BAB IV HASIL PENELITIAN
4.6. Tabulasi Silang
4.6.4. Tabulasi Silang Antara Sikap dan Tindakan
Tabel 4.13. Tabel Tabulasi Silang Antara Sikap dan Tindakan Responden
No Total Nilai Sikap
Kategori Nilai Tindakan
Total
Baik Sedang Buruk
Jlh % Jlh % Jlh % Jlh %
1 Baik 2 2,9 15 21,7 10 14,5 27 39,1
2 Sedang 0 0 17 24,6 24 34,8 41 59,4
3 Buruk 0 0 1 1,4 0 0 1 1,4
Total 2 2,9 33 47,8 34 49,3 69 100
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa mayoritas responden dengan sikap baik memiliki tindakan sedang (21,7%). Kategori tindakan yang paling sedikit untuk sikap baik adalah tindakan baik sebanyak 2,9%. Sikap sedang didominasi oleh tindakan buruk, yaitu sebanyak 34,8%. Sedangkan sikap buruk terdiri dari 1 responden (1,4%) yang memiliki tindakan sedang.
BAB V PEMBAHASAN
5.1. Karakteristik Supir Angkutan Kota Trayek Martubung-Amplas
Berdasarkan karakteristik responden, responden terbanyak berada pada kelompok umur 23-28 tahun. Hal ini dapat disebabkan oleh demografi kota Medan. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, penduduk Medan berjumlah 2.109.339 jiwa dan ± 1.377.751 jiwa diantaranya berada pada kelompok usia produktif (Anonim, 2010). Umur dapat berpengaruh terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Orang dengan kelompok umur lebih muda cenderung lebih mudah menerima dan memanfaatkan informasi yang mereka dapatkan. Semakin dewasa usia seseorang, semakin sulit untuk mengubah perilakunya karena mereka sudah memiliki pengetahuan, sikap maupun keterampilan yang sudah mereka yakini selama bertahun-tahun (Notoatmodjo, 2003).
Sebagian besar responden baru bekerja selama 1 hingga 2 tahun saat wawancara dilakukan. Masa kerja reponden berpengaruh terhadap pengetahuan responden tentang uji emisi kendaraan bermotor. Semakin lama responden bekerja sebagai supir angkutan kota, maka diasumsikan bahwa pengetahuan responden mengenai uji emisi kendaraan bermotor menjadi lebih banyak.
Berdasarkan tabel 4.2. dapat diketahui bahwa sebagian besar responden (52,5%) memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA. Hal ini sesuai dengan hasil sensus penduduk 2010 yang menyatakan bahwa rata-rata lama sekolah penduduk kota Medan mencapai 10,5 tahun (Anonim, 2010).
Responden yang memiliki penghasilan kurang dari Rp 1.020.000,- sebanyak 52,2%. Nilai Rp 1.020.000,- sesuai dengan nilai Upah Minimum Kota (UMK). Penetapan upah minimum merupakan upaya melindungi para pekerja sehingga upah yang diterimanya dapat menjamin kesejahteraan bagi dirinya maupun keluarganya dan para pekerja tidak diperlakukan semena-mena oleh pengusaha. Upah Minimum Kota ditetapkan oleh Gubernur untuk besarnya mengatur upah minimum untuk daerah yang bersangkutan yang nilainya lebih besar daripada Upah Minimum Propinsi (Budiyono, 2007).
Sebesar 15,9% responden merupakan supir sekaligus pemilik angkutan kota. Namun, sebagian besar responden (84,1%) mengendarai angkutan kota milik orang lain. Jika supir merupakan pemilik angkutan kota, diasumsikan supir tersebut lebih telaten dalam merawat angkutan kota mereka.
5.2. Sumber Informasi Mengenai Uji Emisi Kendaraan Bermotor
Responden yang pernah mendapat informasi mengenai uji emisi kendaraan bermotor sebanyak 40,6%. Media yang paling banyak memberikan sumber informasi kepada responden yaitu televisi (60,7%). Sedangkan informasi yang paling sedikit diperoleh dari petugas kesehatan (14,3%). Menurut Snehandu B. Kar dalam Notoatmodjo (2003), perilaku seseorang ditentukan oleh beberapa hal, salah satunya adalah ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan. Berdasarkan teori tersebut, dapat diketahui bahwa informasi yang diperoleh mengenai uji emisi kendaraan bermotor merupakan salah satu hal pokok dalam pembentukan perilaku supir angkutan kota tentang uji emisi kendaraan bermotor.
