BAB IV : TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Temuan Penelitian
4.1.1 Tabulasi Data Ketakterjemahan Leksikal
Ketakterjemahan leksikal adalah suatu bentuk ketakterjemahan dalam tataran linguistik yang secara umum disebabkan oleh perbedaan bahasa, baik perbedaan dalam tataran kata maupun struktur kalimat. Ketakterjemahan pada tingkatan kata disebut ketakterjemahan (linguistik) leksikal. Lebih lanjut, ketakterjemahan leksikal yang ditemukan pada subjek penelitian dapat dibedakan menurut hal-hal yang menyebabkannya seperti di bawah ini.
1. Adanya kesenjangan kosa kata antara BSu dan BSa
Salah satu penyebab terjadinya ketakterjemahan leksikal adalah karena adanya perbedaan jumlah kosa kata BSu dengan BSa. Selisih kosa kata ini menyebabkan adanya beberapa istilah BSa yang tidak memiliki padanan kata pada BSa. Bahasa Inggris cenderung lebih kaya kosa kata dibandingkan dengan Bahasa Indonesia, sehingga banyak istilah dalam Bahasa Inggris yang tidak dapat diterjemahkan secara leksikal ke dalam Bahasa Indonesia. Data yang ditemukan
76 untuk kategori ini seluruhnya ada 22 macam istilah dengan jumlah kejadian sebanyak 37 kali.
Tabel 4: Data Ketakterjemahan Leksikal 1
No Istilah Frek Prsn
1 epiphany/epipha 5 13,5 2 name, jab/jabbity, silo,
agency
3 @ 8,1 3 myth, super, depot 2 @ 5,4 4 preachy, version, gay,
compound, tank, club, simulation, selfish, mascot, national, operation, sponsor, classic, sequel
1 @ 2,7
Jml 22 37 100,0
Kemudian rincian teknik penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah berkaitan dengan ketakterjemahan yang disebabkan karena kesenjangan kosa kata ini adalah sebagai berikut:
Tabel 5: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 1
No Teknik Frek Prsn 1 Naturalisasi 22 59,5 2 Peminjaman 7 18,9 3 Generalisasi 4 10,8 4 Deskripsi 3 8,1 5 Transposisi 1 2,7 Jml 5 37 100,0
Dari komposisi di atas terlihat bahwa penerjemah paling sering menerapkan teknik naturalisasi untuk mengatasi ketakterjemahan yang disebabkan karena kesenjangan kosa kata antara BSu dengan BSa. Sementara teknik lain digunakan kurang dari separuhnya.
77
2. Istilah BSu merupakan istilah ilmiah/teknis
Ketakterjemahan leksikal juga bisa terjadi karena istilah BSu bersifat ilmiah atau teknis, yaitu istilah yang hanya digunakan pada bidang tertentu. Data ketekterjemahan yang termasuk dalam kelompok ini seluruhnya berjumlah 5 macam istilah di mana masing-masing istilah muncul 1 kali.
Tabel 6: Data Ketakterjemahan Leksikal 2
No Istilah Frek Prsn
1 mercury, energy, action, potassium, ground
1 @ 20
Jml 5 5 100,0
Data di atas juga menunjukkan adanya dua teknik penerjemahan yang dipakai penerjemah untuk menerjemahkan istilah ilmiah/teknis. Perbandingan penggunaan kedua teknik tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 7: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 2
No Teknik Frek Prsn
1 Naturalisasi 4 80,0
2 Generalisasi 1 20,0
Jml 2 5 100,0
Dari tabel di atas diketahui bahwa penerjemah lebih sering menggunakan teknik naturalisasi daripada teknik generalisasi dalam menerjemahkan istilah ilmiah/teknis.
3. Istilah BSu merupakan istilah tidak baku
Penyebab lain suatu istilah BSu tidak dapat diterjemahkan adalah apabila istilah tersebut merupakan istilah tidak baku (non-standard). Di sini ketakterjemahnnya biasanya bersifat parsial atau sebagian, yaitu hanya unsur tidak
78 bakunya yang tak terjemahkan, sedangkan maknanya masih dapat diterjemahkan. Data untuk kelompok ini ada sebanyak 8 istilah dan setiap istilah muncul 1 kali.
Tabel 8: Data Ketakterjemahan Leksikal 3
No Istilah Frek Prsn
1 heinie, binge, thou, shalt, thy, nope, booze, lookie
1 @ 12,5
Jml 8 8 100,0
Untuk menerjemahkan kedelapan istilah tersebut, penerjemah hanya menggunakan 3 macam teknik penerjemahan dengan perbandingan sebagaimana tampak pada tabel ini:
Tabel 9: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 3
No Teknik Frek Prsn
1 Generalisasi 5 62,5
2 Kompensasi 2 25,0
3 Modulasi 1 12,5
Jml 3 8 100,0
Di sini terlihat bahwa teknik generalisasi adalah yang paling dominan dipakai untuk menerjemahkan istilah tidak baku.
4. Tidak ada unsur gender pada istilah BSa
Sejumlah kata Bahasa Inggris memiliki unsur gender yang membedakan pemakaiannya untuk laki-laki dan perempuan, sedangkan kosa kata Bahasa Indonesia tidak selalu demikian. Hal ini juga menjadi penyebab terjadinya ketakterjemahan leksikal, meski sifatnya hanya sebagian saja. Data yang mewakili kejadian semacam ini hanya terdiri dari 3 macam istilah dengan jumlah kejadian sebanyak 15.
