-Penulis dilahirkan di Losung Aek, Sumatera Utara pada tanggal 28 Agustus
1988 dari pasangan Bapak Anton Simanjuntak (Alm.) dan Ibunda Jojor
Sihombing dan merupakan anak pertama dari tiga orang bersaudara.
Pendidikan formal yang sudah ditempuh oleh penulis antara lain tahun 2000
lulus dari SD Negeri no. 176334 Aek Las, tahun 2003 lulus dari SLTP N 2 Pahae
Jae, dan tahun 2006 penulis lulus dari SMA Swasta Katolik Bintang Timur Balige
dan diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk
Institut Pertanian Bogor (USMI) pada program Mayor Minor. Penulis memilih
program studi Biokimia sebagai Mayor dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam dan
Matematika (FMIPA).
Selama mengikuti perkuliahan di IPB, penulis aktif di Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM) Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) di Komisi Pelayanan
Anak (KPA) dan dipercayakan sebagai Penanggung Jawab Pelayanan Sekolah
Minggu (PJ SM) periode 2008/2009. Disamping itu, penulis juga aktif pada
himpunan profesi (HIMPRO) Biokimia, Community of Research and Education in
Biochemistry (CREBs) pada Departemen Keilmuan Metabolisme periode
2008/2009. Penulis juga terlibat aktif dalam Program Kreativitas Mahasiswa
Kewirausahaan (PKMK) yang berjudul “Prospek Roti Sukun dan Talas dalam
Upaya Menunjang Diversifikasi Pangan”.
Penulis pernah melaksanakan praktik lapang (PL) di Laboratorium Genetika
Bidang Mikrobiologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (Puslit Biologi LIPI) Cibinong dengan judul “Isolasi dan Pemisahan
Spesies Total RNA dari Isolat Bakteri Probiotik Lactobacillus plantarum”.
Penulis telah melaksanakan penelitian yang berjudul “Antidiare Enkapsulasi
Lactobacillus plantarum Mar8 pada Tikus Putih yang Diinduksi Minyak Jarak”
sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains di Departemen Biokimia,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
' .
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
PENDAHULUAN ... 1
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem Pencernaan ... 1
Penyakit Diare ... 3
Aktivitas Sistem Kekebalan Tubuh ... 4
Bakteri Probiotik ... 4
Tikus Sebagai Hewan Percobaan ... 5
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat ... 5
Metode Penelitian ... 6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Aktivitas Antidiare Enkapsulasi Bakteri Lactobacillus plantarum Mar8 ... 7
Aktivitas L. plantarum Mar8 yang Dienkapsulasi terhadap Motilitas
Gastrointestinal ... 10
Aktivitas Sistem Imun Tikus Diare Diinduksi Minyak Jarak ... 10
Hasil Analisis Pengaruh Enkapsulasi L. platarum Mar8 terhadap
Histopatologi ... 12
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan ... 14
Saran ... 15
DAFTAR PUSTAKA ... 15
LAMPIRAN ... 18
' .
1 Metode skoring lesio pada lambung dan usus halus ... 7
2 Profil frekuensi diare tikus putih yang diinduksi minyak jarak ... 8
3 Profil bobot feses tikus putih yang diinduksi minyak jarak ... 9
4 Profil konsistensi feses tikus putih yang diinduksi minyak jarak ... 9
5 Kecepatan motilitas gastrointestinal tikus putih yang diinduksi diare ... 10
6 Aktivitas dan kapasitas fagositosis makrofag tikus diare ... 11
7 Rataan skoring lesio lambung dan usus halus ... 12
8 Rataan sel goblet pada organ lambung dan usus halus ... 14
' .
1 Makrofag yang aktif memfagositosis Staphylococcus aureus ... 11
2 Makrofag yang tidak aktif ... 11
3 Histologi usus kelompok normal (enteritis) ... 13
4 Histologi usus kontrol negatif (nekrosis) ... 13
5 Histologi usus kelompok normal ... 13
6 Histologi lambung kontrol positif (gastritis) ... 14
' .
