BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
5. Tabel volume lokal keruing ( Dipterocarpus spp.) di IUPHHK-HA
V = 0,0003631Dbh2,26
Keterangan:
Dbh = Diameter setinggi dada V = Volume pohon bebas cabang Dbh (cm) V (m³) Dbh (cm) V (m³) 10 0,0661 45 1,9783 11 0,0820 46 2,0790 12 0,0998 47 2,1826 13 0,1195 48 2,2889 14 0,1413 49 2,3981 15 0,1652 50 2,5101 16 0,1911 51 2,6250 17 0,2192 52 2,7428 18 0,2494 53 2,8635 19 0,2818 54 2,9870 20 0,3165 55 3,1135 21 0,3534 56 3,2429 22 0,3926 57 3,3752 23 0,4340 58 3,5105 24 0,4779 59 3,6488 25 0,5240 60 3,7901 26 0,5726 61 3,9343 27 0,6236 62 4,0816 28 0,6770 63 4,2319 29 0,7329 64 4,3852 30 0,7913 65 4,5416 31 0,8521 66 4,7011 32 0,9155 67 4,8636 33 0,9814 68 5,0292 34 1,0499 69 5,1979 35 1,1210 70 5,3697 36 1,1947 71 5,5446 37 1,2710 72 5,7227 38 1,3500 73 5,9039 39 1,4316 74 6,0882 40 1,5159 75 6,2757 41 1,6029 76 6,4664 42 1,6927 77 6,6603 43 1,7851 78 6,8574 44 1,8803 79 7,0577 Dbh (cm) V (m³) Dbh (cm) V (m³) 80 7,2612 87 8,7769 81 7,4680 88 9,0065 82 7,6780 89 9,2395 83 7,8912 84 8,1077 85 8,3275 86 8,5505
PARAKANTJA TIMBER, KALIMANTAN TENGAH
DWI OKI PRAMUDYA
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
DWI OKI PRAMUDYA. Penyusunan Tabel Volume Lokal Jenis Keruing (Dipterocarpus spp.) di IUPHHK-HA PT. Sarmiento Parakantja Timber, Kalimantan Tengah. Dibimbing oleh AHMAD HADJIB.
Agar kelestarian hutan dapat terjamin, perlu dilakukan rencana pengelolaan hutan yang baik, cermat dan informasi yang akurat serta dapat dipercaya. Informasi yang dibutuhkan salah satunya adalah data mengenai potensi tegakan. Pendugaan potensi tegakan hutan berkaitan dengan pendugaan volume kayunya. Untuk mengumpulkan informasi tersebut, maka perlu dilakukan kegiatan inventarisasi hutan.
Salah satu alat bantu untuk mempermudah dan mempercepat kegiatan iventarisasi hutan adalah tabel volume. Pendugaan volume pohon berdiri dengan tabel volume akan lebih efisien dan menghemat biaya dan waktu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyusun tabel volume lokal jenis keruing (Dipterocarpus spp.) pada areal IUPHHK-HA PT. Sarmiento Parakantja Timber, Kalimantan Tengah. Adapun tabel volume pohon yang dibuat adalah tabel volume lokal dengan diameter pohon setinggi dada (Dbh) sebagai peubah bebasnya.
Penyusunan tabel volume yang dilakukan menggunakan tiga model persamaan regresi dengan diameter sebagai peubah bebasnya. Model persamaan penduga volume terbaik dipilih dari ketiga model persamaan regresi tersebut berdasarkan kriteria uji statistik dalam penyusunan dan validasi model. Kriteria uji tersebut yaitu koefisien determinasi (R2), simpangan baku (s), analisis keragaman, bias, Simpangan Agregat (SA), Simpangan Rata-rata (SR), akar rata-rata kuadrat simpangan (RMSE), dan uji beda rata-rata khi-kuadrat (χ2). Berdasarkan kriteria tersebut, model persamaan penduga volume keruing (Dipterocarpus spp.) terbaik adalah model persamaan Berkout V = 0,0003631Dbh2,26 dengan nilai s = 0,059, R2 = 98,70%, Fhitung = 4875,51%, bias = 14,81%, SA = 0,03, SR = 11,04%, RMSE
= 19,12% dan χ2 = 1,37.
