• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVESTOR

B. Syarat-Syarat Perjanjian Transaksi Repurchase Agreement

Dalam transaksi Repo terdapat ketentuan-ketentuan yang disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat. Instrumen yang terlibat dalam transaksi Repo antara lain:

49 Peraturan KSEI butir 2.6 No. V-G tentang Pelaporan dan Penyelesaian Transaksi Repo

1. Penjual atau seller (pihak yang butuh dana)

2. Pembeli atau Buyer (pihak yang meminjamkan dana)

3. Nilai transaksi repo atau nilai valuta (jumlah uang yang akan dipinjamkan) 4. Instrumen Efek (yang dijamin, bisa berupa Surat Utang Negara, Obligasi,

atau Saham)

5. Bunga atau Nilai Investasi (besarnya „imbalan‟ bagi pihak yang menjaminkan dana)

Dari segi waktu jatuh tempo, Repo terbagi atas 3 jenis, yaitu:

1. Overnight (jatuh tempo dalam satu hari)

2. Term (jatuh tempo dalam kurun waktu tertentu) 3. Open Repo (tidak ditentukan waktu jatuh temponya)

Yang paling umum adalah Overnight (hanya satu hari) dan Term Repo, dengan tanggal jatuh tempo yang telah ditentukan dan disepakati kedua belah pihak dalam transaksi Repo.

Dari segi transaksi, terdapat 2 metode yang bisa digunakan, yaitu:

1. Classic Repo yaitu transaksi Repo tanpa terjadi kepindahan kepemilikan efek, efek tetap berada di pihak penjual. Efek tersebut tidak dapat dijual sebelum transaksi repo tersebut jatuh tempo

2. Sell/Buy back Repo yaitu transaksi Repo yang melibatkan transfer efek dan dana antara pihak pihak penjual dan pihak pembeli.

Dalam transaksi sell/buy back Repo, terdapat dua kali proses pemidahbukuan.

Yang dimaksud dua kali pemindahbukuan ialah pialang investor penjual bertransaksi Repo dengan pialang investor pembeli, maka tanggal penyelesaian

pertama (biasa disebut 1st leg) terjadi perpindahan efek dari rekening efek investor penjual ke investor pembeli yang diikuti pula dengan perpindahan dana dari rekening dana investor pembeli ke investor penjual. Sedangkan pada tanggal penyelesaian kedua (biasa disebut 2nd leg yang juga merupakan jatuh tempo Repo), jumlah dan instrument efek yang sama akan berpindah dari investor pembeli ke investor penjual yang diikuti pula dengan perpindahan dana sesuai dengan kesepakatan dari investor penjual ke investor pembeli.

Dalam pelaksanaan transaksi repo, terdapat beberapa issue atau kendala yang dihadapi oleh para pihak, antaranya adalah:

a. Dari aspek akuntansi, pedoman standar akuntansi hanya mengakomodir pencatatan transaksi Repo dengan model Classic Repo, dimana asset tetap dicatatkan sebagai milik pihak penjual (seller). Sedangkan berdasarkan sell/but back Repo, sebenarnya terjadi peralihan kepemilikan asset kepada pihak pembeli (buyer)

b. Dari aspek hukum, apabila terdapat sengketa antara pihak yang bertransaksi, ada resiko bahwa pengadilan akan mengategorikan transaksi sell/buy back Repo sebagai transaksipinjam meminjam dengan jaminan (collateralized borrowing)

c. Dari aspek perpajakan, terdapat potensi pengenaan pajak berganda (dua kali), yaitu pada saat 1st leg dan pada 2nd leg transaksi, karena seolah-olah transaksi tersebut dilakukan dua kali padahal transaksi ini merupakan satu rangkaian transaksi Repo.

