C. Konsep Kemartiran (Syahid) dalam Al-Qur’ān
C.2. Tafsir Ayat al-Qur’ān Surah 2:154 dan 3:169
Dalam al-Qur’ān surah al-Baqarah 154 dan Āl ‘Imrān 169 disebutkan:
َلا َو
Janganlah kamu berkata tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka itu mati (wa lā taqūlu li man yuqtal fī sabīlillāh amwāt), sebenarnya mereka itu hidup (bal aḥyā‘), tetapi kamu tidak menyadarinya (Q.S. al-Baqarah [2]: 154).
َلا َو
Janganlah kamu menganggap bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati (lā taḥsabanna alladzīna qutilū fi sabīlillāh amwāt), sebenarnya mereka itu hidup (bal
71 Ibid.
aḥyā’) dan mendapat rezeki di sisi Tuhannya (‘inda rabbihim yurzaqūn). (Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169).
Terkait ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154, Muqātil menyampaikan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan empat belas Muslim yang gugur di Perang Badar, delapan dari kaum Anṣār dan enam dari kaum Muhājirūn, yang kemudian dia sebutkan nama-namanya. Turunnya ayat ini mengabarkan kepada kaum mukminin bahwa mereka yang gugur di jalan Allah tidak mati melainkan hidup, menuai ganjarannya di hadirat Allah. Jiwa para martir (al-syuhadā), kata Muqātil, bersemayam di sekitar pohon teratai yang terdekat dengan arasy Allah (sidrat al-muntahā).72 Adapun ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169, kata Muqātil, juga diturunkan berkaitan dengan orang-orang yang gugur di Perang Badar, yang jangan dianggap mati, tetapi hidup, menikmati buah-buahan (al-thimār) surga. Menurut sebuah riwayat tanpa sanad, Allah menggambarkan jiwa para martir seperti burung hijau yang beterbangan di surga di bawah kandil yang menggantung di arasy. Saat mereka hinggap di kandil itu, lanjut Muqātil, Allah mendatangi mereka dan menanyai permintaan mereka tiga kali jika ada sesuatu yang dapat Dia penuhi. Pada kali ketiga, mereka memohon agar jiwa mereka dapat kembali ke jasadnya, agar
“kami dapat kembali berperang di jalan-Mu.” Setelah merasakan kebaikan yang Allah berikan kepada mereka, mereka berharap dapat kembali dan mengabari saudarasaudaranya akan kebahagiaan yang menanti mereka dan menyeru mereka agar jika ada peperangan, “mereka mesti bersegera menyongsong kemartiran” (sāri’ū bi anfusihim ilā al-syahādah). Turunnya ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169 ditujukan untuk mengabarkan keadaan mereka di surga kepada saudara-saudara mereka di dunia, tandas Muqātil.73
Penyusun Tanwīr al-Miqbās menjelaskan bahwa ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154 berbicara mengenai kaum mukmin yang gugur di Perang Badar. Mereka tidak mati seperti yang lain,
72 Muqātil, Tafsīr, Vol. 1, 314.
73 Ibid.
melainkan hidup di surga dan memperoleh ganjaran. Penghargaan istimewa yang dianugerahkan kepada mereka di luar pengetahuan kita.74 Ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169 mengacu kepada orang-orang yang gugur di Perang Badar dan Uhud, yang Sesungguhnya tidak mati, melainkan hidup dan memperoleh kebahagiaan di hadirat Allah.75
Dalam Tafsir-nya, ‘Abdul-Razzāq menerangkan sehubungan dengan ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154 bahwa jiwa para martir berwujud burung putih atau hijau yang makan dari buah-buahan surga dan bernaung di kandil yang menggantung di arasy.76 Dia menukil riwayat yang sama sehubungan dengan ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 16977 dan tidak membahas lebih lanjut mengenai signifikansi simbolisme burung ini terhadap gagasan kemartiran militer.
Perumpamaan burung hijau yang membawa jiwa para martir ini umumnya mulai menonjol dalam kitab-kitab tafsir belakangan, seperti yang terlihat dalam penjelasan Hud b.
