• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Sumber Data

Data primer dikumpulkan melalui teknik wawancara. Wawancara yaitu data yang diperoleh langsung dari informan melalui tatap muka langsung dan terbuka sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

2. Data Sekunder

Data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui studi kepustakaan, referensi-referensi, peraturan perundang-undangan, dokumen, observasi, yang diperoleh dari lokasi penelitian.

D. Informan Penelitian

Informan penelitian pada penelitian ini ditentukan secara purposive yaitu terdiri atas kepala desa 1 orang, sekrertaris desa 1 orang, staf desa 2 orang, ketua BPD 1 orang, dan tokoh masyarakat 2 orang. Informan dalam penelitian ini adalah instansi yang terkait dan masyarakat.

E. Pengumpulan Data Penelitian

Teknik pengumpulan data yang diperlukan, yaitu: 1. Observasi

Observasi yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian terhadap kinerja pemerintah desa di Desa Lagego Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur.

2. Wawancara

Menurut Satori dan Komariah, (2013:130), wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab.

Wawancara dan observasi dalam penelitian ini dilakukan secara tidak terstruktur atau terbuka yaitu wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan

lengkap untuk pengumpulan data. Pedoman wawancara hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.

3. Dokumentasi

Dokumentasi, yaitu pencatatan dokumen dan data yang berhubungan dengan penelitian ini. Data ini berfungsi sebagai bukti dari hasil wawancara di atas.

Kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan menelusuri dan mempelajari dokumen-dokumen yang sudah ada. Hal ini dimaksud untuk mendapatkan data dan informasi yang berhubungan dengan materi penelitian. Studi dokumentasi dilakukan dengan mempelajari buku-buku dan hasil laporan lain yang ada kaitannya dengan penelitian.

F. Analisis Data Penelitian

Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan semua data kedalam kategori, penjabaran, melakukan sintesa, memilih mana yang penting dan membuat kesimpulan dan mempermudah diri sendiri maupun orang lain.

Teknik analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif analisis presentase. Berdasarkan hasil penelitian kemudian ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif. Hasil analisis data tersebut dijadikan kesimpulan akhir dalam penelitian.

G. Pengabsahan Data

Validasi data sangat mendukung hasil akhir penelitian, oleh karena itu diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan data. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan teknik triangulasi.

Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Teknik seperti ini juga menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama.

Triangulasi sumber data dilakukan untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini, untuk menguji kredibilitas data tentang kinerja pemerintah Desa, pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan kepada staf Desa dan masyarakat yang terkait.

H. Jadwal Penelitian

Adapun pelaksanaan penelitian yang direncanakan mencakup dua tahap, yaitu:

1. Persiapan

Tahap ini peneliti mengurus perizinan, penyusunan instrument penelitian selama dua minggu.

2. Pelaksanaan

Tahap ini peneliti mengumpulkan data, mengolah data, menganalisis data yang diperoleh kemudian penarikan kesimpulan selama dua bulan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Atau Karasteristik Objek Penelitian 1. Keadaan Kantor Desa Lagego Secara Geografis

Desa Lagego merupakan salah satu pemekaran dari desa Burau yang berdiri sejak tahun 1993, namun belum memiliki struktur organisasi, struktur organisasi dibuat pada tahun 1997, luas wilayahnya sekitar ± 250,25 Ha. sebelah utara berbatasan dengan desa Batu Putih, sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Bone, sebelah timur berbatasan dengan desa Burau, dan sebelah barat berbatasan dengan esa Lauwo. Dengan jumlah dusun sebanyak 5 dusun. Ibu kota kabupaten Desa Lagego adalah Malili, Desa Lagego berjarak sekitar 97 km dari ibu kota Malili kabupaten Luwu Timur. Jumlah penduduk sebanyak 5.072 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 2.468 jiwa, perempuan sebanyak 2.604 jiwa, dan beberapa fasilitas umum yang ada terdapat di desa Lagego antara lain adalah terdiri dari sarana pendidikan, kesehatan, dan sarana ibadah. Penduduk desa Lagego umumnya bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, dan dari sektor nonpertanian yakni perdagangan (kecil, menengah dan besar).