DWI OKI PRAMUDYA. The Local Tree Volume Table Constructions of the Keruing (Diperocarpus spp.) at IUPHHK-HA PT. Sarmiento Parakantja Timber, Central Kalimantan. Under supervision of AHMAD HADJIB.
In order for the forest sustainability can be ensured, need to do a good forest management plan, careful and accurate information and reliable. The information needed is data about the potential of forest stands. Potential prediction of forest stands are related to the timber volume prediction. To collect such information, then the forest inventory of activities needs to be done.
One of the tools to simplify and accelerate the activities of forest inventory is the volume table. Prediction tree stand volume by using the volume table will be more efficient and save costs and time. The purpose of this research is to develop a local volume table of keruing (Dipterocarpus spp.) in the area of IUPHHK-HA PT. Sarmiento Parakantja Timber, Central Kalimantan. The table volume made is table volume premises with diameter of trees as high as the chest (Dbh) as free variables.
The preparation of a volume table is done using three models a regression equation with a diameter as free variables. A model of an equation probe volume was selected from third best model the regression equation is based on criteria test statistics in the preparation and validation model. The test criteria, namely the coefficient of determination (R2), standard deviation (s), diversity analysis, refraction, aggregate deviation (SA), average deviation (SR), the Root Mean Square Error (RMSE), and mean difference test chi-squared (χ2). Based on these criteria, the model equations estimators keruing (Dipterocarpus spp.) is a model equation Berkout V = 0, 0003631Dbh2, 26 with the value s = 0,059, R2 = 98,70%,
Fhitung = 4875,51%, bias = 14,81%, SA = 0,03, SR = 11,04%, RMSE = 19,12,%
and χ2 = 1,37.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan merupakan sumber kekayaan alam yang sangat penting dan memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Manfaat hutan dapat dirasakan secara langsung (tangible) dan tidak langsung (intangible). Manfaat hutan yang dapat dirasakan secara langsung seperti hasil hutan berupa kayu dan non kayu (getah, rotan, tanaman obat, buah-buahan, dll), sedangkan manfaat hutan secara tidak langsung berupa jasa lingkungan seperti ekowisata, fungsi hidrologis, serta sebagai habitat makhluk hidup (flora dan fauna).
Seiring bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka permintaan kayu pun akan meningkat. Oleh karena itu, perlu dilakukan rencana pengelolaan hutan yang baik, cermat dan informasi yang akurat serta dapat dipercaya sehingga kelestarian hutan dapat terjamin walaupun digunakan secara terus-menerus. Informasi yang dibutuhkan salah satunya adalah data mengenai potensi tegakan hutan. Untuk mengumpulkan data dan informasi tersebut, maka perlu dilakukan kegiatan inventarisasi hutan.
Inventarisasi hutan merupakan kegiatan pengumpulan data dan informasi untuk menyajikan taksiran-taksiran potensi tegakan hutan. Pendugaan potensi tegakan hutan berkaitan dengan pendugaan volume kayunya. Dengan mengetahui potensi tegakan tersebut, maka dapat membantu kegiatan pengelolaan hutan dalam menduga potensi tegakan yang dapat diproduksi untuk memenuhi permintaan kayu di pasaran.
Permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan inventarisasi hutan di lapangan adalah pendugaan volume kayu berdiri yang cenderung menggunakan dimensi- dimensi pohon yang sulit dan tidak praktis diukur langsung di lapangan. Pendugaan volume pohon dengan peubah tinggi cukup sulit dilakukan di lapangan dan memakan banyak waktu serta biaya. Oleh karena itu, dibutuhkan alat-alat bantu untuk mempermudah dan mempercepat kegiatan inventarisasi tersebut dari segi biaya dan waktu, salah satunya dengan menggunakan tabel volume. Jenis tabel volume yang lebih praktis dan efisien digunakan adalah tabel volume lokal
karena hanya menggunakan satu peubah saja, yaitu diameter setinggi dada (Dbh) yang pengukurannya relatif mudah dilakukan di lapangan.
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan menyusun tabel volume lokal jenis keruing (Dipterocarpus spp.) pada areal IUPHHK-HA PT. Sarmiento Parakantja Timber, Kalimantan tengah.
1.3 Manfaat Penelitian
1. Menghasilkan tabel volume lokal jenis keruing (Dipterocarpus spp.) yang akan mempermudah dan mempercepat pelaksanaan kegiatan inventarisasi hutan di IUPHHK-HA PT. Sarmiento Parkantja Timber, Kalimantan Tengah.
2. Menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menenentukan target produksi dalam pengelolaan hutan alam pada PT. Sarmiento Parakantja Timber, Kalimantan Tengah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Inventarisasi Hutan
Menurut Dephut (1970), inventarisasi hutan adalah pengumpulan dan penyusunan data mengenai hutan dalam rangka pemanfaatan hutan bagi masyarakat secara lestari dan serba guna. Hush (1987) menyatakan bahwa, inventarisasi hutan lengkap dipandang dari segi penaksiran kayu harus berisi deskripsi areal berhutan serta pemilikannya, penaksiran volume pohon-pohon yang masih berdiri, dan penaksiran mengenai pengeluaran hasil.
2.2 Penentuan Volume Pohon
Menurut Husch (1963), volume adalah besaran tiga dimensi suatu benda yang dinyatakan dalam satuan kubik. Volume diperoleh dari hasil perkalian antara satuan dasar panjang, yaitu panjang, lebar dan tinggi.
Volume kayu atau pohon-pohon dalam tegakan hutan merupakan besaran yang tidak dapat ditentukan secara langsung di lapangan, melainkan dilakukan melalui komponen-komponen (peubah-peubah) yang menentukan besarnya volume kayu/pohon tersebut. Volume pohon dapat diperkirakan dari hubungan nyata antara pohon dan volume pohon tertentu. Diameter, tinggi dan faktor bentuk merupakan peubah tak bebas yang biasa digunakan untuk menentukan nilai-nilai dari peubah bebas volume pohon, hasil akhirnya digambarkan dalam suatu rumusan atau bentuk tabel (Husch et al. 2003).
Dephut (1992), menyatakan volume kayu dapat dibedakan menurut berbagai macam klasifikasi sortimen. Beberapa jenis volume kayu yang paling lazim dihitung berdasarkan bagian batang yang diukur sebagai dasar penaksiran adalah:
1. Volume tunggak: yaitu volume kayu yang terdiri atas akar dan pangkal pohon, sampai ketinggian (tunggak) tertentu. Tinggi tunggak ini bervariasi dari 0,1-0,5 m, tetapi sebagian besar diambil 0,3 m. Di daerah yang berbukit, tinggi tunggak dihitung sama dengan tinggi banir.
2. Volume kayu batang (Vst): yaitu volume kayu diatas tunggak sampai permukaan tajuk. Bagian pohon yang menyusun volume ini adalah batang pokok sampai percabangan pertama.
3. Volume kayu tebal (Vdk): yaitu volume kayu diatas tunggak sampai diameter dengan kulit termasuk 10 cm, termasuk batang pokok dan cabang- cabang besar.
4. Volume kayu pohon (Vbm): yaitu volume kayu semua bagian pohon, mulai dari volume tunggak sampai volume ranting (ujung pohon).
Untuk menentukan volume sortimen kayu sebagai bagian dari volume kayu/pohon, telah dikembangkan rumus-rumus matematik (Loestsch et al. 1973) sebagai berikut: Rumus Huber : V = g xm Rumus Smalian : V = ( 1 2) 2 g g x Rumus Newton : V = ( 1 4 2) 6 m g g g x Keterangan:
V = Volume log atau batang (m3) g1 = Luas bidang dasar pangkal (m2)
g2 = Luas bidang dasar ujung batang (m2)
gm = Luas bidang dasar bagian tengah batang (m2)
= Panjang batang pohon (m)
Rumus Smalian mempunyai ketepatan yang lebih kecil dibandingkan dengan rumus Huber dan rumus Newton. Namun demikian rumus Smallian banyak digunakan karena cukup praktis dan mudah dalam penerapannya. Rumus Newton memberikan ketelitian yang tinggi dibanding dengan rumus lainnya, namun rumus ini memerlukan pengukuran kedua ujung batang dan tengah batang, sehingga penggunaannya lebih terbatas dan kurang praktis (Sutarahardja 2008).
Volume pohon merupakan suatu besaran yang diperoleh dari perkalian antara luas bidang dasar dengan tinggi pohon. Volume pohon dapat juga dihitung dengan cara menjumlahkan volume tiap-tiap seksi yang ada pada pohon tersebut (Loetsch et al. 1973).
