• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap konstruksi merupakan tahap pekerjaan fisik pembangunan IPLT Jononunu dimulai. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap konstruksi ini terdiri dari :

Penerimaan Tenaga Kerja Konstruksi

Penerimaan tenaga kerja Konstruksi dilakukan untuk melaksanakan kegiatan konstruksi. Tenaga kerja yang digunakan dimaksimalkan menggunakan tenaga kerja lokal di dekat kegiatan calon IPLT.  Aktivitas Domestik Pekerja Konstruksi Di Barak Kerja

Penyediaan barak kerja dibangun untuk para pekerja proyek yang akan tinggal selama proses pembagunan. Untuk menampung para tenaga kerja, khususnya yang berasal dari luar daerah maka

dibangun barak pekerja yang dapat difungsikan sebagai tempat untuk beristirahat dan bermalam selama berlangsungnya pekerjaan kontruksi. Jumlah barak yang akan dibangun akan disesuaikan dengan kebutuhan yang pasti cukup untuk menyediakan tenaga kerja yang ada. Dimana bangunan barak pekerja tersebut hanya bersifat semi permanen dimana nantinya akan dibongkar kembali jika pelaksanaan pekerjaan kontruksi telah berakhir.

Terkait dengan aktivitas domestik para pekerja konstruksi setiap hari maka akan dilengkapi pula MCK sementara. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari para pekerja konstruksi buang hajat sembarangan dan untuk menjaga kondisi sanitasi di sekitar lokasi pembangunan agar dapat selalu terjaga dengan baik.

Mobilisasi Alat Berat Dan Kendaraan Pengangkut Material Mobilisasi Alat berat ini digunakan untuk kegiatan pematangan lahan dan kegiatan operasional. Mobilisasi peralatan dan bahan material dilakukan melalui jalan yang ada menuju ke lokasi proyek. Untuk mendatangkan alat berat dibutuhkan kendaraan trailer dan kapasitas jalan yang dilalui harus disesuaikan dengan kapasitas kendaraan pengangkut alat berat.

Pematangan Lahan

Kegiatan pematangan lahan merupakan kegiatan untuk mempersiapkan lahan sebagai lahan untuk pembangunan sarana dan prasarana pembuangan lumpur tinja.

Kegiatan pematangan lahan ini ini meliputi pengurugan, perataan, dan pemadatan tanah

Pembangunan Kantor

Kantor dibangun sebagai tempat pengurus IPLT melaksanakan administrasi operasional IPLT

Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja

Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di laksanakan di lokasi pengembangan areal lokasi TPA Jononunu. Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) nantinya akan menggunakan IPLT dengan unit pemekatan lumpur berupa settling pond. Secara detail teknologi IPLT tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 3. Gambar Teknologi IPLT Jononunu

Pembangunan Sarana Pendukung

Sarana pendukung yang akan dibangun antara lain :

Bengkel IPLT diperlukan untuk pemeliharaan memperbaiki kendaraan yang mengalami kerusakan ringan yang terjadi di IPLT, sehingga tidak menganggu operasional pengambilan lumpur tinja. Peralatan bengkel harus disesuaikan dengan jenis kerusakan yang akan di tangani.

Kemudian kendaraan yang telah selesai operasionalkan dicuci di tempat pencucian kendaraan yang berada pada satu area dengan bengkel.

2) Pembangunan garasi kendaraan

Garasi pada IPLT berfungsi untuk menyimpan kendaraan operasional pada IPLT. Garasi akan didesain sehingga dapat menampung semua kendaraan operasional yang ada di IPLT 3) Pembangunan Pos jaga, Gapura dan Drainase

Pos Jaga digunakan untuk pos Satpam atau petugas jaga IPLT. Gapura dibuat untuk gerbang msuk menuju IPLT. Sedangkan Drainase akan dibangun d dalam area IPLT dan Kantor yang berfungsi mengalirkan run off air hujan ke saluran umum 4) Pembangunan Hanggar Kompos

Hanggar kompos dibangun untuk mengumpulkan hasil dari

drying bed. c. Tahap Operasi

Tahap operasional yang dilakukan di lokasi IPLT Jononunu, merupakan rangkaian kegiatan meliputi operasional kantor, operasional laboratorium, Operasional Pengangkutan lumpur tinja, operasonal penimbunan lumpur tinja, operasional tempat cuci truk dan bengkel serta operasional komposting.

