• Tidak ada hasil yang ditemukan

TABULASI DATA No Titik Tingg

Dalam dokumen LAPORAN PRATIKUM ILMU UKUR TANAH (Halaman 53-85)

alat(Ta)

Bacaan bak ukura Jarak (m) Beda tinggi Tinggi titik Ba Bt Bb Pita ukur optis 1. A-B 1,330 1,011 0,955 0,900 11,105 11,100 0,375 +3,00 2. A-C 1,330 1,452 1,401 1,351 10,104 10,100 -0,071 +3,00 3. A-D 1,330 1,330 1,522 1,402 11,996 12,000 -0,132 +3,00 7.ANALISIS DATA

Cek benang tengah disetiap titik :

a. Titik B Dengan rumus berikut ini:

Ba=1,011m Bt=0,955m Bb=0,900m

Ba+Bb 2 = 1,011+0,900 2 = 0,956 m (dinyatakan masuk toleransi)

b. Titik C Dengan rumus berikut ini:

Ba=1,452m Bt=1,401m Bb=1,351m

Ba+Bb 2 = 1,452+1,351 2 = 1,402 m (dinyatakan masuk toleransi)

c. Titik D Dengan rumus berikut ini:

Ba=1,522m Bt=1,462m Bb=1,402m

Ba+Bb 2 = 1,522+1,402 2 = 1,462 m (dinyatakan masuk

toleransi Toleransi untuk jarak optis dan pita ukur :

a. jarak optis B

(BaBb)x100=(1,011−0,900)x100=11,100m Jarak dengan pita ukur = 11,105 m

S1 = 0,008

D+0,0003. D+0,05 = 0,267 m

(

DmaxDmin=11,105+0,267=11,372m

=11,105−0,267=10,838m

)

dinyatakan masuk toleransi b. jarak optis C

(BaBb)x100=(1,452−1,351)x100=10,100m Jarak dengan pita ukur = 11,104 m

S1 = 0,008

D+0,0003. D+0,05 = 0,025 m

(

DmaxDmin=10,104+0,025=10,129m

=10,104−0,025=10,079m

)

dinyatakan masuk toleransi c. jarak optis D

(BaBb)x100=(1,522−1,402)x100=12,00m Jarak dengan pita ukur = 11,996 m

S1 = 0,008

D+0,0003. D+0,05 = 0,028 m

(

Dmax=11,996+0,028=12,024m

Dmin=11,996−0,028=11,968m

)

dinyatakan masuk toleransi d. Beda tinggi = tinggi alat(Ta) – benag tengah (Bt)

(

1.Titik B=1,330−0,955=0,375m 2.Titik C=1,330−1,401=−0,071m 3.Titik D=1,330−1,462=−0,132m

)

8.KESIMPULAN

Dari hasil pratikum yang dilaksanakan pada hari senin tanggal 14 maret 2016 ,maka dapat disimpulkan bahwa pesawat leveling itu sangat sensitive ,perlu

diperhatikan kedatarannya sangat penting dalam pratikum ini ,selain itu dengan alat bak ukur baik itu pembacaan bak ukur harus tegak lurus untuk mendapatkan hasil pengukuran yang dapat ditoleransi ,serta tidak boleh miring dalam artian guna mendapatkan hasil yang benar (akurat)

Nama : Reno Aji Saputra Topik : Pengukuran Luas dan Kubikasi Daerah tertentu dengan system Keliling

Nim : 15061025 Hari/tanggal : Senin,28 maret2016 Program Studi : S-1 Pendidikan Teknik

Bangunan

Lokasi : Taman Jurusan Teknik Sipil FT UNP

Fakultas : Fakultas Teknik UNP Cuaca : Cerah

1.KOMPETENSI

Dengan berakhirnya perkuliahan terutama pada pratikum kali ini diharapkan kepada

mahasiswa/I untuk dapat Hendaknya dapat melakukan hal-hal berikutb ini: n. Mampu mengukur luas dan ketinggian titik suatu daerah yang mempunyai sisi o. teratur pada lapangan tertutup (terhalang pada bangunan atau dikenal dengan p. sistem kelling)

q. Mampu menghitung luas dan volum bila daerah didatarkan dengan ketinggian tertentu

r. Mampu dan andil dalam menggambarkan hasil pengukuran dengan skala tertentu (sebagaimana ditentukan oleh instruktur/dosen bersangkutan)

2.TEORI SINGKAT

Pengukuran dengan cara ini dimulai dan diakhiri pada titik yang sama ,sehingga hasil dan pengukuran ketinggian titik awal harus sama dengan titik akhir.