C. Penyelesaian Transaksi Repurchase Agreement Apabila Terjadi Gagal Serah

Pada prinsipnya para pihak yang melakukan kontrak wajib melaksanakan kewajiban yang timbul dari kontrak yang dibuat tersebut. Namun ada kalanya dalam pelaksanaan suatu kontrak salah satu pihak dalam kontrak melakukan wanprestasi atau tidak dapat melaksanakan prestasinya. Unsur-unsur dari wanprestasi adalah sama sekali tidak melaksanakan prestasi, keliru berprestasi, atau terlambat berprestasi.50

Menurut pasal 1243 KUHPerdata yang berbunyi :

“Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap Ialai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.

Berdasarkan hal di atas maka unsur-unsur wanprestasi yaitu : 1) Ada perjanjian oleh para pihak;

2) Ada pihak melanggar atau tidak melaksanakan isi perjanjian yang sudah disepakati;

3) Sudah dinyatakan lalai tapi tetap juga tidak mau melaksanakan isi perjanjian.

Oleh karena itu berdasarkan pada unsur-unsur wanprestasi tersebut, maka pihak penjual atau pembeli dalam transaksi repo saham dapat dikatakan telah wanprestasi apabila pihak penjual atau pembeli sama sekali tidak berprestasi, keliru berprestasi, atau terlambat berprestasi baik pada saat tanggal pembelian maupun pada saat pembelian kembali yang ditetapkan. Pada prinsipnya, pihak

50 Ridwan Khairandy, Op. Cit, hlm. 280.

penjual atau pembeli dalam transaksi repo saham dapat dikatakan telah wanprestasi apabila pihak penjual atau pembeli tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana yang ditetapkan dalam kontrak, dan tidak terlaksanakannya kewajiban tersebut disebabkan oleh kesalahannya. Sanksi yang dapat dikenakan akibat wanprestasi dalam KUHPerdata ada empat macam, yaitu:51

1. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau dengan singkat dinamakan ganti-rugi

2. Pembatalan perjanjian atau juga dinamakan pemecahan perjanjian 3. Peralihan resiko

Membayar kerugian atau ganti rugi dirincikan dalam tiga unsur: biaya, rugi dan bunga

a. Biaya adalah segala pengeluaran atau perongkosan yang nyata-nyata sudah dikeluarkan oleh salah satu pihak

b. Rugi adalah kerugian karena kerusakan barang-barang kepunyaan kreditur yang diakibatan oleh kelalaian si debitur.

c. Bunga adalah kerugian yang berupa kehilangan keuntungan yang sudah dibayangkan atau dihitung oleh kreditur.

Pembatalan perjanjian bertujuan membawa kedua belah pihak kembali pada keadaan sebelum perjanjan diadakan. Dikatakan bahwa pembatalan itu berlaku surut sampai pada detik dilahirkannya perjanjian. Kalau suatu pihak sudah menerima sesuatu dari pihak yang lain, baik uang maupun barang, maka itu harus dikembalikan. Pokoknya, perjanjian itu ditiadakan. Pembatalan perjanjian karena

51 Akibat Hukum Bila Seseorang Ingkar Janji Atau Wanprestasi?, dalam

https://konsultanhukum.web.id/akibat-hukum-bila-seseorang-ingkar-janji-atau-wanprestasi/, diakses 7 Maret 2019

kelalaian debitur diatur dalam pasal 1266 KUHPerdata yang mengatur mengenai perikatan bersyarat, yang berbunyi:

“ syarat batal dianggap selamanya dicantumkan dalam perjanjian-perjanjian timbal balik, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal demikian perjanjian tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada hakim. Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban itu dinyatakan dalam perjanjian. Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam perjanjian, maka hakim dengan melihat keadaan atas permintaan tergugat, untuk memberikan jangka waktu guna kesempatan memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana tidak boleh lebih dari satu bulan”.

