• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Kondisi Stres Kerja dan Kepuasan Kerja Karyawan

4.4.1. Sumber Stres Kerja Karyawan

PT TELKOM Tbk Bekasi sebagai perusahaan terkemuka, memerlukan sumberdaya manusia yang handal, karyawan dituntut untuk dapat memberikan layanan yang memuaskan bagi para pelanggan sekaligus pencapaian target penjualan terhadap produk-produk komunikasi yang terus mengalami perkembangan yang lebih baik dan kompetitif di pasarnya serta dapat memberikan pelayanan purnajual kepada para pelanggan sesuai dengan nilai dari moral, etika, kejujuran dan kebenaran. Hal ini bukan merupakan pekerjaan yang mudah, bahkan sangat potential menyebabkan stres kerja pada karyawan. Namun dengan adanya kondisi kerja yang menyenangkan, rekan kerja yang kooperatif, kontrol yang baik, serta adanya kesesuaian antara minat dan pekerjaan menunjukkan bahwa stres kerja yang dirasakan karyawan rendah sehingga menghasilkan output yang positif.

Tabel 4. Rata-rata tertimbang penilaian karyawan terhadap stres kerja Bobot Nilai Indikator 1 2 3 4 5 Rata-rata Tertimbang Kesimpulan

Beban tugas melebihi kapasitas 3 48 3 14 5 2,59 Tidak Setuju

Sering melakukan lembur kerja 5 43 3 17 5 2,64 Tidak Setuju

Rata-rata Beban Kerja 2,62 Tidak Setuju

Tidak diberikan waktu yang cukup oleh atasan

dalam melakukan pekerjaan 7 52 2 8 4 2,32 Tidak Setuju

Sering diburu-buru oleh atasan dalam

manyelesaikan pekerjaan 4 43 3 17 6 2,70 Tidak Setuju

Rata-rata Tekanan dan Desakan Waktu 2,51 Tidak Setuju

Sikap atasan cenderung otoriter dalam

mendelegasikan tugas 8 58 1 4 2 2,10 Tidak Setuju

Tidak diberikan kesempatan untuk berpartisipasi memberikan masukan dalam pembuatan keputusan

10 58 3 2 0 1,96 Tidak Setuju

Rata-rata Supervisi 2,03 Tidak Setuju

Perusahaan memiliki prospek yang kurang

baik dimasa mendatang 15 46 5 7 0 2,05 Tidak Setuju

Produk-produk yang ditawarkan perusahaan tidak memiliki keunggulan yang spesifik dibanding dengan produk-produk pesaing

19 47 2 5 0 1,90 Tidak Setuju

Rata-rata Kondisi Perusahaan 1,98 Tidak Setuju

Tidak diberikan pengarahan yang cukup oleh

atasan dalam melakukan pekerjaan 11 54 0 8 0 2,07 Tidak Setuju

Pekerjaan tidak dikontrol dengan baik oleh

atasan 13 51 7 2 0 1,97 Tidak Setuju

Rata-rata Pengendalian Pribadi 2.02 Tidak Setuju

Kurang bertanggung jawab dalam melakukan

pekerjaan 22 48 1 1 1 1,78

Sangat Tidak Setuju Tanggung jawab yang diberikan oleh atasan

melebihi wewenang yang dimiliki 4 57 3 6 3 2,27 Tidak Setuju

Rata-rata Wewenang 2,03 Tidak Setuju

Tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik ketika dihadapkan pada harapan yang berbeda antara klien dan atasan

8 56 0 5 4 2,19 Tidak Setuju

Tidak diberikan informasi yang jelas tentang

pekerjaan yang harus dilakukan 9 55 1 8 0 2,11 Tidak Setuju

Rata-rata Konflik dan Kemenduaan Peran 2,15 Tidak Setuju

Tertekan jika mengalami perbedaan persepsi dengan atasan/rekan kerja dalam mencapai tujuan perusahaan