1 Tahap penelitian ... 19
2 Uji motilitas gastrointestinal ... 20
3 Uji aktivitas sistem imun ... 20
4 Metode pemeriksaan histopatologi usus ... 21
5 Hasil perlakuan... 21
6 Grafik hubungan frekuensi diare dan waktu pengamatan ... 22
7 Grafik hubungan bobot feses dan waktu pengamatan ... 22
8 Grafik hubungan konsistensi feses dan waktu pengamatan ... 22
9 Cara pembuatan larutan... 22
10 Komposisi pakan standar tikus... 23
11 Komposisi minyak jarak dengan nama dagang Oleum Ricini ... 23
12 Cara perhitungan persentase fagositosis makrofag aktif ... 23
13 Cara perhitungan persentase penurunan frekuensi diare dan bobot feses ... 23
14 Penurunan bobot badan hewan coba ... 23
Kesehatan sangat penting untuk melakukan berbagai kegiatan. Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas kesehatan, yaitu lingkungan, pola hidup, makanan, dan pelayanan kesehatan. Kualitas kesehatan dapat menurun akibat berbagai jenis penyakit. Salah satu jenis penyakit yang sering terjadi adalah
penyakit infeksi. Penyakit ini dapat
diakibatkan oleh mikroorganisme antara lain bakteri dan virus. Salah satu jenis penyakit infeksi yang sering terjadi adalah diare. Diare merupakan penyakit yang dapat menyerang bayi hingga orang dewasa. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), diare merupakan penyebab kematian balita nomor satu di dunia. Di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian balita nomor dua setelah ISPA (infeksi saluran pernapasan
akut) (Israr 2009). Penyakit tersebut
merupakan gejala klinis dari gangguan
pencernaan yang ditandai dengan
bertambahnya frekuensi defekasi yang
berulang.ulang disertai dengan perubahan konsistensi feses menjadi lembek sampai cair. Jika penderita tidak segera diobati, tidak jarang penderita akan mengalami dehidrasi dan akhirnya mengalami kematian (Tjay dan Rahardja 2002).
Masyarakat pada umumnya menggunakan tanaman obat sebagai antidiare dan jarang yang menggunakan makanan atau minuman yang mengandung bakteri probiotik. Bakteri probiotik menguntungkan bagi kesehatan karena bakteri probiotik bersifat nonpatogen, mampu menempel dan mengkolonisasi di
usus, mampu memproduksi senyawa
antimikroba, dan dapat menstimulasi sistem
imun (Salminen dan Adam 1998).
Kemampuan bakteri probiotik, khususnya
Lactobacillus plantarum menempel dan
mengkolonisasi di usus merupakan
mekanisme adhesi karena adanya mannose specific adhesion (MSA) (Adlerberth et al.
1996) yang dapat meningkatkan kesehatan usus (Rolfe 2000). Mekanisme tersebut dapat melindungi usus dari kolonisasi bakteri
patogen, merangsang aktifnya sel.sel
epithelial dan fungsi limfosit sehingga dapat meningkatkan kapasitas perlindungan pada sistem mukosa (Walker 2000), menurunkan kemampuan dinding usus mengabsorpsi karsinogen (Aso 1997), dan berkompetisi dengan bakteri patogen untuk mendapatkan nutrisi (Rolfe 2000). Pada penelitian ini diduga bahwa mannose specific adhesion
(MSA) yang dimiliki oleh Lactobacillus
plantarum Mar8 yang dienkapsulasi dapat menghambat proses diare dengan melapisi dinding usus dan memperbaiki kerusakan sel epitel usus sehingga meningkatkan absorpsi dan menghambat sekresi air dan elektrolit. elektrolit berlebihan di usus.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya
potensi penggunaan probiotik sebagai
antidiare. Boudraa et al. (2001) melaporkan yogurt yang mengandung bakteri probiotik dapat menurunkan frekuensi dan durasi buang air besar pada penderita diare akut dan malabsorpsi karbohidrat. Lactobacillus sp. dan Saccharomyces boulardii dapat menurunkan durasi diare persisten pada anak (Gaon et al. 2003).
