APBD dan Pelayanan Publik
TAHAPAN PROSES
Pembukaan (5 menit)
Fasilitator menjelaskan secara singkat maksud dan tujuan dari Sesi ini. 1.
Fasilitator menjelaskan bahwa Sesi ini akan membahas tiga pokok bahasan utama, 2.
yaitu:
Pemahaman bersama tentang APBD a.
Asas Umum dan Fungsi APBD b.
Keterkaitan Anggaran dan Pelayanan Publik c.
Pokok Bahasan # 1 : Pengertian Anggaran
Permainan Rangkaian Kartu Kata Kunci (40 menit)
Fasilitator mengajak peserta untuk membuat defi nisi atau pengertian bersama 1.
tentang APBD.
Fasilitator melontarkan pertanyaan kunci mengenai:
2. “Apa yang Anda pikirkan
ketika mendengar kata Anggaran?”
Fasilitator kemudian menuliskan kata kunci dari semua pendapat peserta tentang 3.
APBD di dalam metaplan dan menempelkannya pada fl ip chart ataupun tempat yang tersedia, dan mengelompokkannya berdasarkan kata kunci yang sama. Fasilitator mengambil salah satu kata kunci dari setiap kelompok kata kunci 4.
kemudian merangkainya menjadi satu defi nisi APBD.
Fasilitator meminta perwakilan peserta untuk menyusun kalimat pengertian APBD 5.
berdasarkan rangkaian kata kunci, dan mencatatnya di dalam kertas metaplan Fasilitator kemudian menjelaskan beberapa
6. pointer penting berikut ini :
Bahwa banyak orang yang mengasumsikan anggaran dengan “uang dan angka-a.
angka” yang memusingkan. Itulah sebabnya, mengapa banyak masyarakat yang enggan terlibat dalam proses penyusunan anggaran. Padahal anggaran sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat dan lingkungannya. Anggaran adalah rencana, begitupula dengan APBD. Di dalam Permendagri b.
Nomor 13 Tahun 2006, APBD didefi nisikan sebagai rencana keuangan tahunan Pemerintah Daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan DPRD dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Karena merupakan rencana, anggaran bisa berubah. Prasyarat perubahan c.
APBD telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. (Lebih detail pembahasan tentang peraturan perundangan ini ada di materi Sesi 4)
Fasilitator melanjutkan pokok bahasan berikutnya dengan proses fasilitasi di 7.
Pokok Bahasan # 2 : Azas Umum dan Fungsi APBD Diskusi Kelompok dan Curah Pendapat (75 menit)
Fasilitator membagi peserta menjadi 3 kelompok dengan cara berhitung 1-3. 1.
Fasilitator membagikan kepada setiap kelompok berupa LBB 2.1: Permaianan 2.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Fasilitator mempersilakan masing-masing kelompok untuk berdiskusi selama 3.
45 menit sesuai dengan panduan yang ada dalam LBB 2.1. Selanjutnya, ketiga kelompok mempresentasikan hasil diskusi untuk masing-masing kelompok selama 30 menit.
Fasilitator mengajukan beberapa pertanyaan sebagai bahan diskusi curah pendapat 4.
dari hasil diskusi kelompok :
Bagaimana kelompok Anda menentukan prioritas dan pembagian alokasi a.
dana yang ada?
Apakah setiap usulan kelompok warga dapat dipenuhi? Kelompok manakah b.
yang tidak terpenuhi? Mengapa?
Untuk apa alokasi dana terbesar, dan untuk apa alokasi dana terkecil? c.
Mengapa?
Apa strategi yang dilakukan untuk memenuhi keterbatasan anggaran? d.
Mengapa strategi itu digunakan?
Prinsip-prinsip apa saja yang harus ada dalam penyusunan anggaran? e.
