• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BAHAN DAN METODE

D. Metodologi Penelitian

1. Tahap Pertama

Daun mangga (Mangifera indica L.) yang diperoleh dari sekitar lokasi penelitian di daerah Surabaya dipilih yang baik, utuh, tidak terkena serangan hama/penyakit, mulai dari bagian pucuk sampai bagian tangkai. Daun dicuci bersih dengan menggunakan air bersih kemudian ditiriskan. Selanjutnya daun mangga diblender. Hasil blender kasar daun mangga tersebut diambil 50 gram kemudian diendapkan dengan air, etanol, dan metanol masing-masing 250 mili liter selama 3 hari (72 jam). Kemudian hasil dari ekstrak daun mangga itu diambil dan diencerkan sesuai konsentrasi yaitu 100%, 75%, 50% dan 25%.

Diagram alir penelitian Tahap I dapat dilihat pada Gambar 5. Daun mangga (Mangifera indica L.) Sortasi Pencucian

Jenis Pelarut : air,etanol dan metanol

Ekstrak daun mangga analisa skrining : -. Alkaloid -. Fenol -. Saponin Gambar 5. Diagram alir penelitian Tahap I

Penghancuran

Perendaman selama 72 jam

Penyaringan

Dipekatkan dengan evaporator sampai pekat

Diambil 50 gr kemudian direndam dalam masing-masing 250 ml pelarut

28

2. Tahap kedua, Uji aktivitas antimikrobia dari ekstrak daun mangga. Tahap ini menjelaskan bahwa diambil dua puluh milliliter media Nutrient Agar steril suhu 50⁰C dituang kedalam pertidish dan dibiarkan memadat. Berdasarkan metode Kirby-Bauer, masing-masing diinokulasi dengan cara diswab 0.1 µl kultur bakteri Escherchia coli dan Staphylococcus aureus dari media Nutrient Broth yang berumur 24 jam. Didiamkan media sampai kering.

Ring kering berdiameter 1,1 mm yang sudah disterilkan. masing-masing ditetesi dengan 0.1 µl ekstrak daun mangga dengan konsentrasi 100%, 75%, 50% dan 25% dan antibiotik amoxicillin sebagai kontrol.

Masing-masing ring kering yang akan ditetesi ekstrak daun mangga tersebut diletakan diatas media Nutrient Agar yang telah memadat dan diletakan keempatnya diatur sedemikian rupa. masing-masing konstentrasi dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali.

Masing-masing petridish dibiarkan selama satu jam pada suhu kamar untuk menunggu terdifusinya ekstrak daun mangga ke dalam media agar, selanjutnya di inkubasikan selama 24 jam pada suhu 37⁰C. Aktivitas penghambatan antimikroba ditunjukkan oleh adanya zona jernih disekeliling ring tersebut. Zona jernih masing-masing ekstrak daun mangga terhadap kedua kultur bakteri di ukur dengan menggunakan jangka sorong.

Diagram alir penelitian Tahap II dapat dilihat pada Gambar 6.

Analisa aktivitas antimikroba (Zona Hambatan) Inkubasi 24 jm, suhu

37° C

Masing-masing diinokulasikan dalam media Nutrient Broth

Diambil 0.1 µl bakteri lalu diswab dipermukaan media Nutrient Agar Steril

Inkubasi suhu 37 °C 24 jam

Kultur bakteri patogen - Escherichia coli ATCC 25922 - Staphylococcus aureus ATCC 25923 Ekstrak Daun Mangga

Jenis Pelarut: Konsentrasi : - Air - 100% - Etanol - 75% - Metanol - 50% - 25% Ditetesi sebanyak 0.1 µl

Gambar 6. Diagram alir penelitian Tahap II

Pembuatan sumuran modifikasi dengan menggunakan ring plastik termodifikasi

30

3. Tahap ketiga, Uji pengaruh ekstrak daun mangga dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus pada penyimpanan suhu 37⁰C selama 24 jam dengan menggunakan hasil pelarut terbaik.

