Catatan Ibnu Ishaq
Tulisan yang paling dini tentang pemilihan khalifah pertama yang berlangsung di Saqifah atau balairung Banu Sa’idah, adalah karya Muhammad bin Ishaq bin Yasar, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Ishaq (85151 H/704768 M) dalam bukunya AsSirah anNabawiyyah. Dalam buku ini, peristiwa yang terjadi di Saqifah Bani Sa’idah itu hanya mengambil tempat tiga setengah halaman. Hal ini dapat dipahami, karena Ibnu Ishaq menulis tentang Sirah atau Riwayat Hidup Nabi, sedang peristiwa Saqifah terjadi sesudah wafatya Rasul.
Catatan Ibnu Sa’d
Penulis kedua ialah Abu Abdullah Muhammad bin Sa’d, yang umum dikenal sebagai Ibnu Sa’d (lahir 168 H/768 M), dalam kitabnya athThabaqat alKubra. Ibnu Sa’d menulis sepanjang dua halaman tentang suku, keluarga, nama dan julukan Abu Bakar. Misalnya, ia mengatakan bahwa tatkala terjadi Isra’ dan Mi’raj, Rasul khawatir bahwa orang tidak akan memercayainya, namun malaikat meyakinkan beliau bahwa Abu Bakar akan memercayainya, karena Abu Bakar adalah asShiddiq; yang benar.
Dalam bab kedua, dengan judul ‘Abu Bakar Masuk Islam’, ia memuat lima riwayat, yang semuanya membuktikan bahwa Abu Bakar asShiddiq adalah lakilaki pertama yang masuk Islam, dan sama sekali menolak riwayat yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thaliblah pria pertama masuk Islam’.
Kemudian disusul oleh bab ketiga, dengan judul ‘Riwayat tentang Gua dan Hijrah Nabi ke Madinah’. Untuk ini ia mengemukakan 26 hadis. Hadishadis ini mengatakan bahwa Abu Bakar adalah ‘satu dari dua orang’, tatkala Rasul bersembunyi di gua dalam perjalanan Hijrah beliau ke Madinah, dan bahwa bantuan Abu Bakar tidak terbatas pada saatsaat yang demikian kritisnya. Kemudian Ibnu Sa’d menceritakan persaudaraan Abu Bakar dan Umar dalam keimanan, dan pernyataan Nabi bahwa mereka berdua adalah pemimpin orang dewasa di surga, untuk selama lamanya, selain para Rasul dan Nabi. Ini disusul lagi dengan hadishadis yang melukiskan kecintaan Rasul kepada Abu Bakar, yaitu tatkala beliau perintahkan Abu Bakar membangun rumahnya di samping Masjid Madinah, sedang para Sahabat lain tidak. Disebutkan bahwa Abu Bakar membela Rasul pada setiap peperangan, dan bahwa dialah yang diperintahkan membawa panji pada perang Tabuk.
Terdapat lima riwayat dalam bab ini yang memuat pernyataan Nabi, bahwa bila Rasul hanya harus memilih seorang Sahabat saja, maka beliau akan memilih Abu Bakar. ‘Tidak ada yang kucintai dari umatku melebihi Abu Bakar,’ sabda Nabi.
Pada bagian keempat, dengan judul ‘Riwayat Tentang Sholat yang Di imami Abu Bakar Atas Perintah Rasul, Sebelum Rasul Wafat’, ia mengemukakan sepuluh hadis, lima di antaranya mengatakan bahwa hanya Abu Bakarlah yang boleh mengimami sholat ketika Rasul sedang sakit. Tiga hadis yang menyusul menceritakan betapa Rasul yang sedang sakit meminta kertas dan tinta untuk mendiktekan wasiat beliau, dan Rasul akan menetapkan Abu Bakar untuk menggantikan beliau kelak sesudah wafat, agar umat tidak akan ragu. Tatkala Abdurrahman bin Abu Bakar akan pergi mengambil kertas dan tinta sesuai perintah Rasul, orangorang yang hadir pada waktu itu mengatakan: ‘Duduklah! Siapa yang akan berselisih paham?’