Fasilitator mencatat semua pendapat peserta di dalam
5. fl ip chart, dan kemudian
memberikan beberapa kesimpulan singkat di bawah ini:
Di dalam APBD, ada sejumlah sumber pendapatan yang akan digunakan untuk a.
mendanai berbagi pengeluaran yang didasarkan atas prioritas kebutuhan. Dalam proses penyusunan APBD ada fenomena
keterbatasan anggaran, yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi lebih banyak dibandingkan dengan dana yang tersedia. Oleh karena itu, muncul pentingnya membuat prioritas kebutuhan. Munculnya prioritas kebutuhan adalah hasil dari proses negosiasi antar kelompok masyarakat.
Ada kelompok yang belum bisa menyuarakan b.
kebutuhannya, yaitu anak kecil maupun warga miskin yang tidak tidak dilibatkan dalam proses penyusunan prioritas kebutuhan. Namun, kebutuhannya tetap terakomodasi jika perwa-kilan kelompok masyarakat yang terlibat memperhatikan kesejahteraan seluruh warga dengan mengakomodasi kebutuhan yang penting
dan spesifi k bagi warga miskin, anak-anak, perempuan dan laki-laki ke dalam prioritas pembangunan.
Catatan untuk Fasilitator: Apabila berdasarkan hasil pre test, peserta pelatihan lebih banyak yang belum memahami APBD, maka dianjurkan untuk menggunakan
LBB 2.2: Permainan APBK yang merupakan
pintu masuk untuk memahami APBD.
Secara fi losofi s, anggaran diperlukan oleh negara untuk menjamin eksistensi c.
dan membiayai pengelolaan negara. Sementara itu negara diperlukan untuk menciptakan keteraturan sosial, menjamin hak-hak masyarakat, dan menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat.
Sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, APBD mempunyai d.
tiga fungsi utama, yaitu alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Ketiga fungsi itu harus dimainkan secara seimbang dan proporsional.
Fasilitator memberikan penjelasan lebih detail tentang asas dan fungsi APBD 6.
dengan mempresentasikan materi dalam bentuk power point, serta membagikan kepada peserta berupa BB 2.1: Asas Umum dan Fungsi APBD.
Pokok Bahasan # 3 : Keterkaitan APBD dan Pelayanan Publik Permainan Puzzle (60 menit)
Fasilitator membagikan kepada setiap kelompok berupa paket kartu puzzle atau 1.
rangkaian gambar yang dapat memperlihatkan keterkaitan antara APBD dan pelayanan publik. Fasilitator meminta setiap kelompok merangkai kartu puzzle pada LBB 2.3 menjadi fl owchart yang dapat menggambarkan keterkaitan anggaran dan pelayanan publik selama 10 menit.
Fasilitator meminta perwakilan kelompok untuk menjelaskan hasil gambar puzzle 2.
yang telah mereka susun, dan meminta kelompok lain untuk menambahkan pendapatnya.
Fasilitator mengajukan beberapa pertanyaan kunci untuk memancing peserta 3.
memahami keterkaitan antara anggaran dan pelayanan publik:
Darimana sumber dana yang digunakan untuk membangun jembatan, jalan, a.
puskesmas, pasar, sekolah, dan lain-lain?
Siapa yang menyumbang dana untuk membangun semua itu? Siapa yang b.
mengelola uangnya?
Apakah yang menyumbang dana perlu tahu kemana uangnya dibelanjakan? c.
Fasilitator mencatat pendapat peserta dari ketiga pertanyaan kunci di atas. 4.
Fasilitator kemudian menjelaskan dan memberikan beberapa point kesimpulan di 5.
bawah ini:
Pembangunan jembatan, pasar, puskesmas, jalan, sekolah, rumah sakit, a.
penyediaan air bersih adalah bagian dari penyelenggaraan pelayanan publik. Penyelenggara pelayanan publik tersebut adalah pemerintah.
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik, pemerintah memerlukan dana. b.
Oleh karena itu, pemerintah mengumpulkan dananya melalui pajak dan retribusi yang dibayarkan oleh masyarakat. Masyarakat merupakan pembayar pajak dan retribusi untuk dana pelayanan publik. Pemerintah merupakan pengelola dana pelayanan publik.
