Bab III Hasil Survey dan FGD
A. Hasil Survey
Bab ini berisi analisis yang menyajikan statistik, bagan, chart dan hasil yang diberikan para stakeholders dari survey dan FGD.
V. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan bab yang yang merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan atas pelaksanaan UU 25/2004 menurut perpektif stakeholders dan saran dari permasalahan dan kendala yang dialami stakeholders.
BAB II
SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DAN
MASALAH PERENCANAAN
A. SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
Indonesia adalah negara yang unik. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 17.504 pulau2. Keunikan ini menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi. Di satu sisi hal ini dapat menjadi modal dan potensi namun disisi lainnya dapat menjadi hambatan dalam proses pembangunan. Untuk itu diperlukan suatu sistem perencanaan pembangunan yang
tepat untuk dapat mewadahi dan menampung semua
keanekaragaman yang ada untuk mencapai cita-cita bersama.
Pembukaan UUD 1945 berisikan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Cita-cita kemerdekaan itu menjadi pedoman dan tujuan dalam setiap pembangunan yang dilakukan. Dalam bernegara, rakyat telah menyerahkan kepercayaan kepada Pemerintah untuk
menjalankan roda pemerintahan dan mencapai cita-cita
kemerdekaan, oleh karenanya Pemerintah wajib bertanggung jawab membuat rumusan arah pembangunan agar berjalan secara efektif dan efisien.
Selama Periode Orde Baru, arah pembangunan nasional di tetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Atas dasar itu ditetapkanlah Pembangunan Jangka Panjang (PJP) I yang berlaku dari tahun 1969 – 1993 yang terdiri dari Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I sampai Repelita V. PJP II akan berlaku dari tahun 1994-2019 yang akan dijabarkan dalam Repelita VI sampai Repelita X3.
Seiring dengan bangkitnya semangat demokrasi dan reformasi di segala sektor, selama tahun 1999-2002 UUD 1945 mengalami 4 (empat) kali amandemen. Berlakunya amandemen menyebabkan beberapa perubahan dalam pengelolaan pembangunan, antara lain :
1. penguatan kedudukan legislatif dalam penyusunan APBN; 2. ditiadakannya GBHN; dan
2 “Statistik Indonesia 2012”, Badan Pusat Statistik, 2012, hal.9
3 Mustopadidjaja AR, “Bappenas, Dalam Sejarah Perencanaan Pembangunan Indonesia 1945-2025”, LP3ES, Jakarta,2012, hal.483
3. diperkuatnya Otonomi Daerah dan Desentralisasi.4
Otonomi daerah yang menguat kala itu dipayungi oleh Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang ini memberikan wewenang yang lebih besar kepada Pemerintah Daerah. Hal tersebut berpotensi meningkatkan egoisme daerah. Oleh karenanya, perlu disusun dan dirumuskan kembali suatu kebijakan yang dapat memberikan panduan dalam sistem perencanaan pembangunan yang terintegrasi yang tidak pula mengurangi kewenangan Pemerintah Daerah namun juga dapat menjamin keterkaitan pembangunan antar daerah dan keselarasan antara pemerintah pusat dan daerah.
Pada Oktober 2004 disahkan UU 25/2004. Undang-undang ini menetapkan suatu sistem perencanaan pembangunan nasional yang merupakan suatu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan nasional untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh segenap unsur pemerintahan baik yang berada di pusat maupun di daerah dengan melibatkan masyarakat.
Dengan adanya undang-undang ini diharapkan terjadi koordinasi antara pelaku pembangunan dan tercipta pula suatu integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antardaerah, antarruang, antarwaktu serta antarfungsi pemerintahan baik pusat maupun daerah. Untuk kedepannya, UU 25/2004 diharapkan dapat menjamin konsistensi dan pengoptimalan antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan dalam proses perencanaan.
4
Gambar 2. Skema Perencanaan dan Penganggaran di Pusat dan
Daerah
Dalam UU SPPN, perencanaan pembangunan nasional terdiri atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga (K/L) dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.
