• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUSUNAN PANITIA PASKAH 2018 WILAYAH SANTO DOMINIKUS

Dalam dokumen MeRasul Edisi 25 (Mar – Apr 2018) (Halaman 145-150)

Pelindung : RD F.X Suherman • RD Paulus Dwi Hardianto

Penasehat : Dewan Paroki St. Thomas Rasul DPH Pendamping : Ridwan Darmali

Ketua Umum : Ratna Widjaja Wakil Ketua Umum : Johanes Sudewo

Sekretaris : Ine Hardjosutirto Bendahara I : Ambar Budikartono Bendahara II : Shierly Serijanti Koordinator Bidang I : L I T U R G I

Ketua Bidang : Santosa Adikarta Koordinator : Haryadi Adhitjan

A n g g o t a : Ami Anggriani • Andy Sidharta • Cyrilla Adikarta • Edhi Moeljono • Fenny S • Fransisca Nurwati • Hadi Buntoro • Harold Adhitjan • Hendrawan Santoso • Inneke Indrawati • Johannes • Julie Suwanda • Maria Caroline • Maria Irene • Maria Veronica • Michelle Adhitjan • Mimi Tanjung • Patricia Adikarta • Rosalia Sri Redjeki • Soetjipto Lukita • Susina Adhitjan • Swanny • Tarsisia Henny Mulyono • WS Yahya • Wuinny

Koordinator BIdang II : S O S I A L & A C A R A Ketua Bidang : Tjahjono Kusumohadi Sie Donor Darah & Kesehatan

Koordinator : Devi Amalia

A n g g o t a : Anggriani Sadikun • Handoko Susanto • Ismed Tjahjadi • Maryland Yan • Rusmaini

Sie Seminar

Koordinator : Ine Hardjosutirto

A n g g o t a : Anggriani Sadikun • Handoko Susanto • Jan Setiadi • Jessica Setiadi Sie Panggung Gembira

Koordinator : Sylvia N. Irwan

A n g g o t a : Anggriani Sadikun • Handoko Susanto • Harold Adhitjan • Isabella Katarina Purnadi • Leo Bunjamin • Marcel Irawan • Sysiria Tanadiah Sie T a b l o

Koordinator : Kevin Kristian

A n g g o t a : Cyrilla Adikarta • Harold Adhitjan • Michelle Adhitjan • Patricia Adikarta Sie Misa Lansia

Koordinator : Lusyanti Swandy

- -

R

EDISI 25 # Maret - April 2018

SUSUNAN PANITIA PASKAH 2018

WILAYAH SANTO DOMINIKUS

Sie Piknik Kebangsaan

Koordinator : Haryadi Adhitjan

A n g g o t a : Ami Anggraini • Anne-Marie • Lusyanti Swandy • Maria Caroline • Nini Darmadi • Soetjipto Lukita • Susina Adhitjan • Tjen Nefowan

Sie Sosial (T-Shirt Asmat)

Koordinator : Cecilia Yunita

A n g g o t a : Anne-Marie • Catharina • Gabriel Fabiano (Ian) • Iva Darman • Leny Marcelina • Seno Hardijanto

Koordinator Bidang III : D A N A Ketua Bidang : Andy Godjali Sie A m p l o p

Koordinator : Sugito

A n g g o t a : Catharina Maria (Ie-Ie) • Cecilia Yunita Sie D a n a

Koordinator : Andy Godjali

A n g g o t a : Anastasia Yenny • Devi Amelia • Gunadi Stiawan • Heru Lazuardi • Intani Sulijanto • Johanes Sudewo • Shierly Serijanti • Sin Khamaruddin • Sugiono Nursalim • Tatang Firdaus • Yulita Tjhia

Sie Iklan & Majalah

Koordinator : F. Seno Hardijanto

A n g g o t a : Anne-Marie • Leny Marcelina Sie Kotak Bunga

Koordinator : Iva Darman

A n g g o t a : Anastasia Yenny Bernadhet • Diana • Hartini • Irmajanti Themas • Liem Pipi W • Monique Susanto • Ratna Pitarini • Yulita Tjhia

Koordinator Bidang IV : PERLENGKAPAN Ketua Bidang : Agnetha

Sie Perlengkapan

Koordinator : Andrew W. Suraya Sie Keamanan

Koordinator : Deddy Satyawan Anggota Sie Perlengkapan

d a n Keamanan : Agustinus Nefowan•Anthony Hertania • Ateng Midjaja • Attilio Atied Harera • Bayu Aditya Purnama • Dady Hertania • Gabriella Stella Lukandow • Gunardi Taniwan • Gunawan Suteja • Hasan Swandy • Inge Gunawan • Joshua Aristya Purnama • Lusyanti Swandy • Marcel Irawan • Maria

