• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap-Tahap Dalam Ritual Bakar Batu pada Masyarakat di

BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Tahap-Tahap Dalam Ritual Bakar Batu pada Masyarakat di

4.1 Tahap-Tahap Dalam Ritual Bakar Batu pada Masyarakat di Desa Lubuk Dendang

Pembakaran terdiri dari serangkaian tahap untuk menciptakan batu bata, karena pembakaran merupakan tahap yang menilai baik atau buruknya kualitas batu bata tersebut.

Hal ini dikarenakan tahap-tahap dalam pembakaran batu bata hanya dapat dilakukan sekali. Jika pada pembakaran pertama didapatkan hasil yang tidak baik, maka tidak dapat dilakukan pembakaran untuk kedua kali. Sehingga butuh kehati-hatian dan ketelitian dalam tahap pembakaran, karena akan berakibat pada kerugian yang akan dirasakan pengusaha batu bata. Batu bata yang gagal dalam melewati tahap-tahap pembakaran tampak dari batu bata yang pecah atau retak setalah pembakaran, strukturnya tidak keras dan kematangan yang tidak merata.

Desa Lubuk Dendang yang terletak di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu desa yang mayoritas masyarakatnya bekerja atau memiliki usaha batu bata. Pada masyarakat di Desa Lubuk Dendang juga memiliki tahap-tahap khusus dan sendiri untuk melakukan pembakaran batu bata agar dapat menghasilkan batu bata yang berkualitas baik. Karena lokasi dan lingkungan masyarakat yang masih sedikit tertinggal dari modernitas, maka tidak heran bahwa saat proses pembakaran tersebut sangat kental dengan banyaknya mitos yang turun menurun melalui lisan.

Walaupun pada kondisi yang sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi proses pembakaran batu bata, mulai dari kualitas adonan tanah, tingkat penjemuran batu bata, temperatur pembakaran, hingga sejumlah hal yang tidak terduga, untuk menghindri tumpukan batu bata yang tiba-tiba roboh ketika proses pembakaran dan lain-lain

Namun untuk mengurangi risiko tersebut, mayoritas pengusaha batu bata di Desa Lubuk Dendang mengerjakan ritual sebelum proses pembakaran. Adapun proses ritual yang dilakukan lumayan bervariasi, dan sesuai dengan cerita lisan tau mitos yang sudah turun temurun dimasyarakat. Modernisasi tidak sepenuhnya melunturkan adat istiadat dengan ritual tersebut. Oleh karena itu hingga kini, masih terdapat banyak pengusaha batu bata yang melestarikan tradisi tersebut. Diantaranya adalah ibu Yeti, Sahdiya dan Bapak Misroh, pengusaha batu bata asal Desa Lubuk Dendang ini, sampai kini masih

melestarikan dan mengerjakan tradisi tersebut.

Bagi mereka tradisi dan ritual tersebut telah menjadi kebiasaan turun temurun, sebagai cara meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk dilancarkan usahanya. Namun pada beberapa masyarakat ada juga yang hanya melakukan sekali seumur hidup, atau tidak setiap saat mau melakukan pembakaran batu bata. Adapun tujuannya adalah sebagai motivasi untuk menghormati kebiasaan turun temurun yang terdapat di Desa Lubuk Dendang dan tidak menjadikannya rutinitas karena dalam proses pembakaran batu bata poin terpentingnya ialah kemantapan bakal hasil yang baik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Misroh selaku salah satu orang yang mengetahui cerita lisan mengenai ritual dalam tahap-tahap pembakaran batu menjelaskan bahwa cerita lisan yang berkembang di masyarakat menjelaskan apabila sebelum proses pembakaran batu bata harus dilaksanakan beberapa tahap untuk ritual. Tahap ritual dilaksanakan dengan menyediakan ayam kampung jantan yang dipanggang dan pulut

kuning dengan membaca doa yang dikhususkan dalam pembakaran batu bata. Ritual ini ditujukan agar tahap pembakaran dapat menghasilkan batu bata dengan kualitas terbaik

Adapun tahap-tahap dalam pembakaran batu bata tersebut lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut :

1.

