• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar Hukum yang Mengatur Tentang Malapraktik Kedokteran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

H. Kode Etik Profesi Kedokteran

I. Dasar Hukum yang Mengatur Tentang Malapraktik Kedokteran

Dasar hukum yang mengatur tentang malapraktik adalah dasar atau sumber aturan yang mengatur agar tidak terjadinya suatu kelalain atau kesengajaan yang dapat menimbulkan luka bahwa kematian apabilah tidak dijadikan pedoman standar dalam melaksanakan kegiatanan palayanan medic di semua tingkatan pelayanan medic, banyaknya aturan menjadi dasara pelaksanaan membuat tenaga medis dan dokter harus estra terbuka dalam menenrima ilmu sehingga terhidar dari malapraktik.

Dasar sumber hukum aturan yang mengatur tentang malapraktik dapat dibagi menjadi sumber atau dasar hukum materi atau formil jikalau melibatkan sebab akibat maka akan berkaitan dengan materil namun jika berkaitan dengan perijinan yang menjadi dasar kesalahan atau ketidakpatutan tenaga medis atau dokter maka dia berkaitan dengan delic formil. Beberapa atauran yang mengatur tentang tenaga medis atau dokter dan tempat pelayanan medic yang harus menjadi acuan atau dasar dokter dalam melakukan pelayanan medic.

Melalui Surat Keputusan Menkes No.595/Menkes/SK/VII/1993 telah ditetapkan bahwasetiap sarana pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan medis harus sesuai dengankebutuhan dan standar pelayanan yang berlaku. Dengan adanya standar medik ini diharapkan seluruh rumah sakit

46

pemerintah maupun swasta dari semua tingkatan kelas harus dapatmenerapkan standar ini agar rumah sakit tersebut dapat menjaga mutu dan menghasilkanpelayanan yang efektif dan efisien. Berkaitan juga dengan upaya pemerintah untukmenerapkan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) sesuai dengan UUKesehatan nomor 23 thn 1992 pasal 66, standar pelayanan medis sudah menjadi keharusanuntuk ditetapkan dan diterapkan di seluruh rumah sakit. Hal ini sebagai antisipasi terhadapberlakunya Undang-Undang Kesehatan No.23 tahun 1992, pasal 32 ayat 4, Standar pelayananmedik telah ditetapkan berdasarkan SK Menkes, yang merupakan tonggak utama dalam upayapeningkatan mutu pelayanan medik di Indonesia. Standar ini mengatur tentangpenatalaksanaan penderita di rumah sakit agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakatmemenuhi mutu yang dapatdipertanggungjawabkan.55

Masalah mutu pelayanan akhir-akhir ini semakin sering menjadi sorotan, dan sebagianbesar dokter pasti sudah berusaha untuk melakukan hal yang terbaik untuk pasien, tetapiselama ini belum ada standar yang dijadikan pedoman untuk dokter maupun penerima jasapelayanan dalam menilai mutu layanan. Standar pelayanan medik juga dapat menjadipengukur efisiensi penggunaan sumber daya, baik tenaga, ilmu dan teknologi, sarana danbiaya untuk menyembuhkan pasien dari penyakitnya.

Penerapan standar pelayanan medik harus dilakukan bertahap, mengingat kondisi dankapasitas kemampuan rumah sakit bervariasi bila ditinjau dari segi

55 Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc, Ph.D., Kebijakan Standar Pelayanan Medik hal 13

47

fisik konstruksi, peralatan, sumber daya manusia, pembiayaan dan sejarah perkembangan. 56

Standar pelayanan medis disusun oleh ikatan Dokter Indonesia sebagai satu-satunyaorganisasi profesi di Indonesia yang mendapatkan masukan dari perkumpulan dokter seminat, yang bekerja sama dengan Departemen Kesehatan. Kandungan standar pelayanan medisterdiri dari standar penatalaksanaan 100 jenis penyakit dari 12 spesialis dan standar pelayananpenunjang dari 3 spesialis.

