BAB II HUKUM ACARA PERDATA DI INDONESIA DAN HUKUM
D. Sumber Hukum Acara Pengadilan Agama
Dalam lingkungan Peradilan Agama di Indonesia, sumber hukum yang
dipakai atau dijadikan rujukan dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan
setiap perkara yang diajukan kepadanya secara garis besar terbagi menjadi dua;
yaitu sumber hukum materil dan sumber hukum formil (hukum acara).
1. Hukum Materiil Peradilan Agama
Hukum Materiil Peradilan Agama adalah hukum Islam atau yang
lebih dikenal dengan hukum fiqh.26 Hukum materiil Peradilan Agama pada
masa lalu bukan merupakan hukum tertulis (Hukum Positif) dan masih
tersebar dalam berbagai kitab fiqh karya ulama, dalam implementasinya
sering menimbulkan perbedaan (disparitas) ketentuan hukum tentang
masalah yang sama, sehingga untuk mengeliminasi perbedaan tersebut dan
menjamin kepastian hukum, maka hukum-hukum materiil tersebut dijadikan
hukum positif yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan.
Adapun hukum materil yang digunakan dalam Peradilan Agama,
adalah meliputi :
a. Undang-undang No. 22 Tahun 1946 dan Undang-undang No. 23 Tahun
1954 yang mengatur tentang hukum perkawinan, talak dan rujuk.
b. Surat Biro Peradilan Agama No. B/1/735 tangal 18 februari 1968 yang
merupakan pelaksana PP No. 45 Tahun 1957 tentang Pembentukkan
Peradilan Agama di luar Jawa dan Madura.
c. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
26 Basiq Jalil, Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta: Kecncana, 2006), hlm. 147.
32
d. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, tentang Peraturan
Pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 1974.
e. PP No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik.
f. UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama jo UU No. 3 Tahun
2006
g. Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI)
Inpres ini mengamanatkan Menteri Agama untuk menyebarluaskan
KHI yang terdiri dari buku I tentang Hukum Perkawinan, buku II
tentang Hukum Kewarisan, buku III tentang Hukum Perwakafan
sebagai pedoman Hakim Agama memutus suatu perkara.
h. UU No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat
i. UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf
j. PERMA Nomor 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi
Syariah (KHES).
Dalam surat Biro Peradilan No. B/1/735 tangal 18 februari 1968
tersebut diatas dinyatakan bahwa, untuk mendapatkan kesatuan hukum
materiil dalam memeriksa dan memutus perkara, maka para hakim Peradilan
Agama/Mahkamah Syar’iyah dianjurkan agar menggunakan sebagai
rujukkan 13 kitab fiqh, yaitu27 ;
a. Al-Bajuri;
b. Fatkhul Mu’in;
c. Syarqawi ‘Alat Tahrir;
27Hotnidah Nasution, Buku Dasar Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta: FSH UIN
Syahid, 2007), hlm. 89.
d. Qalyubi wa Umairah/al-Mahali;
e. Fatkhul wahab;
f. Tuhfah;
g. Targhi>b al-Mustaq;
h. Qawani>n Syari’ah li Sayyid bin Yahya;
i. Qawani>n Syari’ah li Sayyid Shadaqah;
j. Syamsuri li Fara’id;
k. Bughyat al-Musytarsyidi>n;
l. al-Fiqh al Madza>hib al-arba’ah;
m. Mughni al-Muhta>j.
Kibat-kitab ilmiah tersebut diatas cukup otoritatif, namun hukum
yang terkandung didalamnya tidak merupakan hukum tertulis sebagaimana
perundang-undangan yang dibuat oleh eksekutif dan legislatif. Bagi yang
berpendapat bahwa hukum positif adalah hukum yang tertulis, hukum-
hukum menjadi pedoman Pengadilan Agama masih dianggap sebagai
hukum yang secara riil berlaku dalam masyarakat adalah hukum positif. hal
ini di legalisasi dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970
tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, telah diubah
dengan Undang-unang Nomor 4 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman,
ditegaskan bahwa seorang hakim mengadili, memahami, dan mengikuti
nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.
34
Secara tegas Pasal 54 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006
dan perubahan kedua dengan Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009
dinyatakan, Hukum Acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan
Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku dalam
lingkungan Peradilan Umum, kecuali yang telah diatur secara khusus dalam
Undang-undang ini. Oleh karena itu dapat tegaskan bahwa sumber hukum
acara Peradilan Agama yang berupa peraturan perundang-undangan antara
lain28 :
a. Reglement op de Burgerlijk Rechtsvordering (B.Rv)
b. Inlandsh Reglement (IR)
Ketentuan Hukum Acara ini diperuntukkan bagi golongan Bumi
Putra dan Timur Asing yang berada di Jawa dan Madura. Setelah
beberapa kali perubahan dan penambahan Hukum acara ini dirubah
namanya menjadi Het Herzience Indonesie Reglement (HIR) atau
disebut juga Reglemen Indonesia yang diperbaharui (RIB) yang
diberlakukan dengan Stb. 1848 Nomor 16 dan Stb. 1941 nomor 44.
c. Bugerlijke Wetbook voon Indonesie (BW)
BW. dalam bahasa Indonesia disebut dengan Kitab Undang-
undang Hukum Perdata terdapat juga sumber Hukum Acara Perdata
28Cik Basir, Penyelesaian Sengketa Perbankan syari’ah Di Pengadilan Agama &
Mahkamah Syar’iah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 154-157
khususnya buku ke IV tentang Pembuktian, yang termuat dalam pasal
1865 s/d 1993.
d. Wetboek van Koophandel (WvK)
Dalam bahasa Indonesia WvK dikenal dengan Kitab Undang-
undang Hukum Dagang mengatur juga penerapan acara dalam praktek
peradilan, khususnya pasal 7, 8, 9, 22, 23, 32, 225, 258, 272, 273, 274
dan 275. Dan terdapat juga hukum acara perdata yang diatur dalam
Failissements Verodering (aturan kepailitan) yang diatur dalam Stb.
1906 nomor 348.
e. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1989 tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
f. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.
g. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah.
h. Undang-Undang Nomor 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.
i. Peraturan Bank Indonesia No. 6/24/PBI/2004 tanggal 14 Oktober 2004
tentang Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan
Prinsip syari’ah.
j. Peraturan Bank Indonesia No. 6/17/PBI/2004 tanggal 01 Juli 2004
tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip syari’ah.
k. SK Direksi Bank Indonesia No. 21/48/Kep./Dir/1998 tentang Sertifikasi
36
l. Surat Edaran Bank Indonesia No. 28/32/UPG tanggal 4 Juli 1995
tentang Bilyet Giro.
m. Berbagai Surat Keputusan dan surat Edaran Bank Indonesia lainnya
yang berkaitan dengan kegiatan usaha perbankan syari’ah.
Selain peraturan perundang-undangan sebagamana tersebut diatas,
ada beberapa sumber hukum acara perdata yang dapat dipergunakan untuk
menyelesaiakan perkara ekonomi syari’ah diantaranya29 :
a. Fatwa-fatwa Dewan Syari’ah Nasionl (DSN).
b. Akad Perjanjian (kontrak).
c. Kitab-kitab Fiqh dan Ushul Fiqh (Doktrin).
d. Kearifan Lokal (adat Kebiasaan).
e. Yurisprudensi.30