79 Tabel 10: Data Ketakterjemahan Leksikal 4
No Istilah Frek Prsn
1 son 7 46,7
2 boy/boys 6 40,0
3 boyfriend 2 13,3
Jml 3 15 100,0
Kemudian, dalam menerjemahkan istilah yang mengandung unsur gender ini, penerjemah hanya menerapkan satu teknik penerjemahan saja yaitu generalisasi.
Tabel 11: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 4
No Teknik Frek Prsn
1 Generalisasi 15 100,0
Jml 1 15 100,0
5. Istilah BSu berbentuk akronim
Pada penerjemahan istilah yang bentuknya akronim (singkatan), pada umumnya singkatan BSu tersebut diambil apa adanya atau tidak diubah ke dalam akronim BSa, sehingga bentuk akronim ini juga menjadi salah satu penyebab terjadinya ketakterjemahan leksikal. Data yang termasuk ke dalam kelompok ini ada 3 bentuk akronim dengan jumlah kejadian sebanyak 6 kali.
Tabel 12: Data Ketakterjemahan Leksikal 5
No Istilah Frek Prsn 1 VCR 1 16,7 2 TV 2 33,3 3 EPA 3 50,0 Jml 3 6 100,0
commit to user
80 Penggunaan akronim BSu untuk dipakai pada BSa seperti di atas termasuk ke dalam teknik peminjaman. Teknik ini merupakan satu-satunya yang diterapkan oleh penerjemah untuk mengatasi ketakterjemahan yang disebabkan karena istilah BSu berupa akronim.
Tabel 13: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 5
No Teknik Frek Prsn
1 Peminjaman 6 100,0
Jml 1 6 100,0
6. Referen merupakan hal/temuan baru
Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya ketakterjemahan leksikal adalah karena objek atau referen yang dimaksud oleh istilah BSu merupakan hal atau temuan baru. Data yang termasuk dalam kelompok ini terdiri dari 26 istilah yang berbeda dengan jumlah kejadian sebanyak 42 kali.
Tabel 14: Data Ketakterjemahan Leksikal 6
No Istilah Frek Prsn
1 movie(s), bomb 4 @ 9,5
2 video 3 7,1
3 planet, book, film, filming of movie, truck
2 @ 4,8 4 nuclear, cell-phone, antennae,
thermostat, skateboard, bug-zapper, lift, scissor-lift, glass, Botox, motor, generator, poster, alcohol, cam, conductor, android, card, comic, robot, wire
1 @ 2,4
Jml 29 42 100,0
Apabila data di atas dikelompokkan menurut teknik penerjemahan yang digunakan maka akan diperoleh sebaran seperti berikut ini:
81 Tabel 15: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal 6
No Teknik Frek Prsn 1 Naturalisasi 20 47,6 2 Peminjaman 16 38,1 3 Generalisasi 4 9,5 4 Modulasi 1 2,4 5 Deskripsi 1 2,4 Jml 5 42 100,0
Tabel di atas memperlihatkan seringnya penerjemah menempuh teknik naturalisasi dan peminjaman untuk mengatasi ketakterjemahan yang disebabkan karena referen merupakan hal atau temuan baru.
Selanjutnya, jika seluruh data ketakterjemahan leksikal di atas dihitung menurut keenam faktor penyebabnya maka akan diperoleh komposisi sebagai berikut:
Tabel 16: Faktor Penyebab Ketakterjemahan Leksikal
No Faktor Penyebab Mcm Prsn Frek Prsn
1 Adanya kesenjangan kosa
kata antara BSu dengan BSa 22 31,4 37 32,7 2 Istilah BSu merupakan istilah
ilmiah/teknis 5 7,1 5 4,4
3 Istilah BSu merupakan istilah
tidak baku 8 11,4 8 7,1
4 Tidak ada unsur gender pada
istilah BSa 3 4,3 15 13,3
5 Istilah BSu berbentuk
akronim 3 4,3 6 5,3
6 Referen merupakan
hal/temuan baru 29 41,4 42 37,2
Jml 6 70 100,0 113 100,0
Dari rekapitulasi data di atas diketahui bahwa terjadinya ketakterjemahan leksikal sebagian besar disebabkan karena referen yang ditunjuk istilah terkait merupakan hal atau penemuan baru. Jumlah kejadiannya hampir
82 berimbang dengan ketakterjemahan yang disebabkan karena adanya kesenjangan kosa kata antara BSu dan BSa. Sementara itu, ketakterjemahan yang paling jarang ditemui, jika dilihat dari macamnya, adalah yang disebabkan karena karena tidak adanya unsur gender pada istilah BSa dan istilah BSu berbentuk akronim. Tetapi, jika dihitung dari frekuensi kemunculannya, ketakterjemahan yang disebabkan karena istilah BSu merupakan istilah ilmiah/teknis adalah yang paling sedikit.
Sementara itu, komposisi teknik penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah untuk mengatasi ketakterjemahan leksikal ini beserta frekuensi penerapannya secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 17: Teknik Penerjemahan Ketakterjemahan Leksikal
No Teknik Frek Prsn 1 Naturalisasi 46 40,7 2 Generalisasi 29 25,7 3 Peminjaman 29 25,7 4 Deskripsi 4 3,5 5 Kompensasi 2 1,8 6 Modulasi 2 1,8 7 Transposisi 1 0,9 Jml 7 113 100,0
Dari data di atas diketahui bahwa penerjemah paling sering menggunakan teknik naturalisasi untuk menerjemahkan istilah-istilah yang takterjemahkan secara leksikal. Teknik lain yang juga sering dipakai adalah generalisasi dan peminjaman.