Standar yang telah disusun tidak mencakup semua diagnosis penyakit yang diketahuiilmu kedokternnya, tetapi dipilih berdasarkan Kessner, dalam tulisannya di New EnglandJournal of Medicine tahun 1973, tentang petunjuk dalam memilih diagnosis yang perludisususun standarnya, yaitu:

1. Penyakit tersebut mempunyai dampak fungsional yang besar,

2. Merupakan penyakit yang jelas batas-batasnya, dan relatif mudah untuKmendiagnosisnya,

3. Prevalensinya cukup tinggi dalam praktek,

4. Perjalanan penyakitnya dapat secara nyata dipengaruhi oleh tindakan medis yangada,

5. Pengelolaannya dapat ditetapkan dengan jelas,

6. Faktor non-medis yang mempengaruhinya sudah diketahui.57

Standar pelayanan medik itu kurang lengkap dan tidak spesifik terhadap kepastianobat-obatan, alat kesehatan, bahan habis pakai yang digunakan, dan belum sesuai dengan Case Studi: Kebijakan Standar Pelayanan Medik dan DRGDrh. Wiku Adisasmito, MSc, PhD. 19ICD X, sehingga sulit menerapkan bahan tersebut sebagai masukan dalam pembuatan DRG. Penyusunan standar pelayanan medis juga tidak berdasarkan clinical

56 Ibid

57 Ibid

48

pathway, sehingga sulituntuk menjadikannya sebagai dasar penyusunan DRG.

Tetapi karena belum ada standar pelayanan medik yang lebih rinci yang diterbitkanoleh perkumpulan dokter spesialis tertentu maka dalam penyusunan DRG, standar pelayananmedis dapat dijadikan dasar bagi penatalaksanaan pasien, organisasi profesi harus mengembangkan standar berdasarkan clinical pathway, dan unit cost sehingga dapat diketahui tarif untuk setiap pengelompokan diagnosa dan tindakan medis.

Rumah sakit di Indonesia juga belum seluruhnya telah melakukan perhitungan unitcost per diagnosa penyakit. Yang banyak dilakukan adalah menghitung unit cost untuk sebuah tindakan medis, menentukan tarif, semua itu belum semua dicatat dengan baik oleh rumah sakit. Kelemahan data inilah menjadi salah satu kendala dalam perhitungan unit cost. Semua rumah sakit sudah harus mulai menyesuaikan dan melakukan rencana jangka pendek, menengah dan panjang dalam penerapan standar pelayanan medik ini, terutama bilaakan menerapkan Diagnostic Related Group dalam sistem pembayaran.

Di Indonesia terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perlunya DRG antara lain,yaitu:

 Tingginya biaya pelayanan kesehatan karena belum adanya standar biaya.

 Belum terdapat tata cara pengelompokkan penyakit berdasarkan biaya.

 Belum terdapat cara perhitungan biaya pelayanan kesehatan

49 berdasarkanpengelompokan diagnosis.58

Pembayaran pra-upaya yang dilakukan PT Askes ialah sistem DRG, walaupun masihterbatas untuk hemodialisa, operasi jantung terbuka, dan transplantasi ginjal. Awalnya DRG merupakan sistem untuk membantu manajemen dalam mengukur danmengevaluasi kinerja rumah sakit. Tetapi karena kemajuan teknologi kedokteran danpeningkatan biaya pelayanan kesehatan maka untuk pengendalian biaya (cost containment)dipakai sistem DRG yang sangat berbeda dengan sistem sebelumnya. Dahulu fokus utamapelayanan RS pada final product RS yang merupakan kumpulan biaya alat kesehatan,obat,laboratorium, dan biaya yang diterima pasien dengan penyakit tertentu. Hal ini berbedadengan DRG yang biaya pelayanan itu hanya terbatas pada pelayanan yang diterima saja dantidak melihat jenis penyakitnya.

