HASIL DAN PEMBAHASAN
10 Sumber energi yang paling murah 28 41.2 42 48.3 70 45.2 11 Yang tergolong pangan sumber
protein nabati
44 64.7 52 59.8 96 61.9 12 Yang tergolong pangan sumber
protein hewani
62 91.2 85 97.7 147 94.8 13 Yang tergolong pangan sumber
karbohidrat
41 60.3 42 48.3 83 53.5 14 Yang manakah makanan sumber
lemak
65 95.6 87 100.0 152 98.1 15 Dampak akibat kekurangan zat
besi
33 48.5 38 43.7 71 45.8 16 Dampak akibat kekurangan
vitamin A
41 60.3 56 64.4 97 62.6 17 Manakah yang paling banyak
mengandung vitamin C
62 91.2 78 89.7 140 90.3 18 Dampak akibat kekurangan
vitamin C
65 95.6 77 88.5 142 91.6 19 Dampak akibat kekurangan
kalsium
63 92.6 77 88.5 140 90.3 20 Dampak akibat kekurangan
vitamin B
55 80.9 65 74.7 120 77.4
Berdasarkan Tabel 13 dapat dilihat bahwa aspek umum tentang zat gizi cukup baik diketahui oleh contoh, meskipun pengetahuan yang berfungsi mengatur proses-proses dalam tubuh paling tidak dimengerti oleh kedua contoh, hal tersebut ditunjukkan sedikitnya contoh Sahid yang menjawab dengan benar yaitu hanya sebesar 26.5% dan contoh UQI sebesar 35.6%. Aspek tentang makanan yang sumber lemak dan dampak akibat kekurangan vitamin C paling banyak yang menjawab benar pada contoh Sahid yaitu sebesar 95.6%.Aspek
tentang makanan yang sumber lemak, contoh UQI 100% menjawab dengan benar dan pangan yang tergolong sumber hewani sebesar 97.7%.
Antisipasi tingkat pengetahuan umum tentang status gizi oleh para santri putri contoh seperti yang sudah dibahas pada bab-bab sebelumnya ternyata tidak begitu menghawatirkan, namun sebagaimana dikemukakan oleh Syarief (2001), pengetahuan status gizi harus terus menerus diberikan. Pengetahuan gizi ini dapat diberikan dalam bentuk pengajaran formal maupun non formal seperti menempelkan berbagai poster pengetahuan gizi yang menarik di ruang makan para santri, akan memberikan dampak baik yang luas dan lama.
Kebiasaan Makan
Setiap masyarakat mengembangkan cara yang turun-temurun untuk mencari, memilih, menangani, menyiapkan, menyajikan dan mengkonsumsi makanan yang dihidangkan. Disadari atau tidak disadari, masyarakat telah mengembangkan kebiasaan makan, mempelajari cara yang berhubungan dengan konsumsi pangan dan menerima atau menolak jenis pangan tertentu secara turun temurun (Suhardjo 1989).
Kebiasaan makan yang diteliti menggunakan kuesioner meliputi frekuensi makan sehari. Tabel 14 menyajikan sebaran contoh berdasarkan kebiasaan makan.
Tabel 14 Sebaran Contoh berdasarkan Kebiasaan Makan
Kebiasaan Makan Sahid UQI Total
n % n % n % Frekuensi Makan 1 kali 0.0 0.0 3.0 3.4 3 1.9 2 kali 22.0 32.4 21.0 24.1 43.0 27.7 3 kali 42.0 61.8 62.0 71.3 104.0 67.1 >3 kali 4.0 5.9 1.0 1.1 5.0 3.2 Total 68 100 87 100 155 100
Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa secara keseluruhan contoh memiliki keragaman kebiasaan makan yang hampir sama. Keseluruhan contoh (67.1%) memiliki frekuensi makan 3 kali per harinya dengan persentase sebesar 61.8% pada contoh Sahid dan 71.3% pada contoh UQI. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan contoh umumnya baik dengan frekuensi makan sebanyak tiga kali per hari. Menurut Khomsan (2002) bahwa frekuensi makan yang baik adalah tiga kali per hari. Frekuensi makan satu atau dua kali per hari sulit secara kualitas dan kuantitas memenuhi kebutuhan gizi. Frekuensi makan
32
yang baik tersebut jika diimbangi dengan keberagaman pangan, makan akan kebutuhan gizi akan terpenuhi.
