A. Pembagian i Warisan a Secara Kekeluargaan (Takharuj)
3. Syarat PembagianaWarisanaSecaraa (Takharuj) a
Pelaksanaanapembagian warisanayang telah di aturadalam KHI adisebut secaraakekeluargaan, namun praktekapembagian harta warisanasecara kekeluargaanaitu sendiri harus pulaamemenuhiasyarat-ayaratnya. Diaantara syarat-syaratapentingnya, adalahakeharusan adanyaakecakapan bertindakasecara hukum yangadidasarkan atasakerelaan penuh dariapihak-pihak yang aterlibat dalamapembagian awarisan. Hal iniadimestikan karena dalamapembagian harta secaraakekeluargaan mungkin ada sebagianapihak yang perlu amengorbankan atau menggugurkanahaknya baikakeseluruhan maupunasebagianya. aMasalah pengguguran hakamilik, karena berkaitanadengan praktikamenghilangkanahak milik seseorang, berhubunganaerat dengan masalahakecakapan untukabertindak secara hukum, artinya pengguguranasuatu hak milik baruadianggap sah, bilamana dilakukanaoleh seseorang asecara sukarela danasedang mempunyai akecakapan bertindak. Pengguguranasuatu hak milikatidak dianggapasah bilamanaadilakukan olehaseseorang yangatidak punya atau sedangakehilangan kecakapanauntuk bertindakamisalnya disebabkanaadanya suatu kondisiayang amengganggu kebebasannyaauntuk menentukanasikap. Masalah kecakapanabertindak, adalam kajianaUshul Fiqh dikenaladengan al-ahliyataal-ada‟ yaitu kecakapanaseseorang untukadibebani melakukanaibadat dan untukabertindak/ melakukanaperbuatan
144
hukum. Denganaadanya kecakapanabertindak, seseorangabaru dapatadisebut mukallaf.223
Penetapan seseorangabisa dianggab sebagai seorang mukallaf ditandai dengan perkembanganafisik, bagi seorangawanita mulai dianggapatelahabalig berakalabilamana ia mengalamiamenstruasi, sedangkan abagi laki-laki abilamana ia telahamenggalami mimpiabersenggama. Bilamanaawanita tidakamengalami menstruasiasampai umura15 tahunadan laki-laki tidakamenggalami amimpi sampai umuratersebut, maka umuralima belasatahun itu dijadikanabatasatelah baligaberakalaseseorang. Olehakarena telah berakalasecara sempurna, aseseorang padaaperiode ini dibebaniasecara penuh untuk amelaksanakanakewajiban-kewjibanaagama. Adapunamasalah harta, masihamemerlukan adanyaasifatarusyd (kemampuan untukamengendalikan hartaadan apembelanjaannya).224 Halaini mengingat kenyataanatidak setiap orang yanga sudah baligaberakal laluamampu mengendalikanapembelanjaannya. Di antaranyaaada yang mubaziradalam pembelanjaan. Oleh karenaaitu, selain telah abalig berakal amasalah akecakapan bertindakadalam masalah hartaabenda memerlukanasifatarusyd.
Perkembanganayang mengarahapada mukallaf bila aseseorang aberada dalam periodeabaligh berakal dan amempunyai sifat rusydasudah dianggapatelah mempunyai kecakapanauntuk bertindak terhadapahak miliknya, kecualiajika ia sedangaberada dalam kondisiatertentu yang diatur secara rinciadalamaHukum Islamayang bisa menghilangkan akecakapanya itu atau amenguranginya. Hal-hal yang bisa amenghilangkan atau amengurangi kecakapan abertindak itu adikenal dengana „awarid al-ahliyah.225
aKondisi-kondisi itu amenjadi pertimbanganadalam menilaiaapakah sebuah aucapan misalnya amasih dianggap amengikat aatauatidak mengikat. Di antara akondisi-kondisi yang secaraaserius dibicarakanadalmaUshul Fiqh adalah akondisi keterpaksaanayang dalam
223
Muhammad AbuaZahrah, UshulaFiqih, penerjemah Saefullah Ma‟sum dkk, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), hlm. 508; lihat juga Mhd. Syahnan, Hukum Islam Dalam Bingkai Transdisipliner, hlm. 116-119.
224
Ibid, hlm. 519.
225
145
istilahaUshul Fiqhadisebut ikrah.226 Ikrahaialah memaksa orangalain untuk melakukanasesuatu perbuatanayang bertentangan denganakehendak hatinya. aDengan keterpaksaanabilamana mencukupi persyaratan-persyaratanyaaseseorang dianggap tidakacakap melakukan sebuahaperbuatan hukum. Oleh karena ituatindakannyaadianggap tidak sahadan tidak perluadipertanggungajawabkan.