Edgar Gale membagi alat atau media pendidikan kesehatan menjadi 11 macam dengan urutan yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Menurut Gale, televisi berada di urutan kelima yang berarti media ini cukup ampuh digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Sedangkan kata-kata atau ceramah dan tulisan masing-masing berada pada urutan pertama kedua. Hal ini menandakan bahwa kedua media pendidikan kesehatan tersebut kurang efektif jika digunakan sebagai media promosi atau penyampaian pesan-pesan kesehatan. Demikian juga halnya dengan radio yang berada di urutan ketiga.
5.3. Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Supir Angkutan Kota Trayek Martubung-Amplas Tentang Pentingnya Uji Emisi Kendaraan Bermotor 5.3.1. Pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa 11,6% responden terdiri dari responden yang mengetahui tentang pengertian pencemaran udara sebagai udara yang kotor, udara yang terkena debu dari asap pabrik/kendaraan dan udara yang mengandung bahan atau zat asing yang disebabkan oleh aktivitas manusia/alam yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pengetahuan responden mengenai pengertian pencemaran udara dan apa saja sumber pencemaran udara belum baik. Hal tersebut dapat disebabkan oleh rendahnya persentase responden yang pernah mendapat informasi mengenai uji emisi kendaraan bermotor.
Responden yang mengetahui bahwa “gangguan kesehatan” “cuaca/iklim yang tidak teratur” dan “suhu bumi semakin meningkat” merupakan dampak negatif pencemaran udara sebanyak 5,8%. Kurangnya pengetahuan responden mengenai
dampak pencemaran udara dapat disebabkan oleh pengetahuan responden mengenai arti pencemaran udara itu sendiri yang masih bersifat umum. Responden kurang mengetahui bahwa pencemaran udara dapat memberikan dampak kepada kesehatan manusia dan lingkungan. Hal tersebut dapat menyebabkan responden kurang mengerti berapa besar masalah yang bisa ditimbulkan oleh pencemaran udara.
Responden pun kurang mengetahui usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingginya pencemaran udara. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 92,8% responden hanya mengetahui 1 atau 2 usaha yang bisa dilakukan untuk mengurangi tingginya pencemaran udara dari 5 pilihan yang disediakan, yakni “menanam pohon”, “memakai bensin yang tidak mengandung timbal”, “melakukan uji emisi kendaraan bermotor”, “tidak mengebut” dan “tidak membawa penumpang melebihi kapasitas angkutan kota”. Bahkan, tidak ada satupun responden yang mengetahui semua jawaban pertanyaan ini. Kurangnya informasi bisa menjadi sebab rendahnya pengetahuan responden mengenai hal tersebut.
Kurangnya pengetahuan responden mengenai dampak negatif pencemaran udara dan usaha-usaha apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi tingginya pencemaran udara dapat menyebabkan usaha responden untuk turut berpartisipasi dalam usaha mengurangi tingkat pencemaran udara terbatas. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan merupakan aspek yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang. Kurangnya pengetahuan akan menghambat pembentukan perilaku sesuai dengan yang diinginkan. Kurangnya pengetahuan responden mengenai hal ini dapat disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan responden mengenai pengertian pencemaran udara.
Persentase responden yang mengetahui arti emisi sebagai gas buang kendaraan bermotor cukup rendah, yakni sebanyak 42%. Responden yang mengetahui arti uji emisi kendaraan bermotor juga cukup rendah, yaitu sebanyak 52,2%. Data tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan responden mengenai arti emisi dan uji emisi kendaraan bermotor masih belum sempurna. Hal ini dapat diakibatkan oleh ketidaksempurnaan informasi yang diterima responden mengenai uji emisi kendaraan bermotor. Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan mampu dikembangkan manusia disebabkan salah satunya karena manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi tersebut. Jika bahasa yang mengkomunikasikan informasi tersebut salah diterima, maka pengetahuan tentu tidak akan berkembang dengan baik.
Pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor sebanyak minimal 1 kali dalam 6 bulan telah diketahui oleh 53,6% responden. Kurangnya pengetahuan responden tentang berapa kali seharusnya uji emisi kendaraan bermotor dilaksanakan dapat disebabkan oleh rendahnya persentase responden yang mengetahui arti uji emisi itu, yakni 52,2%. Tim kerja dari WHO berpendapat bahwa salah satu hal yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku pada seseorang yaitu karena adanya pengetahuan (Notoatmodjo, 2003). Oleh sebab itu, kurangnya pengetahuan responden tentang berapa kali uji emisi kendaraan bermotor seharusnya dilakukan dapat menyebabkan tindakan mengenai uji emisi juga tidak baik.
Pengetahuan responden mengenai kendaraan apa saja yang wajib uji emisi juga kurang sempurna. Responden yang mengetahui kendaraan yang wajib uji emisi
sebanyak 21,7% responden. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang sempurnanya informasi yang diterima oleh responden mengenai uji emisi kendaraan bermotor.
Uji emisi memiliki banyak manfaat. Pengetahuan tentang manfaat uji emisi dapat menjadi motivasi bagi responden untuk melakukan uji emisi kendaraan bermotor. Pengetahuan tentang manfaat uji emisi kendaraan bermotor juga dapat mempermudah terwujudnya perilaku sebagaimana yang dinyatakan oleh Green dalam Notoatmodjo (2003) mengenai faktor predisposisi perubahan perilaku, yaitu salah satu hal yang mempermudah terjadinya perubahan perilaku adalah mengetahui manfaat dari perilaku tersebut. Namun, dari hasil penelitian diketahui bahwa persentase responden yang mengetahui semua manfaat uji emisi hanya sebesar 8,7%. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya informasi yang diperoleh responden tentang uji emisi kendaraan bermotor.
Saat melakukan uji emisi kendaraan bermotor, ada beberapa komponen yang diukur atau diperiksa, yakni CO, CO2, HC, suhu, lambda, dan O2. Hasil komponen
tersebut akan ditampilkan pada kertas hasil uji emisi. Namun, 37,7% responden tidak mengetahui komponen apa saja yang diukur dalam uji emisi kendaraan bermotor dan tidak ada satupun responden yang bisa menjawab semua komponen tersebut sebagai komponen yang harus diperiksa saat melakukan uji emisi. Maka diasumsikan bahwa masih banyak responden yang belum pernah melakukan uji emisi kendaraan bermotor.
Berdasarkan SNI 09-7118.1-2005 tentang emisi gas buang – sumber bergerak- bagian 1: cara uji kendaraan bermotor kategori M, N, dan O berpenggerak penyalaan cetus api pada kondisi idle dan SNI 09-7118.2-2005 tentang emisi gas
buang – sumber bergerak- bagian 2: cara uji kendaraan bermotor kategori M, N, dan O berpenggerak penyalaan kompresi pada kondisi akselerasi bebas, telah ditetapkan prosedur uji emisi kendaraan bermotor. Namun, dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pengetahuan responden mengenai hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan uji emisi kendaraan bermotor masih kurang. Tidak ada satupun responden yang mengetahui keempat hal yang harus diperhatikan seperti yang dicantumkan di kuesioner. Hal ini dapat disebabkan oleh masih sedikitnya responden yang pernah melakukan uji emisi kendaraan bermotor.
Pengetahuan responden mengenai lama waktu uji emisi kendaraan bermotor juga tidak bagus. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian dimana hanya 20,3% responden yang mengetahui bahwa uji emisi kendaraan bermotor memakan waktu ±15 menit. Keterbatasan pengetahuan responden mengenai waktu uji emisi bisa disebabkan oleh ketidaktahuan mereka mengenai arti dari uji emisi tersebut.
Sanksi bisa membuat seseorang tunduk pada suatu peraturan sebagaimana yang dikatakan Soemartono dalam Erwin (2008) bahwa sanksi merupakan suatu pelaksanaan peraturan yang dapat memaksa seseorang untuk mengikuti atau melaksanakan peraturan tersebut. Dalam UU nomor 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 67 telah ditetapkan bahwa pelanggaran emisi kendaraan bermotor akan diberi hukuman berupa pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah). Namun, hanya 2,9% responden yang mengetahui kedua sanksi tersebut. Sebanyak 40,6% responden hanya mengetahui salah satu sanksi yang diterapkan. Bahkan, 56,5% responden tidak mengetahui mengenai sanksi pelanggaran emisi ini.