Perencanaan Pembangunan Nasional akan menghasilkan
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Pembangunan Tahunan (RKP).
RPJP Nasional (RPJPN) merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia. RPJM Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program presiden yang penyusunannya wajib berpedoman pada RPJPN. RKP merupakan penjabaran dari RPJMN yang memuat prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, serta progam K/L, lintas K/L, kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJM Daerah RPJP Daerah RKP RPJM Nasional RPJP Nasional RKP Daerah Renstra KL Renja - KL Renstra SKPD Renja - SKPD RAPBN RAPBD RKA-KL RKA - SKPD APBN Rincian APBN APBD Rincian APBD Diacu Pedoman Dijabar kan Pedoman Pedoman Pedoman Pedoman Pedoman Diperhatikan Dijabarkan Pedoman Pedoman Pedoman Pedoman Diacu Diacu
Diserasikan melalui Musrenbang
UU SPPN UU SPPN Pemerintah Daerah UU KeuNeg Pusat
Untuk proses perencanaan di K/L, masing-masing K/L menyusun Rencana Strategis K/L (Renstra K/L) yang isinya memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi K/L yang berpedoman pada RPJMN dan bersifat indikatif.
Rencana Kerja K/L (Renja K/L) merupakan dokumen tahunan yang disusun dengan berpedoman pada Renstra K/L dan mengacu pada prioritas pembangunan nasional dan pagu indikatif, serta memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Untuk proses perencanaan di daerah, RPJP Daerah (RPJPD) memuat visi, misi dan arah pembangunan daerah yang mengacu pada RPJPN. RPJM Daerah (RPJMD) merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJPD dan memperhatikan RPJPM. RKPD merupakan penjabaran dari RPJMD dan mengacu kepada RKP.
Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) merupakan dokumen 5 tahunan yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD serta berpedoman pada RPJMD dan bersifat indikatif.
Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD) merupakan dokumen tahunan yang disusun berpedoman kepada Renstra SKPD dan mengacu kepada RKPD, memuat berbagai kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
B. MASALAH DALAM PERENCANAAN
Sembilan tahun sejak ditetapkannya UU 25/2004, ternyata masih terdapat banyak permasalahan. Undang-undang yang diharapkan dapat menjadi pedoman dalam penyusunan perencanaan di tingkat pusat dan daerah ternyata masih menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang antara lain dapat kita bagi dari
sisi terpisahnya proses perencanaan dan penganggaran,
permasalahan proses perencanaan di antar kementerian/lembaga dan permasalahan proses perencanaan di pusat dan di daerah.
1. Permasalahan dari segi perencanaan dan penganggaran
Permasalahan utama dalam perencanaan adalah terpisahnya
antara perencanaan dan penganggaran. Dalam Pasal 8 poin a, b, c Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (UU 17/2003) menyatakan bahwa dalam rangka pelaksanaan kekuasaan atas pengelolaan fiskal, Menteri Keuangan mempunyai tugas untuk menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro, menyusun rancangan APBN dan rancangan Perubahan APBN dan mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran.
Pasal 12 ayat (2) UU 17/2003 menyebutkan bahwa Penyusunan Rancangan APBN yang disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara, berpedoman kepada RKP dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara. Dalam Penjelasan UU 17/2003, fungsi perencanaan cenderung dihilangkan. Setahun kemudian, UU 25/2004 berupaya mendorong fungsi perencanaan. Dari sini terlihat bahwa undang-undang perencanaan dan penganggaran yang ditetapkan terpisah dan saling mengisolasi (Jón R. Blöndal, Ian Hawkesworth and Hyun-Deok Choi, “Budgeting in Indonesia”, OECD 2009)5.