Menyediakan ayam kampung jantan panggang, pulut kuning, dan bunga rampai menyimbolkan keharuman yang memberikan kesegaran dan ketenangan jiwa kepada yang mendapat bunga Ayam kampung jantan menyimbolkan kekuatan dan pulut kuning menyimbolkan keeratan. Berdasarkan cerita lisan yang turun menurun, masyarakat setempat percaya dengan syarat ini maka batu bata yang dibakar akan lebih kuat dan lebih erat, sehingga tidak mudah pecah atau retak.

Adapun tampak ayam kampung jantang panggang dan pulut kuning adalah sebagai berikut:

Gambar 4.1 Ayam Kampung Jantan dan Pulut Kuning

Gambar 4.2 Pulut Kuning dan Bunga Rampai

2.

Mengundang tetua adat seperti ustad

Mengundang tetua adat seperti ustad bertujuan untuk memberi nasihat dan membacakan doa ritual sebelum memulai pembakaran batu bata. Dengan adanya tetua adata atau ustad dalam ritual ini akan memberikan semangat dan keyakinan akan keberhasilan proses pembakaran batu bata.

3.

Membaca doa ritual

Membaca doa ritual bertujuan untuk mendapatkan keselamatan dari sang pencipta, dan kemudahan dalam proses pembakaran batu bata sehingga memperoleh hasil yang diinginkan. Adapun doa yang dibaca adalah sebagai berikut:

Gambar 4.3 Doa Ritual Dalam Proses Pembakaran

4.

Memilih tanah

Tahap pemilihan tanah merupakan tahap selanjutnya untuk dapat memperoleh batu bata yang berkualitas. Tahap ini dilakukan dengan ketelitian dan tidak sembarang orang dapat melakukannya, karena dalam memilih tanah harus mengenal tekstur dan kepadatan tanah.

5.

Mencetak tanah

Tahap mencetak tanah merupakan tahapan yang selanjutnya, dan dilakukan juga dengan kehati-hatian serta ketelitian, karena hasil cetakan akan menentukan kepadatan batu bata, jadi harus benar-benar tidak ada ruang atau rongga saat pencetakan. Adapun proses pencetakan batu bata dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 4.4 Proses Pencetakan Tanah

Gambar 4.6 Alat Penggiling Tanah

Proses pembuatan batu bata ini menggunakan tanah galong dan tanah merah, menjadi satu dengan menggunakan mesin penggiling dan ditambahkan air sedikit demi sedikit. Proses penggilingan dilakukan kurang lebih 2 jam.

Tanah yang sudah tercampur rata kemudian didiamkan selama 1 malam agar kandungan airnya berkurang, sehingga memudahkan proses pencetakan. Setelah didiamkan 1 malam, tanah siap dicetak dengan cetakan khusus yang terbuat dari kayu

berbentuk petak, terdapat 2 ukuran cetakan yang masing-masing memiliki 5 lobang cetakan dan 10 lobang cetakan.

Gambar 4.5 Alat pencetak batu

Cuaca juga dapat membantu proses pengeringan batu. Jika panas terik dalam waktu tiga hari maka batu dapat dibakar. Jika mendung atau musim hujan kira-kira lima hari sudah bisa dibakar.

Sebelum proses pembakaran batu maka ada penyusunan batu, terdapat dua bentuk susunan batu yang pertama adalah susunan batu pada saat penjemuran dengan membuat satu barisan memanjang dengan tinggi tumpukan kira-kira satu meter. Yang kedua, susunan batu saat pembakaran terlebih dahulu batu dialasi dengan plastik agar tidak meresap air tanah. Kemudian disusun membentuk leter

“N” hingga tinggi lalu kulit padi ditabor pada sela-sela batu hingga padat agar mudah terbakar.