Masyarakat sebagai pembayar pajak dan retribusi, berhak tahu kemana saja c.
wajib bertanggungjawab terhadap dana yang dikelolanya untuk dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk penyelenggaraan pelayanan publik yang dibutuhkan oleh masyarakat. Antara lain, sekolah yang layak, kesehatan yang mudah diakses warga masyarakat, dan transportasi yang mudah diakses untuk semua warga di perkotaan dan di pedesaan .
Disinilah salah satu fungsi anggaran dilaksanakan, yakni sebagai fungsi alo-d.
kasi. Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk kepentingan publik dan penyelenggaraan pemerintahan itu sendiri pada dasarnya dalam rangka pelayanan publik.
Dalam menyelenggarakan pelayanan publik, terdapat 6 (enam) asas yang e.
harus diacu oleh pemerintah sebagai penyedia layanan, yaitu: transparansi, akuntabilitas, kondisional, partisipatif, kesamaan hak, dan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Asas Transparansi
1. , bahwa pelayanan publik harus bersifat terbuka,
mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
Asas Akuntabilitas
2. , bahwa pelayanan publik harus dapat
dipertanggung-jawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Asas Kondisional
3. , bahwa pelayanan publik harus disesuaikan dengan
kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima layanan dengan tetap berpegang pada prinsip efi siensi dan efektivitas.
Asas Partisipatif
4. , bahwa pelayanan publik harus mendorong peran
serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.
Asas Kesamaan Hak
5. , bahwa pelayanan publik tidak diskriminatif dalam
arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, dan status ekonomi.
Asas Keseimbangan Hak dan Kewajiban
6. , bahwa dalam pelaksanaan
pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Lembar Bantu Belajar 2.1 :
Permainan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Aturan Main :
Masing-masing peserta dalam kelompok memilih peran profesi tertentu untuk 1.
dimainkan yang tentunya disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Misalnya menjadi petani, nelayan, penambang, pedagang, pengangguran, ibu rumah tangga, anak sekolah SD/SMP/SMA, dan lansia.
Tiap pemeran menuliskan kebutuhannya di kertas metaplan. 2.
Tiap pemeran menyampaikan kebutuhannya dalam Musyawarah Perencanaan 3.
Pembangunan.
Masing-masing kelompok membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 4.
(APBD) untuk periode satu tahun melalui proses diskusi dan negosiasi agar kebutuhan tiap anggota masyarakat dapat terakomodir. Dalam menentukan kebutuhan tiap pemeran juga harus mempertimbangkan adanya kebutuhan yang khas antara laki-laki dan perempuan, kebutuhan khusus balita, remaja, dan lanjut usia.
Kelompok I : Daerah X
Daerah X yang terdiri dari 4 kecamatan ini, merupakan daerah kering yang memiliki sumber daya alam berupa bahan tambang yang cukup banyak, diantaranya batubara, gas alam dan logam mulia. Kondisi geografi s Daerah X merupakan 50 persen wilayah perbukitan, 25 persen wilayah pertanian sagu, 10 persen wilayah persawahan, dan sisanya hutan tropis. Luas wilayah Daerah X adalah 500 hektare dengan luas tanah adat 5 hektare.
Adapun kondisi demografi s Daerah X adalah sebagai berikut:
Jumlah penduduk sebanyak 1.000 jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak •
600 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 400 jiwa.
Kelompok penduduk belum produktif secara ekonomis atau yang berusia 0-15 •
tahun, berjumlah 250 jiwa, kelompok penduduk produktif/usia kerja berusia 16-55 tahun berjumlah 650 jiwa, dan kelompok penduduk tidak lagi produktif yang berusia 56 tahun atau lebih berjumlah 100 jiwa.
Pekerjaan penduduk usia produktif di Daerah X, sebanyak 30 persen bekerja sebagai •
penambang, 20 persen bekerja sebagai petani sagu, 15 persen bekerja sebagai PNS, 15 persen bekerja sebagai pedagang, 10 persen bekerja di bidang jasa, dan 10 persen belum memiliki pekerjaan.