6 52 7 8 0 2,23 Tidak Setuju

Pekerjaan kurang sesuai dengan nilai-nilai

yang dianut 8 58 2 3 2 2,08 Tidak Setuju

Rata-rata Perbedaan Nilai 2,16 Tidak Setuju

Peraturan baru karena adanya transformasi,

berpengaruh terhadap penyelesaian pekerjaan 6 41 3 20 3 2,63 Tidak Setuju

Budaya yang berlangsung dalam perusahaan

saat ini membuat tertekan 9 61 0 1 2 1,97 Tidak Setuju

Rata-rata Perubahan 2,30 Tidak Setuju

Frustasi jika mengalami kegagalan dalam

melaksanakan tugas 10 52 2 9 0 2,14 Tidak Setuju

Tidak dapat mencapai sasaran yang diinginkan 7 57 2 5 2 2,15 Tidak Setuju

Rata-rata Frustasi 2,15 Tidak Setuju

Kesulitan beradaptasi dengan teknologi 4 60 8 1 0 2,08 Tidak Setuju

Kemajuan teknologi merupakan ancaman

karena takut posisi digantikan 16 55 0 1 1 1,85 Tidak Setuju

Rata-rata Teknologi 1,97 Tidak Setuju Rata-rata Keseluruhan Stres Kerja 2,17 Tidak Setuju

Berdasarkan hasil penelitian ini, sumber stres kerja karyawan bagian

Customer Care PT TELKOM Tbk Bekasi adalah beban kerja yang berlebihan, tekanan dan desakan waktu, kualitas supervisi yang buruk, kondisi perusahaan yang tidak aman, kurangnya pengendalian diri, wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab, konflik dan kemenduaan peran, perbedaan antara nilai yang dianut perusahaan dan karyawan, perubahan, frustasi dan teknologi. Didapat beberapa kesimpulan mengenai tingkat stres yang dihadapi karyawan melalui rata-rata tertimbang dari setiap sumber stres yang dapat menggambarkan kondisi stres kerja karyawan dengan nilai sebagai berikut:

1. Beban kerja yang berlebihan

Setiap karyawan memiliki kemampuan yang terbatas dalam melakukan pekerjaannya. Pemberian beban kerja yang berlebihan dapat terjadi karena tidak adanya kesesuaian dengan kapasitas yang dimiliki, hal ini juga dapat terjadi karena adanya pemberian beban kerja yang berlebihan (Handoko, 2001) misalnya lembur kerja. Dikhawatirkan dapat memberikan tekanan yang menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap beban tugas yang diberikan melebihi kapasitas yang dimiliki dan sering lembur kerja ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa beban tugas yang diberikan kepada karyawan merupakan suatu tantangan tersendiri untuk dapat diselesaikan dengan baik, karena tugas pekerjaan yang dilakukan setiap karyawan terlebih dahulu mendapat pengarahan dan setiap karyawan dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap segala perubahan yang terjadi. Sedangkan dengan lembur kerja hanya terjadi apabila ada pekerjaan tertentu yang harus segera diselesaikan dalam waktu dekat misalnya pada akhir bulan harus membuat laporan pertanggungjawaban kerja. Oleh karena itu karyawan merasa beban kerja yang diberikan tidak melebihi kapasitas yang dimiliki.

2. Tekanan dan desakan waktu

Setiap karyawan membutuhkan waktu untuk melakukan proses penyesuaian terhadap pekerjaan yang diberikan. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan waktu yang cukup dan tidak diburu-buru dalam melakukan pekerjaan. Hal ini dikhawatirkan dapat memberikan tekanan yang menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap tidak diberikan waktu yang cukup dalam melakukan pekerjaan dan sering diburu-buru oleh atasan dalam menyelesaikan pekerjaan ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa pekerjaan dapat dilakukan secara efisien dan setiap atasan memberikan tugas kepada karyawan sudah terlebih dahulu direncanakan sehingga karyawan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu. Oleh karena itu karyawan merasa bahwa waktu yang diberikan sudah sesuai dengan target yang harus dicapai sehingga karyawan tidak merasa tertekan saat melakukan pekerjaan.