Pada tahap ini dilakukan perhitungan jumlah bakteri yang dapat ditekan dengan menggunakan ekstrak daun mangga. Sebelum dilakukan perhitungan harus dilakukan pengenceran sesuai perlakuan. Perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah dan cepat jika pengencerannya dilakukan secara desimal, mulai dari pengenceran awal 101 sampai dengan 106. Pengenceran dibuat dengan cara mengencerkan sesuai konsentrasi, kemudian ekstrak daun mangga ke dalam 9 ml pepton, dilanjutkan dengan pengenceran sampai dengan pengenceran 106. Sebelum melakukan pengenceran, bakteri ditumbuhkan ke media Nutrient Broth. Setelah itu, ditambahkan 1 ml kultur bakteri masing-masing Escherichia coli maupun Staphylococcus aureus kedalam tabung yang berisi pepton yang telah berisi ekstrak daun mangga, setelah itu diinkubasikan selama 24 jam 37⁰C.

Setelah pengenceran dilakukan hingga 106, ditumbuhkan kemedia Nutrient Agar digoyang sedikit sehingga penyebarannya merata, ditunggu selama 1 jam agar media tersebut kering lalu diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37⁰C. perhitungan bakteri dapat dilakukan setelah waktu inkubasi selesai. (Fardiaz, 1989)

Diagram alir penelitian Tahap III dapat dilihat pada Gambar 7.

Masing-masing bakteri diambil 1 ml

Diinokulasikan 9 ml reaksi Nutrient Broth steril

Masing-masing diinokulasikan dalam media Nutrient Broth

Inkubasi suhu 37 °C 24 jam Kultur bakteri patogen - Escherichia coli ATCC 25922 - Staphylococcus aureus ATCC 25923 Ekstrak Daun Mangga

Pelarut terbaik: Konsentrasi : Etanol (pelarut Terbaik) - 100% - 75 % - 50% - 25%

Analisa Total Plate Count

Gambar 7. Diagram alir penelitian Tahap III

Penambahan ekstrak daun mangga sesuai konsentrasi (5 mililiter)

Pengenceran dengan pepton 101 hingga 106

Masing-masing 1 ml dari hasil pengenceran

Inkubasi suhu 37⁰C 24 jam

Tuang kedalam petridish lalu tambahkan Nutrient Agar lalu ratakan dengan cara mengoyangkan

32 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap ekstrak daun mangga menggunakan tiga jenis pelarut (air, etanol dan metanol) dengan parameter yang diamati yaitu pengujian aktivitas antimikroba (zona hambatan), kandungan senyawa alkaloid, senyawa fenol, saponin, dan konsentrasi penghambatan ekstrak daun mangga terhadap pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus pada penyimpanan suhu 37⁰C selama 24 jam.

A. Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Mangga (Zona Hambatan). Uji aktivitas antimikroba pada daun mangga ini dilakukan terhadap kultur bakteri Escherichia coli ATCC 25922 dan Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan menggunakan metode Kyrbi-baure (W. Kirby dan A.W Baure, 1966) yang dimodifikasi dengan menggunakan ring plastik pengganti paper disk.

Dari hasil uji antimikroba ekstrak daun mangga menunjukkan adanya zona jernih yang terbentuk disekitar daerah uji yang mengindikasikan adanya aktivitas antimikroba ekstrak daun mangga dengan menggunakan pelarut air, etanol maupun metanol terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Aktivitas antimikrobia yang terbentuk dari ekstrak daun mangga adalah antara 1.47-2.54 mm. Untuk aktivitas antimikrobia terendah terhadap bakteri Escherichia coli adalah dengan perlakuan menggunakan ekstrak daun mangga konsentrasi 25% (pelarut air) menghasilkan zona hambatan sebesar 1.47 mm dan aktivitas antimikrobia tertinggi dengan menggunakan pelarut etanol konsentrasi 100% yaitu sebesar 2.54 mm. Sedangkan pada bakteri Staphylococcus aureus, aktivitas antimikrobia terendah ditunjukkan pada penggunaan pelarut air dengan konsentrasi 25% menghasilkan zona hambatan sebesar 1.37 mm dan zona hambatan tertinggi dengan menggunakan pelarut etanol konsentrasi 100% yaitu sebesar 2.34 mm.