J. Malaprakik Kedokeran

Berbicara mengenai malapraktik atau malpractice berasal dari kata “mal”

yang berarti buruk. Sedang kata “parctice” berarti suatu tindakan atau praktik. Dengan demikian secara harfiah dapat diartikan sebagai suatu tindakan medik “buruk” yang dilakukan dokter dalam hubungannya dengan pasien.

Di Indonesia, istilah malapraktik yang sudah sangat dikenal oleh para tenaga kesehatan sebenarnya hanyalah merupakan suatu bentuk medical malpractice, yaitu medical negligence yang dalam bahasa Indonesia disebut

58 Ibid

50

kelalaian medik. Menurut Gonzales dalam bukunya Legal Medical Pathology and Toxicology menyebutkan bahwa malpractice is the term applied to the wrongful or improper practice of medicine, which result in injury to the patient.

Malapraktik menurut Azrul Azwar memiliki beberapa arti.59 Pertama, malapraktik adalah setiap kesalahan profesional yang diperbuat oleh dokter, oleh karena pada waktu melakukan pekerjaan profesionalnya, tidak memeriksa, tidak menilai, tidak berbuat atau meninggalkan hal-hal yang diperiksa, dinilai, diperbuat atau dilakukan oleh dokter pada umunya, di dalam situasi dan kondisi yang ssama. Kedua, mal-praktik adalah setiap kesalahan yang diperbuat oleh dokter, oleh karena melakukan pekerjaan kedokteran di bawah standar yang sebenarnya secara rata-rata dan masuk akal, dapat dilakukan oleh setiap dokter dalam situasi atau tempat yang sama. Ketiga, mal-praktik adalah setiap kesalahan profesional diperbuat oleh seorang dokter, yang di dalamnya termasuk kesalahan karena perbuatan-perbuatan yang tidak muncul akal serta kesalahan karena keterampilan atauapun kesetian yang kurang dalam menyelenggarakan kewajiban atau dan ataupun kepercayaan profesional yang dimilikinya.

Menurut Munir Fiady60, Malapraktik memiliki pengertian yaitu setiap tindakan medis yang dilakukan dokter atau orang-orang di bawah pengawasannya, atau penyedia jasa kesehatan yang dilakukan terhadap

59 Azrul Azwar, 2016, Kriteria Malpraktik dalam Profesi Kesehatan, Makalah Kongres Nasional IV PERHUKI, Surabaya.

60 Munir Fuady, 2015, Sumpah Hippocrates Aspek Hukum Malpraktik Dokter, Bandung: Citra Aditya Bakti, hal 2-3.

51

pasiennya jasa kesehatan yang dilakukan terhadap pasiennya, baik dalam hal diagnosis, terapeutik dan manajemen penyakit yang dilakukan secara melanggar hukum, kepatutan, kesusilaan dan prinsip-prinsip profesional baik dilakukan dengan sengaja atau kurang hati-hati yang menyebabkan salah tindak rasa sakit, luka, cacat, kerusakan tubuh, kematian dan kerugian lainnya yang menyebabkan dokter atau perawat harus bertanggung jawab baik secara administratif, perdata maupun pidana.

Hermien Hadiati Koeswadji yang mengutip pendapat John D. Blum mengatakan, bahwa medical malpractice adalah suatu bentuk professional negligence yang oleh pasien dapat dimintakan ganti rugi apabila terjadi luka atau cacat yang diakibatkan langsung oleh dokter dalam melaksanakan tindakan profesional yang dapat diukur.

