• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: KEWENANGAN PELAKSANA TUGAS (PLT) KEPALA

A. Pengertian dan Sumber Perolehan Kewenangan Menurut

2. Sumber Perolehan Kewenangan Menurut Hukum

Secara konseptual, istilah kewenangan atau wewenang sering disejajarkan dengan istilah Belanda “bevoegdheid” (yang berarti wewenang atau bekuasa).

Wewenang merupakan bagian yang sangat penting dalam Hukum Tata Pemerintahan (Hukum Administrasi), karena pemerintahan baru dapat menjalankan fungsinya atas dasar wewenang yang diperolehnya. Pengertian kewenangan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia diartikan sama dengan wewenang, yaitu hak dan kekuasaan untuk melalukan sesuatu. Beberapa pendapat ahli mengenai kewenangan dari segi sumber-sumber kewenangan sangatlah beragam, ada yang mengaitkan kewenangan dengan kekuasaan dan membedakannya serta membedakan antara atribusi delegasi mandat, yaitu antara lain sebagai berikut:168

1. Prajudi Atmosudirjo menyebutkan, kewenangan adalah apa yang disebut kekuasaan formal, kekuasaan yang berasal dari kekuasaan legislatif (yang diberikan oleh undang-undang) atau dari kekuasaan eksekutif/administratif.

Kewenangan merupakan kekuasaan terhadap segolongan orang-orang tertentu atau kekuasaan terhadap suatu bidang pemerintahan tertentu yang bulat.

168 Mila Marwiyah Hasibuan, Ibid, hlm. 5.

Sedangkan wewenang hanya mengenai sesuatu onderdil tertentu saja. Di dalam kewenangan terdapat wewenang-wewenang untuk dapat melakukan suatu tindakan dan/atau keputusan tertentu sesuai dengan kewenangan yang diperoleh. Wewenang adalah kekuasaan untuk melakukan sesuatu tindak hukum publik.

2. Indroharto mengemukakan bahwa wewenang diperoleh secara atribusi, delegasi, dan mandat, yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut:

a. Pada atribusi, yaitu pemberian wewenang pemerintahan yang baru oleh suatu ketentuan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi, disini dilahirkan/diciptakan suatu wewenang pemerintahan yang baru.

b. Pada delegasi, yaitu terjadi pelimpahan suatu wewenang yang telah ada oleh Badan atau Pejabat TUN yang telah memperoleh suatu wewenang pemerintahan secara atributif kepada Badan atau Pejabat TUN lainnya.

Jadi, suatu delegasi selalu didahului oleh adanya sesuatu atribusi wewenang.

c. Pada mandat, yaitu disitu tidak terjadi suatu pemeberian wewenang baru maupun pelimpahan wewenang dari Badan atau Pejabat TUN yang satu kepada yang lain.

3. Philipus M. Hadjon, mengatakan bahwa setiap tindakan pemerintahan disyaratkan harus bertumpu atas kewenangan yang sah. Kewenangan itu diperoleh melaluli tiga sumber, yaitu atribusi, delegasi, dan mandat.

Kewenangan atribusi lazimnya digariskan melalui pembagian kekuasaan negara oleh undang-undang dasar, sedangkan kewenangan delegasi dan

mandat adalah kewenangan yang berasal dari pelimpahan. Kemudian Philipus M. Handjon pada dasarnya membuat perbedaan antara antara delegasi dan mandat. Dalam hal delegasi mengenai prosedur pelimpahan berasal dari suatu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan yang lainnya dengan peraturan perundang-undangan, dengan tanggungjawab dan tanggung gugat beralih kepada delegataris.

