• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka 1. Teori Kognitif

2. Sumber Daya Manusia

Menurut Mohammad (2015) sumber daya manusia adalah semua manusia yang terlibat dalam pembuatan laporan keuangan daerah. SDM yang berkualitas harus mampu menghasilkan laporan keuangan sesuai dengan aturan yang berlaku serta tersedianya SDM yang kompoten yang andal di bidang akuntansi. Oleh karena itu pemerintah pusat dan daerah perlu secara serius menyusun perencanaan dan penempatan SDM di bidang akuntansi pemerintahan agar mampu memberikan kontribusi secara optimal dalam upaya pencapian tujuan organisasi.

Kemampuan SDM menurut Robbins (2006) diartikan sebagai kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu.

Kemampuan keseluruhan seseorang pada hakikatnya terdiri dari dua faktor

11

yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Dalam pekerjaan terkait kegiatan administrasi pada suatu organisasi, kemampuan intelektual tentu lebih dominan. Kemampuan intelektual seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan tertentu bersumber dari latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiikinya.

Dari segi SDM terdapat beberapa faktor-faktor yang harus mendukung yakni sebagai berikut:

a. Latar Belakang

Nazier (2009) dan Darno (2011) menyatakan latar belkang pendidikan mempunyai peran yang sangat penting karena dengan pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan dalam proporsi tertentu diharapkan dapat memenuhi syarat-syarat yang dituntut oleh suatu pekerjaan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan tepat.

SDM yang berlatar belakang pendidikan akuntansi atau setidaknya memiliki pengalaman dibidang keuangan sangat dibutuhkan dalam suatu pekerjaan yang berhubungan dengan penyusuna laporan keuangan.

Namun akhir-akhir ini terdapat permasalahan terkait latar belakang pendidikan dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah. Masalah-masalah tersebut adalah belum dimilikinya atau kurangnya SDM yang berlatar pendidikan akuntansi, belum ada kebijakan rekruitmen pegawai berlatar belakang akuntansi dan adanya anggapan bahwa SDM yang bukan berlatar belakang akuntansi mampu melaksanaka tugas dengan modal pendidikan dan pelatihan (diklat) serta bimbingan.

b. Pelatihan

Merujuk pendapat Abdul Latif (2012) pelatihan didefenisikan sebagai berbagai usaha pengenalan untuk mengembangkan kinerja tenaga kerja pada pekerjaan yang dipikulnya atau juga sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini biasanya berarti melakukan perubahan perilaku, sikap, keahlian dan pengetahuan yang khusus atau spesifik. Dan agar pelatihan menjadi efektif maka di dalam pelatihan harus mencakup suatu pembelajaran atas pengalaman-pengalaman, pelatihan harus menjadi kegiatan keorganisasian yang direncanakan dan dirancang dalam menanggapi kebutuhan-kebutuhan yang terindifikasi.

Penguasaan terhadap beban kerja yang dimiliki akan meningkatkan produktifitas kerja seseorang. Dengan produktifitas yang tinggi penyelesaian pekerjaan dengan benar dan sesuai waktu yang ditentukan akn dapat tercapai melalui pelatihan tingkat produktifitas seseorang dapat ditingkatkan. Semakin banyak pelatihan yang diikuti maka keberhasilan SAP Akrual semakin mudah penerapannya. Pelatihan dilakukan dengan alasan untuk : meningkatkan pengetahuan pegawai tentang kompetitor dan budaya, membantu memastikan bahwa pegawai mempunyai keahlian dasar untuk bekerja dengan tekhnologi baru, membantu pegawai mengerti bagaimana bekerja secara efektif didalam tim untuk berkontrobusi dalam produksi dan kualitas pelayanan,serta mempersiapkan pegawai untuk menerima dan bekerja secara efektif satu sama lain.

13

c. Pengalaman Kerja

Menurut Abdul Latif (2012) pengalan kerja dapat meningkatkan keterampilan dalam bekerja, karena dengan pekerjaan yang dilakukannya secara berulang-ulang tentunya dapat menambah pengetahuan dan mendapatkan cara yang terbaik, efektif dan efesien dalam menjalankan tugasnya. Selain itu seseorang yang memiliki pengalaman tentunya memiliki cara berfikir yang lebih terperinci dan lengkap jika dibanding dengan seseorang yang belum memiliki pengalaman.

d. Sistem dan Tekhnologi Informasi

Sistem informasi adalah sistem pengendalian intern yang memadai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efesien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Untuk mampu menrapkan SAP dengan maksimal dan sesuai dengan yang seharusnya maka tentu diperlukan kesiapan sistem informasi yang handal karena dari sitem informasi itulah tujuan organisasi dapat tercapai dengan efesien dan efektif.

Tekhnologi informasi adalah gabungan dari tekhnologi komputer dan tekhnologi komunikasi. Tekhnologi informasi tidak hanya sebatas pada tekhnologi komputer (perangkt keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup tekhnologi komunikasi untuk mengirim informasi. Penggunaan tekhnologi informasi yang tepat akan bisa mendukung terwujudnya laporan keuangan yang berkualitas. Penelitian yang dilakukan Mustafa dan dkk (2011) memberikan bukti adanya pengaruh pemanfaatan tekhnologi informasi

terhadap keterandalan dan ketepatan waktu pada laporan keuangan.

Pemanfaatan tekhnologi informasi yang meliputi tekhnologi komputer dan tekhnologi komunikasi dalam pengelolaan keuangan daerah akan meningkatkan pemoprosesan transaksi dan data lainnya, keakurasian dalam perhitungan, serta penyiapan laporan dan output lainnya lebih tepat waktu.

Untuk itu, sistem informasi harus betul-betul tersedia dan mampu dipergunakan oleh pemerintah dalam penerapan SAP Akrual. Selanjutnya adalah sarana pendukung berupa tekhnologi informasi yaitu hardware dan software yang memadai dalam pelaksanaan SAP yang berbasis Akrual.

Aldiani (2010) berpendapat ketersediaan perangkat pendukung yang akan membantu SKPD dalam melaksanakan tugas seperti tersedianya computer dan software yang berkaitan dengan kebutuhan dalam penerapan SAP.

Sistem Tekhnologi dan Informasi yang digunakan saat ini untuk membantu terlaksananya SAP Berbasis Akrual adalah SAIBA. Tujuan dari penyusunan Modul Sistem Akuntansi Instansi Berbasis Akrual ini antara lain adalah:

a) Menjadi pedoman para penyusun laporan keuangan pada kementrian Negara/Lembaga untuk melaksanakan akuntansi berbasis akrual pada masa transisi/awal implementasi.

b) Menciptakan keseragaman dalam penerapan perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuangan, sehingga meningkatkan kualitas laporan keuangan pada tingkat satuan kerja, tingkat wilayah, tingkat eselon I dan tingkat Kementrian Negara/Lembaga. Proses aplikasi

15

dimulai dari perekaman dokumen baik secara manual maupun secara elektronik dan akan membentuk jurnal transaksi.

Dokumen terkait