Pembatasanaminimal dari kondisiaketerpaksaan yangabisaamenjadi pertimbanganadalam hukumaIslam, adanyanatekanan eksternal yangamembuat kebebasanasalah satu dari dua pihakamenjadi terganggu. Adanyaatekanan seperti ini, sering dikaitkanadengan urusan yang menyangkutadengan perpindahanahak milik dalamamasalah harta. Sepertiatelah diuraikan di atas asetiap tindakanayang berkaitanadengan hal-hal yangamenghilangkan hak milik aseseorang, memerlukanakerelaan penuhadari pihak yang abersangkutan yang aberarti terbebasadari segala macam atekanan. Kerelaana dari kedua belaha pihak menjadi kuncia dari sah atau tidak sahnyaasebuah transaksi atauaperpindahan ahak milik. Olehakarena itu setiap kondisi yang bisa menghilangkan atau mengurangi kerelaan seseorang dalamabertindak, dapat dijadikan apertimbanganauntuk dijadikanaalasan cacatnyaasebuahatransaksi.227
Namunaperlu juga diingatabahwa perasaanarela atau tidakarelanya seseorangapada dasarnya adalahamasalah yangaabstrak. Oleh karena itu, auntuk mengetahuinyaadipedomani sesuatu yang konkret yang padaalazimnya menunjukkanaadanya kerelaan. Akad jualabeli adalah sesuatuayang konkret yang menunjukkanaadanya sesuatu yang substansifatetapi abstrak tadi. Adanya alafal ijab danakabul dalam hal jual beliamenunjukkan adanyaakerelaan kedua abelah pihak. Lafalaijab dan kabuladalam sebuah pernikahanamerupakan sesuatu ayang konkretayang pada lazimnyaamenunjukkan adanya kerelaanadari pihak acalon suamiauntuk menerimaawanita itu sebagaiaistrinya danaadanya kerelaan awali wanita untukamenyerahkan anakaperempuannya kepadaapihak calon asuaminya. Begitulah halnyaadalam berbagaiabentuk transaksiadan akad yang amemerlukan
226
Ibid, hlm. 532
227
Satria Efendi M. Zein Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, cet. Ke-2. (Jakarta : Prenada Media, 2005), hlm. 345.
146
ijabadan kabul, di mana ijabadan kabul ituaberfungsi sebagai aindikator dari adanyaakerelaan masing-masingapihak.
Selamaatidak ada indikasi yang amenunjukkan bahwaaijab dan akabul itu bukan berdasarkanakerelaan, maka apa yangadidengar dalamalafal ijab danakabul itu adianggap sahadalam arti mengikat akedua belah pihak. Ijab kabul adalam transaksiajual beli, mengikat keduaabelah pihak danadianggap sebagai asebab yang sah dariaperpindahan milikadari tangan penjualakepada tangan apembeli. Artinya bilamanaaakad jual beli terjadi, tidak adaaalasan bagi penjual auntuk menahanabenda yang dijual itu kecualiamenyerahkannya kepadaapihakapembeli. Demikian pula akadaperjanjian damaiamengikat keduaabelah pihak adan tidak adaaalasan untuk mengungkitakembali.
Bilamana dikaitkanadengan kesaksian paraasaksi, maka yangadapat disaksikanaoleh para saksi ituaadalah peristiwaakonkret itu yangaterdiriadari lafal-lafal yangadiucapkan oleh keduaabelah pihak yangamelakukan akad. aPara saksi tidakamampu mengetahuiaapa yang ada dalamahati kedua belahapihak, kecuali jikaadisertai indikasi-indikasi yangaboleh jadi bisaamerusakakerelaan salah satu pihak. Misalnyaaseseorang digiring keasuatu tempatauntuk menandatanganiasebuah surat yang berisiapengguguran haknyaaterhadapasuatu bendaasedangkan pada tingkahalakunya waktuamenandatangani surat itu terdapat tanda-tandaabahwa apa yang dilakukanya ituabertentangan denganapilihan hatinya. Dalam hal ini, ameskipun para saksi telah menyaksikanadengan mata kepalanya bahwaaseseorang tadi betul telahamenandatangani surat itu, atetapi di samping ituamereka juga menyaksikanaterdapat tanda-tandaabahwa penandatangananaitu bukan dengan akehendak ahatinya.
Denganademikian sejauh indikasiakonkret dapat dipantauaoleh para asaksi maka fungsiapara saksi meliputiadi sampingamenyaksikan keabsahan aredaksi akadadan terjadinyaaperistiwa akad, jugaayang tidak kalahapentingnya aadalah menyaksikanaada atau tidakaadanya karinah-karinah yangamenunjukkan aadanya tekananadalam sebuah akad yangadisaksikanyaabilamana indikasi aeksternal tidak dapatadipantau, yang mungkin dapat membantu untuk amemantau adanya tekananadalam sebuahaakad adalah akibatadari terlaksananyaaakadatersebut.
