• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3 Darah dan bagian-bagiannya

2.3.2 Sumsum tulang

Pada orang dewasa secara umum proses hematopoiesis (pembentukan sel-sel

darah: eritrosit, leukosit dan trombosit) terjadi pada sumsum tulang. Sedangkan pada

janin, sel-sel darah juga dibentuk di dalam hati dan limfa atau disebut dengan

hematopoiesis ekstramedular. Pada orang dewasa, hematopoiesis ekstramedular yang

demikian dapat juga terjadi apabila menderita penyakit kerusakan tulang atau fibrosis

Pada usia anak-anak, sel darah secara aktif dihasilkan di dalam rongga sumsum

tulang dari seluruh tulang. Kemudian menjelang usia 20 tahun, sumsum tulang pada

rongga sumsum tulang panjang menjadi tidak aktif, terkecuali pada tulang humerus atas

dan femur. Sumsum tulang seluler yang aktif disebut sebagai sumsum merah, sumsum

tulang inaktif yang diinfiltrasi dengan lemak disebut sumsum kuning (Ramon, 2007).

Gambar.7 Bone Marrow (Jorrun, 2007)

Sumsum tulang merupakan salah satu organ terbesar di dalam tubuh, dengan

ukuran dan berat mendekati ukuran dan berat organ hati. Sumsum tulang merupakan

salah satu organ yang paling aktif, dimana dalam keadaan normal 75% dari sel di dalam

sumsum tulang termasuk dalam golongan mieloid penghasil sel darah putih dan hanya

sekitar 25% yang merupakan sel darah merah yang sedang mengalami pematangan,

jumlahnya 500 kali lebih banyak dibandingkan dengan sel darah putih. Hal ini

menunjukkan bahwa di dalam sumsum tulang masa hidup rata-rata sel darah putih adalah

singkat, sedangkan usia sel darah merah lebih panjang (Pudyoko, 2001). Sumsum tulang

mengandung sel induk multipoten umum yang akan berdiferensiasi menjadi sel induk

khusus, yang selanjutnya berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel yang ditemukan di

dalam sumsum tulang dan darah. Jumlah sel induk multipoten umum tidak banyak,

namun mampu mengambil alih fungsi sumsum tulang apabila disuntikan pada seseorang

penderita yang seluruh sumsum tulangnya mengalami kerusakan. Nampaknya sel‐sel tersebut berkembang menjadi kelompok‐kelompok sel induk khusus yang membentuk megakariosit, limfosit, eritrosit, eosinofil dan basofil, sedangkan netrofil dan monosit

dibentuk oleh prekursor umum. Sel induk pada sumsum tulang juga merupakan sumber

dari osteoklas, sel mast, sel dendritik dan sel langerhans.

2.3.3 Eritrosit (sel darah merah)

Pada manusia terdapat rata-rata sekitar 5 miliar eritrosit dalam setiap mililiter darah.

Secara klinis biasanya dilaporkan jumlah hitung sel darah merah sebanyak 5 juta per

milimeter kubik (mm3). Setiap manusia memiliki total 25 sampai 30 triliun sel darah

merah yang mengalir di dalam pembuluh darah setiap saat. Usia dari eritrosit dalam

pembuluh darah adalah pendek, eritrosit hanya mampu bertahan rata-rata selama 120 hari,

oleh karena itu harus diganti. Dalam keadaan normal pada sumsum tulang terjadi proses

eritropoiesis yaitu proses untuk menghasilkan sel darah merah, dengan kecepatan yang

luar biasa yaitu 2 sampai 3 juta sel per detik untuk mengimbangi sel-sel tua yang sudah

mati (Ramon, 2007).

