• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hari

ke- Jenis Kemasan Waktu

Responden (ORLEP terhadap Keseluruhan)

rataan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 Plastik PE A 5 4 5 4 5 5 4 4 4 4 4.4 Keranjang Bambu A 4 5 4 5 4 5 5 4 4 5 4.5 Plastik PE B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Keranjang Bambu B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 Plastik PE A 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Keranjang Bambu A 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3.5 Plastik PE B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Keranjang Bambu B 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3.3 2 Plastik PE A 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3.9 Keranjang Bambu A 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3.5 Plastik PE B 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3.9 Keranjang Bambu B 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3.4 3 Plastik PE A 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3.8 Keranjang Bambu A 3 4 3 3 3 3 4 4 3 4 3.4 Plastik PE B 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 3.8 Keranjang Bambu B 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 3.3 4 Plastik PE A 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3.7 Keranjang Bambu A 3 4 3 3 3 3 4 4 3 4 3.4 Plastik PE B 3 4 4 4 3 4 3 3 4 4 3.6 Keranjang Bambu B 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 3.3 5 Plastik PE A 4 3 4 4 3 3 3 3 4 4 3.5 Keranjang Bambu A 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3.3 Plastik PE B 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3.5 Keranjang Bambu B 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3.2 6 Plastik PE A 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 2.7 Keranjang Bambu A 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 2.7 Plastik PE B 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2.8 Keranjang Bambu B 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2.7 7 Plastik PE A 2 1 3 3 2 1 2 2 3 3 2.2 Keranjang Bambu A 1 2 1 2 3 1 1 2 3 2 1.8 Plastik PE B 2 2 1 3 2 3 1 3 2 3 2.2 Keranjang Bambu B 2 2 2 3 1 3 1 3 1 1 1.9

PERUBAHAN MUTU FISIK MENTIMUN (Cucumis sativus L.)PADA

KEMASAN PLASTIK POLIETILEN DAN KERANJANG BAMBU DALAM

TRANSPORTASI DARAT

SKRIPSI

Oleh:

SUHERMAN

F14070003

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

CUCUMBER ( Cucumis sativus L. ) PHYSICAL QUALITY CHANGE IN LAND TRANSPORTATION AND PACKAGING TYPE

Suherman dan Usman Ahmad

Departement of Mechanical and Biosystem Engineering, Faculty of Agricultural Technology, Bogor Agricultural University, IPB Darmaga Campus, PO BOX 220, Bogor, West Java, Indonesia

Phone +62 085 693 994 567, e-mail: [email protected]

ABSTRACT

Transport model and selection on packaging type in land transportation of cucumber determine the level of mechanical damage which can degrade the quality of cucumber. Mechanical damage on cucumber grouped into wound scratch, wound rupture, bruising, and wound crack. Mechanical damage will affect the physical quality of cucumber. The objective of this research is to determine effect of some packaging types on cucumber physical quality change (polyethylene plastic and bamboo baskets). The observations were conducted based on the physical quality parameters such as mechanical damage, weight loss, color, hardness, and organoleptic tests. Simulations was performed using a simulator table for 2 hours and 3 hours with an amplitude of 2.5 cm and frequency of 2.75 Hz. Physical qualiy parameter of cucumber were observed before and after simulation. Polyethylene packaging showed better results in cucumber fruit packaging, with less mechanical damage (28.48% and 32.64%), weight loss (10:07% and 10.62%) and general acceptance of cucumber by the panelists after transport with a score of 3.5.

SUHERMAN. F14070003. Perubahan Mutu Fisik Mentimun (Cucumis sativus L.)Pada Kemasan Plastik Polietilen dan Keranjang Bambu dalam Transportasi Darat. Dibimbing oleh Usman Ahmad. 2011.

