• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Implementasi M-KRPL

4.3.2. Tahapan Pelaksanaan Implementasi M-KRPL

Pelaksanaan implementasi M-KRPL terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu sosialisasi, implementasi, dan pendampingan. Sosialisasi dari masing-masing lokasi berbeda waktu pelaksanaannya, sedangkan implementasi dan pendampingannya relatif sama. Sosialisasi dan implementasi M-KRPL tersaji pada Tabel 6.

Lokasi Pengembangan Model Rumah Pangan Lestari pada tahun 2013 dengan agroekosistem Spesifik Dataran Rendah dan Dataran Tinggi di 10 Kabupaten dan Kota. Agroekosistem dataran rendah di 7 Kabupaten/Kota yaitu Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Kaur, Kabupaten Seluma, dan Kabupaten Mukomuko. Komoditas yang digunakan adalah sayuran dataran rendah (Cabe, tomat, kol bunga, kol daun, Kacang panjang, terong, ubi jalar, ganyong, dan lain-lain). Sedangkan agroekosistem dataran rendah di 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten

23

Rejang Lebong. Komoditas yang digunakan adalah bunga dan sayuran dataran tinggi (Bunga, bio farmaka, ubi jalar, daun bawang, seledri, cabe, selada, dan lain-lain).

Tabel 6. Sosialisasi Kegiatan M-KRPL Provinsi Bengkulu Tahun 2013

Lokasi Sosialisasi Implementasi

Desa Lagan Kecamatan Talang Empat Kabupaten Bengkulu Tengah

25 April Nara Sumber (Materi teknologi budidaya, administrasi kelompok, KBD, dan Pengolahan Hasil) Penyampaian materi dan desa dapat dilakukan secara estafet oleh Penyuluh Pertanian Lapangan. Untuk pelatihan PL II dan III disesuaikan dengan kebutuhan untuk

Desa Air Meles Bawah Kecamatan Curup Timur

Desa Air Sulau Kecamatan Manna Kabupaten Bengkulu

24 Participatory Rural Appraisal (PRA)

Pada tahun 2013, PRA telah dilaksanakan di 10 kabupaten/kota, secara ringkas hasil PRA disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Ringkasan hasil PRA di Desa Replikasi M-KRPL Provinsi Bengkulu Tahun 2013

No. Kabupaten Tempat dan Waktu Teknologi Existing Inovasi yang dilaksanakan 1. Kaur Kelurahan Bandar,

kecamatan Kaur Selatan

22-25 Mei

1. lahan pekarangan ditanami tanaman campuran

2. penataan komoditas masih seadanya tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, kangkung, timun, pare)

2. Bengkulu

Selatan Desa Air Sulau, Kecamatan Kedurang Ilir

14-17 Maret

1. lahan pekarangan ditanami tanaman campuran

2. penataan komoditas masih seadanya tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, kangkung, timun, pare)

3. Seluma Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Sukaraja 29-30 April

1. lahan pekarangan ditanami tanaman campuran

2. penataan komoditas masih seadanya 3. tanaman yang

ditanam tidak dipupuk, varietas asalan

4. halaman sebagian dipagar, ayam, sapi, tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, kangkung, timun, pare)

25 4 Bengkulu

Utara Desa Talang Rendah, Kecamatan Hulu

1. lahan pekarangan ditanami 1. Lahan pekarangan

telah diusahakan tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, kangkung, timun, pare)

5 Kepahiang Desa Air Sempiang, Kecamatan

Kabawetan 19-20 April

1. Lahan pekarangan telah diusahakan tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, kangkung, timun, pare)

6. Bengkulu

Tengah Desa Jaya Karta, Kecamatan Talang

1. Lahan pekarangan belum diusahakan

1. Lahan pekarangan telah diusahakan tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, kangkung, timun, pare)

26 7. Lebong Desa Daneu,

Kecamatan Lebong Atas

11-13 April

1. Lahan pekarangan belum diusahakan sayuran

2. Penataan lahan masih belum tertata 3. Ternak sapi terbatas 4. Halaman tidak

dipagar

Jumlah anggota : 30 Tanaman : sayuran (cabe,terung, tomat, kol bunga)