1. Aktivitas Antimikrobia Ekstrak Daun Mangga Terhadap Bakteri Escherichia coli.

Berdasarkan hasil analisis ragam (Lampiran 1) menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi yang nyata (p≤0.05) antara perlakuan jenis pelarut dan konsentrasi ekstrak daun mangga terhadap nilai rata-rata zona hambatan pada bakteri Escherichia coli. Akan tetapi jenis pelarut memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa daun mangga dapat membentuk zona hambatan disekitar media uji. Luas nilai rata-rata zona hambatan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Nilai Rata-Rata Hasil Uji Aktivitas Antimikrobia Ekstrak Daun Mangga Dengan Jenis Pelarut yang Berbeda Terhadap Escherichia coli

Jenis pelarut Konsentrasi (%)

Rata-rata Notasi 100 75 50 25 Air 1.883 1.573 1.510 1.473 1.610 a Etanol 2.533 2.520 2.240 2.120 2.353 b Methanol 2.450 2.317 2.147 1.840 2.188 b Keterangan : notasi yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p≤0.005),

pada uji BNJ 5 %.

Dari Tabel 4. Dapat dilihat nilai terendah terdapat pada pelarut air yaitu sebesar 1.610 cm/0.1 ml dan nilai tertnggi adalah pada pelarut etanol yaitu sebesar 2.353 cm/0.1. Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis pelarut air memberikan nilai yang berbeda dengan pelarut etanol dan metanol, sedangkan pelarut etanol tidak berbeda nyata dengan pelarut metanol. Dari hasil rata-rata tersebut, pelarut air menghasilkan nilai zona hambatan yang lebih rendah dibandingkan etanol maupun metanol. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan jenis pelarut dan kepolaran dari masing-masing pelarut tersebut. Ekstrak daun mangga dengan menggunakan pelarut air mengandung komponen senyawa tanin, triterpenoid, dan saponin yang bersifat antimikrobia, namun tidak menunjukkan penghambatan yang besar pada bakteri Escherichia coli. Sedangkan pada pelarut etanol komponen antimikrobia yang aktif pada penghambatan bakteri Escherichia coli adalah tanin, senyawa fenol, flavonoid,

34

tripenenoid, steroid, dan alkaloid. Demikian pula pada ekstrak daun mangga dengan menggunakan pelarut metanol, komponen bioaktif antimikrobia adalah saponin, tanin, senyawa fenol, dan flavonoid (Tiwari dkk, 2011).

Tabel 5. Nilai Rata-Rata Hasil Uji Aktivitas Antimikrobia dengan Konsentrasi Ekstrak Daun Mangga Terhadap Escherichia coli.

Konsentrasi (%) Air Etanol Metanol Rata-rata Notasi

100 1.883 2.533 2.450 2.289 tn

75 1.573 2.520 2.317 2.137 tn

50 1.510 2.240 2.147 1.965 tn

25 1.473 2.120 1.840 1.811 tn

Keterangan : huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (p≤(0.05) pada uji BNJ 5 % : tn = tidak nyata.

Pada Tabel 5. Dapat dilihat nilai hasil rata-rata konsentrasi ekstrak daun mangga, dapat dilihat bahwa masing-masing konsentrasi memberikan tidak berpengaruh nyata pada zona hambatan yang dihasilkan tetapi ada kecenderungan nilai rata-rata zona hambatan yang meningkat dengan semakin meningkatnya konsentrasi ekstrak daun mangga. Hal ini dapat disebabkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun mangga, makin banyak senyawa antimikrobia yang terkandung dalam ekstrak dapat terlarutkan sehingga semakin kuat potensi antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.

2. Zona hambatan ekstrak daun mangga terhadap bakteri Staphylococcus aureus.

Berdasarkan hasil analisis ragam (Lampiran 2) menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi yang nyata (p≥(0.05) akan tetapi masing-masing perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap nilai rata-rata zona hambatan pada bakteri Staphylococcus aureus. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa daun mangga dapat membentuk zona hambatan disekitar media uji. Luas nilai rata-rata zona hambatan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Nilai Rata-Rata Hasil Uji Aktivitas Antimikrobia Ekstrak Daun Mangga Dengan Jenis Pelarut yang Berbeda Terhadap Staphylococcus aureus. Jenis pelarut Konsentrasi (%) Rata-rata Notasi 100 75 50 25 Air 2.183 1.627 1.403 1.370 1.646 a Etanol 2.343 2.270 2.093 1.950 2.164 b Metanol 2.323 2.253 2.093 1.990 2.165 b Keterangan : notasi yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p≤0.005),

pada uji BNJ 5 %.

Dari tabel 6. Juga dapat dilihat bahwa nilai terendah terdapat pada pelarut air yaitu sebesar 1.646 cm/0.1 ml dan nilai tertinggi terdapat pada pelarut etanol sebesar 2.165 cm/0.1 ml. hal tersebut menunjjukkan bahwa jenis pelarut air memberikan nilai yang berbeda dengan pelarut etanol dan metanol, sedangkan pelarut etanol tidak berbeda nyata dengan pelarut metanol. Dari hasil rata-rata tersebut, Pelarut air menghasilkan nilai zona hambatan yang lebih rendah dibandingkan etanol maupun metanol. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan jenis pelarut yang disebabkan oleh adanya kepolaran dari masing-masing pelarut yang berbeda. Dimana pelarut air, pelarut etanol, dan pelarut metanol memiliki nilai polaritas masing-masing sebesar 0.90, 0.68 dan 0.73 (Adolf, 2006).

Tabel 7. Nilai Rata-Rata Hasil Uji Aktivitas Antimikrobia dengan Konsentrasi Ekstrak Daun Mangga Terhadap Escherichia coli.

Konsentrasi (%) Air Etanol Metanol Rata-rata Notasi

100 2.183 2.343 2.323 2.283 a

75 1.627 2.270 2.253 2.050 ab

50 1.403 2.093 2.093 1.863 ab

25 1.370 1.950 1.990 1.770 b

Keterangan : huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (p≤(0.00) pada uji BNJ 5 % : tn = tidak nyata.

Ekstrak daun mangga dengan menggunakan pelarut air mengandung komponen tanin, terpenoid, dan saponin yang bersifat antimikrobia, namun tidak menunjukkan penghambatan yang besar pada bakteri Staphylococcus aureus Sedangkan pada pelarut etanol komponen

36

antimikrobia yang aktif pada penghambatan bakteri Staphylococcus aureus adalah tanin, senyawa fenol, flavonoid, terpenenoids, steroid, dan alkaloid. Demikian pula pada ekstrak daun mangga dengan menggunakan pelarut metanol, komponen bioaktif antimikrobia adalah saponin, tanin, senyawa fenol, dan flavonoid (Tiwari dkk, 2011).

Perbandingan antara ketiga jenis pelarut (air, etanol, dan metanol) yang dapat melarutkan senyawa antimikrobia dalam daun mangga yang berbeda. Seperti yang dilaporkan oleh Tiwari dkk (2011), perbedaan hasil ekstraksi pada daun mangga terdapat pada kandungan senyawa-senyawa yang dapat dilarutkan oleh masing-masing pelarut dengan tingkat polaritas yang berbeda. Seperti senyawa antimikrobia steroid dan alkaloid yang tidak dapat dilarutkan dalam pelarut air dan metanol, sedangkan pada pelarut etanol dapat larut dengan baik. Selain senyawa steroid dan alkaloid, senyawa saponin yang dimana ekstraksi menggunakan air dan metanol dapat melarutkan saponin tetapi tidak dapat larut dalam pelarut etanol.

Dari hasil tabel diatas juga menunjukan bahwa bakteri Gram negatif lebih rentan oleh senyawa antibakteri ekstrak daun mangga daripada bakteri Gram positif. Perbedaan sensitivitas bakteri terhadap antimikrobia dipengaruhi oleh struktur dinding sel bakteri. Bakteri Gram negatif cenderung lebih sensitif terhadap antimikrobia, karena struktur dinding sel bakteri Gram negatif lebih sederhana dibandingkan struktur dinding sel bakteri Gram positif sehingga memudahkan senyawa antimikrobia untuk masuk ke dalam sel. Ekstrak etanol yang mengandung senyawa antimikrobia flavonoid, senyawa fenol, tanin, triterpenoid, steroid, dan alkaloid mampu menghambat lebih besar bakteri Gram negatif daripada Gram positif. Pelarut etanol merupakan pelarut universal yang dapat melarutkan hampir sebagian besar komponen senyawa yang terkandung dalam ekstrak yang menghasilkan senyawa antimikrobia murni yang mempunyai aktivitas penghambatan lebih besar.

Pada umumnya diameter zona hambatan cenderung sebanding dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak. Penurunan zona hambatan tidak selalu naik sebanding dengan naiknya konsentrasi antimikrobia, kemungkinan ini terjadi karena perbedaan kecepatan difusi senyawa antimikrobia pada media agar serta jenis dan konsentrasi senyawa

antimikrobia yang berbeda juga memberikan diameter zona hambatan yang berbeda pada lama waktu tertentu. (Elifah (2010) didalam Fajar (2010).

Kontrol Amoxicillin berpengaruh terhadap kedua jenis bakteri Gram negatif maupun Gram positif, aktifitas penghambatannya dalam kategori kuat. Amoxicillin merupakan turunan penicillin yang mempunyai spektrum luas (dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram negatif dan Gram positif)m mekanisme kerjanya menghambat sintesis dinding sel bakteri (Mycek dkk (1997) didalam Fajar (2010).

Berdasarkan uji perbandingan (t-test), diperoleh hasil yang tidak terdapat perbedaan yang nyata antara hasil yang diperoleh dari perlakuan ekstrak daun mangga terhadap kedua bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus (p=0.128). Namun bila dilihat, dari nilai rata-rata zona hambatan yang dihasilkan oleh kedua bakteri tersebut nampak bahwa luas zona hambatan yang dihasilkan oleh Escherichia coli lebih luas dari pada luas zona hambatan pada bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini mengindikasikan bahwa bakteri Escherichia coli lebih peka dibanding bakteri staphylococcus aureus.

Perbedaan struktur dinding sel menentukan penetrasi, ikatan dan aktivitas senyawa antimikrobia (jawetz dkk (2005) didalam Fajar (2010). Bakteri Gram negatif lebih banyak mengandung lipid, sedikit peptigoglikan, membran luar terdiri dari fosfolipid (lapisan dalam), dan lipopolisakarida (lapisan luar). Sedangkan bakteri Gram positif memiliki struktur dinding sel dengan banyak peptidoglikan, sedikit lipid, dan dinding sel mengandung polisakarida (asam teikoat).

B. Hasil Kandungan Senyawa Antimikrobia dalam Ekstrak Daun Mangga

Analisis kandungan fitokimia yang dilakukan terhadap ekstrak daun mangga dengan pelarut etanol sebagai pelarut terbaik, diperoleh bahwa daun mangga mengandung senyawa alkaloid, senyawa fenol tetapi tidak mengandung senyawa saponin. Seperti halnya penelitian yanng dilakkukan oleh Neelima (2012), dilaporkan bahwa hasil skrining ekstrak daun mangga

38

memiliki kandungan fitokimia yaitu tanin, alkaloid, glikosida, steroid dan triterpenoid, saponin, komponen fenol dan flavonoid.

Skrining yang dilakukan terhadap ekstrak daun mangga adalah ekstrak daun mangga dengan pelarut etanol. Hal ini didasarkan pada hasil zona hambatan yang diperoleh dengan luas zona hambatan terbesar yaitu dengan menggunakan ekstrak etanol 96%. Hasil skrining terhadap kandungan-kandungan ekstrak etanol daun mangga tersebut dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 . Hasil skrining ekstrak daun mangga dengan pelarut etanol. Kandungan

bioaktiv

Hasil Skrining Literatur 1* Literatur 2**

Alkaloid + + +

Senyawa Fenol + + +

Saponin - + -

Keterangan : * Neelima dkk (2012) , ** Luka dkk (2013), (+) terdeteksi, (-) tidak terdekteksi.