Riwayat yang kesembilan menceritakan bahwa ada orang bertanya kepada Aisyah: ‘Wahai, Ibu kaum mu’minin, siapakah yang akan ditunjuk Rasul sebagai pengganti beliau andaikata Rasul harus menunjuk penggantinya?’ ‘Abu Bakar, ‘jawab Aisyah. ‘Siapa sesudah Abu Bakar?’ Umar, ‘jawabnya. ‘Siapa sesudah Umar?’ ‘Ubaidah bin Jarrah,’ jawabnya lagi.
Bab yang kesepuluh ini ditutup dengan hadis yang berhubungan dengan bab yang sebelumnya: ‘Nabi sakit selama tiga belas hari; dalam keadaan sakit beliau membaik, beliau mengimami sholat, dan pada waktu memburuk, Abu Bakar menjadi imam’. Dalam bab ini, ia malah memasukkan peristiwa yang akan dibahasnya kemudian, yaitu pembelaan Umar terhadap Abu Bakar, bahwa Abu Bakar memimpin sholat tatkala Rasul sakit.
Pada waktu Rasul wafat, dan kaum Anshar mengusulkan (dalam Balairung Banu Sai’dah), ‘Biar kami mengambil seorang pemimpin di antara kami’, Umar mengatakan, ‘Tidakkah kamu mengetahui, wahai kaum Anshar, bahwa Rasul menunjuk Abu Bakar untuk menjadi imam sholat?’ Kaum Anshar berkata: ‘Ya’. ‘Maka inginkah kamu lebih mengutamakan diri kamu dari
Abu Bakar?’ ‘Kami berlindung kepada Allah dari mengutamakan diri kami melebihi Abu Bakar, kata kaum Anshar.
Prolog yang ditulis Ibnu Sa’d ini menunjukkan dengan jelas betapa ia ingin memberi kesan kepada pembaca, bahwa pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah adalah hal yang wajar, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara para Sahabat.
Kemudian ia membicarakan peristiwa Saqifah dengan bab berjudul ‘Kisah (dzikir) Baiat Abu Bakar’, dan tidak menggunakan istilah ‘Peristiwa (‘amr). Ia kemudian membawa lima belas riwayat, meskipun hanya enam yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan Saqifah. Riwayat yang pertama mengatakan bahwa tatkala Umar mendatangi Abu ‘Ubaidah bin alJarrah dan berkata: ‘Buka tangan Anda, saya akan membaiat Anda, karena Nabi mengatakan bahwa Anda adalah yang terpercaya dari umat ini’, Abu Ubaidah menjawab, ‘Wahai, Umar, saya belum pernah melihat Anda sesat sejak Anda menjadi Muslim. Apakah Anda mendurhakakan saya, sedang di antara kita ada asShadiq, orang kedua dari dua orang yang berada di dalam gua?’ Riwayat yang kedua hampir sama dengan yang di atas itu. Dalam riwayat yang ketiga, Ibnu Sa’d mengutip sebuah kalimat dari tulisan Ibnu Ishaq: ‘Ibnu Abbas berkata, ‘Saya, mendengar Umar bicara, tatkala menceritakan pembaiatan Abu Bakar: ‘Tiada seorang pun di antara kalian yang dicintai rakyat melebihi Abu Bakar’.
Dalam riwayat yang keempat, Ibnu Sa’d berkata:
Tatkala orang lain menarik diri dari Abu Bakar, ia berkata, ‘Siapakah yang lebih patut menerima tugas ini, selain saya? Bukankah saya yang pertama sholat bersama Nabi? Kemudian ia menyebut kebajikankebajikan yang dilakukannya bersama Nabi’.
