BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Sumber Daya Pengelolaan Limbah Padat Rumah Sakit
Pengelolaan limbah untuk rumah sakit bergantung pada administrasi dan organisasi yang baik serta kebijakan, sarana prasarana dan pendanaan yang memadai. Direktur Rumah Sakit melalui pemberitahuan tertulis harus mengangkat secara resmi para anggota tim pengelola limbah dan menetapkan tugas serta tanggung jawab tiap anggota (Pruss, 2005)
A. Tenaga Pengelola (Petugas)
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1204 tahun 2014 tentang persyaratan Kesehatan lingkungan Rumah sakit, upaya penyehatan lingkungan rumah sakit meliputi kegiatan yang kompleks sehingga diperlukan lintas sektor serta berdimensi multi disiplin. Untuk itu diperlukan kualifikasi:
1) Penanggungjawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas A dan B (rumah sakit pemerintah) dan setingkat adalah seoran tenaga yan memiliki kualifikasi sanitarian serendah-rendahnya berijazah sarjana (S1) di bidan kesehatan lingkungan, teknik lingkungan, biologi, Teknik kimia, dan Teknik sipil.
2) Penanggungjawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas C dan D (rumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendah-rendahnya berijazah diploma (D3) di bidang kesehatan lingkungan.
3) Tenaga Kesehatan lingkungan rumah sakit telah mengikuti pelatihan khusus di bidang kesehatan lingkungan rumah sakit.
Petugas pengolah limbah rumah sakit harus diberi latihan khusus mengenai proses pengangkutan limbah, sedangkan pengawasan dan pengolahan limbah dilakukan oleh tenaga sanitasi terdidik. Sampah dari setiap unit layanan fungsional rumah sakit dikumpulkan oleh tenaga perawat, khususnya jika berkaitan dengan pemisahan sampah medis dan non medis, sedangkan di ruang lain dapat dilakukan oleh tenaga kebersihan. Selain itu, petugas pengangkut harus dibekali alat pelindung diri (APD), seperti helm, masker, pelindung mata, pakaian panjang (coverall), apron untuk industri, sepatu boot dan sarung tangan khusus (Chandra, 2006).
B. Pembiayaan
Pembiayaan dapat berasal dari sektor swasta atau dari salah satu atau beberapa tingkat pemerintahan. Untuk instansi kesehatan milik pemerintah, pemerintah dapat menggunakan pendapatan negara untuk membiayai sistem pengelolaan
limbah. Semua rumah sakit perlu membuat prosedur akuntansi untuk mendokumentasikan biaya yang mereka keluarkan dalam mengelola limbah.
Pencatatan yang akurat dan analisis biaya harus dilakukan oleh seseorang yang memang ditunjuk untuk melaksanakannya (Pruss, 2005).
Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) bekerja sama dengan Research Institute Environmental Technology (RIET) telah melakukan perhitungan skala
secara teoritis biaya pengolahan limbah rumah sakit dan diperoleh biaya pengolahan COD/BOD (mg/l) dengan nilai 250-750 mg per 1.3 – 2 liter adalah 600-1.200 rupiah. Sementara itu, biaya untuk pengolahan limbah padat medis dari hasil perhitungan di tiga rumah sakit di DKI Jakarta yang dilakukan oleh PELANGI Indonesia diperoleh biaya pengolahan per meter kubiknya adalah Rp.1.000 – 4.500/kg (Adisasmito, 2007).
C. Sarana dan Prasarana 1) Penampungan sampah
Sampah biasanya ditampung di tempat produksi di tempat produksi sampah untuk beberapa lama. Untuk itu setiap unit hendaknya disediakan tempat penampungan dengan bentuk, ukuran dan jumlah yang disesuaikan dengan jenis dan jumlah sampah serta kondisi setempat. Sampah sebaiknya tidak dibiarkan di tempat penampungan terlalu lama. Kadang-kadang sampah juga diangkut langsung ketempat penampungan blok atau pemusnahan. Penyimpanan limbah medis padat harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam. Untuk memudahkan pengelolaan sampah rumah sakit maka terlebih dahulu limbah atau sampahnya dipilah utnuk
dipisahkan. Pewadahan atau penampungan sampah serta penggunaan jenis wadah harus sesuai persyaratan (Depkes RI, 2002).
Adapun persyaratan bak penampung sampah yaitu: bahan tidak mudah berkarat, kedap air, bertutup rapat, mudah dibersihkan, mudah dikosongkan dan diangkut, tidak menimbulkan bising dan tahan terhadap benda tajam dan runcing.
Kantong plastik pelapis dan bak sampah dapat digunakan untuk memudahkan pengosongan dan pengangkutan. Kantong plastik tersebut membantu membungkus sampah waktu pengangkutan sehingga mengurangi kontak langsung mikroba dengan manusia dan mengurangi bau, tidak terlihat sehingga memberi rasa estetis dan memudahkan pencucian bak sampah. Penggunaan kantong plastik ini terutama bermanfaat untuk sampah laboratorium. Ketebalan plastik disesuaikan dengan jenis sampah yang dibungkus agar petugas pengangkut sampah tidak cidera oleh benda tajam yang menonjol dari bungkus sampah.
Kantong plastik diangkat setiap hari atau kurang sehari apabila 2/3 bagian telah terisi sampah . Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada tempat khusus (safety box) seperti botol atau karton yang aman. Unit laboratorium menghasilkan berbagai jenis sampah. Untuk itu diperlukan tiga tipe dari tempat penampungan sampah di laboratorium yaitu tempat penampungan sampah gelas dan pecahan gelas untuk mencegah cidera, sampah yang basah dengan solvent untuk mencegah penguapan bahan-bahan solvent dan mencegah timbulnya api dan tempat penampungan dari logam untuk sampah yang mudah terbakar (Depkes RI, 2002).