Kebiasan Jajan
Makanan jajanan dan kebiasaan jajan anak sekolah merupakan dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Makanan jajanan mampu memberikan kontribusi energi dan protein untuk anak-anak. Kebiasaan jajan yang baik tentunya dapat memberikan pengaruh yang positif bagi kesehatan anak dan sebaliknya (Andarwulan 2009). Kebiasaan jajan contoh di kedua pesantren sebanyak 46.5% memiliki frekuensi jajan sebanyak 2 kali per hari. Pada contoh Sahid dan UQI masing-masing sebesar 50.0% dan 43.7% yang memiliki frekuensi jajan sebanyak 2 kali per hari (Tabel 15).
Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan jajan
Kebiasaan Jajan Sahid UQI Total
n % n % n % Frekuensi Jajan 1 kali 13.0 19.1 10.0 11.5 23.0 14.8 2 kali 34.0 50.0 38.0 43.7 72.0 46.5 3 kali 13.0 19.1 31.0 35.6 44.0 28.4 >3 kali 8.0 11.8 8.0 9.2 16.0 10.3 Total 68 100 87 100 155 100
Makanan jajanan banyak sekali jenisnya dan sangat bervariasi dalam bentuk, keperluan dan harga. Jenis makanan atau minuman yang disukai siswa-siswa adalah makanan yang mempunyai rasa manis, enak, dengan warna-warna menarik, dan bertekstur lembut (Nuraini 2007). Jenis jajanan yang paling sering dikonsumsi oleh contoh Sahid (79,1%) dan contoh UQI (96,4%) yaitu snack. Snack yang paling banyak dikonsumsi contoh Sahid adalah chiki-chikian. Snack yang paling banyak dikonsumsi contoh UQI adalah gorengan. Hal tersebut didukung dengan pernyataan menurut Nuraini (2007), yang menyatakan bahwa jenis makanan seperti cokelat, permen, jeli biskuit dan snack merupakan produk makanan favorit bagi sebagian besar siswa-siswa. Sebaran contoh berdasarkan jenis jajanan dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Sebaran contoh berdasarkan jenis jajanan
Menurut Winarno (2004) pada umumnya makanan jajanan dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu makanan utama atau sepinggan contohnya nasi rames, nasi rawon, nasi pecel dan sebagainya. Kelompok yang kedua adalah snacks contohnya kue-kue, onde-onde, pisang goreng. Kelompok yang ketiga adalah golongan minuman, es teler, es buah, teh, kopi, dan kelompok yang keempat adalah buah-buahan segar seperti pepaya, melon, dan lain sebagainya. Uang jajan adalah uang yang dibelikan oleh contoh untuk membeli jajanan. Sebagian besar contoh Sahid (55.9%) dan contoh UQI (63.2%) membeli jajanan dengan uang jajan berkisar antara Rp 3.000-Rp 7.000/hari. Berikut disajikan data secara rinci sebaran uang jajan contoh Sahid dan UQI.
Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan uang jajan
Uang jajan Sahid UQI
n % n % Rendah (<Rp 3.000/hari) 5 7,4 23 26,4 Sedang (Rp 3.000-Rp 7.000/hari) 38 55,9 55 63,2 Tinggi (≥Rp 7.000/hari) 25 36,8 9 10,3 Total 68 100,0 87 100,0 Rata-rata ± SD Rp 6.925 ± Rp 3.727 Rp 2.575 ± Rp 2.354 Konsumsi dan Tingkat Kecukupan
Konsumsi pangan seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap terhadap makanan yang juga dipengaruhi oleh lingkungan baik masyarakat
Sepinggan Snack Minuman
7,5% 79,1% 13,4% 2,4% 96,4% 1,2%
Jenis jajanan
Sahid UQI34
maupun keluarga. Konsumsi pangan dapat dilihat dari aspek kuantitas dan kualitasnya. Aspek kuantitas berkaitan dengan jumlah zat gizi yang dianjurkan, sedangkan aspek kualitas berkaitan dengan keragaman dan jenis konsumsi pangan dan nilai mutu gizinya (Suhardjo 1989).