RINGKASAN

Model pengangkutan dan pemilihan jenis kemasan dalam transportasi mentimun menetukan tingkat kerusakan mekanis yang dapat menurunkan mutu mentimun. Kerusakan mekanis itu sendiri terjadi karena getaran dan goncangan tumpukan dalam kemasan. Kerusakan mekanis pada buah mentimun dikelompokan menjadi luka gores, luka pecah, luka memar, dan luka retak. Akibat dari kerusakan mekanis tersebut akan mempengaruhi kualitas mutu fisik buah mentimun.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis kemasan terhadap penurunan mutu fisik mentimun, jenis kerusakan mekanis buah mentimun dan menentukan kemasan yang sesuai dalam transportasi darat. Bahan yang digunakan untuk penelitian adalah mentimun lokal umur petik 36-40 hari, plastik polietilen dan keranjang bambu. Peralatan yang digunakan adalah meja simulator untuk simulasi transportasi. Timbangan metler, rheometer, dan chromameter. Buah mentimun dibersihkan dan disortasi sebelum di kemas dengan plastik polietilen dan keranjang bambu. Simulasi dilakukan dengan meja simulator selama 2 jam dan 3 jam dengan amplitudo 2.5 cm dan frekuensi 2.75 Hz. Buah mentimun diamati parameter mutu fisik sebelum dan sesudah simulasi.

Pengamatan dilakukan terhadap parameter mutu fisik mentimun seperti kerusakan mekanis, berat (susut bobot), warna, kekerasan, dan uji organoleptik. Kerusakan mekanis terbesar dialami oleh buah mentimun yang dikemas dengan menggunakan keranjang bambu yaitu sebesar 32.64 % dan 52.13 % untuk waktu simulasi 2 jam dan 3 jam simulasi, dibanding kerusakan mekanis pada kemasan polietilen yaitu 28.48 % dan 32.64 %. Susut bobot terbesar dialami oleh buah mentimun yang dikemas dengan menggunakan keranjang bambu untuk lama simulasi selama 2 jam dan 3 jam yaitu sebesar 11% dan 13.42%, Sedangkan susut bobot untuk buah mentimun yang dikemas dengan menggunakan plastik polietilen adalah sebesar 10.07% dan 10.62%. Pada lama simulasi 2 jam penurunan kekerasan produk sebesar 0.4 kgf (kemasan polietilen) dan 0.37 kgf (kemasan keranjang bambu). Sedangkan nilai kekerasan produk pada lama simulasi 3 jam sebesar 0.42 kgf (kemasan polietilen) dan 0.56 kgf (kemasan keranjang). Perubahan TPT tidak terlalu besar, mentimun dapat digolongkan sebagai buah yang mempunyai kandungan karbohidrat dan pati yang rendah yang praktis perubahan keduanya hampir tidak ada sesudah dipanen. Untuk nilai L warna mentimun berubah menjadi lebih cerah dari warna sebelum transportasi yang agak putih redup karena warna hijau masih ada di bagian tengah dan ujung buah mentimun. Nilai a buah mentimun semakin kehilangan warna hijaunya. Untuk nilai b warna mentimun setelah transportasi berubah dari hijau menjadi warna kuning

Dari uji organoleptik terhadap aroma buah mentimun yang dikemas dengan plastik polietilen dan keranjang bambu dapat diterima oleh responden, karena nilai rata-rata penilaian ≥ γ.5. Dari uji organoleptik terhadap kekerasan buah mentimun hanya ada satu perlakuan yang tidak diterima yaitu buah mentimun yang dikemas dengan keranjang bambu dan digetarkan selama 3 jam dengan nilai 3.4. Untuk warna buah mentimun responden hanya menerima perubahan warna pada perlakuan pengemasan mentimun dengan menggunakan plastik polietilen dan lama simulasi selama 2 jam. Dari hasil uji organoleptik buah mentimun terhadap rasa responden lebih menerima buah mentimun yang dikemas dengan menggunakan keranjang bambu dengan skor 3.5. Untuk penerimaan buah mentimun secara umum responden lebih menyukai buah mentimun yang dikemas dengan menggunakan plastik polietilen, karena nilai penerimaan responden terhadap penerimaan umum konsumen sebesar 3.5. kemasan polietilen lebih baik dalam mengemas buah mentimun selama 2 jam simulasi yaitu dengan

nilai indeks sifat berbobot ( ) 85.4γγ lebih besar dari nilai indeks sifat berbobot ( ) kemasan

keranjang bambu sebesar 84.267. Sedangkan untuk lama simulasi 3 jam kemasan plastik polietilen

masih lebih baik dari pada keranjang bambu dengan nilai sebesar 8γ.γγγ sedangkan untuk nilai