4. Menurut Rene Seerden dan Fruts Stroink, kewenangan dapat diperoleh melalui cara atribusi atau delegasi. Dimana atribusi berarti memberikan kewenangan asli, sementara delegasi berarti bahwa organ yang telah diberikan kewenangan asli tersebut oleh ketentuan undang-undang diberikan kewenangan untuk memindahkan atau mendelegasikan semua atau sebagian dari kewenangannya kepada organ lain.169

Seiring dengan pilar utama negara hukum, yaitu asas legalitas (legaliteitsbeginsel atau het beginsel van wetmatigheid van bestuur), tersirat bahwa kewenangan yang diperoleh pemerintahan berasal dari peraturan perundang-undangan. Secara teoritis, kewenangan yang bersumber dari peraturan perundang-undangan dapat diperoleh melalui tiga cara, yaitu atribusi, delegasi, dan mandat.170

Mengenai atribusi, delegasi, dan mandat ini, H.D. Van Wijk/Willem Konijnenbelt mendefenisikan sebagai berikut:171

169 A‟an Efendi & Freddy Poernomo, Op. Cit, hlm. 111.

170 Ridwan H.R, Op. Cit, hlm. 103.

171 Ibid, hlm. 104.

a. Attributie: toekening van een bestuursbevoegheid door een wetgever aan een bestuursorgaan, (atribusi adalah pemberian wewenang yang di peroleh oleh organ pemerintahan secara langsung dari peraturan perundang-undangan).

b. Delegatie: overdracht van een bevogheid van het ene bestuursorgaan aan een ander, (delegasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya).

c. Mandaat: een bestuursorgaan laat zijnbevogheid namens hem uitoefenen door een ander, (mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan kewenangannya dijalankan oleh organ lain atas namanya).

Kewenangan yang sumbernya dari peraturan perundang-undangan disebut dengan kewenangan konstitusionalisme yang merupakan sejumlah ketentuan hukum yang tersusun secara sistematis untuk menata dan mengatur struktur dan fungsi-fungsi lembaga negara.172

a. Teori Kewenangan Atribusi

Menurut Kamus Istilah Hukum, atribusi (attribute) mengandung arti pembagian (kekuasaan), dalam kata atributevan rechtsmach, diartikan sebagai pembagian kekuasaan kepada berbagai instansi (absolute competentie atau kompetensi mutlak), yang merupakan sebagai lawan dari distributie van rechtmachht. Pada atribusi pembagian kekuasaan hukum diciptakan suatu kewenangan. Cara yang biasa digunakan untuk melengkapi organ pemerintah dan wewenang-wewenangnya adalah melalui atribusi. Dalam hal ini, pembentuk undang-undang menentukan penguasa pemerintah yang baru dan memberikan

172 Akhmad Marwi, Op. Cit, hlm 545.

kepadanya suatu organ pemerintahan beserta dengan wewenangnya, baik pada organ yang sudah ada maupun kepada yang dibentuk pada saat kesempatan itu.173

Pengertian atribusi berdasarkan Algemene Bepalingen van Administratief Recht adalah perolehan kewenangan yang dikemukakan bila undang-undang (dalam arti materil) menyerahkan wewenang tertentu kepada organ tertentu.174

Jadi, atribusi adalah kewenangan yang diberikan oleh undang-undang dasar atau undang-undang tertentu kepada suatu jabatan untuk melaksanakan tugas dan fungsi jabatannya sesuai dengan ketentuan perolehan kewenangan yang diterima.175

Kewenangan atribusi terjadi apabila ada pendelegasian suatu kekuasaan yang didasarkan pada amanat konstitusi atau ketentuan peraturan pemerintah lainnya, tetapi tidak didahului oleh suatu pasal dalam undang-undang untuk diatur lebih lanjut. Sehingga atribusi dapat digambarkan sebagai pemberian kewenangan yang dapat dijalankan sesuai dengan pendapatnya sendiri tanpa ditunjuk oleh pihak lain untuk menjalankan kewenangan itu.176

Dalam ketentuan Pasal 1 angka 22 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan dijelaskan bahwa, atribusi adalah pemberian kewenangan kepada Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 atau undang-undang.

173 Agussalim Andi Gadjong, Pemerintahan Daerah: Kajian Politik dan Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor: 2007, hlm. 101.