Gambar 3. Skema penyusunan APBN
5
Bahan Paparan Dr. Yulius, MA-Kepala Sub Direktorat Perencanaan Ekonomi Makro, Bappenas yang disampaikan dalam acara FGD Perspektif Stakeholders Terhadap UU 25/2004 di Semarang pada tanggal 16 Mei 2013. J A N F E B M A R T A P R L M E I J U N I J U L I A G T S S E P T O K T N O V D E S PRESIDENMENETAPKAN ARAH KEBIJAKAN & PRIORITASPEMBANGUNAN NASIONAL PENYAMPAIAN PAGU INDIKATIF DAN RANCANGAN AWAL RKP PENYAMPAIAN PAGU ANGGARAN K/L PENYAMPAIAN NOTA KEUANGAN, RANCANGAN APBN, DAN
RUU APBN PENETAPAN ALOKASI ANGGARAN K/L OLEH PRESIDEN PENYUSUNAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PERKIRAAN KAPASITAS FISKAL Th X + FE 3 th MUSRENBANG PERPRES RKP PENYELESAIAN PENELAAHAN RKA-K/L PENYELESAIAN PEMBAHASAN RANCANGAN APBN DAN RUU
APBN PENGESAHAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN OLEH MENKEU J A N F E B M A R T A P R L M E I J U N I J U L I A G T S S E P T O K T N O V D E S Bappenas Kemenkeu UU KN UU SPPN
Dari skema proses penyusunan APBN di atas, sejak Januari sampai Mei, proses perencanaan dan penganggaran berjalan beriringan. Pada bulan Januari presiden menetapkan arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional. Pada bulan Februari dilanjutkan dengan penyusunan kerangka ekonomi makro dan perkiraan kapasitas fiskal. Pada bulan Maret dilakukan proses penyampaian pagu indikatif dan rancangan awal RKP. Bulan April dilakukan musrenbangnas dan pada bulan Mei ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Mulai bulan Juni sampai dengan Desember, semua proses berdasarkan ketentuan dalam UU 17/2003 dan tidak melibatkan proses perencanaan.
Ketiadaan peran perencanaan selama proses bulan Juni – Desember, menimbulkan dua deviasi besar antara apa yang direncanakan dan dianggarkan. Yang pertama terjadi dalam internal pemerintah, ketika sebelum terbentuknya RAPBN, terdapat deviasi dari Renja K/L kedalam RKA K/L. Deviasi kedua melibatkan peran DPR pada saat proses penyusunan RAPBN menjadi APBN. Deviasi yang ditimbulkan antara lain bentuk perubahan kegiatan, pagu kegiatan, lokasi kegiatan dan indikator/sasaran kegiatan6.
Dapat kami informasikan bahwa pada Tahun Anggaran 2012, telah terjadi deviasi dalam perencanaan (Dokumen RKP 2012) dan penganggaran (Dokumen RKA K/L) sebesar 29.4%7, artinya banyak indikator kinerja prioritas RKP 2012 yang tidak terpetakan dalam RKA K/L tahun 2012 tersebut. Selain itu, dari 14 prioritas pembangunan yang tertulis dalam RKP 2012, terdapat 5 prioritas pembangunan yang mengalami deviasi hampir 40%. Dapat kita lihat dalam tabel dibawah ini:
Tabel 1
Pemetaan Indikator Kinerja Prioritas RKP 2012
NO Prioritas dalam RKP 2012 (Buku 1) Jumlah Program Jumlah Kegiatan Jumlah Indikator Kinerja Terpetakan % Jumlah Tidak Terpetak an % Langsung Tidak Langsung Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Prioritas Reformasi
Birokrasi dan Tatakelola 17 52 144 55 32 87 60,4 57 39,6
2 Prioritas Pendidikan 7 22 71 26 37 63 88,7 8 11,3 3 Prioritas Kesehatan 9 25 66 18 17 35 53,0 31 47,0 4 Prioritas Penanggulangan Kemiskinan 28 60 153 91 27 118 77,1 35 22,9
6Tim Sinergitas Bappenas, “Sinergi Perencanaan dan Penganggaran”, Jakarta, 2013.