147
Misalnyaasalah satu pihakamenuntut bahwaadirinya dalam keadaanatertekan waktu melakukanasebuah transaksiadan ternyata pihakatersebut memangatelah menderitaakerugian yang mencolokadiakibatkan transaksiatersebut. aAdanya kerugianayang mencolok itu bisa dianggapasebagai indikatorakebenaranaadanya tekanan dalam transaksiayang telah dilaksanakan aitu.
Adapunatentang kondisi-kondisiayang mungkinadiperalat pihakatertentu untukamengadakan tekananaterhadap lawanatransaksinya. Antara lainaadalah keadaanaterdesak seseorangabisa dijadikan alat untukamenekannya olehasatu pihak, dan demikianapula ketidak tahuanaseseorang. Bilamana halatersebut atelah mengakibatkanakerugian yang mencolokaterhadap diri seseorang, maka apihak yang dirugikan ituadi kemudian hariasecara sah bolehamengklaimabahwa transaksi tersebutatidakasah.228
Dalilayang dipakai adalah Maslahahamursalah. Maslahahamursalah aatau Istishlahaialah maslahah-maslahah yang bersesuaianadenganatujuan-tujuan syari‟at Islam, dan atidak ditopang oleh sumberadalil yang khusus, baikabersifat melegitimasiaatau membatalkan maslahah atersebut. Jika maslahah adidukung olehasumber dalil yangakhusus, maka termasukakedalam qiyasadalamaarti umum. Danajika terdapat sumberadalil yang khusus yangabersifat amembatalkan, makaamaslahah tersebut menjadiabatal. Mengambil maslahah adalam apengertian yangaterakhir iniabertentangan denganatujuan Syar‟i.229
ImamaMalik adalah ImamaMazhab yang mengunakanadalil aMaslahah Mursalah. Untukamenerapkan dalilaini, ia mengajukan tigaasyarat yangadapat dipahami melaluiadefinisi di ata, ayaitu:
1. Adanyaapersesuaianaantara maslahat yangadipandang sebagaiasumber dalil yangaberdiri sendiri denganatujuan-tujuan syari‟ata (maqashid assyari‟ah). Denganaadanya persyaratan ini, berartiamaslahahatidak
228
Ibid, , hlm. 347
229
Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, penerjemah Saefullah Ma‟sum dkk, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), hlm. 427. Lihat juga secara umum Mhd. Syahnan Syahnan, Mhd. “The Image of the Prophet and the Systematization of Ushul al-Fiqh: A Study of al-Shafi‟i‟s Risalah”, dalam MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, No. 103, 1998, hlm. 44-50.
148
boleh amenegasikan sumberadalil yang lain, atauabertentanganadengan dalil yangaqot‟iy.
2. Maslahahaitu harusamasuk akal, mempunyaiasifat-sifat yangasesuai dengan pemikiranayang rasional, di manaaseandainya diajukanakepada kelompokarasional akanadapataditerima.
3. Penggunaanadalil maslahahaitu adalahadalam rangkaamenghilangkan kesulitan yangamesti terjadi. Dalam pengertian, aseandainyaamaslahah yang dapataditerima akal ituatidak diambil, niscayaamanusiaaakan mengalamiakesulitan, aAllahaberfirman:
230Artinya: aDan berjihadlahakamu pada jalanaAllah dengan Jihadayanga sebenar-benarnya. Diaatelah memilih kamu dan Diaasekali-kali tidak menjadikanauntuk kamu dalam agamaasuatu kesempitan. (Ikutilah) agamaaorang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telahamenamai kamu sekalianaorang-orang Muslimadari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, asupaya Rasul itu menjadi saksi atasadirimu dan supaya kamu semua menjadiasaksi atas segenap manusia, Makaadirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat danaberpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, MakaaDialah Sebaik-baik pelindung danasebaik- baik penolong.
Syarat-syaratadi atas adalah syarat-syaratayang masuk akalayangadapat mencegah penggunaanasumber dalil inia (maslahah mursalah) tercerabut adari akarnya (menyimpangadari esensinya) sertaamencegah dari amenjadikananash-nash tunduk kepadaahukum-hukum yangadipengaruhi hawa nafsuadanasyahwat denganamaslahahamursalah.231
230
QS. Al-Hajji/22: 78.
231
Muhammad Abu aZahrah, UshulaFiqih, penerjemahaSaefullah Ma‟sumadkk hlm. a428.
149 B. Pembagian Warisan Secara Al-Sulhu