Muhakkam mengenai ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154.78 Ibn Muhakkam lebih lanjut menggambarkan tiga kemungkinan yang dihadapi “orang yang berjuang di jalan Allah” (al-mujāhid fī sabīlillāh): (1) Gugur di jalan Allah tetapi sesungguhnya hidup dan mendapat rezeki (ḥayyan marzūqan), (2) pulang membawa kemenangan dan beroleh ganjaran besar dari Allah, dan (3) mati secara wajar (wa man māta) dan dianugerahi rezeki yang baik (rizqan ḥasanan).79 Perlu dicatat bahwa Ibn Muhakkam mendefinisikan “orang yang berjuang di jalan Allah”
dengan sangat luas, meliputi semua Muslim yang berjuang menjalankan perintah Allah dan gugur di tengah perjuangan tersebut—entah itu dilakukan di rumah atau di medan perang.
Mengenai ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169, Ibn Muhakkam menyebutkan bahwa sebagian mufasir berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan seorang tokoh munafik di
74 Ibn ‘Abbās, Tanwīr al-Miqbās, 27.
75 Ibid.
76 ‘Abd Razzāq Ṣan’ānī, Tafsīr ‘Abd Razzāq, ed. Maḥmūd Muḥammad ‘Abduh, Vol. 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmīyah, 1999), 298.
77 Ibid., 420.
78 Hūd b. Muḥakkam, Tafsīr Kitābullah, Vol. 1, 158-159.
79 Ibid., 159.
Madinah, ‘Abdullāh b. Ubayy b. Salūl. Menurut asbāb al-nuzūl yang lain, salah seorang sahabat dikabarkan memohon agar diberi tahu apa yang dialami “saudara-saudara kami yang gugur di jalan Allah di Perang Uhud;” kemudian ayat ini turun.80
Tidak ada keterangan dalam Tafsir al-‘Ayyāsyī ihwal ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154, tetapi dia menyebutkan latar belakang turunnya ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169 menurut Abū Ja’far, seperti disampaikan Jābir: seseorang mendatangi Nabi dan mengatakan bahwa dia ingin ikut berjihad. Nabi Muhammad menyuruhnya untuk berperang di jalan Allah (fā jāhid fi sabīlillāh) dan menjelaskan konsekuensi-konsekuensinya sebagai berikut: jika dia terbunuh, dia akan tetap hidup di hadirat Allah dan memperoleh rezeki, jika dia kelak mati secara wajar, dia tetap akan memperoleh ganjarannya di akhirat, dan jika dia kembali dengan membawa kemenangan dari medan perang, kelak Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.81 Tiga kemungkinan yang akan diperoleh seorang Mujāhid ini, yang dalam bayangan al-‘Ayyāsyī di sini jelas adalah prajurit militer, mirip dengan gambaran yang disampaikan Ibn Muhakkam di atas.
Dalam uraian al-Ṭabarī mengenai kedua ayat ini, kita menemukan topografi yang jauh lebih terperinci mengenai akhirat dan taksonomi yang lebih luas mengenai ganjaran yang menanti suatu golongan mukmin tertentu, yang menandakan bahwa hal ini mulai menyita perhatian para mufasir serta memunculkan pujian-pujian yang mulai mencuat pada akhir abad ke-3 H/9 M dalam narasi-narasi mengenai kemartiran. Dia mulai dengan menerangkan bahwa dalam ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154, Allah menyeru orang-orang beriman untuk memohon pertolongan-Nya seraya teguh bertakwa kepada-Nya dalam berjihad melawan musuh-musuh mereka, meninggalkan segala yang dibenci-Nya serta menjalankan kewajiban-kewajiban yang lain. Mereka juga diminta untuk tidak mengatakan bahwa orang yang mati di jalan Allah itu
80 Ibid., 331-332.
81 al-‘Ayyāshī, Tafsīr, Vol. 1, 350.