174 Ridwan H.R, Op. Cit, hlm. 105.

175 A‟an Efendi & Freddy Poernomo, Op. Cit, hlm. 112.

176 Agussalim andi Gadjong, Op. Cit, hlm. 102.

Lebih lanjut dalam Pasal 12 ayat (1) UU Administrasi Pemerintahan menyebutkan bahwa badan dan/atau pejabat pemerintahan yang memperoleh wewenang melalui atribusi apabila:

1) Diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan/atau undang-undang;

2) Merupakan wewenang baru atau sebelumnya tidak ada; dan 3) Atribusi diberikan kepada Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan.

Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang memperoleh wewenang melalui atribusi, tanggung jawab kewenangan berada pada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang bersangkutan.177 Kemudian dalam kewenangan atribusi tidak dapat didelegasikan, kecuali telah diatur di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan/atau undang-undang.178

Sehingga dapat dipahami bahwa kewenangan melalui atribusi baru dapat diperoleh melalui adanya ketentuan dari amanat undang-undang secara langsung dan dijalankan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam suatu undang-undang.

b. Teori Kewenangan Delegasi

Delegasi berasal dari kata latin ‘delegatio’ yang diartikan sebagai

„substitution’ yaitu penggantian. Delegasi adalah peralihan wewenang dari satu badan pemerintahan ke badan pemerintahan lainnya. Peralihan ini terjadi

177 Pasal 12 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang administrasi Pemerintahan.

178 Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang administrasi pemerintahan.

penggantian pemilik wewenang dari pemberi delegasi (delegator/delegans) kepeda penerima delegasi.179

Pendelegasian biasanya diberikan antar organ pemerintah satu dengan organ pemerintah lain, biasanya diberikan antara pihak pemberi wewenang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pihak yang diberi wewenang.180 Kewenangan yang diterima dari delegasi dituntut harus adanya dasar hukum pemberi delegasi karena untuk menarik delegasi yang telah diberikan juga diperlukan adanya ketentuan peraturan perundang-undangan yang sama.181

Dalam ketentuan Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan menyatakan delegasi adalah pelimpahan kewenangan dari badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih tinggi kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih rendah dengan tanggungjawab dan tanggung gugat beralih sepenuhnya kepada penerima delegasi.

Pelimpahan kewenangan melalui delegasi ini terdapat syarat-syarat sebagai berikut:182

1) Delegasi harus defenitif dan pemberi delegasi (delegans) tidak dapat lagi menggunakan sendiri wewenang yang telah dilimpahkan itu.

2) Delegasi harus berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, artinya delegasi hanya dimungkinkan kalau ada ketentuan untuk itu dalam peraturan perundang-undangan.

179 A‟an Efendi & Freddy Poernomo, Op. Cit, hlm. 113.

180 Sirajuddin, Anis Ibrahim, Shinta Hadiyantina, Catur Wido Haruni, Hukum Administrasi Pemerintahan Daerah, Setara Pres, Malang: 2016, hlm. 98.

181 Agussalim Andi Gadjon, Op. Cit, 104.

182 Ridwan H. R, Op. Cit, hlm. 106.

3) Delegasi tidak diperkenankan kepada bawahan, artinya dalam hubungan hierarki kepegawaian tidak diperkenankan adanya delegasi.

4) Kewajiban memberikan keterangan (penjelasan), artinya delegans berwenang untuk meminta penjelasan tentang pelaksanaan wewenang tersebut.

