Pengelompokan bentuk Rumah Adat Jompa
C. Pembahasan
3. Susunan Bentuk dan Pola Bangunan Adat Uma Jompa
bangunan ini berdiri, yang berfungsi untuk melindungi panasnya, matahari, hujan dan lain-lain selain itu yang lebih menarik adalah terdapat O,O atau bambu yang berwarna kuning untuk sirkulasi angin dan penanda bambu yang disilangkan pada tiap ujung atap sebagai simbol keagungan bangunana Adat Uma Jompa Desa Ndano Na’e lihat pada gambar 1.
atau kepala Suku nggusu upa merupakan falsafah kehidupan yang mengandung nilai-nilai luhur yang bentuk secara turun temurun dijadikan pedoman oleh seluruh Masyarakat Desa Ndano Na’e Dan Umumnya Masyarakat Bima. nilai luhur yang bersumber pada empat sudut tipekal atau nggusu upa.
a. Malu dan takut‟‟ (Maja labo dahu).
b. Orang yang berkelahi dari barat mennghindar ketimur‟‟ (Ncaosi dou tada rai la dipu).
c. Sabar dan baik hati‟‟ (Lembo ade ro saba).
d. Makan jangan menghabiskan yang ada tapi makan dan jadikan sesuatu yang bermanfa,at‟‟ (Ngaha aina ngoho). Ifrit S.sos, Wawancara 29-november 2014
Berdasarkan sejarah dan pedoman falsafah di atas ketika pemimpin memiliki tipekal yang baik maka bangunan baik rumah, Mesjid maupun bangunan yang lainya. yang memiliki bentuk dan tata letak ruangan yang baik agar terlihat indah dan megah, sehingga dari empat falsafah tersebut merupakan perpaduan yang tidak dapat dipisahkan dengan yang lainya. yang mana pada saat itu kepala suku dan masyarakat melaksnakan falsafah secara utuh dan konsekwen.
Kajian bentuk yang dimaksud di sini adalah bentuk yang dituangkan dalam bentuk pembuatan rumah adat uma jompa di Desa Ndano Na’e Kecamatan Donggo Kabupaten Bima baik bentuk dasar. yang terdapat pada rumah adat Uma Jompa yang dilihat menjadi perbandingan Rumah Adat di Daerah lainya.
a. Identifikasi Bentuk Rumah Adat uma jompa
Hasil yang didapat pada Rumah adat uma jompa Desa Ndano Na’e Kecamatan Donggo Kabupaten Bima ada enam macam bentuk adapun bentuk rumah adat Uma Jompa terbagi atas beberapa bagian yaitu di antaranya:
yaitu bentuk atap, bilik, dinding, lantai, tangga dan tiang bentuk yang di terapkan Desa Ndano Na’e Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Bentuk ialah satu titik temu antara ruang dan masa. Bentuk juga merupakan penjabaran geometris dari bagian smesta bidang yang ditempati oleh objek tersebut, yaitu di tentukan oleh batas-batas terluarnya namun tidak tergantung pada lokasi (koordinat) dan orentasi atu (rotasi) terhadap bidang smesta yang di tempati. Bentuk objek juga tidak tergantung pada sifat-sifat spesifik seperti: Warna, isi, dan bahan.
b. Makna Simbolik
Sebenarnya tidak ada falsafah khusus dan formal untuk mendirikan rumah tradisinal ataupun bangunan adat Uma Jompa. yang berlaku bahwa orang yang akan mendirikan bangunan itu pembicara,an dengan tukang kayu (panggita) yang kadang-kadang juga adalah dukun (sando) keagungan seorang penguasa pada masa pemerintahan diukur oleh kualitas seni serta kemegahan bangunan-bangunan kepala suku khususnya bangunan-bangunan kepala suku (uma jompa) dalam suatu perkampungan suku Desa Ndano Na’e, terdapat berbagai jenis rumah adat Uma Jompa Desa Ndano Na’e umumnya Kabupaten Bima yang mencerminkan status sosial maupun status ekonomi sang pemilik rumah sambil mempertimbangkan segala sesuatunya, termasuk waktu yang baik, waktu yang baik ini mempunyai pengertian bahwa pada waktu mendirikan rumah atau bangunan tidak akan
bertetapan dengan kesibukan orang bekerja di sawah dan lain-lain yang semuanya akan menghalangi diadakanya kerja gotong royong. Aspek filosofi dalam pembangunan rumah tradisional, bangunan Desa Ndano Na’e adalah berdasarkan musyawarah dan falsafah secara turun temurun oleh nenek moyang baik itu tukang (penggita) kadang-kadang dukun (sando) merupakan sistim pemerintahan yang berlaku pada masa keraja,an/kepala suku. berikut bangunan dan denah bangunan adat Uma Jompa Desa Ndano Na’e (Bima).
