BAB II LANDASAN TEORI
B. Kerangka Teoritik
1. Tabungan
Tabungan wadiah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendk pemiliknya, berkaitan dengan keluhan produk tabungan wadiah, Bank Syariah menggunakan akad wadiah yad dhamanah. Dalam hal ini, nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada bank syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan bank syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi dana atau barang yang disertai hak untuk menggunakan
19
atau menanfaatkan dana atau barang tersebut. Sebagai konsekuensinya, bank bertanggung jawab terhadap keutuhan harta titipan tersebut serta mengembalikannya kapan saja pemiliknya menghendaki. Di sisi lain, bank juga berhak sepenuhnya atas keuntungan dari hasil penggunaan atau pemanfaatan dana atau barang tersebut.
Mengingat wadiah yad dhamanah ini mempunyai implikasi hukum yang sama dengan qard, maka nasabah penitip dan bank tidak boleh saling menjanjikan untuk menghasilkan keuntungan harga tersebut. Namun demikian, bank diperkenankan memberi bonus kepada pemilik harta titipan selama tidak disyaratkan di muka. Dengan kata lain, pemberian bonus merupakan kebijakan bank syariah semata yang bersifat sukarela.
Dari pembahasan di atas, dapat disarikan beberapa ketentuan umum tabungan wadiah sebagai berikut:
(a) Tabungan wadiah merupakan tabungan yang bersifat titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat (on call) sesuai dengan kehendak pemilik harta.
(b) Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana atu pemanfaatan barang menjadi milik atau tanggungan bank, sedangkan nasabah penitip tidak dijanjikan imbalan dan tidak menaggung kerugian.
(c) Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik harta sebagai sebuah insentif selama tidak diperjanjikan dalam akad pembukaan rekening.
2) Tabungan Mudharabah
Yang dimaksud dengan tabungan mudharabah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Mudharabah mempunyai dua bentuk, yakni mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqqayadah, yang perbedaan utama di antara keduannya terletak pada ada atau tidaknya persyaratan yang diberikan pemilik dana kepada bank dalam mengelola hartanya. Dalam hal ini, bank syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola harta), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul maal (pemilik dana). Bank syariah dalam kepastiannya sebagai mudharib, mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain. Namun di sisi lain, bank syariah juga memiliki sifat sebagai seorang wali amanah (trustee), yang berarti bank harus berhati-hati atau bijaksana serta beritikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalaiannya. Dari hasil pengelolaan mudharabah, bank syariah akan membagihasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad
21
pembukaan rekening. Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan oleh kelalaiannya. Namun, apabila yang terjadi adalam mis-management (salah urus), bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.
Dari pembahasaan di atas, dapat disarikan beberapa ketentuan umum tabungan mudharabah sebagai berikut:
(a) Dalam transaksi ini, nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.
(b) Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.
(c) Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
(d) Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam bentuk akad pembukaan rekening.
(e) Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
(f) Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.
d. Perbedaan Antara Menabung di Bank Syariah dan di Bank Konvensional
Sepintas, secara teknis fisik, menabung di bank syariah dengan yang berlaku di bank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena baik bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi, jika diamati secara mendalam, terdapat perbedaan besar diantara keduanya. Perbedaan pertama terletak pada akad. Pada bank syariah, semua transaksi harus berlandaskan akad yang dibenarkan oleh syariah. Dengan demikian, semua transaksi itu harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. Pada bank konvensional, transaksi pembukaan rekening, baik giro, tabungan, maupun deposito, berdasarkan perjanjian titipan, namun perjanjian titipan initidak mengikuti prinsip mana pun dalam muamalah syariah, misalnya wadiah, karena salah satu penyimpangannya di antaranya menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang disetor.
Perbedaan kedua terdapat pada ambalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. Artinya, bunga yang dijanjikan dimuka pada nasabah penabung merupakan ongkos yang harus dibayar oleh bank.
Karena itu bank harus “menjual” kepada nasabah lainnya (peminjam)
23
disebut spread. Jika bunga yang dibebankan kepada peminjam lebih tinggi dari bunga yang harus dibayar kepada nasabah penabung, bank akan mendapatkan spread positif. Jika bunga yang di terima dari si peminjam lebih rendah, terjadi spread negative bagi bank. Bank harus menutup-nya dengan keuntungan yang di miliki sebelumnya. Jika tidak ada, ia harus menanggulanginya dengan modal.
Bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing, artinya dana yang diterima bank di salurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang di dapatkan dari pembiayaan tersebut dibagi dua, untuk bank dan untuk nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian di muka (biasanya terdapat dalam formulir pembukaan rekening yang berdasarkan mudharabah).
Perbedaan ketiga adalah sasaran kredit atau pembiyaaan. Para penabung si bank konvensional tidak sadar bahwa uang yang ditabungkannya diputarkan kepada semua bisnis, tanpa memandang halal-haram bisnis tersebut, bahkan sering terjadi dana tersebut digunakan untuk membiayai proyek-proyek milik grup perusahaan bank tersebut. Celakanya, kredit itu diberikan tanpa memandang apakah jumlahnya melebihi batas maksimum pemberian kredit (BMPK) ataukah tidak. Akibatnya, ketika krisis datang dan kredit atau kredit itu bermasalah, bank sulit mendapatkan pengembalian dana darinya.
Adapun dalam bank syariah, penyaluran dana simpanan dari masyarakat dibatasi oleh dua prinsip dasar, yaitu prinsip syariah dan prinsip keuntungan. Artinya, pembiayaan yang akan diberiakan harus mengikuti kriteria-kriteria syariah, disamping pertimbangan-pertimbangan keuntungan. Misalnya, pemberian pembiayaan (kredit) harus kepada bisnis yang halal, tidak boleh kepada perusahaan atau bisnis yang memproduksi makanan dan minuman yang di haramkan, perjudian, pornografi, dan bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah. Karena itu, menabung di bank syariah relatif lebih aman ditinjau dari perspektif Islam karena akan mendapatkan keuntungan yang didapat dari bisnis yang halal (Antonio, 2001: 153).
2. Akad Mudharabah
a. Pengertian Mudharabah
Mudharabah adalah prinsip kerja sama antara dua pihak pemilik dan (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib) utuk melakukan usaha bersama. Dalam mudharabah pemilik dana tidak boleh mencampuri pengelolaan operasional usaha. Keuntungan yang diperoleh dibagi bersama sesuai dengan nisbah yang telah disepakati. Kerugian usaha yang terjadi bukan karena kesalahan pengelola usaha ditanggung oleh pemilik dana, hanya kerugian yang disebabkan oleh kesalahan mudharib yang dapat dibebankan pada pengelola dana (mudharib) (Nabhan, 2008:46).
25
Sedangkan pengertian mudharabah menurut Muhamad (2014: 36) adalah transaksi penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu sesuai syariah, dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya.
b. Landasan Syariah
Menurut Antonio (2001: 95) secara umum, landasan dasar syariah mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukaan usaha. Hal ini tampak dalam ayat-ayat dan hadits berikut ini.
1) AL-Qur‟an
“ Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah SWT . . .” ( al- Jumu‟ah: 10 )
“ Tidak ada dosa ( halangan) bagi kamu untuk mencari karunia Tuhanmu . . .” ( al- Baqarah: 198).
Surah al- Jumu‟ah: 10 dan al- Baqarah: 198 sama-sama mendorong kaum muslimin untuk melakukan upaya perjalanan usaha.
2) Al- Hadits
Dari Shalih bin Shuhaib r.a. bahwa rasulullah saw. Bersabda, “ Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah ( mudharabah), dan mencanpur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.” ( HR Ibnu Majah no. 2280, kitab at- Tijarah).
3) Ijma
Imam Zailai telah menyatakan bahwa para sahabat telah berkonsensus terhadap legitimasi pengolahan harta yatim secara mudharabah. Kesepakatan para sahabat ini sejalan dengan spirit hadits yang dikutip Abu Ubaid (Antonio, 2001: 95).
c. Rukun dan Syarat Akad Mudharabah
Menurut Ascarya (2011: 62) rukun dari akad mudharabah yang harus dipenuhi dalam transaksi ada beberapa, yaitu:
1) Pelaku akad, yaitu shahibul mal (pemodal) adalah pihak yang memiliki modal tetapi tidak bisa berbisnis, tetapi tidak memiliki modal.;
2) Objek akad, yaitu modal (mal), kerja (dharabah), dan keuntungan (ribh); dan
3) Shighah, yaitu Ijab dan Qabul.