5) Peraturan kebijakan (beleidsregel), artinya delegans memberikan instruksi (petunjuk) tentang penggunaan wewenang tersebut.

c. Teori Kewenangan Mandat

Mandat menurut Kamus Bahasa Indonesia memiliki arti tugas dan perintah yang diberikan dari masyarakat (orang banyak) kepada mereka yang ditunjuk sebagai wakilnya dengan surat surat kuasa.183

Mandat asal katanya dari Bahasa Latin ‘mandatus’ yang berarti a command atau mandate. Jadi, mandat berati perintah atau tugas. Dalam mandate, penerima mandat (mandatory/mandataris) menjalankan perintah atau tugas dari pemberi mandat (mandator/mandans). Dengan demikian, tidak ada peralihan kewenangan dalam mandat.184

Mandat yaitu pemberian tugas antara mandans (pemberi mandat) kepada mandataris (penerima mandat) untuk atas nama melakukan perbuatan keputusan administrasi negara. Pada umumnya mandat diberikan dalam hubungan kerja internal antara atasan dan bawahan, dan tidak terjadi peralihan wewenang.

Tanggung jawab tetap pada pemberi mandat.185

183 Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: 1997, hlm. 358.

184 A‟an Efendi & Freddy Poernomo, Op. Cit, hlm. 113.

185 Sirajuddin, Anis Ibrahim, Shinta Hadiyantina, Catur Wido Haruni, Op. Cit, hlm. 99.

Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1 angka 24 UU Administrasi Pemerintahan, mandat adalah pelimpahan kewenangan dari badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih tinggi kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih rendah dengan tanggungjawab dan tanggung gugat tetap pada pemberi mandat.

Menurut H.D. van Wijk dalam hal mandat dikemukakan sebagai berikut:186

“Pada mandat tidak dibicarakan penyerahan-penyerahan wewenang, tidak pula pelimpahan wewenang. Dalam hal mandat tidak terjadi perubahan wewenag apapun (setidak-tidaknya dalam arti yuridis formal).

Yang ada hanyalah hubungan internal, sebagai contoh Menteri dengan pegawai. Menteri mempunyai kewenangan dan melimpahkan kepada pegawai untuk mengambil keputusan tertentu atas nama Menteri, sementara secara yuridis wewenag dan tanggung jawab tetap berada pada organ kementerian. Pegawai memutuskan secara factual dan Menteri secara yuridis”.

Dalam Algemene Wet Bestuursrecht (Awb), juga dijelaskan bahwa mandat merupakan pemberian wewenang oleh organ pemerintahan kepada organ lainnya untuk mengambil keputusan atas namanya.187

Menurut Heinrich, mandat merupakan apdracht (suruhan) pada suatu organ untuk melaksanakan kompetensinya sendiri, maupun tindakan hukum yang dilaksanakan oleh pemegang wewenang yang sudah diberikan kuasa penuh (volmacht) kepada organ lain untuk melaksanakan kompetensi itu dengan atas nama pemberi mandat. Sehingga yang menerima mandat bertindak atas nama orang lain. Sedangkan menurut Lubberdink, pertanggungjawaban untuk pelaksanaan wewenang tetap pada pemberi kuasa atau pada pemberi mandat,

186 Ridwan H. R, Op. Cit, hlm. 107.

187 Ibid,

sebab pemberi kuasa atau mandat itu telah memberikan petunjuk, baik itu petuntuk dalam bentuk umum ataupun petunjuk khusus kepada mandataris.188

Dalam kepustakaan terdapat pembagian mengenai sifat wewenang pemerintahan, yaitu yang bersifat terikat, fakultatif, dan bebas, terutama dalam kaitannya dengan kewenangan pembuatan dan penerbitan keputusan-keputusan (besluiten) dan ketetapan-ketetapan (beschikkingen) oleh organ pemerintahan sehingga dikenal ada keputusan atau ketetapan yang bersifat terikat dan bebas.