mati (mayyit), karena yang mati itu tidak bernyawa dan tak merasa, tak dapat menikmati kebahagiaan dan mengalami suka cita. Padahal, “sebagian di antara kalian dan di antara ciptaan-Ku yang gugur di jalan Allah itu hidup di hadirat-Ku, (diliputi) kehidupan dan kebahagiaan, (merasakan) kegembiraan dan kelimpahan rezeki, bersuka cita atas apa yang telah Aku anugerahkan dan Aku limpahkan kepada mereka.” Seperti para pendahulunya, al-Ṭabarī juga menyebutkan banyak riwayat yang memuat berbagai gambaran mengenai jiwa para martir dalam wujud burung putih atau burung hijau, hidup di hadirat Tuhan-Nya, dan menikmati buah-buahan surga beserta wewangiannya, sekalipun mereka tidak benar-benar berada di dalam surga.82 Mengenai orang yang berjuang/berperang di jalan Allah (li al-mujāhid fi sabīlillāh), dia menjabarkan tiga kemungkinan ganjaran yang mirip dengan yang dikemukakan oleh Ibn Muhakkam.83
Tetapi, bagaimana jika ada yang menyanggah bahwa ganjaran berlimpah yang dijanjikan kepada “orang yang gugur di jalan Allah” (al-maqtūl fī sabīlillāh) juga berlaku bagi kaum mukmin pada umumnya? Menurut sejumlah riwayat, Nabi pernah menggambarkan ganjaran serupa yang dijanjikan kepada semua mukmin sejati dan hukuman yang akan dihadapi orang-orang kafir. Lalu apa, tanya sang penyanggah, yang membedakan orang-orang yang gugur (al-qātil) di jalan Allah dengan manusia lainnya, yang beriman dan yang tidak beriman, yang semuanya, menurut riwayat-riwayat tersebut, hidup di alam barzakh (alam sementara sesudah mati yang memerantarai alam berikutnya), sekalipun dalam keadaan yang jauh berbeda?84
Jawaban atas pertanyaan ini adalah sebagai berikut, lanjut al-Ṭabarī: para martir dibedakan dari mukmin yang lain karena hanya merekalah yang mengetahui lezatnya makanan surga di alam barzakh sebelum kebangkitan mereka dan yang masih akan mereka nikmati setelahnya: demikianlah Allah memuliakan mereka dari yang lain. Dia menyebutkan sebuah
82 al-Ṭabarī, Jāmi’ al-Bayān, Vol. 2, 42.
83 Ibid.
84 Ibid., 42-43.
riwayat dari Ibn ‘Abbas, yang menuturkan bahwa para martir berada di dekat Barīq, sungai di gerbang surga, di dalam kubah hijau (menurut riwayat lain, di dalam kebun hijau), di mana mereka dilimpahi rezeki dari surga siang dan malam. Namun, riwayat lainnya menuturkan bahwa jiwa para martir berada di kubah putih di surga. Di setiap kubah, ada dua istri (zawjatān) yang menanti. Setiap hari rezeki mereka datang dalam wujud lembu dan paus. Lembu itu memuat aneka buah-buahan di surga, dan paus itu memuat aneka minuman yang ada di surga.85
Al-Ṭabarī kemudian menanggapi para penyanggah dengan mengatakan bahwa riwayat-riwayat hiperbolis yang dia nukil dan merinci kenikmatan yang menanti para martir itu tidak disebutkan dalam ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154, yang hanya mengabarkan keadaan mereka saja—entah mereka itu mati atau hidup. Al-Ṭabarī sependapat bahwa ayat Q.S. al-Baqarah [2]:
154 hanya melarang orang-orang untuk mengatakan bahwa para martir itu mati dan tidak merinci bagaimana keadaannya. Riwayat-riwayat tafsir yang dia nukil mesti dipahami sebagai keterangan terperinci mengenai kenikmatan yang diperoleh para martir sebagaimana yang Allah sebutkan di ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169, mengenai rezeki yang mereka peroleh (yurzaqūn).86 Ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169, lanjut al-Ṭabarī, khusus berkenaan dengan para Sahabat yang gugur di Perang Uhud. Ayat ini memberitahu Nabi Muhammad agar beliau tidak menganggap mereka itu mati, yakni, tidak memiliki perasaan dan kemampuan untuk merasakan kenikmatan. Malah, “mereka hidup di hadirat-Ku, berbahagia dalam naungan-Ku, bergembira dan bersuka cita dengan segala yang Aku anugerahkan dari rahmat-Ku, serta limpahan rezeki dan ganjaran yang Aku curahkan.87
Ihwal ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154, al-Wāḥidī menjelaskan bahwa orang-orang biasanya mengatakan bahwa mereka yang gugur di jalan Allah itu mati dan tak lagi dapat menikmati kebaikan dunia. Ayat ini diturunkan untuk menyanggah anggapan tersebut. Terkait firman-Nya
85 Ibid., 43.
86 Ibid.
87 Ibid., Vol. 3, 513.
yang menyebutkan bahwa, “mereka itu hidup,” al-Wāḥidī menukil hadis Nabi Muhammad,
“Jiwa para martir bersemayam di dalam burung-burung hijau yang melayang-layang di sekitar pohon buahbuahan surga dan minum dari sungai-sungainya, bernaung di kala malam di semarak kandil yang menggantung di Arasy.88 Sedangkan mengenai ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]:
169, al-Wāḥidī menukil hadis dari Muqātil, bahwa para martir memohon agar dapat kembali ke dunia, dengan versi yang berbeda dari Ibn ‘Abbas, ‘Abdullāh (b. Mas’ūd), dan Jābir b.
