• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Daya Alam Negara berwenang me

Dalam dokumen Siti Kotijah, S.H., M.H. (Halaman 91-96)

nguasai bumi, air dan ruang angkasa. Inilah yang dimak-sud dengan Hak Menguasai Negara (HMN) dalam kon- teks sumberdaya alam.

Pasal 33 ayat (3) Un-dang-Undang Dasar 1945 me-nyatakan: “Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh nega-ra dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmur-an rakyat.” Dalam penjelaskemakmur-an- penjelasan-nya di alinia 4 pra-amande-men disebutkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya adalah pokok-pokok kemak-muran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan di -

Box 2.4

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999

Pasal 4

1. Semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 2. Penguasaan hutan oleh

negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberi wewenang kepada pemerintah untuk: a. Mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, dan hasil hutan;

b. Menetapkan status wilayah tertentu sebagai kawasan hutan atau bukan kawasan hutan; dan c. Mengatur dan

menetapkan

hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan hutan, serta mengatur perbuatan-perbuatan hukum mengenai kehutanan.

86

pergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya diterima atau dilakukan oleh pihak tertentu dan tidak dapat oleh pihak lain mana pun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya. Relevansi anta-ra hak dengan Pasal 33 ayat 3 adalah hubungan penguasaan. Dengan demikian, penguasaan atas bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dimaksudkan untuk kemak-muran rakyat Indonesia. Jadi, HMN bisa dimaknai sebagai legalisasi kekuasaan pemerintah terhadap hutan. Sedangkan hutan merupakan salah satu sumberdaya alam. Pasal 33 ayat 3 memang tidak menjelaskan maksud ”dikuasai” oleh negara. Penjelasan otentik tentang pengertian bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya (termasuk hutan) dikuasai oleh negara, termuat dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 1999 (box 2.4).

Definisi hutan menurut Pasal 1 Undang-Undang Kehuta-nan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persatuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Pada bagian penjelasan disebutkan bahwa penguasaan hutan oleh negara bukan merupakan pemili-kan. Negara memberi wewenang kepada pemerintah untuk:  mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan,  menetapkam kawasan hutan dan atau mengubah status kawasan hutan,  mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang dengan hutan atau kawasan hutan dan hasil hutan, serta  mengatur perbuatan hukum mengenai hutan. Di samping itu, pemerintah mempunyai wewenang memberikan izin dan hak kepada pihak lain untuk melakukan kegiatan di bidang kehutanan.

87

Guna melaksanakan hak yang diberikan negara serta memperhatikan ketentuan Pasal 6 UU Nomor 41 Tahun 1999 jo UU Nomor19 Tahun 2004 tentang fungsi, maka pemerintah menentukan sasaran pembangunan di bidang kehutanan pada agenda pembangunan nasional 2004-2009 (lihat box 2.5 di bawah ini). Dengan demikian, Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Kehutanan merupakan pelaksana Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Konsep dan asas hukum tersebut menegaskan bahwa hutan yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa harus diurus dengan prinsip-prinsip lestari. Oleh karenanya, harus dilin-dungi, dijaga dan dimanfaatkan secara baik.

Praktik Penguasaan Hutan

Hak Menguasai Negara (HMN) atas hutan berdasarkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, pemerintah memperoleh penda-patan dari subsektor kehutanan yang dipungut dari iuran, provisi dan dana reboisasi dari pemegang perizinan usaha kehutanan. Sungguh tidak bijak jika pemerintah mengedepan-kan sektor pendapatan dengan mengabaimengedepan-kan pelestarian hutan berikut keanekaragaman hayatinya. Di samping itu, pemerintah mesti mengontrol perilaku korporasi di sektor kehutanan.

88

Sayangnya, praktik penguasaan hutan oleh pe-merintah lebih banyak memberikan ruang kepada pemodal. Asas pemanfaat-an hutpemanfaat-an untuk sebesar-be-sarnya kemakmuran rak-yat, khususnya masyarakat lokal, belum diterapkan secara optimal oleh peme-rintah. Hal ini terbukti de-ngan tingkat kemakmuran rakyat yang berdomisili di sekitar hutan masih mem-prihatinkan.