Peralihan resiko sebagai sanksi ketiga atas kelalaian seseorang debitur disebutkan dalam pasal 1237 KUHPerdata. Yang dimaksudkan dengan “resiko”

adalah kewajiban untuk memikul kerugian jika terjadi suatu peristiwa diluar kesalahan salah satu pihak, yang menimpa barang yang menjadi objek perjanjian.

Pasal 3 ayat (3) POJK Repo menentukan bahwa, dalam hal terjadinya persitiwa kegagalan (event of default) dalam transaksi repo, para pihak wajib menyelesaikan kewajibannya sesuai tata cara penyelesaian peristiwa kegagalan serta hak dan kewajiban yang mengikutinya sebagaimana dimuat dalam perjanjian transaksi repo. Menurut pejelasan Pasal 3 ayat (3) POJK Repo, yang dimaksud dengan “peristiwa kegagalan” termasuk tetapi tidak terbatas pada:

a. Kegagalan memenuhi kewajibannya terkait dengan transaksi repo

b. Lembaga Jasa Keuangan dalam kondisi dibekukan sementara kegiatan usahanya (suspensi)

c. Pernyataan yang dibuat penjual atau pembeli salah atau tidak benar secara material pada saat diberikan atau ditegaskan kembali, dan pihak yang tidak

wanprestasi (non-defaulting party) mengirimkan pemberitahuan kegagalan pada pihak yang wanprestasi (defaulting party);

d. Para pihak dalam transaksi repo dalam kondisi pailit.

Mendasarkan pada uraian diatas, maka kejadian-keajadian dalam penjelasan Pasal 3 ayat (3) POJK Repo yang dikatagorikan “peristiwa kegagalan” terdiri dari kejadian wanprestasi dan kejadian-kejadian diluar wanprestasi. Kejadian sebagaimana tertuang dalam pasal 3 ayat (3) POJK Repo yang termasuk kejadian wanprestasi adalah pada point huruf a yaitu, kegagalan memenuhi kewajibannya terkait dengan transaksi Repo. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya pihak penjual dan pembeli dalam transaksi Repo saham dapat dikatakan telah wanprestasi apabila pihak penjual atau pembeli tidak melaksankan kewajibannya sebagaimana ditetapkan dalam kontrak. Sedangkan point b, c, d merupakan kejadian diluar wanprestasi. Namun demikian, kejadian-kejadian tersebut pada prinsipnya disepakati oleh para pihak dalam kontrak memiliki akibat yang sama yaitu berpontensi membuat pihak yang mengalaminya tidak mampu untuk melaksanakan kewajibannya dalam kontrak.

Dalam transaksi Repo Otoritas jasa keuangan berwenang mengenakan sanksi administratif terhadap setiap pihak yang melakukan pelanggaran ketentuan POJK ini, termasuk pihak-pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut terdapat sanksi yang terdapat dalam Pasal 11 POJK Nomor 9/POJK.04/2015 berupa:

a. Peringatan tertulis;

b. Denda yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu;

c. Pembatasan kegiatan usaha;

d. Pembekuan kegiatan usaha;

e. Pencabutan izin usaha;

f. Pembatalan persetujuan; dan g. Pembatalan pendaftaran.

D. Perlindungan Hukum Terhadap Investor Dalam Transaksi Repurchase Agreement Apabila Terjadi Gagal Serah

Dalam Transaksi Repo saham, prestasi yang wajib dilaksanakan pembeli adalah membayar harga saham pada saat tanggal pembelian yang telah ditetapkan, dan menyerahkan kembali saham yang sama pada saat tanggal pembelian kembali yang telah ditetapkan. Namun demikian, pada saat penyelesaian transaksi kedua yaitu pada tanggal jatuh tempo pembelian kembali, pembeli tidak dapat melaksanakan prestasi yang seharusnya wajib ditunaikan. Prestasi yang dimaksud adalah pada tanggal pembelian kembali yang telah ditetapkan, pembeli tidak dapat menyerahkan kembali saham yang saham kepada pihak penjual, atau yang disebut gagal serah saham. Secara umum, gagal serah dalam suatu transaksi ialah tidak terpenuhnya sebagian atau seluruhnya kewajiban investor pembeli untuk menyerahkan efek tertentu dalam rangka penyelesaian transaksi efek. Dalam beberapa kasus, karena diterbitkan nya POJK yang mana mengatur transaksi Repo harus menyebabkan perubahan kepemilikan maka investor pembeli sebagai pembeli yang baru beranggapan mempunyai hak untuk menjual sahamnya kepada pihak lain selain pemilik pertama. Hal ini akan menimbulkan Repo berantai dan

