BAB II FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI MENINGKATNYA
2.3 Macam Tindak Pidana Korupsi Yang Telah Ditangaani
2.3.1 Tabel Perkara
Bulan J umla m Per kara Ketera ngan
Apr il 3 Banding : Kasasi : 1 Inkraght : 2 Ma r et 4 Banding : 2 Kasasi : 1 Inkraght : 1 28 Ibid, hal - 81
Mei 12 Banding : 6 Kasasi : 2 Inkraght : 4 J uni 9 Banding : 8 Kasasi : Inkraght : 1 J uli 13 Banding : 7 Kasasi : 1 Inkraght : 5 Agustus 12 Banding : 6 Kasasi : 5 Inkraght : 1
50
PIDANA KORUPSI
Suatu system pemerintahan yang baik (good governance) merupakan idaman bagi setiap negara terutama masyarakat tang berkependudukan dalam negara tersebut. Oleh karena itu pemerintah sebagai penggerak atau pemimpin yang diaman mereka mewakili suatu golongan masyarakat dalam suatu negara harus lebih bekerja ekstra untuk dapat mewujudkan cita-cita rakyatnya, agar masyrakat tidak memandang pemerintah sebelah mata akan kepemimpinan serta kinerja-kinerja wakil rakyatnya yang kurang di mata masyarakat.
Jika mengambil contoh kinerja pemerintah adalah dalam upaya menciptakan negara yang bersih akan praktek-praktek korupsi. Upya peerintah tersebut sangat disorot oleh masyarakat pada umumnya, masyrakat sebagai rakyat indonesi sangat resah akan adnya praktek-praktek korupsi yang kerap dilakukan oleh pegwai negeri serta penyelenggara negara terlebih lagi mereka merupakan orang-orang yang telah dipercaya rakyat dalam meningkatkan perekonomian didalam suatu negara.
Telah banyak upaya-upaya yang dilakukan pemerintah dalam memberantas praktek-praktek haram tersebut, akan tetapi ketidak sadaran pelaku-pelaku korupsi akan hal yang telah dilakukannya terhadap
kelangsungan perekonomian suatu negara yang membuat usaha-usaha yang dilakukan pemerintah sampai saat ini terlihat kurang maksimal.
Pemerintah sendiri telah berusaha membentuk tim-tim pemberantas tindak pidana korupsi, dimana dalam hal ini tim atau komisi tersebut mempunyai tugas serta wewenang khusus dalam mengusut para pegawai negeri serta penyelenggara negara yang terkena perkara korupsi. Selain itu juga pemerintah telah membuat undang-undang khusus yang mengatur akan tindak pidana korupsi, selain itu telah adanya system peradilan khusus tindak pidana korupsi agar perkara atau tindak pidana korupsi yang telah mewabah di negara Indonesia lebih cepat ditangani di dalam pengadilan tindak pidana korupsi (TiPiKor).
Selain usaha-usaha pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi, sebenarnya peran serta masyarakat sangat perlu dalam usaha-usaha pemberantasan tindak pidana korupsi tersebut. Sebagaimana telah diatur dalam pasal 41 ayat (5) diaman dalam pasal ini bermaksud bahwa masyarakat juga mempunyai peran serta dalam usaha-usaha pemberantasan tindak pidana korupsi. Di dalam pasal 41 ayat (1) juga menyatakan sebagai berikut “Masyarakat dapat berperan serta membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi”.
3.1 Penerapan Hukum Ba gi Pelaku Kor upsi.
Jika seseorang telah melakukan perbuatan melawan hukum maka akan dijerat atau didakwa sesuai dengan tindakannya, maka dari itu setiap terdakwa kasus korupsi harus siap menanggung segala resiko dari hasil perbuatannya. Dimana perbuatan yang mereka lakukan telah merugikan keuangan atau perekonomian negara.
1. Jika pegawai swasta banyak di tindak dengan pasal 2 Undang-undang tindak pidana korupsi, jika pegawai negeri sipil dijerat dengan pasal 3 UU Tipikor. Serta berkasnya pun terpisah. Maka dari itu jika ada seorang Pegawai Negeri sipil (PNS) atau Pegawai swasta (PS) maka berkas mereka akan dipidahkan, dan seorang PS akan ditindak dengan pasal 2 dan PNS di tindak dengan pasal 3 Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas undang- undang No 31 Tahun 1999.
2. Jika pegawai swasta banyak di tindak dengan pasal 2 Undang-undang tindak pidana korupsi, jika pegawai negeri sipil dijerat dengan pasal 3 UU Tipikor. Serta berkasnya pun terpisah.29
29
Hasil wawancara dengan narasumber Gazalba Saleh selaku hakim Ad – Hoc Tipikor dan
3.2 Per timbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Hukuman.
Dalam setiap menangani suatu perkara baik itu perkara korupsi maupun perkara pidana pada umumnya, sorang hakim harus lah teliti dalam memutuskan suatu perkara, karena putusan seorang hakim akan berdampak serius tehadap hukuman yang akan dijalani oleh seorang terdakwa. Maka dari itu hakim dalam menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa khususnya dalam perkara korupsi harus menggunakan hati nurani mereka dan sesuai atas dakwaan yang didakwakan kepada terdakwa. Karena hakim bersifat independen dan tidak ada penekanan dari manapun.