Konsumsi dan Tingkat Kecukupan Energi dan Protein
Energi dibutuhkan oleh tubuh untuk memelihara fungsi dasar tubuh yang disebut metabolisme basal sebesar 60-70% dari kebutuhan energi total. Selain itu, energi juga diperlukan untuk fungsi lain seperti mencerna, mengolah, dan menyerap makanan dalam alat pencernaan (Soekirman 2000). Rata-rata konsumsi energi dan protein contoh di Pesantren Sahid adalah 1528 kkal dan 35.54 gram dan dan untuk contoh di Pesantren UQI adalah 1555 kkal dan 39.11 gram (Tabel 17). Rata-rata konsumsi makanan asrama di Sahid menyumbangkan energi dan protein yang lebih banyak dibandingkan rata-rata konsumsi makanan luar asrama sedangkan rata-rata konsumsi makanan asrama contoh di UQI menyumbangkan energi dan protein lebih sedikit dibandingkan rata-rata konsumsi makanan luar asrama. Hal tersebut karena contoh di UQI banyak yang tidak menyantap makanan yang disediakan asrama sebanyak 3 kali, dengan alasan bosan dengan menu yang disediakan oleh asrama sehingga contoh di UQI lebih memilih mengonsumsi makanan luar asrama yang lebih beragam jenis makanannya.
Santri yang merasa bosan terhadap menu makanan asrama karena menu makanan kurang bervariasi.
Tabel 17 Rata-rata konsumsi dan tingkat kecukupan energi dan protein contoh
Zat Gizi
Rata-rata konsumsi Tingkat
Kecukupan Makanan
asrama
Makanan
luar asrama Total
Sahid Energi (kkal/hari/orang) 1170 357 1528 71.26 Protein (gram/hari/orang) 27.29 8.24 35.54 70.20 UQI Energi (kkal/hari/orang) 764 792 1555 74.92 Protein (gram/hari/orang) 19.31 19.81 39.11 79.39
Makanan luar asrama yang menjadi sumber asupan energi dan protein pada kedua contoh tidak jauh berbeda, yaitu mie, bakso, batagor, roti, biskuit, kentang, berbagai jenis kue dan lain-lain. Hanya saja konsumsi makanan luar asrama pada contoh UQI lebih banyak dibandingkan dengan contoh Sahid.
Untuk rata-rata tingkat kecukupan zat gizi energi dan protein pada contoh UQI lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan tingkat kecukupan energi dan protein contoh Sahid. Hal ini dikarenakan pada contoh UQI lebih banyak mengonsumsi makanan dari luar berupa jajanan yang tinggi kalori. Menurut Khomsan (2002), makanan camilan umumnya kaya energi tetapi rendah gizi.