Selama perkembangan masa janin, eritrosit awalnya diproduksi oleh yolk sac

sumsum tulang terbentuk dan mengambil alih fungsi pembentukan eritrosit. Seiring

semakin dewasanya seseorang sumsum kuning yang tidak mampu melakukan

eritropoiesis secara bertahap digantikan oleh sumsum merah yang hanya tersisa di

sternum (tulang dada), vertebra (tulang punggung), iga, dasar tengkorak dan ujung-ujung

atas tulang ekstremitas. Sumsum merah tidak hanya menghasilkan eritrosit tetapi juga

menghasilkan leukosit dan trombosit. Di sumsum merah terdapat pluripotensial stem cell

yang belum berdiferensiasi yang secara terus menerus membelah diri dan berdiferensiasi

menjadi berbagai jenis sel darah (Ramon, 2007).

Eritrosit merupakan sel gepeng berbentuk piringan yang dibagian tengah di kedua

sisinya mencekung, hampir menyerupai bentuk donat tetapi tidak berlubang. Eritrosit

merupakan lempeng bikonkaf dengan diameter 8 µm, tepi luar tebalnya 2 µm dan ukuran

tebal bagian tengahnya 1µm. Dalam fungsinya untuk mengangkut O2 di dalam darah,

bentuk eritrosit yang khas ini memiliki fungsi secara efisien. Pertama, bentuknya yang

bikonkaf akan memberikan luas permukaaan yang lebih besar untuk terjadinya proses

difusi O2 untuk menembus membran. Kedua, bentuk sel eritrosit yang tipis

memungkinkan O2 untuk berdifusi lebih cepat antara bagian dalam sel dengan luar sel

(Sherwood, 2001).

Eritrosit juga bersifat lentur (fleksibel) terhadap membran, sehingga ciri ini akan

mempermudah fungsi transportasi dari eritrosit, yakni memungkinkan eritrosit berjalan

melalui kapiler yang sempit dan berkelok-kelok untuk menyampaikan O2 ke jaringan

tanpa mengalami ruptur. Eritrosit yang diameternya 8 µm, mampu mengalami deformasi

Gambar.8 Eritrosit (Jorrun, 2007)

Untuk menjalankan fungsinya dalam mengangkut O2, pada eritrosit terdapat

hemoglobin (Hb). Molekul hemoglobin (Hb) terdiri atas dua bagian :

a. Gugus nitrogenosa non protein mengandung besi yang dikenal sebagai gugus hem

(heme) dimana masing-masing terikat dengan satu polipeptida. Setiap atom besi

secara reversibel dapat berikatan dengan satu molekul O2, sehingga setiap satu

molekul hemoglobin dapat mengangkut empat O2. O2 bersifat kurang larut dalam

plasma, 98,5% O2 yang diangkut dalam darah terikat pada hemoglobin. Hemoglobin

sendiri merupakan suatu pigmen (secara alami berwarna), hal ini disebabkan karena

kandungan besi yang terapat pada hemoglobin, sehingga hemoglobin tampak

berwarna kemerahan apabila berikatan dengan O2 dan berwarna kebiruan apabila

mengalami deoksigenasi. Hal inilah yang menyebabkan darah arteri yang

teroksigenasi dengan sempurna tampak merah, dan darah vena yang telah kehilangan

b. Bagian globin, yaitu suatu protein yang terbentuk dari empat rantai polipeptida yang

sangat kompleks (berlipat-lipat).

Selain berikatan dengan O2 hemoglobin juga dapat berikatan dengan zat-zat lain,

seperti:

a. Hemoglobin berikatan dengan CO2, hemoglobin juga berfungsi untuk mengangkut

CO2 dari jaringan kembali ke paru untuk selanjutnya dibuang melalui ekshalasi.

b. Hemoglobin berfungsi untuk menyangga asam (pH). Ion hidrogen asam (H+) dari

asam karbonat yang terionisasi, dihasilkan dari CO2 pada tingkat jaringan.

c. Karbon monoksida (CO). Dalam keadaan normal gas ini tidak terdapat dalam darah,

tetapi bila terhirup gas CO maka akan menempati tempat pengikatan O2 pada

hemoglobin sehingga dapat menyebabkan terjadinya keracunan karbon monoksida.

