• Tidak ada hasil yang ditemukan

No Nama Posisi Gaji

Bonus akhir musim (Rp) Saat panen (Rp)

Saat tidak panen (Rp)

1 Hendrik H Ketua 90,000/hari 35,000/hari 2,000,000

2 Endang Wakil ketua 70,000/hari 25,000/hari 2,000,000

3. Imam S Sekertaris 60,000/hari 20,000/hari 2,000,000

4. Emil Warnasih Sekertaris 60,000/hari 20,000/hari 2,000,000

5. M. Ece Sumyani Bendahara 60,000/hari 20,000/hari 2,000,000

6. Hendi Keamanan 60,000/hari 50,000/bulan 300,000

7. Hendi suhendi Keamanan 60,000/hari 50,000/bulan 300,000

8. Sahrul Kebersihan 70,000/hari - 300,000

9. Ujang Karyawan produksi 70,000/hari 50,000/minggu 300,000

10 Karim Karyawan produksi 70,000/hari - 300,000

11 Uus Karyawan produksi 70,000/hari - 300,000

12 Firman Karyawan produksi 70,000/hari - 300,000

13 Acep Karyawan produksi 70,000/hari - 300,000

14 Iwan Karyawan produksi 70,000/hari - 300,000

15 Dede Karyawan produksi 70,000/hari - 300,000

ANALISIS KELAYAKAN OPERASIONAL PACKING HOUSE

UNTUK KOMODITAS MANGGIS DI DESA HEGARMANAH,

KECAMATAN CICANTAYAN, KABUPATEN SUKABUMI

SKRIPSI

RADIT FATADIATA

F14060522

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

AN ANALYSIS ON OPERATIONAL FEASIBILITY OF PACKING HOUSE FOR

MANGOSTEEN COMMODITY, IN HEGARMANAH VILLAGE,

CICANTAYAN SUB-DISTRICT, SUKABUMI REGENCY

Emmy Darmawati and Radit Fatadiata

Department of Mechanical and Biosystem Engineering, Faculty of Agricultural Technology, Bogor Agricultural University, IPB Darmaga Campus, PO Box 220, Bogor, West Java,

Indonesia

ABSTRACT

Along with the high demand for mangosteen fruit from domestic and export, it is necessary to have a good post-harvest handling to be able to manage the sales of mangosteen products. For this purpose, Hegarmanah Village, Cicantayan Sub-district, Sukabumi Regency built a packing house called Mega Fruit (Mustika Lestari XI), which is managed by a mangosteen farmer group. In 2009 the government provided assistance in the form of a building for packing house and its facilities. To analysis whether the packing house operation with the addition of the government aid is feasible or not definitely requires research on the analysis of operational feasibility of Mega Fruit (Mustika Lestari XI).The data used in this research was obtained through interviews with managers and studies on related literature. In this study the operational feasibility analysis included financial, technical and managerial aspects. The financial aspect analysis included production cost and investment feasibility. The technical aspect analysis covered production process and material flow pattern of mangosteen products. The management analysis involved such aspects as business entity, labor division, and organizational structure.

The total cost of mangosteen production was Rp 2,749,085,666. With the basic cost of Rp 8,086 / kg, it was still below the selling price of Rp 8,300 / kg, so that the sales of mangosteen could provide a profit of Rp 214 / kg. The break even point of packing house operations was 135,459 kg / year. The average production reached 340,000 kg / year, meaning that the packing house was running at a profitable level. The result of financial feasibility analysis showed that the packing house was feasible to operate with the NPV value of the project's life of (grant of packing house) nine years ahead on a discount factor of 15% Rp 192,350,661, the IRR of 32.77%, the net value B / C of 1.74, and the payback period of 3.1 years. The result of sensitivity analysis to changes in the operational costs of transportation, production volumes and selling prices at the packing house showed that the selling price was an element of change which was so sensitive that in the future the selling price should be higher. The technical analysis showed that the packing house was run by a regular sequence of production activities with the U-shaped pattern of material flow so that the desired end product was at the location adjacent to the initial process. The analysis showed that based on the management aspect of the ownership status, the packing house was owned by a group of farmers. The operational management of packing house was done by workers in line with the need so that production could run well.

Radit Fatadiata. F14060522.

