Dalam Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya, keterlibatan masyarakat khususnya pengguna perempuan, lebih diutamakan. Demikian pula dalam pemeliharaan sangat penting, karena tanggung jawab pemeliharaan tidak hanya berada pada kaum laki-laki tetapi juga perempuan.
Di beberapa daerah, pilihan teknologi prasarana dan sarana sanitasi masih terhitung baru, contohnya bangunan tangki septik komunal. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mendapat pemahaman tentang cara penggunaan dan pengelolaan sarana sanitasi agar tetap berfungsi dengan baik melalui sistem dan mekanisme operasi dan pengelolaan yang baik.
Pelestarian prasarana dan sarana Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan, memanfaatkan, dan memelihara prasarana dan sarana yang ada. Secara umum aspek yang perlu diperhatikan dalam pelestarian adalah pengelolaan prasarana dan sarana, penyuluhan dan pedoman pemeliharaan.
Untuk mencapai keberhasilan pemeliharaan sarana sanitasi maka dibutuhkanlah lembaga KPP. KPP harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Melakukan pemantauan rutin/berkala untuk mengetahui dan memastikan kondisi prasarana dan sarana berjalan dengan baik;
2. Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pengelolaan yang baik;
3. Melakukan rehabilitasi tepat waktu;
4. Melakukan pemeliharaan sesuai Standard Operating Procedure; dan 5. Menginformasikan penggunaan pemeliharaan di papan informasi Desa. Dari hal-hal diatas, KPP diharapkan mampu menindaklanjuti pemeliharaan secara tepat. Melalui kegiatan pemeliharaan diharapkan dapat mencapai umur teknis prasarana dan sarana sesuai dengan target dan standar
perencanaan.
Dalam pelaksanaan pelestarian prasarana dan sarana, diharapkan Pemerintah Desa dapat berperan aktif memberikan pembinaan juga dukungan dana jika dibutuhkan oleh KPP.
Untuk menjamin keberfungsian maka dibutuhkan SOP bagi masyarakat dan KPP dalam memanfaatkan dan memelihara sarana sanitasi. SOP yang telah disusun oleh KSM dibantu TFL menjadi acuan dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan prasarana dan sarana Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya. 6.2. OPERASIONAL DAN PERAWATAN SISTEM PENGOLAHAN AIR LIMBAH
DOMESTIK SETEMPAT (SPALD-S)
6.2.1. Penggunaan/Start Up Tangki Septik
1) Setelah uji commissioning, tangki septik yang sudah diisi air dapat langsung dipergunakan tanpa harus memberikan bakteri pengurai;
2) Proses pembentukan bakteri pengurai ditangki septik akan terbentuk diperkirakan sekitar 6 – 8 minggu setelah digunakan. 6.2.2. Operasi dan Pemeliharaan
Air limbah domestik yang masuk ke Tangki Septik adalah air limbah yang berasal dari kloset (black water).
1) Pengecekan Jenis Air Limbah yang Masuk a. Hal-hal yang Perlu Dilakukan
a) Pemeriksaan kondisi air limbah di bak kontrol dengan membuka tutup bak kontrol dan membersihkan sampah-sampah atau padatan sulit terurai yang tersumbat di bak kontrol.
b) Pemeriksaan kondisi air limbah di tangki septik hanya diperbolehkan melihat melalui lubang kontrol yang terdapat di tutup tangki.
b. Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan
a) Memasukkan bahan yang beracun seperti pestisida, bahan pemutih, cairan pembersih keramik/lantai (cairan antiseptik), cat, thinner, busa sabun cuci pakaian dan sejenisnya terutama
dalam jumlah besar karena dapat mengganggu proses pengolahan dan membunuh bakteri di tangki septik.
b) Memasukkan padatan atau bahan yang sulit terurai seperti potongan kain, sisa-sisa makanan, potongan sampah, dan lain-lain, masuk ke saluran pembuangan, karena akan menyumbat aliran dan mengganggu proses pengolahan.