Kurangnya pengetahuan responden mengenai sanksi uji emisi bisa disebabkan oleh kurangnya informasi yang diperoleh responden mengenai uji emisi kendaraan bermotor. Kurangnya pengetahuan responden mengenai sanksi uji emisi juga bisa menyebabkan tindakan responden mengenai uji emisi tidak seperti yang diharapkan.
5.3.2. Sikap
Menurut Witodjo (1990) sikap juga timbul dari pengalaman, tidak dibawa dari lahir, tetapi merupakan hasil dari belajar, karena itu sikap dapat diperteguh atau dapat diubah. Sikap menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu, menentukan apakah yang disukai, diharapkan, dan diinginkan, mengesampingkan apa yang tidak diinginkan dan apa yang harus dihindari.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa 42% responden menyatakan kurang setuju dan 10,1% responden tidak setuju bahwa kendaraan bermotor merupakan sumber pencemaran udara terbesar. Hal tersebut tidak sesuai dengan pendapat Fardiaz (1992) yang menyatakan bahwa sumber pencemaran udara terbesar berasal dari kendaraan bermotor. Hasil penelitian Bapedal (1992) dibeberapa kota besar (Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya) juga menunjukan bahwa kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran udara (Abubakar, 2005). Hal ini bisa disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan responden mengenai pencemaran udara.
Menurut Kusminingrum, udara yang dihirup, jika tercemar oleh bahan berbahaya dan beracun, akan berdampak serius pada kesehatan manusia, terutama anak-anak yang lebih banyak bermain di udara terbuka dan lebih rentan daya tahan
tubuhnya. Selain menyebabkan kanker dan penyakit saluran pernafasan, polutan udara juga dapat menyebabkan smog (kabut polusi), hujan asam, mengurangi daya perlindungan lapisan ozon di atmosfer bagian atas, dan berpotensi untuk turut berperan dalam perubahan iklim dunia (efek rumah kaca). Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa pencemaran udara memang dapat mengganggu kesehatan manusia. Sebanyak 92,8% responden setuju dengan hal tersebut, hanya 1,4% responden yang tidak setuju.
Sebanyak 11,6% responden tidak setuju jika supir angkutan kota memegang peranan penting dalam usaha menurunkan tingkat pencemaran udara dan sebanyak 43,5% responden menyatakan sikap kurang setuju. Padahal, di dalam UU nomor 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 50 ayat 2 telah dijelaskan bahwa kewajiban mencegah pencemaran udara merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap pemilik, pengusaha angkutam umum dan/atau pengemudi kendaraan bermotor. Sikap supir angkutan kota ini tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan mereka mengenai peraturan tersebut.
Uji emisi kendaraan bermotor dilakukan untuk mengontrol emisi kendaraan bermotor agar emisi yang dikeluarkan tidak melebihi ambang batas sehingga udara tidak tercemar oleh emisi tersebut. Responden yang setuju bahwa uji emisi dapat menurunkan tingkat pencemaran udara sebanyak 78,3%. Hal ini tidak sesuai dengan pertanyaan pengetahuan dimana hanya 23,9% responden yang mengetahui bahwa uji emisi merupakan salah satu usaha untuk mengurangi tingkat pencemaran udara (tabel 4.4). Hal ini bisa terjadi karena sikap merupakan reaksi atau respon yang masih
tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2003). Sikap belum merupakan suatu tindakan tetapi adalah kesiapan bereaksi terhadap objek sehingga bisa saja seseorang tidak tahu mengenai suatu hal tetapi ia memiliki sikap yang positif.
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor 5 tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama, uji emisi gas buang yang wajib dilakukan untuk kendaraan bermotor secara berkala, minimal 6 bulan sekali. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan sikap nomor 5 dimana dinyatakan bahwa uji emisi kendaraan bermotor harus dilakukan satu tahun sekali. Sebanyak 44,9% responden setuju dengan tersebut. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya pengetahuan responden mengenai berapa kali sebaiknya uji emisi kendaraan bermotor secara berkala seharusnya dilakukan.