Dalam pengukuran alat pertama temppatkan alat datas titik dan arahkan ketitik muka (m) dan titik belakang (b) sehingga jarak ,beda tinggi setiap titik akan didapat 2 kali dengan tanda berlawanan sehingga hasil pengukuran seharusnya memperoleh hasil yang sama

Jumlah sudut yang diukur harus = (N-2)x 180 ° N= Banyak titik yang dipakai

Dalam menhitung hasil pengukuran dapat digunakan rumus-rumus berikut ini : a.Cek Bt = 12(ba+bb) x100

b.Jarak optis P1 ke P2 = (ba+bb) x100 P2 ke P1 = (ba+bb) x100 P1 ke P2 = P2 ke P1

c.Cek jarak optis dengan rumus toleransi

d. sudut P1 (1) bacaan sudut P1 ,setelah itu baca bacaan sudut P2

e. Beda tinggi P1 ke P2 =tinggi pesawat(theodolite) di P2 dikurangi bt di P1 beda tinggi P1 ke P2 = P2 ke P1 bila berbeda hanya dibenarkan 0,005 angkah terakhir dibelakang koma (dalam mm) dan keudian ambil rata-rata nya .tanda diambil tanda pengukuran kemuka (P1 ke P2)

f. Ketinggian = tinggi titik yang diketahui + beda tinggi

g. Luas areal pengukuran yang akan dibuat berbentuk segitiga –segitiga (lihat gambar)

utara

p5 α p2

p4 p3

L ( I )= 12(jarak P1ke P2X jarak P1P5) sinα2 L (II) = 1

2(jarak P1ke P2X jarak P2P3) sinα1b (P1P3)2P2P3 =(P1P2)2+¿ )-2 (P1P2)(P2P3)Cos α2 P1b = sinp1αp32 = sin 1p2pα3 Sin 1α = p2p3. sinα2 P1P3 x sin α1=dapat α1b=α1−α1a

L (III)= 1

2(jarak P3ke P4X jarak P4P5) sinα4 L areal=

L . ∆

L.bangunan = panjang x lebar (sisix sisi) L.tanah kosong= luas areal – luas tmbunan

h. Volum = luas datar x tinggi galian /timbunan rata-rata (h) misalnya : h = sT . P1 ST . P5 ¿ ¿+(ST . P2)+(ST . P3)+(ST . P4)+¿ h= tingi galian /timbunan rata-rata

s= tinggi rencana

T= tinggi masing-masing titik

N= banyaknya titik pengukuran yang dipakai

3.KESELAMATAN KERJA

a. Pelajarilah setiap lembaran mengenai laporan yang dikerjakan sebelum melakukan pratikum

b. Perhaatiikan keadaan lapangan pengukuran supaya tidak terjadi kecelakaan kerja c. Gunakanlah alat sebagaimana mestinya dan yang terpenting juga lindungi alat dan keselamatan diri

d. Pakailah atribut yang mendukung kelancaran saat pratikum misalnya paying yang berguna untuk melindungi panasnya trik matahari.

4.ALAT DAN PERLENGKAPAN

a. Labsheet g. pita ukur b. Theodolite semidigital tipe Topcon h. pen ukur

c. Unting- unting i. pa yung

d. Statif j. alat –alat tulis yang dibutuhkan e. Bak ukur

f. Kompas

5. LANGKAH KERJA

a. Siapkanlah semua alat dan perlengkapan yang diperlukan dan periksa dengan teliti

b. Tentukanlah tempat stasiun pengamatan

c. Tinjau daerah pengukuran ,kemudia tentukan rencana pengukuran dan buat sket gambar terhadap rencana tadi

d. Pasang pen ukur sesuai titik rencana dan tentukan titik A langsung serta titik p1,p2,p3,p4,p5

e. Dirikanlah alat dan stel sehingga dapat dikatakan ditenah-tengah pada titik A sehingga semua titik dapat dibidik dari titik itu dengan bantuan unting-unting agar alat tepat ditengah-tengah lalu stel alat seperti langkah praktek

sebelumnya

f. Pasang bak ukur di p1,lalu bidik p1 dan jadikan p1 menjadi o

g. Bidik bak ukur di p1,kembali maka didappat bacaan benang ba,bt,bb bacaan sudut horizontal,kemudian ukur ketinggian pesawat (pesawat) dan jarak titik A ke p1 dan catat langsung lalu cek benang tengahnya dan toleransi pada jarak optis

h. Putar alat searah jarum jam ke p2 ,bidik bak ukur di p2,baca benang ba,bt,bb setelah itu baca sudut horizontal ,ukur etinggian alat dan jarak A ke p2 i. Lakukanlah langkah yang sama untuk titik p3,p4,p5 kemudian cek jarak optis dan cek bt nya juga

j. Koreksi sudut dalam pada titik A = 360 .hitung ketinggiannya pada titik p2,p3,p4,p5 cek jarak optis dari A ketitik lainnya ,hitung luas dan volum timbunan sesuai pada rumus yang terdapat pada teori singkat

k. Buatlah analisis data dan table pengukurannya lalu buatlah laporan dan kumpulkan pada instruktur atau dosen (bersangkutan)