Konsumsi dan Tingkat Kecukupan Vitamin dan mineral
Vitamin dan mineral termasuk zat gizi mikro. Vitamin dan mineral memilki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja. Total rata-rata konsumsi vitamin A, vitamin B1, dan vitamin C pada contoh Sahid berturut-turut adalah 344.09 RE, 28.92 mg, dan 36.73 mg. Pada contoh UQI berturut-turut adalah 120.65 RE (vitamin A), 14.46 mg (vitamin B1), dan 13.29 mg (vitamin C). Tingkat kecukupan vitamin pada contoh Sahid lebih besar dibandingkan dengan tingkat kecukupan vitamin contoh UQI. Hal ini dikarenakan makanan asrama pada contoh Sahid lebih beragam (terdapat menu sayur setiap makan) sehingga sumbangan vitaminnya lebih besar. Sayuran dalam ilmu gizi banyak berperan terutama dalam memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral (Briawan, Dwiriani, Hapsari 1992). Rata-rata konsumsi vitamin dan tingkat kecukupan vitamin dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Rata-rata konsumsi dan tingkat kecukupan vitamin contoh
Zat gizi Rata-rata konsumsi Tingkat Kecukupan Makanan asrama Makanan
luar asrama Total
Sahid Vitamin A (RE) 323.49 20.60 344.09 57.35 Vitamin B1 (mg) 0.69 28.23 28.92 2660.77 Vitamin C (mg) 22.24 14.49 36.73 55,44 UQI Vitamin A (RE) 50.86 69.80 120.65 20.28 Vitamin B1 (mg) 0.17 14.29 14.46 1315.27 Vitamin C (mg) 5.81 7.48 13.29 19.52
Total rata-rata konsumsi untuk mineral contoh Sahid berturut-turut adalah 1018.35 mg (kalsium), 370.66 mg (fosfor), dan 9.03 mg (zat besi) dan pada contoh UQI berturut-turut adalah 734.49 (kalsium), 742.51 mg (fosfor), dan 13.09 mg (zat besi) (Tabel 19). Untuk rata-rata tingkat kecukupan fosfor dan zat besi, pada contoh UQI lebih besar dibandingkan dengan contoh Sahid kecuali untuk tingkat kecukupan kalsium yang lebih tinggi pada contoh Sahid dibandingkan contoh UQI. Hal ini dikarenakan pada contoh Sahid lebih banyak mengonsumsi jajanan berupa susu kemasan.
36
Tabel 19 Rata-rata konsumsi dan tingkat kecukupan mineral contoh
Zat gizi Rata-rata konsumsi Tingkat Kecukupan Makanan asrama Makanan
luar asrama Total
Sahid Kalsium (mg) 158.36 859.99 1018.35 101.84 Fosfor (mg) 310.63 59.73 370.66 37.04 Zat besi (mg) 6.85 2.18 9.03 35.53 UQI Kalsium (mg) 118.91 615.58 734.49 74.73 Fosfor (mg) 182.21 560.30 742.51 78.88 Zat besi (mg) 6.29 6.79 13.09 50.72
Rata-rata konsumsi vitamin dan mineral dari makanan asrama pada contoh Sahid lebih tinggi dibandingkan makanan luar asrama kecuali untuk vitamin B1 dan kalsium. Beberapa sumber makanan luar asrama yang menyumbangkan vitamin B1 cukup besar adalah kue bolu dan donat dan sumber kalsium berasal dari susu kemasan. Kue bolu dan donat dalam komposisinya terkandung ragi, berdasarkan tabel DKBM (daftar komposisi bahan makanana) kandungan vitamin B1 dalam ragi adalah 6000 mg/100 gram BDD (berat yang dapat dimakan). Sementara rata-rata konsumsi vitamin dan mineral dari makanan asrama pada contoh UQI lebih rendah dibandingkan dengan makanan luar asrama, hal ini sejalan dengan rata-rata konsumsi energi dan protein pada contoh tersebut.
Tingkat Kecukupan Energi
Tingkat kecukupan energi ditentukan kaitannya dengan jumlah yang diperlukan untuk mendukung tingkat pertumbuhan dan mempertahankan berat badan yang diingankan. Departemen kesehatan (1996) mengklasifikasikan tingkat kecukupan energi dan protein menjadi 5 kelompok yaitu : 1) defisit tingkat berat (< 70% AKG), 2) defisit tingkat sedang (70%-79% AKG), 3) defisit tingkat ringan (80%-89% AKG), 4) normal (90%-119% AKG), dan 5) kelebihan (≥ 120% AKG).
Sebagian besar contoh Sahid (55.9%) dan UQI (40.2%) memiliki tingkat kecukupan energi defisit tingkat berat. Banyaknya contoh yang memilki tingkat konsumsi energi defisit diduga karena tingkat ketersediaan energi dari makanan asrama hanya 67.5% untuk Pesantren Sahid dan 57.1% untuk Pesantren UQI. Tingkat ketersediaan energi dari makanan asrama di Pesantren Sahid dan UQI dapat dilihat pada Tabel 20.