7 Bahan Paparan Staf Ahli Hubungan Kelembagaan dalam acara FGD Perspektif Stakeholders Terhadap UU 25/2004 di Semarang pada tanggal 16 Mei 2013.
5 Prioritas Ketahanan
Pangan 27 80 322 227 22 249 77,3 73 22,7
6 Prioritas Infrastruktur
16 40 169 51 51 102 60,4 67 39,6
7 Prioritas Iklim Investasi
dan Iklim Usaha 15 35 117 72 16 88 75,2 29 24,8
8 Prioritas Energi
13 27 80 41 16 57 71,3 23 28,8
9 Prioritas Lingkungan Hidup
dan Pengelolaan Bencana 12 43 134 84 22 106 79,1 28 20,9
10 Prioritas Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar dan Pasca Konflik
25 64 219 121 12 133 60,7 86 39,3
11 Prioritas Kebudayaan, Kreatifitas dan Inovasi Teknologi
7 19 41 24 2 26 63,4 15 36,6
12 Prioritas Lainnya Bidang
Perekonomian 23 34 84 45 13 58 69,0 26 31,0
13 Prioritas Lainnya Bidang
Kesejahteraan Rakyat 12 17 53 19 13 32 60,4 21 39,6
14 Prioritas Lainnya Bidang Politik, Hukum dan Keamanan
10 36 62 49 7 56 90,3 6 9,7
TOTAL 221 554 1715 923 287 1210 70.6 505 29.4
Catatan :
- Terpetakan langsung : terkait langsung antara indikator kegiatan yang ada di RKP dengan output kegiatan yang ada di RKA K/L, baik secara nomenklatur, maupun target/volume kegiatan.
- Tidak Terpetakan Tidak Langsung : indikator kinerja yang tidak terkait langsung secara nomenklatur tetapi secara subtansi terkait dengan output kegiatan yang ada di dokumen RKA K/L.
- Tidak terpetakan : Indikator kinerja yang ada dalam RKP tidak terkait sama sekali/tidak dapat/sulit diterjemahkan dengan output kegiatan yang ada dalam RKA K/L, baik nomenklatur maupun subtansi.
Selain banyak indikator kinerja prioritas RKP 2012 yang tidak terpetakan dalam RKA K/L tahun 2012, adanya kewenangan penggunaan anggaran yang besar kepada K/L (let the manager manage) menyebabkan porsi belanja untuk internal K/L (belanja pegawai dan belanja barang) lebih besar dibandingkan dengan porsi belanja modal. Dapat dilihat dari tahun 2005 sampai 2012, tren menunjukkan alokasi belanja barang di K/L yang cukup tinggi dibandingkan alokasi untuk belanja modal atau untuk kepentingan publik.
Gambar 4. Proporsi Alokasi Belanja K/L
Dalam hal Dana Alokasi Khusus (DAK) juga terdapat ketidaksinkronan pada penggunaannya. Dalam buku II RKP 2012 disebutkan bahwa sasaran umum pembangunan infrastruktur berfokus pada wilayah Indonesia bagian timur. Namun dalam pengalokasian DAK yang seharusnya menjadi pendukung pencapaian prioritas nasional, alokasi DAK untuk infrastruktur jalan dan air minum di wilayah timur Indonesia hanya sekitar 30-40%. Penentuan daerah penerima dan besar DAK per-daerah dilakukan pada siklus penganggaran, yakni saat dokumen perencanaan (RKP) telah ditetapkan. Dalam gambar di bawah ini dapat dilihat proporsi alokasi DAK Infrastruktur air dan infrastruktur jalan di tahun 2012.