6.ANALISIS DATA a. Jarak bt dan cek bt

- P1 -P2 (Bt) = ba+bb 2

= 1,385+21,245

= 1,315 m (dinyatakan masuk toleransi)

- P2-P3 (Bt) = ba+2bb = 1,315+1,185

2

= 1,245 m (dinyatakan masuk toleransi) - P3-P4 (Bt) = ba+bb

2

= 1,462+1,342 2

= 1,309 m (dinyatakan masuk toleransi)

- P4-P5 (Bt) = ba+2bb = 1,462+1,342

2

- P5-P1 (Bt) = ba+bb 2

= 1,483+21,388

= 1,436 m (dinyatakan masuk toleransi)

b.Jarak optis

Rumus:(BaBb)x100

- P1-P2 = (1,385−1,245)x100

= dinytakan masuk toleransi14, 000m(¿) ¿

- P2-P3 = (1,305−1,185)x100 = dinytakan masuk toleransi12,000m(¿)

¿ - P3-P4 = (1,379−1,265)x100

= dinytakan masuk toleransi11,440m(¿) ¿

- P4-P5 = (1,462−1,342)x100 = dinytakan masuk toleransi12,000m(¿)

¿ - P5-P1 = (1,483−1,232)x100

= dinytakan masuk toleransi9,500m(¿) ¿

c. Cek toleransi jarak

Rumus. S1 = 0,008

D+0,0003. D+0,005 - P1-P2 = 0,008

14+0,0003 .14+0,005

(

Dmax=14+0,030=14,030m Dmin=14−0,030=13,970m

)

Keterangan

(jarak optis masuk dalam kategori jarak toleransi pita yaitu terltak diantara Dmin dan Dmax)

- P2-P3 = 0,008

12+0,0003.12+0,005 = 0,028 m

(

Dmax=12+0,028=12,028m Dmin=12−0,028=11,972m

)

Keterangan

(jarak optis masuk dalam kategori jarak toleransi pita yaitu terltak diantara Dmin dan Dmax

- P3 –P4 = 0,008

13,9+0,0003.13,9+0,005 = 0,030 m

(

Dmax=13,9+0,030=9,724m Dmin=13,9−0,030=9,672m

)

Keterangan

(jarak optis masuk dalam kategori jarak toleransi pita yaitu terletak diantara Dmin dan Dmax

- P4 –P5 = 0,008

12+0,0003.12+0,005 = 0,028 m

(

Dmax=12+0,028=12,028m Dmin=12−0,028=11,972m

)

Keterangan

(jarak optis masuk dalam kategori jarak toleransi pita yaitu terltak diantara Dmin dan Dmax

d.Beda tinggi

(

Tinggi alat(Ta)−Bt

)

- P1–P2 = (1,180−1,385=−0,205m) - P2-P3 = (1,180−1,249=−0,110m)

- P3-P4 = (1,180−1,308=0,054m) - P4-P5 = (1,180−1,402=−0,010m) - P5-P1 = (1,180−1,435=−0,023m) e.Sudut α -αP2 ke P5 HR (kanan) = 245°49'05 right ¿ HL (kiri ) = 114°10'¿55 right -αP2 = α P1 ke P3 HR (kanan) = 245°37'45 right ¿ HL (kiri ) = 114°22'15 right ¿ -αP3 = αP2 ke P4 HR (kanan) = 275°54'¿55 right HL (kiri ) = 87°05'25 right ¿ -αP4 = αP3 ke P5 HR (kanan) = 254°24'55 right ¿ HL (kiri ) = 125°35'5 right ¿ -αP5 = α P4 ke P1 HR (kanan) = 261°14'40 right ¿ HL (kiri ) = 98°45'20 right ¿

Rumus.