3. Kualitas supervisi yang buruk

Perusahaan dalam mencapai tujuannya, diperlukan seorang atasan. Sikap atasan yang memiliki gaya kepemimpinan otoriter dianggap lebih kaku dan meminimalkan peranan karyawan. Pemimpin yang otoriter sering melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh karyawan seperti mendelegasikan tugas dengan cara yang terkesan terlalu mendikte dan tidak dapat menerima masukan. Hal ini dianggap potensial menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap sikap atasan yang cenderung otoriter dalam mendelegasikan tugas dan tidak diberikan kesempatan untuk berpartisipasi memberikan masukan dalam pembuatan keputusan ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa atasan memberikan pekerjaan sesuai dengan deskripsi pekerjaan yang sudah ada serta memberikan keleluasaan kepada karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan dan karyawan juga

sering diberikan kesempatan untuk sekedar dimintai pendapat atau memberikan masukan kepada atasan agar keputusan yang dibuat dapat dijalani dengan baik serta memberikan efek yang positif bagi perusahaan. Oleh karena itu karyawan merasa kualitas supervisi yang diberikan atasan mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi karyawan.

4. Kondisi perusahaan yang tidak aman

Kenyamanan seorang karyawan dalam bekerja salah satunya bergantung pada kestabilan perusahaan dalam menjaga kelangsungan hidupnya. Selama kondisi perusahaan tetap bersaing dan memiliki prospek untuk berkembang, karyawan masih mempunyai harapan untuk dapat bertahan dan memberikan kontribusinya secara maksimal. Kondisi perusahaan yang tidak menentu salah satunya dapat diketahui dengan melihat indikasi prospek perusahaan dimasa mendatang atau dengan melihat produk-produk yang ditawarkan perusahaan apakah memiliki keunggulan spesifik diantara para pesaingnya. Karyawan adalah pihak intern yang telah banyak mengetahui siklus hidup perusahaan. Kondisi perusahaan yang tidak aman dianggap potensial menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap prospek perusahaan yang kurang baik dimasa mendatang dan tidak memiliki keunggulan yang spesifik diantara para pesaing pada produk-produk yang ditawarkan perusahaan ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa prospek perusahaan dimasa mendatang tidak perlu diragukan, mengingat pengalaman perusahaan yang cukup baik selama ini dengan program kerja yang ada dan untuk keunggulan produk-produk yang ditawarkan terletak pada kualitas fitur dan layanan yang memberikan kualitas terbaik bagi penggunanya dengan selalu mengedepankan inovasi dan teknologi. Oleh karena itu karyawan merasa kondisi perusahaan berada pada keadaan yang stabil dan mampu menghadapi berbagai persaingan yang terjadi.

5. Kurangnya pengendalian pribadi

Seorang karyawan dalam melakukan pekerjaan dengan baik diperlukan pengarahan yang cukup oleh atasan agar setiap karyawan dibekali landasan yang kokoh dalam mencapai tujuan perusahaan. Apabila pengarahan yang diberikan kurang, maka karyawan akan bekerja dengan caranya masing-masing yang menyebabkan tujuan perusahaan menjadi bias. Selain itu karyawan juga tidak mendapatkan motivasi untuk menghadapi berbagai masalah di lapangan. Hal ini dikhawatirkan dapat memberikan tekanan yang menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap tidak diberikannya pengarahan yang cukup oleh atasan dalam melakukan pekerjaan dan pekerjaan yang karyawan lakukan tidak dikontrol dengan baik oleh atasan ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa karyawan diberikan pengarahan yang cukup setiap pekerjaan yang dilakukannya oleh atasan dan setiap pekerjaan yang dilakukan karyawan selalu dievaluasi dengan baik. Oleh karena itu karyawan merasa diperhatikan oleh atasan setiap pekerjaan yang karyawan lakukan yaitu dengan adanya penilaian kinerja individu melalui SKI (Sasaran Kerja Individu) yang dilakukan pada awal tahun yang kemudian menghasilkan NKI (Nilai Kinerja Individu) di akhir tahun dan adanya CBHRM (Competen Base Human Resource Management) yang penilaiannya dilakukan oleh atasan atau sesama rekan kerja pada lingkungan kerja sehingga setiap karyawan memiliki ukuran kerja tersendiri untuk melakukan pengendalian terhadap target kerja yang dicapai.

6. Wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab

Setiap karyawan wajib memiliki tanggung jawab dalam melakukan pekerjaannya, sehingga wewenang yang diberikan kepada karyawan dalam melakukan tugas tidak disalahgunakan. Adanya tanggung jawab yang melebihi wewenang yang dimiliki dalam melaksanakan tanggung

jawab kerja merupakan suatu tekanan tersendiri. Hal ini dikhawatirkan dapat memberikan tekanan yang menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan dikatakan kurang bertanggung jawab dalam melakukan pekerjaan dan adanya tanggung jawab yang diberikan melebihi wewenang yang dimiliki ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa karyawan sangat bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukan, karena dengan adanya tanggung jawab karyawan lebih termotivasi dalam bekerja dan cepat menyelesaikan pekerjaannya hingga tuntas serta tanggung jawab yang melebihi wewenang yang karyawan miliki tidak pernah terjadi karena setiap karyawan mengetahui tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan sesuai deskripsi pekerjaan masing-masing. Oleh karena itu karyawan merasa wewenang yang karyawan dapatkan tidak melebihi tanggung jawab yang diberikan.

7. Konflik dan kemenduaan peran

Seringkali karyawan menemukan suatu kerancuan tentang apa yang harus karyawan kerjakan ketika dihadapkan pada harapan yang berbeda

antara pelanggan dan atasan. Karyawan pada bagian Customer Care yang

sehari-hari bekerja menjadi penghubung antara perusahaan dengan pelanggan, satu sisi karyawan harus mampu memberikan pelayanan yang memuaskan harapan pelanggan serta di sisi lain karyawan harus mengikuti keinginan perusahaan sesuai prosedur yang diberikan atasan. Hal ini dikhawatirkan dapat memberikan tekanan yang menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan dengan baik ketika dihadapkan pada harapan yang berbeda antara pelanggan dan atasan serta tidak diberikan informasi yang jelas tentang pekerjaan yang harus dilakukan ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa atasan memegang peranan penting dimana

keputusan yang dibuat mengarah pada tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Selain itu setiap pekerjaan yang dilakukan selalu diberikan informasi yang jelas sesuai dengan deskripsi pekerjaan yang ada dan pengarahan yang rutin diberikan setiap hari, sehingga karyawan merasa siap menghadapi permasalahan-permasalahan yang timbul. Oleh karena itu karyawan merasa bahwa konflik perlu untuk membangun motivasi dan setiap karyawan harus mampu menjalin komunikasi dengan baik sehingga kebiasan terhadap informasi dapat diminimalkan.

8. Perbedaan antara nilai yang dianut perusahaan dan karyawan

Karyawan dalam melakukan pekerjaan tentunya membutuhkan kesesuaian antara nilai-nilai yang dianutnya dengan pekerjaan yang dilakukan. Namun, dalam mencapai tujuan perusahaan sering menemukan perbedaan persepsi yang disebabkan karena adanya perbedaan antara keinginan perusahaan dengan karyawan. Misalnya pihak manajemen dalam menentukan target penjualan, berorientasi pada keuntungan yang ingin didapat tanpa menyesuaikan terlebih dahulu dengan kemampuan karyawan. Hal ini dapat memicu ketegangan dan menimbulkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap perbedaan persepsi dengan atasan dalam mencapai tujuan perusahaan dan pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa perbedaan persepsi merupakan suatu hal yang wajar dan biasa terjadi pada setiap perusahaan dan dalam pencapaiaan target PT TELKOM Tbk Bekasi selalu mamperhatikan nilai lebih dari moral, etika, kejujuran dan kebenaran dengan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan nilai-nilai etika berbisnis yang dianutnya. Oleh karena itu karyawan merasa bangga mengerjakan segala tugas dan tanggung jawab seluruh aktivitas pekerjaan, yang dilakukan dengan selalu didasari oleh aturan-aturan yang berlaku dalam perusahaan.