Gambar.9 Bagian-bagian darah (Jorrun, 2007)

biasa Romanowsky yang merupakan sel besar dengan sitoplasma biru tua, nukleus di

tengah dengan nukleoli dan kromatin yang sedikit mengelompok (Ramon, 2007). Eritrosit

seolah-olah tidak memiliki inti sel (nucleus), organel atau ribosome. Struktur-struktur ini

dikeluarkan ketika masa perkembangan sel untuk menyediakan ruang untuk hemoglobin

yang lebih banyak (Pudyoko, 2011). Hal ini disebabkan karena setelah terjadi proses

pembelahan sel, pronormoblas ini menjadi sederet normoblas yang makin bertambah

kecil. Pronormoblas juga berisi haemoglobin lebih banyak dalam sitoplasma. Sitoplasma

berwarna biru pucat karena kehilangan alat sintesis RNA dan proteinnya, sementara

kromatin inti menjadi lebih padat. Nukleus akhirnya dikeluarkan dari normoblas tua di

dalam sumsum tulang dan terjadilah stadium retikulosit yang masih mengandung

sebagian ribosomal RNA dan masih sanggup mensintesis haemoglobin (Ramon, 2007).

Sehingga sel darah merah pada dasarnya adalah suatu kantong terbungkus membran

plasma yang dipenuhi dengan hemogolin (Sherwood, 2001).

Di dalam eritrosit terdapat enzim yang tidak dapat diperbaharui. Enzim-enzim

tersebut adalah enzim glikolitik dan karbonat anhidrase (Pudyoko, 2011). Enzim

glikolitik penting untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk menjalankan

mekanisme transportasi ion-ion di dalam sel. Walaupun eritrosit merupakan kendaraan

untuk mengangkut O2 ke semua jaringan tubuh, namun eritrosit itu sendiri tidak dapat

menggunakan O2 yang diangkut untuk menghasilkan energi. Hal ini disebabkan karena

eritrosit tidak memiliki mitokondria yang berfungsi sebagai tempat keberadaan

enzim-enzim fosforilasi oksidatif, dan hanya mengandalkan glikolisis untuk menghasilkan ATP

(Pudyoko, 2011).

Karbonat anhidrase juga merupakan enzim yang penting di dalam eritrosit. Enzim

pada akhirnya akan menyebabkan perubahan CO2 hasil metabolisme menjadi ion

bikarbonat (HCO3-), yaitu bentuk utama transportasi CO2 di dalam darah. Dengan

demikian eritrosit berperan serta dalam pengangkutan CO2 melalui dua cara yaitu

pengangkutan dengan hemoglobin dan melalui konversi HCO3- oleh karbonat anhidrase

(Pudyoko, 2011).

Tabel.5 Jumlah Sel Darah Manusia Normal (Ramon, 2007; Lauralee Sherwood 2001; Pudyoko, 2011).

Sel Darah Jumlah Normal

Eritrosit total

Hitung sel darah merah

5.000.000.000 sel/ ml darah

5.000.000/ mm3

Leukosit total

Hitung sel darah putih

7.000.000 sel/ ml darah 7.000/mm3 Granulosit polimorfunukleus Neutrofil 60-70% Eosinofil 1-4% Basofil 0,25-0,5% Agranulosit mononukleus Limfosit 25-33% Monosit 2-6% trombosit total

Hitung sel trombosit

250.000.000/ ml darah

2.3.4 Leukosit (sel darah putih)

Leukosit merupakan sel darah yang diproduksi oleh jaringan hematopoietik yang

berfungsi membantu tubuh untuk melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari

sistem kekebalan tubuh. Imunitas mengacu pada kemampuan tubuh untuk menahan atau

mengeliminasi sel abnormal atau benda asing yang berpotensi menimbulkan gangguan

bagi tubuh. Fungsi dari leukosit dan turunannya adalah sebagai berikut :

a. Menahan invasi pathogen, yaitu mikroorganisme penyebab penyakit; misalnya

bakteri dan virus melalui proses fagositosis.

b. Mengidentifikasi dan menghancurkan sel-sel kanker yang muncul di dalam tubuh.

c. Membersihkan sampah tubuh dengan cara memfagositosis debris dari sel yang mati;

misalnya dalam proses penyembuhan luka dan perbaikan jaringan.