¿ αP1 + αP2+ αP3+ αP4+ αP5 = 114°10'55 + 114°22'15 +87°0 5 '25+125°35'5 +98°45' 2 0 = 540 ° f.Luas areal luas 1=1

2(jarak P2P1X jarak P2P3)Xsinα1 = 114°22'5 1 2(14X12,003)Xsin¿ = 76,534 m2 luas 2=1 2(jarak P1P3X P1P5)Xsinα1b P2P32 = ( P1P2 ¿ ¿2 + (P2P3) 2 - 2 (P1P3)2 . ( (P2P3)❑ sin α2 P1P2 = (12,003)2 + 114°22'15 (14)2−12.2,003 .14 cos¿ = 21,88 m Sin 1α = 12,003 sinα2

21,88 = 0,49 shif+ sin (anti sinus) α1a = 29 °20'26,09 α1b = 114 °22'15 -29°20'26,09 = 85 °1'48,91 ¿1 2(21,88x9,5) sin 85 °1'91 = 103,539 m luas 1=1

= 125°35'5 1 2(11,440X11,99)Xsin¿ = 55,774 m

Luas areal total

L ∆=76,534+103,539+55,774 = 235,847 m

h.Tinggi galian rata-rata (ha) h = ST . P5 ¿ (ST . P1)+(ST . P2)+(ST . P3)+(ST . P4)+¿ ¿ = (3.3−3,290)+(3.3−3,185)+(3.3−3,239)+ (3.3−3,229)+(3.3−3,206) 5 = 0,6915 = 0,138 m3 i.Volume

L ∆ . h = 235,847 m3 8.KESIMPULAN

Dari hasil pengukuran dilapangan serta pengukuran /pengolahan data (analisis) dapat disimpulkan bahwa hasil pengukuran yang telah dilakukan yang sesuai apabila jarak optis yang dapat sama dengan jarak pita ukur dan sehingga masuk dalam lingkaran yang dapat ditoleransi pada saat pembacaan benang diharapkan dengan teliti dan hati-hati setelah dicek haruslah akurat sehingga dapat dikategorikan dapat ditoleransi paling tidakn untuk mencapai dapat ditoleransi minimal ±0,005 (dapat dijadikan acuan pada pratukum yang selanjutya )

Nama : Reno Aji Saputra Topik : Lengkungan Nim : 15061025 Hari/tanggal : Senin,8 april2016 Program Studi : S-1 Pendidikan Teknik Lokasi : Depan Labor FIK

Bangunan UNP(Lapangan bola)

Fakultas : Fakultas Teknik UNP Cuaca : Cerah

1.KOMPETENSI

Dengan berakhirnya perkuliahan terutama pada pratikum kali ini diharapkan kepada mahasiswa/I untuk dapat Hendaknya dapat melakukan hal-hal berikut ini:

s. Mampu melakukan pengukuran untuk membuat lengkungan pada dua arah t. Mampu menghitung koordinat titik –titik busur utama dan busur peraliahn u. Mampu menggaambarkan hasil pengukuran dengan skala tertentu

2.TEORI SINGKAT

Pengukuran lengkungan biasanya untuk pembuatan belokan pada jalan raya ,

irigasi dan sebagainya .kegunaan belokan ini tidak lain untuk menghubungkan dua arah yang berpotongan supaya perpindahannya berjalan lancar ,dalam penggunaannya dibagi atas dua bagian yaitu pengukuran titik-titik utama dan titik –titik detail

Berikut rumus –rumus yang akan dipaki dalam perhitungan pengolahan data untuk lengkungan adalah sebagai berikut:

a. Perhitungan titik utama

1) Sudut tikungan = (µ) = 180 °β 2) ST1 = ST2 = R.tg 12 µ

3) T1K = T2K = T1E = T2E = R.sin 1 2 µ

4) E1M = E2M = MK =PM – PK = 2R. sin2 14 µ 5) MS = PS – PM = R.tg 1

4 µ tg 1 2 µ b. Perhitungan titik – titik detail

1) X1 = a

2) Y1 = R -

R2−a2

4) Y2 = R -

R2−4.a2

3.KESELMATAN KERJA

a. Pelajarilah setiap lembaran mengenai laporan yang dikerjakan sebelum melakukan pratikum

b. Perhaatiikan keadaan lapangan pengukuran supaya tidak terjadi kecelakaan kerja c. Gunakanlah alat sebagaimana mestinya dan yang terpenting juga lindungi alat dan keselamatan diri

d. Pakailah atribut yang mendukung kelancaran saat pratikum misalnya paying yang berguna untuk melindungi panasnya trik matahari.