9. Perubahan

Setiap perusahaan memiliki budaya organisasi yang berbeda, adanya transformasi yang dilakukan PT TELKOM Tbk Bekasi mengarah pada perbaikan pelayanan dan peraturan baru karena perubahan organisasi tersebut merupakan suatu proses adaptasi. Dalam proses ini karyawan sering merasa terbebani dengan perubahan yang ada, hal ini dirasakan sebagai sesuatu yang tidak biasa. Dikhawatirkan kondisi seperti ini dapat menimbulkan tekanan yang menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap perubahan peraturan karena transformasi organisasi dapat berpengaruh terhadap penyelesaian pekerjaan karyawan serta adanya budaya organisasi menjadi tekanan pada karyawan ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa adanya perubahan peraturan karena transformasi organisasi memerlukan proses adaptasi yang secara otomatis tidak terlalu mempengaruhi cara kerja karyawan, namun dijadikan sebagai tolak ukur untuk mencapai hasil yang lebih baik. Dengan potensi dan kompetensi menjadi modal dasar untuk pengembangan karir karyawan, tanpa mengabaikan hubungan kekeluargaan yang erat terjalin antar karyawan yang telah menjadi suatu budaya organisasi yang saling mengikat. Oleh karena itu karyawan merasa adanya transformasi maupun budaya yang ada pada lingkungan kerja bukan menjadi halangan untuk tetap berkarya dan bekerja mengembangkan potensi diri.

10. Frustasi

Frustasi yang disebabkan karena adanya kegagalan dalam menyelesaikan pekerjaan yang diberikan dan adanya kondisi pribadi yang tidak stabil menjadi suatu kenyataan bahwa adanya sasaran yang tidak tercapai dan ketidaksesuaian dengan target yang telah ditentukan. Hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan frustasi dan potensial menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap tidak frustasinya karyawan jika mengalami kegagalan dalam menyelesaikan

tugas dan karyawan tidak mampu mencapai sasaran yang diinginkan ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa karyawan memiliki ambisi untuk mencapai sasaran-sasaran yang ditentukan dan karyawan berupaya dengan giat untuk mencapai sasaran yang ingin dicapai. Oleh karena itu karyawan merasa bahwa kegagalan bukan merupakan suatu tekanan atau hambatan yang menyebabkan karyawan frustasi melainkan suatu tantangan untuk mampu melakukan pekerjaan dengan lebih baik.

11. Teknologi

Kemampuan untuk dapat beradaptasi dengan teknologi merupakan kebutuhan bagi setiap orang, terutama bagi karyawan di dalam dunia kerja. Adanya persaingan dalam dunia kerja menuntut setiap karyawan untuk dapat meningkatkan keterampilannya dalam menggunakan teknologi. Hal ini sering menjadi kekhawatiran bagi karyawan yang kurang bisa beradaptasi dengan teknologi dengan baik, seperti ketakutan posisi pekerjaannya digantikan sehingga potensial menyebabkan stres kerja pada karyawan. Tanggapan karyawan terhadap sulitnya beradaptasi dengan teknologi dan adanya kemajuan teknologi menjadi ancaman digantikannya karyawan dari posisi yang dipegang ke dalam kategori tidak setuju (Tabel 4).

Indikator ini menjelaskan kondisi stres kerja karyawan yang pada umumnya berpendapat bahwa karyawan sudah terbiasa menggunakan teknologi komputer dalam keseharian karyawan dimana setiap karyawan harus mampu mengoperasikan komputer karena segala aktivitas pekerjaan didukung dengan jaringan intranet maupun internet dan karyawan tidak perlu khawatir posisinya dalam bekerja tergantikan karena karyawan mampu untuk menggunakan teknologi yang ada dengan baik. Oleh karena itu karyawan merasa bahwa kemajuan teknologi merupakan suatu tantangan bagi karyawan untuk selalu belajar mengenal lebih jauh teknologi yang terus maju dan berkembang.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata stres

kerja karyawan bagian Customer Care PT TELKOM Tbk Bekasi secara

keseluruhan adalah 2,17. Hal ini berarti jawaban rata-rata karyawan berada pada kategori tidak setuju terhadap pernyataan-pernyataan yang mengacu pada stres kerja atau dengan kata lain tingkat stres kerja

karyawan bagian Customer Care PT TELKOM Tbk Bekasi tergolong

rendah. Berdasarkan 22 pernyataan mengenai stres kerja yang berasal dari sumber penyebab stres kerja, didapat nilai rata-rata terendah berada pada pernyataan nomor 11 yaitu sebesar 1,78 yang berarti stres kerja terendah karyawan berada pada poin wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai sumber penyebab stres kerja (Tabel 4).

Dokumen terkait