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan penghasil komoditass hortikultura yang potensial. Buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan produk hortikultura yang memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga bisa memenuhi permintaan pasar dalam negeri dan luar negeri baik dari segi kualitas/mutu maupun produktivitasnya.

Mentimun merupakan salah satu sayuran yang banyak dikonsumsi segar oleh masyarakat Indonesia. Mentimun juga sangat berkhasiat untuk kesehatan, dapat dibuat minuman dalam bentuk jus berkhasiat untuk kesehatan kulit. Mentimun kaya akan sumber mineral, vitamin, dan harganya terjangkau oleh semua kalangan. Oleh karena itu permintaan akan buah mentimun semakin meningkat. Keadaan seperti itu harus diikuti dengan peningkatan kualitas buah mentimun, peningkatan produksi, serta pengembangan usaha tani yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan petani mentimun itu sendiri.

Luas areal lahan mentimun di Indonesia dari tahun 2006 sampai 2010 adalah 58.647 ha, 56.634 ha, 55.795 ha, 56.099 ha, dan 56.902 ha. Dengan presentasi pertumbuhan sebanyak 1.43% (2009-2010). Produktivitas buah mentimun pada tahun 2008 mencapai 540122 ton sedangkan tahun 2009 mencapai 583641 ton dengan pertumbuhan 7.96 % (2008-2009) (Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura).

Dalam penaganan pasca panen, pengangkutan/pendistribusian merupakan bagian yang sangat penting. Kerusakan mekanis yang terjadi selama transportasi di Indonesia berkisar antara 1.57%- 37.05%. Kerusakan yang tinggi tersebut disebabkan oleh kerusakan fisiologis, kerusakan fisik karena pemuatan dan pembongkaran yang kurang hati-hati, penggunaan wadah yang tidak sesuai, kondisi pengangkutan yang kurang memadai dan terjadinya keterlambatan pada jalur pengangkutan (Anwar, 2005). Kerusakan ini diakibatkan oleh benturan (shock), getaran (vibration)selama transportasi, beban tekanan yang dialami buah (stress),varietas, tingkat kematangan, bobot dan ukuran buah, karakteristik kulit, serta kondisi lingkungan (Kays, 1991).

Pengangkutan mentimun dari kebun ke pasar bisa mengunakan berbagai macam jenis kemasan untuk transportasi, seperti peti kayu, karung berjaring, kardus karton, kantong plastik dan keranjang bambu. Tetapi dari hasil pengamatan langsung di beberapa pasar Kota Bogor, untuk mentimun varietas lokal biasanya dikemas dengan menggunakan kemasan plastik seperti polietilen, polipropilen, karung plastik dan kemasan bersifat kaku seperti keranjang bambu.

Kesalahan pengangkutan dan pemilihan jenis kemasan dalam transportasi mentimun dapat menyebabkan kerusakan mekanis yang dapat menurunkan mutu mentimun. Sementara itu konsumen menginginkan buah yang dibeli masih dalam keadaan segar dan tidak rusak. Maka diperlukan pengemasan yang benar, baik dalam pemilihan jenis kemasan dan penyusunan mentimun itu sendiri di dalam kemasan. Penyusunan mentimun di dalam kemasan juga harus diperhatikan karena kerusakan mekanis yang terjadi ketika transportasi akan semakin meningkat jika penyusunan buah mentimun di dalam kemasan kurang tepat. Dalam masalah ini perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui seberapa baik kemasan untuk transportasi buah mentimun yang pada umumnya digunakan untuk mengemas buah mentimun, yaitu plastik polietilen dan keranjang bambu. Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh kedua kemasan tersebut terhadap mutu fisik buah mentimun setelah mengalami

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mempelajari pengaruh kemasan polietilen dan keranjang bambu terhadap penurunan mutu fisik mentimun dalam transportasi darat.