Menurut narasumber yang penulis wawancarai bahwa, pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman terhadap seorang terdakwa antara lain adalah :
1. Memenuhi unsur atau tidak.
2. Motifnya sengaja atau tidak.
3. Jumlah kerugian negara yang timbulkan.
4. Siapa yang melakukan.
5. Apakah pernah terkait perkara yang sama.
6. Fakta-fakta yang terungkap di persidanagan.
8. saksi-saksi yang dapat memberatkan pelaku korupsi.30
Berdasarkan pasal 184 KUHAP telah dirumuskan 5 alat bukti yang
sah, yaitu : a) keterangan saksi. b) Keterangan ahli. c) Surat. d) Petunjuk. e) Keterangan terdakwa.
Kemudian dalam penahasan pembuktian dalam perkara tindak pidana korupsi, dimana alat bukti serta fakta-fakta dalam persidangan sebagai pertimbangan hakim memberikan putusan. Pengertian alat bukti sebagaimana dimaksud dalam pasal 184 KUHAP adalah sebagai berikut :
1) Keterangan saksi.
Penegertian dari keterangan saksi, dirumuskan dalam pasal 1 angka 27 KUHP, yang dimaksudkan dengan : “keterangan saksi” adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat
30
Hasil wawancara dengan narasumber Gazalba Saleh selaku hakim Ad – Hoc Tipikor dan
sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannyaitu”31
2) Keterangan Ahli.
Pengertian dari keterangan ahli telah dirumuskan dalam KUHAP, pasal 1 angka 28, yaitu : keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemerikasaan.32
3) Surat
Alat bukti surat berada dalam urutan ketiga dari alat bukti lain yang sah ditentukan sebagaimana ditentukan di dalam pasal 184 ayat (1) KUHAP. Apabila alat-alat bukti keterangan saksi dan keterangan ahli diberikan pengertiannya di dalam pasal 1 angka 27 dan 28 KUHAP, maka tidak demikian dengan alat bukti yang sah berupa surat. Kualifikasi dan klasifikasi alat bukti surat sebagaimana dimaksud di dalam pasal 184 yat (1) huruf c diatur dalam pasal 187 KUHAP, dengan mempersyaratkan bahwa surat-surat sebagai alat bukti yang sah harus dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah.33 4) Petunjuk.
Pengertian tentang petunjuk dalam pasal 188 ayat (1) KUHAP menentukan sebagai perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena penyesuaian, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.34
31
Ermansyah Djaja, Memberantas Korupsi Bersama KPK, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hal - 354
32 Ibid, hal - 371
33 Ibid, hal - 375
5) Keterangan Terdakwa
Didalam KUHAP terdapat dua pengertian tentang keterangan terdakwa, yaitu pengertian tentang terdakwa dan pengertian tentang keterangan terdakwa, pengertian tentang terdak wa dirumuskan dalam pasal 1 angka 15 KUHAP, dan pengertian tentang keterangan terdakwa dirumuskan dalam pasal 189 ayat (1) KUHAP.35
Berdasarkan hal tersebut maka pertimbangan hakim dalam memberikan sanksi bagi pelaku korupsi, di dapat dari fakta-fakta yang terdapat di persidangan atau dengan mendengarkan keterangan saksi. Keterangan saksi dalam hal tersebut mengandung Azas Unus testis Nullud Testis, dimana dalam suatu persidanagn satu orang saksi tidak dianggap saksi.
3.3 Macam Sanksi Yang Diber ikan Hakim Bagi Para Pelaku Tindak Pidana
Kor upsi.
Dalam suatu proses hukum pidana sanksi merupakan ganjaran atau suatu yang diterima oleh seorang pelaku atas suatu perbuatan yang melawan hukum yang dilakukannya. Banyak sekali macam dari sanksi dari yang teringan sampai dengan sanksi terberat yang di jatuhkan terhadap pelaku tindak pidana korupsi.
Menurut kamus hukum sanksi merupakan sanksi alamiah, pengertian dari sanksi alamiah adalah penderitaan atau kesenangan yang langsung muncul dari suatu peristiwa atau kejadian, terlepas dari faktor yang mungkin menyebabkan atau memberikan kontribusi pada terjadinya peristiwa tersebut.36
35 Ibid, hal - 378
36 Dzulkifli Umar&Utsman Handoyo, Kamus Hukum Indonesia & Internasional, Quantum
Penulis telah mewawancarai dua orang narasumber tentang macam sanksi bagi pelaku tindak pidana korupsi, sebagai berikut :
Menurut Narasumber yang penulis wawancarai, macam sanksi bagi pelaku tindak pidana korupsi adalah :
1) Kurungan.