4.ALAT DAN PERLENGKAPAN

a. Labsheet g. pita ukur b. Theodolite manual tipe SOKKIA h. pen ukur c. Tali plastik i. payung

d. Statif j. alat –alat tulis yang dibutuhkan e. Bak ukur

f. Yalon

5. LANGKAH KERJA

a. Siapkanlah semua alat dan perlengkapan yang diperlukan dan periksa dengan teliti

b. Tentukanlah tempat stasiun pengamatan

c. Tinjau daerah pengukuran ,kemudia tentukan rencana pengukuran dan buat sket gambar terhadap rencana tadi

d. Tancapkan yalon pada sumbu jalan (garis yang sudah ditentukan )yaitu titik A dan B

e. Begitu juga pada sumbu jalan yang berlawanan dengan garis AB,yaitu titik C dan D (lihat gambar kerja)

f. Perpanjang garis AB dengan titik E dan F begitu juga garis CD dengan titik G dan H lalu tarik tali plastic dari titik EF dan dari titik G dan H,sehingga dapatlah titik potongan (titik pertemuan /S)

g.Stel alat theodolite manual tipe sokkia diatas titik S dan arahkan ke titik C dan baca sudut horizontal pertama sehingga dapatlah (sudut β)

h. Putar theodolite searah jarum jam dan arahkan ketitik A dan baca sudut horizontal nya dengan membelah sudut tikungan( µ ) bacaan kedua i. Hitung besar sudut β yaitu hasil pengurangan bacaan pertama dan kedua j. Hitung besar sudut tikungan (µ ) dengan rumus pada teori singkat

k. Ukurlah /tempatkan titik –titik dari hasil perhitungan menggunakan theodolite dan pita ukur serta alat lannya

l. Bagi sudut β dengan alat theodolite sehingga didapat garis bagi lalu ukur ST1 dan ST2 dari titik S dan jarak SM,kemudia dari titik M ditarik perpanjangan R ketitik P ( pusat busur lingkaran) maka akan didapatlah jarak SP

m. Dari titik T1 dan T2 ditarik garis ke P tegak lurus pada garis AB dan CD lalu untuk titik detail diukur mulai T1 dan T2 sampai ketitik S

n.Dari titik detail dilingkari dengan tali plastic sehingga akan menjadi busur lingkaran

o. Setelah semua data diperoleh maka buatlah laporan mengenai yang

dipratikumkan dan disertai gambar hasil pengukuran dengan skala tertentu tergantung apa yang telah diamanatkan oleh instruktur (dosen bersangkutan)

6.ANALISIS DATA a. Jarak bt dan cek bt

- P1-P2 (Bt) = ba+2bb = 1,319+0,915

2

= 1,776 m (dinyatakan masuk toleransi)

- P2 –P3 (Bt) = ba+2bb = 1,622+1,259

2

= 2,251 m (dinyatakan masuk toleransi) - P3-P4 (Bt) = ba+2bb

= 1,309+0,659 2

- P4-P5 (Bt) = ba+bb 2 = 1,699+20,990

= 2,194 m (dinyatakan masuk toleransi) - P5-P1 (Bt) = ba+bb

2 = 1,635+21,145

= 2,207 m (dinyatakan masuk toleransi) b.Jarak optis

Rumus:(BaBb)x100

- P1-P2 = (1,319−0,915)x100 = dinytakan masuk toleransi40,4m(¿)

¿

- P2-P3 = (1,622−1,259)x100

= dinytakan masuk toleransi36,3m(¿) ¿

- P3-P4 = (1,309−0,695)x100 = dinytakan masuk toleransi61,4m(¿)

¿

- P4-P5 = (1,699−0,990)x100

= dinytakan masuk toleransi70,9m(¿) ¿

- P5 = (1,635−1,145)x100 = dinytakan masuk toleransi49m(¿)

¿ c. Cek toleransi jarak

Rumus. S1 = 0,008

D+0,0003. D+0,005 - P1 = 0,008

12,7+0,0003 .12,7+0,005

(

Dmax=12,7+0,028=12,778m Dmin=12,7−0,028=12,672m

)

Keterangan

(jarak optis masuk dalam kategori jarak toleransi pita yaitu terltak diantara Dmin dan Dmax)

- P2 = 0,008

9,8+0,0003 .9,8+0,005 = 0,025 m

(

Dmax=9,8+0,025=9,825m Dmin=9,8−0,025=9,775m

)

Keterangan

jarak optis masuk dalam kategori jarak toleransi pita yaitu terltak diantara Dmin dan Dmax)

- P3 = 0,008

9,7+0,0003 .9,7+0,005 = 0,024 m

(

Dmax=9,7+0,024=9,724m Dmin=9,7−0,024=9,672m

)

Keterangan

(jarak optis masuk dalam kategori jarak toleransi pita yaitu terltak diantara Dmin dan Dmax)

- P4 = 0,008

4,5+0,0003 .4,5+0,005 = 0,017 m

(

Dmax=4,5+0,017=4,517m Dmin=4,5−0,017=4,483m

)