meningkatkan resiko penjual tidak dapat membeli kembali saham yang telah diperjanjikan. Oleh sebab itu perlindungan hukum secara preventif dapat dilakukan adalah pengaturan tentang sistem lock-up terhadap saham jaminan, atau perlu ada klausula dalam transaksi Repo saham yang melarang pembeli saham menjual saham kepada pihak lain sebelum seluruh perjanjian selesai.52 Solusi ini lebih memberikan keadilan kepada penjual, terutama mendapatkan manfaat berupa kemungkinan sahamnya kembali. Perlindungan represif yang dapat dilakukan dalam hal investor pembeli tidak dapat menyerahkan saham kepada pihak investor penjual, investor penjual dapat melakukan upaya hukum yaitu meminta ganti rugi. Berkaitan ganti rugi, pasal 3 ayat (3) POJK Repo menentukan bahwa, dalam hal terjadi peristiwa kegagalan (event of default) para pihak wajib menyelesaiakan kewajibannya sesuai dengan tata cara penyelesaian peristiwa kegagalan serta hak dan kewajiban yang mengikutinya sebagaimana dimuat dalam perjanjian transaksi Repo. Menurut penjelasan pasal 3 ayat (3) POJK Repo, kewajiban yang dimaksud dalam ketentuan pasal tersebut salah satunya kewajiban untuk membayar denda kegagalan menyelesaian transaksi. Denda pada dasarnya merupakan salah satu bentuk hukuman yang dapat disepakati oleh para pihak sebagai sanksi apabila terjadi pelanggaran terhadap kontrak. Dengan kata lain, para pihak dalam suatu perjanjian dapat membuat suatu kesepakatan bahwa, apabila salah satu pihak melakukan wanprestasi, maka pihak tersebut diwajibkan untuk membayar sejumlah denda yang telah disepakati.

52 Transaksi Repo Berkembang, Perlindungan Investor Perlu Diperkuat, dalam http://m.hukumonline.com/berita/baca/transaksi-repo-berkembang-perlindungan-investor-perlu-diperkuat, diakses 7 maret 2019

Dalam transaksi Repo pialang bertindak sebagai perantara investor dalam transaksi di bursa efek. Berdasarkan ketentuan dalam POJK Repo, apabila perusahaan efek (pialang) melakukan transaksi Repo saham untuk kepentingan investor penjual, maka pialang yang bersangkutan bertindak sebagai agen investor penjual. Dalam kegiatan perdagangan pada umumnya, agen (pialang) dapat didefinisikan sebagai orang yang diberikan kuasa oleh investor penjual untuk mengadakan perjanjian dengan pihak lain untuk atas nama investor penjual dengan mendapatkan imbalan jasa.