Pada bagian tulisan yang disebut terakhir ini, Ibnu Sa’d tidak dapat menutupi timbulnya kontroversi dengan adanya pembelaan diri Abu Bakar, dan pembelaan Umar terhadap Abu Bakar di Saqifah, meskipun Ibnu Sa’d menulis demikian baiknya untuk membenarkan pemilihan Abu Bakar.
Catatan Baladzuri
Kita pindah sekarang ke penulis lain, yang lebih muda usia, tetapi masih hidup sezaman dengan Ibnu Sa’d, yaitu Ahmad bin Yahya bin Jabir alBaladzuri (meninggal 279 H/892 M), penulis Ansab alAsyraf. Baladzuri seorang penulis yang teliti. Di samping mengutip Ibnu Sa’d, ia juga mengumpulkan bahan dari sumbersumber lain. Pada bab yang berjudul ‘Peristiwa Saqifah’, ia mencatat 33 riwayat, tujuh di antaranya sama dengan yang dikemukakan oleh Ibn Sa’d; ia selalu mengatakan haddatsani (ia berkata kepadaku), yang menunjukkan bahwa ia tidak mengutip buku karangan Ibnu Sa’d.
Riwayat yang lain, sebanyak 26 buah, yang menceritakan perbedaan pendapat tentang siapa yang seharusnya menjadi pengganti kepemimpinan Rasul, perdebatan yang terjadi di Saqifah, saling menuntut hak antara kaum Anshar dan Muhajirin, protes Ali tentang pemilihan, penolakan Banu Hasyim dan sebagian kaum Anshar terhadap Abu Bakar, dan pernyataan Abu Bakar sendiri bahwa ia bukanlah calon yang terbaik, dan bahwa ia menerima jabatan khalifah hanya untuk menyelamatkan umat dari perpecahan. Yang menarik ialah pernyataan Baladzuri (empat dari dua puluh enam riwayat), bahwa ia mendengar langsung dari Ibnu Sa’d, dengan katakata haddatsani (ia telah berkata padaku), berupa:
1. Peristiwa lengkap tentang perdebatan di Saqifah.
2. Tawaran bantuan Abu Sufyan kepada Ali, andai kata Ali mau dibaiat menjadi khalifah untuk menentang Abu Bakar, yang ditolak oleh Ali.
3. Pernyataan Abu Bakar bahwa meskipun ia bukanlah calon yang terbaik, ia menerima jabatan khalifah untuk mencegah perpecahan di kalangan kaum Muslimin.
4. Sebagian dari pidato Umar yang mengatakan bahwa pemilihan Abu Bakar adalah suatu peristiwa keliru karena dilakukan tergesagesa (faltah), namun telah menyelamatkan umat dari bencana.
Ibnu Sa’d ternyata mengetahui betul pentingnya riwayat ini, dan merasa perlu untuk menyampaikannya kepada Baladzuri, tetapi ia sendiri tidak memasukkannya ke dalam bukunya Thabaqat. Meskipun Baladzuri cenderung kepada Abu Bakar untuk jabatan khalifah, ia tidak menutup kecenderungan sebagian Sahabat yang terkemuka untuk memihak kepada Ali bin Abi Thalib.
Catatan Ya’qubi
Gambaran tentang Saqifah belum lengkap sebelum meneliti tulisan Ibnu Wadih alYa’qubi (meninggal 284 H/897 M) yang lebih muda usia, namun sezaman dengan Baladzuri, dalam isi maupun penekanan. Bila Ibnu Sa’d mengatakan bahwa Abu Bakar tidak mengalami perlawanan di Saqifah, Ya’qubi menerangkan bahwa terdapat pertentangan yang hebat terhadap pengangkatan Abu Bakar, yang datangnya dari para pendukung Ali. Ia menulis tentang Saqifah sepanjang empat halaman, dari sumber yang bermacammacam, termasuk Mada’ini dan Abu Mikhnaf Luth al’Azdi, yang juga digunakan oleh Thabari. Meskipun bersimpati kepada Ali, tulisannya dapat melengkapi tulisan sebelumnya.