Kondisi ekonomi, sosial, dan budaya Daerah X sebagai berikut: Pendapatan rata-rata penduduk perbulan sebesar Rp 600.000. •
Angka melek huruf 80 persen. •
Anak usia SD (7-12 tahun) yang masih sekolah sebanyak 95 persen. •
Anak Usia SMP (13-15 tahun) yang masih sekolah sebanyak 70 persen. •
Anak Usia SMA (16-18 tahun) yang masih sekolah sebanyak 25 persen. •
Angka kematian ibu sebesar 200 per 100.000 ibu melahirkan. •
Angka kematian bayi sebesar 50 per 1.000 kelahiran bayi. •
Jumlah warga miskin 350 jiwa. •
Kondisi infrastruktur:
Terdapat empat SD yang lokasinya sudah tersebar di seluruh Daerah X, sedangkan •
dua SMP dan satu SMA masih berlokasi di kota kecamatan. Kondisi jalan rusak dan berlubang di seluruh kecamatan. •
Terdapat satu puskesmas induk dan satu RSUD di kota kecamatan, sedangkan dua •
Pustu tersebar di dua kecamatan.
Daerah ini masih memiliki kesulitan dalam pemenuhan fasilitas air bersih maupun •
listrik.
Pendapatan daerah bersumber dari:
Dana Alokasi Umum dari Pemerintah Pusat Rp 2.000.000.000 (hanya dapat •
memenuhi gaji PNS).
Pajak Bumi dan Bangunan Rp 1.000.000.000/tahun. •
Pajak Galian C Rp 100.000.000/tahun. •
Pajak Penerangan Jalan Umum Rp 50.000.000/tahun. •
Retribusi Kesehatan Rp 200.000.000/tahun. •
Retribusi Parkir Rp 100.000.000/tahun. •
Retribusi Pasar Rp 50.000.000/tahun. •
Bagi Hasil Pajak Pertambangan sebesar Rp 500.000.000/tahun. •
Kelompok II: Daerah Y
Daerah Y yang terdiri dari 6 kecamatan ini, merupakan daerah agrowisata. Daerah Y memiliki kondisi topografi berupa dataran tinggi, sehingga tingkat curah hujan cukup tinggi. Dengan kondisi topografi seperti ini, maka Daerah Y cocok untuk bercocok tanam berbagai macam sayuran. Luas daerah daerah Y adalah 200 hektare, yang terdiri dari 100 hektare berupa permukiman, 50 hektare berupa perkebunan, 20 hektare berupa pertanian, dan sisanya merupakan tanah daerah atau tanah bengkok. Sebagian besar masyarakat Daerah Y bekerja sebagai petani sayuran, di mana perempuan mendominasi sebagai petani sayuran.
Kondisi demografi s Daerah Y adalah sebagai berikut:
Jumlah penduduk Daerah Y sebanyak 3.000 jiwa, yang terdiri dari 1.700 perempuan •
dan 1.300 laki- laki.
Kelompok penduduk belum produktif secara ekonomis berusia 0-15 tahun, •
berjumlah 1.000 jiwa, kelompok penduduk produktif/usia kerja berusia 16-55 tahun berjumlah 1.800 jiwa, dan kelompok penduduk tidak lagi produktif berusia
56 tahun atau lebih berjumlah 200 jiwa.
Mata pencahariaan penduduk usia produktif sebanyak 50 persen sebagai petani •
sayuran, 20 persen pedagang, 10 persen PNS, 10 persen bekerja di bidang jasa, dan sisanya 10 persen pengangguran.
Kondisi sosial dan ekonomi Daerah Y adalah sebagai berikut:
Pendapatan rata-rata penduduk perbulan di Daerah X sebesar Rp 800.000. •
Angka melek huruf penduduk sebesar 98 persen. •
Anak usia SD (7-12 tahun) yang masih sekolah sebesar 100 peren. •
Anak Usia SMP (13-15 tahun) yang masih sekolah sebesar 97 persen. •
Anak Usia SMA (16-18 tahun) yang masih sekolah sebesar 85 persen. •
Angka kematian ibu sebesar 50 per 100.000 ibu melahirkan. •
Angka kematian bayi sebesar 25 per 1.000 kelahiran bayi hidup. •
Jumlah warga miskin sebanyak 400 jiwa. •
Kondisi infrastruktur dan aksesibilitas Daerah Y: Terdapat jalan antar kecamatan dan teraspal. •
Terdapat enam SD yang lokasinya tersebar di seluruh kecamatan, empat SMP •
tersebar di empat kecamatan, dan dua SMA berlokasi di kota kecamatan.