2. Keadaan Kantor Desa Lagego Secara Demografis

Secara demografis, jumlah penduduk desa Lagego pada tahun 2014 sebanyak 5.072 jiwa, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 2.468 jiwa, dan perempuan sebanyak 2.604 jiwa. Mereka mendiami kedalam 5 (lima) wilayah administrasi pemerintahan dusun yaitu dusun Lagego, dusun Lagego 1, dusun Mar-Mar, dusun Batangnge dan dusun Bukit Sawit. Kelima dusun ini

masing berfotensi untuk mengembangkan baik palawija dan holtikultura. Jumlah penduduk desa Lagego didominasi oleh kaum perempuan dibandingkan kaum laki-laki. Dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Distribusi Luas Wilayah Desa Lagego Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur

NO Nama Dusun Luas Wilayah (km2)

1 Lagego 3 km2 2 Lagego 1 2 km2 3 Mar-Mar 1 km2 4 Batangnge 2 km2 5 Bukit Sawit 3 km2 Jumlah 11 km2

Sumber: Kantor Desa Lagego Juli 2014

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah luas wilayah desa Lagego 11 km2 dari 5 (lima) dusun. Tiap-tiap dusun memiliki luas wilayah yaitu : Lagego 3 km2, Lagego 1. 2 km2, Mar-Mar 1 km2, Batangnge 2 km2 dan Bukit Sawit 3 km2.

3. Mata pencaharian

Dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dalam keluarganya penduduk desa Lagego memiliki beragam mata pencaharian. Mata pencaharian desa Lagego untuk jelasnya dapat kita lihat dari tabel berikut ini:

Tabel 2. Distribusi Penduduk Desa Lagego Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur Menurut Mata Pencaharian

No Mata Pencaharian Jumlah

1 Petani 2.500 2 Pedagang 600 3 Pegawai Swasta 350 4 PNS 300 5 POLRI 4 6 ABRI 7 7 Belum bekerja 1.311 Jumlah 5072

Sumber: Kantor Desa Lagego Juli 2014

Dari tabel diatas menunjukkan jumlah penduduk keseluruhan sebanyak 5072 jiwa, bermata pencaharian petani sebanayak 2.500 jiwa, pedagang 600 jiwa, pegawai swasta 350 jiwa, PNS 300 jiwa, POLRI 4 jiwa, ABRI 7 jiwa dan belum bekerja/ belum berpenghasilan sebanyak 1.311 jiwa.

4. Visi Dan Misi Pemerintahan Desa Lagego Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur

Adapun visi pemerintahan desa Lagego Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur: “menjadi kepala desa yang bersih, transparan dan amanah dalam rangka mewujudkan masyarakat Lagego yang kompak, dinamis, kreatif, inovatif, mandiri, santun dan berkepribadian”. Sedangkan misi pemerintahan desa Lagego Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur adalah sebagai berikut:

a. Memperkokoh persatuan dan kerukunan antar warga Lagego tanpa memandang agama, status sosial, golongan maupun jenis kelamin.

b. Meningkatkan sistem pelayanan kepada masyarakat.

c. Memberdayakan masyarakat dalam proses pembangunan melalui penguatan ekonomi kerakyatan dan optimalisasi potensi lokal.

d. Terwujudnya transparansi dan profesionalisme dalam penyelenggaraan pemerintahan.

e. Pelestarian lingkungan hidup dalam setiap kebijakan pembangunan. f. Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan sebagai

5. Struktur Organisasi Desa Lagego

Sumber: Kantor Desa Lagego Juli 2014

Kepala Desa BPD Bendahara Sekertaris Kaur Pemerintahan Kaur Pembangunan Kaur Umum

6. Tugas Pokok Dan Fungsi Aparatur Desa Lagego a. Kepala Desa

1) Menyelenggarakan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD.

2) Mengajukan rancangan peraturan desa.

3) Menetapkan peraturan-peraturan yang telah mendapatkan persetujuan bersama BPD.

4) Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengnenai APB Desa untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD.

5) Membina kehidupan masyarakat desa. 6) Membina ekonomi desa.