Demplot (cabe,terung, tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, kangkung, timun, pare) 8. Kota

Bengkulu Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan

1. Lahan pekarangan telah diusahakan

1. Lahan pekarangan telah diusahakan tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, tomat, kol bunga sawi, kacang panjang, bayam, kangkung, timun, pare) Sumber : laporan LO Kabupaten

Untuk meningkatkan adopsi petani terhadap teknologi yang akan dilaksanakan diperlukan adanya suatu pendekatan dan pemahaman wilayah secara partisipatif (Participatory Rural Appraisal) yang dilaksanakan sebelum implementasi suatu kegiatan. Participatory Rural Appraisal (PRA) merupakan suatu metode pemahaman lokasi dengan cara belajar dari, untuk dan bersama masyarakat, untuk mengetahui, menganalisis dan mengevaluasi hambatan dan kesempatan melalui multidisiplin. Dari kegiatan PRA diharapkan akan menghasilkan pemberdayaan, yakni setiap orang berhak menyatakan pendapat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupannya. Pelaksanaan PRA ditekankan pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan serta peningkatan kemandirian dan kekuatan internal.

27

Tujuan dari pelaksanaan PRA dalam kegiatan M-KRPL adalah :

1. Memperoleh gambaran kondisi eksisting dari adopsi komponen teknologi pemanfaatan lahan pekarangan.

2. Mengidentifikasi permasalahan dan kendala dalam aktifitas usahatani khususnya usahatani lahan pekarangan

3. Merumuskan strategi pembinaan, komoditas yang diminati, serta disain lahan yang akan diterapkan di setiap Desa.

Hasil PRA menunjukkan bahwa semua desa belum memahami teknologi yang ditunjukkan belum tertatanya tanaman di pekarangan yang belum tersusun dengan baik, tanaman yang diusahakan masih campuran, tidak dilakukan pemupukan dan benih sayuran yang ditanam asalan, semai sendiri dari pembelian produksi di pasar.

Kurangnya pemahaman terhadap komponen teknologi budidaya lahan di pekarangan merupakan permasalahan yang dominan, khususnya varietas yang cocok, penyiapan media tanam yang tepat, serta pengendalian hama/penyakit sayuran. Kurang pemahaman berarti petani masih belum mendapatkan materi yang memadai dari agen pembaharu, baik dari Generating System (Balit/Puslit Lingkup Badan Litbang Pertanian) maupun Delivery System (BPTP, SKPD, Lembaga Penyuluhan, Ditjen Teknis). Oleh karena itu peran penyuluh, materi penyuluhan dan metode penyuluhan sangat dibutuhkan.

Frekuensi kehadiran penyuluh belum menjamin mampu meningkatkan pemahaman petani. Penyuluh sebagai agen pembaharu harus lebih memahami kebutuhan dan kapasitas, serta selera petani sasaran. Secara umum metode praktek di lapangan yang paling diminati oleh petani, sebaliknya penyuluh sering melakukan penyuluhan dengan cara tatap muka dan diskusi. Perpaduan antara metode penyuluhan dan frekuensi penyuluhan diyakini mampu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman petani terhadap suatu teknologi.