‘Abdullāh.89
Dalam penjelasan singkatnya, al-Zamakhsyarī mengutip pernyataan al-Hasan al-Basrī mengenai ayat al-Baqarah 154 berikut:
Malah, para martir itu hidup di hadirat Allah, dan jiwanya tercurah oleh limpahan rezeki.
Karenanya, mereka diliputi kebahagiaan dan kegembiraan sebagaimana jiwa para pengikut Firaun terpapar api siang dan malam, dan mereka diliputi kepedihan.90
Tentang ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169, al-Zamakhsyarī menerangkan bahwa ayat ini menggambarkan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu hidup serta makan dan minum sebagaimana manusia yang bernyawa pada umumnya, ini menunjukkan kebahagiaan luar biasa yang Allah anugerahkan kepada mereka.91
Al-Rāzī menjelaskan secara terperinci mengenai ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154, dan mendalami signifikansi teologis dari persoalan ini pada zamannya. Dia membahas cukup panjang apa saja implikasi ayat ini untuk memahami keadaan martir setelah kemauan fisik, yang rinciannya tidak mungkin seluruhnya disampaikan di sini. Tetapi, ringkasan dari beberapa penjelasan pokoknya disampaikan di bawah ini.
Al-Rāzī mengatakan bahwa mayoritas mufasir sepakat bahwa Orang yang taat kepada Allah (al-muṭi’īn) memperoleh ganjaran di alam kuburnya, meskipun jasadnya tak bernyawa.
88 al-Wāḥidī, al-Wasīṭ, Vol. 1, 236.
89 Ibid., 519-520.
90 al-Zamakhsharī, al-Kashshaf, Vol. 1, 347.
91 Ibid., 657-658.
Dia merujuk al-Aṣamm, yang mengatakan bahwa ayat ini menanggapi “kaum musyrik yang tidak mengetahui bahwa orang yang gugur demi keyakinan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, hidup dalam iman dan dibimbing oleh Tuhan-Nya.” Ayat lain yang dapat mendasari pernyataan tersebut di antaranya adalah Q.S. al-Infiṭār [82]: 13-14, Q.S. al-Nisā’
[4]: 145, Q.S. al-Ḥajj [22]: 56, Q.S. Ghāfir [40]: 11.92
Dia kemudian menerangkan perdebatan mengenai apakah ada keterangan mengenai kedudukan khusus para martir dan apakah mereka menikmati ganjarannya secara fisik di surga atau secara spiritual di alam kuburnya. Al-Rāzī memandang bahwa ayat ini menggambarkan kedudukan khusus para martir, sekalipun kedudukan mereka lebih rendah dari para nabi (al-nabiyyīn) dan al-ṣiddiqīn (lihat Q.S. al-Nisā’ [4]: 69). Dia juga lebih cenderung kepada pandangan bahwa martir menikmati ganjarannya secara spiritual, karena tidak ada yang dibangkitkan secara fisik sebelum Hari Akhir, dan jiwa yang telah terlepas dari badannya dapat merasakan sakit dan senang. Pada hari Kebangkitan, jiwa-jiwa akan dipersatukan kembali dengan tubuhnya, meleburkan “keadaan jasmaniah dengan rohaniah.93
Sehubungan dengan ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169, al-Rāzī mengatakan bahwa ayat ini diturunkan untuk menyanggah anggapan bahwa jihad selalu berujung pada keterbunuhan (al-qatl), seperti anggapan orang kepada mereka yang berangkat ke Perang Uhud, dan kondisi terbunuh itu tentu saja tidak diinginkan (makrih) dan harus dihindari. Tetapi, kondisi terbunuh, lanjut al-Rāzī, sudah merupakan ketentuan Allah, seperti halnya kematian yang wajar, tidak ada yang dapat mengelak jika Allah menghendaki. Tetapi, ayat ini memberikan sanggahan lain yang juga kuat untuk meredakan kekhawatiran demikian: bahwa terbunuh di jalan Allah bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Bagaimana dia bisa tidak diinginkan sedangkan orang yang terbunuh itu hidup bersama Tuhan sesudah ia meninggal dan dijanjikan kedudukan yang
92 al-Rāzī, Mafātīḥ, Vol. 2, 125.
