Sederajat Tahun 2012
No. Kabupaten/Kota Jumlah
Sekolah Jumlah Siswa Anggaran (Rp) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kota Gorontalo Kabupaten Gorontalo Kabupaten Boalemo Kabupaten Pohuwato Kabupaten Bone Bolango Kabupaten Gorontalo Utara 6 37 18 21 16 15 1234 12.201 5.051 5.592 4.785 3.980 988.400.000 12.846.400.000 5.417.000.000 5.493.200.000 5.172.400.000 4.106.400.000 Jumlah 113 32.843 34.106.400.000
49
Penetapan anggaran diatas belum menjangkau semua sekolah dan siswa, khususnya di Kota Gorontalo. Ada 16 sekolah, baik swasta/negeri dan kurang lebih 9.040 siswa belum memperoleh bantuan penyelenggaraan pendidikan gratis ditahun anggaran 2012. Bantuan hibah dari pemerintah Provinsi Gorontalo ini ditunggu dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dikota Gorontalo ingin menyekolahkan putra/putrinya pada jenjang SMA/sederajat.
Tidak kunjung datangnya bantuan ini disebabkan oleh perseteruan para aktor pejabat publik antara Gubernur Rusli Habibi dengan Walikota Gorontalo Adhan Dambea. Perseturuan kedua aktor ini sesungguhnya bermula dari proses perjalanan politik disaat pemilihan gubernur kepala daerah, berada pada dua sisi berbeda idiologi yaitu idiologi peserta pemenang versus belum beruntung. Walikota Adhan Dambea berada pada sisi idiologi belum beruntung.Perseturuan ini berkepanjangan sehingga berimplikasi pada semua kebijakan pemerintah Provinsi untuk masyarakat dikota Gorontalo, termasuk bantuan anggaran operasional penyelengaraan pendidikan gratis ditolak oleh walikota Gorontalo Adhan Dambea. Terkecuali bagi sekolah menengah atas dibawa binaan kementerian Agama RI.
Dikota Gorontalo ada 6 sekolah masing-masing sebagai berikut:
Tabel 4 Nama-Nama Sekolah Binaan Kementrian Agama RI di Kota Gorontalo
No. Nama Sekolah Jumlah
Siswa Satuan Biaya/Semester Total Anggaran 1. MA AL-YUSRA 70 1.000.000 70.000.000 2. MA MUHAMMADIYAH 138 1.000.000 138.000.000 3. MA AL-HUDA GORONTALO 178 1.000.000 178.000.000
50
4. MA AL-KHAIRAT KOTA
GORONTALO 153 1.000.000 153.000.000
5. MA NURUL YAQIN 91 1.000.000 81.000.000
6. MAN MODEL GORONTALO 614 600.000 368.4000.000
Total Dana 1234 988.400.000
Sumber: Lampiran SK Gubernur Gorontalo, Tahun 2012
Mencermati data tersebut diatas jumlah siswa tersebar pada 6 sekolah yang memperoleh bantuan hanya 1.234 siswa dengan total anggaran Rp. 988.400.000 (sembilan ratus delapan puluh delapan ribuh, empat ratus ribuh rupiah). Dengan nominal yang ditetapkan Rp 1000,000/siswa/tahun untuk 5 sekolah dan 1 sekolah Rp 600.000/siswa/tahun. Sehingga masih ada 9040 siswa belum memperoleh anggaran, diperkirakan untuk 9 SMK a Rp. 1.200.000/siswa/tahun atau Rp. 10.800,000/siswa/tahun. Untuk 7 SMA a Rp. 1000.000/siswa/tahun atau Rp. 7000.000/siswa/tahun. Berarti anggaran tidak terserap akibat perseturuan ini rata-rata Rp 1000.000 saja dikali 9040 siswa, bagi yang belum menerima diperkirakan ada Rp. 9.400.000.000 (sembilan miliyar empat ratus juta rupiah) yang dikembalikan ke kas daerah Provinsi Gorontalo. Dalam arti tidak dipergunakan atau dialihkan peruntukannya pada kegiatan lain. Sedangkan penetapan penerima bantuan penyelenggaraan program pendidikan gratis bagi sekolah jenjang menengah se Provinsi Gorontalo semester 1.Tahun Anggaran 2013 sebagai berikut:
51
Tabel 5. Penerima Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan Gratis Bagi SMA/Sederajat di Provinsi Gorontalo, Semester 1Tahun2013
No. Kabupaten/Kota Jumlah
Sekolah Jumlah Siswa Anggaran (Rp) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kota Gorontalo Kabupaten Gorontalo Kabupaten Boalemo Kabupaten Pohuwato Kabupaten Bone Bolango Kabupaten Gorontalo Utara 22 37 19 23 16 15 10.274 12.376 5.083 5.642 4.889 4.080 5.558.300.000 6.523.000.000 2.726.300.000 2.994.400.000 2.647.700.000 2.105.200.000 Jumlah 132 42.344 22.554.900.000
Sumber: Lampiran SK Gubernur Gorontalo Tahun Anggaran 2013
Melihat data diatas berbeda dengan penetapan penerima bantuan penyelenggaraan pendidikan gratis tahun anggaran 2012, baik dari jumlah sekolah, jumlah siswa dan volume anggaran. Perbedaan ini telah terjadi perubahan yang signifikan ditahun 2013, yakni jumlah sekolah di Kota Gorontalo ketambahan 16 sekolah, jumlah siswa bertambah 9040 siswa dan volume anggaran dikali 2 semester menjadi Rp. 11.116.600.000, kenaikannya cukup signifikan dibanding tahun 2012. Jadi dari sisi anggaran tahun 2013 ketambahan Rp. 10.128.200.000.