Bimbingan Teknis

Bimbingan teknologi dilakukan melalui pelatihan teknis, apresiasi teknologi brtuijian untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan petani dalam melaksanakan teknis budidaya tanaman sayuran, pembuatan kompos,serta pembukuan kelompok (Tabel 8)

28

Tabel 8. Kegiatan Pelatihan, Apresiasi Teknologi Tahun 2013 No Kabupaten,

Tempat Jenis Pelatihan Jumlah Peserta

Perempuan Laki laki

Apresiasi teknologi : teknis budidaya dan pemupukan Teknis pengelolaan KBD Teknis pembuatan kompos limbah/ sampah rumah tangga Administrasi Kelompok

Air Bang Pelatihan pembuatan kompos Pelatihan teknis budidaya

tanaman 17 orang 3 orang

3 Bengkulu Tengah, Desa Lagan

Desa Daneu Pelatihan pembuatan kompos Pelatihan teknis budidaya tanaman, Teknis pengelolaan KBD dan pemeliharaan

18 orang 2 orang

5 Mukomuko,

Pondok Suguh Pelatihan pembuatan kompos Pelatihan teknis budidaya tanaman

Apresiasi teknologi : pemeliharaan tanaman

30 orang 7 orang

6 Bengkulu Selatan,

Desa Air Sulau Pelatihan pembuatan kompos Pelatihan teknis budidaya

tanaman 25 orang 5 orang

7 Seluma, Kelurahan

Sukaraja Apresiasi teknologi : teknis budidaya dan pemupukan

KBI telah memproduksi benih sayuran (Tabel 9) dan bibit ayam kampung unggul.

29

Tabel 9. Produksi Benih Sayuran di Kebun Bibit Inti (KBI)

NO SAYURAN JUMLAH Distribusi

1. Tomat Safira 50 gr Belum

2. Caisim (Sawi Manis) 100 gr Belum

3. Pare Belut 500 biji Belum

4. Gambas 500 biji Belum

5. Cabai Tanjung 50 gr Belum

6. Bayam Giti Merah 100 gr Belum

7. Terong Pondoh 100 gr Belum

8. Pepaya California 200 gr Belum

9. Bawang Merah 500 gr Belum

10. Ubi Jalar Beta 1

Perbanyakan

melalui stek batang Bengkulu Utara, Kaur, Mukomuko 11. Ubi Jalar Beta 2

12. Ubi Jalar Kidal

13. Ubi Jalar RIS 03.063-05

Turunan pertama pengembangan ayam KUB melalui penetasan telur yang dilakukan dengan metode SDMC (Spectrum Dimensi Multi Chanel), yaitu melalui peranan stakeholder dan peternak ayam yang langsung diaplikasikan pada pengguna. Dimana penetasan oleh unit KBI ayam KUB BPTP Bengkulu sudah menghasilkan bibit ayam KUB sebanyak 300 ekor yang disebarkan dan dipelihara oleh sebanyak 155 ekor oleh 7 peternak di dari Kota Bengkulu (130 ekor) dan Kabupaten Bengkulu Utara (25 ekor), sisanya sebanyak 145 ekor dikembangkan unit KBI ayam KUB BPTP Bengkulu sebanyak 145 ekor.

Sedangkan pengembangan ayam KUB melalui penetasan telur menggunakan pengeram langsung oleh induk ayam buras (kampung) lokal sedang mengeram milik peternak dan anak ayam yang dihasilkan langsung dipelihara dan dikembangkan peternak pemilik induk ayam, populasinya sudah mencapai 206 ekor yang dipelihara dan dikembang oleh 10 orang peternak ayam dari 3 kelurahan di Kota Bengkulu (177 ekor) dan 1 orang peternak ayam dari desa Sido Luhur Kabupaten Seluma (29 ekor). Sehingga secara keseluruhan penyebaran turunan pertama ayam KUB di Bengkulu sudah mencapai 506 ekor dari hasil penetasan telur turunan pertama menggunakan mesin penetasan telur (300 ekor) dan menggunakan induk ayam kampong lokal (206 ekor).

Pembinaan Teknis KBD dan Kelompok Binaan Lama

Pembinaan teknis KBD dan Kelompok binaan lama dilakukan pada KBD dan kelompok pada kegiatan 2012. Dari hasil monitoring, terjadi beberapa

30

penyesuaian demi keberlangsungan kegiatan. Perubahan yang terjadi tertuang pada tabel 10.

