• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENDEKATAN TEORITIS

B. Sumber Daya Manusia Dalam Islam

Manusia dapat diatikan sebagai makhluk yang berakal budi. Manusia juga dapat diartikan sebagai sebuah konsep atau fakta , sebuah kelompok genus atau seseorang individu dalam hubungan dengan lingkungan yang merupakan suatu organisme hidup. Sumber Daya Insani ( SDI ) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah Organisasi41, baik institusi maupun perusahaan. SDI juga merupakan kunci yang menentukan perkembangan perusahaan. Pada hakikatnya, SDI berupa manusia yang dipekerjakan di sebuah organisasi sebagai penggerak untuk mencapai tujuan organisasi itu.

Warther dan davis yang dikutip oleh Edy Sutrisno mengatakan bahwa sumber daya insani adalah pegawai yang siap,mampu, dan siaga dalam mencapai tujuan - tujuan organisasi. Timbulnya kebutuhan untuk membantu organisasi dalam melaksanakan tujuannya merupakan profesionalisme dalam bekerja. Kebutuhan akan profesionalisme menunjukan bahwa semakin berperanya sumber daya insani dalam mencapai keberhasilan organisasi.

Pengertian SDI dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengertian mikro dan makro. Pengertian SDI secara mikro adalah individu yang bekerja dan menjadi anggota suatu perusahaan atau institusi dan biasa disebut

41

Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Prilaku Orang , (Jakarta: Rajawali Press, 2009), h. 366

sebagai pegawai, buruh, karyawan, pekerja, tenaga kerja dan lain sebagainya. Sedangkang pengertian SDI secara makro adalah penduduk suatu negara yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja. Secara garis besar, pengertian Sumber Daya Insani adalah individu yang bekerja sebagai penggerak suatu organisasi, baik institusi maupun perusahaan dan berfungsi sebagai aset yang harus dilatih dan dikembangkan kemampuannya.

Manusia sebagai sumber daya manusia diciptakan oleh Allah dalam rangka menjadi khalifah dimuka bumi, hal ini banyak dicantumkan dalam Al-Qur’an dengan maksud agar manusia dengan kekuatan yang dimilikinya mampu membangun dan memakmurkan bumi ini yang memerlukan proses yang panjang. Penciptaan manusia sebagai makhluk Allah SWT, dan juga termasuk sebagai sumber daya Islami. Manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Sebagaimana firman Allah dalam surah At-Tiin ayat 4, yaitu :

      

Artinya : “sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”.

Ayat di atas dapat ditafsirkan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik. Kami ciptakan dengan ukuran tinggi yang memadai, dan memakan makanannya dengan tangannya, tidak seperti mahkluk lain yang mengambil lalu memakan makanannya dengan mulutnya. Lebih dari itu kami istimewakan manusia dengan akalnya, agar bisa berfikir dan menimbah ilmu pengetahuan serta bisa mewujudkan

segala inspirasinya yang dengannya manusia bisa berkuasa atas segala makhluk.42

SDM dalam Islam memandang tinggi masalah pendidikan ini khususnya yang berkaitan dengan akhlak (sikap, pribadi, etika dan moral), agar manusia dalam menjalankan kehidupannya terutama dalam menjalankan aktivitas ekonomi sesuai dengan Al-qur’an dan sunah Rasulullah SAW. Karena potensi yang ada dalam diri manusia Islam tersebut dapat membawa kepada kesejahteraan bagi perusahaan saat mereka beribadah (bekerja).

Ada kaitan antara perkembangan suatu masyarakat dengan sikap dari masyarakat itu terhadap makna kerja, bahwa kerja adalah suatu keharusan bagi setiap manusia untuk mencapai kesejahteraan spiritual. Semakin tinggi etos kerja yang dimanifestasikan dalam kemauan mereka untuk bekerja maka semakin besar kemungkinan mereka berhasil dalam usaha pembangunan.43 Islam memberikan motivasi terhadap kerja cukup besar. Kerja dalam Islam termasuk dengan ibadah. Berkaitan dengan ini Islam mendorong umatnya untuk bekerja. Dalam surat At Taubah ayat 105 :

                 

Artinya : “dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang

telah kamu kerjakan”.44

42

Ahmad Mustofa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, (Semarang: Toha Putra,1993),h 341.

43

Mubyarto, Etos Kerja dan Kohesi Sosial, (Yogyakarta:Aditya Media,1993), h. 2-3

44

Semakin bersungguh-sungguh dia bekerja semakin banyak harta yang diperolehnya. Seperti yang dijelaskan dengan surat An Nisa’ ayat 32.

                           

Artinya : “dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui

segala sesuatu”.45

Ayat di atas dapat di tafsirkan bahwa manusia tidak diperbolehkan mengangankan-angankan karunia yang dilebihkan dari sebagian yang lain, baik dari segi keduniaan maupun segi keagamaan agar hal tersebut tidak menimbulkan rasa iri dan dengki. Karena bagi mereka ada pahala dari apa yng mereka usahakan disebabkan perjuangan yang mereka lakukan.46

Siapa yang bekerja keras akan mendapat ganjaran masing-masing yang sewajarnya. Tidak ada kehidupan yang penuh dengan “kebahagiaan dan karunia” tanpa adanya kerja keras. Oleh karena itu salah satu konsep yang dirumuskan untuk mengatasi permasalahan daya saing tenaga kerja tersebut adalah melalui penyusunan konsep perencanaan tenaga kerja. Pemerintah menetapkan kebijakan dan menyusun perencanaan tenaga kerja makro dan perencanaan tenaga kerja mikro. Perencanaan tenaga kerja makro adalah proses penyusunan rencana ketenagakerja secara sistematis yang memuat

45 Ibid,, h. 66

46

pendayagunaan tenaga kerja optimal dan produktif guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan sosial baik secara nasional, daerah, maupun sektoral, sehingga dapat membuka kesempatan kerja seluas-luasnya.