Dalam UU nomor 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 50 ayat 2 telah ditetapkan bahwa semua kendaraan bermotor harus diuji emisi. Sebanyak 78,3% responden setuju dengan hal tersebut. Sebanyak 75,4% responden juga setuju bahwa uji emisi memiliki banyak manfaat. Kedua hal tersebut bertentangan dengan hasil wawancara pengetahuan responden mengenai pertanyaan kendaraan apa saja yang harus melaksanakan uji emisi dan apa saja manfaat uji emisi. Namun, Newcomb dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa sikap merupakan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak. Jadi, bisa saja seseorang memberikan reaksi tertentu yang bersifat tertutup (bukan dalam bentuk tindakan) terhadap stimulus tertentu dimana mereka belum memiliki pengetahuan apapun tentang stimulus tersebut.
Menurut 39,1% responden, melakukan uji emisi kendaraan bermotor memerlukan biaya yang besar. Padahal biaya untuk melakukan uji emisi kendaraan bermotor dan mendapatkan sertifikat lulus emisi berada dalam kisaran Rp.50.000,- hingga Rp.75.000,-. Hal ini bisa disebabkan oleh status ekonomi responden atau pemilik angkutan kota yang cukup rendah.
Responden yang menyetujui ditegakkannya peraturan uji emisi kendaraan bermotor sebanyak 65,2% dan responden yang setuju bahwa pemberian sanksi terhadap pelanggaran emisi kendaraan bermotor perlu dilakukan sebanyak 59,4%. Tidak semua responden yang menyetujui kedua hal tersebut. Hal ini bisa disebabkan karena belum adanya kesiapan responden dalam mematuhi peraturan. Menurut Erwin (2008), penegakan hukum lingkungan berkaitan erat dengan tiga hal, yaitu: administratif, pidana, dan perdata. Sebagian dari responden yang diwawancara mengatakan bahwa penegakan peraturan uji emisi sebaiknya tidak dilaksanakan. Mereka beranggapan bahwa uji emisi memerlukan biaya yang besar. Sementara jika tidak melakukan uji emisi dan terkena denda, mereka tidak memiliki cukup uang untuk membayar denda tersebut.
Sebanyak 79,7% responden setuju bahwa dengan melakukan uji emisi, kita bisa mengetahui kondisi mesin kendaraan. Diketahui bahwa dengan melakukan uji emisi kendaraan bermotor dapat mengetahui boros tidaknya bahan bakar yang digunakan, indikator kondisi mesin, usia pakai kendaraan menjadi lebih lama dan mencegah terjadinya pencemaran udara.
Melakukan uji emisi kendaraan bermotor tidak memerlukan waktu yang lama, yakni hanya sekitar 15 menit. Namun, 37,7% responden meyakini bahwa
melakukan uji emisi itu memerlukan waktu yang lama. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan responden mengenai arti uji emisi itu sendiri sehingga semua proses pemeriksaan mesin dianggap sebagai uji emisi kendaraan bermotor.
5.3.3. Tindakan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara pasal 21 ayat b menyatakan bahwa “setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan emisi dan/atau gaugguan ke udara ambien wajib melakukan pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran udara yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang dilakukannya”.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa responden yang pernah melakukan uji emisi kendaraan bermotor dan merawat mesin kendaraan bermotor dengan baik sebanyak 26,1%. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa tindakan responden untuk mengurangi tingkat pencemaran udara tidak maksimal. Hal tersebut bisa diakibatkan oleh status ekonomi responden dan/atau pemilik angkutan kota yang cukup rendah sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan kedua hal diatas. Menurut Sukartono (2008) merawat mesin kendaraan dapat mencegah timbulnya reaksi pembakaran yang tidak sempurna dan akhirnya menimbulkan polutan yang semakin tinggi ke udara. Sedangkan uji emisi bisa digunakan untuk memantau emisi gas buang kendaraan bermotor. Jika nilai emisi telah melebihi ambang batas, maka bisa dilakukan tindak lanjut untuk mengurangi polutan yang dihasilkan oleh kendaraan
bermotor tersebut sehingga dapat mengurangi tingkat pencemaran udara (Setiawan, 2008).