Pasal 6 ayat (1) huruf b POJK Repo menentukan bahwa pialang yang melakukan transaksi Repo wajib terlebih dahulu memenuhi beberapa ketentuan yaitu, mempunyai pegawai yang memiliki pengetahuan dan pengalaman kerja yang memadai dalam transaksi Repo serta memahami peraturan terkait transaksi Repo. Selain itu, pialang sebelum melakukan transaksi Repo juga memiliki kewajiban untuk memastikan adanya efek dan/atau dana untuk penyelesaian transaksi Repo. Sebagaimana dijelaskan di awal bahwa dalam pelaksanaan transaksi Repo saham terjadi dua kali proses penyelesaian yaitu, penyelesaian transaksi pertama pada tanggal pembelian dan penyelesaian transaksi kedua pada tanggal pembelian kembali yang telah ditetapkan. Dengan adanya kewajiban tersebut, maka pialang sebagai agen investor penjual memiliki kewajiban untuk memastikan adanya efek yang akan diserahkan pada tanggal pembelian kembali yang telah ditetapkan dari pembeli kepada penjual. Adapun kewajiban lain yang harus dipenuhi oleh pialang sebelum transaksi Repo adalah pialang tersebut

memiliki majemen resiko dalam menangani resiko yang timbul dari transaksi Repo.

Dalam hal bertindak sebagai agen, POJK Repo menentukan secara khusus bahwa, pialang yang melakukan transaksi Repo memiliki kewajiban untuk membuat laporan secara berkala sebagaimana disepakati dalam perjanjian kepada nasabah yang memuat informasi atas transaksi Repo yang dilakukan atas nama investor penjual. Dengan demikian, pialang investor penjual dalam transaksi Repo saham memiliki kewajiban untuk memantau dan melaporkan kepada pihak investor penjual terkait dengan informasi, termasuk informasi mengenai saham yang menjadi objek dalam transaksi Repo saham selama jangka waktu pelaksanaan transaksi Repo saham. Hal tersebut bertujuan agar saham yang menjadi objek transaksi Repo saham tetap aman dan dapat diserahkan kembali kepada pihak penjual pada tanggal pembelian kembali yang telah ditetapkan.

Pialang investor penjual harus bertindak hati-hati dalam mengambil setiap tindakan dalam rangka melakukan transaksi Repo saham, dengan tujuan untuk menghindari atau berusaha meminimalisir terjadinya event of default termasuk gagal serah saham pada tanggal pembelian kembali yang menimbulkan kerugian bagi pihak investor penjual.

Kesalahan yang dilakukan oleh pialang investor penjual akibat ketidak hati-hatinya berakibat fatal bagi investor penjual, perlindungan hukum yang dapat dilakukan untuk investor penjual ialah menuntut ganti rugi yang diderita investor penjual kepada pialang tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka investor penjual yang mengalami kerugian akibat terjadinya gagal serah saham dapat menuntut

ganti rugi kepada pialang apabila gagal serah saham tersebut terjadi karena pialang tersebut lalai dalam melaksanakan kewajibannya.

Dengan demikian hukum positif yang ada di Indonesia terkhususnya POJK Repo pada saat ini belum mampu sepenuhnya melindungi investor dalam transaksi Repo khususnya dalam hal terjadi gagal serah yang mana investor pembeli tidak dapat mengembalikan saham yang direpokan.

AGREEMENT YANG GAGAL SERAH A. Kasus Posisi

1. Kronologis

Dalam perkara ini, pembanding (semula tergugat), Goldman Sachs International yang diwakili melalui kantor perwakilan utamanya di Indonesia, dahulu beralamat di PT. Goldman Sachs Indonesia Securites berkedudukan di Jakarta dengan alamat di Equity Tower lantai 40, Suite D, jalan Jend. Sudirman Kav. 52-53, SCBD Lot 9, Jakarta Selatan, dalam hal ini diwakili kuasa hukumnya Harjon Sinaga SH dan kawan-kawan, Para Advokat pada kantor hukum Lubis Ganie Surowidjojo beralamat di menara Imperium Lantai 30 Jalan HR Rasuna Said Kav. 1 Kuningan, Jakarta 12980 berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 31 Januari 2018, selanjutnya disebut Pembanding semula Tergugat.