Sumber energi utama berasal dari karbohidrat, jenis makanan sumber karbohidrat salah satunya adalah nasi. Berdasarkan hasil penelitian Adila (2012) bahwa daya terima terhadap bentuk, aroma, dan keempukan nasi pada contoh UQI dinilai kurang menarik, sedangkan pada contoh Sahid hanya bentuk nasi yang dinilai kurang menarik.
Tabel 20 Tingkat ketersediaan energi dan zat gizi contoh Energi (kkal) Protein (g) Kalsium (mg) Phosfor (mg) Besi (mg) Vit. A (RE) Vit. B (mg) Vit. C (mg) Pesantren Sahid Rata-rata ketersediaan 1469 43.95 285.91 527.08 10.65 469.95 0.85 31.06 Rata-rata kecukupan 2176 51.56 1000.00 1000.00 25.47 600.00 1.09 67.50 Tingkat ketersediaan 67,5 85.2 28.6 52.7 41.8 78.3 78.0 46.0 Pesantren UQI Rata-rata ketersediaan 1204 31.01 180.29 287.31 9.94 94.90 0.34 14.13 Rata-rata kecukupan 2110 49.94 993.10 986.21 25.86 596.55 1.09 69.25 Tingkat ketersediaan 57,1 62.1 18.2 29.1 38.4 15.9 31.3 20.4 Menurut Nasoetion dan Riyadi (1995), konsumsi sesuatu zat gizi yang rendah atau yang kurang dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan konsekuensi berupa penyakit defisiensi, ataupun bila kekurangan hanya marginal dapat menimbulkan gangguan yang sifatnya lebiih ringan atau menurunnya kemampuan fungsi. Terdapat hanya 10.3% contoh Sahid dan 23.0% contoh UQI yang memiliki tingkat kecukupan energi normal serta masing-masing 1.5% dan 2.3% contoh memiliki tingkat kecukupan energi lebih (Tabel 21).
Tabel 21 Sebaran contoh berdasarkan klasifikasi tingkat kecukupan energi
Tingkat Kecukupan Energi Sahid UQI
n % n %
Defisit tingkat berat 38 55.9 35 40.2
Defisit tingkat sedang 10 14.7 20 23.0
Defisit tingkat ringan 12 17.6 10 11.5
Normal 7 10.3 20 23.0
Lebih 1 1.5 2 2.3
Total 68 100.0 87 100.0
Tingkat Kecukupan Protein
Konsumsi protein yang rendah pada masa remaja akan menghambat pertumbuhan. Konsumsi energi yang rendah dapat menyebabkan inefesiensi penggunaan protein tubuh. Protein yang seharusnya digunakan untuk sintesis
38
jaringan baru atau perbaikan jaringan tubuh yang rusak akan terhambat fungsinya karena digunakan untuk menutupi kekurangan energi tubuh.
Tabel 22 Sebaran contoh berdasarkan klasifikasi tingkat kecukupan protein
Tingkat Kecukupan Protein Sahid UQI
n % n %
Defisit tingkat berat 39 57.4 31 35.6
Defisit tingkat sedang 14 20.6 21 24.1
Defisit tingkat ringan 5 7.4 11 12.6
Normal 9 13.2 16 18.4
Lebih 1 1.5 8 9.2
Total 68 100.0 87 100.0
Sebagian besar contoh Sahid (57.4%) dan UQI (35.6%) memiliki tingkat kecukupan protein defisit tingkat berat. Hanya 13.2% contoh Sahid dan 18,4% contoh UQI yang memiliki tingkat kecukupan protein kategori normal (Tabel 22). Banyaknya contoh yang memilki tingkat konsumsi protein defisit diduga karena contoh kurang mengonsumsi makanan sumber protein. Makanan sumber protein yaitu biji-bijian, kacang-kacangan, telur, daging, ikan, dan susu (Winarno 2004). Hal lain yang menyebabkan rendahnya konsumsi protein pada kedua contoh karena daya terima terhadap warna untuk menu protein hewani pada contoh Sahid dan menu nabati pada contoh UQI dinilai kurang menarik (Adila 2012). Tingkat Kecukupan Vitamin
Vitamin dan mineral merupakan zat gizi mikro yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit. Tingkat kecukupan vitamin dan mineral dibedakan menjadi 2, yaitu cukup (tingkat kecukupan ≥ 77%) dan defisit (tingkat kecukupan <77%) (Gibson 2005). Tingkat kecukupan vitamin A sebagian besar contoh Sahid (83.8%) adalah defisit dan contoh UQI seluruhnya defisit (Tabel 23). Banyaknya contoh yang memilki tingkat konsumsi vitamin A defisit diduga karena ketersediaan makanan asrama Pesantren Sahid menyumbangkan kurang dari 80% dari kecukupan vitamin A dan pada Pesantren UQI tingkat ketersediaan vitamin A 15.9% (Tabel 20). Angka kecukupan vitamin A bagi remaja usia 13-18 tahun perempuan adalah 600 RE per hari (WNPG 2004). Vitamin A dapat diperoleh dari bahan pangan nabati maupun hewani. Beberapa sumber vitamin A antara lain hati, kuning telur, susu, minyak ikan dan mentega.
