• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Perkawinan

3. Syarat Sah Perkawinan

30 terjadi di Toraja, dan kalangan masyarakat kasta Bali yang masih mempertahankan sistemi ini.34

31 yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya/wali;

4) Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun;

5) Seseorang yang masih terikat perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi kecuali dalam hal yang tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 Undang-Undang No.1 tahun 1974);

6) Apabila suami istri telah bercerai lalu kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, maka diantara mereka tidak boleh dilangsungkan perkawinan lagi;

7) Bagi wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.35

Kemudian dalam Pasal 2 Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tersebut menetapkan dua garis hukum yang harus dipatuhi dalam melakukan suatu perkawinan yaitu pada ayat (1)

“perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu”, ketentuan agama terkait sahnya suatu perkawinan bagi umat Islam dimaksudkan berkaitan dengan syarat dan rukun nikah.

35 Ibid. hlm. 279.

32 Kemudian ketentuan ayat (2) mengatur terkait pencatatan perkawinan yang mana dalam ketentutan ini suatu perkawinan haruslah dicatat menurut Perundang-undangan yang berlaku.

Maka sangat penting memperhatikan dalam pencatatan perkawinan pada catatan sipil negara agar perkawinan memiliki kekuatan hukum andaikata jika dikemudian hari terdapat masalah maka catatan sipil dapat dijadikan sebagai salah satu bukti perkawinan.

Dengan demikian suatu perkawinan baru dapat dikatakan sebagai perkawinan yang sah secara yuridis apabila perkawinan tersebut dilakukan menurut agama dan kepercayaan bagi yang melangsungkan perkawinan tersebut seperti untuk yang beragama Islam nikahnya baru dikatakan sah apabila dilakukan sesuai dengan tata cara ketentuan hukum islam, jika perkawinan telah dilaksanakan dengan hukum islam tetapi dilakukan lagi dengan agama lain seperti hukum kristen maka perkawinan itu tidak sah, karena kata „hukum masing-masing agama‟ dalam Pasal 2 ayat (1) UU No.1 Tahun 1974 berarti hukum dari salah satu agama yang akan menikah, jadi jika perkawinan dilakukan dengan campuran agama maka perkawinan dan keturunannya dianggapp tidak sah dan tidak diakui.

33 Dalam kompilasi hukum islam rukun dan syaraat perkawinan disebutkan dalam BAB IV bagian kesatu Pasal 14 sampai pasal 29, yaitu:

a. Rukun nikah yaitu untuk melaksanakan perkawinan harus ada calon suami, calon istri, wali nikah, dua orang saksi dan Ijab & Kabul.

b. Umur harus sesuai Pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 yaitu pria 19 tahun dan wanita 16 tahun.

c. Atas persetujuan mempelai baik tulisan, lisan atau isyarat, dan dipastikan oleh Pegawai Pencatat Nikah.

d. Wali nikah dari calon mempelai wanita, dengan syarat muslim, aqil dan baligh yang terdiri dari wali nasab dan wali hakim.

e. Saksi nikah disaksikan oleh dua orang saksi, yaitu seorang laki-laki muslim, adil, aqil, baligh, tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu atau tuli.

f. Ijab dan kabul, harus jelas dan beruntun tidak berselang waktu. Kabul di ucapkan oleh calon mempelai pria secara pribadi.

Adapula syarat sah menurut hukum adat, syarat sah menurut hukum adat tentunya berbeda dibeberapa daerah Indonesia, tergantung pada agama yang dianut oleh masyarakat

34 adat sehingga jika telah memenuhi sayarat atau tata tertib dalam agama maka dapat dikatakan sah menurut hukum adat, untuk tata cara adat dan upacara perkawinan menjadi pelengkap dalam perkawinan adat yang dilakukan disetiap daerah untuk masuk kedalam suatu sistem kekerabatan adat.

4. Kawin Lari

Kawin lari atau melarikan adalah bentuk perkawinan yang tidak didasarkan atas persetujuan lamaran orang tua, tetapi berdasarkan kemauan sepihak atau kemauan kedua pihak yang bersangkutan. Kawin lari menurut adat adalah pelarian gadis oleh bujang ke rumah kepala adat melalui musyawarah adat antara kepala adat dengan kedua orang tua bujang dan gadis sehingga diambil kesepakatan dan persetujuan antara kedua orang tua tersebut. Kawin lari dapat juga berarti perkawinan tanpa acara pelamaran dan masa pertunangan.

Namun dari apa yang dituliskan oleh Hilman Hadikusuma bahwa sesungguhnya perkawinan lari bukanlah bentuk perkawinan melainkan merupakan sistem pelamaran oleh karena dari kejadian perkawinan lari itu dapat berlaku bentuk

35 perkawinan jujur, semenda atau bebas/mandiri tergantung pada keadaan dan perundingan kedua pihak.36

Kawin lari terdapat sistem yang dibedakan atas perkawinan lari bersama dengan perkawinan lari paksa, perkawinan lari bersama adalah perbuatan berlarian untuk melaksanakan perkawinan atas persetujuan gadis dengan masksud bahwa laki-laki dan perempuan sepakat untuk melakukan kawin lari baik pada waktu yang telah ditentukan atau secara diam-diam gadis diambil dari kerabat, atau gadis datang sendiri ke tempat kediaman laki-laki. Sedangkan perkawinan lari paksa ada unsur muslihat untuk melakukan kawin lari dengan paksaan atau kekerasan dengan tidak disetujui oleh gadis serta tidak menurut tata tertib adat berlarian.37

Terjadinya kawin lari pasti memiliki latar belakang yang membuat hal itu terjadi yang mana Hilman Hadikusuma berpendapat latar belakang itu dikarenakan:

1) Syarat-syarat pembayaran, pembiayaan dan upacara perkawinan yang diminta pihak perempuan tidak dapat dipenuhi pihak laki-laki;

36 Hilman Hadikusuma, Loc.Cit, hlm. 189.

37 Dewi Wulansari, Op.Cit, hlm 48.

36 2) Perempuan belum diijinkan oleh orang tuanya untuk bersuami tetapi dikarenakan keadaan perempuan bertindak sendiri.

3) Orang tua akan keluarga perempuan menolak lamaran pihak laki-laki, lalu perempuan bertindak sendiri;

4) Perempuan yang telah bertunangan dengan seorang pemuda yang tidak disukai oleh si perempuan;

5) Perempuan dan laki-laki telah berbuat yang bertentangan dengan hak adat dan hukum agama (perempuan sudah hamil, dan lain-lain).38

Kawin lari atau lari bini (mariage by running) or (wife abduction) ditemukan kebanyakan dalam persekutuan yang bersifat Patrilineal (menurut garis keturunan bapak) walaupun dalam bentuk persekutuan lain dalam prakteknya juga ada.39 Daerah-daerah yang mengenal kawin lari yaitu Lampung, Kalimantan, Bali, Lampung, Sulawesi Selatan, Lombok, Sumatera Utara dan Sumatera Barat (suku Batak), dan Ambon.

38 Sudarman, Tesis: “Pelaksanaan Kawin Lari Sebagai Alternatif Untuk Menerobos Ketidak setujuan Orang Tua Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan”, (Semarang: UNDIP, 2009), hlm. 5.

39 Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia (Dalam Kajian Kepustakaan), Alfa Beta, Bandung, 2009, hlm. 246.

Dokumen terkait