Hasil skrining fitokimia daun mangga diperoleh bahwa kandungan alkaloid dan senyawa fenol didapatkan positif yang membentuk warna jingga dan warna hitam, hasil tersebut sama dengan hasil skrining yang dilakukan oleh Luka dkk (2013) dan Neelima dkk. (2012). Sedangkan untuk hasil skiring saponin didapatkan hasil negatif. Dapat dilihat bahwa hasil skrining mempunyai nilai yang berbeda dengan hasil yang dipaparkan oleh Neelima dkk (2012) yang menyatakan bahwa senyawa fitokimia pada daun mangga adalah tannin, alkaloid, glykosid, steroid dan triterpenoid, saponin, komponen fenol dan flavonoid. Hasil skrining yang dilakukan terhadap ekstrak daun mangga untuk senyawa saponin ini dipaparkan oleh Luka dan Muhhamad (2013), yang menyatakan bahwa hasil ekstraksi kandungan saponin negatif untuk pelarut etanol, namun hasil ekstraksi menggunakan pelarut air dan metanol didapatkan senyawa saponin yang terlarut sedangkan saponin tersebut tidak larut dalam pelarut etanol. Hal ini bila dibandingkan dengan hasil penelitian Neelima dkk (2012) yang menyatakan saponin terdapat dalam ekstrak daun mangga. Perbedaan hasil skrining dalam ekstrak daun mangga ini dikarenakan perbedaan tanah dimana tanaman mangga tersebut tumbuh, perbedaan iklim dan lingkungan serta perbedaan kadar air serta kesuburan tanah.

Pada penelitian Kanistha Kaewpoomhae (2009), dilaporkan bahwa total fenol pada ekstrak daun mangga untuk pelarut air sebesar 10%, metanol 14.4% dan kloroform 4.4%. Kadar fenol dalam daun mangga cenderung bersifat polar karena adanya gugus-gugus hidroksil (-OH) pada struktur dasar senyawa fenol, sehingga mudah larut dalam pelarut polar seperti air, metanol dan etanol (Hougton dan Raman, 1998 didalam Pasuhri, 2006).

Selain senyawa fitokimia, daun mangga juga terdapat senyawa bioaktif kandungan utama yaitu mangiferin. Penelitian Severi et al (2009) menunjukkan bahwa mangiferin dalam daun mangga sebesar 57.3 %. Magiferin ini memiliki beberapa fungsi yaitu antioksidan (Nunez-Selles, 2005), antimikrobia (Wauthoz dkk, 2007), antielergi (Rivera dkk, 2006), antidiabetes (Yoshiga dan Raveesha, 2010), dan pelindung dari radioaktif (Jagetia dan Vankatesha, 2005).

3. Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Mangga Dengan Pelarut Etanol Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Pada Suhu Kamar Selama 24 Jam.

Penghambatan pertumbuhan bakteri terhadap senyawa antimikrobia didasarkan pada kemampuan bakteri untuk tumbuh pada beberapa konsentrasi ekstrak daun mangga yang diujikan. Perhitungan pertumbuhan bakteri dari bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dilaksanakan dengan metode perhitungan cawan (Total Plate Count)

Dari hasil perhitungan pertumbuhan bakteri, dapat dilihat pada Tabel 5. dan dari Tabel 5. tersebut dapat dilihat bahwa jumlah populasi bakteri Escherichia coli tertinggi dihasilkan dari jenis pelarut etanol dengan konsentrasi 100% sebesar 5.09 Log CFU. Sedang jumlah populasi terendah pada konsentrasi 25% sebesar 8.23 Log CFU. Dari Tabel 5. juga dapat dilihat bahwa konsentrasi efektif ekstrak daun mangga pada konsentrasi 100% dan 75% jika dibandingkan dengan kontrol dapat dinyatakan bahwa penurunan total bakteri sebesar 4 Log Cycle, diikuti konsentrasi 50% dan 25% yaitu sebesar 2 Log Cycle dan 1 Log Cycle. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun mangga, semakin sedikit bakteri

40

yang bisa tumbuh dan semakin banyak bakteri yang mampu dihambat. Penghambatan terhadap bakteri tersebut dilihat dari adanya penurunan jumlah bakteri pada masing-masing konsentrasi dibanding kontrol. Besarnya nilai penghambatan berkisar antara 0.09-4.32 Log CFU.