Sebelum diadakan proses bakar batu biasanya dilakukan doa selamatan yang akan dibawakan oleh seorang informan yang bernama Wak Kisroh. Doa selamatan dilakukan sebagai upaya menyertakan Yang Maha Kuasa, sebagai bentuk rasa syukur karena sebagai mana dalam ajaran Islam bahwa manusia berasal dari tanh dan mendapat sumber

kehidupan tanah, sepenggal doanya adalah :

Aku berniat membakar tanah menjadi batu

Aku meminta izin, jangan beri ganjaran pada keluargaku

Sehatlah kami semua

Tanah menjadi batu

Takkan mungkin batu kembali menjadi tanah

Selain diberi doa syarat yang lain yaitu bunga tujuh warna dan telur ayam kampung.

Kemudian diletakkan dibagian sudut yang aman agar tidak tersenggol. Kemudian batu yang disusun tersebut dibakar dengan sekam atau kulit padi yang sudah ditaburkan di sela-sela susunan batu.

Gambar 4.6 Pentaan Batu yang Sudah di Cetak

6. Menjemur tanah

Menjemur tanah dilakukan sebelum melakukan pembakaran agar tanah dapat padat atau terbebas dari kandungan air, sehingga proses pembakaran dapat berlangsung dengan cepat dan lebih baik. Adapun proses penjemuran batu dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 4.7 Penjemuran Batu Bata

Gambar 4.8 Penjemuran Batu Bata

7. Melakukan pembakaran

Melakukan pembakaran adalah proses atau tahap akhir untuk memperoleh batu bata. Proses ini dilakukan dengan hati-hati dan ketepatan waktu, karena harus diperhatikan suhu kepanasan dalam pembakaran batu bata, dan juga tanah harus benr-benar matang, sehingga batu bta tidak mudah rusak.

Adapun proses pembakaran dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 4.9 Proses Bakar Batu Bata

Gambar 4.10 Susunan Dasar Batu

Melalui tahapan tersebut dapat terlihat bahwa kesakralan kehidupan masyarakat di Desa Lubuk Dendang yang tercermin dalam tahap pembakaran batu bata dengan

banyaknya kegiatan yang turun temurun dilakukan khususnya ritual dan doa untuk melakukan pembakaran batu bata. Proses pembuatan batu-bata dianggap sakral bukan tanpa alasan selain karena cerita lisan yang menjadi kepercayaan turun temurun, selain itu

juga karena batu-bata merupakan bahan pokok dalam pembuatan sebuah rumah yang diharapkan mampu menjadi tempat yang bisa memberikan keteduhan, kedamaian, dan harmoni bagi setiap keluarga yang menempatinya, sehingga apabila dalam proses pembuatannya mengandung unsur ketuhanan melalui ritual dan doa, masyarakat

menganggap bahwa hal tersebut akan terwujud. Kemudian juga ada pantang larang dalam proses pembakaran batu bata, yaitu wanita hamil dilarang terlibat dalam proses

pembakaran batu, tidak boleh pacaran/selingkuh didaerah tersebut, dan tidak boleh angkuh, karena dipercaya dapat menimbulkan celaka dan batu yang di bakar tidak masak atau hasilnya tidak maksimal Selain itu dalam proses pembuatan batu-bata tergambar jelas saat tahap pembakaran dengan mempertaruhkan keberhasilan, karena pembuatan batu bata terletak pada proses ini. Karena itu, tidak jarang ritual dengan memanggang ayam

kampung jantan dan pulut kuning mewarnainya secara sederhana menjelang pembakaran batu bata dimulai. Keluarga pembuat atau pengusaha batu bata akan mengundang tetangga dekat untuk berdoa bersama, pada saat itulah dipanjatkan doa khusus yang sudah turun temurun dibacakan dan pengharapan agar tidak ada hambatan dalam proses pembakaran batu bata yang dipimpin oleh tetua di desa atau seorang ustad.