Keterangan

jarak optis masuk dalam kategori jarak toleransi pita yaitu terltak diantara Dmin dan Dmax)

- P5 = 0,008

13,2+0,0003.13,+0,005 = 0,029 m

(

Dmax=13,2+0,029=9,724m Dmin=13,2−0,029=9,672m

)

Keterangan

(jarak optis masuk dalam kategori jarak toleransi pita yaitu terltak diantara Dmin dan Dmax)

d.Beda tinggi

- P1 = (1,132−1,115=0,017m) - P2 = (1,030−1,440=−0,041m) - P3 = (1,360−1,000=0,36m) - P4 = (1,258−1,345=−0,087m) - P5 = (1,250−1,390=0,14m) e. Ketiggian titik

jika ketinggian titik ketentuannya 3.00 m P1 = 3,000 m P2 = 3,000 + 0,017 = 3,017 m P3 = 3,017 – 0,41 = 2,607 m P4 = 2,607 + 0,36 = 2,967 m P5 = 2,967 – 087 = 2,88 m P1 = 2,88+ 0,14 = 3,02 m e.Sudut α

Berikut sudut yang diperoleh dimasing –masing titik Jika sudut=

540°0'10 ¿ P1 = 85 °29'25 P2 = 200 °02'55 P3 = 70 °00'55 : P4 = 89 °45'30 P5 = 94 °41'25 f.Cek sudut

jika jumlah sudut = 540 °0'10 -540°0'0

dengan toleransi = maks 0,015 detik/sekon(“) skala nasional sudut yang dukur=¿

¿ (n - 2) x 180 °

= (5−2)x180° = 540 °0'0

Dengan toleransi masing masing setiap sudut yaitu: = Toleransi jumlah sudutjumlahtitik

= 10 } over {5

= 2” toleransi setiap masing-masing sudut Penyeleksian setiap sudut

f. P1-P2 = 2” 85°29'25 2” = 85°29'23 g. P2-P3 = 2” 200°02'55 −2=200°02'53 h. P3-P4 = 2” ←70°00'55 −2 = 70°00'53 i. P4-P5 =2” 89°45'30 -2 = 89°45'28 j. P5-P1 = 2” 94°41'25 -2 = 94 ° 41’23” g.Sudut Azimuth c. P1-P2 = 284 ° 53’45” d. P2-P3 =(284 ° 53’45”+180 °¿−200°02'53 = 264 °50'52 c. P3-P4 = (264 ° 50’52”+ 180 ° )-70 ° 00’53” = 14 °49'52 d. P4-P5 = (14 °49'52 +180)-89 °45'28 = 105 °4'31 e. P5-P1 =( 105 °4'31+180°) 94 °41'23

= 190 °23'8 f. P2-P1 = (190 °23'8 +180°)-85°29'23 = 284 °53'45 h. D sin t P1-P2 =sin (264 ° 50’5”) = -39,042- 0,0198 = -39,00618 P2-P3 =sin (14 ° 49’55”) =-36,153-0,0198 = -36,1728 P3-P4 =sin(105 ° 4’25”) = 15,721-0,0198 = 15,7012 P4-P5 =sin(190 ° 23’0”) = 68,460- 0,0198 = 68,4402 P5-P1 =sin(284 ° 53’45”)= -8,887- 0,0198 = - −8,9068 ❑ + = 0 i,D cos t P1-P2 = 10,385 + 0,0887 = 10,4737 P2-P3 = -3,260 + 0,0887 = -3,1713 P3-P4 = 59,3635 + 0,0887 = 59,4522 P4-P5 = -10,4400 + 0,0887 =-18,3513 P5-P1 = -48,4920 +0,0887 = −48,40330

+

j. Titik koordinat X

P1 = 0 P2 = 0 + (-39,0618) = -39,0618 P3 = 39,0618 + (-36,1728) = -75,2346 P4 = -75,2346 + 15,7012 = -59,5334 P5 = -59,5334 + 68,4402 = 8,9068 P1 = 8,9068 + (-8,9068) = 0 k.Titik koordinat Y P1 = 0 P2 = 0 + 10,4737 = 10,4737 P3 = 10,4737 + (-3,1713) = 7,3024 P4 = 7,3024 + 59,4522 = 66,7546 P5 = 66,7546 + (-18,3613) = 48,4033 P1 = 48,4033 + (-48,4033)= 0 7.TABULASI DATA TABEL PENGUKURAN No Titik Bidik Tinggi Alat

Bacaan sudut Bacaan bak Jarak

pita(m) Horizontal Tolrnsi ba bt bb 1. P1 1,132 89 °29'25 2” 1,319 1,115 0,915 40,41 2. P2 1,030 200 °02'55 2” 1,622 1,440 1,259 36,6 3. P3 1,360 70 °00'55 2” 1,300 1,000 0,965 61,4 4. P4 1,258 89 °45'30 2” 1,699 1,345 1,258 70,9 5. P5 1,250 94 °41'25 2” 1,635 1,390 1,145 49,3

TABEL ANALISIS DATA

No Bacaan sudut Ko

r.