2. Mengetahui kerusakan mekanis pada mentimun setelah transportasi darat pada kemasan plastik polietilen dan keranjang bambu

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Buah Mentimun

Mentimun, timun, atau ketimun (Cucumis sativusL.; suku labu-labuan atau Cucurbitaceae) merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah yang dapat dimakan secara langsung ataupun diolah terlebuh dahulu. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia dan memiliki kandungan air yang cukup banyak di dalamnya sehingga dapat menyejukan ketika dimakan.

Mentimun dapat tumbuh dengan baik dan mampu beradaptasi di hampir semua jenis tanah, kemasaman tanah yang optimal adalah 5.5 - 6.5. Tanah yang banyak mengandung air merupakan jenis tanah yang baik untuk penanaman mentimun. Jenis tanah yang cocok diantaranya adalah aluvial, latosol, dan andosol. Untuk tumbuh dengan baik mentimun menginginkan suhu 18-30 0C. Namun, untuk perkecambahan biji suhu optimal antara 25-30 0C. Cahaya merupakan faktor yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman mentimun. Penyerapan unsur hara akan berlangsung dengan optimal jika pencahayaan berlangsung antara 8-12 jam/hari. Kelembaban relatif udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun untuk pertumbuhannya antara 50-85%. Curah hujan 200-400 mm/bulan, curah hujan yang tinggi tidak baik karena curah hujan yang tinggi akan banyak menggugurkan bunga (Sumpena, 2007).

Perakaran mentimun memiliki akar tunggang dan bulu-bulu akar, tetapi daya tembusnya relatif dangkal, pada kedalaman 30-60 cm. Oleh karena itu, tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air (Rukmana, 1994).

Biji bah mentimun bentuknya pipih, kulitnya berwarna putih atau putih kekuning-kuningan sampai cokelat. Biji ini dapat digunakan sebagai perbanyakan tanaman (Rukmana, 1994).

Buah mentimun siap dipetik setelah ditanam sekitar 34 hari. Ukuran buah yang ideal dengan panjang 20-25 cm diameter 4 cm. Kadang-kadang pasar menyukai ukuran tertentu (lebih besar atau lebih kecil). Pemetikan dapat dilakukan 2-3 hari sekali (Tanindo, 2006). Untuk kandungan dan komposisi gizi buah mentimun tiap 100 gram dapat dilihat pada Tabel 1, sedangkan taksonomi buah mentimun sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkepingdua/dikotil) Sub kelas : Dilleniidae

Ordo : Violales

Famili : Cucurbitaceae (sukulabu-labuan)

Genus : Cucumis

Spesies : Cucumis sativus L (Sharma, 2002)

Tabel 1. Kandungan dan komposisi gizi buah mentimun tiap 100 g bahan (Sumpena, 2007).

B. Pengemasan

Pengemasan buah atau sayuran adalah meletakan buah dan sayuran ke dalam suatu wadah yang cocok dengan lingkungan yang mampu mendukung aktivitas buah tersebut setelah dipanen sehingga dapat di minimalisir kerusakan mekanis, fisiologis, kimiawi, maupun biologi selama transportasi dan penyimpanan sebelum sampai ke tangan konsumen.

Menurut Satuhu (2004), bahan dan bentuk kemasan secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Kemasan langsung, yaitu kemasan utama yang langsung berhubungan dengan buah yang dikemas, bahan pengemas utama bisa berupa karung, plastik, kertas atau daun.

2. Kemasan tidak langsung, yaitu kemasan kedua dari buah yang tidak bersentuhan langsung. Bahan pengemas jenis ini dapat terbuat dari peti kayu, peti plastik, peti karton dan keranjang bambu.