Indrohato mengatakan jika dilihat dari sifatnya wewenang itu dapat di bedakan sebagai berikut:189

a. Wewenang yang sifatnya terikat, yakni terjadi apabila telah dirumuskan secara jelas kapan, keadaan bagaimana wewenang tersebut harus dilaksanakan serta telah di tentukan bagaimana keputusan seharusnya diambil.

b. Wewenang yang sifatnya fakultatif, yakni wewenang tersebut tidak wajib dilaksanakan karena masih ada pilihan sekalipun pilihan itu hanya dapat dilakukan pada keadaan-keadaan tertentu sebagaimana yang dijelaskan pada peraturan dasarnya.

c. Wewenang yang sifatnya bebas yakni, terjadi ketika peraturan dasarnya memberi kebebasan kepada badan atau pejabat tata usaha negara untuk menentukan sendiri mengenai dari isi keputusan yang akan dikeluarkannya atau peraturan dasarnya memberikan ruang lingkup kebebasan kepada pejabat tata usaha negara yang bersangkutan.190

188 Agussalim Andi Gadjon, Op. Cit, 106.

189 Ridwan H.R, Op. Cit, hlm. 110.

190 Ridwan H. R, Op. Cit, hlm. 111.

B. Kewenangan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Daerah Dalam Pemerintahan Daerah Menurut Peraturan Perundang-Undangan

Kewenangan pejabat publik adalah kemampuan untuk mengambil tindakan hukum tertentu yang memuat hak dan kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan tertentu serta dapat menuntut pihak lain untuk mengambil tindakan tertentu. Ketentuan dalam prinsip legalitas menjelaskan bahwa kewenangan pejabat pemerintahan bersumber dari ketentuan peraturan perundang-undangan, artinya segala bentuk kewenangan yang diperoleh pemerintah haruslah didasari dengan peraturan perundang-undangan.191 Begitu halnya dengan kewenangan Plt Kepala Daerah sebagai pejabat yang menggantikan Kepala Daerah haruslah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam menjalankan roda Pemerintahan Daerah.192

Kewenangan pejabat defenitif atau pejabat pengganti seperti Plt Kepala Daerah dalam pemerintahan dapat diperoleh sesuai dengan kondisi jabatan yang diterima agar tidak terjadi tindakan diluar batas kewenangan pada saat mengeluarkan suatu kebijakan tertentu. Sumber kewenangan dapat diperoleh sesuai ketentuan UU Administrasi Pemerintahan yang menjelaskan bahwa kewenangan yang dapat dijalankan pejabat pemerintahan dapat diperoleh melalui atribusi, delegasi, dan mandat.193

191 Ibid, hlm. 101.

192 Fabian Riza & Rizari Afiliasi, Op. Cit, hlm 92.

193 Dewi Triwahyuni & Fuqoha, Op. Cit, hlm. 40.

Jika melihat kepada ketentuan UU Pemda Pasal 67 ayat (7) menjelaskan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang Kepala Daerah oleh Wakil Kepala Daerah yang sebagai Plt Kepala Daerah yang sedang berhalangan menjalankan tugas sebagaimana yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 65 ayat (4) sampai dengan ayat (6) UU Pemda akan diatur melalui peraturan pemerintah. Akan tetapi sampai dengan saat ini belum ada peraturan pemerintah yang secara khusus mengatur tentang pelaksanaan tugas dan kewenangan yang dapat dijalankan Plt Kepala Daerah sebagai turunan dari ketentuan pasal tersebut yang menyebabkan ketentuan mengenai kewenangan tentang Plt Kepala Daerah dapat merujuk kepada beberapa bentuk peraturan perundang-undangan.194

Apabila dikaji melalui teori kewenangan kemudian terlihat bahwa Plt Kepala Daerah memperoleh kewenangan melalui mandat yang bersumber dari kewenangan atributif yaitu berdasarkan aturan perihal ketentuan mandat dan delegatif dari pejabat diatasnya yaitu Mendagri. Karena mendapatkan perolehan kewenangan melalui mandat, Plt Kepala Daerah tidak memiliki kewenangan yang sama dengan pejabat defenitif yang sedang digantikan. Sebagai penerima mandat (mandataris) Plt Kepala Daerah hanya bertindak untuk dan atas nama pejabat defenitif yang digantikan atau pejabat diatasnya sebagai pemberi mandat (mandans) karena keputusan akhir tetap berada pada pemberi mandat .195