SUSUNAN PANITIA PASKAH 2018

WILAYAH SANTO DOMINIKUS

• Pradono Joko T. Himawan • Sandra Julie • Santoso Dharmawan • Sri Agung Budijani Siman • Wanda Febriane • Yoppy Budiarto • Yen Ming • Yudie Prawira

Sie Dokumentasi

Koordiantor : Christiana Muljadi

A n g g o t a : Leo Bunjamin • William Bunjamin Koordinator Bidang V : KONSUMSI & BINGKISAN

Ketua Bidang : Nini Darmadi Sie Konsumsi

Koordinator : Patricia Himawan

A n g g o t a : Aida Bunaidi • Ambar Budikartono • Cathelia Yap • Christiana Tamara • Felicia Wawa • Janni Anawati • Kuniwaty • Magdalena G. Maha • Maria T. Julianty Kosasih • Nani Wijaya • Nilawati Surjandi • Rika Damajanti • Tjhin Epifani Tantiana

Sie Bingkisan

Koordinator : Cecilia Yunita

A n g g o t a : Ady Darmawan • Andreas Kwee • Andy Godjali • Anne-Marie • Catharina • Diana • Hartini • Iva Darman • Leny Marcelina • Monique • Ratna Pitarini • Sugito • Yenny Bernadhet • Yulita Tjhia

SERBANEKA

- -

R

EDISI 25 # Maret - April 2018 INILAH kalimat yang belum dapat

dipahami oleh sebagian besar anak muda zaman now. Sekarang, mari kita melihat hal-hal apa saja yang possible bagi lansia.

Sebagian kaum muda yang masih aktif berkarya atau berbisnis pada usia 30–40 tahun,

menitipkan anak-anaknya kepada oma atau opa di rumah. Akibatnya, kesempatan bagi para lansia untuk bersosialisasi dengan lingkungan sendiri atau sesama teman-temannya menjadi berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali.

Hal ini disebabkan adanya tanggung jawab untuk mengantar dan

Lansia...

Possible

menjemput cucu, juga menjaga dan menangani segala urusan rumah tangga anak. Bukankah lansia yang masih sanggup melakukan hal ini, pantas disebut sebagai “Lansia yang Possible”?

Sesungguhnya, banyak lansia berusia 65 tahun atau lebih yang masih aktif berkarya sebagai karyawan ataupun pengusaha, wiraswasta, katekis, dokter, dosen, dan sebagainya. Artinya, banyak hal yang masih dapat dilakukan sehingga selalu layak menyandang gelar: Lansia yang Possible.

Hidup pada zaman now, para golden age ini juga harus belajar mengenal dan menggunakan alat komunikasi. Kita dapat bertanya kepada mereka yang masih muda, bagaimana cara meggunakan gadget agar menjadi lansia yang possible.

Coba kita lihat di Singapura; pemerintahnya memberi peluang agar para lansia menjadi Lansia yang Posibble. Di bandara, semua pekerja kebersihan lansia. Lansia di sana

SERBANEKA

dapat mengisi waktu dengan bekerja dan mendapat upah yang lumayan untuk dirinya sendiri. Gedung pertemuan lansia juga tersedia sehingga mereka dapat berkumpul, berolah raga, dan mengerjakan pekerjaan tangan, seperti melipat kertas, melukis, dan sebagainya. Semua ini membuat lansia menjadi posibble.

Sadarkah kita, kaum lanjut usia, bahwa waktu kita amatlah singkat. Dengan berjalannya waktu, setiap orang akan mengalami kemunduran dalam hidupnya. Hal-hal yang tadinya possible dapat berubah menjadi impossible. Saya berjumpa dengan seorang dokter terkenal yang memiliki banyak pasien pada masa mudanya. Belakangan ini, berhubung umurnya sudah lanjut, seharusnya dia pensiun. Namun, dokter tersebut masih tetap bertugas meski pendengarannya mulai berkurang dan memakai alat bantu pendengaran. Pasien pasti mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengannya. Inilah perubahan, yang dulunya possible akhirnya menjadi impossible.

Seorang bapak yang dulu

menguasai beberapa bahasa asing dan memimpin perusahaan, pada masa tuanya bisa lupa semuanya. Bahkan pada anaknya sendiri. Dimensia berat membuatnya menjadi impossible. Bapak yang dulu begitu aktif, kini tidak dapat mengelak

dan harus menerima kenyataan hidup.

Dalam Gal 6:10 tertulis: Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Hal ini sejalan dengan lagu yang sering kita nyanyikan, “Hidup adalah Kesempatan”.

Melly T. (PPM)

REFLEKSI

MUNGKIN Anda pernah mengalami saat sedang berada di gereja, tiba- tiba terdengar seseorang batuk. Seperti diberi komando, tak lama kemudian disusul oleh suara- suara batuk lain. Atau ketika sedang duduk berkumpul, tiba- tiba ada seseorang yang menguap, lalu orang lain lagi ikut menguap.