Perancangan kemasan selama pengangkutan ditujukan untuk meredam goncangan dalam perjalanan yang mengakibatkan kememaran dan penurunan kekerasan hasil hortikultura. Faktor yang perlu diperhatikan meliputi kemasan, jenis, sifat, tekstur dan dimensi bahan kemasan; komoditas yang diangkut, sifat fisik, bentuk, ukuran, struktur dan pola susunan biaya pengangkutan dibandingkan dengan harga komoditas, permintaan waktu, jarak dan keadaan jalan yang dilintasi (Purwadaria, 1998).

Persyaratan kemasan yang baik adalah seperti dibawah ini (Paine dan Paine, 1983): 1. Sesuai dengan produk yang akan dikemas

2. Harus terjamin sanitasi dan kebersihan kemasan

3. Mempunyai kekuatan yang cukup untuk bertahan dan segala resiko selama pengangkutan 4. Terbuat dari bahan yang kuat dan ringan

5. Terbuat dari bahan yang murah dan mudah untuk didapatkan di daerah penghasil

Kapasitas kemasan ditentukan berdasarkan sistem penanganan yang akan digunakan pada transportasi. Menurut Peleg (1985), kapasitas kemasan untuk penanganan sesuai kemampuan manusia (suitable for carrying man) adalah 15 – 30 kilogram dan sekitar 200 – 500 kilogram untuk sistem penanganan mesin (suitable for forklift handling).

Kandungan Gizi Kadar

Energi (kal) 15 Protein (g) 0.8 Pati (g) 0.1 Karbohidrat (g) 3 Fosfor (mg) 30 Zat besi (mg) 0.5 Thianine (mg) 0.02 Ribovlafin (mg) 0.01 Vitamin A (S.I) 0.45 Vitamin B1 (mg) 0.3 Vitamin B2 (mg) 0.2 Asam (mg) 14

Komoditi hortikultura bersifat mudah rusak (perishable) dan masih melakukan metabolisme sebagai aktivitas hidup maka pemuatan produk dalam kemasan harus dilakukan secara efisien untuk menghindari kerusakan produk selama transportasi. Penggunaan 60 – 65% volume kemasan adalah penggunaan volume kemasan yang baik untuk mengurangi kerusakan produk karena masih tersedianya ruang dalam kemasan untuk pertukaran gas – gas yang dihasilkan dari proses metabolisme produk selama dikemas (Peleg, 1985).

Dari hasil studi lapang di beberapa pasar sekitar Bogor (Pasar Anyar dan Pasar Bogor), mentimun dikemas dengan menggunakan plastik polietilen, karung plastik dan keranjang bambu. Masing-masing dikemas antara 25-30 kg per kantung plastik polietilen dan polipropilen, sedangkan karung plastik dan keranjang bambu antara 30-40 kg per kemasan. Terdapat beberapa susunan dalam peletakan buah di dalam kemasan, yaitu secara acak dan tersusun secara horizontal.

C. Kemasan Plastik Polietilen dan Keranjang Bambu

Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplastis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air dan oksigen. Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan (Winarno, 1987). Ryall dan Lipton (1972) menambahkan bahwa plastik juga merupakan jenis kemasan yang dapat menarik selera konsumen. Polietilen merupakan film yang lunak, transparan dan fleksibel, mempunyai kekuatan benturan serta kekuatan sobek yang baik. Dengan pemanasan akan menjadi lunak dan mencair pada suhu 110 C. Berdasarkan sifat permeabilitasnya yang rendah serta sifat-sifat mekaniknya yang baik, polietilen mempunyai ketebalan 0.001 sampai 0.01 inchi, yang banyak digunakan sebagai pengemas makanan, karena sifatnya yang termoplastis, polietilen mudah dibuat kantung dengan derajat kerapatan yang baik (Sacharow dan Griffin, 1970).

Penggunaan keranjang bambu kurang efektif sebagai kemasan transportasi, karena penampang kemasan yang berbentuk lingkaran, daripada kemasan lain yang berpenampang segi empat seperti kayu dan kardus. Bentuk penampang beban tumpukan terutama bila diisi penuh (padat) sehingga buah juga akan menerima beban tumpukan tersebut.