Catatan Thabari
Penulis lainnya ialah Muhammad bin Jarir athThabari (meninggal 310 H/922 M). Tulisannya mengenai Saqifah adalah yang paling lengkap, sama seperti Ibnu Ishaq. Perbedaannya adalah bahwa isnad yang digunakan Thabari melalui jalur ‘Abbad bin ‘Abbad Muhallabi dari ‘Abbad bin Rasyid. Sedang tiga rantai paling atas adalah sama dengan Ibnu Ishaq. Tulisan Thabari tentang peristiwa Saqifah dianggap paling berimbang dan tidak memihak, memberikan penjelasan bahwa ada dukungan yang kuat bagi Ali, tetapi menekankan bahwa Abu Bakar dipilih oleh mayoritas. Sejarah karangan Thabari berjudul Tarikh alUmam wal Muluk, diterbitkan oleh Penerbit Istiqamah, Kairo 1358 H/ 1939 M. Namun dalam edisi terbitan Leiden, 18791901, kitab itu berjudul Tarikh arRusul wal Muluk. Kecuali bila dinyatakan lain maka yang dimaksud penulis dengan Tarikh Thabari ialah Thabari edisi Kairo, Mesir, itu.
Catatan Ibn AbilHadid
Penulis lain yang paling banyak memuat peristiwa Saqifah Bani Sa’idah adalah ‘Izzuddin Abu Hamid bin Abil Husain Hibatullah bin Muhammad bin Muhammad bin Husain bin Abil Hadid al Mada’ini, yang terkenal dengan sebutan Ibn Abil Hadid (586656 H/l1901258 M), dalam bukunya yang ensiklopedik, Syarh Nahju’lBalaghah, yang terdiri dari dua puluh jilid. Buku ini memuat catatancatatan sejarah yang bermutu. Di samping mengutip bukubuku sejarah seperti Tarikh karangan Thabari, alAghani (buku tentang nyanyiannyanyian dan likuliku sejarah yang diiringinya) karangan Abu’lFaraj alIshfahani, kitabkitab Shahih Bukhari dan Muslim, serta berpuluh buku lainnya, ia juga memuat catatancatatan sejarah yang langka, metalui isnad yang lengkap dari sumbersumber lama, yang tidak dimuat oleh Thabari atau penulis.penutis lainnya. Tentang peristiwa Saqifah Bani Sa’idah, misalnya, ia mengutip dari banyak sumber, di antaranya buku Saqifah karangan Abu Bakar bin Ahmad bin Abdul Aziz alJauhari (meninggal 298 H/910 M). Buku ini telah ‘hilang’ dan tidak dikutip oleh Thabari. Peristiwa Saqifah Bani Sa’idah terdapat dalam jilid kedua, hlm: 2161, dengan judul ‘Hadits Saqifah’, dan jilid keenam, hlm: 545, dengan judul ‘Akhbar Yaum asSaqifah’. Di samping itu, Ibn AbilHadid juga mencatat riwayatriwayat dengan isnad yang dapat dipercaya tentang latar belakang ‘sosial politik’ dari tokohtokoh yang berperan dalam peristiwa Saqifah Bani Sa’idah, melalui dialogdialog yang menarik, misalnya antara Umar dan Ibnu Abbas, yang sebagiannya kami muat dalam buku ini.
Ibn AbilHadid adalah seorang alim yang terkenal pada zamannya sebagai ahli sejarah, penyair, ahli kesusasteraan, ahli bahasa, seorang faqih dan peneliti yang tekun. Maka tidaklah mengherankan apabila tokoh Sunni seperti Abul A’la alMaududi memetik juga Syarh Nahju’l Balaghah dalam bukunya Khilafah dan Kerajaan.
Ibn AbilHadid menulis sedikitnya enam belas; sebuah bukunya, Kitab alFashih ditulisnya hanya dalam tempo 24 jam, dan sebuah yang lain, alFalak adDa’ir ‘ala alMatsal asSa’ir diselesaikannya dalam lima belas hari; sedang Syarh Nahju’lBalaghah ditulisnya selama lima tahun. Ketiga buku ini dipilih oleh Brockelman sebagai tiga dari lima buku ilmiah karangan Ibn AbilHadid.