2) Denda.
3) Membayar.
Akan tetapi harus di telaah dengan benar mana yang harus dikenakan(pasal 18 UU No.31 tahun 1999 Jo UU No.20 tahun 2001).
4) Teringan : Hukuman kurungan 1 tahun.
5) Terberat :Hukuman mati, akan tetapi jarang terjadi. Hukuman mati diberkan kepada pelaku korupsi yang melakukan suatu tindakan korupsi pada dana yang dibuat untuk bencana alam.37
37
Hasil wawancara dengan narasumber Gazalba Saleh selaku hakim Ad – Hoc Tipikor dan
Berdasarkan dari pembahasan sebelumnya, maka penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Sifat ketamakan dari seorang pelaku korupsi, dimana memikirkan dirinya sendiri demi kepentingannya sendiri dan kelompoknya. Rasa gengsi terhadap teman sesama pejabat seseorang melakukan korupsi agar mempunyai harta yang melimpah dan tidak dipandang sebelah mata oleh teman sesama pejabatnya. Kewenangan jabatan yang terlalu besar dan mempunyai dampak yang luas, sehingga dapat berpotensi menyalahgunakan wewenangnya dimana kewenangannya sangat bernilai ekonomis. Seseorang melakukan tindak pidana korupsi yaitu, antara lain lemahnya pendidikan agama dan etika, kurangnya sanksi yang keras, perubahan radikal dimana korupsi muncul menjadi penyakit tradisional, adanya pengaruh dari luar untuk dapat melakukan korupsi. 2. Pertimbangan hakim dalam memberikan sanksi bagi pelaku korupsi
sebagai upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. Dalam setiap menangani sebuah perkara hakim dalam memberikan sanksi bagi para pelaku korupsi harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu apakah suatu tindak pidana tersebut memenuhi unsur korupsi, apakah motif dalam melakukan korupsi tersebut secara sengaja atau tidak, berapa jumlah kerugian negara yang ditimbulkan, siapa yang melakukan, apakah
seorang pelaku tersebut pernah terkait dalam kasus korupsi. Di samping dari beberapa hal tersebut ada hal-hal lain yang perlu di perhatikan seorang hakim dalam menjatuhkan sanksi bagi pelaku korupsi antara lain keterangan saksi, keterangan ahli, surat-surat berharga yang berhubungan dengan perkara tersebut, petunjuk yang dapat membantu penyelidikan, keterangan terdakwa. Dari semua ini baru hakim dapat memberikan sanksi yang sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan oleh seorang terdakwa.
4.2 Sar an
1. Dalam upaya penerapan penegakan hukum perkara tindak pidana korupsi sebaiknya penegak hukum hakim khususnya, tidak memandang siapa saja yang melakukan tindak pidana korupsi tersebut, serta penjatuhan sanksi haruslah semaksimal mungkin agar para pelaku korupsi lain jerah untuk melakukan praktek haram tersebut.
2. Sebaiknya dalam perundang-undangan sanksi bagi pelaku korupsi yang pegawai negeri dan penyelenggara lainnya harus lebih berat dari pegawai swasta. Karen yang merugikan keuangan negara sedikit banyaknya adalah pegawai negeri dan penyelenggara negara.
3. Pemerintah harus lebih perhatian terhadap upaya-upaya pemberantasan yang sekarang sedang dilaksanakan, dikarenakan sebaik-baiknya sebuah pemerintah dalam menjalankan suatu roda perekonomian suatu negara dan system pemerintahan, akan tetapi angka korupsi di negara tersebut
masih tinggi system pemerintahan tersebut masih dipandang sebelah mata oleh masyarakatnya.
4. Agar masyarakat ikut berperan aktif dalam upaya pemberantasan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah, agar cepat melaporkan jika menemukan suatu hal yang ganjil dan berakibat korupsi.
2010.
Leden Marpaung, Tindak Pidana Korupsi, Djambatan, Jakarta, 2007, hal 5.
Suhandi Cahaya, Surachmin, Strategi dan Teknik Korupsi Mengetahui Untuk
Mencegah, Sinar Grafika, Jakarta, 2011.
Dzulkifli Umar, Utsman Handoyo, Kamus Hukum, Quantum Media Press, Surabaya, 2010.
Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi,Jilid Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2009. H. Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Sinar Grafika, 2009. Jurnal Artidjo Alkostar. Mengkritisi Fenomena Korupsi di Parlemen. 2008.
Michael R. Purba, Kamus Hukum Internasional dan Indonesia, Widyatamma, Jakarta, 2009.
R. Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia, Edisi Revisi, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2006.
R. Soesilo, KUHP serta Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal, Politeia, Bogor, 1973.
Redaksi Penerbit Asa Mandiri, KUHP & KUHAP, Asa Mandiri, Jakarta, 2005. Sam Santoso, Ferry Suswandi, Anton Muljono, The Art of Corruption, Jawa Pos
Press, Surabaya, 2003.
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta, 1986.
Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Asa Mandiri, Jakarta, 2010.