Sementara itu, syarat- syarat khusus yang harus dipenuhi dalam mudharabah terdiri dari syarat modal dan keuntungan.
1) Syarat modal, yaitu: 2) Modal harus berupa uang;
3) Modal harus jelas dan diketahui jumlahnya; 4) Modal harus tunai bukan utang; dan
27
Sementara itu, syarat keuntungan yaitu, keuntungan harus jelas ukurannya dan keuntungan harus dengan pembagian yang disepakati kedua belah pihak.
d. Jenis-jenis Mudharabah
Menurut Antonio (2001: 97), mudharabah terbagi menjadi menjadi dua jenis: mudharabah muthlaqah dan mudharabah muqayyadah.
1) Mudharabah Muthlaqah
Yang dimaksud dengan transaksi Mudharabah Muthlaqah adalah bentuk kerja sama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangan luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. Dalam pembahasan fiqih ulama salafus saleh seringkali dicontohkan dengan ungkapan if‟al ma syi‟ta (lakukanlah sesukamu) dari shahibul maal ke mudharib yang memberi kekuasaan sangat besar.
2) Mudharabah Muqqayadah
Mudharabah muqqayadah atau disebut juga dengan istilah restriced mudharabah atau specified mudharabah adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah. Si mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu, atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum si shahibul maal dalam memasuki jenis dunia usaha.
e. Aplikasi dalam Perbankan
Mudharabah biasanya diterapkan pada produk-produk
pembiayaan dan pendanaan. Pada sisi penghimpunan dana, mudharabah diterapkan pada:
1) Tabungan berjangka, yaitu tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus, seperti tabungan haji, tabungan qurban, dan sebagainya; deposito biasa;
2) Deposito spesial (special investment), di mana dana yang dititipkan nasabah khusus untuk bisnis tertentu, misalnya murabahah saja atau ijarah saja.
Adapun pada sisi pembiayaan, mudharabah diterapkan untuk:
1) Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa;
2) Investasi khusus, disebut juga mudharabah muqayyadah, di mana sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh shahibul maal.
f. Manfaat dan Risiko Mudharabah 1) Manfaat Mudharabah
(a) Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat.
(b) Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan,
29
hasil usaha bank sehingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread.
(c) Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow atau arus kas usaha nasabah sehingga tidak memberatkan nasabah.
(d) Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar-benar halal, aman, dan menguntungkan karena keuntungan yang kongkret dan benar-benar terjadi itulah yang akan dibagikan.
(e) Prinsip bagi hasil dalam mudharabah atau musyarakah ini berbeda dengan prinsip bunga tetap di mana bank akan menagih penerima pembiayaan (nasabah) satu jumlah bunga tetap berapa pun keuntungan yang dihasilkan nasabah, sekalipun merugi dan terjadi krisis ekonomi.
2) Risiko al-Mudharabah
Risiko yang terdapat dalam al-mudharabah, terutama pada penerapannya dalam pembiayaan, relatif tinggi. Di antaranya: (a) Side streaming; nasabah menggunakan dana itu bukan seperti
yang disebut dalam kontrak;
(b) Lalai dan kesalahan yang disengaja;
(c) Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur.
Secara umum, aplikasi perbankan mudharabah dapat dalam skema berikut ini.
PERJANJIAN BAGI HASIL Keahlian Modal Ketrampilan 100% Nisbah Nisbah X% Y% Pengambilan Modal Pokok Sumber: Antonio (2001: 98) Gambar 2.1
Mekanisme Pembiayaan Mudharabah Nasabah
(Mudharib) (Shahibul Bank
Maal)
USAHA
PEMBAGIAN KEUNTUNGAN
31
3. Prosedur Pembukaan Tabungan
Syarat-syarat dan prosedur pembukaan tabungan menurut Muhammad (2001: 66) adalah sebagai berikut:
a. Syarat-syarat pembukaan
1) Fotocopy identitas diri (SIM/KTP/Paspor) yang masih berlaku dan syah
2) Mengisi formulir pembukaan tabungan umat 3) Ada setoran awal
b. Prosedur Pembukaan Tabungan
1) Jelaskan kepada calon penabung syarat-syarat umum tabungan (misalnya setoran awal, saldo minimum, maksimum frekuensi penarikan, minimum jumlah setoran dan lai sebagainya).
