Pasal 106.
(1). Apabila Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong berpendapat bahwa tentang surat2 masuk yang disampaikan kepadanya perlu diadakan pemeriksaan / pembahasan maka hal ini diserahkan kepada Panitia Khusus untuk diperiksa / dibahas kemudian laporannya yang memuat juga usul itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong.
(2). Laporan yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini harus selesai dalam waktu yang ditentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (3). Sesudah laporan itu selesai, kemudian diperbanyak dan dibagikan kepada
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong untuk dibicarakan dalam rapat Pleno.
B A B X.
TENTANG PENINJAU
PASAL 107.
(1). Peninjau pada rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong tidak diperkenankan turut memberi segala tanda setuju atau tidak setuju. (2). Ketua berusaha agar larangan tersebut dalam ayat (1) tidak dilanggar
supaya ketenteraman dan ketertiban terjamin.
(3). Apabila ketenteraman yang tersebut dalam ayat (2) dilanggar maka pelanggar atau para peninjau semuanya dapat diperintahkan oleh Ketua untuk meninggalkan tempat rapat.
(4). Ketua berhak untuk sementara maupun untuk seterusnya menolak adanya peninjau dalam rapat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong yang didalam kenyataannya tidak memperhatikan adat istiadat dan kesopanan umum.
(5). Untuk para peninjau disediakan tempat tersendiri.
B A B XI.
KETENTUAN PERALIHAN.
PASAL 108.
Hal -hal yang belum diatur dalam Peraturan Tata-Tertib ini diputuskan oleh Panitya Musyawarah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong sesuai dengan ketentuan didalam pasal 41 Peraturan Tata-Tertib yang kemudian dipertanggung jawabkan kepada Dewan.
B A B XII.
Pasal 109.
Peraturan ini dinamakan “Peraturan Daerah tentang Tata-Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong Kabupaten Badung.
Pasal 110.
Peraturan Daerah tentang Tata-Tertib ini mulai berlaku pada hari ditetapkan. Pasal 111.
Dengan berlakunya Peraturan Daerah tentang Tata-Tertib ini, maka Peraturan Tata-Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong Kabupaten Badung tanggal 21 Agustus 1968 No. 3/DPRD-GR/1968 dinyatakan tidak berlaku lagi.
Diundangkan di Denpasar pada tanggal 30 A p r i l 1971.
Sekretaris Daerah Propinsi Bali
t.t.d.
Drs. Sembah Subhakti. Mengetahui /Menyetujui :
Bupati Kepala Daerah Kabupaten Badung.
t.t.d.
( I Wajan Dhana )
Denpasar, 25 Agustus 1970. An.Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Gotong Royong Kabupaten Badung:
Ketua,
t.t.d
( I Nyoman Kaler Adnjana )
Peraturan Daerah ini disahkan oleh Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali dengan surat keputusan tanggal 13 April 1971 Nomor : 8/Des.II/3/2.
Sekretaris Daerah Propinsi Bali
t.t.d.
Drs. Sembah Subhakti.
P E N J E L A S A N U M U M
A. 1. Sebelum Peraturan Daerah tentang Tata - Tertib ini disusun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong Kabupaten Badung telah memiliki Tata - Tertib No. 3 / DPRD-GR / 1968 tanggal 21 Agustus 1968 yang disusun berdasarkan pasal 31 ayat 1 Undang - Undang No. 18 tahun 1965 dan instruksi - instruksi Menteri Dalam Negeri No. 33 tahun 1965; No. 13 tahun 1966; No. 3 tahun 1966 yang telah mendapat pengesahan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali tanggal 1 Oktober No. Des. II / 3 / 42.
Dengan adanya surat keputusan Menteri Dalam Negeri No. 47 tahun 1969 yang diperjelas dengan surat edaran Menteri Dalam Negeri No. Pemda 4 / 7 / 5 tanggal 23 September 1969 yang mengandung penegasan untuk dijadikan dasar penyusunan peraturan tata - tertib yang baru, maka peraturan tata - tertib No. 3 / DPRD-GR / 1968 tamggal 21 Agustus sudah tidak sesuai lagi.