Defisiensi vitamin A akan meningkatkan resiko morbiditas (angka kesakitan dan penyakit infeksi (Gibney et al. 2008). Berdasarkan hasil penelitian Masturoh (2012) bahwa sebagian besar contoh contoh Sahid (97.1%) dan contoh UQI (88.5%) memiliki status kesehatan yang tidak sehat (sakit). Gejala/jenis
penyakit yang paling banyak ditemukan pada sebagian besar contoh yaitu gejala atau jenis penyakit infeksi, untuk contoh Sahid sebesar 87.9% menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), sedangkan untuk contoh UQI sebesar 84.4% menderita ISP (Infeksi Saluran Pencernaan). Observasi berbasis komunitas yang dilakukan oleh Sommer et al. 1980-an mengungkapkan bahwa anak-anak Indonesia yang menderita xeroptalmia ringan dengan atau tanpa penampakan kelainan gizi lain menghadapi kemungkinan terkena diare atau infeksi pernapasan yang besarnya dua hingga tiga kali lipat dibandingkan anak-anak yang tidak menderita xeroptalmia (Gibney et al. 2008).
Tabel 23 Sebaran contoh berdasarkan klasifikasi tingkat kecukupan vitamin
Tingkat Kecukupan Vitamin Sahid UQI
n % n % Vitamin A Cukup 11 16.2 0 0.0 Defisit 57 83.8 87 100.0 Total 68 100.0 87 100.0 Vitamin B1 Cukup 37 54.4 39 44.8 Defisit 31 45.6 48 55.2 Total 68 100.0 87 100.0 Vitamin C Cukup 8 11.8 0 0.0 Defisit 60 88.2 87 100.0 Total 68 100.0 87 100.0
Lebih dari separuh contoh Sahid memiliki tingkat kecukupan vitamin B1
cukup (54.4%) sedangkan pada contoh UQI sebagian besar defisit (55.2%). Tingkat kecukupan vitamin C pada contoh Sahid sebagian besar adalah defisit yaitu sebesar 88.2% dan pada contoh UQI seluruhnya defisit. Hal ini diduga, karena contoh kurang mengonsumsi pangan sumber vitamin C.
Tingkat Kecukupan Mineral
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh, yaitu antara 1.5%-2% dari berat badan orang dewasa. Kalsium sangat berperan penting dalam pembentukan tulang dan gigi. Kalsium juga mengatur pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan (Almatsier 2009).
40
Tabel 24 Sebaran contoh berdasarkan klasifikasi tingkat kecukupan mineral
Tingkat Kecukupan Mineral Sahid UQI
n % n % Kalsium Cukup 25 36.8 27 31.0 Defisit 43 63.2 60 69.0 Total 68 100.0 87 100.0 Fosfor Cukup 0 0.0 25 28.7 Defisit 68 100.0 62 71.3 Total 68 100.0 87 100.0 Zat besi Cukup 0 0.0 6 6.9 Defisit 68 100.0 81 93.1 Total 68 100.0 87 100.0
Tingkat kecukupan kalsium contoh Sahid adalah defisit (63.2%), sedangkan pada contoh UQI adalah defisit (69%). Hal ini diduga, contoh kurang mengonsumsi pangan sumber kalsium. Angka kecukupan kalsium untuk remaja usia 13-18 tahun perempuan adalah 1000 mg per hari (WNPG 2004). Pangan sumber kalsium utama adalah susu dan produk turunannya. Menurut Almatsier (2009), kekurangan kalsium pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan. Tulang kurang kuat, mudah bengkok, dan rapuh.