Berbeda dengan eritrosit pada leukosit tidak terdapat hemoglobin, sehingga

leukosit tidak berwarna (putih) kecuali apabila diwarnai secara khusus agar dapat terlihat

di bawah mikroskop. Eritrosit umumnya memiliki struktur yang uniform, berfungsi secara

identik dan jumlahnya konstan. Hal ini berbeda dengan leukosit yang bervariasi dalam

struktur, serta fungsi dan jumlahnya (Pudyoko, 2011). Leukosit bentuknya lebih besar

dibanding denga eritrosit tetapi jumlah lebih sedikit. Dalam setiap milimeter kubik

terdapat 6000 sampai 10000 (rata-rata 8000) leukosit (Ramon, 2007).

Dalam Sherwood (2001) disebutkan ada lima jenis leukosit yang bersirkulasi,

yakni: neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit, dimana masing-masing memiliki

struktur dan fungsi yang khas dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari pada eritrosit.

Neutrofil, eosinofil dan basofil dikategorikan sebagai granulosit (sel yang mengandung

granula) polimorfonukleus (banyak bentuk nukleus). Nukleus dari sel-sel ini terbentuk

menjadi beberapa lobus dengan bentuk yang bervariasi serta memiliki sitoplasma yang

yang sitoplasmanya mengandung granula dengan komposisi kimia dan enzim yang

bervariasi serta memiliki ukuran berkisar dari 10 sampai 14 µm (Ramon, 2007). Eosinofil

merupakan granulosit dengan inti yang terbagi menjadi 2 lobus dan sitoplasmanya

bergranula kasar, berwarna merah tua oleh zat warna yang bereaksi asam. Dalam keadaan

normal jumlah eosinofil adalah 2-3% dari seluruh jumlah sel darah putih yang terdapat di

dalam darah. Basofil merupakan jenis leukosit darah yang jumlahnya paling sedikit.

Neutrofil disebut juga sebagai leukosit polimorfonuklear (PMN), sel ini berdiameter

antara 12-15 µm, memiliki inti yang khas padat yang terdiri atas sitoplasma diantara 2

dan 5 lobus dengan struktur tidak teratur dan banyak mengandung granula (Ramon,

2007). Granulosit sendiri terbagi menjadi tiga bagian berdasarkan sifat afinitasnya

terhdap zat warna; eosinofil memiliki afinitas terhadap zat warna merah eosin, basofil

cenderung menyerap zat warna biru (basa) dan neutrofil bersifat netral, tidak ada

kecenderungan berikatan dengan zat warna.

Monosit dan limfosit dikenal sebagai agranulosit (sel yang tidak memiliki granula)

monounkleus (satu nukleus). Monosit dan limfosit memiliki sebuah nukleus besar yang

tidak bersegmen (Pudyoko, 2011). Monosit merupakan 5-8% jumlah leukosit di dalam

darah, monosit berukuran besar yaitu 16-20 µm, kromatin inti jelas, inti memanjang

berlekuk atau terlipat dan sitoplasmanya banyak, monosit juga berwarna keabu-abuan dan

tembus pandang. Limfosit merupakan leukosit mononuklear dalam darah perifer.