Tabel 10. Perubahan lokasi KBD dan perkembangan kelompok binaan di lokasi Lama

NO Kabupaten/Kota Lokasi lama Lokasi Baru Keterangan 1. Kab. Bengkulu Utara Desa Tebing

Kaning Desa Lubuk

Sahung Lokasi lama telah mendapat bantuan dari APBD I 2. Kab. Seluma Pengelola Bp.

Buang (KUB) Pengelola Bp Danuar

- Tidak dilanjutkan karena keinginan petani

4. Kota Bengkulu Pengelola ibu Novi Bergabung

dengan KBI Keinginan petani

Kebun Bibit Inti (KBI) merupakan kebun bibit yang ada di BPTP untuk menyiapkan benih tanaman yang dibutuhkan Kebun Bibit Desa (KBD). Tujuan KBD adalah untuk menyiapkan bibit yang kontinyu, dan varietas terjamin sehingga dapat mempertahankan kelestarian kawasan.

Hasil Survey

Pengembangan RPL di Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu oleh petani dilakukan berdasarkan beberapa hal, diantaranya adalah karena hobby dan karena adanya program dari pemerintah. Petani mendapatkan informasi mengenai RPL berdasarkan beberapa sumber. Sumber informasi dan alasan mengembangkan RPL tersaji pada tabel 11.

Tabel 11 menyatakan bahwa petani mendapatkan informasi tentang pengembangan RPL bersumber dari petugas (PPL) dan instansi pemerintah (BPTP, BKP, Bakorluh). Hobby merupakan alasan utama petani mengambangakan RPL, alasan lainnya adalah estetika/ keindahan, adanya program, dan membantu memenuhi kebutuhan dapur, memenuhi kebutuhan RT, mengurangi pengeluaran konsumsi RT.

31

Tabel 11. Sumber Informasi dan Alasan Petani mengembangkan RPL Tahun 2013 No. Kabupaten/Kota Informasi

Mengembangkan RPL (%)

Alasan Mengembangkan

RPL (%) 1. Kota Bengkulu 37,5% dari PPL 60% dikarenakan hobby 2. Kepahiang 50% dari institusi 55% dikarenakan hobby 3. Bengkulu Selatan 100% dari PPL 75% dikarenakan hobby

4. Kaur 95% dari PPL 65% dikarenakan alasan

lainnya, seperti: estetika/

keindahan, adanya program, dan membantu memenuhi kebutuhan dapur

5. Bengkulu Utara 97% dari PPL 73% dikarenakan alasan lainnya, seperti: estetika/

keindahan, adanya program, dan membantu memenuhi kebutuhan dapur

6. Seluma 65% dari PPL 60% dikarenakan hobby

7. Bengkulu Tengah 61,5% dari institusi 54% dikarenakan hobby 8. Mukomuko 36% dari institusi 57% dikarenakan alasan

lainnya: memenuhi kebutuhan RT,

mengurangi pengeluaran konsumsi RT

9. Lebong 70% dari institusi 85% dikarenakan hobby

Petani memiliki berbagai tujuan ketika mengikuti kegiatan pengembangkan RPL. Tujuan utama petani mengembangkan RPL berdasarkan prioritasnya tersaji pada Tabel 12.

32

Tabel 12. Tujuan Utama Petani Mengembangkan RPL di Provinsi Bengkulu Tahun 2013.

No. Kabupaten/Kota Tujuan Utama Mengembangkan RPL (Berdasarkan Prioritas)