c) Masuknya air hujan ke dalam tangki septik. 2) Pemeliharaan Toilet
a. Hal-hal yang Perlu Dilakukan
a) Membersihkan lantai toilet agar selalu bersih dan kering.
b) Membersihkan ruang toilet agar terhindar dari lalat dan kecoa. c) Membersihkan tempat duduk agar selalu bersih dan tidak ada
kotoran yang terlihat minimal 2 – 3 kali seminggu.
d) Tersedianya air bersih dan alat pembersih di dekta toilet. e) Segera memperbaiki bagian yang rusak.
f) Menyiram toilet dengan air bersih setiap selesai digunakan. b. Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan
a) Membiarkan sampah berserakan.
b) Membiarkan genangan air di sekitar toilet.
Dalam pemeliharan toilet keluarga, partisipasi keluarga sangat dibutuhkan agar toilet tidak menjadi sumber penyakit bagi anggota keluarga dan orang disekitar. Upaya penggunaan toilet berdampak besar bagi penurunan resiko penularan penyakit.
3) Pengurasan Tangki Septik a. Waktu Pengurasan
Waktu pengurasan untuk tangki septik dilakukan secara berkala yaitu setiap 2-3 tahun sekali atau cek volume lumpur secara berkala 6-12 bulan, kecuali ada hal hal yang diluar rencana, sehingga tangki septik bermasalah sebelum jadwal pengurasan.
b. Proses Pengurasan
a) Pengurasan dilakukan oleh jasa penyedotan. resmi menggunakan truk tangki pengangkut lumpur tinja.
b) Penyedotan harus melalui lubang kontrol Tangki Septik.
c) Selang penyedotan lumpur tinja terhubung langsung dengan truk pengangkut lumpur tinja sehingga cairan lumpur tinja tidak tercecer.
d) Disarankan untuk tidak menyedot lumpur tinja sampai habis agar bakteri masih tersedia untuk melanjutkan proses penguraian.
e) Setelah penyedotan selesai, maka tangki septik tersebut dapat digunakan kembali seperti biasa.
PERHATIAN: Untuk tujuan pemeriksaan, TIDAK diperbolehkan bagi yang tidak berkepentingan untuk masuk ke dalam tangki septik.
f) Sebaiknya saat akan dilakukan pengurasan, petugas dilengkapi dengan pakaian pelindung, sepatu dan memakai sarung tangan karet untuk menghindari kontak langsung dengan semua bahan dan limbah, termasuk menggunakan masker hidung dan mulut untuk melindungi masuknya kuman patogen.
6.3. PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN MODUL TEMPAT SAMPAH PERDESAAN (TSP)
Pemeliharaan dan perawatan Tempat Sampah Perdesaan sangat penting dilakukan agar unit dapat dioperasikan dengan hasil optimal dan berkelanjutan. Tempat Sampah Perdesaan di desain dengan sederhana mungkin, hal ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat dikawasan perdesaan untuk mengolah sampahnya. Tata cara pemeliharaan dan perawatan unit tersebut yaitu:
1. Sebaiknya TSP selalu ditutup agar terhindar dari air hujan dan untuk keselamatan.
2. Setelah modul TSP penuh, yaitu 3 bulan kemudian, modul TSP ditutup dengan tanah. Kemudian dilakukan penggalian TSP yang baru dengan
mengikuti tata cara yang sudah dilakukan pada pembuatan TSP yang sebelumnya.
6.4. PENDANAAN PEMELIHARAAN
Pemeliharaan sarana yang telah dibangun oleh Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya tidak lepas dari tanggungjawab masyarakat. Pemeliharaan prasarana dan sarana dapat berjalan dengan baik jika diwujudkan dengan rencana kerja yang nyata dan iuran (pendanaan) dari pemanfaat sebagai swadaya.
