• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah penderita DBD di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama.

d Sumber Data

1) Laporan kasus Filariasis ( Pedoman Penatalaksanaan kasus klinis filariasis)

2) Laporan survey darah jari ( Pedoman Penemuan Daerah Endemis Filariasis)

e. Rujukan

1) Pedoman Program Eliminasi Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) di Indonesia, Departemen Kesehatan RI, Dirjen PPM & PL;

2) Epidemiologi Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) di Indoesia, Departemen Kesehatan RI, Dirjen PPM & PL;

3) Pedoman Penentuan Daerah Endemis Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) di Indonesia, Departemen Kesehatan RI, Dirjen PPM & PL;

4) Pedoman Pengobatan Massal Penyakit Kaki Gajah (Filariasis), Departemen Kesehatan RI, Dirjen PPM & PL;

5) Pedoman Penatalaksanaan Kasus Klinis Penyakit Kaki Gajah (Filariasis), Departemen Kesehatan RI, Dirjen PPM & PL;

6) Pedoman Promosi Kesehatan Dalam Elimininasi Penyakit Kaki Gajah (Filariasis), Departemen Kesehatan RI, Dirjen PPM & PL; 7) Desaku Bebas Filariasis, Departemen Kesehatan RI, Dirjen PPM &

PL. f. Target f. Tahun 2005 : 50 % g. Tahun 2010 : 90 % g. Langkah Kegiatan ƒ Penemuan Kasus :

Penemuan kasus dapat diperoleh di Unit Pelayanan Kesehatan (Puskesmas, Rumah Sakit, dll) dan penemuan di masyarakat melalui survei.

ƒ Tatalaksana kasus :

a). Tatalaksana penderita klinis akut dan kronis dilakukan di unit pelayanan kesehatan dan perawatan dirumah. Untuk kasus yang baru ditemukan langsung diberikan DEC 3x100 mg

128

selama 10 hari, kemudian diikutkan dalam pengobatan massal. Penderita dengan serangan akut, diberi antibiotik dan obat simptomatik lain terlebih dulu sampai gejala klinis mereda, baru kemudian diberikan DEC. Perawatan meliputi pencucian, pemberian salep anti jamur/anti bakteri, peninggian bagian tubuh yang mengalami lymphodema, gerakan/exercise, dan pemakaian alas kaki yang tepat. Setiap penderita dianjurkan untuk menjaga personal hygiene.

b). Pengobatan kasus non klinis dengan obat DEC 3x100 mg selama 10 hari, kemudian diikutkan dalam siklus pengobatan massal dengan obat DEC, Albendazole dan Paracetamol. 3) Peningkatan SDM

Melalui kegiatan antara lain : Pelatihan tenaga pengelola filariasis Puskesmas dan Kabupaten, Pelatihan tenaga pengelola mikroskopis filariasis Puskesmas dan Kabupaten, dan Peningkatan SDM keluarga penderita dan kader di Puskesmas.

4) Monitoring dan Evaluasi (Monev) Melakukan supervisi secara berjenjang.

Pelaksanaan surveilans kasus klinis dan survey darah jari. 5) Promosi

Melaui kegiatan kegiatan advokasi, penyuluhan dan sosialisasi di Rumah Sakit, Puskesmas, Masyarakat, dan kader.

6) Survei darah jari

Dilakukan untuk menentukan suatu daerah endemis filariasis atau tidak, dan untuk evaluasi setelah pengobatan massal. Persiapan yang dilakukan antara lain pelatihan tenaga puskesmas (on the job training) dan penyiapan masyarakat. Dalam penyiapan masyarakat diperlukan koordinasi dan penggerakan oleh perangkat/tokoh-tokoh (agama, masyarakat, pemuda, dll) di desa.

