• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Tabungan dan Deposito 1. Tabungan

2) Tabungan Mudharabah

Tabungan mudharabah merupakan tabungan yang berdasarkan akad mudharabah.

Dalam tabungan mudharabah ini setiap penabung akan mendapatkan bagi hasil yang nilainya berlaku secara naik turun (fluktuatif), tergantung bagaimana dan berapa keuntungan yang diperoleh bank dari penabung yang memanfaatkan dana tersebut.

Untuk kasus tabungan biasa (bukan deposito), peluang penabung untuk mengambil tabungan pada masa-masa yang diinginkan, terbuka lebar, walaupun sesuai aturan Bank Indonesia, tidak dibenarkan. Jenis tabungan seperti di atas, tidak dapat dikategorikan sebagai pola mudharabah dalam arti yang sebenarnya. Hal ini disebabkan karena prinsip mudharabah adalah dana pemodal akan dimanfaatkan oleh pengusaha (mudharib) sampai ada masa yang dapat dipastikan dana tersebut telah mendatangkan hasil (untung atau rugi). Bagaimana mungkin pemodal yang menarik dana sesuai dengan kehendak masa yang diinginkannya, dapat diistilahkan juga dengan mudharabah.88

Mudharabah terbagi atas dua bentuk yaitu mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah. Dalam hal ini, bank syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana). Bank syariah mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip

87 Adiwarman A. karim, Bank Islam..., h. 345-349

88 Syukri Iska, Sistem Perbankan Syariah di Indonesia dalam Perspektif Fikih Ekonomi, (Yogyakarta:

Fajar Media Press, 2012), h. 321-323

syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain.

Bank syariah juga memiliki sifat sebagai wali amanah (trustee), yang berarti bank harus berhati-hati atau bijaksana atau beriktikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalaiannya. Bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang tidak disebabkan oleh kesalahan atau kelalaiannya.

Hasil pengolahan dana mudharabah, bank syariah akan membagikan hasil kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dalam mengelola harta mudharabah, bank menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Di samping itu, bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah penabung tanpa persetujuan nasabah yang bersangkutan.

Adapun ketentuan umum tabungan mudharabah adalah sebagai berikut:

a) Dalam transaksi ini, nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana;

b) Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain;

c) Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai bukan piutang;

d) Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam bentuk akad pembukaan rekening;

e) Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya;

f) Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.89

Tabel 2.2

Perbandingan Tabungan Wadi’ah dan Tabungan Mudharabah

No Keterangan

01 Sifat Dana Investasi Titipan

02 Penarikan Hanya dapat

d. Mudharabah Dalam Wacana Fiqh 1) Pengertian Mudharabah

Kata mudharabah berasal dari kata

ًَبْر ضَ ُبِرْض يَ ب ر ض

yang berarti bergerak, menjalankan, memukul, dan lain-lain (lafaz ini termasuk lafaz musytarak yang mempunyai banyak arti), kemudian mendapat ziyadah (tambahan) sehingga menjadi

َُة بِرَ ا ضُمَ ُبِرَ ا ضُيَ ب را ض

yang berarti saling

89 Adiwarman, Bank Islam, ..., h. 345-349

90 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, ..., h. 118

bergerak, saling pergi atau saling menjalankan atau saling memukul.91

Sedangkan menurut istilah, mudharabah dikemukakan oleh para ulama sebagai berikut:

a) Menurut para fukaha, mudharabah adalah akad antara dua pihak (orang) saling menanggung, salah satu pihak menyerahkan hartanya kepada pihak lain untuk diperdagangkan dengan bagian yang telah ditentukan dari keuntungan, seperti setengah atau sepertiga dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

b) Menurut Hanafiyah, mudharabah adalah memandang tujuan dua pihak yang berakad yang berserikat dalam keuntungan (laba), karena harta diserahkan kepada yang lain dan yang lain punya jasa mengelola harta itu.

c) Malikiyah berpendapat, bahwa mudharabah adalah dalam akad perwakilan, pemilik harta mengeluarkan hartanya kepada yang lain untuk diperdagangkan dengan pembayaran yang ditentukan (emas dan perak).

d) Menurut Imam Hanabilah, mudharabah adalah ibarat pemilik harta menyerahkan hartanya dengan ukuran tertentu kepada orang yang berdagang dengan bagian dari keuntungan yang diketahui.

e) Menurut Ulama Syafi’iyah, mudharabah adalah akad yang menentukan seseorang menyerahkan hartanya kepada yang lain mudharabah di-tijarah-kan.92

Jadi, Mudharabah merupakan kontrak yang melibatkan antara dua kelompok, yaitu pemilik modal (investor) yang mempercayakan modalnya kepada pengelola (mudharib) untuk digunakan dalam aktivitas perdagangan. Mudharib dalam hal ini memberikan kontribusi pekerjaan, waktu dan mengelola usahanya sesuai dengan ketentuan yang dicapai dalam kontrak, salah satunya adalah untuk mencapai keuntungan (profit) yang dibagi antara

91 Ahmad Warson Munawwar, Kamus Al-Munawwir, Arab-Indonesia, (Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, [t.th]), h. 236. lihat juga Sohari Sahrani dan Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), Cet. 1, h. 187

92 Sohari Sahrani dan Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah, …, h. 189-190

pihak investor dan mudharib berdasarkan proporsi yang telah disetujui bersama. Namun, apabila terjadi kerugian yang menanggung adalah pihak investor saja.93 Beberapa ketentuan aspek dalam mudharabah adalah sebagai berikut:94

a) Modal

Dalam kontrak mudharabah secara khusus ditentukan jumlah modal yang disertakan.

