TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN, JUAL BELI ONLINE,DAN BPSK
2.2. Tinjauan Umum Tentang Jual Beli Online (E-Commerce)
2.2.2. Syarat Sah Perjanjian Jual Beli Online (E-Commerce)
Perjanjian yang sah artinya suatu perjanjian yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Undang-Undang, sehingga ia diakui oleh hukum.
Tentang syarat-syarat untuk sahnya perjanjian, dalam pasal 1320 KUH Perdata telah ditentukan empat syarat sahnya suatu perjanjian, yaitu :
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.
2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian.
3. Mengenai suatu hal tertentu.
4. Suatu sebab yang halal.
Ad. 1 Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
35Ibid
Sepakat maksudnya adalah adanya kesepakatan atau persesuaian kemauan masing-masing pihak yang membuat perjanjian mengenai hal-hal pokok dari perjanjian yang diadakan itu. Apa yang dikehendaki oleh pihak satu juga dikehendaki oleh pihak yang lain. Mereka menghendaki sesuatu yang sama-sama secara timbal balik.
Menurut Abdulkadir Muhammad bahwa “persetujuan kehendak itu sifatnya bebas, artinya betul-betul atas kemauan sukarela pihak-pihak, tidak ada paksaan sama sekali dari pihak manapun”.36Dalam pengertian persetujuan kehendak itu juga tidak ada kekhilafan dan tidak ada penipuan (pasal 1321-1328 KUH Perdata), bahwa tidak ada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan.
Menurut Subekti mengemukakan ajaran yang lazim dianut sekarang,
“bahwa perjanjian harus dianggap lahir pada saat pihak yang melakukan penawaran yang menerima jawaban yang termaktub dalam surat tersebut, sebab detik itulah dapat dianggap sebagai lahirnya kesepakatan”.37
Dalam hal perjanjian jual beli online, para pihak dalam perjanjian tersebut harus bersepakat mengenai apa yang diperjanjikan atau disetujui mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian yang dibuat, dan apa yang dikehendaki oleh para pihak lainnya. Jadi, kedua belah pihak menghendaki sesuatu secara timbal balik, dimana pihak penjual (pengirim) menghendaki agar barang dagangan online nya laris terjual, dikirim dengan aman dan selamat sampai ketempat tujuan. Sedangkan
36Abdulkadir Muhammad, 1982, Hukum Perikatan, Alumni Bandung, Cet. I (selanjutnya disingkat Abdulkadir Muhammad I), hal. 89
37Subekti II, Op. Cit, hal. 28
pihak pembeli (penerima) menghendaki barang yang ingin dibelinya secara online, barang yang dibeli datang tepat pada waktunya dan sesuai dengan pesanan pada saat membeli online.
Ad. 2 Cakap untuk membuat suatu perjanjian
Pada umumnya dikatakan cakap melakukan perbuatan hukum apabila sudah dewasa artinya sudah mencapai umur 21 tahun dan belum berumur 21 tahun atau belum berumur 21 tahun tetapi sudah pernah kawin. Sedangkan dalam pasal 1230 KUH Perdata dikatakan bahwa yang tidak cakap membuat perjanjian adalah orang yang belum dewasa, orang yang dibawah pengampunan dan wanita yang bersuami. Mereka ini apabila melakukan perbuatan hukum harus diwakili oleh mereka dan bagi istri setelah mendapat ijin dari suaminya.
Dalam hubungan dengan membuat suatu perjanjian, menurut R. Setiawan mengemukakan bahwa, seorang dikatakan cakap apabila berdasarkan ketentuan Undang-Undang ia dianggap mampu membuat sendiri perjanjian dengan akibat hukum yang sempurna.38
Memanglah sangat perlu bahwa setiap orang yang membuat suatu perjanjian, orang-orang tersebut haruslah benar-benar menginsafi akan tanggung jawab yang akan dipikul dari perbuatannya. Dan karena setiap orang yang membuat perjanjian itu berarti akan mempertaruhkan harta kekayaannya, maka orang tersebut haruslah setiap orang yang sungguh-sungguh berhak bebas untuk berbuat sesuatu dengan kekayaan atau merupakan pemiliknya yang sah.
38R. Setiawan, 1986, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Cet. III, Binacipta, Bandung, hal. 61.
ad. 3 Mengenai suatu hal tertentu
Suatu hal tertentu merupakan pokok perjanjian yang harus dipenuhi sebagai syarat ketiga sahnya suatu perjanjian yang telah ditentukan oleh Undang-Undang. Menurut pendapat Abdulkadir Muhammad bahwa : “Suatu hal tertentu merupakan prestasi yang perlu dipenuhi dalam suatu perjanjian. Prestasi itu harus tertentu atau sekurang-kurangnya dapat ditentukan. Apa yang diperjanjikan harus cukup jelas, ditentukan jenisnya, jumlahnya boleh tidak disebutkan asal dapat dihitung atau ditetapkan.”39
Memang syarat suatu hal tertentu itu ditentukan dalam pasal 1333 KUHPer, yang menyebutkan sebagai berikut : Suatu persetujuan harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya, tidaklah halangan bahwa jumlah barang tidak tentu asal jumlahnya itu kemudian dapat ditentukan atau dihitung.