Analisis Kelayakan Operasional Packing House

untuk Komoditas Manggis, di Desa Hegarmanah Kecamatan Cicantayan

Kabupaten Sukabumi. Dibawah bimbingan Emmy Darmawati. 2011

RINGKASAN

Manggis (Garcinia Mangostana L) merupakan komoditas buah eksotik yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh karena mengandung nilai gizi yang cukup lengkap, yakni mengandung kalori, protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Manggis di luar negeri dikenal sebagai “The Queen of Fruit” karena memiliki keterpaduan antara warna dan rasa asam manis yang jarang dimiliki oleh buah – buahan tropis lainnya, Selain mempunyai bentuk buah yang artistik dan citarasa yang khas, manggis juga mempunyai beberapa kegunaan, antara lain kandungan buah manggis bermanfaat sebagai obat anti inflamasi (obat anti radang) dan obat diare. Kulit manggis kaya akan xanthon antioksidan yang sangat baik untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, kulit manggis juga dapat digunakan sebagai bahan pewarna tekstil dan bahan membuat zat anti karat. Buah manggis umumnya disajikan dalam bentuk segar, beku, atau jus.

Produksi manggis Indonesia selain ditujukan untuk kebutuhan dalam negeri juga untuk memenuhi permintaan ekspor. Manggis mendominasi pasar ekspor segar Indonesia, hingga mencapai lebih dari 50 % sehingga manggis merupakan salah satu komoditas buah eksotik primadona ekspor yang memiliki prospek bisnis yang sangat baik. Volume ekspor manggis tertinggi terjadi pada tahun 2003. Besarnya volume ekspor manggis menunjukkan bahwa manggis yang dihasilkan Indonesia banyak disukai oleh konsumen luar negeri seperti Cina, Australia, Taiwan, Singapura, Jepang, Arab Saudi serta negara – negara Eropa, seperti Belanda, Prancis, dan Swiss. Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu dari enam sentra produksi manggis di Propinsi Jawa Barat disamping Purwakarta, Tasikmalaya, Subang, Bogor, dan Ciamis.

Seiring dengan permintaan buah manggis yang tinggi dari dalam maupun luar negeri maka perlu sebuah penanganan pascapanen yang baik agar mampu mengelola penjualan produk manggis. Untuk keperluan tersebut, di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi didirikan Packing house dengan nama Mega Fruit (Mustika Lestari XI) yang dikelola oleh kelompok tani manggis. Aktifitas dari packing house adalah pengumpulan, penanganan pascapanen, dan penjualan manggis baik untuk keperluan ekspor maupun domestik. Keberadaan packing house tersebut dapat menampung dan mengelola produk manggis dari para petani manggis. Pada tahun 2009 pemerintah memberikan bantuan berupa bangunan packing house dan fasilitas pascapanennya. Bantuan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas hasil manggis yang bermutu baik sesuai dengan permintaan ekspor. Untuk menganalisis apakah operasional packing house dengan penambahan bantuan dari pemerintah tersebut layak atau tidak maka diperlukan penelitian tentang analisis kelayakan operasional packing house Mega Fruit (Mustika Lestari XI). Penelitian dilaksanakan selama empat bulan yaitu dimulai pada bulan Nopember 2010 sampai Februari 2011.

Dalam penelitian ini analisis kelayakan operasional yang dilakukan meliputi analisis aspek finansial, aspek teknis dan aspek manajemen. Analisis aspek finansial meliputi analisis biaya produksi dan analisis kelayakan investasi. Analisis aspek teknis meliputi proses produksi dan pola aliran bahan produk manggis. Analisis aspek manajemen meliputi bentuk badan usaha, pembagian tenaga kerja, dan susunan organisasi.

Analisis biaya yang dilakukan pada packing house menunjukkan biaya total produksi manggis sebesar Rp. 2,749,085,666 /tahun sedangkan nilai biaya pokok produksi manggis yang didapat sebesar

Rp. 8,086 /kg. Nilai tersebut masih berada di bawah harga jual yang sebesar Rp 8,300 /kg sehingga penjualan manggis dapat memberikan keuntungan sebesar Rp 214 untuk setiap kg yang terjual.

Analisis titik impas yang dilakukan menghasilkan titik impas sebesar 135,459 kg/tahun. Jumlah tingkat produksi packing house mencapai 340,000 kg/tahun ternyata lebih besar dari nilai titik impas yaitu sebesar 135,459 kg/tahun. Hal ini menunjukan bahwa packing house mendapatkan keuntungan setiap tahunnya karena jumlah produksinya lebih besar dari nilai titik impas.