2.3 Penyusunan Tabel Volume
Menurut Caillez (1980), pengertian tabel volume atau tariff adalah sebuah tabel, rumusan atau gambar yang menentukan dugaan volume sebuah pohon atau sekumpulan pohon berdasarkan peubah-peubah yang disebut masukan tariff. Lebih lanjut diterangkan bahwa yang dimaksud dengan masukan tariff adalah peubah pohon berupa diameter acuan, tinggi total atau peubah tegakan berupa luas bidang dasar per hektar atau tinggi rataan yang lebih mudah diperoleh dibandingkan volume itu sendiri.
Tabel volume pohon secara teoritis adalah yang paling baik untuk digunakan dalam inventarisasi hutan potensi kayu dalam tegakan hutan, namun demikian pengukuran tinggi pohon yang disyaratkan menyebabkan penggunaan tabel tersebut tidak praktis. Hal ini disebabkan karena pengukuran tinggi pohon memerlukan banyak waktu dan dapat menjadi sumber kesalahan (Husch et al. 2003).
Menurut Spurr (1952), penyusunan tabel volume pohon dimaksudkan untuk memperoleh taksiran volume pohon melalui pengukuran satu atau beberapa peubah penentu volume pohon serta untuk mempermudah kegiatan inventarisasi hutan dalam menduga potensi tegakan. Meskipun demikian, untuk meningkatkan efisiensi dalam penaksiran volume tegakan dengan tidak mengurangi ketelitian yang diharapkan, diusahakan dalam penyusunan tabel volume pohon memperkecil jumlah peubah bebas penentu volume pohon dan diberlakukan pada daerah setempat. Tabel yang dimaksud adalah tabel volume pohon lokal atau tarif volume.
Menurut Avery dan Burkhart (1994), tabel volume pohon yang berdasarkan pada satu peubah dari diameter setinggi dada (Dbh) biasa disebut tabel volume lokal, sedangkan tabel volume yang menghendaki si pengguna juga memperoleh tinggi pohon dan kemungkinan juga bentuk atau taper disebut sebagai tabel volume standar. Selain itu Avery dan Burkhart (1994), menyatakan bahwa dalam konteks penentuan volume pohon, tabel tarif adalah kumpulan dari tabel volume lokal. Tabel tarif didasarkan pada asumsi bahwa volume memiliki hubungan linear pada diameter kuadrat atau luas bidang dasar.
Tabel volume pohon lokal atau tarif volume adalah bentuk khusus dari tabel volume pohon, yaitu tabel yang memberikan nilai volume pohon dengan cukup mengetahui hanya satu besaran saja dari pohon yang bersangkutan. Besaran tersebut adalah yang paling mudah diukur, yaitu diameter pohon setinggi dada atau keliling pohon setinggi dada. Dengan tidak mengikut sertakan besaran tinggi pohon, maka tarif volume memiliki daerah berlaku yang terbatas (Sutarahardja 2008).
Menurut Sutarahardja (2008), penyusunan tabel volume lokal berlandaskan atas dasar asumsi, bahwa pohon-pohon dengan diameter yang sama akan memberikan volume yang sama pula, apabila kondisi tempat tumbuhnya sama. Asumsi tersebut dapat diterima apabila ada hubungan yang kuat antara tinggi pohon dengan diameter dan volume pohon. Dengan adanya hubungan yang erat antara diameter dan tinggi pohon, maka dapat dijamin bahwa segala perubahan yang terjadi pada pohon yang disebabkan oleh adanya variasi tinggi pohon akan tercakup oleh adanya variasi diameter pohon.
Tahapan pembentukkan tabel volume, meliputi (Sutarahardja et al. 2010): 1. Pemilihan pohon-pohon contoh serta pengukuran dimensi pohon dan
pengolahan data hingga diperoleh volume setiap pohon.
2. Penyusunan persamaan regresi hubungan volume dengan diameter (menggunakan kira-kira 2/3 3/4 dari jumlah pohon contoh).
3. Pengujian persamaan regresi yang diperoleh untuk menentukan akurasinya (menggunakan kira-kira 1/4 1/3 dari jumlah pohon contoh).