Gambar 5. Proporsi Alokasi DAK Infrastruktur Air Minum di Tahun 2012
Gambar 6. Proporsi Alokasi DAK Infrastruktur Jalan di
Tahun 2012
2. Permasalahan perencanaan di Kementerian/Lembaga
Permasalahan yang dihadapi K/L dalam proses penyusunan perencanaan pembangunan antara lain disebabkan oleh peraturan pelaksana dari UU 25/2004 yang kurang jelas. Turunan UU 25/2004 adalah Peraturan Pemerintah Nomor 39/2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan dan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Rencana Penyusunan Pembangunan Nasional. Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang terjadi dalam proses perencanaan di Kementerian/Lembaga:
a. Dalam forum Musrenbangnas, dengan terbatasnya waktu, kemungkinan yang bisa disinkronkan adalah rencana kerja yang levelnya di bawah RKP/RKPD yaitu Renja Kementerian/Lembaga dengan Renja SKPD walaupun hal ini juga mengalami kendala. Praktek dalam pelaksanaan Musrenbang yang sering dialami oleh Kementerian/Lembaga adalah, materi yang dibahas bukan mengenai RKP dan RKPD namun cenderung kepada kegiatan dekonsentrasi/tugas pembantuan yang dirancang K/L yang disandingkan dengan kegiatan dekonsentrasi/tugas pembantuan yang diusulkan oleh daerah.
b. Permasalahan selanjutnya adalah tidak semua kegiatan prioritas nasional K/L masuk ke dalam daftar persandingan (long list) dan hanya masuk dalam short list. Seleksi short list dari long list hanya berdasar kegiatan prioritas nasional K/L yang mendapatkan alokasi anggaran besar saja yang masuk short list. c. Permasalahan lainnya yang dihadapi oleh K/L adalah kualitas
Renja K/L yang dihasilkan tidak maksimal. Kualitas penyusunan Renja K/L dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: terbatasnya waktu dalam penyusunan Renja K/L, aplikasi Renja K/L yang berubah setiap tahun serta keterbatasan waktu sejak masuknya Renja K/L ke Bappenas ke penyelenggaraan Musrenbangnas padahal materi yang disiapkan Bappenas bersumber dari Renja K/L yang kualitasnya kurang baik.
Beberapa usulan mengenai perencanaan pembangunan untuk kedepannya seharusnya lebih difokuskan pada pendekatan kewilayahan. Diharapkan melalui pendekatan kewilayahan, ego sektoral cenderung berkurang dan memberikan peluang lebih besar dalam proses ‘bottom up planning’.
3. Permasalahan perencanaan di pusat dan di daerah
Permasalahan juga ditemukan dalam sinkronisasi antara perencanaan pembangunan di pusat dan di daerah. Banyak ketidakselarasan siklus perencanaan pembangunan antara pusat dan daerah yang menyulitkan tercapainya sinergi pembangunan lintas sektor, antarruang, antarwaktu, maupun antara pusat dan daerah.
Salah satu permasalahan antarwilayah adalah ketimpangan alokasi sumber daya antarwilayah. Dapat kita lihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 2. Alokasi Sumberdaya Antarwilayah Wilayah Dana Dekon + TP Dana Perimbangan Investasi PMA Investasi
PMDN Kredit Perbankan Kecil Menengah Kredit Mikro Rata-rata 2005-2009 (rp. Juta) Share (%) Rata-rata 2005-2009 (rp. Juta) Share (%) Rata-rata 2005-2008 (us $ juta) Share (%) Rata-rata 2005-2008 (rp. Miliar) Share (%) Rata-rata 2007-2009 (rp. Miliar) Share (%) Rata-rata 2007-2009 (rp. Miliar) Share (%) SUMATERA 37.213 15,65 62.138 27,65 1.133 11,29 8.400 31,52 193.749 15,44 117.393 18,79 JAWA-BALI 157.630 66,31 78.519 34,94 8.516 84,91 14.729 55,26 913.352 72,78 408.768 65,43 KALIMANTAN 11.721 4,93 30.487 13,57 283 2,82 1.916 7,19 67.483 5,38 33.704 5,40 SULAWESI 15.950 6,71 23.811 10,60 76 0,76 1.402 5,26 56.483 4,50 43.281 6,93 NUSA TENGGARA 5.995 2,52 9.965 4,43 8 0,08 21 0,08 12.436 0,99 11.971 1,92 MALUKU 4.278 1,80 5.889 2,62 7 0,07 0,3 0,00 4.006 0,32 3.523 0,56 PAPUA 4.942 2,08 13.890 6,18 5 0,05 185 0,70 7.442 0,59 6.068 0,97 TOTAL 237.729 100,00 224.698 100,00 10.030 100,00 26.654 100 1.254.951 100 624.708 100,00 Sumber : bahan Paparan Bahan Paparan Staf Ahli Hubungan Kelembagaan dalam acara FGD Perspektif Stakeholders Terhadap UU 25/2004 di Semarang pada tanggal 16 Mei 2013 yang diolah dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia dan BKPM.
Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa sumber daya antar wilayah yang meliputi Dana Dekonsentrasi Tugas Pembantuan, Dana Perimbangan, Investasi PMA dan PMDN, Kredit Perbankan dan Kredit Mikro Kecil Menengah masih sebagian besar terpusat di pulau Jawa-Bali.
Selain itu, permasalahan sinergi antara pusat dan daerah ini dapat dibagi ke dalam 3 permasalahan utama yaitu :
Tabel 3. Permasalahan Utama Sinergi Pusat dan Daerah
NO Kategori Permasalahan Faktor Penyebab Masalah
1 Perencanaan dan
Penganggaran
1. adanya kegiatan dari K/L yang dibiayai APBN dan kegiatan SKPD yang dibiayai APBN belum sesuai;
2. nomenklatur dan kodifikasi kegiatan K/L (APBN) dan SKPD (APBD) belum seragam.
2 Pengendalian dan Evaluasi belum adanya keterpaduan dalam pengendalian dan evaluasi antara
K/L dan SKPD sehingga terjadi duplikasi pengawasan dan keterlambatan laporan pelaksanaan.
2 Penataan regulasi 1. belum semua provinsi, kabupaten/kota memiliki Perda RTRW;
2. peraturan perundang-undangan antarsektor terkait penataan ruang yang kurang sinkron;
3. belum terjadi sinergi kebijakan pusat dan daerah dalam upata meningkatkan investasi sektor rill baik PMA maupun PMDN.
Sumber : Bahan Paparan Bapak Staf Ahli Hubungan Kelembagaan dalam acara FGD Perspektif Stakeholders Terhadap UU 25/2004 di Semarang pada tanggal 16 Mei 2013
Disamping permasalahan di atas, dualisme antara UU 25/2004 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (UU 32/2004) juga menimbulkan polemik tersendiri dalam pelaksanaannya di daerah. Dualisme ini menyulitkan daerah dalam menentukan sikap apakah akan mengacu pada UU 25/2004 ataukah UU 32/2004.
Dualisme ini seperti sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis bahwa untuk proses perencanaan di K/L menggunakan UU 25/2004 sedangkan untuk di daerah menggunakan UU 32/2004. Dalam tabel berikut ini akan kita lihat sedikit komparasi antara UU 25/2004 dan UU 32/2004.
Tabel 4. Komparasi pengaturan perencanaan di daerah berdasarkan UU 25/2004 dan UU 17/2003
NO MATERI UU NO 25/2004 UU NO 32/2004
1. pengaturan Di seluruh pasal-pasalnya Pasal 150 – Pasal 154
2. RPJPD Memuat visi, misi dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional (Pasal 5 ayat 1). Musrenbang RPJPD dilaksanakan paling lambat 1
(satu) tahun sebelum berakhirnya periode RPJP yang sedang berjalan (Pasal 11 ayat 4).
RPJPD ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 13 ayat 2).
Memuatvisi, misi dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional (Pasal 150 ayat 1).
Ditetapkan dengan Perda berpedoman pada PP (Pasal 150, Ayat 3, huruf e)
3 RPJMD Merupakan penjabaran visi, misi dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP Daerah dengan memperhatikan RPJM Nasional (Pasal 5 ayat 2).
Memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (Pasal 5 ayat 2).
Musrenbang RPJMD dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan setelah Kepala Daerah dilantik (Pasal 17 ayat 2).
RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik (Pasal 19 ayat 3).
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah selanjutnya disebut RPJMD untuk jangka waktu 5 tahun, merupakan penjabaran visi, misi dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP Daerah dengan memperhatikan RPJM Nasional (Pasal 150 ayat 3b)
Ditetapkan dengan Perda berpedoman pada PP (Pasal 150, Ayat 3, huruf e)
4 Renstra SKPD Renstra-SKPD memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 1).
Renstra-SKPD ditetapkan dengan peraturan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah setelah disesuaikan dengan RPJM Daerah (Pasal 19 ayat 4).
Satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana strategis yang selanjutnya Renstra-SKPD memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya, berpedoman kepada RPJMN Daerah dan bersifat indikatif (Pasal 151 ayat 1)
Renstra SKPD dirumuskan dalam bentuk Renja SKPD yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerh maupun yang ditempug dengan mendiring partisip[asi masyarakat ( Pasal 151 ayat 2)
5 RKPD • Merupakan penjabarandari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP (Pasal 5 ayat 3).
• Memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah, prioritas pembangunan Daerah, rencanakerja, dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat (Pasal 5 ayat 3). • Musrenbang RKPD dilaksanakan paling lambat
BulanMaret (Pasal 23).
• RKPD menjadi pedoman penyusunan RAPBD (Pasal 25) • RKPD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah
(Pasal 26).
Rencana Kerja Pembangunan Daerah, selanjutnya disebut RKPD merupakan penjabaran dari RPJMD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah, prioritas pembangunan Daerah, rencana kerja dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat dengan mengacu Rencana Kerja Pemerintah (Pasal150ayat 3d).
6 Renja SKPD • Renja-SKPD disusun dengan berpedoman kepada Renstra SKPD dan mengacu kepada RKP (Pasal 7 ayat 2).
• Memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat (Pasal 7 ayat 2). • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan
Renja-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan mengacu kepada rancangan awal RKPD (Pasal 21 ayat 3).
7 Turunan a. PP Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.
b. PP Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional.
a. PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
b. PermendagriNomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
c. Permendagri yang dikeluarkan setiap tahun, terakhir Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014.
Dari tabel diatas dapat dilihat perbedaan dalam penetapan RPJMD. Berdasarkan UU 25/2004, RPJMD ditetapkan dengan Perkada paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. Sedangkan dalam UU 32/2004 jo UU No 8/2008, RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Daerah paling lambat 6 (enam) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. Selain itu, turunan dari UU 25/2004 lebih fokus kepada pengaturan di tingkat pusat8, dan kurang dilengkapi dengan Peraturan Menteri yang mengatur secara eksternal. Sedangkan UU 32/2004 berserta turunannya yang bersifat lebih aplikatif terhadap penyusunan proses perencanaan pembangunan di daerah.
8
Bahan paparan Kepala Bapeda Provinsi Jawa Tengah yang disampaikan dalam acara FGD Perspektif Stakeholders Terhadap UU 25/2004 di Semarang pada tanggal 16 Mei 2013
BAB III
HASIL SURVEY DAN FGD
Untuk mendapatkan gambaran perspektif stakeholders terhadap pelaksanaan UU 25/2004 maka telah dilakukan pengisian kuesioner oleh responden. Dengan teknik sampling maka terpilih 9 (sembilan) Bappeda Kabupaten/Kota, 3 (tiga) Bappeda Provinsi, dan 9 (sembilan) Kementerian/Lembaga. Untuk memperkaya dan mengetahui lebih jauh perspektif stakeholders, maka dilakukan FGD yang dilaksanakan di 3 Kota, yaitu Semarang, Jakarta, dan Medan. Hasil survey dan FGD