1. Kota Bengkulu 1. Menambah pendapatan keluarga

2. Meningkatkan ketersediaan pangan keluarga 3. Mengurangi biaya untuk membeli kebutuhan

pangan

2. Kepahiang 1. Menambah pendapatan keluarga

2. Mengurangi biaya untuk membeli kebutuhan pangan

3. Meningkatkan ketersediaan pangan keluarga

3. Bengkulu Selatan 1. Menambah pendapatan keluarga

2. Meningkatkan ketersediaan pangan keluarga 3. Mengurangi biaya untuk membeli kebutuhan

pangan

4. Kaur 1. Meningkatkan ketersediaan pangan keluarga 2. Mengurangi biaya untuk membeli kebutuhan

pangan

3. Menambah pendapatan keluarga

5. Bengkulu Utara 1. Meningkatkan ketersediaan pangan keluarga 2. Mengurangi biaya untuk membeli kebutuhan

pangan

3. Menambah pendapatan keluarga

6. Seluma 1. Meningkatkan ketersediaan pangan keluarga 2. Mengurangi biaya untuk membeli kebutuhan

pangan

3. Menambah pendapatan keluarga 7. Bengkulu Tengah 1. Menambah pendapatan keluarga

2. Meningkatkan ketersediaan pangan keluarga 3. Mengurangi biaya untuk membeli kebutuhan

pangan

8. Mukomuko 1. Meningkatkan ketersediaan pangan keluarga 2. Mengurangi biaya untuk membeli kebutuhan

pangan

3. Menambah pendapatan keluarga

9. Lebong 1. Mengurangi biaya untuk membeli kebutuhan pangan

2. Meningkatkan ketersediaan pangan keluarga 3. Menambah pendapatan keluarga

33

Salah satu prinsip utama pengembangan KRPL adalah mendukung upaya peningkatan kesejahteraan keluarga. Pada kegiatan m-KRPL tahun 2013 rata-rata penambahan pendapatan anggota kelompok kegiatan m-KRPL sebesar Rp. 83.627,00

Inovasi yang Didiseminasikan

Dalam kegiatan M-KRPL tahun 2013 terdapat beberapa inovasi yang didiseminasikan antara lain:

1. Inovasi penyiapan media

 Teknis pembuatan kompos dari kotoran ternak (puyuh, sapi, kambing, dan sampah rumah tangga)

Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Proses pembuatan dan pemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat dimanfaatkan secara lebih efektif, menambah pendapatan peternak dan mengatasi pencemaran lingkungan.

Beberapa alasan mengapa bahan organik seperti kotoran ternak perlu dikomposkan sebelum dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman antara lain adalah : 1) bila tanah mengandung cukup udara dan air, penguraian bahan organik berlangsung cepat sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, 2) penguraian bahan segar hanya sedikit sekali memasok humus dan unsur hara ke dalam tanah, 3) struktur bahan organik segar sangat kasar dan daya ikatnya terhadap air kecil, sehingga bila langsung dibenamkan akan mengakibatkan tanah menjadi sangat remah, 4) kotoran ternak tidak selalu tersedia pada saat diperlukan, sehingga pembuatan kompos merupakan cara penyimpanan bahan organik sebelum digunakan sebagai pupuk (Peni Wahyu Prihandini dan Teguh Purwanto, 2007).

34

 Teknis pencampuran media semai

Media semai adalah media yang digunakan untuk menumbuhkan tanaman, persyaratan media yang baik adalah ringan, tidak mahal, seragam dan tersedia, media yang selama ini umum digunakan di tempat-tempat persemaian adalah lapisan tanah atas.

Selain itu penggunaan lapisan tanah atas dalam skala besar dapat mengakibatkan pengikisan secara meluas dan merusak lingkungan (Kostantina Rumpaidus, 2009). Media tanam yang digunakan adalah campuran antara tanah, pupuk kandang atau kompos, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1 (ukuran karung, atau gerobag dorong, bukan kilo gram). Setelah semua bahan terkumpul, dilakukan pencampuran hingga merata. Tanah dengan sifat koloidnya memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara, dan melalui air unsur hara dapat diserap oleh akar tanaman dengan prinsip pertukaran kation. Sekam berfungsi untuk menampung air di dalam tanah sedangkan kompos menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi unsur hara yang diperlukan tanaman.

 Teknis pencampuran media tanam

Media tanam adalah tempat tumbuhnya tanaman untuk menunjang perakaran. Dari media tanam inilah tanaman menyerap makanan berupa unsur hara melalui akarnya. Media tanam yang digunakan adalah campuran antara tanah, pupuk kandang atau kompos, dan sekam dengan perbandingan 2:2:1 (ukuran karung, atau gerobag dorong, bukan kilo gram). Setelah semua bahan terkumpul, dilakukan pencampuran hingga merata. Tanah dengan sifat koloidnya memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara, dan melalui air unsur hara dapat diserap oleh akar tanaman dengan prinsip pertukaran kation. Sekam berfungsi untuk menampung air di dalam tanah sedangkan kompos menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi unsur hara yang diperlukan tanaman.

Campuran media tanam kemudian dimasukkan ke dalam media tanam seperti polibag, bambu vertikultur hingga penuh. Media tanam di dalam bambu diusahakan agar tidak terlalu padat supaya air mudah mengalir, juga supaya akar tanaman tidak kesulitan “bernafas”, dan tidak

35

terlalu renggang agar ada keleluasaan dalam mempertahankan air dan menjaga kelembaban.

2. Inovasi Komoditas yang didiseminasikan adalah sayuran dataran rendah dan dataran tinggi:

 Teknologi budidaya sayuran secara vertikultur

Istilah vertikultur sesuai dengan asal katanya dari bahasa Inggris, yaitu vertical dan culture, maka vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat, baik indoor maupun outdoor. Sistem budidaya pertanian secara vertikal atau bertingkat ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaan dan lahan terbatas. Misalnya, lahan 1 meter mungkin hanya bisa untuk menanam 5 batang tanaman, dengan sistem vertikal bisa untuk 20 batang tanaman. Vertikultur tidak hanya sekadar kebun vertikal, namun ide ini akan merangsang seseorang untuk menciptakan khasanah biodiversitas di pekarangan yang sempit sekalipun. Struktur vertikal, memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya. Pertanian vertikultur tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga menciptakan suasana alami yang menyenagkan.

Model, bahan, ukuran, wadah vertikultur sangat banyak, tinggal disesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Pada umumnya adalah berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga atau para-para, dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah rak.

Bahan dapat berupa bambu atau pipa paralon, kaleng bekas, bahkan lembaran karung beras pun bisa, karena salah satu filosofi dari vertikultur adalah memanfaatkan benda-benda bekas di sekitar kita.

Persyaratan vertikultur adalah kuat dan mudah dipindah-pindahkan. Tanaman yang akan ditanam sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, dan berakar pendek. Tanaman sayuran yang sering dibudidayakan secara vertikultur antara lain selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun dan tanaman sayuran daun lainnya.

Untuk tujuan komersial, pengembangan vertikultur ini perlu dipertimbangkan aspek ekonomisnya agar biaya produksi jangan sampai

36

melebihi pendapatan dari hasil penjualan tanaman. Sedangkan untuk hobiis, vertikultur dapat dijadikan sebagai media kreativitas dan memperoleh panenan yang sehat dan berkualitas.

 Teknologi budidaya sayuran di Polibag

Hampir semua jenis tanaman Hortikultura dan yang berumur pendek dapat ditanam di dalam polibag. Produktivitas buah/hasil tidak berbeda jauh dengan yang ada di lahan, begitu pula mutu produk.

Bertanam di Polibag merupakan alternative pemecahan masalah bila kita memerlukan konsumsi segar buah/sayuran daun.

Pemilihan polibag sebagai wadah tanam untuk budidaya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dimilikinya seperti, harga murah, tahan karat, tahan lama, ringan bentuk seragam, tidak cepat kotor dan mudah diperoleh pada toko Saprodi, toko Plastik. Selain itu sangat baik untuk drainase, aerasi sehingga tanaman dapat tumbuh subur seperti dilahan. Penentuan ukuran Polibag yang cocok untuk pertumbuhan tanaman diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam penggunaan media dan nutrisi.