Adapun Terbanding (semula penggugat) adalah Benny Tjokrosaputro berkedudukan di Patra Kuningan XI Nomor 2, RT/RW 006/004, Kelurahan Kuningan Timur , Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan dalam hal ini diwakili oleh kuasa hukumnya kepada R. Primaditya Wirasandi, SH, Andi Samsyurizal Nurhadi, SH, Atikah Kurniadi, SH dan David Pardomuan Sinaga, SH Para Avokat pada law Firm Lucas & Partners, beralamat di gedung Sahid Sudirman Center Lt.

55 Jalan Sudirman Nomor 86 RT 10/RW. 11 Karet Tengsin Tanah Abang Jakarta Pusat 10220, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 14 desember 2017,

selanjutnya disebutkan Terbanding semula Penggugat, Citibank, N.A. (Bank Kustodian), berkedudukan di Jakarta beralamat di gedung South Quarter, Tower B Lantai 3, jalan R.A. Kartini Kav. 8, Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430, dalam hal ini diwaliki kuasa hukumnya Ondi A.P Manurung, SH Advokat berkantor di Law Offices Manulang & Co, Eighty Eight @ Kasablanka Offices Tower A Lantai 7 Jalan Kasablanka Raya Kav. 88 – Jakarta 12870, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 27 Nopember 2017, selanjutnya disebutkan Terbanding semula Turut Tergugat I dan PT. Ficomindo Buana registrar (Biro Administrasi Efek) berkedudukan di Jakarta, beralamat di Mayapada Tower lantai 10, Suite 02 B, Jalan Jend. Sudirman Kav. 28, Jakarta 12920, selanjutnya disebutkan Terbanding semula Turut Tergugat II. Adapun Terbanding semula penggugat telah mengajukan gugatan terhadap Pembanding semula Tergugat, Terbanding semula Tergugat I dan Terbanding semula Tergugat II di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Pada tanggal 30 Agustus 2016, Terbanding semula Penggugat mengetahui/menemukan berdasarkan informasi dari Turut Tergugat II melalui surat Nomor 284/MYRX-FBR/VIII/16 bahwa 425.000.000 saham setelah stock split berubah menjadi 2.125.000.000 telah beralih kepemilikannya kepihak Pembanding semula Tergugat. Atas dasar temuan tersebut, Terbanding semula Penggugat mengajukan gugatan dengan surat gugatan tanggal 8 September 2016 yang telah diterima dan didaftarkan pada kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan memohon kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan c.q Majelis Hakim pemeriksa perkara selama masih dalam proses pemeriksaan

memerintahkan Pembanding semula Tergugat, Tergugat I dan Tergugat II untuk menghentikan dan tidak melanjutkan segala macam transaksi dan/atau pencatatan peralihan atas saham-saham PT. Hanson International Tbk.

Terbanding semula Penggugat merasa keberatan atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Pembanding semula Tergugat dikarena Pembanding mengaku-aku memiliki dan menjual saham-saham PT. Hanson International Tbk tanpa sepengetahuan dari Terbanding. Berdasarkan bukti fotocopy sesuai dengan aslinya milik Terbanding semula Penggugat dan bukti fotocopy sesuai dengan aslinya milik Pembanding semula Tergugat bahwa Terbanding semula Penggugat adalah pemilik saham PT.Hanson International, Tbk telah melakukan perjanjian jual beli dengan hak membeli kembali saham PT.Hanson International, Tbk dengan pihak Platinum dan Pembanding semula Tergugat membeli saham PT.Hanson Internasional, Tbk dengan Platinum dan menjual saham-saham tersebut kepada pihak ketiga.