Dari tabel 4.6. juga diketahui bahwa 85,5% responden pernah mengebut dan 84,1% responden pernah membawa penumpang melebihi kapasitas angkutan kota. Menurut Kusuma (2002), tindakan mengebut dan membawa penumpang melebihi kapasitas kendaraan bermotor dapat mengakibatkan polutan yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor semakin tinggi. Oleh sebab itu, tindakan-tindakan tersebut harus dihindari untuk mencegah meningkatnya jumlah pencemar udara. Namun, hal tersebut tetap dilakukan oleh responden. tindakan responden ini bisa disebabkan oleh keinginan responden untuk mendapatkan banyak penumpang sehingga pendapatannya lebih besar.
Sebanyak 65,2% responden pernah melakukan modifikasi mesin, sedangkan 34,8% responden tidak pernah melakukannya. Padahal, modifikasi mesin bisa menjadi salah satu alternatif untuk memperbaiki hasil emisi kendaraan bermotor sebagaimana yang dijelaskan oleh Kusuma (2002), memodifikasi mesin untuk mengurangi jumlah polutan yang terbentuk merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi tingkat pencemaran udara.
Menurut Pulkrabek dalam Sukartono (2008), macam dan besar persentase emisi kendaraan bermotor terkandung pada banyak faktor, antara lain: kualitas bahan bakar, tingkat kesempurnaan proses pembakaran, dan kualitas mesin. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa kondisi mesin berpengaruh terhadap emisi kendaraan bermotor. Oleh sebab itu, mesin kendaraan harus sering dirawat untuk menjaga kulitas mesin tetap baik.
Merawat mesin kendaraan bermotor juga dapat menyebabkan usia pakai kendaraan lebih lama dan dapat mendeteksi kelainan-kelainan pada mesin kendaraan sedini mungkin. Dengan demikian, kelainan tersebut dapat segera diperbaiki, misalnya kebocoran pada saluran intake kendaraan atau knalpot. Sebagian besar responden (44,9%) melakukan perawatan mesin kendaraan 1 kali dalam dua minggu. Namun, ada juga yang melakukan perawatan mesin kendaraannya sebanyak 1 kali dalam 1 bulan (24,6%). Angkutan kota merupakan jenis kendaraan yang sering dipakai dan beroperasi beberapa kali dalam satu trayek setiap harinya sehingga perawatannya harus lebih sering dibandingkan perawatan jenis kendaraan lainnya.
Perawatan yang dilakukan oleh responden dilakukan pada tempat yang berbeda. Namun, responden yang sering merawat kendaraannya di bengkel resmi sebanyak 18,8%. Sebanyak 81,2% responden melakukan perawatan kendaraannya di bengkel biasa atau melakukannya sendiri. Jika responden melakukan perawatan mesin kendaraan di bengkel resmi, biasanya uji emisi juga diikutsertakan dalam perawatan tersebut. Namun, jika melakukan perawatan mesin di bengkel biasa atau bahkan hanya melakukannya sendiri, maka uji emisi belum tentu diikutsertakan dalam perawatan tersebut. Perbedaan harga yang ditawarkan oleh bengkel resmi dan bengkel-bengkel biasa dapat menjadi daya tarik bagi responden untuk merawat kendaraan bermotornya di tempat tersebut.
Berdasarkan UU nomor 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 50 ayat 1 disebutkan bahwa “untuk mencegah pencemaran udara dan kebisingan suara kendaraan bermotor yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan hidup, setiap kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan ambang
batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan”. Namun, dari 69 responden yang diwawancara, hanya 39,1% responden yang pernah melakukan uji emisi kendaraan bermotor dalam waktu satu tahun terakhir.
Frekuensi uji emisi secara berkala yang dilakukan oleh responden dalam waktu satu tahun terakhir bervariasi. Responden yang tidak melakukan uji emisi dan responden yang melakukan uji emisi sebanyak 1 kali dalam 1 tahun terakhir yakni sebanyak 63,8%. Tindakan responden ini tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan dalam Permen LH nomor 5 tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama yaitu melaksanakan uji emisi kendaraan bermotor minimal sekali dalam 6 bulan. Hal ini bisa diakibatkan oleh status ekonomi responden yang cukup rendah dan kurangnya pengetahuan responden mengenai