Keuntungan Pemakaian Polibag

 Biaya lebih murah untuk pembelian Polibag bertanam dibandingkan Pot

 Mudah dalam perawatan

 Pengontrolan / pengawasan per individu tanaman lebih jelas untuk pemeliharaan tanaman seperti serangan hama/penyakit, kekurangan unsur hara

 Tanaman terhindar dari banjir, tertular hama / penyakit.

 Polibag mampu di tambahkan bahan organik/pupuk kandang sesuai takaran

 Menghemat ruang dan tempat penanaman

 Komposisi media tanam dapat diatur

 Nutrisi yang diberikan dapat langsung diserap akar tanaman

 Dapat dibudidayakan tidak mengenal musim

 Sebagai Tanaman Obat dan Tanaman Hias di Pekarangan/Teras.

37 Kerugian

 Polibag mempunyai daya tahan terbatas ( maksimal 2-3 tahun) atau 2 - 3 kali pemakaian untuk media tanam

 Kurang cocok untuk usaha skala besar

 Produktivitas tidak masikmal dibandingkan pada lahan

 Media tanam akan terkuras / berkurang unsur organik dan media lainnya.

 Berat kalau dipindah ketempat yang jauh

 Teknologi budidaya sayuran di bedengan

Untuk lahan pekarangan : lahan diolah sedalam 30-40 cm sampai gembur, dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 30 cm, jarak antar bedeng 30 cm. Dibuat garitan-garitan atau lubang tanam dengan jarak tanam (50-60 cm) x (40-50 cm).

3. Inovasi Kebun Bibit Desa (KBD)

Ukuran KBD yang dianjurkan berukuran 3 x 5 m dan tinggi 2,5 m dengan bahan baku kayu dan atap plastik putih bening. Dalam perkembangannya ada yang membuat dengan ukuran lebih besar sesuai kebutuhan kelompok. Disamping rumah bibit, juga diinovasikan rak bibit, pengairan, dan pembibitan.

4. Inovasi Kebun Bibit Inti (KBI)

KBI di bangun di BPTP dengan tujuan menyiapkan bibit untuk KBD, sarana pembelajaran/kunjungan siswa, petani, dan petugas. KBI dibangun 2 unit dengan bahan baku dari kayu sebagai contoh rumah bibit sederhana berbiaya murah dan rumah bibit dengan bahan baku besi.

5. Inovasi irigasi tetes

Sebagai antisipasi musim kemarau panjang dan efisiensi untuk menyiram juga diperkenalkan inovasi irigasi tetes yaitu irigasi untuk polibag, irigasi untuk bedengan di tanah dan irigasi untuk persemaian.

38 4.3.3. PERAN KELEMBAGAAN

Dukungan antar lembaga merupakan hal mutlak yang sangat dibutuhkan guna mendukung keberlanjutan kegiatan M-KRPL. Sinergi antar lembaga dilaksanakan berdasarkan program atau kegiatan masing-masing lembaga yang tujuan akhirnya sama yaitu menuju ketahanan pangan. Dukungan kelembagaan yang terjalin pada tahun 2013 adalah bersama Salimah.

Secara umum, tujuan dari pengembangan kerjasama pengembangan KRPL bersama pemangku kebijakan (stakeholders) adalah mempercepat pemanfaatan produk-produk unggulan Kementerian Pertanian, khususnya Badan Litbang Pertanian kepada masyarakat. Secara khusus, tujuan kegiatan ini adalah:

1. Bersinergi dalam mempercepat pelaksanaan Program Ketahanan Pangan Nasional, melalui pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL).

2. Memberikan pengetahuan teknik pengembangan dan replikasi KRPL.

3. Mengembangkan ekonomi produktif keluarga, hingga mampu meningkatkan kesejahteraan danmenciptakan lingkungan hijau, bersih, dan sehat secara mandiri.

4.4. Pengembangan Jejaring Kerjasama antar M-KRPL/KRPL dan

Dokumen terkait