Kemasan transportasi buah mentimun yang biasa digunakan di wilayah sekitar Bogor dan Cianjur adalah karung plastik (Gambar 1), plastik polietilen (Gambar 2), dan keranjang bambu (Gambar 3)

D. Transportasi

Pada umumnya pengangkutan mentimun dikemas ke dalam berbagai macam kemasan akan dikirim ke pasar induk atau diambil oleh penjual untuk pasar-pasar lokal dengan truk, pick up atau alat angkut lainnya. Pengangkutan mentimun terdiri dari dua macam yaitu jauh dan dekat. Pengangkutan dengan jarak lebih dari 200 km memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh. Penggunaan kemasan karung jala dan keranjang bambu dengan kapasitas 50-75 kg pada pengangkutan dengan jarak lebih dari 200 km akan mengalami kerusakan sampai 20%. Hasil penelitian para peneliti Pasca Panen Balithort menyatakan pada setiap tahap penanganan memerlukan waktu total sampai ke pedagang eceran bisa mencapai 36 jam dan terjadi kerusakan sebesar 25% (Sumpena, 2007).

Bahan hasil pertanian khususnya sayuran sangat mudah mengalami kerusakan. Salah satu masalah utama lepas panen adalah kerusakan mekanis yang diakibatkan oleh pengangkutan yang dapat terjadi karena adanya benturan antar produk di dalam kemasan, produk dengan kemasan karena bergesekan dan himpitan. Semakin lama pengangkutan atau semakin panjang jalan maka semakin tinggi tingkat kerusakan mekanis yang terjadi, sehingga perlu diperhatikan penggunaan jenis kemasan dan pengaturan umur petik buah jambu biji jika di transportasikan pada jarak yang jauh (Putu, 2006).

Goncangan yang terjadi selama pengangkutan baik di jalan raya maupun direl kereta api dapat mengakibatkan kememaran, susut berat dan memperpendek masa simpan. Hal ini dapat terjadi terutama pada pengangkutan buah-buahan dan sayur-sayuan yang dikemas. Meskipun kemasan dapat meredam efek goncangan, tetapi daya redamnya tergantung pada jenis kemasan serta tebal bahan kemasan, susunan komoditas di dalam kemasan dan susunan kemasan di dalam pengangkut (Purwadaria, 1992).

Menurut Satuhu (2004), perlakuan yang kurang sempurna selama pengangkutan dapat mengakibatkan jumlah kerusakan yang dialami oleh komoditi pada waktu sampai ditempat tujuan mencapai kurang dari 30-50%. Pada umumnya hambatan-hambatan yang menyebabkan penurunan mutu tersebut adalah kegiatan penanganan pasca panen yang tidak sempurna. Kegiatan pasca panen meliputi masalah tempat pengumpulan, grading dan sortasi, pengemasan, pengangkutan dan pemasaran.

Menurut Kitinoja dan Kader (2003), pada pengangkutan dengan kendaraan terbuka, tumpukan produk harus hati-hati disusun agar tidak menyebabkan kerusakan mekanis. Kendaraan dapat dilindungi dengan lapisan jerami atau karung sebagai penahan getaran pada kendaraan kecil. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pada kendaraan terbuka sedapat mungkin udara dapat melewati produk dengan baik. Kitinoja dan Gorny (1999), menyatakan pengiriman saat-saat lebih dingin (malam hari atau dini hari) dapat mengurangi panas pada produk sehingga dapat meminimalkan kerusakan.

Pantastico (1986), memberikan pertimbangan-pertimbangan dasar untuk pengangkutan jarak pendek dan jarak jauh sebagai berikut:

1. Pada pengangkutan dalam jarak pendek, komoditi harus dilindungi terhadap kerusakan mekanis dan kemungkinan suhu yang ekstrim.

2. Untuk pengankutan jarak jauh, ada resiko tambahan berupa kerusakan komoditi disebabkan oleh pemanasan yang berlebihan dan pelayuan, masuknya organisme pembusukan, kerusakan akibat pendinginan, pelunakan komoditi yang mengandung banyak air atau pematangan buah.