Besaran iuran dari masyarakat dihitung berdasarkan kesepakatan bersama sesuai kebutuhan pemeliharaan. Pendanaan dipergunakan untuk kebutuhan seperti honorarium petugas pemelihara sarana, perbaikan komponen sarana yang rusak dan biaya operasional lainnya yang sesuai dengan sistem sarana terbangun.
6.5. PERAN PEMERINTAH DESA
Peran Pemerintah Desa sebagai pembina Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya tingkat Desa, diharapkan dapat melanjutkan pendampingan pada tahap Pasca konstruksi. Terkait sumber pendanaan pemeliharaan sarana sanitasi pada dasarnya menjadi tanggung jawab masyarakat sebagai pihak penerima manfaat, melalui KPP dengan semangat gotong-royong dan kesadaran masyarakat bahwa pelayanan, pemeliharaan, perbaikan, dan pengembangan prasarana adalah tanggung jawab bersama.
Pemerintah Desa dapat memberikan bantuan kepada KPP yang bersumber dari APBDes yang sudah dituangkan dalam Peraturan Desa, dimana hal ini disesuaikan dengan kemampuan Desa masing-masing.
6.6. PERAN PEMERINTAH KABUPATEN
Pengurus KPP dapat mencari sumber dana diluar iuran warga pemanfaat dan pemerintah Desa, diantaranya adalah dari bantuan pemerintah kabupaten yang diberikan berupa bantuan teknis dan/atau bantuan pendanaan terkait yang cukup besar seperti rehab sarana. Lebih lanjut tugas dan tanggung
jawab Pemda antara lain seperti: 1. Penguatan kelembagaan KPP;
2. Memonitoring keberlangsungan/keberlanjutan Pemeliharaan Sarana Prasarana Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya terbangun serta pembinaan kepada masyarakat/KPP dalam kepengelolaan sarana;
3. Memberikan masukan atas kendala yang terjadi di tingkat masyarakat; dan
4. Memberikan bantuan teknis yang memungkinkan kepada masyarakat/KPP terkait hal teknis seperti, penyedotan lumpur dari tangki septik, dan analisa teknis lainnya terkait pengelolaan sarana. 6.7. PERAN SWASTA
Swasta diharapkan mampu merealisasikan dana tanggung- jawab perusahaan untuk sosial melalui Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu masyarakat selama tidak mengikat.
Bantuan swasta (peran swasta) dalam membantu masyarakat melalui KPP terkait pemeliharaan sarana dapat berupa bantuan teknis pemeliharaan sarana, pendanaan operasional dan pemeliharaan atau pengembangan jaringan, peningkatan akses sanitasi maupun peningkatan kapasitas KPP berupa keterampilan, pengetahuan pengelolaan sarana sanitasi dan masih banyak lagi bantuan yang dapat ditindaklanjuti atas kerjasama maupun bantuan dari pihak swasta.
6.8. LAPORAN KEUANGAN DARI PENGELOLA KPP
Prinsip transparansi, profesional dan akuntabilitas dari pengelolaan keuangan (pengelolaan iuran masyarakat untuk pendanaan pengelolaan sarana sanitasi terbangun), adalah wajib dilakukan oleh KPP. Pelaporan atas pengelolaan keuangan ini dilakukan sebagai upaya memberikan informasi secara berkala (bulanan kepada masyarakat dan tahunan kepada pemerintah kabupaten) tentang kondisi keuangan KPP dan “kesehatan” KPP.