Kemampuan bakteri tersebut dalam
mengurangi frekuensi dan durasi diare dilaporkan berhubungan dengan keberadaan gula pereduksi. Penderita diare lactose intolerant dapat mengkonsumsi yogurt dan makanan lain yang mengandung bakteri probiotik karena bakteri tersebut dapat membantu pemecahan laktosa di usus kecil (Aso 1997).
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian L. plantarum Mar8 yang dienkapsulasi terhadap penghambatan proses diare yang diinduksi minyak jarak. Aktivitas
L. plantarum Mar8 yang dienkapsulasi dalam menstimulasi sistem imun, serta pengaruhnya terhadap histologi lambung dan usus tikus putih yang diinduksi diare dengan minyak jarak (castor oil) diamati pada penelitian ini.
Hipotesis penelitian adalah MSA pada
bakteri L. plantarum Mar8 menyebabkan
bakteri dapat melekat, membentuk koloni, dan
melapisi dinding usus sehingga dapat
mempengaruhi proses diare pada tikus putih yang diinduksi minyak jarak.
Manfaat yang diharapkan dari penelitian
ini adalah diketahuinya mekanisme
enkapsulasi bakteri probiotik L. plantarum
Mar8 sebagai antidiare pada tikus putih
Sprague Dawley yang diinduksi minyak jarak.
% ". " /"
Sistem pencernaan terdiri atas organ.organ berupa mulut, faring, esophagus, lambung, dan usus. Sistem tersebut berperan dalam
mencerna makanan yang mengandung
berbagai makromolekul menjadi nutrien yang dapat diserap oleh tubuh (Xu dan Cranwell
2003). Menurut Fox (2004), sistem
pencernaan meliputi beberapa proses, yaitu
penyimpanan, dan eliminasi. Makanan yang dicerna akan masuk melalui mulut hingga usus halus dengan bantuan kontraksi otot seperti gelombang yang disebut dengan gerak
peristaltik. Pergerakan makanan ini
merupakan peristiwa motilitas.
Proses sekresi pada sistem pencernaan meliputi sekresi endokrin dan eksokrin. Sekresi endokrin meliputi sekresi hormon. hormon untuk meregulasi sistem pencernaan. Sementara sekresi eksokrin terdiri atas air, asam hidroklorida, bikarbonat, dan beberapa enzim pencernaan yang disekresikan ke dalam lumen saluran pencernaan. Hasil sekresi sistem pencernaan akan membantu proses
pencernaan molekul.molekul makanan
menjadi subunit yang lebih kecil sehingga mudah diserap melalui proses absorpsi. Sari. sari makanan diabsorpsi dan akhirnya masuk ke dalam darah dan limpa. Proses terakhir pada sistem pencernaan adalah penyimpanan sementara dan eliminasi molekul makanan yang tidak tercerna (Fox 2004).
Organ pencernaan yang berperan penting pada proses sekresi dan absorpsi air, sari.sari makanan, dan elektrolit.elektrolit tubuh adalah usus. Usus dibedakan menjadi dua bagian besar, yaitu usus halus dan usus besar (Glass 1986). Usus halus merupakan bagian dari sistem pencernaan yang berfungsi mencerna dan menyerap zat.zat makanan seperti asam amino, lipid, dan monosakarida (Banks 1993). Usus halus berperan sebagai pelaksana akhir dalam pencernaan yang dibantu oleh enzim dari pankreas dan usus itu sendiri, juga dibantu oleh empedu dari hati untuk mengemulsikan lemak sebelum dicerna secara enzimatik dengan menggunakan enzim lipase, maltase, dan peptidase yang terdapat
dalam mikrovili serta melaksanakan
penyerapan makanan yang telah dicerna (Silverthorn 2009). Hartono (1999) juga menjelaskan bahwa usus halus juga berfungsi
membuang sisa makanan yang tidak
diperlukan menuju usus besar yang seterusnya akan dikeluarkan sebagai feses.
Secara histologi usus halus terdiri atas lapisan mukosa (lamina epithelia, lamina propia, dan muscularis mucosae), submukosa, muskularis (tunica muscularis) dan serosa (tunica serosa) (Banks 1993). Lapisan mukosa diselaputi oleh vili yang penting dalam proses absorpsi. Lamina propia mukosa usus berbentuk jaringan ikat longgar yang menjadi pusat vili. Selain itu juga terdapat pembuluh darah, pembuluh limfe, leukosit, fibroblast, otot polos, sel plasma, dan sel mast (Dellman dan Brown 1992).