Dalam mengadakan suatu perjanjian jual beli online haruslah suatu hal tertentu artinya barang yang diperjanjikan dalam perjanjian tesrsebut dapat ditentukan jenisnya. Hal ini nantinya akan mempunyai hubungan dengan hak-hak dan kewajiban serta tanggung jawab dari para pihak dan lebih memudahkan bagi para pihak yang mempunyai kepentingan untuk menuntut haknya terhadap lawannya, bila timbul suatu perselisihan.
Demikian pula dengan perjanjian jual beli online di dunia maya, mengenai syarat suatu hal tertentu yang terdapat pada perjanjian pada umumnya juga sangat
39Abdulkadir Muhammad I, Op. Cit, hal. 93.
diperlukan, yaitu bahwa yang dimaksudkan dalam perjanjian tersebut paling tidak atau paling sedikit harus dapat ditentukan jenisnya, yang kemudian dapat dihitung atau ditetapkan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa suatu hal tertentu, sebagai syarat sahnya suatu perjanjian pada umunya dan perjanjian jual beli online di masyarakat pada khususnya haruslah menyangkut dari pada isi perjanjian, jenis serta jumlah barangnya yang dipesan dapat ditentukan atau ditetapkan.
ad. 4 Suatu sebab yang halal
Syarat ini merupakan tujuan dari perjanjian tersebut. Dalam Pasal 1337 KUH Perdata ditentukan bahwa, suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh Undang-Undang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum. Menurut Abdulkadir Muhammad mengemukakan bahwa isi perjanjian disini pada dasarnya adalah ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang telah diperjanjikan oleh pihak-pihak.40
Jadi, padadasarnyasyaratsahnyaperjanjianjualbeliyaknisudahtertuang di dalamPasal1320KUHPer,hal inijugadapatmenjadiacuansyaratsahnya suatuperjanjianjualbelimelaluie-commerce.Karena e-commercejuga merupakan kegiatan jualbeliyang perbedaanyadilakukanmelalui mediaonline.
Hanyasajadalamjualbeli melaluie-commercedilakukanmelalui mediainternet yangbisamempercepat dan mempermudahtransaksijualbelitersebut.Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentangInformasi dan Transaksi
40Abdulkadir Muhammad I, op. cit, hal. 125
Elektronik (selanjutnya disingkat UU ITE) jugatelah menambahkan beberapapersyaratan lain, yaitu :
a. Ketentuan mengenai Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagai alat bukti yang sah, perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia, dan sahnya suatu informasi elektronik. (Pasal 5).
b. Ketentuanmengenaiwaktupengiriman danpenerimaan informasi dan/atau Transaksi Elekstronik. (Pasal8).
c. Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan. (Pasal 9).
d. Ketentuan mengenai persyaratan Tanda Tangan Elektronik agar memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah. (Pasal 11 ayat 1). Ketentuan lebih lanjut tentang Tanda Tangan Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (Pasal 11 ayat 2).
e. Menggunakan Sistem Elektronik yang andal
dan aman serta bertanggung jawab.(Pasal15).
f. Beritikad baik. (Pasal17 ayat2).
g. Transaksi Elektronik yang dituangkan ke
dalam Kontrak Elektronik mengikat para pihak. (Pasal 18).
Perjanjiane-commerce adalah perjanjian yang di dalamnya terdapatprosespenawarandanprosesjenis barangyangdibelimakatransaksiantara
penjual(seller)denganpembeli(buyer) selesai.Penjualmenerimapersetujuanjenis barangyangdipilihdanpembeli
menerimakonfirmasibahwapesananataupilihanbarang telahdiketahuioleh penjual.
Setelah penjual menerimakonfirmasibahwapembeli telah membayar harga barang yang dipesan, selanjutnya penjual akan melanjutkan atau mengirimkan konfirmasikepadaperusahaan jasapengiriman untuk mengirimkan barangyang dipesankealamatpembeli. Setelahsemuaprosesterlewati,dimana adaprosespenawaran, pembayaran,danpenyerahanbarang makaperjanjian tersebutdikatakan selesaiseluruhnya atauperjanjian tersebutberakhir.