Analisis kelayakan finansial yang dilakukan untuk umur proyek (hibah packing house) sembilan tahun kedepan menghasilkan nilai yang memenuhi syarat kelayakan untuk kelangsungan suatu proyek. Hal ini dapat dibuktikan dengan Nilai NPV usaha packing house dengan jangka waktu proyek sembilan tahun pada diskon faktor 15 % sebesar Rp. 192,350,661, nilai IRR sebesar 32.77 %, nilai Net B/C yang diperoleh sebesar 1.74, nilai payback period adalah 3.1 tahun.

Analisis sensitivitas menunjukkan kemampuan perusahaan yang masih dapat bertahan dengan adanya perubahan unsur finansial yang terjadi. Berdasarkan analisis sensitivitas packing house masih dapat bertahan pada kenaikan biaya operasional transportasi 10 % dan 20 %, penurunan volume produksi 5 %, 10 %, dan 20 %. Packing house sudah tidak dapat bertahan pada kenaikan biaya operasional 30 %, penurunan volume produksi 30 %, dan penurunan harga jual 2 %. Diantara unsur - unsur yang berubah dalam analisis sensitivitas ini, harga jual merupakan unsur yang sangat sensitif. Oleh karena itu penetapan harga jual kedepannya harus lebih tinggi lagi.

Analisis aspek teknis menunjukkan bahwa operasional packing house dapat berjalan dengan lancar dengan urutan kegiatan produksi yang berjalan dengan teratur dan pola aliran bahan berbentuk U sehingga proses produk akhir yang diinginkan berada pada lokasi berdekatan dengan proses awal. Hal ini sesuai dengan konstruksi bangunan packing house yang hanya mempunyai satu pintu. Analisis aspek manajemen menunjukkan bahwa status kepemilikan packing house adalah milik petani berbentuk poktan (kelompok tani). Operasional manajemen packing house dilakukan oleh tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan sehingga kegiatan produksi packing house dapat berjalan dengan teratur.

I. PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Hortikultura merupakan komoditi pertanian Indonesia yang memiliki prospek baik untuk dikembangkan terutama buah – buahan yang memiliki jumlah produksi besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Produksi beberapa buah – buahan Indonesia pada tahun 2009 menunjukkan bahwa buah manggis mencapai 105,558 ton, buah alpukat mencapai 257,642 ton, buah durian mencapai 797,798 ton, buah nanas mencapai 1,558,196 ton, buah pepaya mencapai 772,844 ton, buah mangga mencapai 2,243,440 ton, buah jeruk mencapai 2,131,768 ton dan buah pisang mencapai 6,373,533 ton. Buah – buahan merupakan salah satu komoditas yang cukup banyak dikonsumsi dan mempunyai peranan penting dalam kesehatan tubuh sebagai sumber vitamin dan mineral. Beberapa buah yang sangat baik pertumbuhannya di Indonesia dan merupakan komoditas buah unggulan antara lain manggis, alpukat, durian, nenas, pepaya, mangga, jeruk dan pisang.

Manggis (Garcinia Mangostana L) merupakan komoditas buah eksotik memiliki nilai gizi yang tidak kalah pentingnya dengan buah – buahan lainnya dan sangat digemari masyarakat saat ini. Manggis di luar negeri dikenal sebagai “The Queen of Fruit” karena memiliki keterpaduan antara warna dan rasa asam manis yang jarang dimiliki oleh buah – buahan tropis lainnya. Buah ini dapat dihidangkan dalam bentuk segar dan diolah seperti makanan kaleng, salad, sirup, permen, obat-obatan dan buah awetan. Selain mempunyai bentuk buah yang artistik dan citarasa yang khas, manggis juga mempunyai beberapa kegunaan, antara lain kandungan buah manggis bermanfaat sebagai obat anti inflamasi (obat anti radang) dan obat diare. Kulit manggis kaya akan xanthon antioksidan yang sangat baik untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, kulit manggis juga dapat digunakan sebagai bahan pewarna tekstil dan bahan membuat zat anti karat.