Operasional Kantor

Kegiatan Kantor IPLT meliputi kegiatan administrasi kantor seperti operasional komputer, printer dan aktivitas domestik karyawan  Operasional Laboratorium

Kegiatan laboratorium meliputi kegiatan penerimaan sampel, pengawetan sampel, analisis sampel dan administrasi serta kegiatan domestik petugas laboratorium. Untuk analisis laboratorium akan menggunakan bahan reagen kimia

Operasional Pengangkutan Lumpur Tinja

1. Pengangkutan lumpur tinja dari permukiman menuju IPLT. Lumpur tinja yang menuju IPLT diambil dari permukiman diwilayah Kecamatan Parigi, Parigi Barat, Parigi Tengah, Parigi Selatan, dan Parigi Utara. Pengangkutan lumpur tinja dari permukiman warga menggunakan kendaraan truk penyedot tinja.

2. Penerimaan lumpur tinja di pos jaga.

Lumpur tinja yang tiba di IPLT diterima terlebih dahulu di pos, kemudian dilakukan pencatatan kemudian lumpur tinja selanjutnya disalurkan ke setling pond

Operasional Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja

Dalam oerasional IPLT hanya diperlukan pemeliharaan instalasi karena proses IPLT hanya menggunakan sistem gravitasi yang berjalan secara otomatis dan ada 2 unit pompa sebesar 1.5 kW pada unit Setling Pond untuk menyedot lumpur. Untuk pemeliharaan IPLT dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pemeliharaan Unit Setling Pond

Unit Settling Pond dilengkapi dengan bak pengumpul, unit penyaringan dan grease trap sebagai penangkap minyak/lemak. Unit penyaringan merupakan proses pertama dalam pengolahan limbah tinja, yang berfungsi untuk menahan padatan yang ada pada lumpur tinja. Penyaring yang digunakan pada IPLT Kabupaten Wonogiri berjenis batang (bar screen). Pengoperasian dan pemeliharaan unit penyaringan benda kasar (bar screen) dilaksanakan oleh pengelola dengan cara:

a) Memperhatikan dan menjaga kondisi bar screen, sehingga sampah tidak mengganggu prasarana dan sarana berikutnya; b) Sampah yang tersaring di bar screen dibersihkan secara rutin; Pengoperasian dan pemeliharaan pada unit grease trap

dilakukan secara manual dengan membilas menggunakan air bersih setiap adanya lumpur tinja yang masuk unit Settling Pond. Pengoperasian dan pemeliharaan pada unit Settling Pond dilakukan secara manual oleh tenaga operator IPLT sebagai berikut :

- Pengurasan lumpur dengan pompa pada masing-masing

unitSettling Pond dan kemudian dipindahkan pada Sludge Drying Bed untuk dilakukan pengeringan lebih lanjut. - Pengurasan lumpur dilakukan setiap hari, dengan volume

2. Pemeliharaan Kolam-Kolam Stabilisasi

Operasi dan pemeliharaan pada kolam stabilisasi yaitu kolam anaerobik, fakultatif, maturasi dan wetland adalah sebagai berikut :

a. Kolam Anaerobik

1) Tumbuhan dan rumput liar yang tumbuh di sekitar tanggul kolam dibersihkan agar tidak merusak tanggul dan/atau dinding kolam

2) Lapisan buih (scum) dan alga yang terbentuk pada kolam anaerobik dibersihkan

3) Pastikan tidak ada akumulasi lumpur di bagian inlet dan outlet kolam

4) Kondisi tanggul diperiksa secara berkala untuk menghindari kerusakan kolam

5) Pemagaran untuk menghindari hal-hal yang mungkin terjatuh ke dalam kolam;

6) Penyedotan lumpur dengan menggunakan pompa setiap 1 tahun sekali.

b. Kolam Fakultatif

1) Saluran inlet dan outlet diperiksa secara periodik untuk memastikan tidak tersumbat

2) Tumbuhan dan rumput liar yang tumbuh di sekitar tanggul kolam dibersihkan agar tidak merusak tanggul dan/atau dinding kolam

3) Aliran debit masuk dan debit keluar diukur dan dicatat setiap bulan

4) Lapisan buih (scum) dan alga yang terbentuk pada kolam anaerobik dibersihkan

5) Data kualitas air limbah domestik pada influen dan efluen kolam dianalisis setiap 6 (enam) bulan

6) Kondisi tanggul diperiksa secara berkala, perbaikan darurat dilakukan segera setelah ditemukan kerusakan pada tanggul, dan perbaikan permanen dijadwalkan untuk dilakukan secepatnya.

7) Pemagaran untuk menghindari hal-hal yang mungkin terjatuh ke dalam kolam;

8) Penyedotan lumpur dengan menggunakan pompa setiap 1 tahun sekali.

c. Kolam Maturasi

1) Kondisi saluran inlet dan outlet dipelihara kebersihaannya, dengan membersihkan saluran inlet dan outlet sehari dua kali, untuk memastikan tidak tersumbat oleh benda atau kotoran yang dapat mengganggu aliran limbah.

2) Kondisi kebersihan area sekitar kolam dijaga dan dibersihkan dari segala tumbuhan yang tumbuh ditepi kolam atau dari dalam kolam.

3) Debit air limbah domestik yang masuk kedalam kolam maturasi diukur pada pipa inlet dan outlet setiap bulan. 4) Kondisi kualitas air limbah domestik diperiksa setiap

minggu pada pipa influen dan efluen.

5) Kondisi tanggul diperiksa setiap hari dari kerusakan yang dapat disebabkan oleh binatang (kelinci, yuyu, tikus), air,

dan/atau kondisi tanahnya sendiri, sehingga bisa segera dilakukan perbaikan. Apabila ditemukan kerusakan pada tanggul maka perlu dilaksanakan perbaikan darurat segera setelah ditemukan kerusakan pada tanggul dan/atau perbaikan permanen secepatnya jika diperlukan.

6) Pemagaran untuk menghindari hal-hal yang mungkin terjatuh ke dalam kolam.

7) Penyedotan lumpur dengan menggunakan pompa setiap 1 tahun sekali.

d. Operasional Kolam Wetland

1) Lakukan perawatan wetland dengan menyirami tanaman, terutama tanaman hias. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari. Lakukan penggantian tanaman jika terdapat canna atau umbrella plant yang mati.

2) Pemagaran untuk menghindari hal-hal yang mungkin terjatuh ke dalam kolam.

3. Operasi dan Pemeliharaan Unit Sludge Drying Bed

Pengoperasian dan pemeliharaan unit sludge drying bed

dilakukan dilakukan sebagai berikut;

a. Ketebalan lumpur di dalam setiap bak pengering harus selalu dijaga setebal 0,3 m sesuai dengan perencanaan;

b. Pengisian bak pengering lumpur dilakukan secara bertahap (satu per satu)

c. Pengambilan lumpur kering dari setiap unit dilakukan setelah lumpur menetap selama 9 hari setelah waktu pengisiannya atau sesuai dengan waktu perencanaan;

d. Kotoran menggumpal yang terbentuk di atas permukaan unit sludge drying bed saat terjadi hujan lebat, hal ini dapat mengganggu proses pengeringan sehingga perlu dibersihkan atau dikeruk;

e. Pada saat pengerukan, perhatikan apakah ada lapisan pasir yang terangkat, apabila ada maka perlu penambahan pasir agar ketebalan media di dalam bak pengering lumpur tetap terjaga.

Operasional Tempat Cuci Kendaraan Dan Bengkel

Pencucian kendaraan dilakukan setelah kendaraan selesai mengangkut lumpur tinja setiap hari di tempat cuci kendaraan. Kegiatan ini akan menggunakan air dari tanah yang telah ditampung dan menggunakan bahan sabun cuci kendaraan dan lap untuk membersihkan.

Kendaraan, Alat berat dan peralatan bermesin seperti pompa air sangat vital bagi operasi IPLT sehingga keberadaan pompa perlu pemeliharaan dan perlu cadangan.

Pemeliharaan alat berat harus selalu dijalankan dengan benar agar peralatan tersebut terhindar dari kerusakan. Kegiatan perawatan seperti penggantian minyak pelumas baik mesin maupun transmisi harus diperhatikan sesuai ketentuan pemeliharaannya. Demikian pula dengan pemeliharaan komponen seperti baterai, filter-filter, dan

lain-lain tidak boleh dilalaikan ataupun dihemat seperti banyak dilakukan. Hal tersebut di atas akan dilakukan di bengkel

E. DAMPAK LINGKUNGAN YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP SERTA UPAYA PEMANTAUAN

LINGKUNGAN HIDUP

1. Dampak Lingkungan Yang ditimbulkan A. Tahap Prakonstruksi

1. Pengurusan Perizinan

Pada saat dilakukannya pengurusan perizinan, dampak yang ditimbulkan adalah adanya persepsi masyarakat dan persepsinya tidak begitu menimbulkan hal yang berarti dekitar lokasi kegiatan.

Sumber Dampak : Pengurusan Perizinan Jenis Dampak : Pesepsi Negatif masyarakat Besaran Dampak : kecil

2. Pembebasan Lahan

Pada tahap ini juga tidak ada dampak yang ditimbulkan baik pada lingkungan maupun masyarakat disekitar lokasi kegiatan, dikarenakan lahan merupakan milik Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong.

Sumber Dampak : Pembebasan Lahan

Jenis Dampak : Persepsi Negatif Masyarakat Besaran Dampak : Kecil

3. Sosialisasi

Dampak yang timbul akibat kegiatan sosialisasi adalah persepsi masyarakat. Persepsi masyarakat dapat bersifat positif dapat juga bersifat negatif. Persepsi masyarakat yang bersifat positif biasanya berpikiran jika kegiatan ini akan menunjang perekonomian setempat juga membuka

kesempatan kerja. Sifat dampak adalah positif/negatif, dan hanya berlangsung pada tahap prakonstruksi.

Sumber Dampak : Kegiatan Sosialisasi

Jenis Dampak : Persepsi negatif masyarakat Besaran Dampak : Kecil

B. Tahap Konstruksi

Kegiatan tahap konstruksi meliputi kegiatan penerimaan tenaga kerja, mobilisasi peralatan dan material serta pembangunan sarana dan prasarana kegiatan.

1. Penerimaan tenaga kerja konstruksi.

Penerimaan tenaga kerja pada tahap konstruksi akan mengakibatkan dampak persepsi positif bagi masyarakat sekitarnya. Warga yang mempunyai keahlian di bidangnya akan memperoleh kesempatan kerja paling tidak selama kegiatan konstruksi pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (IPLT) dan sarana pendukungnya. Rincian dampak dapat dilihat sebagai berikut :

Sumber Dampak : Kegiatan Penerimaan kerja konstuksi

Jenis Dampak : Timbulnya persepsi positif maupun negatif masyarakat karena yang bisa diterima bekerja sebagai tenaga kerja konstruksi hanya terbatas Besaran Dampak : Kecil

2. Aktivitas domestik pekerja konstruksi di barak kerja

Sumber Dampak : aktivitas domestik pekerja Jenis Dampak Jenis Dampak : - Timbulnya limbah cair domestic

Besaran Dampak : Kecil

3. Mobilisasi Alat Berat kendaraan pengangkut peralatan dan material.

Mobilisasi peralatan dan alat-alat berat tentu saja akan meningkatkan kadar debu di udara selain emisi dari kendaraan, kerusakan jalan dan meningkatnya kebisingan. Dampak ini akan berlangsung selama kegiatan konstruksi. Rincian dampak dapat dilihat sebagai berikut :

Sumber Dampak : Mobilisasi Alat Berat kendaraan pengangkut peralatan dan material

Jenis Dampak : - Penurunan kualitas udara - Peningkatan kebisingan - Kerusakan jalan

- Gangguan Lalu lintas Besaran Dampak : Kecil

4. Pembangunan area kantor dan sarana pendukung.

Sumber Dampak : Pembangunan area kantor, sarana pendukung dan IPLT

Jenis Dampak : - Penurunan kualitas udara - Peningkatan kebisingan

- Timbulnya limbah cair domestik - Timbulnya limbah B3

- Kecelakaan kerja - Gangguan Lalu lintas - Kerusakan jalan - Timbulnya sampah Besaran Dampak : Sedang

Dokumen terkait