2.2.3. Tanggung jawabPara PihakdalamJualBeliOnline (E-Commerce) Transaksie-commercedilakukanolehpihakyang terkait,walaupunpihak-pihaknya tidak bertemu secaralangsung satu samalain melainkan berhubungan melalui media internet.Dalame-commerce,pihak-pihakyang terkaittersebut antaralain:
a. Penjualataumerchantyangmenawarkansebuahprodukmelaluiinternet sebagaipelaku usaha.
b. Pembeli yaitu setiap orang tidak dilarang oleh undang-undang yang menerima penawarandaripenjualataupelaku usaha dan berkeinginan malakukan transaksi jualbeliproduk yang ditawarkan oleh penjual.
c. Banksebagaipihakpenyalurdanadaripembeliataukonsumenkepadapenjualatau pelaku usaha/merchant, karena transaksi jualbelidilakukan secara elektronik,penjualdan pembelitidakberhadapan langsung,sebab
merekaberadapada lokasiyang berbedasehinggapembayarandapat dilakukanmelaluiperantaradalamhaliniyaitu Bank.
d. Provider sebagaipenyedia jasa layanan aksesinternet.
Padadasarnyapihak-pihakdalamjualbelisecaraelektroniktersebutdi atas, masing-masing memilikihak dan kewajiban, penjual/pelaku usaha/merchant merupakan pihakyang menawarkanprodukmelalui internet,olehkarena itu penjualbertanggung jawabmemberikan secarabenardanjujur atasprodukyang ditawarkan kepadapembeliatau konsumen.
Di samping itu, penjual juga harus menawarkan produk yang diperkenankanolehundang-undang maksudnyabarangyang ditawarkantersebut bukan barang yangbertentangan dengan peraturan perundang-undangan,
tidak rusakatau mengandung cacat
tersembunyidansesuaidenganpesanan,sehingga barangyang ditawarkanadalahbarangyang layakuntukdiperjualbelikan.
Penjualjugabertanggung jawabataspengirimanprodukatau jasayang telahdibeliolehseorang konsumen.Dengandemikian,transaksijualbeli termaksudtidakmenimbulkankerugian bagisiappunyang membelinya.Disisi lain, seseorang penjual ataupelakuusahamemilikihakuntuk mendapatkan pembayarandaripembeli/konsumenatashargabarangyang di jualnyadanjugaberhak untuk mendapatkan perlindungan atas tindakan pembeli/konsumenyang beritikadtidak baikdalammelaksanakantransaksijual beli elektronik ini.
Jadi,pembeliberkewajiban untuk membayarsejumlahharga atasproduk atau jasa yang telah dipesannyapadapenjual tersebut.
Bank sebagaiperantaradalam transaksi jualbelisecara elektronik, berkewajibandanbertanggungjawabsebagaipenyalur danaatas pembayaran suatu produk daripembelikepadapenjualproduk itu karena mungkin saja pembeli/konsumenyang berkeinginanmembeliprodukdaripenjualmelalui internetyang letaknyaberadasaling berjauhansehinggapembelitermaksudharus menggunakan fasilitas Bank untuk melakukan pembayaran atas harga produk yang telahdibelinyadaripenjual,misalnyadenganprosespertransferandari rekeningpembelikepadarekeningpenjual(acount to acount).
Provider merupakan pihak lain dalam transaksi jualbelisecaraelektronik, dalamhaliniprovidermemilikikewajiban atautanggung jawabuntuk menyediakanlayananakses 24jamkepadacalonpembeliuntukdapatmelakukan transaksi jualbelisecaraelektronik melaluimedia internetdenganpenjualanyang menawarkanproduklewatinternet tersebut,dalamhal initerdapatkerjasama antarapenjual/pelaku usahadengan provider dalam menjalankan usahamelalui internetini.Transaksijualbelisecaraelektronikmerupakanhubunganhukum yang dilakukandenganmamadukan jaringan(network) darisistemyang informasi berbasiscomputerdengansistemkomunikasiyang berdasarkanjaringandanjasa telekomunikasi.
TerkaitdenganhaltersebutdiatasPasal 12Ayat(3)Undang-undangITE menjelaskanbahwa“Setiap Orangyang MelakukanPelanggaranKetentuan SebagaimanayangdimaksudPadaAyat1bertanggung jawab atas segalakerugian dan konsekuensihukumyang timbul”. Artinyaparapihak bertanggung jawab atas segalakerugianyangtimbulakibat pelanggaranyangdilakukanterhadap pemberian
pengamanan dalamperjanjian jualbelionline.
2.2.4. Jenis–Jenis Transaksi Jual Beli Online (E-Commerce) Secara umum, ada tiga tipe penjualan melalui internet. Yaitu :
1. Pertama, situs Toko Online. Situs ini menyediakan multiproduk layaknya supermarket di dunia maya. Masuk dalam kategori ini, antara lain, Lazada.com, Blibli.com, dll atau bisa juga hanya menjual produk spesialis seperti paket wisata, tiket, dll.
2. Kedua, situs Pasar Online. Situs ini memungkinkan penjual dan pembeli bertemu di internet. Yang masuk kategori situs pasar online, antara lain, kaskus.com, OLX.co.id, berniaga.com, dll.
3. Ketiga, Pasar Media Sosial. Jual beli ini memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Twitter, dll sebagai sarana. Bbm Group juga termasuk kategori ini.