Limfosit memiliki inti bulat atau oval yang dikelilingi oleh pinggiran sitoplasma sempit

Gambar.10 Leukosit (Jorrun, 2007)

Fungsi leukosit yaitu (1) fungsi defensif: berfungsi untuk mempertahankan tubuh

terhadap benda-benda asing termasuk kuman-kuman penyebab penyakit infeksi. Leukosit

yang berperan dalam fungsi ini adalah Monosit, yang memakan benda-benda asing

berukuran besar (makrofag). Neutrofil yang memakan benda-benda asing berukuran kecil

(mikrofag) dan limfosit yang membentuk antibodi dan sel plasma. (2) fungsi reparatif:

berfungsi untuk memperbaiki atau mencegah terjadinya kerusakan terutama kerusakan

vaskuler. Jenis leukosit yang berperan dalam fungsi ini adalah basofil sebagai heparin,

dimana heparin dapat mencegah terbentuknya trombus-trombus pada pembuluh darah

(Ramon, 2007).

1. Neutrofil, merupakan unit dari leukosit yang khusus sebagai fagositik. Sel-sel ini

merupakan sel pertahanan pertama apabila terjadi invasi bakteri dan sangat penting

dalam respon peradangan. Peningkatan jumlah neutrofil di dalam darah biasanya

terjadi pada invasi bakteri akut. Hitung jenis sel dalam penentuan proporsi setiap

jenis leukosit yang ada sangat bermanfaat untuk membuat perkiraan yang cukup

2. Eosinofil, peningkatan eosinofil dalam sirkulasi darah (eosinofilia) biasanya

dikaitkan dengan keadaan-keadaan alergi dan adanya parasit internal. Untuk

membunuh parasit dalam tubuh; misalnya cacing, eosinofil tidak dapat memakan

langsung cacing parasit yang berukuran lebih besar, melainkan dengan cara

melekatnya sel-sel tersebut ke tubuh parasit dan mengeluarkan bahan-bahan yang

dapat mematikan parasit tersebut.

3. Basofil, merupakan jenis leukosit yang paling sedikit jumlahnya dan kurang

diketahui sifat-sifatnya. Secara struktural dan fungsional sel-sel ini mirip dengan sel

mast, dimana sel-sel tersebut tidak pernah beredar dalam darah melainkan lebih

banyak tersebar dalam jaringan ikat di seluruh tubuh. Sel basofil dan sel mast sendiri

dapat membentuk dan menyimpan histamin serta heparin, yaitu merupakan zat-zat

kimia kuat yang dapat dikelurkan apabila mendapat stimulus yang sesuai. Biasanya

pengeluaran histamin penting dalam reaksi alergi, sedangkan heparin untuk

mempercepat pembersihan partikel-partikel lemah dari darah.

4. Monosit, sama seperti neutrofil, monosit juga diarahkan sebagai fagositik. Sel

monosit keluar dari sumsum tulang dan beredar dalam aliran darah selama satu atau

dua hari sebelum akhirnya menetap di berbagai jaringan di seluruh tubuh. Ketika

sudah berada ditempat yang baru, sel monosit akan terus berkembang dan

membesar, dan menjadi fagosit jaringan besar yang dikenal sebagai makrofag.

5. Limfosit, terdapat dua jenis limfosit yaitu: limfosit B dan limfosit T. Limfosit B

menghasilkan antibodi yang beredar di dalam darah. Antibodi yang dihasilkan oleh

limfosit B akan berikatan dengan antigen (benda asing) dan memberi tanda untuk

destruksi (melalui fagosit atau cara lain), misalnya bakteri akan menginduksi

pembentukan antibodi. Limfosit T tidak menghasilkan antibodi, melainkan sel-sel ini

sebagai respon imun seluler. Limfosit T akan menyerang sel-sel tubuh yang telah

dimasuki oleh virus dan sel kanker. Rentang usia dari sel limfosit berkisar antara 100

sampai 300 hari. Selama periode ini sebagian besar dari sel ini beredar diantara

jaringan limfoid, limfe dan darah, dengan menghabiskan waktu hanya beberapa jam

saja di dalam darah.

Dokumen terkait