Penerbitan perizinan dengan daya obral juga menyebabkan kerusakan

hutan mencapai titik kulminasi memprihatinkan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia mencatat bahwa laju kerusakan hutan pada kurun waktu 1998-2000 menembus angka 3,8 juta hektare per tahun. Sedang Forest Watch Indonesia (FWI)

Box 2.5

Sasaran Pembangunan Kehutan-an 2004-2009

1. Tegaknya hukum, khususnya pemberantasan pembalakkan liar dan penyelundupan kayu. 2. Penetapan kawasan hutan

dalam RTRWP se-Indonesia, setidaknya 30% dari luas hutan yang telah ditata-batas. 3. Penyelesaian penetapan

kesatuan pengelolaan hutan. 4. Optimalisasi nilai tambah dan

manfaat hutan.

5. Meningkatkan hasil hutan non kayu sebesar 30% dari produksi tahun 2004.

6. Bertambahnya hutan tanaman industri (HTI), minimal seluas lima hektare, sebagai basis pengembangan ekonomi hutan.

7. Konservasi hutan dan rehabilitasi lahan di 282 DAS prioritas untuk menjamin pasokan air serta sistem penopang kehidupan lainnya. 8. Desentralisasi kehutanan

melalui pembagian wewenang dan tanggung-jawab yang disepakati oleh Pusat dan Daerah.

9. Berkembangnya kemitraan antara pemerintah,

pengusaha dan masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari.

89

menyatakan bahwa tingkat percepatan kerusakan hutan pada tahun 2001-2003 mencapai 4,1 juta hektare per tahun.

Kerusakan hutan tersebut mengakibatkan memburuknya kondisi lingkungan hidup di tanah air. Pengelolaan hutan yang tidak sesuai dengan daya dukungnya mengakibatkan kerusakan ekosistem alam. Di sisi lain, masyarakat lokal sebagai penjaga kelestarian hutan tergusur dari habitatnya. Praktik politik kehutanan tersebut tidak dilepaskan dari paradigma pengurusan hutan yang salah kelola. Atas nama HMN, pemerintah me-nguasai, mengatur, mengelola dan mengusahakan hutan untuk memperbesar sumber pendapatan formal dan informal. Melalui piranti hukum, pemerintah cenderung mengabaikan hak-hak masyarakat atas sumber daya hutan.

Proses marginalisasi tersebut tidak hanya menenggelam-kan sumber-sumber kehidupan masyarakat, melainmenenggelam-kan “mema-tikan” kekayaan sosial dan kultur masyarakat (social and

cultural assets), khususnya pengetahuan, teknologi, tradisi dan

praktik-praktik pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan masyarakat. * (Artikel ini semula berjudul:

90

ekanisme perdagangan kayu internasional dan isu per-ubahan iklim dunia membawa perper-ubahan pengolalaan hutan di Indonesia. Pemerintah memberlakukan sertifikasi atau labelisasi (ecolabelling) atas produk kayu yang diambil dari hutan. Harapan hutan hujan bakal lestari terbuka lebar, tapi siapa yang diuntungkan?

Sejak berlangsungnya konperensi Stockholm pada tahun 1972, masalah lingkungan hidup menjadi isu global. Pandangan mata dunia tertuju pada hutan yang mengalami krisis kelesta-rian karena mengalami eksploitasi berlebihan, tak terkecuali di Indonesia melalui melalui obral perizinan dalam tata hukum kehutanan yang tumpang tindih dan aktivitas pembalakan. pula yang menjadi salah satu agenda pembicaraan di pertemuan

International Tropical Timber Organization (ITTO) ke-8 yang

berlangsung di Bali pada tahun 1990. Sidang tersebut salah

M

Dalam dokumen Siti Kotijah, S.H., M.H. (Halaman 91-96)