Ibn AbilHadid mengemukakan pendapatnya secara terpisah, begitu pula pendapat kaum Mu’tazilah dan Syi’ah. Tuduhan bahwa Ibn AbilHadid adalah seorang Syi’i, tidak sesuai dengan pengakuannya sendiri. Meskipun ia berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib ditinjau dari segala segi memang merupakan orang pertama sesudah Rasul, dan seharusnya telah menjadi Amirul
muminin sejak awalnya, dan bahwa Ali tidak bersalah andai kata ia melakukan pemberontakan
terhadap khalifah Abu Bakar, namun Ibn AbilHadid tidak berpendapat bahwa Ali telah ditunjuk Rasul berdasarkan nash. Ini berbeda secara diametrikal dengan paham Syi’ah. Ada yang mengatakan babwa ia adalah seorang yang ‘berdiri di antara Sunni dan Syi’ah’, bainal fariqain, antara kedua firqah. Karena bermazhab Mu’tazilah, ia juga sering dinamakan Ibn AbilHadid al Mu’tazili.
Sekali lagi, penulis hanya mengutip masalah detil yang juga dicatat oleh tokoh Sunni Ibnu Qutaibah dalam Imamah was Siyasah seperti dialog antara Fathimah dan Abu Bakar, atau memperkuat catatan dari sumbersumber Sunni. Ibn AbilHadid juga memuat khotbab Jum’at Umar tentang peristiwa Saqifah, seperti Ibnu Ishaq, Thabari, Ibnu Sa’d, Baladzuri dan lainlain, melalui rangkaian isnad yang berbeda.
Catatan Tentang Beberapa Penulis Ibnu Ishaq
Muhammad ibn Ishaq bin Yasar bin Khiyar, lahir di Madinah tahun 85 H/704 M pada masa akhir khalifah ‘Abdul Malik dari Dinasti ‘Umayyah. Kakeknya Yasar adalah budak Qays bin Makhramah bin Muththalib dan setelah dibebaskan jadi maulanya. Ia hidup sezaman dengan Imam Malik dan Sa’id bin Musayyib dan berguru pada banyak tabi’in. Ia meninggal di Baghdad antara tahun 150 154 H/767770 M pada masa khalifah Abbasiyah alManshur. Ahlu’l Jarh wa Ta’dil, yaitu para kritikus awal, kebanyakan memujinya. Zuhri menilainya sebagai ‘yang paling alim dalam maghazi’ ekspedisiekspedisi yang dilakukan Rasul’ dan ‘Asim bin Umar bin Qatadah mengatakan bahwa ‘ilmu berada pada kita selama Ibnu Ishaq hidup’. Syu’bah bin Hajjaj (85160 H/704777 M) menggambarkannya sebagai ‘amir dalam hadits’. Imam Syafi’i mengatakan, ‘barangsiapa ingin belajar maghazi secara mendalam, harus belajar dari Ibn Ishaq.’ Begitu jugaYahya bin Ma’in dan Imam Ahmad bin Hambal memujinya. Malik bin Anas pernah mengutuknya sebagai ‘dajal’, tapi kemudian menariknya kembali.
alWaqidi
Abu Abdullah Muhammad ibn Umar alWaqidi lahir di Madinah. Ayahnya alWaqid, adalah maula, bekas budak Abdullah bin Buraida yang berdomisili di Madinah. Hanya satu bukunya yang tertinggal, yaitu Kitab alMaghazi (Buku Tentang Ekspedisiekspedisi). Imam Ahmad bin Hanbal, menamakannya ‘pembohong’ dan Dzahabi mengatakan bahwa ‘tulisannya tidak lagi dikutip’. Ibnu Khalikan mengatakan bahwa hadisnya lemah dan diragukan kejujuran para perawinya’. Meskipun banyak kritik terhadap buku ini, tapi beritanya tentang kehidupan Rasul di Madinah sangat bermanfaat. Kitab alMaghazi terbit di London, Oxford University Press, 1966, terdiri dari 2 jilid.