Tingkat ketersediaan mineral (kalsium, fosfor, dan zat besi) dari makanan asrama di Pesantren Sahid (28.6%, 52.7%, dan 41.8%) maupun di Pesantren UQI (18.2%, 29.1%, dan 38.4%) (Tabel 20) dapat diduga yang menyebabkan seluruh contoh Sahid dan contoh UQI memilki tingkat kecukupan fosfor dan zat besi defisit. Menurut Almatsier (2009), defisiensi besi umumnya terjadi pada golongan rentan seperti anak-anak, remaja, ibu hamil dan menyusui serta pekerja berpenghasilan rendah. Kekurangan besi dapat menyebabkan anemia gizi besi, gangguan penyembuhan luka, terganggunya kekebalan tubuh, menurunnya kemampuan belajar, dan berkurangnya produktivitas kerja. Sumber zat besi yang baik adalah bahan pangan hewani seperti daging, ayam dan ikan.
Sebagian besar tingkat konsumsi energi dan zat gizi di kedua contoh ada pada kategori defisit. Hal tersebut diduga karena tingkat ketersediaan masih di bawah 100%, selain itu berdasarkan penelitian Adila (2012) bahwa rata-rata kontribusi energi dan zat gizi dari menu makanan yang dikonsumsi terhadap angka kecukupan sehari contoh Sahid sebagian besar masih kecil persentasenya. Kontribusi yang paling besar yaitu konsumsi vitamin B1 yaitu 64% dari angka kecukupannya. Rata-rata kontribusi energi dan zat gizi contoh UQI
dari konsumsi menu makanan yang disediakan dalam penyelenggaraan makanan masih sangat kecil bahkan di bawah 50%.
Rendahnya tingkat konsumsi energi dan zat gizi karena 41% contoh Sahid belum mengonsumsi semua atau satu porsi makanan yang disediakan asrama. Masih cukup banyak contoh UQI yang hanya mengonsumsi ½ bagian makanan (23%) dan ¾ bagian makanan (24%). Berdasarkan hasil pengamatan adanya beberapa contoh yag mengambil jumlah/porsi makanan lebih sedikit dibandingkan dengan yang disediakan dengan alasan ingin berdiet karena sangat mementingkan bentuk badannya. Body image adalah konsep mental diri seseorang yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan dan perubahan terhadap proporsi tubuh. Menurut Sediaoetama (2006) bahwa remaja putri sangat mementingkan bentuk badannya, sehingga banyak yang berdiet tanpa nasihat atau pengawasan seorang ahli kesehatan dan gizi.
Status Gizi
Menurut Riyadi (2001), status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau kelompok orang yang diakibatkan konsumsi, penyerapan, dan penggunaan zat gizi makanan. Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran yang dikonsumsinya dalam jangka waktu cukup lama. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut Indeks Antropometri. Indeks BB/U menggambarkan status gizi seseorang saat ini (current nutritional status) sementara indeks TB/U menggambarkan status gizi masa lalu (Supariasa 2002). Menurut Riyadi (2001) bahwa IMT menurut umur (IMT/U) direkomendasikan sebagai indikator terbaik untuk remaja.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan indikator indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U), secara umum status gizi sebagian besar contoh Sahid dan UQI adalah normal (69.1% dan 79.3%). Berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur, secara umum status gizi sebagian besar contoh Sahid dan UQI adalah normal (88.2% dan 75.9%). Sama halnya status gizi berdasarkan indikator berat badan menurut umur, secara umum status gizi sebagian besar contoh Sahid dan UQI adalah gizi baik (91.2% dan 92.0%) (Tabel 25).