Menurut Hilton (1993), vibrasi dan benturan selama transportasi dapat diredam dengan menggunakan bantalan. Pada jenis kemasan yang terbuat dari kayu atau plastik (hard plastic),

kemasan bantalan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat meredam vibrasi dan benturan sekaligus dapat menjaga posisi buah tidak berubah di dalam wadah kemasan bantalan selama proses transportasi dan tidak menyentuh dasar kemasan primer.

Kerusakan memar banyak terjadi pada tomat selama transportasi dengan kemasan kotak karton dibandingkan kemasan peti kayu, hal ini dikarenakan peti kayu memiliki celah sirkulasi lebih banyak dibandingkan kotak karton. Penyusunan secara teratur dalam kemasan selama transportasi lebih baik dibandingkan dengan cara penyusunan tomat secara acak. Penyusunan tomat secara teratur dapat mengurangi kerusakan yang terjadi pada tomat baik memar, luka ataupun pecah karena isi kemasan tidak terlalu padat. Namun penyusunan secara teratur lebih membutuhkan waktu yang lebih banyak sehingga produk akan lebih lama sampai ke konsumen (Prajawati, 2006).

Daya tahan mentimun lokal untuk disimpan hanya 2-3 hari. Lebih lama dari itu mentimun akan layu dan keriput. Mentimun jepang yang dikemas tanpa menggunakan Modified Atmosferhanya bertahan selama 7 hari (Purwadaria, 1997). Mentimun pada suhu 75 0F selama 8 hari disimpan dengan kemasan yang dapat menahan air kehilangan bobot sebesar 6.1% (Pantastico, 1986). Mentimun akan tetap segar dalam waktu yang lama pada penyimpanan dalam suhu 12-14 0C, dalam kondisi seperti ini mentimun akan tahan sampai 14 hari (Sumpena, 2007).

E. Simulasi Transportasi Hasil Pertanian

Produk holtikultura seperti sayuran, buah-buahan dan bunga potong mudah sekali rusak setelah dipanen. Kerusakan ini dapat dipercepat oleh adanya luka dan memar. Untuk memperoleh gambaran data kerusakan mekanis yang diterima, maka ketika merancang alat simulasi pengangkutan disesuaikan dengan kondisi jalan dalam dan di luar kota.

Dasar yang membedakan jalan dalam kota dan luar kota adalah besar amplitudo yang terukur dalam suatu panjang jalan tertentu. Jalan dalam kota mempunyai amplitudo rendah jika dibandingkan dengan jalan luar kota. Frekuensi alat angkut yang tinggi bukan penyebab utama terhadap kerusakan pengangkutan, yang lebih berpengaruh adalah ampitudo jalan (Darmawati, 1994)

Untuk simulasi pengangkutan dengan truk maka goncangan yang dominan adalah goncangan pada arah vertikal, sedangkan pada kereta api adalah goncangan horizontal. Goncangan lain berupa puntiran dan bantingan diabaikan karena jumlah frekuensinya kecil sekali (Soedibyo, 1992).

Kusumah (2007), mengkaji pengaruh kemasan dan suhu terhadap mutu fisik mentimun selama transportasi. Kemasan yang digunakan adalah peti kayu, karung jaring dan karton. Simulasi simulasi dilakukan selama 3 jam dengan amplitudo 2.5 cm dan frekuensi 2.59 Hz. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa tingkat kerusakan mekani tertinggi dialami oleh mentimun dalam peti kayu dengan nilai kerusakan sebesar 40.915% dan yang terendah dialami oleh mentimun dalam kemasan kardus dengan nilai kerusakan sebesar 26.1%.

Pradnyawati (2006), menyatakan lamanya simulasi berpengaruh terhadap jumlah kerusakan pada jambu biji. Semakin lama waktu simulasi, maka semakin tinggi tingkat kerusakan mekanis yang terjadi. Pradnyawati (2006), telah melakukan penelitian mengenai pengaruh kemasan dan goncangan terhadap mutu fisik jambu biji selama transportasi. Jenis kemasan yang digunakan adalah keranjang

Dokumen terkait