Santri setuju dengan adanya metode Takrir
Alternatif Jawaban F P
Setuju 44 97,8%
Kurang Setuju 1 2,2 %
Tidak setuju 0 0%
Jumlah (N) 45 100%
Dari data tabel diatas dapat diketahu bahawa 97,8% santri menajwab Setuju, 2,2 % santri menjawab kurang setuju dan 0% santri menjawab tidak setuju. Dari tabel diatas tergolong baik tentang Santri setuju dengan adanya metode Takrir
Tabel VII
Hasil Angket Santri Terhadap Hafalan Al-Qur'an Skor berdasarkan Item Pertanyaan
Nomor Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah 1 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 39 2 4 4 3 4 4 2 3 4 3 4 35 3 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 38 4 4 4 4 4 3 2 4 4 3 4 36 5 4 4 3 4 4 4 4 3 3 4 37 6 2 3 4 4 4 4 3 4 3 4 35 7 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 39 8 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 9 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 38 10 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 37 11 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 38 12 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 39 13 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 39 14 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 39 15 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 36 16 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 38 17 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 37 18 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 38 19 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 39 20 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 36 21 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 39 22 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 23 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 39
24 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 37 25 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 26 4 4 2 4 4 2 3 4 4 4 35 27 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 28 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 29 4 3 4 4 4 2 3 4 4 4 36 30 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 31 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 32 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 33 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 38 34 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 38 35 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 36 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 38 37 4 4 4 4 2 4 4 4 4 3 37 38 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 39 39 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 38 40 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 41 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 42 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 38 43 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 39 44 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 38 45 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 37 Jumlah 1719
Dari hasil diatas secara keseluruhan, dengan mengambil jawaban (a) bahwa Implementasi Metode Takrir menghafal Al-Qur'an tergolong baik dengan bukti sebagai berikut: P = x100% N F P = 100% 450 378 x = 84 %
Dari Data observasi, interview, dokumentasi dan berdasarkan pada standart yang penulis tetapkan, secara keseluruhan pelaksanaan metode Takrir di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng, maka 84% tergolong baik karena berada diantara 76%-100%. Meskipun belum sempurna, metode Takrir sudah terbiasa diterapkan di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng. Hal itu terlihat dengan adanya bukti keaktifan setoran hafalan santri setiap hari, adanya mudarosah kelompok setiap ba'da maghrib dan ba'da asar, tanggung jawab santri saat mandapatkan jadwal menjadi imam sholat lima waktu, antusias santri dalam mengikuti perlombaan MHQ, serta diadakannya wisuda Hifdhul Qur'an bagi santri hafal 30 juz dengan Bil-Ghaib yang dilaksanakan setiap tahun.
2. Faktor Penghambat dan Pendukung Penerapan Metode Takrir Dalam Menghafal Al-Qur'an di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng
Pada tanggal 12 juli 2009 Saat penulis mulai melakukan wawancara dengan Ustad H. Syafi'i Wardi selaku ketua pondok, jam dinding ruang sekretariat menunjukkan pukul 16.00 WIB. Penulis langsung mengajukan pertanyaan . mengawali keterangannya Ustad H. Syafi'i Wardi mengatakan bahwa mustahil Dalam Menghafal Al-Qur'an tanpa sebuah rintangan dan hambatan.72
Oleh karena itu, beliau menyadari bahwa menerapkan Metode Takrir Dalam Menghafal Al-Qur'an di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng juga terdapat faktor penghambat, setidaknya, Ustad H. Syafi'i Wardi menyebutkan kepada penulis tiga macam penghambat yang kini dirasakan santri di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng.
Pertama adalah. Sebagaimana yang penulis amati dalam observasi di pondok pesantren. Ustad H. Syafi'i Wardi juga memaparkan bahwa santri kesulitan dalam memeneg waktu. karena , santri punya dua kewajiban yaitu sekolah dan menghafal.
Kedua, adalah kurang menyadari manfaat metode Takrir dalam menghafal Al-Qur'an. terutama dalam kegiatan mudarosah kelompok yang semestinya santri mentakrir hafalanya berkelompok (santri bergantian maemperdengarkan hafalanya setiap hari secara kelompok atau tiga orang tiga
72 Hasil wawancara pada hari/tgl : minggu 12 Juli 2009, kepada Ustad sekaligus ketua pondok, Ustad h.syafoi'I wardi di pondok pesantren madrastul Qur'an Tebuireng
orang dengan berkelanjutan sampai batas ahir hafalanya) tetapi dalam kenyataanya santri lebih cenderung dan lebih suka mentakrir hafalanya sendiri-sendiri.