7) Mengordinasikan pembangunan desa secara partisipatif.

8) Mewakili desanya di dalam dan luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan

9) Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

b. Badan Perwakilan Desa (BPD)

BPD mempunyai fungsi menetapkan peraturan desa bersama kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

Tugas Badan Perwakilan Desa (BPD) yaitu:

2) Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan peraturan kepala desa.

3) Mengusulkan, pengangkatan dan pemberhentian kepala desa. 4) Membentuk panitia pemilihan kepala desa.

5) Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

Hak Badan Perwakilan Desa (BPD) yaitu: 1) Meminta keterangan kepada pemerintah desa.

2) Menyatakan pendapat Kewajiban.

3) Mengamalkan pancasila, melaksanakan UUD 1945 dan mentaati segala peraturan perundang-undangan.

4) Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.

5) Mempertahankan dan memelihara hukum nasional serta keutuhan NKRI.

6) Menyerap, menampung, menghimpun dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat.

7) Memproses pemilihan Kepala desa.

8) Mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan.

9) Menghormati nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat setempat.

10) Menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga kemasyarakatan.

c. Sekretaris Desa

Tugas Pokok sekretaris desa yaitu membantu Kepala desa dalam mempersiapkan dan melaksanakan pengelolaan administrasi desa, mempersiapkan bahan penyusunan laporan penyelenggaraan Pemerintah desa.

Fungsi sekretaris desa yaitu:

1) Penyelenggara kegiatan administrasi dan mempersiapkan bahan untuk kelancaran tugas kepala desa.

2) Melaksanakan tugas kepala desa dalam hal kepala desa berhalangan Melaksanakan tugas kepala desa apabila kepala desa diberhentikan sementara.

3) Penyiapan bantuan penyusunan peraturan desa.

4) Penyiapan bahan Laporan Penyelenggaraan pemerintahan desa. 5) Pengkoordinasian Penyelenggaraan tugas-tugas urusan; dan 6) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa. d. Bendahara/Kaur Keuangan

Tugas pokok membantu sekretaris desa dalam melaksanakan pengelolaan sumber pendapatan desa, pengelolaan administrasi keuangan desa dan mempersiapkan bahan penyusunan APB Desa.

Fungsi Bendahara/kaur keuangan yaitu:

1) Pelaksanaan pengelolaan administrasi keuangan Desa. 2) Persiapan bahan penyusunan APB Desa; dan

3) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris Desa. e. Kaur Pemerintahan

Tugas pokok membantu kepala desa dalam melaksanakan pengelolaan administrasi kependudukan, administrasi pertanahan, pembinaan, ketentraman dan ketertiban masyarakat Desa, mempersiapkan bahan perumusan kebijakan penataan, Kebijakan dalam Penyusunan produk hukum desa.

Fungsi kaur pemerintahan yaitu:

1) Pelaksanaan kegiatan administrasi kependudukan.

2) Persiapan bahan-bahan penyusunan rancangan peraturan desa dan keputusan kepala desa.

3) Pelaksanaan kegiatan administrasi pertanahan. 4) Pelaksanaan kegiatan pencatatan monografi desa.

5) Persiapan bantuan dan melaksanakan kegiatan penataan kelembagaan masyarakat untuk kelancaran penyelenggaraan pemerintahan desa. 6) Persiapan bantuan dan melaksanakan kegiatan kemasyarakatan yang

berhubungan dengan uapaya menciptakan ketentraman dan ketertiban masyarakat dan pertanahan sipil.

7) Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan kepala desa. d. Kaur Pembangunan

Tugas pokok kaur pembangunan yaitu membantu Kepala Desa dalam melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis pengembangan ekonomi masyarakat dan potensi desa, pengelolaan administrasi pembangunan,

pengelolaan pelayanan masyarakat serta Penyiapan bahan usulan kegiatan dan pelaksanaan tugas pembantuan.

Fungsi kaur pembangunan yaitu:

1) Penyiapan bantuan-bantuan analisa dan kajian perkembangan ekonomi masyarakat.

2) Pelaksanaan kegiaatan administrasi pembangunan. 3) Pengelolaan tugas pembantuan.

4) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa. g. Kaur Umum

Tugas kaur umum yaitu membantu sekretaris desa dalam melaksanakan administrasi umum, tata usaha dan kearsipan, pengelolaan inventaris kekayaan desa, serta mempersiapkan bahan rapat dan laporan.

Fungsi kaur umum yaitu:

1) Pelaksanaan, pengendalian dan pengelolaan surat masuk dan surat keluar serta pengendalian tata kearsipan.

2) Pelaksanaan pencatatan inventarisasi kekayaan desa. 3) Pelaksanaan pengelolaan administrasi umum.

4) Pelaksanaan penyediaan, penyimpanan dan pendistribusian alat tulis kantor serta pemeliharaan dan perbaikan peralatan kantor.

5) Pengelolaan administrasi perangkat desa. 6) Persiapan bahan-bahan laporan.

7) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh sekretaris desa.

g. Kepala Dusun (KADUS) Tugas kepala dusun yaitu:

1) Membantu pelaksanaan tugas kepala desa dalam wilayah kerjanya. 2) Melakukan pembinaan dalam rangka meningkatkan swadaya dan

gotong royong masyarakat.

3) Melakukan kegiatan penerangan tentang program pemerintah kepada masyarakat.

4) Membantu kepala desa dalam pembinaan dan mengkoordinasikan kegiatan RW (Rukun Wilayah) dan RT (Rukun Tetangga) diwilayah kerjanya.

5) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa. Fungsi kepala dusun yaitu:

1) Melakukan koordinasi terhadap jalannya pemerintah desa, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan masyarakat diwilayah dusun.

2) Melakukan tugas dibidang pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan yang menjadi tanggung jawabnya.

3) Melakukan usaha dalam rangka meningkatkan partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat dan melakukan pembinaan perekonomian.

4) Melakukan kegiatan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat.

B. Kinerja Pemerintah Desa Lagego Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur

Organisasi sektor publik sangat dipengaruhi oleh faktor politik. Konsep value for money yang terdiri dari ekonomi, efisiensi, dan efektivitas perlu diperluas lagi dengan adanya keadilan (equity). Prinsip keadilan ini terkait juga dengan prinsip kesetaraan (equality). Kesetaraan berarti pemerintah mengutamakan pelayanan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan. Keadilan berarti bahwa setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan, tidak ada diskriminasi, atau hak istimewa atas kelompok tertentu. Penambahan konsep equity dan equality disebabkan bila pemerintah hanya berfokus pada ekonomi, efisiensi, dan efektifitas saja maka sangat mungkin akan mengorbankan pihak tertentu. Hanya berfokus pada ekonomi, efisiensi, dan efektifitas saja dapat menyebabkan organisasi mengabaikan etika bisnis dan tanggung jawab sosial. Padahal sektor publik bertujuan mewujudkan kesejahteraan sosial.

Untuk dapat meningkatkan kinerja sektor publik perlu adanya perluasan konsep value of money yaitu dengan adanya konsep best value. konsep best value adalah suatu konsep yang mewajibkan unit kerja pemberi pelayanan publik untuk memberikan pelayanan terbaik. Setiap unit kerja yang dikategorikan sebagai unit kerja best value harus memberikan pelayanan secara terus-menerus dengan cara mengkombinasikan prinsip ekonomi, efisiensi, dan efektivitas dalam pelayanan. Pelayanan yang diberikan tidak semata-mata didasarkan atas ketersediaan dana, akan tetapi pemberiaan pelayanan adalah karena adanya kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian pelayanan bukan merupakan fungsi pendapatan yang berarti pelayanan hanya akan ditingkatkan apabila pendapatan pemerintah naik, tapi pelayanan tersebut merupakan fungsi kebutuhan, yaitu pelayanan dilakukan karena adanya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan tersebut.

Kinerja merupakan hasil kerja yang dapat dicapai pegawai dalam suatu organisasi/instansi pemerintah, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan dalam upaya mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi/instansi pemerintah bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.