Selanjutnya terdapat pula keyakinan lain yang juga sudah secara turun temurun dilakukan dan atas kesadaran bahwa semua tahap pembuatan batu bata juga bergantung pada alam. Hal tersebut adalah keyakinan masyarakat dari cerita orang-orang terdahulu bahwa ada kekuatan luar biasa diluar diri mereka yang menjunjung ikatan atas manusia, alam, dan tuhan. Oleh karena itu setiap setelah melakukan ritual pembakaran, keluarga atau pengusaha batu bata yang memiliki hajat untuk membuat jimat penolak hujan. Jimat tersebut dibuat dari sapu lidi yang diletakkan secara terbalik, yaitu ujung lidinya

ditancapkan bawang merah dan bawang putih, yang kemudian jimat tersebut diletakkan di sekitar area pembuatan batu bata.

Hal itu semua sudah dilakukan sejak tahun 1976 sejak pertama kali masyarakat melakukan pembakaran batu bata atau memulai usaha batu bata. Terdapat pula doa yang harus dibacakan dalam peletakan jimat penolak hujan, yang secara umum doa tersebut berisi permohonan agar tidak turun hujan selama proses pembuatan batu bata sampai selesai. Selain itu penataan batu bata mentah yang akan dibakar pun tidak sembarangan, karena arah angin menjadi salah satu pertimbangan dalam proses penataan. Batu bata ditata secara rapi menjulang ke atas dengan beberapa lubang di bagian bawah untuk memasukan kayu bahan pembakaran batu bata dan akan tampak seperti bangunan persegi dengan empat sudut sebagai berikut:

Gambar 4.11 Penataan Batu Bata Saat Proses Pembakaran

Gambar 4.12 Proses Pembakaran Batu

Terdapat pula kepercayaan bahwa batu-bata tidak akan matang secara sempurna jika salah satu syarat dan ritual tidak terpenuhi saat proses pembakaran dilakukan, selain itu peletakan seperti itu juga bertujuan agar batu bata dapat matang secara merata.

Kemudian seandainya kayu hanya diletakkan di beberapa sisi, maka batu bata yang matang pun hanya di area peletakan tersebut. Selanjutnya setelah semua rangkaian pembuatan batu bata selesai, keluarga atau pengusaha yang membuat batu bata juga kembali melakukan ritual sebagai ungkapan rasa syukur karena telah diberikan kelancaran dalam proses pembuatan batu bata. Masyarakat Desa Lubuk Dendang memiliki

kepercayaan yang kuat karena cerita lisan yang turun temurun dari orang terdahulu bahwa batu-bata yang dihasilkan dari pembuatan dengan berbagai ritual tersebut akan lebih awet Apabila dilihat dari sudut pandang sastra melayu, tahap-tahap dalam ritual pembakaran batu bata pada masyarakat di Desa Lubuk Dendang termasuk kedalam sastra lisan. Karena terdapat budaya atau kebiasaan yang disebarkan dari mulut ke mulut secara turun temurun

dan lahir dalam masyarakat seterusnya hingga saat ini, sehingga menggambarkan ciri khas masyarakat di Desa Lubuk Dendang.

Seperti yang diungkapkan oleh Hutomo (1991) bahwa sastra lisan dapat dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:

1.

Ekspresi budaya yang disebarkan, baik dari segi waktu maupun ruang melalui mulut

2.

Lahir dalam masyarakat yang bercorak desa, di luar kota atau masyarakat yang belum mengenal huruf

3.

Menggambarkan ciri budaya suatu masyarakat, sebab merupakan warisan budaya

4.

Tidak diketahui siapa pengarangnya

5.

Bercorak puitis, teratur, dan formulaik, maksudnya untuk menguatkan ingatan dan menjaga keaslian agar tidak cepat berubah

6.