7) Pengobatan massal untuk 1 Kecamatan Implementation Unit (IU) : a). Untuk memutuskan rantai penularan filariasis melalui

pengobatan massal setiap tahun selama minimal 5 tahun. b). Pelatihan kader/TPE (Tenaga Pembantu Pengobatan).

c). Diperlukan penyiapan masyarakat dengan penyuluhan, serta koordinasi dan penggerakan masyarakat oleh perangkat desa dan tokoh-tokoh (masyarakat, agama, pemuda, dll).

129

KEPUSTAKAAN

1. Departemen Kesehatan RI, Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota, Jakarta, 2003.

2. Departemen Kesehatan RI, Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan, Jakarta, 2003.

3. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI, Nomor: SE.440/572/OTDA tanggal 14 April 2003, tentang Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan.

4. Departemen Kesehatan RI, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten Sehat, Jakarta, 2003

5. Ahmad Sujudi et al, Perjalanan Menuju Indonesia Sehat 2010,

Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 2002

6. Departemen Kesehatan RI, Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004, Jakarta, 2001

7. Departemen Kesehatan RI, Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan, Jakarta, 2001

8. Departemen Kesehatan RI, Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010, Jakarta, 1999

130

9. Mills, Anna dan Vaughan, J.Patrick et al(Editor), Desentralisasi Sistem Kesehatan, Konsep-konsep, isu-isu dan pengalaman di berbagai negara, penerjemah dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, penyunting dr. Susanto Agus Wilopo,M.Sc,D.Sc, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2002

10. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan

Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom

(Lembaran Negara tahun 2000 No. 54)

11. Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 2001 tentang Pembinaan dan

Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran

Negara tahun 2001 No. 41)

12. Prijono Tjiptoherijanto, SE, MA, Ph.D dan Budi Susetyo, SE, M.Sc, Ph.D,

Ekonomi Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1994

13. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara

14. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. X/MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi

15. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2000 tentang

Program Pembangunan Nasional tahun 2000-2004, (Lembaran Negara tahun 2000 No. 206)

16. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara tahun 1999 No. 60,

Tambahan Lembaran Negara No. 3899)

17. Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 tahun 1999 tentang

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara No. 3848)

18. Undang-Undang Republik Indonesia No. 28 tahun 1999 tentang

Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3851)

19. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara tahun 1992 No. 100, Tambahan

134

KEPUSTAKAAN

20. Departemen Kesehatan RI, Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota, Jakarta, 2003.

21. Departemen Kesehatan RI, Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan, Jakarta, 2003.

22. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI, Nomor: SE.440/572/OTDA tanggal 14 April 2003, tentang Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan.

23. Departemen Kesehatan RI, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten Sehat, Jakarta, 2003

24. Ahmad Sujudi et al, Perjalanan Menuju Indonesia Sehat 2010,

Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 2002

25. Departemen Kesehatan RI, Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004, Jakarta, 2001

26. Departemen Kesehatan RI, Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan, Jakarta, 2001

27. Departemen Kesehatan RI, Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010, Jakarta, 1999

28. Mills, Anna dan Vaughan, J.Patrick et al(Editor), Desentralisasi Sistem Kesehatan, Konsep-konsep, isu-isu dan pengalaman di berbagai negara, penerjemah dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, penyunting dr. Susanto Agus Wilopo,M.Sc,D.Sc, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2002

29. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan

Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom

(Lembaran Negara tahun 2000 No. 54)

30. Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 2001 tentang Pembinaan dan

Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran

Negara tahun 2001 No. 41)

135

Ekonomi Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1994

32. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara

33. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. X/MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi

34. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2000 tentang

Program Pembangunan Nasional tahun 2000-2004, (Lembaran Negara tahun 2000 No. 206)

35. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara tahun 1999 No. 60,

Tambahan Lembaran Negara No. 3899)

36. Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 tahun 1999 tentang

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara No. 3848)

37. Undang-Undang Republik Indonesia No. 28 tahun 1999 tentang

Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3851)

38. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara tahun 1992 No. 100, Tambahan

Dokumen terkait