bentuk bangunan memiliki makna simbolis seperti bentuk bangunan yang menyerupai bentuk segi tiga atau piramida sebagai lambang merupakan bentuk atap bangunana adat Uma Jompa adalah bentuk segi empat kerucut yang berukuran 2,5 meter bentuk atap tersebut menggunakan bahan kayu, Seng dan alang-alang. material ini sudah digunakan sejak awal bangunan ini berdiri, yang berfungsi untuk melindungi panasnya, matahari, hujan dan lain-lain memilki makna bahwa atap tersebut dibuat untuk menghindarkan dari kerusakan bahan makanan yang ada dalam bangunan adat uma jompa dari kelaparan selain itu yang lebih menarik adalah terdapat O,O atau bambu yang berwarna kuning untuk sikulasi angin dan penanda bambu yang di silangkan pada tiap ujung atap sebagai simbol keagungan.
Bentuk bilik atau ruangan bangunan adat Uma Uompa adalah bentuk kotak atau segi empat sengaja dibuat agar padi tidak ditempatkan serumah dengan rumah tempat tinggal yang memilki makna untuk menghindari dari penyakit gatal, kebakaran dan banjir. ruangan ini terbuat dari bahan kayu hutan yang berfungsi
sebagai tempat untuk menyimpan padi hasil panen setahun serta benda-benda keperluan lainya.
Bentuk dinding bangunan adat Uma Jompa adalah Bentuk kotak atau segi empat memiliki ukuran 2 meter yang terbuat dari padin atau bingkai serta papan kayu berdiri dengan cara pasangnya juga berdiri yang memiliki simbol agar tidak bertentangan dengan alam serta berfungsi sebagai tempan yang menutup seluru bagian ruangan uma jompa sekaligus tempat penahan udara, debu dan lainya.
Yang memiliki makna bahwa Dinding tersebut dibuat untuk mencegah dari efek penyakit yang ada di luar bangunan adat uma jompa.
Bentuk lantai bangunan adat Uma Jompa adalah bentuk segi empat geometris yang memiliki ukuran 1,5 meter lantai tersebut menggunakan bahan kayu mulai dari bagian lantai hingga langit-langit ruangan dan dihiasi kayu-kayu balok yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan karya seni kerajinan menenun yang dilakukan oleh kaum wanita fungsi religiusnya adalah dijadikan sebagai tempat penerimaan tamu sekaligus tempat untuk melaksanakan acara safari atau acara mengingat leluhur sebelum memulai tanam tanaman.
Bentuk tangga bangunan adat uma jompa adalah bentuk tangga yang lurus yang merupakan tangga bongkar pasang yang terbuat dari bahan bambu dan kayu hutan atau haju luhu yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat bahwa kayu tersebut memiliki ketahanan sampai ratusan tahun. tangga yang lurus ini memiliki fungsi sebagai benda untuk naik turun bangunan adat uma jompa bentuk tangga ini memiliki ukuran setinggi 3 meter dan anak tangga ini anak tangga ganjil dibuat sesuai dengan jadwal waktu solat yang memiliki makna bahwa anak
tangga dibuat dengan angka ganjil itu supaya orang yang naik turun bangunan tersebut terhindar dari kecelakaan sebab kalau anak tangga dibuat dengan anak tangga genap itu menyebabkan orang yang naik turu pada bangunan adat uma jompa mudah jatuh.
Bentuk tiang uma jompa adalah bentuk balok segi empat yang terbuat dari bahan kayu yang sama yaitu kayu besi atau kayu hutan tiang tersebut memiliki simbol empat penjuru angin serta berfungsi sebagai pola dasar untuk membentuk semua susunan komponen-komponen yang terdapat pada bangunan uma jompa.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bagian ini penulis akan mengemukakan mengenai kesimpulan serta saran-saran yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan.