3.4.1 Pengelolaan Lingkungan
Seluruh proses penyusunan kajian lingkungan harus diselesaikan sebelum Pengelola Kegiatan (Satker/PPK Program KOTAKU ) menandatangani perjanjian kontrak pelaksanaan konstruksi. Rekomendasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan merupakan bagian dari kontrak Kegiatan yang harus ditandatangani oleh Pengelola Kegiatan dan kontraktor dan disupervisi oleh konsultan supervisi. Kontraktor perlu membuat Rencana Kerja Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKPPL) untuk disetujui oleh Satker/PPK program KOTAKU Pekerjaan pada saat PCM (Pre Construction Meeting) untuk kemudian diawasi pelaksanaannya oleh Konsultan Supervisi dan menjadi bagian dari seritifikat penagihan setiap bulannya oleh Kontraktor. Perjanjian kontrak dengan kontraktor dan konsultan pengawas harus memuat pasal/klausal, seperti:
1. Persyaratan pengamanan Lingkungan; 2. Sanksi;
3. Jaminan.
Contoh perjanjian tersebut dapat dilihat pada box Gbr 4. Daftar aturan lingkungan yang dapat diacu dalam perjanjian kontrak dapat dilihat dalam lampiran 18, misalnya adalah (i) Petunjuk Praktis Pengelolaan Hidup Bidang Jalan No. 01/P/BM/2014 tentang pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada saat konstruksi. Petunjuk Praktis tersebut juga memuat petunjuk pengelolaan lingkungan saat konstruksi base camp, stockpile, pengambilan material di quarry dan penanganan limbah. (ii) Pedoman Sistem Pengelolaan Air Minum sederhana (iii) Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat
Gambar 5: Contoh Kontrak berkaitan dengan Pengamanan Lingkungan
Persyaratan Pengamanan Lingkungan: Pihak kedua telah memahami dengan jelas dan harus mengikuti rekomendasi dari
dokumen UKL-‐UPL dan hasil studi lingkungan ... sebagaimana ditentukan dalam dokumen ... halaman ...
Dalam melakukan pekerjaan konstruksi, pihak kedua harus selalu mengikuti pedoman untuk perlindungan lingkungan, sebagaimana ditentukan dalam dokumen ...
Sanksi: Bila Pihak kedua melakukan penyimpangan dari rekomendasi yang disebutkan pada persyaratan lingkungan dalam
kontrak ini maka pihak kedua harus melakukan perbaikan dengan dana sendiri dan membayar ganti rugi kepada masyarakat yang terkena dampak seperti tercantum dalam butir-‐butir dibawah ini :
(1) .... (2) ....
Sanksi : Pihak kedua harus menjamin bahwa pelaksanaan konstruksi sudah mengikuti aturan lingkungan yang tertera pada
dokumen-‐dokumen berikut : (1) ...
(2) ...
Pihak kedua harus menjamin bahwa dalam pra-‐konstruksi dan konstruksi tahap, tidak akan ada dampak negatif akibat kerja yang dilakukan oleh pihak kedua, sebagaimana diatur oleh dokumen ...Jika dampak negatif terjadi, maka pihak
36 Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan dan Dampak Sosial – Program KOTAKU 3.4.2 Pengelolaan Kayu
Beberapa hal penting yang menyangkut Pengelolaan Perkayuan antara lain:
a. Pemakaian kayu 3m3 atau lebih untuk satu kegiatan usulan wajib dengan melampirkan bukti sahnya kayu, seperti FAKO, SKSHH atau dokumen sejenis; b. Photocopy bukti sahnya kayu dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban
keuangan setiap kelompok penerima bantuan yang membeli kayu.
c. POKJA PKP/Pengelola kegiatan wajib memeriksa ada tidaknya bukti sahnya kayu ini pada setiap supervisi ke lapangan.
d. Koordinator kota wajib memeriksa bahwa dokumen bukti sahnya kayu yang dilampirkan berasal dari supplier/toko yang tercantum dalam kuitansi pembelian. e. Apabila kayu yang digunakan tidak memiliki dokumen yang sah (ilegal) maka akan
dikenakan sanksi pemberhentian sementara proses pelaksanan kegiatan sampai ada penyelesaian penggunaan kayu yang ilegal.
f. Pengadaan kayu yang bukan berasal dari pembelian, misalnya kayu bekas bangunan lama tetapi masih layak pakai (kuat) atau kayu lokal maka pengaturannya adalah sebagai berikut :
- Kayu bekas bangunan lama yang masih layak pakai, boleh digunakan dengan rekomendasi dari POKJA atau Tim Korkot.
- Kayu lokal seperti jati rakyat, sonokeling, akasia, mahoni, suren/surian, nangka dan durian dapat digunakan tetapi dilengkapi dengan Surat Ijin Tebang dari aparat Kelurahan/Desa setempat dimana pohon tersebut berasal.
3.4.3 Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali
Mengikuti persyaratan di bawah perlu diperhatikan oleh POKJA PKP dalam pelaksanaan LARAP Komprehensif atau LARAP Sederhana pada tahap pelaksanaan konstruksi dan pelaksanaan konstruksi :
a. Seluruh proses pengadaan tanah dan pemukiman kembali harus diselesaikan sebelum pengelola Kegiatan melakukan kontrak konstruksi. Pelaksanaan pengadaan tanah, termasuk relokasi (jika diperlukan) serta pemberian kompensasi harus diselesaikan sesuai dengan hasil kesepakatan dan hasil kesepakatan tersebut diumumkan secara luas;
b. Desain Teknis Kegiatan serta pelaksanaan pekerjaan konstruksi harus sesuai dengan batas-‐batas tanah dan mengakomodasi berbagai upaya yang telah disepakati sebagaimana direkomendasikan di dalam LARAP Komprehensif atau LARAP Sederhana;
c. Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan koordinasi untuk perencanaan program dan/atau kegiatan mitigasi, sebagaimana direkomendasikan di dalam LARAP Komprehensif atau LARAP Sederhana, misalnya: program/kegiatan pemulihan
penghidupan WTP yang terganggu akibat adanya Kegiatan. Bappeda membantu Pengelola Kegiatan untuk mengkoordinasikan pelaksanaan LARAP Komprehensif atau LARAP Sederhana dengan instansi terkait termasuk memastikan dimasukkannya kegiatan-‐kegiatan tersebut ke dalam program-‐program instansi terkait tersebut dan anggaran yang cukup disediakan dalam program-‐program instansi terkait tersebut;
d. Tim Pemantau Program KOTAKU berkoordinasi dengan Bappeda di tingkat Kabupaten/Kota untuk melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan LARAP sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan pemantauan Kegiatan Proyek. Laporan Pelaksanaan Kegiatan tentang pelaksanaan LARAP harus menjadi bagian dari Laporan Triwulanan dan Laporan Akhir mengenai Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan.
3.4.4 Rencana Kegiatan Masyarakat Hukum Adat
Aspek-‐aspek berikut perlu dipertimbangkan oleh Pengelola Proyek dalam pelaksanaan Rencana Kegiatan Masyarakat Hukum Adat (RK-‐MHA) selama tahap perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi :
a. Rencana Masyarakat Hukum Adat harus menjadi bagian dari perjanjian kontrak antara kontraktor dan Pengelola Proyek. Rekomendasi dari Rencana Masyarakat Hukum Adat yang mencerminkan kesepakatan bersama/rekomendasi dari RK-‐ MHA harus dimasukkan dalam desain teknis Kegiatan Proyek yang mengakomodasi kesepakatan-‐kesepakatan dengan MHA.
b. Selama masa konstruksi, MHA perlu dilibatkan untuk memastikan bahwa kesepakatan dan rekomendasi dari RK-‐MHA dilaksanakan secara konsisten, atau jika perlu ada perubahan, langsung dikonsultasikan dengan MHA pada saat konstruksi.
c. POKJA PKP dan Tim Korkot berkoordinasi dengan Bappeda di tingkat Kabupaten/Kota dalam melakukan pemantauan terhadap kualitas pelaksanaan Rencana Masyarakat Hukum Adat sebagai bagian dari kegiatan pemantauan keseluruhan kegiatan Program KOTAKU di Kabupaten/Kota. Laporan pelaksanaan Kegiatan mengenai pelaksanaan Rencana Masyarakat Hukum Adat menjadi bagian dari Laporan Triwulanan dan Laporan Akhir mengenai Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan).