Produksi manggis Indonesia selain ditujukan untuk kebutuhan dalam negeri juga untuk memenuhi permintaan ekspor. Manggis adalah salah satu komoditas buah – buahan yang mendominasi pasar ekspor Indonesia. Sejak tahun 1970-an hingga sekarang permintaan ekspor buah manggis terus meningkat sehingga dapat dikatakan buah manggis sebagai primadona ekspor andalan Indonesia. Buah manggis memiliki nilai ekonomi tinggi dan mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor. Manggis mendominasi pasar ekspor segar Indonesia, hingga mencapai lebih dari 50 % dan Manggis memiliki volume ekspor yang cenderung meningkat setiap tahunnya (Tabel 1). Volume ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2003 yakni sebesar 9.304 ton. Besarnya volume ekspor manggis menunjukkan bahwa manggis yang dihasilkan Indonesia banyak disukai oleh konsumen luar negeri seperti Cina, Australia Taiwan, Singapura, Jepang, Arab Saudi serta negara – negara Eropa, seperti Belanda, Prancis, dan Swiss. Harga manggis di pasar ekspor dinilai lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga manggis di pasar lokal.

2

Tabel 1. Jumlah Ekspor Buah Penting dari Indonesia

No Komoditas Jumlah 2003 2004 2005 2006 1 Avokad 169,049 5,416 5,121 4,104 2 Durian 13,707 - 2,911 2,635 3 Jambu Biji 76,488 106,274 15,277 139,842 4 Jeruk 1,403,781 2,046,221 1,248,559 1,140,737 5 Langsat / Duku 21,044 1,643 - - 6. Mangga 584,500 1,879,664 964,294 1,181,881 7. Manggis 9,304,511 3,045,379 8,472,770 5,697,879 8. Melon 263,832 - 321,445 140,931 9. Nanas 148,053,124 134,953,912 198,618,964 219,653,476 10. Pepaya 187,972 524,686 60,485 140,083 11. Pisang 244,652 1.197,495 3,647,027 4,443,188 12. Rambutan 603,612 134,772 - - 13. Semangka 16,679 - - 4,392

Total buah – buahan 189,254,435 171,822,618 272,296,672 262,358,494

Sumber : Departemen Pertanian dan BPS (data diolah) dalam Redaksi AgroMedia 2009

Selama ini buah manggis untuk kebutuhan ekspor berasal dari beberapa daerah penghasil utama di sentra penanaman manggis tersebar dari Aceh hingga Nusa Tenggara Barat, yang terkenal di Kabupaten Lima Puluh Kota (Sumatera Barat), Kerinci (Jambi), Lahat (Sumatera Selatan), Pandeglang (Banten), Bogor, Purwakarta, Tasikmalaya, Sukabumi (Jawa Barat), Purworejo (Jawa Tengah), Trenggalek, Blitar, Kediri, Jember (Jawa Timur), Tabanan (Bali), dan Lombok (Nusa Tenggara Barat). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2010 perkembangan produksi buah manggis di Indonesia yang diperoleh selama beberapa tahun terakhir, terlihat adanya kecenderungan peningkatan pada tahun 2006 produksi manggis mencapai 72,634 ton kemudian pada tahun 2007 mengalami peningkatan mencapai 112,722 ton lalu pada tahun 2008 mencapai 78,674 ton kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2009 mencapai 105,558 ton.

Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu dari enam sentra produksi manggis di Propinsi Jawa Barat disamping Purwakarta, Tasikmalaya, Subang, Bogor, dan Ciamis. Disamping itu, keenam sentra tersebut merupakan pemasok utama bagi pasar modern (Jakarta dan Bandung) dan pasar ekspor (China, Taiwan, Hongkong, Singapura dan Timur Tengah). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik produksi manggis Jawa barat tahun 2009 mencapai 35,484 ton. Berdasarkan angka statistik produksi manggis di Sukabumi tahun 2006 mencapai 400,2 ton, produksi manggis dari packing house Mega Fruit (Mustika Lestari XI) yang berada di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi ini cukup besar dengan pemilikan kebun manggis seluas kurang lebih 135,65 hektar dan jumlah petani manggis sebanyak 193 orang. Rata - rata masa produksi manggis packing house Mega Fruit (Mustika Lestari XI) di Desa Hegarmanah selama bulan Desember sampai Maret seluruhnya sekitar 340 ton. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi merupakan salah

satu sentra produksi manggis terbesar di Kabupaten Sukabumi dan memiliki prospek ekspor yang sangat baik.