Lapisan submukosa berupa jaringan ikat longgar yang mengandung saraf, arteri, pembuluh limfe, vena, ganglion dari sistem saraf parasimpatik, dan kumpulan badan sel saraf terlokalisasi (Banks 1993). Sementara tunika muskularis terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan dalam yang tersusun melingkar dan lapis luar yang tersusun memanjang. Diantara kedua lapisan tersebut terdapat jaringan ikat longgar yang mengandung pleksus Mientricus atau pleksus Aurbach.
Pleksus tersebut bersama.sama dengan
pleksus Meissner yang terdapat pada
submukosa menginervasi kontraksi usus untuk
mencampur makanan dengan enzim,
kemudian menggerakkan makanan menuju permukaan sel.sel absorpsi (Banks 1993).
Hasil absorpsi yang tidak dapat diserap di usus halus terdiri atas 90% air dan sisa.sisa makanan dibuang menuju usus besar. Tjay dan Rahardja (2002), menjelaskan bahwa sisa. sisa makanan yang berada di usus besar akan dicerna oleh bakteri.bakteri yang terdapat di kolon sehingga sebagian besar dari sisa makanan tersebut dapat diserap kembali selama perjalanan melalui usus besar dan resorpsi air juga terjadi sehingga isi usus menjadi lebih padat. Proses absorpsi air dan elektrolit.elektrolit di dalam usus ditunjang oleh adanya sel vili dan sekresinya dilakukan oleh sel kripta yang terdapat pada usus halus. Absorpsi terjadi karena adanya perbedaan osmolaritas yang terjadi pada bahan terlarut yang diabsorpsi secara aktif pada lumen usus oleh sel vili (Vander et al. 2001). Pada keadaan normal, resorpsi dan sekresi air dan elektrolit di usus berlangsung pada waktu yang sama di sel.sel epitel mukosa yang diatur oleh hormon, yaitu resorpsi oleh hormon
enkefalin dan sekresi oleh hormon
prostaglandin dan neurohormon vasoactive intestinal peptide (VIP) (Field 2003).
Sistem pencernaan juga merupakan organ imun terbesar pada tubuh (Silverthorn 2009) dengan mekanisme pertahanan yang telah berkembang sejak lahir terutama pada dinding usus (Suharyono 1986). Lamina propia pada
mukosa usus merupakan sumber
immunoglobulin baik dalam serum maupun yang disekresikan ke lumen usus dan menjadi sumber penting dari IgA yang terdapat pada sirkulasi darah manusia (Suharyono 1986). Permukaan lamina terbuka secara terus
menerus terhadap organisme patogen
penyebab penyakit dan sel imun pada gut associated lymphoid tissue (GALT) harus mencegah patogen tersebut agar tidak masuk melalui jaringan absorpsi. Fungsi imunologis
usus penting karena banyak bahan makanan yang bersifat sebagai antigen (zat asing) jika kontak dengan mukosa usus yang dipenuhi oleh sistem limfa (imunitas sel dan imunitas humoral) dan dapat masuk ke usus halus, reseptor sensori dan sel imun pada GALT menimbulkan respon, yaitu berupa diare dan muntah (Silverthorn 2009). Sel imun akan beraksi jika antigen yang memasuki tubuh merupakan senyawa yang membahayakan dan mensekresikan sitokin untuk menyerang antigen dan menimbulkan respon inflamasi (peradangan). Tiga respon sitokin tersebut adalah peningkatan Cl., cairan, dan sekresi mukus untuk membersihkan antigen dari saluran pencernaan (Silverthorn 2009).