42
Tabel 25 Sebaran status gizi contoh berdasarkan IMT/U, TB/U, dan BB/U
Status gizi sampel Sahid UQI
n % n %
Indikator IMT/U Sangat Kurus 0 0,0 1 1,1
Kurus 2 2,9 0 0,0
Normal 47 69,1 69 79,3
Overweight 13 19,1 13 14,9
Obesitas 6 8,8 4 4,6
Total 68 100,0 87 100,0
Indikator TB/U Sangat Pendek 0 0,0 5 5,7
Pendek 8 11,8 16 18,4
Normal 60 88,2 66 75,9
Total 68 100,0 87 100,0
Indikator BB/U Gizi Kurang 6 8,8 7 8,0
Gizi Baik 62 91,2 80 92,0
Gizi Lebih 0 0,0 0 0,0
Total 68 100,0 87 100,0
Hubungan Antar Variabel
Hubungan antar variabel dimaksudkan untuk melihat hubungan pengetahuan gizi dengan tingkat konsumsi dan tingkat konsumsi dengan status gizi. Baik buruknya pengetahuan gizi akan mempengaruhi tingkat konsumsi santri putri. Pengetahhuan yang baik diharapkan dapat berdampak baik terhadap tingkat konsumsi santri putri. Tingkat konsumsi yang baik diharapkan akan berdampak baik terhadap status gizi. Berdasarkan hubungan tersebut bisa saja tidak berhubungan nyata karena contoh yang digunakan homogen. Namun, apabila dilihat berdasarkan hasil penelitian yang didapat, rendahnya konsumsi terhadap angka kecukupan contoh dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan gizi yang sedang.
Hubungan antara Pengetahuan Gizi dengan Tingkat Kecukupan Energi dan Protein
Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak ada hubungan yang nyata (p>0.05) antara pengetahuan gizi dengan tingkat kecukupan energi dan protein. Menurut Fatimah (2002), periode remaja adalah periode perubahan yang sangat drastis baik fisik maupun psikologi, sehingga pengetahuan yang baik tidak selalu mencerminkan perilaku remaja tersebut dalam mengonsumsi makanan, sebab perilaku yang salah banyak ditemui bagi remaja putri seperti membatasi kenaikan berat badan dengan mengurangi konsumsi makanan yang telah disediakan oleh penyelenggara makanan.
Hubungan antara Pengetahuan Gizi dengan Tingkat Kecukupan Vitamin dan Mineral
Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara pengetahuan gizi dengan tingkat kecukupan vitamin C (p<0.05). Menurut Suhardjo (1989), pengetahuan gizi juga berpengaruh positif pada intik makanan, remajayang memiliki skor pengetahuan gizi, ternyata menunjukkan intik vitamin C yang cukup tinggi. Pada Hasil uji korelasi Spearman, hubungan antara pengetahuan gizi dengan tingkat kecukupan vitamin A, vitamin B1, kalsium, fosfor, dan zat besi tidak menunjukkan adanya hubungan yang nyata (p>0,05).
Hubungan antara Tingkat Kecukupan Energi dan Protein dengan Status Gizi
Secara keseluruhan, uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara tingkat kecukupan energi dengan status gizi (IMT/U) contoh (p<0.05). Tetapi, tidak adanya hubungan yang nyata antara tingkat kecukupan protein dengan status gizi.
Hubungan antara Tingkat Kecukupan (Vitamin dan Mineral) dengan Status Gizi
Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara tingkat kecukupan kalsium dengan status gizi (IMT/U) contoh (p<0,05). Menurut Braun et al. (2007) intik kalsium yang tinggi pada masa remaja dapat mempengaruhi tingginya densitas mineral tulang pada saat dewasa. Tetapi, hasil uji korelasi Spearman antara tingkat kecukupan vitamin (A, B1, dan C), fosfor dan zat besi dengan status gizi (IMT/U) contoh menunujukkan tidak adanya hubungan yang nyata.
Hubungan antara Pengetahuan Gizi dengan Status Gizi
Pengetahuan gizi yang baik pada seseorang diharapkan akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan dan