Terbanding semula Penggugat melakukan jual beli dengan hak membeli kembali saham PT.Hanson International melalui Newrick Holding dengan Platinum pada tanggal 20 Agustus 2014, pada tanggal 8 september 2014 Terbanding semula Penggugat meminta pembelian kembali saham yang telah jualnya. Sedangkan Pembanding semula Tergugat melakukan transaksi jual beli saham PT.Hanson Internasional, Tbk dengan Platinum pada tanggal 27 Februari 2015 dan melakukan penjualan saham PT.Hanson Internasional Tbk. kepada pihak ketiga pada tanggal 2 Mei 2016

Berdasarkan hal tersebut, Terbanding semula Penggugat tidak pernah memiliki hubungan hukum dengan Pembanding semula Tergugat, tidak ada transaksi jual beli, tidak ada pembayaran, tidak ada transfer dana dan/atau pengalihan dalam bentuk apapun dengan Pembanding semula Tergugat terkait saham-saham PT.Hanson Internasional Tbk. milik Terbanding semula Penggugat kepada Pembanding semula Tergugat tersebut, sehingga tidak mungkin apabila saham-saham PT. Hanson Internasional Tbk. tersebut kemudian berpindah kepemilikannya ke Pembanding semula Tergugat.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, terbukti bahwa Terbanding semula Penggugat selaku pemilik atas saham-saham PT.Hanson Internasional Tbk., tidak pernah melakukan transaksi dan/atau menandatangani perjanjian dan/atau melakukan kesepakatan dengan Pembanding semula Tergugat untuk mengalihkan dan/atau menjual saham-saham PT.Hanson Internasional Tbk milik Terbanding semula Penggugat tersebut, sehingga tindakan Pembanding semula Tergugat yang mengaku-aku sebagai pemilik atas saham-saham PT.Hanson Internasional Tbk dan menjual saham milik Terbanding semula Penggugat tersebut jelas-jelas dilakukan secara tanpa hak.

B. Penerapan Hukum Oleh Majelis Hakim Dalam Putusan Nomor 314/PDT/2018/PT.DKI

1. Pertimbahan Hukum Majelis Hakim

Mencermati waktu saat penjatuhan putusan perkara para pihak oleh Majelis Hakim tingkat pertama pada tanggal 21 November 2017 dan waktu ketika Pembanding semula Tergugat mengajukan permohonan banding pada tanggal 24

November 2017 dan Terbanding semula Penggugat mengajukan permohonan banding pada tanggal 4 Desember 2017 dan Terbanding semula Turut Tergugat I mengajukan permohonan banding pada tanggal 30 November 2017 dan mencermati pula segala formalitas mengenai pemberitahuan serta penyerahan memori banding dan kontra memori banding dan pemberitahuan-pemberitahuan lainnya berkenaan dengan adanya permohonan banding tersebut maka permohonan banding tersebut telah diajukan dalam tenggang waktu dan menurut tatacara serta memenuhi syarat yang ditentukan undang-undang, oleh karna itu dapat diterima.

Adapun memori banding dan kontra memori yang diajukan oleh Pembanding semula Tergugat pada pokoknya mengemukakan hal-hal sebagai berikut :

a. Bahwa pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama yang menerima fotocopy sebagai bukti tertulis tidak dibenarkan menurut hukum pembuktian ; b. Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah bertindak sewenang-wenang,

seharusnya menolak gugatan seluruhnya karena Terbanding semula Penggugat tidak memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan gugatan ;

c. Bahwa tidak ada bukti yang mendukung pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama tentang Terbanding semula Penggugat telah menjual saham PT.Hanson Internasional Tbk kepada Platinum dan Majelis Hakim Tingkat Pertama telah salah memutuskan bahwa Platinum tidak punya hak untuk menjual saham tersebut ;

d. Bahwa pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama yang menyatakan Pembanding semula Tergugat melakukan perbuatan melawan hukum adalah tidak logis dan mengabaikan fakta dimana Pembanding semula Tergugat mematuhi ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku ; e. Bahwa Pembanding semula Tergugat tidak pernah merugikan siapapun,

kerugian yang dialami Newrick dikarena oleh kelalaian diri sendiri ;

kerugian yang dialami Newrick dikarena oleh kelalaian diri sendiri ;

Dokumen terkait