1. Daftar Anggota KPP
Adalah buku yang memuat nama-nama (KK) pemanfaat sarana, alamat dan jumlah jiwa pemanfaat. (Format 6.1)
2. Buku Iuran Anggota KPP
Adalah buku yang memuat nama-nama KK pemanfaat, dan jumlah iuran yang dibayar pada setiap periode tertentu. Dalam hal ini tergantung kesepakatan masyarakat tetapi tetap mengacu pada kebutuhan pemeliharaan sarana yang terbangun. Pembayaran iuran bisa dilakukan dengan periode mingguan, bulanan atau triwulan, dll. (Format 6.2)
3. Buku Kas KPP
Adalah buku yang mencatat transaksi penerimaan & pengeluaran uang KPP. Penerimaan kas KPP antara lain pembayaran iuran wajib dan sukarela dari pemanfaat, swadaya tunai dari pihak luar. Sedangkan pengeluaran kas KPP antara lain honor KPP, perbaikan sarana, atau pembelian peralatan sarana, dll. Pencatatan buku kas KPP sesuai dengan urutan tanggal terjadinya transaksi. Setiap penerimaan dan pengeluaran dana kas disertai dengan bukti yang ditanda tangani oleh penerima uang, yang mengeluarkan uang dan diketahui oleh Ketua KPP. (Format 6.3) 4. Laporan Rekapitulasi Keuangan Dana KPP
Adalah laporan keuangan yang merupakan rangkuman/rekap keuangan dana secara menyeluruh yang mencakup Saldo Awal, Pengeluaran, Pemasukan, Pengeluaran dan Saldo Akhir. (Format 6.4)
5. Jadwal Pelaksanaan Pemeliharaan
Adalah waktu untuk melakukan pemeliharaan sarana. Rencana jadwal pemeliharaan merupakan serangkaian kegiatan pemeliharaan yang dilakukan untuk menjaga sarana yang terbangun secara optimal agar tidak rusak dan tetap berfungsi. Rencana pemeliharaan disini mencakup pemeliharaan yang dilaksanakan secara rutin, berkala dan insidentil/menDesak. Format jadwal pemeliharaan ini dibuat oleh Seksi O & P. (Format 6.5)
6. Rencana Penggunaan Dana KPP
sarana. Rencana penggunaan dana pemeliharaan ini dibuat agar ada acuan KPP dalam penggunaan dana pemeliharaan. Penyusunan rencana penggunaan dana pemeliharaan dibuat setelah adanya jadwal pelaksanaan pemeliharaan. Rencana penggunaan dana pemeliharaan dibuat secara periodik bulanan. (Format 6.6)
7. Realisasi Penggunaan Dana KPP
Adalah rincian realisasi pengeluaran dana berkenaan dengan pemeliharaan sarana. Realisasi penggunaan dana pemeliharaan ini dibuat agar lebih jelas penggunaan dana pemeliharaan. Realisasi penggunaan dana pemeliharaan dibuat secara periodik yaitu setiap bulanan. Format ini dibuat oleh Seksi pemeliharaan. (Format 6.7)
6.9. MONITORING DAN EVALUASI PEMANFAATAN DAN PEMELIHARAAN PRASARANA SANITASI
Monitoring dan Evaluasi pemanfaatan dan pemeliharaan prasarana sanitasi dilakukan dilakukan oleh Pemerintah Daerah bersama dengan KPP.
Aspek-aspek, indikator dan parameter yang digunakan adalah sebagai berikut:
No Aspek Indikator Parameter
1 Pemanfaatan Kondisi pemanfaatan prasarana sanitasi
▪ Prosentase (%) Jumlah
prasarana sanitasi yang
dimanfaatkan
▪ Prosentase (%) kondisi
bangunan bilik (baik – rusak)
▪ Prosentase (%) kondisi
bangunan tangka septik (baik – rusak)
▪ Prosentase (%) kondisi
perpipaan (baik – rusak)
▪ Prosentase (%) ketersediaan air (baik – kurang)
No Aspek Indikator Parameter Jumlah
pemanfaat
▪ Jumlah pemanfaat saat ini dibandinkan dengan jumlah pemanfaat saat pembangunan 2 Pemeliharaan Pemeliharaan
rutin
▪ Prosentase (%) tingkat
pemeliharaan rutin oleh
pemanfaat Pengolahan
lumpur tinja
▪ Tingkat penyedotan dan
pengolahan lumpur tinja
(penyedotan dan pengolhan di IPLT)
Format monitoring dan evaluasi pemanfaatan dan pemeliharaan dapat menggunakan form pada Format 7.4.
VII. PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN PELAKSANAAN