Terdapat tiga puskesmas tersebar di tiga kecamatan, sedangkan tiga Pustu di •
berlokasi di tiga kecamatan lainnya.
Terdapat satu RSUD berlokasi di kota kecamatan berdekatan dengan puskesmas. •
Terdapat dua pasar tradisonal yang menjual hasil pertanian masyarakat. •
Terdapat satu objek wisata berupa air terjun. •
Pendapatan Daerah Y bersumber dari:
Dana Alokasi Umum dari Pemerintah Pusat Rp 3.000.000.000 (hanya cukup untuk •
membayar gaji PNS).
Pajak Bumi dan Bangunan Rp1.000.000.000/tahun. •
Pajak Penerangan Jalan Umum Rp 800.000.000/tahun. •
Retribusi Kesehatan Rp 500.000.000/tahun. •
Retribusi Parkir Rp 400.000.000/tahun. •
Retribusi Pasar Rp 400.000.000/tahun. •
Kelompok III: Daerah Z
Daerah Z yang ini terdiri dari 3 kecamatan, memiliki luas wilayah 100 hektare yang merupakan 40 persen areal hutan, 25 persen areal semak belukar, 15 persen wilayah pantai, dan 20 persen areal pertanian.
Jumlah penduduk Daerah Z sebesar 2.000 jiwa, terdiri dari 1.100 perempuan dan •
900 laki- laki.
Kelompok penduduk belum produktif secara ekonomis yang berusia 0-15 tahun, •
berjumlah 700 jiwa, kelompok penduduk produktif/usia kerja berusia 16-55 tahun berjumlah 1.200 jiwa, dan kelompok penduduk tidak lagi produktif berusia 56 tahun atau lebih berjumlah 100 jiwa.
Kondisi sosial dan ekonomi Daerah Z adalah sebagai berikut:
Pendapatan rata-rata penduduk perbulan di Daerah Z, yaitu Rp 600.000. •
Angka melek huruf 95 persen. •
Anak usia SD (7-12 tahun) yang masih sekolah sebanyak 98 persen. •
Anak Usia SMP (13-15 tahun) yang masih sekolah sebanyak 90 persen. •
Anak Usia SMA (16-18 tahun) yang masih sekolah sebanyak 75% •
Angka melek huruf penduduk sebesar 98 persen. •
Mata pencaharian penduduk Daerah Z, sebanyak 15 persen sebagai petani, 15 persen •
sebagai petani hutan, 20 persen sebagai nelayan, 20 persen sebagai pedagang, 10 persen bekerja di bidang jasa, 12 persen sebagai pegawai negeri, dan 3 persen bekerja di sektor lainnya.
Angka kematian ibu sebesar 135 per 100.000 ibu melahirkan. •
Angka kematian bayi sebesar 50 per 1.000 kelahiran bayi hidup. •
Jumlah warga miskin sebesar 400 jiwa. •
Kondisi infrastruktur dan aksesibilitas:
Sarana pendidikan berupa tiga SD berlokasi tersebar di seluruh kecamatan, dua •
SMP berlokasi di dua kecamatan yang berbeda, dan satu SMA dan satu PKBM berlokasi di kota kecamatan.
Kondisi jalan antar kecamatan cukup baik dan terdapat jalan kabupaten. •
Terdapat satu Puskesmas induk dan satu RSUD di kota kecamatan. •
Terdapat tiga Puskesmas Pembantu yang tersebar di seluruh kecamatan. •
Terdapat satu pasar tradisional. •
Pendapatan daerah berasal dari:
Dana Alokasi Umum dari Pemerintah Pusat Rp 2.000.000.000 (hanya cukup untuk •
membayar gaji PNS).