Azimuth Jarak

(m) ∆ X ∆ Y

Koordinat

° ‘ “ “ ° ‘ “ D sin t koreksi D cos t koreksi

X Y 1. 89 ° 29' 252” 284° 53’ 45” 41,41 -30,0168 0,098 10,4737 0,0887 0 0 2. 200 ° 02' 552” 264° 50’ 50” 36,3 -36,1728 0,098 -3,1713 0,0887 -39,06 18 10,4 737 3 70 ° 00' 552” 14° 49’ 55” 61,4 15,7012 0,098 59,4522 0,0887 -75,23 46 7,30 24 4. 89 ° 45' 302” 105° 4’ 25” 70,9 68,4402 0,098 -18,3513 0,0887 -59,53 34 66,7 546 94 ° 41' 252” 284° 53” 45” 49,3 -8,9068 0,098 -48,4033 0,0887 8,9068 48,4 030 0 0

TABEL PENGUKURAN LUAS DENGAN SISTEM KOORDINAT Titik Koordintat 2L=

(Xn .Yn−1)−(Yn+1. Xn) X Y P1 0 0 (0).(+10,4737)-(0-39,0618) = 0 P2 -39,0618 10,4737 (-39,0618).(+7,3024)-(+ 10,4737. -75,346) =502,759 P3 -75,346 7,3024 (75,346).(+ 66,7546)-(+ 7,3024. 59,5334) = -4587,519 P4 -59,5334 66,7546 (-59,5334).(+ 48,4033)-(+ 66,7546.+ 8,9068)=- 3476,183 P5 8,9068 48,4033 (+8,9068).(0)-(+ 48,4033.0) = 0 P1 0 0

2L=−7560,963m2 L= -3780,481 m2

8.KESIMPULAN

Dari hasil pengukuran dilapangan serta pengukuran /pengolahan data (analisis) dapat disimpulkan bahwa hasil pengukuran yang telah dilakukan yang sesuai dengan kodratnya dan idealnya ,jika jarak yang diukur dilapangan langsung dan jarak yang diukur serta telah dilakkukan pencarian secara analisis itu hanya memiliki selisi yang tipis dan dapat dikatakan masuk toleransi yang diminta ,jika jarak yang dilapangan telah dicek toleransi dengan rumus ternyata akurat,maka hasil pengukuran dapat dikatakan akurat(dapat dijadikan acuan pada pratukum yang selanjutya )

Nama : Reno Aji Saputra Topik : Pengukuran Garis Kontur Sistem Tacheometry

Nim : 15061025 Hari/tanggal : Senin,28 maret2016 Program Studi : S-1 Pendidikan Teknik

Bangunan

Lokasi : Labor FIK UNP (Lapangan Bola)

Fakultas : Fakultas Teknik UNP Cuaca : Cerah

1.KOMPETENSI

Dengan berakhirnya perkuliahan terutama pada pratikum kali ini diharapkan kepada

mahasiswa/I untuk dapat Hendaknya dapat melakukan hal-hal berikutb ini: a. Mampu melakukan pengukuran tinggi titik (spot height) dilapangan untuk

Konturing tacheometry

b. Mampu menggambarkan hasil pengukuran konturing skala sesuai yang Ditentukan Oleh instruktur atau dosen yang bersangkutan

2.TEORI SINGKAT

Pengukuran garis kontur sistem tacheometry hamper sama dengan pengukuran garis kontur sistem polar ,disini alat yang dipakai adalah theodolite,karena lokasi yang diukur sangat kompleks(daerah tidak teratur) Berikut Rumus –rrumus yang dipakai untuk menganalisa dan pembuatan gambar adalah:

a. Cek benang tengah (Bt) = (Ba+Bb) 2

b. Jarak optis = (BaBb) x 100 Jarak miring (O) = (BaBb) x 100 cos α Jarak datar (S) = (BaBb) x 100 cos2 α

c. Beda tinggi (V) = 50 (BaBb) x 100 cos 2α (V) = Y + (H1 – H2 )

(H1) = tinggi pesawat

(H2) = tinggi bacaan benang yang ditengah

(Y) = beda tinggi antar bacaan benang tengah dengan garis

Bidik

d. Interval = 12

x

10001

x

skala peta

e. Tinggi titik = tinggi titik tempat ± beda tinggi

3.KESELAMATAN KERJA

a. Pelajarilah setiap lembaran mengenai laporan yang dikerjakan sebelum melakukan pratikum

b. Perhaatiikan keadaan lapangan pengukuran supaya tidak terjadi kecelakaan kerja c. Gunakanlah alat sebagaimana mestinya dan yang terpenting juga lindungi alat

dan keselamatan diri

d. Pakailah atribut yang mendukung kelancaran saat pratikum misalnya paying yang berguna untuk melindungi panasnya trik matahari.