Modal ini dapat direalisasikan dalam bentuk sejumlah mata uang yang beredar.95 Modal dalam kontrak mudharabah tidak dapat dijadikan hutang bagi pihak mudharib pada waktu terjadinya kontrak.

Dalam prosedur kontrak mudharabah, investor dapat menyerahkan modal mudharabah kepada mudharib, dilakukan dengan koridor aturan kontrak yang sah. Mudharib bebas mengelola dan menggunakan modal tersebut sesuai dengan bentuk bisnis yang dijalankan, masa usahanya dan tempat mudharib menjalankan aktivitas bisnisnya.

b) Manajemen

Mudharib mulai mengelola kontrak mudharabah semenjak menerima modal untuk aktivitas usahanya. Mudharib memiliki kebebasan dalam mengelola usahanya dan segala keputusan yang berkaitan dengan kontrak tersebut. kontrak mudharabah yang dibolehkan menurut Mazhab Hanafi adalah kontrak dimana pihak mudharib diberi kebebasan yang luas dalam mengelola usahanya serta menentukan keputusan yang menurutnya dianggap paling tepat.

Mudharib boleh menjalankan usahanya dengan modal tersebut, bahkan boleh memberikan modal tersebut kepada pihak ketiga untuk dijalankan dalam lapangan usaha atau

93 Adiwarman A. Karim, Bank Islam, ..., h. 91

94 Abdullah Saeed, Bank Islam dan Bunga, Studi Kritis Larangan Riba dan Interpretasi Kontemporer, Terj. Muhammad Ufuqul Mubin, dkk., Judul Asli “Islamic Banking and Interest A Study of The Prohibition of Riba and its Contemporery Interpretation”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), Cet. III, h. 93-99

95 Abdullah Saeed, Bank Islam dan Bunga, Studi Kritis Larangan Riba dan Interpretasi Kontemporer, Terjemahan dari Islamic Banking and Interest A Study of The Prohibition of Riba and its Contemporery Interpretation …, h. 93

mengerjakan kerja sama dengan pihak lain dalam bentuk kontrak musyarakah. Mudharib juga dibolehkan mencampurkan modal kontrak mudharabah dengan barang miliknya sendiri.

Dia diperbolehkan membelanjakan modal tersebut di setiap saat. Dia boleh menjual barang mudharabah dalam bentuk kontan maupun kredit. Dia juga bebas untuk mengupahkan kepada pihak lain dalam menjalankan usahanya atau mengelola modal tersebut ke dalam kepentingan lapangan usaha yang dianggapnya tepat.

c) Masa Berlakunya Kontrak

Kontrak mudharabah dapat diakhiri oleh salah satu pihak dengan jalan memberitahukan kepada pihak lain atas keputusan tersebut. meskipun demikian, menurut Imam Malik bahwa tidak diperkenankan mengakhiri kontrak itu kapan saja, misalnya ketika mudharib sudah mulai atau belum menjalankan usaha tersebut sama sekali.

d) Jaminan

Investor tidak dapat meminta jaminan dari pihak mudharib untuk memastikan kembalinya modal yang diberikan atau modal beserta keuntungannya (profit). Karena dalam kontrak mudharabah hubungan antara investor dengan mudharib terikat dalam satu gadaian yang saling mempercayakan, pihak investor melalui modalnya dan pihak mudharib melalui mengelola usahanya, sehingga adanya jaminan (garansi) akan menjadikan kontrak tidak sah.

e) Prinsip Bagi Hasil (Profit and loss Sharing)

Pembagian keuntungan dilakukan berdasarkan perbandingan ratio bukan ditetapkan dalam jumlah yang pasti. Jika usaha mengalami kerugian yang bukan disebabkan oleh kelalaian mudharib maka pihak investor menanggung resiko kerugian dari modal yang telah diberikan, sedangkan pihak mudharib menanggung resiko tidak mendapatkan keuntungan dari hasil pekerjaan dan usaha yang telah dijalankannya. Tetapi jika kerugian disebabkan oleh kelalaian

mudharib maka mudharib harus bertanggung jawab atas setiap kerugian yang dialami.

Mudharabah dapat saja batal (fasakh) apabila; pertama, syarat sah akad tidak dipenuhi. Kedua, pekerja (palaksana) dengan sengaja tidak melakukan tugas sebagaimana yang seharusnya dalam pengelolaan modal atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tujuan akad, sehingga jika terjadi kerugian, pengelola wajib mengembalikan modal. Ketiga, sekiranya salah seorang meninggal dunia.96