Pajak Bumi dan Bangunan Rp 500.000.000/tahun. •
Pajak Penerangan Jalan Umum Rp 400.000.000/tahun. •
Retribusi Kesehatan Rp 200.000.000/tahun. •
Retribusi Parkir Rp 100.000.000/tahun. •
Retribusi Pasar Rp 50.000.000/tahun. •
Lembar Bantu Belajar 2.2 :
Permainan APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga) Aturan main:
Masing-masing anggota kelompok memilih peran yang akan dimainkannya, ada 1.
yang menjadi kakek, nenek, ibu, bapak, anak, dan seterusnya. Masing-masing anggota keluarga menuliskan kebutuhannya. 2.
Masing-masing anggota keluarga mempresentasikan kebutuhannya pada saat 3.
rapat keluarga menggunakan metaplan.
Masing-masing kelompok membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga 4.
(APBK) untuk periode satu bulan melalui proses diskusi dan negosiasi agar kebutuhan keluarga dan kebutuhan masing-masing anggota keluarga terakomodir. Dalam menentukan kebutuhan masing-masing anggota keluarga juga harus mempertimbangkan adanya kebutuhan yang spesifi k laki-laki, perempuan, anak-anak, balita, lansia, dan lain-lain.
Berikut adalah contoh format APBK: 5.
Tabel 1: contoh format APBK
Pendapatan Keluarga Ayah Rp. Ibu Rp. Dst. Rp. Belanja Keluarga Pengeluaran Rutin Rp. B Rp. C Rp. Dst. Rp
Belanja Anggota Keluarga
Rp. Rp. Rp.
Defi sit/Surfl us Rp.
Kelompok 1
Total Penghasilan Keluarga sebesar Rp 4.000.000
Anggota Keluarga terdiri dari:
Kakek (60 tahun), pensiunan PNS golongan 3A 1.
Nenek (60 tahun), tidak bekerja 2.
Ibu (43 tahun), pedagang kelontong di rumah 3.
Bapak (45 tahun), karyawan swasta 4.
Anak pertama laki-laki (19 tahun), mahasiswa universitas negeri di luar kota 5.
Anak kedua laki-laki (16 tahun), pelajar SMK negeri 6.
Anak ketiga perempuan (13 tahun) pelajar SMP negeri 7.
Kelompok 2
Total Penghasilan Keluarga sebesar Rp 3.000.000
Anggota keluarga terdiri dari:
Nenek (65 tahun), pensiunan guru 1.
Ibu (45 tahun), PNS 2.
Bapak (46 tahun) PNS 3.
Anak pertama laki-laki (20 tahun), mahasiswa di universitas negeri di dalam kota 4.
Anak kedua perempuan(10 tahun), pelajar SD negeri 5.
Pembantu rumah tangga, perempuan (40 tahun) 6.
Kelompok 3
Penghasilan Keluarga sebesar Rp 5.000.000
Anggota keluarga terdiri dari:
Kakek (70 tahun), tidak bekerja dan lumpuh 1.
Ibu (45 tahun), karyawan swasta 2.
Bapak (47 tahun), pegawai bank swasta 3.
Anak pertama perempuan (23 tahun), mahasiswa semester akhir di universitas 4.
negeri di luar kota
Anak kedua laki-laki (20 tahun), mahasiswa di universitas negeri di luar kota 5.
Anak ketiga laki-laki (16 tahun), pelajar SMK negeri di dalam kota 6.
Anak keempat perempuan (3 tahun), balita belum sekolah 7.
Pembantu rumah tangga, perempuan (35 tahun) 8.
Kelompok 4
Penghasilan Keluarga sebesar Rp 6.000.000
Anggota keluarga terdiri dari:
Bapak (55 tahun), pedagang barang bekas di pasar tradisional 1.
Ibu (47 tahun), tukang cuci 2.
Anak pertama, laki-laki (25 tahun), tidak bekerja (pengangguran) 3.
Anak kedua, perempuan (20 tahun), penjaga toko di pasar 4.
Anak ketiga, laki-laki (18 tahun), pelajar SMU swasta 5.
Anak keempat, perempuan (14 tahun), pelajar SLTP swasta 6.