Kinerja pemerintah desa Lagego dalam pelayanan publik dapat kita lihat dalam kemampuan kerja aparatur, dimana aparatur masing-masing memiliki tugas dan wewenang diantaranya yang telah dijalankan meliputi yaitu pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan tugas atau wewenangnya. kinerja aparatur desa Lagego dalam pelayanan publik belum berjalan dengan baik dan belum ada peningkatan karena hasil kinerjanya kurang memuaskan bagi pengguna jasa pelayanan publik tersebut.

Berdasarkan pembahasan maka selanjutnya akan dibahas aspek-aspek kinerja yaitu mengenai efesiensi, efektivitas, keadilan dan daya tanggap.

1. Efisiensi

Efisiensi merupakan salah satu yang di harapkan pada tiap-tiap instansi baik instansi pemerintahan maupun swasta dimana dalam proses pelayanan publik, kinerja yang baik dilihat dari tingkat keberhasilannya namun, apa yang sering marak terjadi di birokrasi pemerintahan jauh dari semua itu.

Efisiensi berbicara mengenai input dan output. Efisiensi terkait dengan hubungan antara output berupa barang atau pelayanan yang dihasilkan dengan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Suatu organisasi, program atau kegiatan dikatakan efisien apabila mampu menghasilkan output tertentu dengan input serendah-rendahnya, atau dengan input tertentu mampu menghasilkan output sebesar-besarnya. Konsep efisiensi juga terkait dengan produktivitas. Produktivitas merupakan perbandingan antara input dan out put. Dalam pusat pertanggungjawaban teknik, untuk mengukur efisiensi dilakukan dengan cara membandingkan biaya sesungguhnya dengan biaya standar. Pengukuran efisiensi dilakukan dengan cara membandingan realisasi dengan standar biaya.

Demikian halnya dengan kinerja pemerintah desa Lagego dalam meningkatkan efisiensi pelayanan publik, baik Kepala desa, dan para staf desa bertisipasi dalam meningkatkan kinerjanya namun di desa ini masih terdapat banyak keluhan oleh para masyarakat, dimana warga sekitar desa Lagego mengeluhkan tentang pelayanan publik yang kurang efisien bilamana pengurusan surat-surat masih dipungut biaya (pungutan liar).

Berdasarkan hal tersebut diatas salah satu tokoh masyarakat yang bernama Mursalim mengutarakan pendapatnya bahwa:

“Kalau berbicara masalah pengurusan surat-surat di kantor desa Lagego memang sangat lama dan hasilnya juga kurang memuaskan apalagi kalau sudah sangat dibutuhkan sekali ( Hasil wawancara MS, 7 juli 2014)”.

Berdasarkan penuturan oleh salah satu tokoh masyarakat desa Lagego, penulis dapat menguraikan bahwa kinerja pemerintah desa Lagego dalam pelayanan publik dalam hal ini pengurusan surat-surat pelayanannya sangat lama.

Kita juga dapat mengetahui bahwa kinerja yang dilakukan oleh aparatur pemerintah desa Lagego dalam pengurusan surat-surat hasilnya kurang memuaskan ini terlihat apabila masyarakat pada saat itu melakukan pengurusan dan pada saat itu juga mereka telah membutuhkan surat-surat kemudian hasilnya kurang memuaskan. Mereka harus melakukan pengurusan kembali namun, penyelesaiannya juga sangat lama.

Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu masyarakat yang bernama Gagang mengatakan bahwa:

“Dulu saya, waktu mengurus kartu keluarga, jengkel sekali ka‟ saya rasa karena dibayar mi baru hasilnya salah-salah ji padahal mau mi dipake pada saat itu, betul-betul kinerjanya kurang efisien (Hasil wawancara GG, 7 juli 2014)”.

Berdasarkan penuturan salah satu warga desa Lagego di atas, penulis dapat menguraikan bahwa dalam pengurusan surat-surat seperti kartu keluarga di desa lagego masih membutuhkan biaya administrasi padahal yang seharusnya kita ketahui sekarang ini biaya administrasi dalam pengurusan di kantor instansi pemernithahan tidak lagi memungut biaya administrasi.