38 Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan dan Dampak Sosial – Program KOTAKU
TINGKAT MASYARAKAT (KELURAHAN/DESA)
Tahapan pelaksanaan pengelolaan pengamanan lingkungan dan sosial di tingkat Masyarakat (Desa/Kelurahan) mengikuti tahapan pelaksanaan Program KOTAKU ditingkat Masyarakat, yaitu Tahap Persiapan, Perencanaan (melalui penataan lingkungan/ RPLP atau RTPLP), pelaksanaan dan keberlanjutan. Gambar 6. dibawah ini menggambarkan tahapan pengelolaan pengamanan lingkungan dan sosial di tingkat masyarakat (Desa/kelurahan)
Gambar 6. Pengamanan Lingkungan dan Sosial di Tingkat Kelurahan/Desa
Aspek Lingkungan Aspek Sosial Daftar Negatif KOTAKU Evaluasi Dampak Lingkungan* SPPL/SOP Potensi Dampak Sosial bagi MHA Pengadaan Tanah Potensi Dampak pada MHA Rencana MHA Kegiatan Proyek untuk MHA Hibah Ijin dilalui atau ditempati
Surat Pernyataan
Hibah Surat Pernyataan Ijin
Surat Pernyataan Sewa
Detail Engineering Design (DED)
Pengajuan Dokumen Pengelolaan Dampak sosial dan Lingkungan
Penganggaran untuk Pelaksanaan konstruksi dan Rekomendasi Pengelolaan Dampak
Sosial dan Lingkungan
Integrasi SOP ke dalam Perjanjian Pelaksanaan Konstruksi
§ Pengadaan Tanah § Proses Administrasi Tanah
§ Integrasi Rekomendasi untuk Rencana MHA dalam Dokumen Perjanjian Pelaksanaan Konstruksi § Pelaksanaan Rencana MHA yang
perlu dilakukan sebelum Konstruksi dimulai
Pelaksanaan SOP sesuai Perjanjian
Pelaksanaan Konstruksi Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Proses Administrasi Tanah
Konsultasi dengan MHA selama pelaksanaan Konstruksi TAHAPAN PENGELOLAAN PENGAMANAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL TINGKAT MASYARAKAT
PENYIAPAN DOKUMEN
SKRINING KEGIATAN PROYEK
BERDASARKAN POTENSI DAMPAK
PENGAJUAN DAN PENGANGGARAN
PRA KONSTRUKSI
KONSTRUKSI
MONITORING DAN EVALUASI
KonsolidasiTanah Sewa
Dokumen Konsolidasi Tanah
3.5 TAHAP PERSIAPAN
Seperti halnya pada tingkat kota, tahapan persiapan adalah tahapan kegiatan yang paling awal dilakukan pada kegiatan Program KOTAKU di Tingkat masyarakat (Desa/kelurahan). Dalam tahapan persiapan yang harus dipastikan terjadi adalah; Meningkatnya kapasitas, peran dan kontribusi Pemerintah Daerah, Masyarakat dan pemangku kepentingan pembangunan pembangunan Desa/kelurahan.
Pada tahap ini, kegiatan terkait pengelolaan pengamanan lingkungan dan sosial, adalah :
1. Mensosialisasikan pentingnya Pengelolaan Pengamanan Lingkungan dan Sosial
pada kegiatan Sosialisasi Awal Program Tingkat Desa/Kelurahan.
2. Menumbuhkan pemahaman dan keterampilan tentang Pengelolaan Pengaman
Lingkungan dan Sosial kepada pelaku di tingkat Desa/kelurahan melalui rangkaian kegiatan pelatihan Program KOTAKU .