Sedangkan yang dimaksud perencanaan tenaga kerja mikro adalah proses penyusunan rencana ketenagakerjaan secara sistematis dalam suatu instansi baik instansi pemerintah maupun swasta dalam rangka meningkatkan pendayagunaan tenaga kerja secara optimal dan produktif untuk mendukung pencapaian kinerja yang ada pada intansi atau perusahaan yang bersangkutan.

Sedangkan Hadis Nabi yang berkaitan dengan bekerja dapat dikemukakan antara lain:

1. Dari Ibnu Umar r.a ketika Nabi ditanya: Usaha apakah yang paling baik? Nabi menjawab yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan semua jual beli yang baik.

2.

HR. Imam Bukhari

ٍَِع ِواَذْقًِنا ٍِت ِِ َبِرَكٌِذْعَي ٍَْع ًِثَُّنا َّىهَص ُالل ٍَِّْهَع ىَّهَسَٔ َلاَق:اَي َمَكَا اًياَعَطٌذَحَا ظَق اًرٍَْخ ٍِْي

ٌَْا َمُكْأٌَ ٍِْي ِمًََع ِِ ِِْذٌَ, ٌَِّأَ َِ ًِِّّثََ ِالل ُدُٔاَد ٍَِّْهَع ُولاَّسنا ٌَاَك ُمُكْأٌَ ٍِْي ِمًََع ِِ ِِْذٌَ.

Artinya : “sebaik-baiknya makanan yang dikonsumsi seseorang adalah makanan yang dihasilkan oleh kerja kerasnya dan sesungguhya nabi Daud as mengkonsumsi makanan dari hasil keringatnya

(kerja keras)”47.

Al-Qur’an memberi penekanan utama terhadap pekerjaan dan menerangkan dengan jelas bahwa manusia diciptakan di bumi ini untuk bekerja keras untuk mencari penghidupan masing-masing.

47 Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam: Pendekatan Teoritis, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 228.

Allah berfirman dalam QS. Al-Balad ayat 4, yaitu:      

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”.

Al-Qur’an dalam surat An-Najm ayat 39 juga mengajarkan prinsip mendasar mengenai tenaga kerja yaitu menyatakan:

      

Artinya : “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”.

Menurut ayat ini, tidak ada jalan tol atau jalan yang mudah menuju kesuksesan. Jalan menuju kemajuan dan kesuksesan di dunia ini adalah melalui perjuangan dan usaha. Semakin keras orang bekerja, semakin tinggi pula imbalan yang akan mereka terima.

Menurut Nabi Muhammad SAW:

اًياَعَط ٌذَحَأ َمَكَأ اَي(( :َلاَق َىَّهَسَٔ ٍَِّْهَع ىَّٓهنا ىَّهَص ِ َّالل ِلُٕسَر ٍَْع َُّْع ىَّٓهنا ًِضَر

ٌَْأ ٍِْي اًرٍَْخ ظَق

ِمًََع ٍِْي ُمُكْأٌَ ٌَاَك و َلاَّسنا ٍَِّْهَع َدُٔاَد ِ َّالل ًَِّثََ ٌَِّإَٔ ِِِذٌَ ِمًََع ٍِْي َمُكْأٌَ

يراخثنا ِأر ))ِِِذٌَ

Artinya : “Allah mencintai orang yang bekerja dan berjuang untuk memenuhi nafkahnya” dan “mencari yang halal adalah kewajiban sesudah kewajiban utama (seperti shalat, berpuasa, dan iman kepada Allah).”

Kerja adalah sedemikian mulia dan terhormatnya sehingga para Nabi yang merupakan manusia yang paling mulia pun melibatkan diri dalam kerja dan kemudian bekerja keras untuk mencari nafkah.

Zubair bin al-Awwam meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إًَُّْهَعَت ٌَا ْرُقْنا, إُنَأْسأَ َالل ِِّت َةََُّجْنا َمْثَق ٌَْأ ًََُّّهَعَتٌَ ٌوَْٕق ٌَُٕنَأْسٌَ ٌِِّ اٍََْ ذنا, ٌَِّإَف

ٌَا ْرُقْنا ًَُُّّهَعَتٌَ ٌةثَلاَث: ٌمَجَر ًِْْاَثٌُ ِِّت, ٌمُجَرَٔ ُمِكْأَتْسٌَ ِِّت, ٌمُجَرَٔ ُُِأَرْقٌَ ِلل.

Artinya : “Seseorang di antara kalian mengambil tali dan kemudian datang dengan setumpuk kayu di punggungnya untuk dia jual, dan dengan itu Allah menjaga kehormatanya, itu lebih baik daripada ia minta-minta pada manusia, baik diberi maupun tidak.” (HR. Bukhari).

Dokumen terkait