93 al-Rāzī, Mafātīḥ, Vol. 2, 126-128.
mulia di sisi Allah? Apakah orang yang berakal masih akan mengatakan bahwa cara mati yang seperti ini tidak diinginkan?94
Ayat ini, lanjut al-Rāzī, khususnya diturunkan sehubungan dengan orang-orang yang gugur di medan Perang Badar dan Uhud, dan mengecam kaum munafik yang enggan ambil bagian dalam peperangan terscbut karena takut terbunuh. Allah menerangkan keutamaan berperang di peperangan tersebut melalui ayat ini untuk mendorong umat Muslim agar meneladani mereka yang telah berperang (syuhadā’) dalam peperangan tersebut dan akhirnya gugur. Mereka yang meninggalkan jihad boleh jadi mendapatkan hal-hal menyenangkan di dunia ini, yang tak seberapa, tetapi mereka yang menggalakkannya pastilah akan memperoleh ganjaran di akhirat, yang amat luas dan langgeng, membuktikan bahwa berjihad lebih utama daripada meninggalkannya.95
Pengertian yang jelas dari ayat ini adalah bahwa mereka yang gugur itu hidup, baik secara fisik maupun metafor. Di sini al-Rāzī kemudian mengikhtisarkan sejumlah perdebatan tentang bagaimana memaknai keadaan yang hidup ini, yang beberapa di antaranya telah kita singgung sebelumnya dan tak perlu kita bahas lagi di sini.96
Al-Qurṭubī menangguhkan uraian lengkapnya mengenai “martir dan hukum tentangnya”
sampai pada tafsirnya mengenai ayat terkait, Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169. Tentang ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154, dia menerangkan bahwa jika dikatakan martir itu hidup, bukan berarti bahwa
“mereka akan dihidupkan kembali” (sa-yaḥyūn), karena hal itu berlaku untuk semua manusia.
Tetapi, ia mengacu kepada suatu keadaan yang lain, sebagaimana ditunjukkan oleh ungkapan-Nya, “Tetapi, kamu tidak menyadari,” dan menandakan bahwa martir itu mati dan sekaligus hidup pada saat yang sama, suatu keadaan yang tak terbayangkan.97
94 Ibid., Vol. 3, 425.
95 Ibid.
96 Ibid., 425-426.
97 al-Qurṭubī, al-Jāmi’, Vol. 2, 168-169.
Mengenai ayat Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169, al-Qurṭubī mengatakan bahwa ayat ini berbicara tentang “para martir Uhud” (syuhadā’ Uḥud), meski sebagian lainnya seperti Ibn Ishāq mengatakan bahwa ayat ini mengacu kepada Bi’r Ma'ūna, sedangkan yang lain beranggapan bahwa ayat ini adalah tentang Perang Badar. Allah menghendaki Perang Uhud agar menjadi ujian untuk membedakan antara kaum munafik dan kaum mukmin sejati (al-ṣadiq), dan barang siapa yang gugur di tengah perang akan mendapatkan kemuliaan dan kehidupan di hadirat-Nya. Dia menukil hadis dari Jābir bahwa Nabi menyampaikan kepadanya bahwa ayahnya yang menjadi martir (ustushhida) telah menemui Allah dan ayahnya memohon agar orang-orang di dunia mengetahui nasibnya, lalu turunlah ayat ini.98 Secara umum, ayat ini melipur orang-orang di dunia yang meratapi nasib mereka yang gugur dan terbaring di kuburnya, padahal mereka masih merasakan hal-hal yang baik dari dunia ini.99
Seperti al-Rāzī, al-Qurṭubī pun kemudian masuk ke pembahasan soal apa maksud
“hidup” setelah seseorang terbunuh, serta mengutip banyak tokoh yang juga dikutip al-Rāzī.
Menariknya, dia menggabungkan martir dengan para nabi, ulama, muazin, pengawas pasar (muḥtasibīn), dan pembaca al-Qur’ān (ḥamalat al-Qur’ān), yang jasadnya “tidak hilang tertelan bumi” (yakni tidak rusak). Selain itu, dia merinci berbagai rangkaian acara pemakaman (memandikan jenazah, shalat jenazah dll.) yang mengemuka karena kedudukan khusus martir, dan perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai amalan-amalan tersebut.100 Pembahasan hukum yang panjang lebar mengenai berbagai macam kemartiran serta perlakuan khusus yang harus diberikan kepada masing-masing jenis martir itu oleh para pemakamnya menunjukkan besarnya perhatian terhadap persoalan ini dalam diskursus fikih pada masa al-Qurṭubī.