4.ALAT DAN PERLENGKAPAN

a. Labsheet g. pita ukur b. Theodolite manual tipe sokkia h. pen ukur c. Unting- unting i. payung

d. Statif j. alat –alat tulis yang e. Bak ukur dibutuhkan

f. Kompas

5. LANGKAH KERJA

a. Siapkanlah semua alat dan perlengkapan yang diperlukan dan periksa dengan teliti

b. Rencanakanlah lokasi yang akan diukur dan buatlah sket gambar pengukuurannya

c. Cari salah satu titik yang sudah diketahui ketinggiannya dan koordinat sebagai titik bantu

d. Letakkan alat sedimikian rupa,sehingga dari titik tersebut tadi dapat dibidik sebanyak mungkin tapi kali ini hanya 3 titik p1,p2 dan p3 serta cabang- cabangnya

e. Stel alat dan ukur tinggi alat terhadap titik tersebut serta nolkan sudut horizontal dengan cara buka pengunci horizontal lalu pusatkan pada posisi (0 °0'0 ) begitu juga sudut vertical dengan cara buka pengunci teropong buka

penggerak halus untuk sudut vertical dan pusatkanlah sudut vertical pada posisi 90 °

f. Arahkan teropong ke utara dan kedua –duanya sudut tadi masih dalam keadaan nol setelah itu arahkan ketitik yang akan dibidik(letakan bak ukur)

g. Tentukan titik – titik untuk mengarahkan alat pada patahan setiap batas tanah h. Pasang bak ukur pada titik batas tanah dan putar alat searah jarum jam serta arahkan teropong pada titik yang akan dibidik (titik p1,p2,p3 dan cabang- cabangnya titik abc,def dang hi) lalu baca bacaan benang dan sudut horizontal sudut vertical jika ada untuk sekarang tidak ada

i. Arahkan theodolite ketitik lainnya kedaerah yang mencurigakan perbedaan tingginya serta pasang bak ukur pada titik tersebut dan baca bacaan benang serta lakukan sesuai dengan keadaan tanah disepanjang titik batas tanah ke alat

j. Putar alat searah jarum jam dan arahkan pada titik batas lainnya dan baca bacaan benang sudut horizontal dan vertical (sekarang tidak ada)

k. Tempatkan bak pada ketinggian titik yang mencurigakan disepanjang garis dari alat ketitik batas tanah (langkah j) dan baca bacaan benang dan sudut horizontal

l. Lakukan pengukuran selanjutnya hingga kembali ketitik awal seperti langkah h-k ( baca bacaan sudut horizontal = 360 ° 0’00”)

n. Dengan cara yang sama seperti langkah h-k,setelah semua lokasi dilakukan pengukuran ,cek kembali datanya jangan sampai ketinggalan

o. Hitung hasil pengkuran dengan rumus pada teori singkat

p. Gambarkan garis kontur beerdasarkan perhitungan dengan skala yang ditentukan oleh instruktur (dosen bersangkutan)

6.ANALISIS DATA

a. Cek benang tengah (Bt) Rumus = 12(Ba+Bb) Titik A = 0,625+0,302

2

= 0,464 m (dinyatakan masuk toleransi)

Titik B =

1,129+20,484

= 0,989 m (dinyatakan masuk toleransi)

Titik C =

1,349+21,095

= 1,222 m (dinyatakan masuk toleransi)

Titik D = 0,570+0,218

2

= 0,394 m (dinyatakan masuk toleransi)

Titik E =

1,044+20,724

= 0,884 m (dinyatakan masuk toleransi)

Titik F

= 1,225+21,008

= 1,132 m (dinyatakan masuk toleransi)

Titik G =

0,247+20,030

= 0,139 m (dinyatakan masuk toleransi)

Titik H =

0,318+20,198

= 0,258 m (dinyatakan masuk toleransi)

Titik I =

0,570+21,149

= 1,193 m (dinyatakan masuk toleransi)

b. Jarak optis

Dalam dokumen LAPORAN PRATIKUM ILMU UKUR TANAH (Halaman 53-85)

Dokumen terkait