Perkembangan ketambahan sekolah sejumlah 16 diatas, bukan berarti secara fisik belum ada, sesungguhnya sejumlah sekolah itu ditahun 2012 sudah dianggarkan, hanya pemerintah Kota Gorontalo dibawah kepemimpinan Adhan Dambea belum siap menerima kebijakan pendidikan gratis untuk masyarakat dikota Gorontalo. Kondisi seperti ini ditahun anggaran 2013, sekalipun sudah diploting pada APBD tidak semulus prediksi dari awal perencanaan.
52
Untuk bantuan penyelenggaraan pendidikan gratis semester 1 periode bulan Januari-Juni tetap saja ditolak oleh Pemda Kota Gorontalo. Nanti pada semester II periode bulan Juli-Desember 2013, kebijakan ini sudah diterima oleh Pemda Kota Gorontalo, karena kepemimpinan Walikota Adhan Dambea sudah berakhir dipenghujung bulan Juni 2013. Dalam perkembangan lain, Kabupaten Boalemo ketambahan 1 sekolah, jumlah siswa bertambah 175 siswa, volume anggaran dikalikan 2 semester menjadi Rp 5.452. 600.000, naik Rp 35.600.000 dibanding tahun anggaran 2012. Kabupaten Pohuwato ketambahan 2 sekolah, jumlah siswa 5.642 siswa, ketambahan 50 siswa, volume anggaran dikali 2 semester menjadi Rp 5.988. 800.000, naik Rp 45.600.000. (empat puluh lima miliyar, enam ratus juta rupiah)
Jadi dari ketiga daerah dikab/kota tersebut, jumlah sekolah bertambah 19 sekolah, jumlah siswa 9.265 siswa dan secara pasti berimplikasi pada volume anggaran bertambah menjadi Rp. 10.209.400.000 tahun anggaran 2013. Tiga daerah lainnya, masing-masing Kab. Gorontalo, Kab. Bone Bolango dan Kab. Gorut, jumlah sekolah tetap, tidak bertambah. Namun jumlah siswa di Kab. Gorontalo meningkat 175 siswa, volume anggaran dikalikan 2 semester menjadi Rp. 13.046.000.000. Ketambahan Rp. 200.400.000 ditahun 2013. Di kabupaten Bone Bolango jumlah siswa bertambah 104 siswa, volume anggaran untuk 2 semester menjadi Rp. 5.295.400.000, ketambahan Rp. 123.000.000, dan di Kabupaten Gorontalo utara, jumlah siswa bertambah 100 siswa, volume anggaran dikali 2 semester menjadi Rp. 4.210.400.000, ketambahan Rp. 104.000.000. Untuk tiga daerah terakhir yakni Kab. Gorontalo, Kab. Bone Bolango, dan Kab
53
Gorontalo Utara, jumlah siswa seluruhnya bertambah 379 siswa, dan jumlah anggaran naik mencapai Rp. 327.400.000.
Dengan demikian total anggaran tahun 2013 dikali 2 semester yaitu 2 x Rp. 22.554.900.000 (Lamp. SK Gubernur Gorontalo) menjadi Rp 45.109.800.000. Jadi dibanding dengan anggaran tahun 2012, bantuan dana hibah penyelenggaraan kebijakan pendidikan gratis tahun 2013, terpaut Rp. 11.536.000.000 (sebelas miliyar, lima ratus tiga puluh enam juta) naik kurang lebih 22%. Sekalipun pada semester dua ini Kabupaten Gorontalo Utara menolak bantuan hibah penyelenggaraan pendidikan gratis.(Gorontalo Post, Senin, 16 September 2013). Namun disisi lain kondisi ini menunjukkan kesungguhan dan poliical will pemerintah provinsi Gorontalo tentang penyelenggaraan pendidikan gratis kepada masyarakat. Hanya disesalkan program ini berlaku secara universal atau sama rata, dalam arti tidak mengklasifikasikan mana siswa yang mampu dengan siswa berada pada posisi kurang mampu. Menjadi dasar pertimbangannya adalah sbb: (1) Dari sisi efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan, karena kondisi ini kalau
dibiarkan berlaku seperti sekarang, kedepan akan menjadi beban APBD dalam arti menjadi beban pemerintah daerah.
(2) Biaya penyelenggaraan program pendidikan gratis dalam bentuk ”hibah”, jangan sampai melampaui batas kewajaran plafon anggaran akan ada pembatasan maksimal dalam bentuk regulasi. Sehingga efektifnya penerima bantuan ini lebih ditujukan kepada siswa kurang mampu, apalagi siswa yang memiliki potensi akademik yang baik dan benar-benar membutuhkan pembiayaan.
54
(3) Sekalipun ada bantuan operasional sekolah dari Pemda Provinsi Gorontalo, tetap saja masih ada pungutan-pungutan dari sekolah melalui komite orang tua yang nominalnya cukup besar. Kondisi kebijakan sekolah seperti ini semakin lebih memperparah sulitnya pada masyarakat tertentu menikmati pendidikan secara adil, merata dan bermutu.
Memang ada kontrak perjanjian antara pemerintah Provinsi Gorontalo dengan pihak sekolah, namun dari sisi yuridis lemah. Oleh karena sekolah secara khirarkhi struktural tidak memiliki hubungan secara langsung dengan pihak pemerintah Provinsi Gorontalo. Pihak sekolah lebih memiliki hubungan khirarkhi dan ikatan emosional secara langsung dengan para Bupati/Walikota, ketimbang dengan Gubernur. Disini posisi Sekolah hanya sifatnya membantu program Pemda Provinsi Gorontalo, namun sekalipun kebijakan pendidikan Gratis ini dominan bernuansa politis, sedikitnya dapat membantu dan meringankan beban orang tua menyekolahkan putra-putrinya.