Al-Qurṭubī kemudian menyebutkan sejumlah hadis dan riwayat di bagian ini, yang beberapa di antaranya tidak disebutkan oleh mufasir lain yang kita ulas sebelumnya, yang
98 Ibid., Vol. 4, 261.
99 Ibid.
100 Ibid., 262-267.
menjelaskan lebih lanjut nasib para martir di akhirat. Dia menyebutkan sebuah hadis yang menyatakan bahwa utang seorang martir, tidak seperti dosa dan kekeliruannya, tak akan dihapuskan, dan hadis lain, yang tak terkait langsung dengan seorang martir, yang memperingatkan bahwa perbuatan baik saja tidak akan menyelamatkan seorang mukmin dari api neraka apabila ia masih mempergunjingkan atau mengumpat seseorang, menumpahkan darah, atau ikut memfitnah seseorang. Kedua hadis tersebut menjadi batasan dari kemuliaan yang diberikan kepada martir di akhirat.101
Adapun rezeki (rizq) yang akan diperoleh martir di akhirat meliputi kedekatan dengan Allah, kedudukan yang mulia di hadapanNya, serta kesempatan untuk turut serta dalam pujian yang layak atas-Nya. Jiwa mereka akan bersukacita dalam segala kenikmatan surga, dan akan bertambah ketika disatukan lagi dengan jasadnya.102
Perbandingan antara tafsir terdahulu dan terkemudian sehubungan dengan ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 154 dan Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 169 memperlihatkan bagaimana kultus kemartiran militer semakin berkembang merespons situasi sejarah pasca-Nabi, yang dasarnya secara anakronistis disandarkan kepada ayat-ayat ini (begitu juga dengan Q.S. al-Ḥajj [22]: 58), meskipun ayat-ayat tersebut tidak menyebut dengan jelas soal martir militer, dan tidak menyinggung soal anggapan-anggapan mengenai kemuliaan mereka dibandingkan dengan mukmin lainnya yang mati, misalnya, saat berhijrah di jalan Allah. Seperti telah kita lihat, proses pengultusan ini bermula cukup dini. Meski tidak disebutkan dalam al-Qur’ān, limpahan kenikmatan yang khusus tercurah kepada martir militer dijabarkan dengan penuh semangat untuk menunjukkan kemuliaan mereka di akhirat, bermula sejak era Umayyah seperti yang tampak dalam tafsir Muqātil. Tak pelak lagi, daya tarik dari kenikmatan tersebut diharapkan dapat lebih menarik-minat sebagian kalangan yang enggan bergabung dalam pasukan
101 Ibid., 265-267.
102 Ibid., 2.
Umayyah (dan belakangan Abbasiyah), sebagaimana yang ditunjukkan. Selain karena pertimbangan kesalehan, keengganan ini boleh jadi juga dipicu oleh persaingan dan pertikaian suku-suku tradisional mengenai kebijakan tertentu.
Banyak mufasir yang kita tinjau menyebutkan bahwa kemuliaan-lebih yang diberikan kepada “orang yang gugur di jalan Allah”—yang kerap disamakan dengan martir militer—
dibandingkan dengan martir non-militer, seperti orang yang berhijrah, dipersoalkan oleh sebagian kalangan. Kenikmatan fisik, khususnya seputar makanan (gastronomik), bagi martir militer yang diuraikan dengan begitu rinci di sejumlah riwayat juga dianggap sebagai gambaran yang berlebihan oleh sebagian kalangan, seperti yang dikemukakan oleh al-Ṭabarī, karena uraian tersebut tidak ada dasarnya dalam al-Qur’ān, yang hanya menyatakan bahwa martir tidak boleh dianggap mati melainkan hidup di akhirat. Kalangan Muktazilah mempunyai penafsiran tersendiri mengenai limpahan rezeki yang dijanjikan ayat Q.S. al-Ḥajj [22]: 58, yaitu pengetahuan dan pemahaman, bukan kenikmatan material, suatu penafsiran yang ditujukan sebagai Sindiran kepada ahl al-ḥadith dan ketergantungan mereka kepada riwayat-riwayat yang sumber dan isinya meragukan bagi kalangan Muktazilah. Berbagai pandangan yang tercantum dalam kitab-kitab tafsir di atas memperlihatkan tarik menarik gagasan ihwal kemartiran di sepanjang sejarah Islam serta implikasi teologis dan sosio-etisnya yang lebih luas.
BAB III