Penulis juga dapat menyimpulkan dari hasil wawancara di atas bahwa dalam pengurusan surat-surat seperti kartu keluarga selain membutuhkan biaya (pungutan liar), namun hasilnya juga kurang memuaskan seperti apa yang di harapakan, dari sini dapat terlihat jelas bahwa kinerja aparatur desa Lagego belum efisien hal ini membuat masyarakat merasa jengkel.

Hal serupa juga diungkapkan oleh salah satu masyarakat yang bernama Syamsuddin mengutarakan pendapatnya bahwa:

“Saya juga pernah mengurus surat-surat kenapa na lama sekali kayak di pimpongki sa rasa di suruhki mengurus kesana kemari sekalinya keluar hasilnya e tidak sesuai dengan yang saya harapkan ( Hasil wawancara SS, 10 juli 2014)”.

Berdasarkan pernyataan di atas penulis dapat menggambarkan bahwa dalam pengurusan surat-surat di kantor desa Lagego pengurusannya sangat lama. Penulis juga dapat menggambarkan bahwa pengurusan surat-surat di kantor desa Lagego selain proses pengurusannya sangat lama pelayanannya juga berbelit-belit dan hasilnya juga kurang memuaskan.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dan observasi di lapangan, penulis menemukan bahwa dalam pelayanan publik di desa Lagego kinerjanya belum efisien dikarenakan pada saat pengurusan surat-surat, masih memungut biaya dimana yang semestinya dalam pelayanan publik itu tidak dikenakan biaya apapun, itupun seringkali hasilnya tidak sesuai yang di harapkan, dari sinilah kita lihat bahwa kinerja aparatur pemerintah desa lagego dalam hal pelayanan publik belum sepenuhnya efisien.

2. Efektivitas

Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan dalam setiap organisasi. Efektivitas disebut juga efektif, apabila tercapainya tujuan atau sasaran yang telah ditemukan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soewarno yang mengatakan bahwa efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Efektivitas terkait dengan hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan. Semakin besar kontribusi output terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program, atau kegiatan. Karena output yang dihasilkan organisasi sektor publik lebih banyak bersifat output tidak berwujud yang tidak mudah untuk di kuantifikasi , maka pengukuran efektivitas sering menghadapi kesulitan. Kesulitan dalam pengukuran efektivitas tersebut adalah karena pencapaian hasil sering tidak bisa diketahui dalam jangka pendek, akan tetapi jangka panjang setelah program berakhir, sehingga ukuran efektivitas biasanya dinyatakan secara kualitatif dalam bentuk pernyataan saja. Value for money menghendaki organisasi bisa memenuhi prinsip efisiensi dan efektivitas tersebut secara bersama-sama. Dengan pengertian lain, value for money menghendaki organisasi dapat mencapai tujuan yang ditetapkan dengan biaya yang lebih rendah.

Sedangkan menurut Soekarno (1986:42) efektif adalah pencapaian tujuan atau hasil dikehendaki tanpa menghiraukan faktor-faktor tenaga, waktu, biaya, fikiran alat dan lain-alat yang telah dikeluarkan/ digunakan. Hal ini berarti bahwa pengertian efektivitas yang dipentingkan adalah semata-mata hasil atau tujuan yang dikehendaki. Jadi pengertian efektivitas kinerja organisasi adalah pencapaian tujuan atau hasil yang dilakukan/dikerjakan oleh setiap individu secara bersama-sama.

Berdasarkan hal tersebut diatas salah satu masyarakat yang bernama Gagang mengatakan bahwa:

“Bahwa kinerja aparatur desa Lagego dalam hal pelayanan publik saya rasa masih belum efektif bilamana apabila kita mengurus surat-surat biasanya pasti ada salah-salah, kalau bukan tempat lahirta‟salah tanggal lahirnya lagi yang salah (Hasil wawancara GG, 15 juli 2014)”.

Berdasarkan hasil wawancara oleh salah satu warga di desa Lagego bahwa kinerja pemerintah desa Lagego dalam pelayanan publik belum efektif ini dapat terlihat dari hasilnya yang kurang benar dari cara penulisan nama ataupun tanggal

Dokumen terkait