Ketiga adalah kurang istiqomah. Santri kurang istiqomah dalam mentakrir hafalan yang telah di hafal. Biasanya ini terpengaruh oleh teman-teman yang tidak menghafal Al-Qur'an untuk mengadakan aktifitas yang tidak ada kaitanya dengan kegiatan menghafal Al-Qur'an, sehingga banyak waktu yang terbuang. Adapun faktor pendukungnya beliu menyebutkan : Pertama, adanya sarana dan prasarana yang sudah memadai, Kedua, adanya kebijakan dari Pengasuh untuk mengembangan kreatifitas ustadz dan santri. dengan adanya pembinaan kualitas baik di bidang keilmuan, fashohah bacaan, manajemen pembinaan dan pembinaan Qiro'ah bagi para santri.
Sedangkan Secara teori faktor penghambat ada enam yaitu: menghafal itu susah, ayat-ayat yang sudah dihafal lupa lagi, banyak ayat-ayat yang serupa, gangguan-gangguan lingkungan, banyak kesibukan, melemahnya semangat. dan faktor pendukungnya ada enam yaitu : Peran Intelegensi quesioner, istiqomah, mengamati ayat-ayat mutasyabih, tempat menghafal, management waktu, sabar.
Tetapi penulis ingin menegaskan bahwa hal semacam ini tidak perlu diperhatikan. Seperti telah penulis paparkan bahwa dalam pendidikan, segala sesuatu tidak harus sama. Begitu pula dengan implementasi metode Takrir
dalam menghafal Al-Qur'an dan faktor penghambat dan pendukung yang menyertainya.
Masing-masing lembaga pendidikan mempunyai problem yang tidak sama dan tidak mungkin bisa disamakan. Yang terpenting dalam menyikapi permasalahan adalah dengan secepat mungkin melakukan upaya solusi, sehingga tidak semakin berlarut-larut dan dapat mengganggu proses kegiatan pondok pesantren.
3. Solusi dalam Mengatasi hambatan Penerapan Metode Takrir Dalam Menghafal Al-Qur'an Di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng
Pada hari Senin 13 Juli 2009, penulis kembali lagi ke Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng. Tepat pukul 19.00 WIB, Penulis sampai depan gedung Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng, dan langsung menuju ruang sekretariat pengurus. Disana, penulis langsung bertemu dengan ustad Aris Izzuddin, karena sebelumnya penulis sudah membuat janji via telepon untuk bertemu di ruang sekretariat pengurus Tanpa banyak basa-basi, penulis langsung melakukan wawancara dengan menanyakan solusi untuk mengatasi hambatan Implementasi Metode Takrir Dalam Menghafal Al-Qur'an Di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng
Untuk mengetahui apa solusi Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng terhadap santri yang kesulitan memanage waktu menurut ustad Aris Izzuddin adalah saat ini Pondok Pesantren telah melakukan pembenahan atau
managemen waktu dengan memberi tambahan jam kegiatan mudarosah ba'da Asar.
Adapun solusi Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng terhadap santri yang kurang menyadari manfaat metode Takrir dalam menghafal Al-Qur'an. Ialah dengan memberikan pemahaman dan memotivasi tentang pentingnya metode Takrir dalam menghafal Al-Qur'an, serta evaluasi hafalan Al-Qur'an setiap 4 bulan sekali.
Solusi Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng terhadap santri yang kurang Istiqomah dalam mentakrir hafalannya yaitu dengan cara mengabsensi atau memberi bukti setoran yang berupa buku Raport, dan raport akan dievaluasi satu bulan sekali. Upaya itu tidak terlepas dari usaha keras yang dilakukan oleh semua pihak terkait, dalam hal ini pengasuh dan pengurus. Dengan demikian solusi tersebut diharapkan dapat mengatasi hambatan metode Takrir dalam menghafal Al-Qur'an dip on-pes madrasatul Qur'an Tebuireng..
Oleh karena itu penghambat implementasi metode Takrir dalam menghafal Al-Qur'an tidak sama antara teori dan di lapangan. Maka tidak heran kalau solusi yang diberikan pun tidak sama. Hal itu tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan, karena segala sesuatu itu dipenuhi sesuai dengan kadar yang diperlukan. Apabila faktor penghambat dapat segera diselesaikan dengan baik, keberhasilan implementasi metode Takrir dalam menghafal Al-Qur'an akan dapat terlihat nyata.
Dari semua uraian, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa implementasi metode Takrir dalam menghafal Al-Qur'an di Pon-Pes Madrasatul Qur'an Tebuireng sudah berjalan dengan baik, namun masih belum sempuna, terlihat dengan adanya beberapa hambatan. Adapun mengenai beberapa kendala yang ada sudah dicarikan solusinya. Sehingga kesempurnaan proses penerapan metode Takrir yang akan berdampak pada keberhasilan menghafal Al-Qur'an.