Anak kelima, laki-laki (11 tahun), pelajar SD negeri 7.
Lembar Bantu Belajar 2.3
Permainan Puzzle APBD dan Pelayanan Publik
Petunjuk :
Guntinglah gambar-gambar ini lalu rangkailah secara acak. 1.
Mintalah kepada peserta kelompok untuk merangkainya menjadi satu cerita utuh 2.
yang saling berhubungan antar gambar.
Gambar 1: contoh gambar-gambar yang berhubungan antara APBD dan pelayanan publik
Bahan Bacaan 2.1
Asas Umum dan Fungsi APBD
Hak Warga atas Keuangan Negara A.
Undang-Undang Dasar 1945 Bab VIII pasal 23 ayat (1) menyebutkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang, dilaksanankan secara terbuka dan bertanggungjawab serta digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Lebih spesifi k UUD 1945 menyebutkan tentang hak-hak warga negara atas anggaran antara lain:
Pasal 31 ayat (4) menyebutkan bahwa negara memprioritaskan anggaran •
pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Ayat tersebut merupakan konsekuensi dari ayat sebelumnya yaitu pasal 31 ayat (2) yang menyebutkan bahwa setiap warga negara wajib mendapatkan pendidikan dasar dan Pemerintah wajib membiayainya.
Pasal 34 ayat (1) menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara •
oleh negara. Artinya negara wajib menyediakan anggaran yang memadai untuk pemenuhan kebutuhan hidup fakir miskin dan anak-anak terlantar.
Pasal 34 ayat (2) menyebutkan bahwa Negara mengembangkan sistem jaminan •
sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
Pasal 34 ayat (3) menyebutkan negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas •
kesehatan dan fasilitas umum yang layak bagi martabat kemanusiaan.
Berdasarkan konstitusi tadi, maka sebenarnya seluruh rakyat Indonesia berhak atas APBN/ABPD, yaitu:
Hak untuk terlibat dalam pembahasan/penetapan karena APBN ditetapkan sebagai •
UU dan APBD ditetapkan sebagai Perda, sehingga masyarakat harus dilibatkan (berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2004 yang telah direvisi menjadi UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan).
Hak untuk ikut mengawasi pelaksanaan anggaran, karena APBN/APBD •
dilaksanakan secara terbuka.
Hak untuk mendapatkan alokasi anggaran yang memadai untuk meningkatkan •
kesejahteraan.
Fungsi Anggaran B.
Sejak dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menyatakan bahwa sistem anggaran yang digunakan adalah anggaran berbasis kinerja maka perencanaan dan penyusunan anggaran harus berdasarkan perencanaan indikator kinerja. Indikator kinerja merupakan tolok ukur dan target kinerja input (masukan), output
(keluaran), outcome (hasil) dan impact (dampak) yang dirumuskan berdasarkan analisis kebutuhan pembangunan.
Dalam pasal 3 ayat 4, UU Nomor 17 Tahun 2003 menyebutkan bahwa APBN/APBD mempunyai enam fungsi,yaitu:
Fungsi otorisasi
1. . Anggaran harus menjadi dasar dalam melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun bersangkutan.
Fungsi perencanaan
2. . Anggaran menjadi pedoman untuk menilai apakah
kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku.
Fungsi pengawasan
3. . Anggaran menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan
penyelenggaraan pemerintahan negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Fungsi alokasi
4. . Anggaran harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran
dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efi siensi dan efektivitas perekonomian.
Fungsi distribusi
5. . Kebijakan anggaran harus memperhatikan rasa keadilan dan
kepatutan.
Fungsi stabilisasi
6. . Anggaran menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan
keseimbangan fundamental perekonomian.
Kebijakan turunan dari UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan Pemerintah ini menyebutkan asas umum pengelolaan keuangan daerah pada pasal 4: keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundangan, efi sien, ekonomis dan efektif, transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat.
Kebijakan turunan berikutnya yang bersifat teknis, yakni Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, pada pasal 4 menjelaskan lebih rinci asas umum pengelolaan keuangan daerah, yaitu: