• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Progress Penelitian Kultur Embryo Kelapa

2.3.1 Tahap Germinasi

Embrio kelapa yang akan di tanam dalam media kultur di ambil dari buah yang

berumur 10-11 bulan. Tahap koleksi embrio dari lapang terdiri atas tahap pemanenan

buah kelapa sebagai sumber embryo, pengupasan dan pengambilan silinder endosperma,

pemisahan embryo dari endosperma. Pengambilan silinder endosperma dilakukan dengan

menggunakan pipa besi dengan diameter 1,6 cm pada mata aktif. Tahap selanjutnya

merupakan tahap yang paling penting dalam kultur jaringan yaitu tahap teknik aseptic

yang terdiri dari persiapan embrio steril dan pemeliharaan embrio secara in vitro. Embrio

kelapa disterilkan dengan menggunakan 3 % larutan natrium hipoklorit selama 5 menit

lalu dicuci selama beberapa saat dengan menggunakan akuad.Tingkat keberhasilan kultur

embryo kelapa sampai saat ini masih bervariasi tergantung kepada kondisi laboratorium

masing-masing pusat penelitian maupun pengalaman dan kemampuan tenaga peneliti

dalam mengaplikasikan teknik in vitro (Engelmann 2005). Tingkat keberhasilan kultur

embryo kelapa bervariasi antara 15 – 88 % (Karun et al. 2002; Mashud 2002; Rillo et al.

2002; Weerakoon et al. 2002).

Aplikasi kultur embrio untuk menghasilkan bibit kelapa telah banyak dilakukan di

beberapa negara seperti Sri Lanka, Perancis, Filipina, India termasuk Indonesia. Namun,

tingkat keberhasilan kultur embryo di setiap negara bervariasi, sedangkan aplikasi pada

kelapa kopyor memberikan hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan kelapa normal.

Pada tahap ini, tingkat keberhasilan germinasi embryo kelapa kopyor di Indonesian

Coconut and Other Palm Research Institute (ICOPRI), Manado adalah 63 % (Mashud and

Manaroinsong 2007), sedangkan di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya

sebesar 47 % (Sukendah et al. 2008). Di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, hasil

germinasi embryo kelapa kopyor tipe genjah asal Purbalingga Jawa Tengah juga

menunjukkan tingkat keberhasilan yang hampir sama, yaitu 55 % (Sriyanti 2010).

2.3.2 Tahap Aklimatiasi

Aklimatisasi adalah tahapan untuk memindahkan plantlet atau bibit tanaman yang

dihasilkan dari kultur jaringan dari lingkungan in vitro ke lingkungan ex vitro (George

and Debergh 2008). Tahapan ini merupakan tahap paling penting dari kultur embryo

karena sangat memungkinkan menyebabkan kegagalan dan matinya bibit yang

dihasilkan. Plantlet yang dihasilkan dari kultur jaringan umumnya tumbuh dalam tabung

yang tertutup rapat guna menghindari kontaminasi, namun kondisi ini mengakibatkan

kelembapan udara di dalam tabung jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi di luar tabung

sehingga mengakibatkan pertukaran gas CO2 dengan lingkungan luar menjadi sangat

terbatas (Paspisilova et al. 1999). Disamping itu, media tanam umumnya diberi tambahan

gula sebagai sumber karbon dan energi serta intensitas cahaya yang relatif rendah. Ketiga

hal tersebut mengakibatkan plantlets yang dihasilkan menjadi abnormal baik secara

morfologi maupun fisiologi sehingga menyebabkan kegagalan dalam produksi bibit

menggunakan teknik kultur jaringan (Afreen et al. 2002; Franco et al. 2007; George and

Debergh 2008; Paspisilova et al. 1999; Preece and West 2006).

Pada kultur embryo kelapa tingkat kegagalan pada tahap aklimatisasi masih relatif

tinggi, berkisar 60 sampai 90 % (Engelmann and Batugal 2002; Karun et al. 2002).

Kegagalan pada kultur embryo kelapa kopyor juga sangat tinggi, yaitu mencapai 80 %

(Mashud and Manaroinsong 2007).

Beberapa upaya telah dilakukan untuk memperbaiki protokol kultur embryo guna

meningkatkan kesintasan tanaman pada tahap aklimatisasi seperti menginduksi

peningkatan jumlah akar primer dan sekunder dengan menambahkan zat pengatur

tumbuh auksin ke dalam media tanam (Lien 2002; Rillo et al. 2002), perbaikan teknik

aklimatisasi dengan menggunakan kotak plastik (Magdalita et al. 2010), maupun

pemberian gas CO2 ke dalam kotak aklimatisasi guna meningkatkan laju fotosintesis

tanaman yang diaklimatisasi (Samosir et al. 2008).

Perlakuan-perlakuan tersebut dan beberapa perlakuan lain yang umum digunakan

untuk meningkatkan keberhasilan aklimatisasi seperti pengaruh cahaya, kelembapan,

udara, suhu maupun substrat tanam (Afreen 2005), belum pernah diaplikasikan pada

kultur embryo kelapa kopyor sehingga dalam penelitian ini akan dilakukan upaya

meningkatkan kesintasan bibit kelapa kopyor pada tahap aklimatisasi

2.4 Embryo Splitting serta Kemungkinan Aplikasinya pada Kelapa Kopyor

Aplikasi teknik embryo yang dibelah (embryo splitting) pada perbanyakan kelapa

kopyor memiliki tingkat germinasi yang masih rendah, yaitu kurang dari 60 % (Sukendah

2009). Beberapa cara dapat dilakukan untuk meningkatkan germinasi embryo kelapa

seperti seleksi teknik pembelahan embryo, seleksi medium dasar dan penambahan zat

pengatur tumbuh ke dalam medium tanam.

2.4.1 Seleksi Teknik Pembelahan.

Terdapat satu teknik pembelahan yang telah dilaporkan oleh Sukendah (2009) yaitu

embryo dibelah menjadi dua kemudian ditanam pada medium germinasi. Kelemahan

yang diperoleh dari teknik ini adalah hanya dua eksplan yang ditanam disamping

memerlukan media yang lebih banyak. Teknik lain yang lebih efisien yang perlu

dicobakan adalah dengan membelah embryo secara bertahap, yaitu dengan menoreh

embryo sampai seperempat dan menoreh embryo sampai setengahnya. Embryo ditoreh

menjadi dua, empat maupun delapan bagian.

2.4.2 Seleksi Medium Tanam.

Media yang umum digunakan dalam kultur embryo dan embryo splitting adalah

”Hybrid Embryo Culture (HEC)” (Rillo, 2004), Y

3

(Eeuwens 1976) maupun medium

”Coconut Research Institute” (Y3CRI) (Weerakoon et al. 2002). Media HEC memiliki

kelebihan komposisi dibandingkan dua media yang lain, yaitu dalam hal vitamin (folic

acid, biotin dan glycine). Senyawa-senyawa tersebut juga telah dilaporkan mampu

meningkatkan perkecambahan kelapa seperti telah dilaporkan pada penelitian.

2.4.3 Seleksi Zat Pengatur Tumbuh

Beberapa zat pengatur tumbuh telah dicobakan untuk meningkatkan germinasi

embryo kelapa normal seperti asam gibberellat (GA

3

; (Karun et al. 2002; Mashud 2002;

Pech y Ake et al. 2007; Pech y Ake et al. 2002; Weerakoon et al. 2002), asam absisat

(ABA, (Damasco 2002; Karun et al. 2002; Mashud 2002; Weerakoon et al. 2002),

benziladenina (BAP, (Rillo et al. 2002)) dan asam naftalen asetat (NAA, (Rillo et al.

2002). Beberapa zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media tanam

dilaporkan mampu meningkatkan germinasi embryo kelapa, seperti GA

3

(Mashud 2002;

Pech y Ake et al. 2007; Pech y Ake et al. 2002; Weerakoon et al. 2002) dan ABA (Karun

et al. 2002). Namun, zat pengatur tumbuh yang lain tidak mampu meningkatkan

germinasi embryo kelapa seperti NAA, BAP (Rillo et al. 2002) dan ABA (Damasco

2002).

Pada kultur embryo kelapa kopyor, penambahan GA

3

ke dalam medium telah

diujikan namun hasilnya menunjukkan bahwa perlakuan tersebut tidak mampu

meningkatkan germinasi embryo kelapa kopyor. Pemberian GA

3

dengan durasi yang

berbeda maupun penambahan zat pengatur tumbuh yang lain ke dalam media tanam

belum pernah dilaporkan dan akan diujikan dalam penelitian ini.

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1 Tujuan

Sampai saat ini, protokol embryo splitting belum tersedia sehingga belum dapat

diaplikasikan untuk penyediaan bibit kelapa kopyor secara masal, sehingga tujuan utama

penelitian ini adalah untuk mengembangkan protokol embryo splitting dan

mengaplikasikannya dalam produksi bibit kelapa kopyor.

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Menguji dua teknik pembelahan embryo zygotik guna memperoleh teknik

pembelahan yang optimal.

2. Melakukan seleksi dua medium dasar yang paling baik untuk mengecambahkan

embryo yang dibelah,

3. Melakukan seleksi konsentrasi zat pengatur tumbuh yang paling optimum untuk

mengecambahkan embryo yang dibelah.

3.2 Manfaat Penelitian

Penelitian tentang pengembangan protokol embryo splitting untuk penyediaan bibit

kelapa kopyor sangat penting dilakukan mengingat tingginya nilai ekonomi kelapa

kopyor dan belum tersedianya protokol yang memadai. Hasil penelitian ini diharapkan

dapat memberikan luaran jangka pendek dan jangka panjang yang penting dalam

pengembangan ipteks, menunjang pembangunan nasional khususnya berdampak ekonomi

dan sosial, serta berperan penting dalam pengembangan institusi khususnya Laboratorium

Genetika dan Botani (LGB), Program Studi Pendidikan Biologi, maupun bagi Universitas

Muhammadiyah Purwokerto pada umumnya.

Pengembangan Ipteks. Penelitian ini diharapkan memberikan dampak jangka

pendek berupa protokol embryo splitting dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi

dibandingkan dengan protokol sebelumnya (Mashud 2010; Sukendah 2009). Disamping

itu dari penelitian ini juga diharapkan dapat dihasilkan data tentang keragaman

morfologi, sitologi, biokimia dan molekuler dari bibit yang dihasilkan dari teknik tersebut

sehingga layak untuk dipublikasikan. Target minimal yang ingin dicapai adalah satu

artikel di jurnal internasional dapat dipublikasikan dari penelitian ini dan satu artikel yang

dipublikasikan di jurnal nasional terakreditasi setelah kegiatan penelitian ini berakhir.

Luaran jangka panjang yang diharapkan dapat dihasilkan dari penelitian ini adalah

dengan dihasilkannya bibit kelapa kopyor true to type maka dalam jangka waktu yang

tidak terlalu lama (1 sampai 3 tahun setelah penelitian ini berakhir), bibit dapat ditanam

di lapang untuk kemudian dijadikan kebun plasma nutfah kelapa kopyor pertama di

Indonesia. Diharapkan dapat ditanam dua type kelapa kopyor, yaitu dalam dan genjah,

sehingga dalam jangka panjang (10 – 15 tahun) akan dapat dihasilkan kelapa hibrida

kopyor yang unggul. Kebun plasma nutfah ini akan menjadi pusat penelitian kelapa

kopyor pertama di Indonesia dan bahkan dunia. Sifat kelapa kopyor dengan endoserm

yang lembut memungkinkan peneliti tanaman lain khususnya tanaman berbiji untuk

mengaplikasikan gen yang terdapat pada kelapa kopyor ke tanaman lain sehingga

diperoleh tanaman pangan dengan tekstur yang lebih lembut dibandingkan dengan tekstur

tanaman pangan yang tersedia saat ini.

Menunjang Pembangunan Nasional. Dampak jangka pendek yang diperoleh dari

penelitian ini adalah dihasilkannya bibit kelapa kopyor yang memiliki nilai ekonomi

sangat tinggi, Harga bibit mencapai hampir 500 ribu rupiah per bibit (Mashud and

Manaroinsong 2007). Namun penelitian ini lebih mementingkan pencapaian jangka

panjang, berupa pembangunan kebun plasma nutfah kelapa kopyor. Selanjutnya dengan

dihasilkan kelapa kopyor hibrida unggul akan sangat menunjang pendapatan petani

kelapa di Indonesia. Seperti diketahui petani kelapa di Indonesia mencapai lebih dari 3

juta orang dan merupakan petani miskin (Mahmud and Ferry 2005). Dengan menanam

kelapa kopyor hibrida unggul tersebut diharapkan petani akan meningkat pendapatannya

seiring dengan tingginya harga kelapa kopyor (Novarianto et al. 2005). Tersedianya

produk kelapa kopyor selanjurnya dalam jangka panjang diharapkan akan memacu

tumbuhnya industri pangan kelapa kopyor dan memacu eksport buah kelapa kopyor

seperti yang terjadi pada saat ini di Philippina dengan kelapa makapuno.

Pengembangan Institusi. Kelapa kopyor telah menjadi topik penelitian utama di

Laboratorium Genetika dan Botani, Universitas Muhammadiyah Purwokerto dalam tiga

tahun terakhir. Penelitian melibatkan mahasiswa tahap akhir yang menggunakan topik

tentang kelapa kopyor sebagai bahan skripsi mereka. Sampai saat ini proyek penelitian

kelapa kopyor telah meluluskan dua orang mahasiswa, sedangkan empat orang

mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Sebagian besar biaya penelitian

khususnya kelapa kopyor yang digunakan dibiayai oleh peneliti utama secara mandiri.

Dengan adanya penelitian hibah bersaing ini, kegiatan penelitian skripsi mahasiswa dapat

terbantu dan semakin banyak mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini.

Di tingkat laboratorium, kegiatan penelitian ini akan meningkatkan capacity

building. Laboratorium memiliki fasilitas laboratorium kultur jaringan, memiliki

spektrofometer guna menunjang penelitian biokimia dan memiliki mikroskup

fluoresecent guna menunjang penelitian sitologi. Pemanfaat peralatan yang dimiliki

masih tergolong rendah, lebih menitikberatkan dalam kegiatan praktikum. Penelitian

dosen yang masih kurang dalam memanfaatkan fasilitas yang ada, sehingga dengan

adanya penelitian ini diharapkan akan memicu penelitian-penelitian dosen yang lain di

bidang yang sejenis.

Di tingkat universitas, kegiatan penelitian dosen khususnya penelitian hibah

bersaing masih cukup rendah, rata-rata sekitar 2 judul per tahun. Dengan jumlah dosen

yang mencapai lebih dari 300 orang maka jumlah tersebut masih sangat rendah. Dengan

adanya penelitian ini diharapkan akan memicu aktivitas penelitian yang lebih banyak

lagi.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Bahan Penelitian

Penelitian optimasi protokol embryo splitting kelapa kopyor dilakukan di

Laboratorium Genetika dan Botani (LGB), Universitas Muhammadiyah Purwokerto

(UMP) sejak bulan Februari 2013 sampai sekarang. Bahan yang digunakan adalah

embryo kelapa kopyor baik type dalam maupun type genjah yang diperoleh dari

Kabupaten Purbalingga dan Banyumas. Kelapa kopyor dari Kabupaten Purbalingga

dikumpulkan dari para petani kelapa kopyor dari Kecamatan Kejobong untuk kemudian

dikirim ke LGB-UMP untuk dilakukan isolasi embryo dan digunakan dalam penelitian

ini.

4.2 Isolasi dan Sterilisasi Embryo Kelapa Kopyor

Tahap awal sebelum dilakukan optimasi protokol embryo splitting adalah dilakukan

isolasi embryo yang dilanjutkan dengan sterilisasi permukaan agar embryo yang ditanam

pada media kultur jaringan tidak terkontaminasi bakteri maupun jamur. Teknik yang

digunakan dalam isolasi dan sterilisasi embryo kelapa kopyor merupakan hasil terbaik

dari penelitian sebelumnya yang didanai dengan penelitian Endeavour Award, Ministry

of Education Australia tahun 2010. Isolasi embryo dilakukan dengan cara sebagai berikut

: setelah buah kelapa kopyor dikupas dan dibelah, kemudian embryo diisolasi dari bagian

tertentu dari endosperm kelapa, yaitu tepat dibagian salah satu dari tiga ‘mata’ dari

kelapa. Namun sering kali terjadi embryo sudah tidak ditempat semestinya karena sifat

endosperm yang kopyor, sehingga embryo harus dicari di antara endosperm yang hancur.

Isolasi dilakukan dengan menggunakan sendok makan dengan cara mengambil embryo

dengan mengikutkan sebagian endospermnya.

Setelah diisolasi, embryo kemudian dicuci dengan air mengalir dan dicuci dengan

cepat menggunakan etanol 95 % untuk menghilangkan lipid yang menempel. Di dalam

laminar air flow cabinet (LAF), embryo diisolasi dari endoosperm, kemudian

dimasukkan ke dalam beaker glass steril yang telah diisi dengan larutan natrium

hipoklorida (2,6 %) selama 15 menit. Selanjutnya, larutan tersebut dibuang dan diganti

dengan aquadest steril sebanyak 4 kali dan embryo siap digunakan untuk percobaan

selanjutnya (Gambar 4.1).

Gambar 4.1 Tahapan isolasi dan sterilisasi embryo kelapa kopyor (dari kiri ke kanan).

4.3 Optimasi protokol germinasi

Optimasi protokol germinasi dilakukan dengan melakukan penelitian dalam 3 topik

penelitian, yaitu uji teknik torehan, uji medium dasar dan uji pengaruh zat pengatur

tumbuh (Gambar 4.1). Seluruh penelitian diharapkan dapat diselesaikan pada akhir

tahun pertama.

Uji teknik torehan. Embryo yang telah disterilkan kemudian ditoreh seperti pada

Tabel 4.1 dan Gambar 4.2. Tiga teknik torehan akan digunakan dalam penelitian ini,

yaitu ditoreh seperempat pada bagian titik tumbuh, ditoreh setengah dan ditoreh

seluruhnya (dibelah /splitting). Jumlah torehan yang akan digunakan juga dua macam,

ditoreh menjadi dua bagian dan empat bagian. Setiap bagian embryo kemudian di tanam

pada medium hybrid embryo culture (HEC, Rillo, 2004). Setiap perlakuan digunakan 30

embryo. Pada tahap inisiasi, media yang digunakan adalah media padat (8 g/l agar)

dengan penambahan sukrosa (60 g/l) dan arang aktif (2 g/l). Kultur dipelihara di ruang

gelap untuk mempercepat perkecambahan. Setiap 4 minggu, embryo disubkulturkan ke

media baru sampai embryo tersebut berkecambah. Setelah berkecambah, embryo

dipindahkan ke ruang terang guna pemanjangan. Tahap ini akan memerlukan waktu

antara 3 sampai 4 bulan.

Tabel 4.1 Teknik torehan yang akan dilakukan dalam penelitian ini

Jumlah belah/toreh Teknik Belah

(embryo splitting)

Teknik toreh

(embryo incision)

Dua 1 4

Empat 2 5

Gambar 4.2 Teknik embryo belah (atas) dan embryo toreh (bawah) yang digunakan

untuk membelah embryo menjadi dua dan empat bagian.

Uji pengaruh medium dasar. Dua medium dasar akan diujikan dalam penelitian

ini, yaitu medium MS (Murashige dan Skoog, 1962) dan sebagai kontrol digunakan

hibrid embryo culture medium (Rillo, 2004). Setiap perlakuan digunakan 30 embryo.

Pada perlakuan ini tidak digunakan penambahan zat pengatur tumbuh. Setiap bagian

embryo di tanam pada medium perlakuan yang padat dengan pendahan 8 g/L agar,

sukrosa (60 g/l) dan arang aktif (2 g/l). Kultur dipelihara di ruang gelap untuk

mempercepat perkecambahan. Setiap 4 minggu, embryo disubkulturkan ke media baru

sampai embryo tersebut berkecambah. Setelah berkecambah, embryo dipindahkan ke

ruang terang guna pemanjangan. Tahap ini akan memerlukan waktu antara 3 sampai 4

bulan.

Uji pengaruh zat pengatur tumbuh. tiga macam zat pengatur tumbuh (ZPT) yaitu

benzil amino purin (BAP) dan kinetin (KIN) yang dikombinaiskan dengan asam indol

butirat (IBA) akan digunakan dalam penelitian ini. Konsentrasi ZPT yang akan

digunakan berkisar antara 10

-6

– 10

-4

M yang akan diaplikasikan secara terpisah maupun

dikombinasikan (Tabel 4.2 dan 4.3). Sebanyak 20 embryo kelapa kopyor umur 11 bulan

akan diujikan untuk setiap kombinasi zat pengatur tumbuh yang dicobakan.

Teknik yang digunakan adalah sebagai berikut : embryo yang diisolasi dari kelapa

kopyor kemudian disterilkan dan ditanam ke dalam terbaik hasil uji medium dsar dengan

penambahan ZPT. Teknik yang digunakan untuk memelihara kultur dan tahapan

subkultur dilakukan dengan cara yang sama dengan medium dasar.

Tabel 4.2 Kombinasi dan konsentrasi benzil aminopurin (BAP) dan indole butiric acid

(IBA) yang ditambahkan ke dalam medium germinasi

BAP (!M)

IBA (!M)

0 20 40 60 80

0 1 2 3 4 5

2 6 7 8 9 10

4 11 12 13 14 15

Tabel 4.3 Kombinasi dan konsentrasi kinetin (KIN) dan indole butiric acid (IBA) yang

ditambahkan ke dalam medium germinasi

Kin (!M)

IBA (!M)

0 5 10 15 20

0 1 2 3 4 5

2 6 7 8 9 10

4 11 12 13 14 15

4.4 Uji Histologi

Analisis histologi pada embryo kelapa kopyor yang masih utuh dan kecambah yang

berhasil diperoleh dair teknik pembelahan dilakukan dengan metode Sass (Sass, 1951).

Sampel embryo difiksasi dengan larutan ethanol selama 48 jam kemudian didehidrasi

secara bertahap dengan menggunakan 50, 70, 80, 90, 96 dan 100 % ethanol. Setiap tahap

dilakukan selama 1 jam. Ethanol kemudian diganti dengan xylol dan dilakukan

pengeblokan dengan parafin. Sampel kemudian dipotong dengan mikrotom pada

ketebalan 8 - 10 ! M dan diwarnai dengan safranin dan fast green. Slide kemudian

diamati dibawah mikroskup Olympus BX 61 (Olympus Imaging America Inc. Center

Valley, PA. USA) dan gambar diambil dengan menggunakan kamera Olympus DP72.

4.5 Analisis Data

Data penelitian yang diperoleh akan dianalisis secara statistik menggunakan

sofware statistik SPSS release 16 for windows. Semua data yang diperoleh dari

percobaan pengembangan protokol kultur embryo akan dianalisis dengan menggunakan

analisis varian (ANOVA) dan dilanjutkan dengan perbandingan rata-rata menggunakan

Fisher’s Least Significant Differences (LSD). Data yang tidak memenuhi distribusi

normal akan ditransformasi menggunakan square root trasformation terlebih dahulu

sebelum dianalisis.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Pengaruh Medium Dasar dan Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Keberhasilan

Teknik Embryo Belah

Hasil uji teknik embryo belah dua secara langsung kemudian setiap sisi belahan

dipelihara pada medium dasar menunjukkan bahwa penambahan kinetin ke dalam

medium dasar Murashige dan Skoog (MS) berhasil meningkatkan jumlah kecambah yang

dihasilkan dari 30 embryo yang ditana. Pada medium MS dengan penambahan 5 !M

kinetin yang dikombinasikan dengan 2 !M IBA hanya mampu menghasilkan rata- rata 30

kecambah (100 %), namun dengan meningkatkan konsentrasi kinetin menjadi 10 !M,

jumlah kecambah yang dihasilkan meningkat menjadi 38 kecambah (Gambar 5.1).

Hal sebaliknya berhasil diamati pada embryo yang dipelihara pada medium khusus

kelapa HEC (hybrid enbryo culture). Pada medium tersebut, enam kombinasi yang

digunakan tidak berhasil meningkatkan jumlah kecambah yang diperoleh dari 30 embryo

yang digunakan dengan jumlah kecambah sekitar 30 buah (Gambar 5.1).

Gambar 5.1 Jumlah kecambah yang dihasilkan dari 30 embryo yang dibelah menjadi dua

dan ditanam pada medium dasar Murashige & Skoog (MS) dengan

penambahan kinetin (Kin) dan asam indole butirat (IBA) dibadingkan

dengan embryo yang ditanam pada mediuk hybrid embryo culture (HEC)

dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) dengan komposisi dan

konsentrasi yang sama

Hasil yang berbeda diamati pada embryo yang telah dibelah menjadi dua dan

ditanam pada medium tanam dengan penambahan benzylamino purin (BAP) yang

dikombinasikan dengan IBA. Pada kedua medium dasar yang digunakan (MS dan HEC),

perlakuan kedua ZPT tersebut tidak berpengaruh secara nyata terhadap jumlah kecambah

yang dihasilkan dari 30 embryo yang dibelah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

perlakuan terbeut hanya mampu menghasilkan kecamabah sebanyak 30 atau kurang. Hal

ini menunjukkan bahwa hanya satu dari dua embryo yang dibelah tersebut berhasil

berkecambah sedangkan sisi sebelahnya tidak mampu diregenerasikan dengan

menggunakan medium dengan penambahan BAP dan IBA (Gambar 5.2).

Gambar 5.2 Jumlah kecambah yang dihasilkan dari 30 embryo yang dibelah menjadi dua

dan ditanam pada medium dasar Murashige & Skoog (MS) dengan

penambahan bensilamino purin (BAP) dan asam indole butirat (IBA)

dibadingkan dengan embryo yang ditanam pada mediuk hybrid embryo

culture (HEC) dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) dengan

komposisi dan konsentrasi yang sama

5.2 Pengaruh Medium Dasar dan ZPT Kinetin dan IBA Terhadap Keberhasilan

Teknik Embryo Toreh Dua

Hasil penelitian sebelumnya (Gambar 5.1 dan 5.2) belum berhasil diperoleh teknik

yang mampu menggandakan jumlah kecambah dari embyro yang ditanam. Hal tersebut

didgua karena posisi meristem yang belum terlihat sehingga menyulitkan pembelahan

embryo, maka dilakukan perbaikan teknik pembelahan dengan cara embryo

dikecambahkan terbelih dahulu selama 1 bulan. Setelah embryo berkecambah, embryo

kemudian ditoreh menjadi dua bagian. selanjutnya kecambah terbeut dipelihara lebih

lanjut selama satu bulan untuk kemudian dibelah menjadi dua bagian.

Hasil penelitian (Gambar 5.3) menunjukkan bahwa hampir seluruh embryo yang

dibelah dengan menggunakan teknik embryo toreh tersebut berhasil dikecambahakan

pada medium dasar MS dengan penambahan 15 !M kinetin dan 2 !M IBA dengan

jumlah kecambah yang dihasilkan mencapai 56 kecambah dari 30 embryo yang ditanam.

Seluruh kecambah yang dihasilkan berhasil diregenerasikan membentuk kecambah yang

lengkap dengan akar dan pucuk (Gambar 5.4)

Gambar 5.3 Jumlah kecambah yang dihasilkan dari 30 embryo yang dibelah menjadi dua

melalui teknik embnryo toreh dan ditanam pada medium dasar Murashige

& Skoog (MS) dengan penambahan kinetin (Kin) dan asam indole butirat

(IBA) dibadingkan dengan embryo yang ditanam pada mediuk hybrid

embryo culture (HEC) dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT)

dengan komposisi dan konsentrasi yang sama

Gambar 5.4 Kecambah yang berhasil digandakan dari satu buah embryo yang ditanam

dan diberi pelakukan dengan embryo toreh. Atas, embryo yang ditreh

menjadi dua bagian dan dipelihara selama satu bulan sebelum dibelah.

Bawah, hasil perkecambahan setelah 1 bulan pada medium dasar MS

dengan penambahan 15 !M kinetin dan 2 !M IBA

Hasil pengukuran terhadap panjang pucuk dan jumlah akar yang dihasilkan per

pucuk setelah 8 minggu kultur menunjukkan bahwa medium perlakuan dengan

penambahan zat pengatur tumbuh kinetin dan IBA dengan konsentrasi yang berbeda-beda

meunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi pucuk (Gambar 5.5) dan jumlah akar

yang dihasilkan per tunas (Gambar 5.6).

Panjang pucuk yang dihasilkan bervariasi antara 1-3 cm tergantung dari medium

tanam yang digunakan. Medium MS dengan penambahan 10 !M kinetin dan 4 !M IBA

berhasil menginduksi kecambah dengan tinggi mencapai hampir 2,5 cm, sedangkan

medium HEC dengan penambahan 10 !M kinetin dan 2 !M IBA hanya menghasilkan

kecambah dengan panjang pucuk hanya berkisar 1 cm. Namun demikian hasil analisis

statistik menunjukkan bahwa medium dasar tidak berpengaruh secara nyata terhadap

panjang pucuk yang dihasilkan.

Gambar 5.5 Panjang pucuk rata-rata pada kecambah yang ditanam pada medium dasar

Dokumen terkait