Ibn Sa’d
Abu Abdullah Muhammad ibn Sa’d bin Mani alBashri alHasyimi, juru tulis atau katib dari Waqidi, juga maula. Kakeknya adalah budak yang dibebaskan Husain bin Abdullah bin Ubaidillah bin Abbas. Meskipun ia mendasarkan tulisannya dari tulisan gurunya Waqidi, berbalikan dengan Waqidi, ia dianggap sebagai ‘dapat dipercaya, adil’. Kitab yang ditulisnya berjudul alThabaqat al Kubra (Golongangolongan yang Besar) atau disebut juga ‘Kitab alThabaqat alKabir (Buku Besar tentang Golongangolongan atau Kelas). Terbit di Beirut, 19571960, terdiri dari 7 jilid.
Thabari
Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir Ibn Yazid athThabari al’Amuli lahir tahun 224 H/839 M atau 225 H/840 M dan meninggal tahun 310 H/922 M. Ia adalah seorang yang cemerlang dan pada masanya dianggap sebagai ahli ilmu hadis, fiqih, tafsir dan sejarah serta bahasa. Ibn alNadim menggambarkannya sebagai ‘ahli fiqih yang setaraf dengan Imam Malik, Imam Syafi’i dan Dawud bin Ali’. Umur 7 tahun ia belajar AlQur’an dari ayahnya di kampungnya Amul, kemudian melanjutkan ke Ray, Bashrah dan Kufah, Mesir dan Syria. Ia belajar hadishadis di kalangan penganut Mazhab Maliki dan Syafi’i. Akhirnya ia kembali ke Baghdad dan meninggal di kota ini. ‘Ia dikuburkan malam hari di halaman rumahnya karena takut pada penganut faham Hanbali yang menuduhnya sebagai orang Syiah, tasyayyu’ seperti dilaporkan oleh Yaqut dalam ‘Mu’jam’l ‘Ubada’. Di antara bukubukunya adalah Tahdzib alAtsar. Dalam buku ini ia melakukan studi kritis terhadap hadis dan dengan demikian punya madzhab yang bebas dan di bagian tertentu sesuai dengan Syiah. Tuduhan bahwa ia adalah rafidhah yang besar mungkin disebabkan ia menulis hadis ‘alGhadir’ dan membuat catatancatatan yang dianggap mengutamakan Ali seperti ‘Hadits athThayr’. Dapat difahami bahwa hadis alGhadir ini sangat meresahkan kaum Hanabilah (pengikut mazhab sunnah Hanbali), di mana Rasul telah bersabda:
‘Man kuntu maulahu, fa Aliyyun maulahu, Allahumma wali man walahu, wa ‘adi man ‘adahu, ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai walinya, maka Ali juga adalah walinya, Allahumma ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya.’
Dan yang hadir di Ghadir Khum memberi selamat kepada Ali termasuk Abu Bakar dan Umar. 275
Kaum rafidhah atau rafidhi berarti ‘yang menolak’ dan biasanya dimaksudkan 4 orang yang keterlaluan mengecam Abu Bakar dan Umar’ atau ‘orang yang mendahulukan Ali dari Abu Bakar maupun Umar’. Pada abad ke 3 H/abad 9 M ada pameo ‘Tunjukkan kepada saya seorang Rafidhah kecil, dan saya akan tunjukkan kepada Anda seorang Syi’i besar’. Bukunya yang lain adalah tafsir ‘Jami’ alBayan fi Tafsir AlQur’an dan yang membuatnya tersohor adalah Tarikh al Umam wa’lMuluk’, ‘Sejarah bangsabangsa dan Rajaraja’ (Kairo, 1961). Ada yang berjudul Tarikh alRusul wa’lMuluk’ Sejarah Utusanutusan dan Rajaraja’, (dengan editor M. J. de Goeje et al, Leiden 18701901). Dan tidaklah adil menuduhnya sebagai Syiah. Thabari, tentu menyadari bahwa sebagai seorang Sunni ia punya adagium, bahwa para sahabat semuanya adalah adil, dan bahwa urutan keutamaan harus dimulai dari Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, baru yang terakhir adalah Ali. Dan bagi seorang penulis besar sebagai Thabari, ini bukanlah berarti, ia harus memilahmilah sejarah, membuang semua peristiwa yang membuka keaiban para sahabat dan membuang keutamaan Ali sehingga urutan keutamaan itu berubah. Di samping itu pekerjaan ini bukanlah pekerjaan mudah, bahkan mustahil.