Kewenangan Plt Kepala Daerah hanya sebatas menjalankan kebijakan yang sudah ditetapkan oleh pejabat defenitif sebelumnya yaitu Kepala Daerah yang sedang berhalangan menjalankan tugas. Kewenangan yang dapat dijalankan

194 Firdaus Arifin & Fabian Riza Kurnia, Op. Cit, hlm. 110.

195 Fabian Riza Kurnia & Rizari Afiliasi, Op. Cit, hlm. 93.

oleh Plt Kepala Daerah hanya bersifat administratif seperti menandatangani dokumen yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh Kepala Daerah dan/atau tugas administratif lainnya serta melaksanakan kebijakan yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh pejabat defenitif yaitu Kepala Daerah yang sedang berhalangan menjalankan tugas.196

Berdasarkan ketentuan Pasal 14 ayat (7) UU Administrasi Pemerintahan menjelaskan bahwa kewenangan yang bersumber dari mandat tidak dapat mengambil keputusan dan/atau tindakan yang bersifat strategis yang mempunyai dampak terhadap perubahan status hukum pada aspek organisasi, kepegawaian, dan alokasi anggaran.197 Keputusan dan/atau tindakan yang bersifat “strategis”

adalah Keputusan dan/atau tindakan yang memiliki dampak besar terhadap perubahan rencana strategis atau rencana kerja pemerintahan. Yang dimaksud dengan perubahan status hukum organisasi adalah menetapkan perubahan struktur organisasi, perubahan status hukum kepegawaian yaitu melakukan pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian pegawai, dan perubahan alokasi anggaran adalah melakukan perubahan anggaran yang sudah ditetapkan alokasinya.198

Melengkapi dan menegaskan ketentuan mengenai batas dan kewenangan pejabat Plt yang dimuat dalam ketentuan UU Adinistrasi Pemerintahan, Badan Kepegawaian Negara melalui SK BKN 26/2016 menjelaskan bahwa pejabat pemerintahan yaitu Plh dan Plt yang memperoleh kewenangan melalui mandat untuk mengisi kekosongan jabatan pejabat defenitif yang sedang berhalangan

196 Pujiyanto & Hananto Widodo, Op. Cit, hlm. 3.

197 Pasal 14 ayat (7) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan.

198 Penjelasan Pasal 14 ayat (7) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan.

menjalankan tugas tidak berwenang untuk mengambil keputusan dan/atau tindakan yang bersifat strategis yang berdampak pada perubahan status hukum pada aspek organisasi, kepegawaian, dan alokasi anggaran.199 Kemudian dalam ketentuan SK BKN 26/2016 poin 3 (tiga) huruf e memuat kewenangan yang dapat dilaksanakan meliputi:

1) Menetapkan sasaran kerja pegawai dan penilaian strategis kerja;

2) Menetapkan kenaikan gaji berkala;

3) Menetapkan cuti selain Cuti di Luar Tanggungan Negara (CLTN);

4) Menetapkan surat penugasan pegawai

5) Menyampaikan usul mutasi kepegawaian kecuali perpindahan antar isntansi, dan;

6) Memberikan izin belajar, izin mengikuti seleksi jabatan pimpinan tinggi/administrasi, dan izin tidak masuk kerja.

Kewenangan Plt Kepala Daerah memang dibatasi pada hal-hal yang bersifat strategis karena pejabat pelaksana tugas hanya sebagai pelanjut jalannya roda Pemerintahan Daerah. Jika selama itu diperlukan suatu kebijakan yang bersifat strategis yang harus diambil oleh Plt Kepala Daerah, maka Pasal 132 A ayat (1) PP 49/2008 bisa dijadikan dasar untuk mengambil kebijakan yang bersifat stategis.200 Ketentuan dalam pasal ini menjelaskan bahwa penjabat atau Plt Kepala Daerah yang diangkat untuk mengisi kekosongan jabatan Kepala Daerah karena mengundurkan diri untuk mencalonkan/dicalonkan kembali menjadi calon Kepala

199 Surat Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor: 26-30/V.20-3/99 Tentang

Kewenangan Pelaksana harian Dan pelaksana Tugas Dalam Aspek Kepegawaian poin 2 huruf a.