" ) # "
Diare merupakan salah satu gejala klinis dari gangguan usus dengan peningkatan massa feses mencapai 500.1000 g/24 jam (pada orang dewasa, massa normal 250 g/24 jam), frekuensi buang air besar lebih dari biasanya yang disertai dengan feses berbentuk cair (Field 2003). Penyakit ini merupakan proses
pertahanan tubuh terhadap infeksi
mikroorganisme dan makanan yang dapat merusak usus agar tidak menyebabkan kerusakan mukosa saluran cerna (Silverthorn 2009). Walaupun diare ini merupakan suatu proses pertahanan tubuh terhadap infeksi mikroorganisme namun sangat berbahaya
karena dapat menyebabkan dehidrasi.
Dehidrasi merupakan suatu keadaan tubuh kehilangan banyak air dan elektrolit.elektrolit yang terlarut, terutama natrium dan kalium. Akibat dari peristiwa tersebut penderita mengalami hipokaliemia (kekurangan kalium) dan adakalanya asidosis (darah menjadi asam) yang tidak jarang berakhir pada kematian (Tjay dan Rahardja 2002).
Diare merupakan penyakit yang
disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu infeksi bakteri, virus, parasit, malabsorpsi makanan, keracunan makanan, alergi, ataupun karena defisiensi (Suharyono 1986), obat.obatan,
gangguan psikologis, dan juga dapat
disebabkan oleh penyakit lain. Beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan diare adalah
Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perferingens, Escherichia coli, Vibrio cholera, Shigella sp., Salmonella sp.,
Clostridium difficile, Campylobacter jejuni, Yersenia enterolitica, Klebsiella pnemoniae,
Vibrio haemolyticus (Brooks et al. 1996). Mekanisme terjadinya diare akibat infeksi bakteri dibedakan menjadi dua bagian, yaitu toksin bakteri yang masuk ke dalam saluran
pencernaan merangsang sel epitel usus sehingga terjadi peningkatan produksi cyclic adenosine mono phosphate (cAMP) pada sel.
Peningkatan ini dapat mengakibatkan
peningkatan sekresi air dan elektrolit ke lumen usus dan terhambatnya absorpsi di usus (Field 2003). Akibat kejadian tersebut akan terjadi osmosis air ke dalam lumen usus yang mengakibatkan diare yang diikuti dehidrasi akibat banyaknya air dan elektrolit yang diekskresikan (Vander et al. 2001). Bakteri penyebab diare ini juga dapat menginvasi sel mukosa usus yang dapat mengakibatkan kerusakan sel epitel usus sehingga proses absorpsi air dan elektrolit terganggu dan terjadi peningkatan sekresi (Tjay dan Rahardja 2002).
Diare juga dapat diakibatkan oleh obat.
obatan yang dikonsumsi seperti obat
pencahar, yaitu magnesium trisiklat,
magnesium hidroksida, reserpin, alkaloid ergot dan turunannya, sitostatistika. Obat pencahar dapat meningkatkan konsentrasi cAMP yang mengakibatkan peningkatan motilitas usus dan menghambat absorpsi air dan elektrolit. Gangguan psikologis juga dapat menyebabkan diare, yaitu keadaan stress dan terkejut karena pada keadaan itu terjadi peningkatan asetilkolin yang dilepas sehingga meningkatkan motilitas usus (Mutschler 1999).
Diare dapat dikelompokkan berdasarkan mekanisme terjadinya, yaitu diare osmotik, diare sekresi, diare inflamasi, dan diare yang berhubungan dengan motilitas. Diare osmotik merupakan diare yang terjadi karena tidak cukupnya absorpsi pada osmosis senyawa aktif pada usus seperti yang terjadi pada malabsorpsi laktosa. Diare sekresi terjadi karena infeksi bakteri dan virus yang disertai peningkatan sekresi dan penurunan absorpsi ion ke dalam usus. Jenis diare inflamasi disertai eksudasi protein dan darah, sedangkan
diare motilitas berhubungan dengan
percepatan motilitas pada gastrointestinal (Vrese dan Marteau 2007).
Field (2003) menjelaskan bahwa pada saat diare terjadi peningkatan peristaltik usus dan proses absorpsi air dan elektrolit.elektrolit terganggu sehingga chymus (makanan yang sudah berbentuk bubur) lewat dari usus dengan sangat cepat dan mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja. Terganggunya resorpsi air di usus akan
menyebabkan bertumpuknya cairan dan
terjadi hipersekresi. Pada keadaan normal proses resorpsi melebihi sekresi, namun karena adanya gangguan akan mengakibatkan
sekresi menjadi lebih besar daripada resorpsi dan terjadilah diare (Field 2003).