Untuk lebih jelasnya, nilai konsentrasi ekstrak daun mangga dengan pelarut etanol terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus pada suhu kamar selama 24 jama dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Perhitungan Konsentrasi Ekstrak Daun Mangga Dengan Pelarut Etanol Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Pada Suhu Kamar Selama 24 Jam. Bakteri Konsentrasi Ekstrak Daun Msngga Log CFU Escherichia coli 100% 5.09 75% 5.20 50% 7.13 25% 8.32 Kontrol 9.41 Staphycoccus aureus 100% 6.14 75% 6.88 50% 7.07 25% 8.25 Kontrol 9.43

Penghambatan pertumbuhan terhadap bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan tidak adanya perbedaan dengan pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Nilai penghambatan pertumbuhan tertinggi yang dihasilkan terhadap Staphylococcus aureus pada konsentrasi 100% (6.14 Log CFU) dan yang terendah pada konsentrasi 25% (8.25 Log CFU). Dari Tabel 5. juga dapat dilihat bahwa konsentrasi efektif ekstrak daun mangga pada konsentrasi 100% dan 75% jika dibandingkan dengan kontrol dapat dinyatakan bahwa penurunan total bakteri sebesar 3 Log Cycle, diikuti konsentrasi 50% dan 25% yaitu sebesar 2 Log Cycle dan 1 Log Cycle. Sama seperti pada penghambatan pada bakteri Escherichia coli bahwa semakin tinggi konsentrasinya, makin banyak bakteri Staphylococcus

aureus yang dihambat. Besarnya nilai penghambatan berkisar antara 0.18-3.29 Log CFU.

Gambar 8. Grafik Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

Dari Gambar 8. diatas, nilai penghambatan terhadap kedua bakteri diatas dapat dilihat bahwa penghambatan pertumbuhan lebih besar pada bakteri Staphylococcus aureus dibandingkan bakteri Escherichia coli atau dengan kata lain bakteri Escherichia coli lebih peka terhadap senyawa antimikrobia yang terdapat dalam daun mangga. Atau dengan kata lain bakteri Staphylococcus aureus lebih resisten daripada bakteri Escherichia coli. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan struktur dinding sel. Dimana Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif sedangkan bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif, dimana keduanya memiliki struktur dinding sel yang berbeda. Bakteri Gram negatif lebih banyak mengandung lipid, sedikit peptigoglikan, membran luar terdiri dari fosfolipid (lapisan dalam), dan lipopolisakarida (lapisan luar). Sedangkan bakteri Gram positif memiliki struktur dinding sel dengan banyak peptidoglikan, sedikit lipid, dan dinding sel mengandung polisakarida (asam teikoat) (jawetz dkk (2005) didalam Fajar (2010).

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 100 75 50 25 kont rol Escherichia Coli St aphylococcus aureus

42 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Aktivitas antimikrobia dengan menggunakan pelarut etanol konsentrasi 100% terhadap bakteri Escherichia coli tertinggi dengan sebesar 2.5 cm dan aktivitas antimikrobia terendah dengan pelarut air konsentrasi 25% sebesar 1.4 cm, sedangkan untuk aktivitas antimikrobia terhadap bakteri Staphylococcus aureus tertinggi dengan menggunakan pelarut etanol konsentrasi 100% sebesar 2.3 cm dan aktivitas antimikrobia terendah dengan menggunakan pelarut air konsentrasi 25% sebesar 1.3 cm.

2. Hasil aktivitas antimikrobia dengan pengukuran zona hambatan menunjukkan bahwa pelarut etanol adalah pelarut terbaik, dan dengan dengan pelarut etanol tersebut dapat dideteksi bahwa dalam ekstrak daun mangga mengandung senyawa antimikrobia yaitu alkaloid dan fenol.

3. Konsentrasi penghambatan minimal untuk bakteri Escherichia coli dengan menggunakan pelarut etanol pada konsentrasi 75% dapat menurunkan sebesar 4 Log cycle, dan untuk bakteri Staphylococcus aureus dengan pelarut etanol pada konsentrasi 75% dapat menurunkan sebesar 3 Log cycle.

B. Saran

Perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan menggunakan metode

Dokumen terkait