Dalam sistem hukum Indonesia yang salah satu komponenya merupakan satu hukum substansi, diantaranya hukum positif yang berlaku tidak dikenal adanya istilah malapraktik, baik dalam undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan maupun dalam Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Memperhatikan Undang-Undang No 23 Tahun 1992 khususnya pasal 54 dan 55 disebut sebagai kesalahan atau kelalaian dokter. Sedangkan pada Undang-Undang No. 29 Tahun 2004, khususnya pada Pasal 84 dikatakan sebagai pelanggaran disiplin dokter.61

Pegangan pokok yang dipakai untuk menetapkan adanya malapraktik cukup jelas yakni adanya kesalahan profesional yang dilakukan oleh

61 Ibid., Azrul Azwar

52

seorang dokter pada waktu melakukan perawatan dan ada pihak lain yang dirugikan atas tindakan doketr tersebut. Kenyataanya ternyata tidak muidah untuk menetapkan kapan adanya kesalahan profesional tersebut. Menurut Azrul Azwar 62yang mengutip pendapat dari Benard Knight bahwa dalam praktik sehari-hari ada tiga kriteria untuk menentukan adanya kesalahan profesional. Pertama, adanya kewajiban dokter menyelenggarakan pelayanan kedokteran bagi pasiennya, titik tolak dari kemungkinan terjadinya kesalahan profesional yang menimbulkan kerugian bagi orang lain tersebut adanya kewajiban pada diri dokter melakukan tindakan medik atau pelayanan kedokteran bagi pasiennya, kewajiban yang dimaksud disini, yang tunduk pada hukum perjanjian. Kedua, adanya pelanggaran kewajiban terhadap pasiennya, sesuai dengan pengertian kewajiban sebagaimana dikemukakan di atas maka pelanggaran yang dimaksud disini hanyalah yang sesuai dengan kelima ciri kewajiban profesional seorang dokter, misalnya tidak melakukan kewajiban profesional seorang dokter sebagaimana yang lazimnya dilakukan oleh setiap dokter; telah terjadi kontra terapetik, tetapi dokter tidak melakukan kewajiban profesionalnya, sebagaimana yang lazim dilakukan oleh seorang dokter pada setiap pelayanan kesehatan; tidak meminta persetujuan pasien sebelum melakukan suatu tindakan medik dan atau pelayanan kedokteran. Ketiga, sebagai akibat pelanggaran kewajiban timbul kerugian terhadap pasien, kerugian yang dimaksud disini semata-mata terjadi karena adanya kesalahan profesional, bukan karena resiko suatu

62 Ibid., Azrul Azwar

53 tindakan medik.

K. Kesalahan dan Kelalaian

Pelayanan kesehatan (health care service) merupakan hak setiap orang yang dijamindalam Undang-Undang Dasar 1945 untuk melakukan upaya peningkatan derajat kesehatan baik perseorangan, maupun kelompok atau masyarakat secara keseluruhan.4Definisi Pelayanan kesehatan menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun2009 (Depkes RI) yang tertuang dalam Undang-Undang Kesehatan tentang kesehatanialah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatuorganisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah danmenyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan, perorangan, keluarga, kelompokataupun masyarakat.Berdasarkan Pasal 52 ayat (1) UU Kesehatan, pelayanan kesehatan secara umumterdiri dari dua bentuk pelayanan kesehatan yaitu:63

a. Pelayanan kesehatan perseorangan (UKP) b. Pelayanan Kesehatan Masyarakat (UKM)

UKP adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat danswasta untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah danmenyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan. UKP mencakupupaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.UKM adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat atau swastauntuk memelihara dan meningkatkan kesehatan

63 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

54

masyarakat serta mencegah danmenanggulangi masalah kesehatan yang timbul di masyarakat. UKM mencakup: upayakesehatan berupa promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakitmenular, kesehatan jiwa, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungandan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pengamanan sediaan farmasidan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat adiktif (bahan tambahan) makanan danminuman, pengamanan napza dan penanggulangan bencana serta bantuan kemanusiaanlainnya.