Seiring dengan permintaan buah manggis yang tinggi dari dalam maupun luar negeri maka perlu sebuah penanganan pasca panen yang baik agar mampu mempertahankan mutu manggis. Secara umum Packing house merupakan suatu bangunan yang berfungsi untuk menampung hasil panen manggis dan untuk penanganan pasca panen agar menghasilkan mutu manggis yang sesuai dengan tuntutan pasar. Mutu manggis berpengaruh terhadap harga jual manggis karena konsumen pada umumnya menghendaki produk manggis dalam keadaan segar dan bermutu bagus.

Packing house dikelola oleh kelompok tani manggis yang dinamakan Mega Fruit (Mustika Lestari XI). Selama ini packing house tersebut beroperasi dengan lancar dan dapat memperpendek jalur tata niaga komoditi manggis sehingga terjadi sistem distribusi yang langsung dari petani ke packing house. Kondisi packing house Mega Fruit (Mustika Lestari XI) cukup baik dengan fasilitas yang dapat mendukung proses pengelolaan panen manggisdari petani. Hal ini membuat packing house tersebut menjadi penghasil produksi manggis terbesar di Desa Hegarmanah. Keberadaaan packing house dapat menampung dan mengelola produk manggis dari para petani manggis sehingga dapat meningkatkan penghasilan para petani. Pada tahun 2009 pemerintah memberikan bantuan berupa bangunan packing house dan fasilitas pasca panennya. Bantuan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas hasil manggis yang bermutu baik sesuai dengan permintaan ekspor. Untuk menganalisis apakah operasional packing house dengan penambahan bantuan dari pemerintah tersebut layak atau tidak maka diperlukan penelitian tentang analisis kelayakan operasional packing house Mega Fruit (Mustika Lestari XI).

B.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dilakukan penelitian adalah untuk melakukan analisis kelayakan operasional yang meliputi aspek finansial, aspek teknis, dan aspek manajemen packing house Mega Fruit (Mustika Lestari XI) di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A.

KOMODITAS MANGGIS

Tanaman manggis tergolong tanaman tahunan, umurnya dapat mencapai puluhan tahun dan pohonnya dapat tumbuh besar. Tanaman manggis memiliki beberapa nama, misalnya Manggosteen (Inggris), mangoustainer (Perancis), manggistan (Belanda), dan mangastane (Jerman). Di Indonesia manggis disebut dengan berbagai macam nama local seperti manggu (Jawa Barat), dan Manggih (Minangkabau) (Juanda dan Cahyono, 2000).

Tanaman manggis merupakan tanaman asli daerah tropis dari Asia Tenggara. Tanaman manggis semula tumbuh secara liar di kawasan kepulauan Sunda Besar dan Semenanjung Malaya sehingga para ahli botani memastikan bahwa daerah asal tanaman manggis adalah Kepulauan Sunda Besar dan Semenanjung Malaya. Namun, beberapa ahli botani lain berpendapat bahwa tanaman manggis berasal dari Indonesia. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya tanaman manggis yang tumbuh secara liar di hutan – hutan belantara di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Pertumbuhan tanaman manggis secara liar dan alamiah ini juga ditemukan di beberapa kawasan lain di Asia Tenggara, misalnya di Kamboja, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Kepulauan Maluku (Juanda dan Cahyono, 2000).

Tanaman manggis dari kawasan Asia Tenggara ini menyebar luas ke seluruh penjuru dunia hingga ke daerah yang beriklim subtropis. Tanaman manggis menyebar ke berbagai Negara, misalnya Srilangka, Filipina, India Selatan, Birma, Indonesia, Malaysia, Karabia, Hawai, Australia Utara, Amerika Tengah, dan Florida (Juanda dan Cahyono, 2000).