2) Minta calon penabung untuk mengisi dan menandatangani 3) Permohonan Pembukaan Rekening Tabungan
4) Syarat-syarat Umum Tabungan
5) Kartu Tanda Tangan (Speciment Tanda Tangan)
6) Minta kartu pengenal atau identitas calon penabung yang sah dan masih berlaku seperti KTP
7) Catat nomor serta tanggal dikeluarkannya pada formulir pembukaan rekening tabungan, kemudian fotocopy dan cocokkan tandatangannya dengan tanda tangan yang tertera diatas formulir atau dokumen tabungan bubuhkan paraf mengenai kecocokkan
tanda tangan dan kebenaran dari dokumen tersebut setelah dibubuhi cap atau stempel „‟SESUAI DENGAN ASLINYA‟‟.
8) Lakukan pembukaan nomor rekening tabungan pada komputer 9) Periksa kembali dokumen-dokumen tersebut dan serahkan kepada
pejabat bank yang berwenang untuk di setujui
10)Bubuhkan nomor dan nama pemegang rekening dengan mempergunakan pensil
11)Minta nasabah membubuhkan tanda tangan penabung pada tempat yang ada di buku tabungan
12)Periksa dan yakinkan bahwa tanda tangan penabung tersebut sama dengan yang tercantum dalam kartu identitas dan kartu contoh Tanda Tangan (aplikasi pembukaan)
13)Mintakan Supervisor untuk mengotorisasi pembukaan rekening tabungan tersebut dan menandatangani buku tabungan sebagai pejabat bank yang akan di serahkan ke nasabah
14)Serahkan buku tabungan tersebut langsung kepada bagian kas untuk cetak transaksi
15)Jenis transaksii bisa dilakukan berupa tunai, pemindah bukuan, kliring (setoran denaga warkat bank lain).
33 BAB III
GAMBARAN UMUM BMT TUMANG
A. Gambaran Umum
1. Sejarah Berdirinya BMT Tumang dan BMT Tumang Cabang Ampel Sistem perekonomian dan tatanan kehidupan yang dikedepankan pada masa orde baru ternyata tidak bisa memberikan jawaban akan harapan terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Berangkat dari keprihatinan akan nasib masyarakat desa yang justru merupakan jumlah mayoritas penduduk di Indonesia, khususnya di daerah Boyolali. Juga, apabila melihat perputaran uang yang sebagian besar ada di kota serta sulitnya pengusaha mikro dan kecil di pedesaan dalam mengakses permodalan dari perbankan.
Perbankan dalam hal ini dinilai lemah dalam komitmennya menciptakan lingkungan usaha yang lebih adil dan lebih menyejahterakan masyarakat. Sementara itu, terkait dengan bunga perbankan juga telah menjadi kajian tersendiri dikalangan umat Islam. Hal-hal tersebut juga sangat dirasakan oleh masyarakat Desa Tumang. Terutama beberapa orang yang dalam menjalankan ekonominya berkutat dengan rentenir atau istilah masyarakat adalah bank plecit.
Dalam rangka menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi warga setempat, maka pada bulan Februari 1997 bertempat di
rumah dinas Bapak Suryanto SH. di Jakarta, munculah gagasan untuk pendirian BMT di Desa Tumang. Setelah dilakukan pemilihan calon pengelola pada tanggal 1 Oktober 1998, Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Tumang mulai beroperasi dengan modal awal 7.050.000 rupiah di desa Tumang, Cepogo, Boyolali. Kemudian, pada tanggal 10 April 1999, BMT Tumang mendapatkan badan hukum dari departemen koperasi dengan nomor 242/BH/KDK.11.25/IV/ 1999 yang kemudian lebih dikenal
dengan nama KSU “BMT TUMANG”.
Dengan mengusung visi; ”menjadi lembaga keuangan yang mandiri dan
konsisten terhadap ketentuan syariah, memberi manfaat dan mampu mengangkat status sosial ekonomi masyarakat menuju kesejahteraan yang diridhoi Allah Ta‟ala, ” BMT TUMANG terus bekerja keras melayani
masyarakat.
