Tidak Setuju Sangat Tidak
2) Tahap Desain (Design)
Tahap design modul meliputi tahap pengembangan kerangka modul, penyusunan sistematika dan perancangan alat evaluasi. Kerangka modul ini dirancang dengan menjabarkan 3 komponen modul yaitu bagian awal, inti dan akhir. Kerangka modul ini menggambarkan keseluruhan isi modul. Penentuan sistematika isi modul disesuaikan dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang telah dijabarkan menjadi tujuan dan indikator pembelajaran. Modul yang disusun beralur induktif, dari umum ke khusus. Modul ini menyususn uraian materi dari
105
yang bersifat umum yaitu kesalahan metabolisme bawaan ke materi yang bersifat khusus yaitu pewarisan kretinisme di Desa Sigedang. Kelebihan cara menguraikan materi secara induktif yaitu siswa dapat memahami konsep dasar untuk menjembatani dalam memahami materi yang bersifat khusus.
Alat evaluasi yang digunakan dalam modul ini adalah tes formatif dan ulangan harian. Tes formatif berupa soal pilihan ganda untuk mengetahui pemahaman konsep siswa tentang pewarisan sifat pada manusia, khusunya kretinisme. Tes formatif dikerjakan setelah selesai mempelajari masing-masing kegiatan belajar. Modul ini dilengkapi dengan kunci jawaban untuk mencocokkan jawaban siswa dengan jawaban yang benar.
Modul ini juga dilengkapi dengan penjelasan mengenai umpan balik/feedback untuk mengetahui skor ketercapaian siswa setelah mempelajari materi pada masing-masing kegiatan. Siswa bisa melanjutkan untuk mempelajari kegiatan belajar berikutnya jika sudah mencapai skor 80 %, jika belum mencapai ia harus mempelajarinya kembali. Evaluasi akhir berupa soal ulangan harian. Soal ulangan harian berbentuk pilihan ganda yang bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa setelah mempelajari keseluruhan materi.
3) Tahap Pengembangan (Development)
Tahap pengembangan terdiri dari pra penulisan, penulisan draft, penyuntingan, revisi dan uji coba terbatas. Tahap pra penulisan dilakukan
106
dengan mengkaji bahan materi yang akan dimasukkan dalam modul. Bahan materi dikumpul dari buku referensi, jurnal, hasil penelitian pewarisan sifat kretinisme di Desa Sigedang, Kejajar, Wonosobo dan sumber lain yang relevan.
Draft modul ini disusun berdasarkan kerangka modul kemudian diajukan kepada pembimbing I dan II untuk mendapat saran. Saran dari pembimbing selanjutnya ditindaklanjuti untuk menghasilkan modul yang berkualitas. Saran yang pertama yaitu penggunaan kata kerja operasional pada tujuan pembelajaran kegiatan belajar II. Kalimat “menganalisis genotipe” dirasa kurang tepat karena tahap analisis genotipe memerlukan proses rumit dan dilakukan secara mikroskopis menggunakan peralatan laboratorium. Modul ini hanya menyajikan peta silsilah dan siswa diminta untuk menentukan genotipe anggota keluarga berdasarkan peta silsilah tersebut. Kata “menganalisis” diganti menjadi “menentukan”.
Saran kedua yaitu skema terjadinya kesalahan metabolisme sebaiknya mengutip dari sumber yang relevan, tidak membuat sendiri karena kurang tepat. Penulis kemudian mencari referensi genetika yang memuat skema terjadinya kesalahan metabolisme bawaan. Skema ini terdapat pada buku Essential of Genetics karangan William S. Klug, Michael Cumming dan Charlote Spencer tahun 2007.
Saran ketiga, menuliskan 2 kemungkinan genotipe pada anggota keluarga yang normal yaitu CC atau Cc. Penulis awalnya hanya menuliskan satu genotipe saja. Berdasarkan teori, genotipe individu
107
normal dapat berupa normal homozigot atau heterozigot. Genotipenya secara pasti dapat diketahui dengan analisis genotipe di Rumah Sakit. Penulis menjelaskan dalam modul ini, mengapa ada 2 kemungkinan genotipe pada individu normal dan bagaimana cara untuk mengetahui genotipe secara pasti.
Saran keempat, menambahkan satu bentuk evaluasi akhir berupa soal ulangan akhir. Soal ulangan akhir ini menjadi alat untuk mengetahui pemahaman siswa setelah mempelajari keseluruhan materi dalam modul ini. Jumlah soal dibuat lebih banyak dari soal tes formatif 1 dan 2.
Saran kelima, soal pada quiz sebaiknya disesuaikan dengan uraian materi. Quiz sebelumnya meminta siswa untuk menjawab soal tentang konsep yang tidak diberikan dalam uraian materi, dengan tujuan untuk mengasah kemampuan siswa. Hal tersebut dirasa kurang tepat, karena siswa akan kesulitan dalam mengerjakan soal yang belum ia pelajari sebelumnya. Penulis kemudian mengganti soal pada quiz yang sesuai dengan uraian materi.
Saran keenam, memperbaiki stuktur kalimat yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Saran ketujuh, memblur gambar wajah penderita kretinisme, untuk menjaga privasi penderita kretinisme tersebut. Saran kedelapan, memperbaiki peta konsep agar lebih jelas, karena peta konsep ini menjadi acuan siswa sebelum mempelajari materi dalam modul.
108
d. Penilaian Kualitas Modul Pengayaan 1) Ahli Materi
Ahli materi memberikan penilaian terhadap kualitas modul berdasarkan kebenaran konsep Biologi, khususnya Genetika. Penilaian kedua ahli materi, dihasilkan sebanyak 73 konsep benar (98,64%) dan 1 konsep salah (1,35 %). Satu konsep yang dinyatakan salah oleh ahli materi I yaitu konsep “Satu gen mengkode pembentukan satu enzim”. Konsep ini dinyatakan benar oleh ahli materi II. Ahli materi I menyatakan bahwa belum tentu hanya satu gen yang mengkode pembentukan satu enzim, bisa dipengaruhi oleh protein lain.
Peneliti menuliskan teori ini berdasarkan teori Beadle dan Tatum tahun 1941 yang meneliti pertumbuhan Neurospora crassa berdasarkan Jurnal Protein Science Cambridge University Vol.4, tahun 1995, halaman 1017-1019. Beadle dan Tatum meneliti pertumbuhan kapang Neurospora
crassa mutan, yang diperolehnya dengan memberikan radiasi sinar X pada
kapang tersebut. Spora kapang mutan ini diletakkan pada tabung yang berisi asam amino, vitamin dan bahan organik esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan kapang. Kapang yang telah tumbuh kemudian dipindahkan ke tabung dengan media tanpa nutrisi. Hasilnya, kapang mutan ini tidak dapat tumbuh.
Beadle dan Tatum mengulang percobaan ini dengan menambahkan vitamin atau asam amino esensial. Mereka menumbuhkan kapang mutan tersebut pada media yang hanya berisi vitamin saja tanpa asam amino,
109
hasilnya kapang mutan tidak dapat tumbuh. Mereka kemudian menumbuhkan kapang pada media yang berisi 20 asam amino esensial, hasilnya kapang dapat tumbuh. Beadle dan Tatum menduga bahwa ada 1 dari 20 asam amino tersebut yang menjadi faktor pertumbuhan kapang. Mereka menumbuhkan kapang mutan ini pada masing-masing media yang berisi 1 asam amino, hasilnya kapang yang ditumbuhkan pada media dengan asam amino arginin yang dapat tumbuh.
Hasil penelitian ini menjadi dasar pemikiran Beadle dan Tatum bahwa gen pada kapang mutan ini tidak dapat membentuk enzim yang dibutuhkan untuk mengubah 19 asam amino menjadi zat lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, hanya 1 asam amino yang dapat diubah, yaitu arginin.
Beadle dan Tatum mengemukakan teori bahwa satu gen mengkode pembentukan satu enzim yang spesifik. Elizabeth Martin dan Robert Hine (2008), menyatakan bahwa teori “satu gen satu enzim” sudah berkembang menjadi “satu gen satu polipeptida”. Hal ini didasarkan pada penelitian tentang hemoglobin, diketahui bahwa pembentukan hemoglobin manusia dikode oleh dua gen yang berbeda. Satu gen mengkode struktur rantai alpha, satu lainnya mengkode struktur rantai beta.
Peneliti kemudian mengkonsultasikan kebenaran konsep ini dengan pembimbing. Konsep satu gen mengkode pembentukan satu enzim ditambahkan keterangan bahwa saat ini hipotesis sudah berkembang menjadi satu gen satu polipeptida.
110
Ahli materi juga memberikan saran untuk ditindaklanjuti yaitu pertanyaan pada quiz kegiatan belajar I tidak perlu menyebutkan gejala medis kretinisme seperti katup jantung abnormal, denyut nadi melambat dan sulit bernafas. Siswa SMA Kelas XII cukup diberikan gejala secara fisik. Peneliti kemudian memperbaiki pertanyaan dalam quiz ini.
Saran berikutnya yaitu memperbaiki pengertian autosom dan fenotipe pada glosarium. Pengertian autosom yang sebelumnya ditulis oleh penulis adalah kromosom yang tidak terlibat secara langsung dalam penentuan jenis kelamin, bukan kromosom seks. Pengertian ini dirasa membingungkan, sehingga penulis menggantinya menjadi kromosom yang ada pada tubuh manusia kecuali pada kelamin. Kromosom yang ada pada kelamin disebut gonosom. Pengertian fenotipe yang sebelumnya ditulis adalah sifat fisik dan fisiologis dari suatu organismeyang ditentukan oleh susunan genetiknya. Pengertian ini diperbaiki menjadi suatu karakteristik dari suatu organisme yang ditentukan oleh susunan genetiknya.