Suhu udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tidak cocok untuk tanaman manggis karena dapat menyebabkan terganggunya proses metabolisme tanaman sehingga pertumbuhan tanaman mengalami hambatan. Tanaman manggis dapat tumbuh baik dan berproduksi tinggi jika lokasi pembudidayaan memiliki suhu udara di bawah 25oC – 32oC dengan kelembaban sekitar 80 % dan Intensitas cahaya antara 40 % - 70 %. Lokasi yang memiliki suhu udara di bawah 25oC tidak cocok untuk usaha budi daya manggis. Tanaman manggis yang dibudidayakan di daerah yang memiliki suhu udara di bawah 25oC memiliki tingkat produktivitas yang rendah dan kualitas buah yang dihasilkan pun rendah pula. Tanaman manggis termasuk tanaman tropis sehingga iklim yang cocok untuk tanaman manggis adalah iklim yang hangat dan kering dengan curah hujan tidak tinggi. Jika tanaman manggis yang ditanam di daerah yang memiliki curah hujan tinggi, pembungaan berkurang karena hujan lebat yang terus menerus dapat menyebabkan gugurnya bunga sehingga produksi buahnya rendah. Tanah yang paling baik untuk budidaya manggis adalah yang subur, gembur, dan mengandung bahan organic dengan derajat keasaman (pH tanah) ideal berkisar antara 5 – 7. Untuk pertumbuhan tanaman manggis memerlukan daerah dengan drainase baik dan tidak tergenang, serta air tanah berada pada kedalaman 0.5 – 2 m. Menurut Juanda dan Cahyono (2000) tanaman manggis dalam tatanama tumbuhan atau sistematika (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermathophyta (Tumbuhan berbiji) Sub Divisi : Angiospermae (Berbiji tertutup) Kelas : Dicotyledonae (Biji berkeping dua) Ordo : Theales

Famili : Guttiferae/Clusiaceae Genus : Garcinia

Spesies : Garcinia mangostana L.

Dari genus Garcinia, tanaman manggis meliputi 400 species, tetapi hanya 40 spesies di antaranya yang buahnya dapat dikonsumsi. Dari genus Garcinia, spesies Garcinia mangostana L. merupakan yang terbaik dan banyak dibudidayakan di dunia. Spesies Garcinia mangostana L. memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Buah manggis merupakan produk utama dari tanaman manggis. Buah manggis berbentuk bulat dan bercupat. Kulit buah yang masih muda berwarna hijau, sedangkan kulit buah yang telah matang (tua) berwarna ungu kemerah – merahan atau merah muda. Cupat yang terdapat pada bagian ujung buah berbentuk seperti bintang (Juanda dan Cahyono, 2000).

Daging buah manggis bersegmen – segmen yang jumlahnya berkisar antara 5 – 8 segmen. Daging buah manggis berwarna putih dan bertekstur halus. Setiap segmen daging buah mengandung biji yang berukuran besar. Buah manggis memiliki kulit buah tebal, yakni sekitar 0.5 cm atau lebih. Di dalam kulit buah terdapat zat pektin, tannin katechin, rosin, zat warna, dan getah berwarna kuning. Zat – zat yang terkandung di dalam kulit buah dapat digunakan untuk membuat zat anti karat dan penyamak kulit (Juanda dan Cahyono, 2000).

Biji manggis berbentuk bulat agak pipih dan berwarna cokelat muda. Biji buah manggis berkeping dua yang dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman (pembiakan). Biji manggis bersifat polinuselus, yakni dapat tumbuh lebih dari satu semai (sampai 3 anak semai). Biji manggis tersebut terbungkus atau berlapiskan arillode berwarna putih (Juanda dan Cahyono, 2000).

Secara tradisional buah manggis merupakan obat sariawan, wasir, dan luka. Kulit buah dimanfaatkan sebagai pewarna termasuk untuk tekstil, sedangkan air rebusannya dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena mengandung zat kimia yang jika dioleskan di tangkai mayang kelapa (manggar) dapat merangsang cairan nira lebih banyak. Batang pohon manggis biasanya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kayu bakar, dan kerajinan (Redaksi AgroMedia, 2009).

Buah manggis mengandung gizi yang cukup lengkap, yakni mengandung kalori, protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Oleh karena itu, buah manggis sangat baik untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Secara lengkap kandungan gizi buah manggis dapat dilihat pada Tabel 2.

Mutu buah – buahan yang akan dipanen sangat dipengaruhi oleh tingkat ketuaan panen. Selain itu, daya simpan dan kandungan kimia atau zat gizi ikut berpengaruh. Mutu yang baik akan diperoleh apabila pemanenan dilakukan pada tingkat ketuaan yang tepat. Buah yang panen terlalu muda walaupun daya simpannya lama, tetapi rasanya kurang enak sedangkan buah yang dipanen terlalu tua walaupun rasanya enak tetapi daya simpannya rendah. Buah manggis dipanen setelah berumur 104 – 110 hari setelah berbunga (Redaksi AgroMedia, 2009). Umur panen dan ciri fisik manggis siap panen dapat dilihat pada Tabel 3.

6

Tabel 2. Zat – zat yang terkandung dalam buah manggis dan nilai gizinya setiap 100 g

bahan yang dapat dimakan

Dokumen terkait