Dalam rentang waktu satu dasawarsa melayani umat, BMT TUMANG telah berkembang dengan sangat cepat, sehingga akhir september 2008 BMT ini tercatat pembiayaan yang diberikan anggota
telah mencapai lebih dari 9 milyar rupiah. Dengan slogan “membangun
kemandirian menuju kesejahteraan” BMT TUMANG ingin terus
mengembangkan jaringan dan menebar manfaat bagi masyarakat sekitar. Pada tanggal 1 Agustus 2002 berdirilah BMT Tumang Cabang Ampel, cabang BMT Tumang tersebut berlokasi di Jl. Pasar Ampel No.5 Ampel (belakang pasar ampel). Seiring berjalannya waktu, pada bulan Agustus 2005 kantor BMT Tumang Cabang Ampel pindah di Jl. Raya Ampel No.
35
4 (depan pasar ampel). Karena kantor mengalami kerusakan dan masa kontrak habis, pada tanggal 1 April 2012 kantor BMT Tumang Cabang Ampel pindah di sebelah selatan BPR Binsani.
2. Visi dan Misi BMT Tumang
Suatu lembaga keuangan pastilah mempunyai visi dan misi yang diterapkan dalam pelaksanaan operasionalnya sehari-hari untuk mencapai sasaran.
a. Visi
“Menjadi Lembaga Keuangan Syariah yang modern, mandiri untuk
kesejahteraan masyarakat”.
b. Misi
1) Mewujudkan Lembaga Keuangan Syariah sebagai media dakwah dalam penguatan ekonomi masyarakat dengan mengacu fatwa dewan syariah nasional.
2) Meningkatkan rasio kesehatan, kualitasaset, kecukupan modal dan evisien.
3) Menumbuhkan Budaya Kerja dengan prinsip Jujur, Amanah, Adil dan Profesional.
4) Mewujudkan Lembaga Keuangan Syariah yang dapat menjadi tumpuan masyarakat dalam bidang simpanan dan pembiayaan, dengan mengutamakan aspek manfaat jangka panjang.
5) Berperan aktif sebagai Amil dalam pengelolaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf(ZISWAH).
3. Identitas Umum
a. Nama Lengkap : Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BMT Tumang.
b. Tanggal Pendirian : 30 September 1998 oleh Kakandep Koperasi Kab. Boyolali.
c. Alamat Kantor Pusat : Jl. Boyolali-Semarang km. 01. Penggung, Boyolali 57362 Telp. (0276) 323034 Faks. (0276) 323 336.
d. Alamat Kantor Cabang:
1) Kantor Cabang Tumang: Jl. Melati, Tumang, Cepogo, Boyoali Telp. (0276) 323335
2) Kantor Cabang Cepogo: Jl. Boyolali-Magelang Km.10, Cepogo, Boyolali Telp. (0276) 57362
3) Kantor Cabang Ampel: Jl. Raya Ampel No.8 Ampel, Boyolali Telp. (0276) 330626
4) Kantor Cabang Andong: Jl. Raya Kacangan, Andong, Boyolali Telp. (0271) 7893025
5) Kantor Cabang Kartasura: Jl. Ahmad Yani No. 83 (Depan Pasar Kartasura) Telp. (0271) 784385
6) Kantor Cabang Salatiga: Jl. Letjend, Sukowati No.09 Salatiga Telp. (0298) 312729
37
7) Kantor Cabang Delanggu: Jl. Raya Solo-Jogja (depan pasar Delanggu), Delanggu, Klaten Telp: (0272) 554358.
8) Kantor Cabang Selo: Jl. Boyolali-Magelang Km.18 Selo, Boyolali Telp. (0276)3295240.