# 0 % % ". "#"1 ' &1&(
Tubuh memiliki sistem pertahanan yang akan menjaga tubuh dari berbagai serangan patogen seperti bakteri, virus, dan berbagai zat asing yang dapat masuk ke dalam tubuh. Sistem tersebut dikenal sebagai sistem imunitas atau sistem kekebalan tubuh. Sistem ini akan melakukan penghancuran bahan asing tersebut melalui proses fagositosis (Tizard 1988).
Proses fagositosis dilakukan oleh dua sistem komplementer, yaitu sistem mieloid dan sistem fagositik mononuklir. Sistem mieloid terdiri atas sel.sel yang bekerja dengan cepat namun tidak dapat bertahan lama, sedangkan sistem fagositik mononuklir bekerja dengan lambat namun bertahan lebih lama (Tizard 1988). Sistem mieloid terdiri atas sel granulosit polimorfonuklir netrofil (netrofil), eosinofil, basofil. Komponen yang termasuk sistem fagositik mononuklir adalah makrofag (Spector dan Spector 1993).
Makrofag merupakan sel imun yang tersebar di seluruh tubuh dan berperan penting dalam melakukan fagositosis, menghancurkan bahan asing (patogen dan zat asing yang berbahaya bagi tubuh) dan jaringan mati, serta mengolah bahan asing tersebut sehingga dapat menstimulasi sistem imun (Tizard 1988). Selain itu, makrofag juga mengkoordinasikan sel.sel dan jaringan imunitas lain seperti mensekresikan sitokin yang berperan penting
dalam proses inflamasi meliputi IL.1
(Interleukin.1), TNF.α (Tumor necrosis factor α), IL.6. IL.1 berfungsi mengaktifkan limfosit, IL.1, IL.6, TNF.α mempengaruhi
pusat termoregulasi pada hypothalamus
(Kindt et al. 2007).
Aktivasi makrofag merupakan mekanisme pelepasan mediator antimikroba yang tidak
hanya bersifat toksik terhadap
mikroorganisme patogen, tetapi juga bersifat toksik terhadap sel inang yang dapat menyebabkan sel inang hancur (Calder 2002).
# " 21 2 #
Bakteri probiotik merupakan jenis bakteri asam laktat yang memiliki sifat nonpatogen dan memberikan efek menguntungkan bagi kesehatan jika dikonsumsi. Bakteri tersebut
termasuk bakteri gram positif, tidak
membentuk spora, berbentuk batang dan bulat, katalase negatif, non motil atau sedikit motil, mikroaerofilik sampai anaerob, hidup pada suhu mesofilik (Salminen dan Adam
1998). Bakteri probiotik menghasilkan
berbagai senyawa antimikrob, yaitu berupa asam laktat, H2O2, bakteriosin, dan berbagai enzim seperti laktase, bile salt hydrolase, serta
adanya anti karsinogenik, dan dapat
menstimulasi sistem imun (Salminen dan Adam 1998).
Menurut Salminen dan Adam (1998), bakteri yang termasuk dalam kelompok probiotik harus mempunyai sifat, yaitu stabil terhadap asam (terutama asam lambung), stabil terhadap garam empedu, mampu bertahan hidup selama berada pada bagian atas usus halus, dapat memproduksi senyawa
antimikrob, mampu menempel dan
mengkolonisasi sel usus manusia, tumbuh
baik dan berkembang dalam saluran
pencernaan, koagregasi membentuk
lingkungan mikroflora yang normal dan seimbang, tidak patogen, serta memberi efek kesehatan yang sudah terbukti.
Golongan bakteri yang termasuk bakteri probiotik adalah famili Lactobacilliceae, yaitu
Lactobacillus, famili Streptoceae, yaitu
Streptococcus, Pediacoccus, Leuconostoc
(Fardiaz 1992). Lactobacillus sp. merupakan jenis bakteri asam laktat yang mempunyai efek yang menguntungkan bagi kesehatan, terutama bagi usus (Boekhorst et al. 2006) dan mempunyai potensi yang tinggi sebagai produk probiotik dibandingkan bakteri asam laktat lainnya. Bakteri ini banyak dijumpai pada saluran gastrointestinal, usus halus mencapai 106.107 sel/g, usus besar 1010.1011 sel/g (Ray 1996).
Alasan utama bakteri Lactobacillus sp. menguntungkan bagi kesehatan adalah bakteri ini mempunyai kemampuan menempel dan mengkolonisasi di dinding usus (Boekhorst et al. 2006) yang didukung oleh adanya mannose specific adhesion (MSA) (Adlerberth et al.
1996). Mekanisme penempelan bakteri di usus disebut dengan adhesi (Walker 2000), tidak diganggu oleh gerakan peristaltik usus (Morais dan Cristina 2006). Bakteri yang memiliki mekanisme MSA akan melekat pada glikokonjugat yang terdapat pada membran mikrovili. Glikokonjugat merupakan terminal
gula yang terdapat pada sisi rantai
oligosakarida yang tersusun atas molekul manosa terletak pada membran mikrovili, yaitu berupa glikolipid dan protein (Walker 2000). Boekhorst et al. (2006), melaporkan bahwa bakteri dapat mengkolonisasi di usus juga terjadi karena adanya domain protein, yaitu 3 protein yang dapat menempel pada kolagen, 1 protein yang dapat terikat pada kitin, 1 protein yang terikat pada fibronektin,
dan 7 protein dengan domain yang dapat menempel di mukus. Kedua belas protein tersebut merupakan kunci utama penempelan bakteri terhadap komponen inang (Boekhorst
et al. 2006).
Perlekatan tersebut dapat meningkatkan
pertahanan dan perlindungan saluran
pencernaan inang terhadap kolonisasi bakteri patogen. Selain itu, perlekatan ini juga dapat merangsang aktifnya sel.sel epithelial dan fungsi limfosit sehingga dapat meningkatkan kapasitas perlindungan mukosa (Walker 2000), menghambat invasi dan perlekatan
patogen pada epithelial dan mukosa,
berkompetisi dengan patogen untuk
mendapatkan nutrisi (Rolfe 2000),
menurunkan kemampuan dinding usus
mengabsorpsi karsinogen (Aso 1997),
merangsang produksi lendir di mukosa usus dan dapat memulihkan permeabilitas usus (Morais dan Cristina 2006).
Mekanisme lain dari bakteri probiotik di usus ialah mempertahankan keseimbangan mikroflora usus, mengeliminasi bakteri atau mikroorganisme yang tidak diharapkan dari induk, menyediakan enzim yang mampu mencerna serat kasar, protein, lemak, dan
detoksifikasi racun atau metabolitnya.
Probiotik juga mampu mempercepat ataupun
menahan aktivitas mikroba yang
menyebabkan pH usus menurun akibat
terbentuknya amonia dan metabolisme
empedu. Probiotik juga mengekskresikan glutamat, meningkatkan proses absorpsi dalam usus dan mencegah stress (Fuller 1999).
#&% "1 * "3 " /21
Hewan percobaan merupakan hewan yang sengaja dipelihara dan diternakkan untuk
dipakai sebagai hewan model untuk
mempelajari dan mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dan skala penelitian atau pengamatan laboratorik (Malole & Pramono
1989). Hewan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tikus. Tikus banyak digunakan karena telah diketahui sifat. sifatnya dengan sempurna, mudah dipelihara, merupakan hewan yang relatif sehat, dan cocok untuk berbagai macam penelitian. Tikus sudah menyebar ke seluruh dunia dan digunakan secara luas untuk penelitian di
laboratorium ataupun sebagai hewan
kesayangan salah satunya adalah tikus putih yang berasal dari Asia Tengah (Malole & Pramono 1989).
Lima macam basic stock tikus putih (Albino Normay rat, Rattuts norvegicus) yang
biasa digunakan sebagai hewan percobaan di laboratorium yaitu Long Evans, Osborne