Tapi dalam dalam kitab tafsirnya ‘Jami’alBayan fi Tafsir alQur’an, (terbit di Kairo, 1328 H) ia sangat hatihati. Misalnya dalam menerangkan hadis ‘Dakwah Keluarga Terdekat’ dalam buku sejarahnya ia meriwayatkan bahwa Rasul dikatakan telah bersabda tentang Ali sebagai ‘saudaraku’ (akhi) dan pengemban wasitku (Washi) serta khalifahku (khalifati). Tapi dalam buku tafirnya ia mempersingkat sabda Rasul dengan ‘saudaraku dan begini serta begitu’ (kadaz wa kadaz). 276
Maka tidak heran bila Ibnu Taimiyah dan orangorang yang dekat dengannya, yang tidak akan memaafkan siapa pun yang berbau Syiah, meskipun hanya secuil mengatakan bahwa buku Tafsir Thabari di atas adalah ‘yang paling shahih di antara bukubuku tafsir yang ada dan tidak mengandung bid’ah’ (Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 2, hlm. 192). Imamimam seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, Khatib Baghdadi dan Ibnu Atsir menganggapnya sebagai imam besar dalam alQur’an, Sunnah dan Sejarah.
Baladzuri
Ahmad bin Yahya bin Jabir alBaladzuri yang hidup sezaman dengan Ibn Ishaq, meski termuda, menulis Ansab alAsyraf (Silsilah Para Tokoh) yang sering dianggap sebagai buku biografi sejarah terpenting abad ketiga hijriah. Ia, tidak berbeda banyak dengan Ibn Sa’d yang mengikuti alWiqidi karena ia mengikuti cara Ibn Sa’d. Tapi berbeda dengan Ibn Sa’d yang hanya mengambil pelapor pelapor dari Madinah, Baladzuri menambah dengan mengutip Mada’ini yang berada antara tokoh tokoh Madinah dan Kufah. Ia mengutip juga dari Ibn alKalbi, Abu Ma’syar dan ‘Awana, malah ia mengutip juga dari Abu Mikhnaf, yang dianggap berpihak kepada Ali, meski hanya dua riwafat. Buku lain yang ditulisnya adalah Futuh alBuldan, (Daerahdaerah yang Ditaklukkan).
Ibn Qutaibah
Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah adDainuri adalah salah seorang imam dalam sastra, sejarah dan bahasa Arab dilahirkan di Baghdad tahun 213 H/628 M dan tinggal di Kufah. Ia pindah dan jadi Kadi di kota Dainur, dan meninggal di Baghdad tahun 276 H/988 M. Di antara karangannya adalah Ta’wil Mukhtalafu’l Hadits, (Penjelasan Tentang Aneka Ragam Hadis), Adab alKatib, (Etika Penulis), Ma’arif, (Pengenalan), Syir wa Syu’ara’, (Syair dan Para Penyair), dan Al Imamah wa Siyasah, (Kepemimpinan dan Politik) yang terkenal juga sebagai Tarikh alKhulafa’, (Sejarah Para Khalifah). Buku ini berisi tarikh sejak wafatnya Rasul sampai zaman khalifah Amin