9) Kantor Cabang Suruh: Jl. Raya Suruh- Salatiga, Kab. Semarang (Timur Pasar Suruh) Telp. (0298) 317434
10)Kantor Cabang Solo: Jl. Brigjend Sudiarto 5/2, Joyosuran, Pasar Kliwon, Surakarta Telp. (0271) 642257
11)Kantor Cabang Grabag: Jl. KH Siraj, Desa Krajan I, Grabag, Magelang
Kelengkapan Organisasi
a. Aturan tertulis organisasi : Anggaran Dasar
b. No. Badan Hukum : 242/BH/KDK.11.25/IV/ 1999 c. Nomor Pokok Wajib Pajak : 02.014.0381.4-526.000 d. Jangkauan Pelayanan : Jawa Tengah
e. Waktu Operasional : Hari Senin-Jumat pukul 07.30-16.30 WIB
4. Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas BMT Tumang Cabang Ampel
a. Struktur Organisasi
BMT Tumang Cabang Ampel mempunyai struktur organisasi sebagai berikut:
1) Manajer Cabang : Sigid Setiawan
2) Marketing Finance : M. Kroirudin
: Agus Tri Wahyudi
: Ratna Jayanti
3) Marketing Funding : Endang Kusmawati
: Ani Khozanah T
: Dwi Mulyani
4) Customer Service : Nur Fauziah
39
Sumber: BMT Tumang Cabang Ampel
Gambar 3.1
Struktur Organisasi BMT Tumang Cabang Ampel Tahun 2016
Sebuah lembaga membutuhkan adanya struktur organisasi yang tepat dan jelas sebagai dasar untuk menjelaskan aktivitas sehari-hari. Adapun struktur organisasi yang digunakan pada BMT Tumang Cabang Ampel adalah struktur organisasi garis, yaitu struktur yang menunjukkan suatu rangkaian dari suatu kekuasaan perintah dari
Manajer Cabang Sigid Setiawan
Marketing Finance: 1. M Khoirudin 2. Agus Tri Wahyudi 3. Ratna Jayanti Marketing Funding: 1. Endang Kusmawati 2. Ani Khozanah T 3. Dwi Mulyani Kasir/Teller Yustina Purnamasari Customer Service Nur Fauziah
manajemen ke bawah melalui macam-macam bagian sampai pada tingkat kekuasaan atau tanggung jawab terendah.
b. Tugas dan Wewenang dalam Struktur Organisasi
Adapun perincian tugas, wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing jabatan dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya adalah sebagai berikut:
1) Manajer
(a) Mengelola secara optimal sumber daya cabang agar dapat mendukung kelancaran operasional BMT.
(b) Menetapkan dan melaksanakan strategi pemasaran produk guna mencapai sasaran yang telah ditetapkan baik pembiayaan maupun pendanaan.
(c) Memastikan realisasi target operasional cabang serta menetapkan upaya-upaya pencapaian. Melakukan review terhadap ketajaman dan kedalaman analisis pembiayaan guna antisipasi kredit macet, kesalahan permohonan pembiayaan. (d) Memutuskan pencairan pembiayaan sesuai dengan
wewenangnya.
(e) Melakukan pembinaan terhadap anggota BMT.
(f) Memonitoring pelaksanaan penagihan tunggakan kewajiban. (g) Mengambil keputusan atas semua kegiatan-kegiatan dibidang
41
2) Marketing Finance
(a) Memotong realisasi target operasional cabang serta menetapkan upaya-upaya pencapaian.
(b) Memastikan semua pembiayaan mendapatkan tanda tangan pejabat yang berwenang.
(c) Melaksanakan strategi pemasaran una mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
(d) Bersama-sama komite pembiayaan lainya memutuskan pembiayaan sesuai dengan batas wewenang.
(e) Review akad pembiayaan dan surat sanggup sesuai dengan persyaratan.
(f) Memonitoring ketertiban nasabah dalam membayar angsuran. (g) Mengkoordinir atau melaksanakan penagihan kewajiban
nasabah yang telah jatuh tempo atau menunggak.
3) Marketing Funding
(a) Memonitoring realisasi target operasional cabang serta tangi nasmenetapkan upaya-upaya pencapaian.
(b) Mendatangi nasabah yang menabung maupun yang membayar angsuran.
(c) Melakukan survey ketempat calon anggota.
(d) Membuat daftar kunjungan kerja harian dalam sepekan mendatang pada akhir pecan berjalan.
(e) Melakukan pembinaan hubungan baik dengan anggota melaui bantuan konsultasi bisnis, diskusi bisnis, diskusi manajemen dan bimbingan pengelolaan keuangan.
4) Custumer Service
(a) Memberikan informasi kepada nasabah atau calon nasabah tentang produk dan persyaratan maupun tata cara prosedur. (b) Mendata dan mengarsipkan data nasabah pembiayaan. (c) Mendata barang jaminan nasabah pembiayaan.
(d) Mencapai target pendanaan pada jangka waktu yang