Tidak mementingkan fakta

7.

Terdiri dari berbagai versi

8.

Menggunakan gaya bahasa lisan, mengandung dialek, kadang-kadang tak lengkap

4.2 Nilai yang Terkandung Dalam Ritual Bakar Batu pada Masyarakat di

Desa Lubuk Dendang

Terdapat beberapa nilai budaya yang terkandung dalam ritual pembakaran batu bata pada masyarakat di Desa Lubuk Dendang, dintaranya adalah:

1. Nilai Agama

Nilai agama tercermin dari ritual yang dilakukan dengan membaca doa-doa yang ditujukan kepada sang Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan keselamatan dan keberhasilan dalam pembuatan batu bata. Menurut Syafiie (2004)⁠ agama adalah suatu unsur mengenai pengalaman yang dipandang mempunyai nilai tertinggi, yaitu pengabdian kepada suatu kekuasaan yang

dipercayai sebagai sesuatu yang menjadi asal mula segala sesuatu, kemudian yang menambah dan melestarikan nilai-nilai serta sejumlah ungkapan yang sesuai dengan urasan pengabdian tersebut, baik dengan jalan melakukan upacara yang simbolis maupun melalui perbuatan yang bersifat perseorangan ataupun secara bersama-sama.

2. Nilai Budaya

Nilai budaya terlihat dari keteguhan masyarakat dalam

mempertahankan kebiasaan atau kepercayaan yang sudah ada sejak turun temurun meskipun mereka hanya mendengar cerita lisan dari mulut ke mulut. Menurut Syaifuddin (2014)⁠ nilai budaya sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi terhadap hidup, bersifat umum. Seblaiknya, norma yang berupa aturan-aturan untuk bertindak bersifat khusus, sedangkan perumusannya bersifat amat terperinci, jelas, tegas, dan tidak meragukan. Hal itu memang seharusnya demikian, sebab kalau terlampau dan luas lingkupnya, serta terlampau kabur perumusannya, maka norma tersebut tidak dapat mengatur tindakan individu dan membingungkan individu bersangkutan.

Menurut Koentjaraningrat (2014)⁠ dalam konteks kebudayaan nasional Indonesia, budaya merupakan hasil karya putra indonesia dari suku bangsa manapun asalnya yang penting khas dan bermutu sehingga sebagian besar orang Indonesia bisa mengendifikasikan diri dan merasa bangga dengan karyanya.

Kebudayaan Indonesia yaitu suatu kondisi majemuk karena ia bermodalkan berbagai kebudayaan, yang berkembang menurut tuntutan sejarahnya sendiri- sendiri. Pengalaman serta kemampuan daerah itu memberikan jawaban terahadap masing-masing tantangan yang memberi bentuk kesenian yang merupakan dari kebudayaan. Apa-apa saja yang menggambarkan kebudayaan, misalnya ciri khas:

(1) rumah adat, (2) alat musik, (3) kriya ragam hias, (4) properti kesenian, (5) pakaian daerah, (6) benda seni, (7) adat istiadat. Melalui hal tersebut juga tampak bahwa salah satu yang mencirikan nilai budaya pada ritual pembakaran batu bata di Desa Lubuk Dendang adalah adanya adat istiadat masyarakat setempat dalam mempercayai ritual pembakaran batu bata.

3. Nilai Solidaritas

Nilai solidaritas dalam ritual pembakaran batu bata terlihat dari keterbukaan keluarga atau pengusaha batu bata untuk mengundang masyarakat setempat atau tetangga terdekat untuk melaksanakan ritual. Menurut Syafiie (2004)⁠ secara umum solidaritas merupakan rasa kesatuan kepentingan atau rasa simpati, sebagai salah satu bagian dari lingkungan yang sama atau bisa diartikan perasaan atau ungkapan dalam sebuah kelompok yang dibentuk oleh kepentingan bersama.