Prinsip-prinsip dalam upaya kesehatan yaitu:64 1. Berkesinambungan dan paripurna 2. Bermutu, aman dan sesuai kebutuhan 3. Adil dan merata

4. Non Diskriminatif 5. Terjangkau

6. Teknologi tepat guna

7. Bekerja dalam tim secara cepat dan tepat

Dasar Hukum Pelayanan Kesehatan, Kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia dan merupakan modal setiapwarga negara dan setiap bangsa dalam mencapai tujuannya dan mencapai kemakmuran.Seseorang tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya jika dia berada dalamkondisi tidak sehat. Sehingga kesehatan merupakan modal setiap individu untukmeneruskan kehidupannya secara layak. Pemerintah mempunyai tanggung jawab untukmenjamin setiap warga negara memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuaidengan kebutuhan.

64 Ibid

55

Sebagai suatu kebutuhan dasar, setiap individu bertanggung jawabuntuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan orang- orang yang menjadi tanggungjawabnya, sehingga pada dasarnya pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadapkesehatan adalah tanggung jawab setiap warganegara.

Meskipun upaya untuk memenuhikebutuhan bidang kesehatan melekat pada setiap warga negara, namun mengingatkarakteristik barang/jasa kesehatan tidak dapat diusahakan/diproduksi sendiri secara langsung oleh masing-masing warga negara, melainkan harus ada pihak lain yang secarakhusus memproduksi dan menyediakannya, maka penyediaan barang/jasa bidangkesehatan mutlak memerlukan keterlibatan pemerintah untuk:Menjamin tersedianya barang/jasa kesehatan yang dapat diperoleh warga negarayang memerlukan sesuai dengan kebutuhannya; Menyediakan barang/jasa kesehatan bagiwarga negara yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya di bidang kesehatan. Mengingat kebutuhan warga negara terhadap barang/jasa kesehatan sangat vital dandengan karakteristik barang/jasa kesehatan yang unik dan kompleks, maka perananpemerintah di bidang kesehatan harus di standarisasi agar warga negara dapat memenuhikebutuhannya di bidang kesehatan.

Sejak era reformasi urusan pemerintahan secara bertahap diserahkan dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (Pemda) dan halini sesuai dengan pasal 18 ayat (6) amandemen UUD 1945 yang menyatakan bahwapemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas- luasnya. Peraturan terakhir yangmengatur tentang pembagian urusan antara Pemerintah Pusat

56

dan Pemerintah Daerah adalah UU Nomor 23 Tahun 2014 yang merupakan pengganti UU Nomor 32 Tahun 2004.Pada UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kesehatan adalah satu dari enamurusan concurrent (bersama) yang bersifat wajib dan terkait dengan pelayanan dasar.

Kesalahan dan Kelalaian akan berdapak dapa akibat hukum yang dimaksud dengan akibat hukum segalah akibat yang terjadi dari segala perbuatan yang melawan hukum terhadap objek hukum ataupun akibat-akibat yang lain yang ditimbulkan objek hukum atau akibat-akibat-akibat-akibat yang lain yang disebabkan karena kejadian-kejadian tertentu oleg undang-undang yang bersangkutan sediri telaah ditentukan atau dianggap sebagai akibat hukum.65

Tindank pidana karena salahnya menyebabkan orang lain itu oleh undang-undang telah diatur dalam pasal 359 KHUP yang rumusannya sebagai berikut :

Barang siapa karena kesalahannya (lealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan palaing lama satu tahun .

Ini berkaitan dengan pasal 360 ayat (1) dan (2) dengan akibat yang berbeda. Ayat satu mengenai akibat luka berat, sedangkan ayat(2) luka sedemikian rupa. Nomor kelatur mahkama agung menggunakan karena kealpaannya mengakibatkan kematian atau/luka menurut SR sianturi (1983), kealpaan adalah sebenarnya kekurang hati-hatian atau lalai, kurang

65 Dr.H dudu duswara machmuhin, drs.,SH.,M.HUM,2013,pengantar ilmu hukum kalmia, hal 50

Dokumen terkait