200 Nandang Alamsyah Delianoor, Op. Cit, hlm. 331.

Daerah/Wakil Kepala Daerah, serta Kepala Daerah yang diangkat dari Wakil Wepala Daerah yang menggantikan kepala daerah dilarang:

a. Melakukan mutasi pegawai;

b. Membatalkan perijinan yang telah dikeluarkan pejabat sebelumnya dan/atau mengeluarkan perijinan yang bertentangan dengan yang dikeluarkan pejabat sebelumnya;

c. Membuat kebijakan tentang pemekaran daerah yang bertentangan dengan kebijakan pejabat sebelumnya; dan

d. Membuat kebijakan yang bertentangan dengan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan dan program pembangunan pejabat sebelumnya.

Akan tetapi, menurut ayat (2) ketentuan pasal ini disebutkan bahwa 4 (empat) larangan tersebut dapat dikecualikan setelah memperoleh persetujuan atau izin tertulis dari Mendagri201

Namun, Pasal 132 A ayat (1) PP 49/2008 masih belum membahas mengenai kewenang Plt Kepala Daerah. Sehingga melalui Pasal 9 Permendagri 1/2018 perubahan atas Permendagri 76/2016, Mendagri menyelipkas satu pasal yang mengatur tugas dan kewenangan penjabat sementara atau Plt Kepala Daerah antar lain:202

201 Pasal 132 A ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2008 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 Tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan, Dan Pemberhentian Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah.

202 Pasal 9 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Peraturan Dalam Negeri Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Cuti Di Luar Tanggungan Negara Bagi Gubernur Dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Serta Wali Kota Dan Wakil Wali Kota.

a. Memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD;

b. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat;

c. Memfasilitasi penyelenggaraan pemilihan Gubernur, wakil gubernur, Bupati dan wakil bupati, Walikota dan wakil wali kota defenitif serta menjaga netralitas Pegawai Negeri Sipil;

d. Melakukan pembahasan rancangan peraturan daerah dan dapat menandatangani peraturan daerah setelah mendapat persetujuan tertulis dari Mendagri;

e. Melakukan pengisian kekosongan pejabat berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan setelah mendapat persetujuan tertulis dari Mendagri.

Beberapa kewenangan Kepala Daerah seperti membahas dan menandatangani rancangan peraturan daerah, serta melakukan pengisian kekosongan pejabat tidak serta merta dapat dilakukan oleh seorang Plt Kepala Daerah kecuali setelah mendapat persetujuan dari Mendagri. Dalam menjalankan tugas dan kewenangan yang di berikan, Plt Kepala Daerah bertanggung jawab dan berkewajiban untuk menyampaikan laporan pelaksanaan tugas kepada Mendagri.203

203 Pasal 9 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Peraturan Dalam Negeri Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Cuti Di Luar Tanggungan Negara Bagi Gubernur Dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Serta Wali Kota Dan Wakil Wali Kota.

C. Polemik Hukum Kewenangan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Daerah Kehidupan seorang eksekutif, manager, kepala, direktur, Gubernur, Bupati/Wali kota, Menteri sampai dengan Presiden atau pejabat apapun, adalah kehidupan yang selalu berhubungan dengan keputusan. Keputusan yang dilakukan bertujuan untuk penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, terlepas keputusan itu benar atau mengandung kelemahan. Karena pengambilan kepusan adalah aspek terpening dalam kunci manajemen kepemimpinan.204 Pengambilan keputusan mempunyai arti penting bagi maju mundurnya suatu organisasi baik itu ruang lingkup organisasi swasta atau pada organisasi pemerintahan untuk memberikan alternatif sesuai dengan ketentuan aturan yang sudah ditetapkan.205

Secara umum keputusan dapat diartikan sebagai pilihan dari beberapa

Secara umum keputusan dapat diartikan sebagai pilihan dari beberapa

Dokumen terkait