Dengan demikian surat keputusan Menteri Dalam Negeri No. 47 tahun 1969 merupakan dasar untuk memperbaiki dan menyempurnakan tata - tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong Kabupaten Badung No. 3 / DPRD-GR / 1968 tanggal 21 Agustus 1968 yang didalamnya masih terdapat hal-hal yang belum diatur.
2. Berdasarkan kenyataan penduduk di Daerah Kabupaten Badung khususnya Daerah Bali umumnya mayoritas menganut Agama Hindu yang belum tercakup rumusan sumpahnya didalam surat keputusan Menteri Dalam Negeri No. 47/1969 maka didalam Peraturan Daerah tentang tata-tertib ini diatur pula.
3. Untuk tercapainya effisiensi dalam mewujudkan musyawarah mufakat maka dipandang perlu untuk membentuk freaksi2 yang anggota2nya minimum dua (2) orang tanpa mengihilangkan unsur kebebasan dari anggota2 untuk memasuki fraksi yang dikehendakinya. Dengan demikian berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka didapatlah susunan fraksi sebagai berikut :
1. Fraksi P.N.I. 2. Fraksi IP~KI. 3. Fraksi Murba. 4. Fraksi N.U.
5. Fraksi Partai Muslimin Indonesia. 6. Fraksi Parkindo.
7. Fraksi Katholik. 8. Fraksi Hankam.
10. Fraksi Karya Pembangunan Spirituil. 11. Fraksi Seniman.
12. Fraksi Hindu
13. Fraksi Kerohanian.
4. Dengan demikian didalam Peraturan Daerah tentang tata-tertib ini tidak mengandung hal2 yang saling merugikan dan bertentangan dengan surat keputusan Menteri Dalam Negeri No. 47/1969.
5. Untuk menjaga dan mengatur kehormatan hubungan antara Badan Legislatif dan Executif yang merupakan aparat Pemerintah Daerah serta pula agar menjadi landasan hukum yang sempurna maka tata tertib ini dijadikan Peraturan Daerah.
B. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL. Pasal 1 s/d pasal 64 : cukup jelas.
Pasal 65 ayat 2 : yang dimaksud dengan hal2 yang mendesak pada pasal
65 ayat ini adalah untuk memberi kemungkinan kepada Pimpinan untuk dapat mengacarakan hal2 yang memerlukan penyelesaian segera.
Pasal 65 ayat 3 : umur bulan Maret adalah 31 hari, tentang waktu satu
hari adalah untuk menyempurnaan administrasi guna mengahadapi persidangan tahun berikutnya.
Ayat 1, 4, dan 5 : cukup jelas. Pasal 66 : cukup jelas.
Pasal 67 : pasal ini dimaksudkan untuk memberi kemungkinan dalam
waktu yang kritis Dewan dapat melakukan tugasnya.
Pasal 68 s/d 73 : cukup jelas.
Pasal 74 : pasal ini untuk memberikan penegasan bahwa bahasa resmi
yang dipergunakan didalam Dewan ialah bahasa Indonesia dengan tidak menutup kemungkinan mempergunakan istilah2 dalam bahasa lain.
Pasal 75 s/d 90 : cukup jelas.
Yang dimaksud dengan kata2 “Ketua” dalam (paragrap) pasal2 ini adalah Ketua Sidang/rapat.
Pasal 91 s/d 103 : cukup jelas.
Pasal 104 : Yang dimaksud dengan “Dinas” adalah Dinas-dinas Daerah
Otonomi Kabupaten Badung.
Pasal 108 : pasal ini dimaksud juga untuk memberi kesempatan kepada
Dewan guna mengambil keputusan yang mengatur hal2 yang belum diatur dalm Peraturan Daerah tentang tata tertib ini.
Dalam hal ini kata2 dipertanggung jawabkan kepada Dewan
dalam pasal ini harus diartikan memerlukan persetujuan/pengesahan Dewan.
Pasal 109 s/d 111 : cukup jelas.
D A F T A R I S I
PERATURAN DAERAH TENTANG TATA TERTIB
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH GOTONG ROYONG KABUPATEN BADUNG
No. 16 / DPRD-GR / TANGGAL 25 AGUSTUS 1970 A T U R A N A T U R A N :
B A B I : KEDUDUKAN TUGAS DAN WEWENANG DEWAN