Masih dalam suasana berkumpul, mendadak

seseorang berteriak sambil menutup hidungnya, “Aduh, siapa ya yang buang gas sembarangan?” Kontan hampir semua orang menutup hidungnya masing- masing.

Itulah efek penularan (contagious) melalui rangsangan terhadap panca indera tertentu. 

Batuk di gereja mempengaruhi pendengaran, lalu menyentuh emosi dan merangsang tenggorokan

sehingga seakan gatal. Menguap karena pengaruh indera penglihatan serta pendengaran yang mengetuk emosi sehingga merasa mengantuk. Dalam kasus -- maaf-- “buang gas”, indera penciuman tibamaaf--tiba menajam bersama dengan perasaan, sehingga dapat tercium atau mungkin hanya tersugesti saja. 

Ternyata, untuk menularkan sesuatu, perlu ada sengatan yang merangsang panca indera tertentu. 

Dewasa ini, banyak penularan terjadi. Sangat

disayangkan, yang ditularkan bukanlah kebaikan, akan tetapi keburukan, berita palsu atau fitnah. Kebaikan seseorang seperti tak terlihat. Tapi, bila orang itu suatu ketika melakukan perbuatan tak terpuji, maka berita itu cepat menular bak epidemi.

Mungkin orang berpendapat bahwa berbuat baik itu sudah seharusnya, biasa, tidak aneh. Tetapi, berbuat yang menyimpang itu baru luar biasa, yang menstimulasi pikiran negatifnya untuk menggosipkannya. Sama halnya dengan racun yang lebih cepat dirasakan dampaknya ketimbang khasiat madu bagi kesehatan yang seakan tidak dirasakan manfaatnya dan terasa

biasa-biasa saja.

Yesus Kristus berkarya melayani sesama dengan berkeliling sambil berbuat baik.

Sebagai pengikut Kristus, seyogianya kita pun bisa menularkan kebaikan walaupun sejumput saja seturut kemampuan kita. 

Gereja menyerukan agar kita mengamalkan Pancasila.  Dewasa ini penghayatan butir-butir Pancasila bagi sebagian masyarakat cenderung memudar, padahal bapak- bapak bangsa kita  merumuskan Pancasila berdasarkan sifat-sifat asli bangsa Indonesia. Tanyakanlah kepada generasi tua yang pernah hidup di pedesaan.

Karakter masyarakat saat itu pada umumnya masih kental dengan sifat asli ke-Indonesiaannya.

Misalnya,  menjalankan ajaran agama dengan benar dan tulus, takut berdosa, jujur, “takut” akan Gusti Allah, saling menolong, berbela rasa, bergotong- royong, bertoleransi dengan semua golongan, saling tenggang rasa, menjaga keamanan lingkungan bersama, siap membela negara, menyelesaikan suatu perkara dengan musyawarah di balai desa untuk berdamai dengan keputusan yang adil. Itulah sifat asli rakyat Indonesia sebelum terkontaminasi masyarakat urban. Itulah manusia Pancasila sejati.

Bila ada yang menolak Pancasila, berarti ke-Indonesiaannya dipertanyakan. 

Pancasila sesuai benar dengan ajaran Kristus.  Mengamalkan Pancasila berarti mewartakan ajaran Kristus.Namun, terlebih dahulu kita harus melakukannya pada keluarga kita sendiri.

Umpamanya, membentuk keluarga yang religius penuh kasih, saling berbagi, berbela rasa, saling menghormati, saling menolong, mengajarkan kepedulian kepada sesama, berlaku adil, toleran terhadap siapapun, tidak saling curiga, membenci atau mendendam, menyelesaikan persoalan bersama-sama, menyumbangkan sesuatu bagi negara.

Akan tetapi, menularkan kepada masyarakat tidak semudah itu karena sifat kebhinnekaannya.

Tidak akan berhasil dengan cara menggurui mereka dengan teori-teori Pancasila. 

Lebih tepat, bila kita langsung mempraktikkannya dengan perbuatan yang halus, tidak menyinggung perasaan, sederhana supaya mudah ditangkap, simpatik agar tetap melekat. Dengan cara demikian, kita telah menanamkan jiwa dari butir- butir Pancasila secara nyata melalui perbuatan.

Yang lebih penting, kita menyentuh emosinya, bukan intelegensinya bak anak sekolah. Bagaimana cara menerjemahkan masing-masing butir Pancasila itu, tergantung pada kreativitas kita masing- masing.

Ekatanaya

Menularologi

Dalam dokumen MeRasul Edisi 25 (Mar – Apr 2018) (Halaman 145-150)