Jumlah pohon contoh sebanyak 50-100 pohon sudah mencukupi untuk menyusun tabel volume lokal yang dapat dipakai untuk jenis tunggal (Loetsch et al. 1973). Dalam pemilihan pohon contoh, perlu diperhatikan juga ketersebaran diameter sehingga mewakili kisaran diameter dari yang terkecil sampai terbesar. Semakin lebar kisaran diameter dari pohon-pohon contoh tersebut, maka model yang terbentuk nantinya akan semakin leluasa digunakan untuk menduga volume dari pohon yang berdiameter kecil sampai besar. Selain itu, apabila tinggi pohon akan dijadikan sebagai peubah bebas (selain diameter), pengambilan pohon contoh pun harus mewakili ketersebaran tinggi pohon dalam tegakannya (Fahutan IPB 2010).
2.4 Persamaan Penduga Volume Pohon
Beberapa persaman hubungan antara volume pohon dengan peubah-peubah penentunya yang biasa digunakan dalam penyusunan tabel volume pohon (Loestch et al. 1973).
a. Satu peubah bebas, hanya diameter pohon: 2 0 1 V b b d (Kopezky-Gehrhardt) 2 1 2 V b db d (Dissescu-Meyer) 2 0 1 2 V b b db d (Hohenadl-Krenn) 1 0 b V b d (Berkhout) 0 1
logV b b logd (Husch) b. Dua Peubah bebas, diameter dan tinggi pohon:
2 1 0 b V b d h (Spurr) 2 2 0 1 2 3 V b b d b d h b h (Stoate) 2 2 2 2 1 2 3 2 V b d b d h b dh b h (Naslund) 1 2 0 b b V b d h (Scumacher-Hall) Keterangan: V : Volume pohon (m3)d : Diameter pohon setinggi dada (cm) h : Tinggi pohon total (m)
b b0, ...1 : Konstanta
2.5 Deskripsi Umum Tentang Keruing (Dipterocarpus ssp.) 2.5.1 Taksonomi
Taksonomi dari jenis keruing menurut Cronquist (1981) dalam Dasuki (1991): Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Theales Famili : Dipterocarpaceae Genus : Dipterocarpus
2.5.2 Deskripsi Botani dan Habitat
Tinggi pohon keruing dapat mencapai 50 m dengan panjang bebas cabang 35 m, diameter dapat mencapai 120 cm, bentuk batang silindris, berbanir setinggi 1-2 m, pada D. confertus dapat mencapai 4 m. Kayu teras berwarna coklat-merah, coklat, kelabu-coklat atau merah-coklat-kelabu. Kayu gubal berwarna kuning atau coklat muda semu-semu kelabu dan mempunyai batas yang jelas dengan kayu teras, lebar 2 – 10 cm (Martawijaya et al. 2005).
Jenis-jenis keruing tumbuh dalam hutan primer pada berbagai habitat dari permukaan laut sampai ketinggian 1500 mdpl. Jenis-jenis tertentu mempunyai habitat yang spesifik, seperti tepi sungai yang berair deras (D. oblongifolius atau laran), tanah endapan di tepi sungai (D. elongatus atau keruing pasir), tanah gambut di atas pasir putih (D. borneensis atau keruing sindur), punggung bukit (ada beberapa jenis) dan tempat-tempat yang beriklim musim atau kemarau nyata (D. gracilis atau keladan). Keruing jarang sekali tumbuh di hutan lebat yang terdapat di lembah. Untuk kelangsungan hidupnya sebagian besar semai keruing memerlukan cahaya banyak. Di Kalimantan jenis-jenis keruing merupakan jenis yang sering dapat ditemukan setelah jenis-jenis meranti dan di Kalimantan Timur dapat mencapai tujuh pohon per hektar (Kartawinata 1983).
2.5.3 Penyebaran Habitat
Keruing atau Dipterocarpus adalah marga pepohonan penghasil kayu pertukangan yang berasal dari keluarga Dipterocarpaceae. Marga ini memiliki sekitar 70 spesies yang menyebar terutama di Asia Tenggara; mulai dari India dan Srilanka, di barat, melalui Burma, Indocina dan Cina bagian selatan, Thailand, hingga ke kawasan Malesia bagian barat. Di wilayah Malesia, keruing tersebar di hutan-hutan Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, Filipina, Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa (Soerianegara & Lemmens 1994). Jadi umumnya tidak melewati garis Wallace, kecuali yang ditemukan di Lombok dan Sumbawa. Tumbuhan ini merupakan komponen yang penting dari hutan dipterokarpa. Nama ilmiahnya berasal dari bahasa Yunani yang berarti buah yang bersayap dua (di: dua; pteron: sayap; carpos: buah).
2.5.4 Kegunaan Kayu
Kayu keruing cocok untuk konstruksi bangunan, lantai, karoseri (kerangka, lantai dan dinding), bangunan pelabuhan dan bantalan kereta api. Selain daripada itu banyak juga dipakai untuk perkapalan (dek dan kulit tongkang) dan bagian perumahan (balok, tiang, papan dan kerangka atap. Untuk semua penggunaan dimana terdapat serangan jamur, serangga atau binatang laut perusak kayu, kayu keruing harus diawetkan dengan bahan pengawet yang sesuai. Setelah diawetkan kayu keruing baik untuk dipergunakan sebagai bantalan dan tiang listrik (Martawijaya et al. 2005).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di areal kerja IUPHHK-HA PT. Sarmiento Parakantja Timber, Kalimantan Tengah selama satu bulan pada bulan April hingga Mei 2012.
3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat
Alat yang digunakan untuk pengambilan data di lapangan, yakni pita ukur/phi-band, meteran, galah sepanjang 2 m, tally sheet, alat tulis, kamera digital. Adapun alat yang digunakan dalam pengolahan data, yakni komputer (laptop), kalkulator, software Microsoft Excell 2007 dan Minitab 14.
3.2.2 Bahan
Bahan yang dipakai dalam penelitian ini adalah tegakan keruing (Dipterocarpus spp.) pada berbagai kelas diameter.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini terdiri atas dua macam, yakni pengumpulan data secara langsung (primer) dan pengumpulan data secara tidak langsung (sekunder).
3.3.1 Pengumpulan Data Secara Langsung (primer)
Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara mengambil pohon contoh sebanyak 99 pohon bersamaan dengan kegiatan penebangan pada RKT 2012 petak 91N dan 92N. Pohon contoh tersebut terbagi menjadi 8 kelas diameter dengan interval kelas 10 cm. Kelas diameter dimulai dari kelas diameter 10-19,9 cm, 20-29,9 cm, 30-39,9 cm, 40-49,9 cm, 50-59,9 cm, 60-69,9 cm, 70-79,9 cm dan 80-89,9 cm. Dari 99 pohon contoh yang diambil, 66 pohon (2/3 pohon contoh) digunakan untuk penyusunan persamaan regresi dan 33 pohon (1/3 pohon contoh) untuk validasi. Pemilihan pohon contoh tersebut dilakukan secara purposive. Adapun syarat-syarat pohon yang diambil sebagai contoh antara lain:
lurus, tidak menggarpu, bebas dari serangan hama penyakit dan tersebar pada seluruh kelas diameter. Pada setiap pohon contoh yang terpilih, dilakukan tahapan pengukuran yang meliputi:
1. Diameter setinggi dada (Dbh = 1,3m) pohon contoh diukur dengan menggunakan pita ukur (1,5 m).
2. Diameter per seksi (panjang seksi 2 m) dari pangkal pohon rebah sampai panjang bebas cabang diukur dengan menggunakan pita ukur dan meteran. 3. Tinggi Bebas Cabang (TBC) pohon contoh diukur dengan cara mengukur
panjang pohon rebah hingga cabang pertama pembentuk tajuk menggunakan meteran (30 m).
Data tersebut kemudian digunakan untuk menghitung volume masing- masing pohon contoh (volume aktual) dengan menjumlahkan volume tiap seksi batang pohon contoh. Untuk volume pohon per seksi dihitung dengan menggunakan rurnus Smalian, yaitu:
i
Vs =
2
LBD pangkalLBD ujung
x panjang seksi
Menghitung volume pohon aktual dengan menggunakan rumus: Va = 1 n i iVs
Keterangan:Va : volume aktual phon (m3)
Vsi : volume seksi ke-I dari satu pohon (m3) i : urutan seksi ke-… (1, 2,…, n)
n : jumlah seksi
3.3.2 Pengumpulan Data Secara Tidak Langsung (sekunder)
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mencari data mengenai kondisi umum lokasi penelitian. Data ini diperoleh dari arsip Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam (RKUPHHK-HA) PT. Sarmiento Parakantja Timber periode tahun 2011-2020.
3.4 Analisis Data
3.4.1 Analisis Hubungan antara Diameter dengan Tinggi Pohon
Hubungan antara diameter dengan tinggi pohon dapat dijadikan acuan dalam penyusunan tabel volume. Untuk penyusunan tabel volume lokal dibutuhkan hubungan yang erat antara diameter dengan tinggi pohon sehingga hanya menggunakan satu peubah bebas saja yaitu diameter. Apabila hubungan antara diameter dengan tinggi pohon tidak erat maka dalam penyusunan tabel volume harus menggunakan kedua peubah tersebut dan tabel volume ini disebut tabel volume standar. Hubungan ini dapat dilihat dari besarnya koefisien korelasi dari kedua peubah tersebut. Cara menghitung nilai koefisien korelasi (r) antara diameter dengan panjang pohon menggunakan rumus sebagai berikut:
1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 . . . . n n i i i i n i i i xy n n x y i i n i n i i i i i x y x y JHK n r JK JK x y x y n n
Keterangan: r = koefisien korelasixi = diameter pohon setinggi dada pada pohon ke-i (cm)
yi = tinggi pohon ke-i (sampai dengan bebas cabang) (m)
JKX = jumlah kuadrat diameter pohon
JKy = jumlah kuadrat panjang pohon
JHKxy = jumlah hasil kali antara diameter pohon dengan panjang pohon
Menurut Walpole 1993, nilai koefisien korelasi (r) merupakan penduga tak bias dari koefisien korelasi populasi (ρ). Besarnya nilai koefisien korelasi adalah antara - 1 ≤ r ≤ + 1 dimana jika nilai r mendekati – 1 atau + 1, maka hubungan antara kedua peubah itu kuat, artinya terdapat korelasi yang tinggi antara keduanya.
Analisis ini bertujuan untuk mencari keeratan hubungan antara diameter dan tinggi. Jika hubungan keduanya erat maka untuk penyusunan tabel volume hanya menggunkan peubah diameter saja. Karena peubah tinggi diasumsikan sudah dapat dijelaskan oleh peubah diameter.
3.4.2 Pengujian Koefisien Korelasi dengan Uji ZFisher
Suatu uji untuk menyatakan kapan nilai r berada cukup jauh dari nilai ρ adalah melalui pengujian koefisien korelasi dengan uji ZFisher (Walpole 1993).
Dalam uji ZFisher ini, dilakukan transformasi nilai-nilai r dan ρ kedalam ZFisher.
Pengujian koefisien korelasi ini bertujuan untuk membuktikan bahwa nilai kofisien korelasi yang telah didapat dapat menjadi acuan untuk menentukan apakah peubah bebas yang digunakan hanya diameter saja atau tidak dalam penyusunan persamaan tabel volume. Dalam penyusunan tabel volume lokal, Sutarahardja (2008) mensyaratkan bahwa nilai ρ harus lebih besar dari 0,7 atau ρ 0,7 yang berarti pada nilai ρ 0,7 maka hubungan antara tinggi pohon dengan diameter pohon dianggap cukup kuat. Tahap pengujian koefisien korelasi bersyarat dengan menggunakan transformasi ZFisher tersebut adalah dengan
prosedur sebagai berikut:
a. Menentukan hipotesis pengujian koefisien korelasi, yaitu: H0: ρ = 0,7071
H1: ρ 0,7071
b. Menghitung nilai transformasi ZFisher dari nilai koefisien korelasi populasi (ρ) dan koefisien korelasi contoh (r):
Zρ = 0,5 ln{( 1 + ρ )/( 1 – ρ )} dan Zr = 0,5 ln{( 1 + r )/( 1 – r )}
c. Menentukan pendekatan simpangan baku dari hasil transformasi ZFisher: σZr = 1/√(n-3)
Dimana:
n = jumlah data
d. Kriterium uji dalam pengujian transformasi ZFisher adalah:
Zhitung = (Zr – Zρ)/ σZr
Dimana: Z = Sebaran normal Z
σZr = Pendekatan simpangan baku transformasi ZFisher
e. Kaidah keputusannya adalah sebagai berikut:
Jika Zhitung≤ Ztabel pada tingkat nyata tertentu (misalnya pada taraf nyata 5 %
diameter pohon kurang erat dalam batas yang telah disyaratkan tersebut di atas. Keputusan ini menandakan bahwa tabel volume yang disusun merupakan tabel