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang sangat

membutuhkan orang lain disekitarnya. Multikulturalisme yang ada di indonesia menyebutkan bahwa indonesia mempunyai banyak keragaman dan kekayaan yang sangat membutuhkan solidaritas antara sesama demi terwujudnya kehidupan yang harmonis.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat diuraikan kesimpulan sebagai berikut:

1.

Tahap-tahap ritual dalam pembakaran batu bata terdiri dari menyediakan ayam kampung jantan panggang dan pulut kuning, bunga rampai, mengundang tetua adat seperti ustad, membaca doa ritual, memilih tanah, mencetak tanah, menjemur tanah, dan melakukan pembakaran.

2.

Sastra lisan dikelompokkan berdasarkan ekspresi budaya yang disebarkan, lahir dari masyarakat yang bercorak desa, menggambarkan ciri budaya suatu masyarakat, tidak diketahui siapa pengarangnya, bercorak puitis, teratur, dan menjaga keasliannya, tidak mementingkan fakta, terdiri dari berbagai versi, menggunakan gaya bahasa lisan.

3.

Terdapat beberapa nilai budaya yang terkandung dalam ritual pembakaran batu bata pada masyarakat di desa lubuk dendang, diantaranya adalah nilai agama, nilai budaya, dan nilai solidaritas.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan terkait dengan hasil penelitian ini adalah:

1.

Masyarakat Desa Lubuk Dendang harus dapat mempertahankan tradisi ritual bakar batu yang sudah ada sejak dahulu kala, demi menjaga kebudayaan yang ada pada masyarakat setempat, selain itu juga perlu melakukan modernisasi agar hasil batu bata jauh lebih baik lagi.

2.

Nilai-nilai budaya yang terdapat pada ritual bakar batu di Desa Lubuk Dendang memiliki artian khusus yang sangat penting bagi kerukunan antar masyarakat setempat, hal ini perlu dikembangkan dan dipertahankan hingga ke generasi berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Agni, B. 2009. Sastra Indonesia Lengkap Pantun Puisi Majas Peribahasa KataMutiara.

Jakarta: Hi-Fest Publising.

Agus, B. 2007. Agama Dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Amir, A. 2015. Sastra Lisan Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Elas, E. 2018. Keunikan Acara Adat Bakar Batu dan Noken Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Masyarakat di Papua. E-Journal, Vol. 2(No. 1).

Hutomo, S. S. 1991. Mutiara yang Terlupakan: Pengantar Stuidi Sastra Lisan.

Surabaya: HISKI Komisariat Jawa Timur.

Koentjaraningrat. 2014. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Lathifah, A. 2017. Sakralitas Pembuatan Batu-Bata. E-Journal, Vol. 2(No. 1).

Robbins, S., & Rappaport, R. A. 1971. Pigs for the Ancestors: Ritual in the Ecology of a New Guinea People. Ethnohistory.

https://doi.org/10.2307/481317.

Saryono. 2009. Pengantar Apresiasi Sastra. Malang: Universitas Negeri Malang.

Sukirman. 2017. Sakralitas Pembuatan Batu Bata. E-Journal2, Vol. 2(No. 1).

Syafiie, I. K. 2004. Pengantar Filsafat. Bandung: PT. Refika Aditama.

Syaifuddin, W. 2014. Menjulang Tradisi Etnik. Medan: USU Press.

LAMPIRAN

Pekerjaan : Wirawasta

DOKUMENTASI

Bersama Ibu Yeti Handayani (Yeti)

Bersama Ibu Sahdia (Buk Tua)

Bersama Misroh (Hisroh)

Susunan Dasar Batu Bata Untuk Dibakar

Batu Bata Yang Sedang Dibakar

Tanah Liat Untuk Membuat Batu Bata

Tanah Galong Untuk Membuat Batu Bata

Proses Pencetakan Batu Bata

Dokumen terkait