2) Pengangkutan Sampah
Pengangkutan sampah dimulai dengan pengosongan bak sampah di setiap unit dan diangkut ke pengumpulan lokal atau ke tempat pemusnahan. Pengangkutan biasanya dengan kereta, sedang untuk bangunan bertingkat dapat dibantu dengan menyediakan cerobong sampah atau lift pada tiap sudut bangunan. Pengangkutan limbah ke luar rumah sakit menggunakan kendaraan khusus. Kantong sampah sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut harus diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutup. Kantong sampah juga harus aman dari jangkauan manusia maupun binatang (Depkes RI, 2002).
3) Tempat Pengumpulan Sementara
Sarana ini harus disediakan dalam ukuran yang memadai dan dengan kondisi baik (tidak bocor, tertutup rapat, dan terkunci). Sarana ini bisa ditempatkan dalam atau di luar gedung. Konstruksi tempat pengumpul sampah sementara bisa dari dinding semen atau container logam dengan syarat tetap yaitu kedap air, mudah dibersihkan dan bertutup rapat. Ukuran hendaknya tidak terlalu besar sehingga mudah dikosongkan, apabila jumlah sampah yang ditampung cukup banyak perlu menambah jumlah container. Tersedia tempat penampungan sampah non medis sementara yang tidak menjadi sumber bau dan lalat bagi lingkungan sekitarnya dilengkapi saluran untuk cairan lindi dan dikosongkan dan dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam. Sedangkan untuk sampah medis bagi rumah sakit yang mempunyai insinerator di lingkungannya harus membakar limbahnya selambat-lambatnya 24 jam. Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai insinerator, maka limbah medis padatnya harus dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit
lain atau pihak lain yang mempunyai insinerator untuk dilakukan pemusnahan selambat-lambatnya 24 jam apabila disimpan pada suhu ruang. (Depkes RI, 2002).
4) Sarana Pembuangan dan Pemusnahan Limbah Padat
Menurut Chandra (2006), pembuangan dan pemusnahan limbah rumah sakit dapat dilakukan dengan memanfaatkan proses autoclaving, insinerasi, ataupun dengan penguburan, sebagai berikut:
a. Autoclave
Autoclave merupakan alat yang digunakan untuk mematikan kuman atau
mensterilisasi limbah infeksius dengan memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi. Sterilisasi limbah infeksius dengan alat ini kurang efektif jika volume limbah besar atau limbah dipadatkan karena penetrasi uap secara lengkap pada suhu yang diperlukan sering tidak terjadi sehingga tujuan autoclaving tidak tercapai. Kantong plastik biasa hendaknya tidak digunakan karea tidak tahan panas dan akan meleleh selama di autoclaving. Karena itu diperlukan kantong autoclaving. Pada kantong itu terdapat indikator, seperti pita autoclave, yang
menunjukkan bahwa kantong telah mengalami perlakuan panas yang cukup. Pada beberapa institusi, autoclaving menggunakan nampan terbuka di mana limbah yang akan dilakukan tindakan, di tebar merata tipis di atas nampan tersebut.
Autoclave yang digunakan secara rutin untuk limbah biologis harus diuji minimal sekali setahun untuk menjamin hasil yang optimal (Depkes RI, 2002).
Gambar 2.6 Autoclave b. Insinerator
Insinerator adalah tungku pembakaran untuk mengolah limbah padat, yang mengkonversi materi padat (sampah) menjadi materi gas, dan abu, (bottom ash dan fly ash). Insinerator merupakan suatu alat penghancur atau pemusnah limbah organik melalui pembakaran dalam suatu sistem yang terkontrol dan terisolir dari lingkungan sekitarnya. Insinerasi dan pengolahan sampah bertemperatur tinggi lainnya didefinisikan sebagai pengolahan termal. Insinerator mengurangi volume sampah hingga 95-96%, tergantung komposisi dan derajat recovery sampah. Ini berarti insinerasi tidak sepenuhnya mengganti penggunaan lahan sebagai area pembuangan akhir, tetapi insinerasi mengurangi volume sampah yang dibuang dalam jumlah yang signifikan. Insinerator yang digunakan untuk limbah medis harus dioperasikan pada suhu antara 900 dan 1200℃ (Pruss, 2005).
Gambar 2.7 Insinerator
Menurut Depkes RI (2002), lokasi sarana insinerator tentu harus memperhatikan lingkungan sekitar. Cerobong bisa diletakkan dekat dengan inlet udara air conditioning umum, dan berada dalam kondisi angina tertentu, gas emisi yan diencerkan sebagian masuk ke dalam system air conditioning umum. Adapun faktor yang perlu diperhatikan:
a. Tidak berada didalam zona pemukiman b. Diupayakan mendekati penghasil limbah
c. Klimatologi, misalnya tidak berada dalam wilayah yang diidentifikasi sering terjadi perubahan suhu yang menyolok
c. Landfill
Menurut Depkes RI (2002), landfill merupakan metoda pembuangan limbah tradisional. Beberapa lokasi landfill yang digunakan sekarang lebih merupakan tempat pembuanan terbuka (open dumb). Keadaan ini tidak dikehendaki karena kemungkinan resiko terhadap manusia dan lingkungan. Suatu sanitari landfill, areanya harus dipagar dengan baik dan jauh dari penglihatan masyarakat, berada
di daerah dengan lapisan padat. Lokasi harus didaftar dan diijinkan oleh pemerintah berwenang, dan operator harus mencatat setiap limbah yang dibuang.
Limbah harus segera ditutup dengan tanah atau dengan lapisan yang sesuai.