Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks, siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa-bahan belajar-dan nama yang diberi, informasikan kompetensi, sajian materi, pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu,dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian,evaluasi dan refleksi.
61)Superitem
Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat-bertahap dari simple dan kompleks, berupa pemecahan masalah. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi, berikan latihan soal bertingkat, berikan soal tes bentuk super item, yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi, integrasi, dan hipotesis.
62)Hibrid
Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori, koperatif-inkuiri-solusi-work-shop, virtual workshop menggunakan computer-internet.
63)Treffinger
Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Sintaks; keterbukaan-urutan ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-terbuka, reward.
64)Kumon
Pembelajaran dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Sintaksnya adalah; sajian konsep, latihan, tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi,lima kali salah guru membimbing.
65)Quantum
Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan music orkresta-simfoni. Guru harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipasif, dan saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus alami, tiap usaha siswa diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMbak, alami-dengan dunia realitas siswa, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.98
66)Model Konsiderasi
Ngalimun dalam bukunya yang berjudul Strategi dan Model Pembelajaran, menyebutkan macam-macam model pembelajaran menjadi enam puluh lima model pembelajaran, Rusman dalam bukunya yang berjudul Model-Model Pembelajaran
98
Profesionalisme Guru menyebutkan delapan model pembelajaran, yaitu, 1) Model Pembelajaran Cooperatif Learning, 99 2) model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning), 3) model pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education), 4) model pembelajaran berbasis masalah, 5) model pembelajaran PAKEM,100 6) model pembelajaran berbasis web, 7) model pembelajaran mandiri,101 8) model pembelajaran berbasis komputer.102
Ngalimun dan Rusman tidak menyebutkan tentang model konsiderasi dalam macam-macam model pembelajaran dalam teori mereka. Model konsiderasi disebutkan oleh Wina Sanjaya pada buku yang berjudul Strategi Pembelajaran Berorientasi Standard Pendidikan. Model konsiderasi adalah salah satu dari model strategi pembelajaran afektif, yang terdiri dari model konsiderasi, model pengembangan kognitif, dan model klarifikasi nilai.
Menurut Hamruni, strategi pembelajaran afektif adalah strategi pembelajaran yang mampu membentuk sikap siswa melalui proses pembelajaran. Ditinjau dari segi nama harfiah, strategi ini menekankan pada aspek afektif, bukan kognitif maupun psikomotor. Hal ini bukan berarti strategi ini lepas sama sekali dengan aspek kognitif maupun psikomotor, namun hanya komposisinya lebih dominan afektif. Afektif berbeda dengan kognitif. Jika afektif adalah sikap mental (emosional), maka kognitif adalah pemikiran (intelektual). Jika kognisi membutuhkan disiplin mata pelajaran tertentu yang berdiri sendiri, maka tidak dengan afeksi.
99
yang terdiri dari model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division), jigsaw, investigasi kelompok, model Make a Match, model TGT (Teams Games Tournament), dan model struktural, lihat Rusman
100
yang terdiri dari model pembelajaran kuantum, model pembelajaran berbasis kompetensi, dan model pembelajaran kontekstual, Ibid.,
101
terdiri dari model pembelajaran SAVI, dan model pembelajaran MASTER.
102
yang terdiri dari model pembelajaran Drills, model pembelajaran tutorial, model pembelajaran simulasi, dan model pembelajaran intructional games.
Oleh karena itu pembelajaran afeksi untuk memberi sikap siswa tidak bisa dibebankan pada hanya satu mata pelajaran tertentu saja. Pembentukan sikap (afeksi) harus menjadi tanggung jawab semua mata pelajaran. Dalam hal ini strategi menjadi jembatan antar mata pelajaran dalam membentuk sikap (afeksi) siswa.
Dengan demikian, strategi pembelajaran afektif adalah strategi pembentukan sikap, moral, atau karakter siswa melalui semua mata pelajaran. Hal ini dikarenakan ranah afektif siswa sangat berkaitan dengan komitmen, tanggung jawab, kerja sama, disiplin, percaya diri, dan lain-lain. Strategi pembelajaran afektif adalah strategi pembelajaran karakter itu sendiri.103
Aspek afektif yang berkaitan dengan aspek dengan emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral, dan sebagainya. Aspek afektif adalah aspek yang berkaitan dengan nilai dan moral.
Tujuan aspek afektif dilakukan untuk menentukan karakteristiknya yang unik. Harapannya adalah untuk menentukan factor-faktor yang diperlukan agar domain afektif menjadi kontinum. Tingkatan afektif ini ada lima, dari yang paling sederhana ke yang kompleks adalah sebagai berikut :104
a. Kemauan menerima
Kemauan menerima merupakan keinginan untuk memperhatikan suatugejala atau rancangan tertentu, seperti keinginan membaca buku, mendengar music atau bergaul dengan orang yang mempunyai ras berbeda.
b. Kemauan menaggapi
Kemauan menanggapi merupakan kegiatan yang menunjuk pada partisipasi aktif dalam kegiatan tertentu, seperti menyelesaikan tugas terstruktur, menaati peraturan, dan sebagainya
103
Suyadi, Op, Cit., hlm. 189-190
104
Hamzah B Uno dan Nurdin Mohamad, Belajar Dengan Pendekatan Penelitian Pailkem, Bumi Aksara, Jakarta, 2014, hlm 5
c. Berkeyakinan
Berkeyakinan yang dimaksud adalah berkenaan dengan keuan menerima sistem nilai tertentu pada diri individu. Seperti menunjukkan kepercayaan terhadap sesuatu, apresiasi (penghargaan) terhadap sesuatu, dan sebagainya.
d. Tingkat organization
Pada tingkat organisasi, nilai satu dengan yang lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi niali atau organisasi sitem nilai. Seperti siswa mendukung penegakan disiplin nasional yang dicanangkan oleh bapak presiden Soeharto pada peringatan hari kebangkitan nasional tahun 1995.
e. Tingkat characterization
Pada tingkat ini siswa memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga membentuk gaya hidup. Nilai ini telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadinya, emosi dan sosial. Misalnya siswa telah memiliki kebulatan sikap wujudnya siswa menjalankan perintah Allah dan menjauhi laramgan Allah.105
Untuk memperoleh gambaran tujuan instruksional tentang kawasan atau aspek afektif, yaitu sebagai berikut :
a. Tingkat menerima (receiving) , Menerima di sini adalah diartikan proses pembentukan sikap dan perilaku dengan cara membangkitkan kesadaran tentang adanya stimulus tertentu yang mengandung estetika. Misalnya kesedian para siswa untuk menerima peraturan dan tata tertib belajar selama kegiatan belajar berlangsung.
105
Anas sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011, hlm. 54
b. Tingkat tanggapan (responding), Tanggapan atau jawaban (responding) mempunyai beberapa pengertian, diantaranya :
1) Tanggapan dilihat dari segi pendidikan diartikan sebagai perilaku baru dari sasaran siswa sebagai manifestasi dari pendapatnya yang timbul karena adanya perangsang pada saat belajar.
2) Tanggapan dilihat dari segi psikologi perilaku adalah segala perubahan perilaku organisme yang terjadi atau yang timbul karena adanya perangsang dan perubahan tersebut dapat diamati.
3) Tanggapan dilihat dari segi adanya kemauan dan kemampuan untuk bereaksi terhadap suatu kejadian (stimulus) dengan cara berpartisipasi dalam berbagai bentuk. Misanya para siswa aktif memperdebatkan masalah yang dilontarkan gurunya.106
c. Tingkat menilai
Menilai dapat diartikan sebagai :
1) Pengakuan secara objektif (jujur) bahwa siswa itu objek, sistem atau benda tertentu mempunyai kadar manfaat.
2) Kemauan untuk menerima suatu objek atau kenyataan setelah seseorang itu sadar bahwa objek tersebut mempunyai nilai atau kekuatan, dengan cara menyatakan dalam bentuk sikap atau perilaku positif atau negatif. Misalnya setelah beberapa kali seorang siswa gagal memahami rumus-rumus tertentu, maka ia memutuskan untuk belajar sungguh-sungguh.
106
Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Gaung Persada Perss, Jakarta, 2003, hlm. 32-34
d. Tingkat organisasi (organization) Organisasi dapat diartikan sebagai :
1) Proses konseptualisasi nilai-nilai dan menyusun hubungan antar nilai-nilai tersebut, kemudian memilih nilai-nilai yang terbaik untuk diterapkan.
2) Kemungkinan untuk mengorganisasikan nilai-nilai, menentukan hubungan antar nilai dan menerima bahwa suatu nialai itu lebih dominan disbanding nilai yang lain apabila kepadanya diberikan berbagai nilai. Misalnya pada hari minggu yang sama seseorang menerima dua undangan ulang tahun sahabatnya yang diselenggarakan didua tempat yang relatif berjauhan, namun demikian ia tetap datang pada kedua acar tersebut.
e. Tingkat karakterisasi (charactererization), Karakterisasi adalah sikap dan perbuatan yang secara konsisten dilakukan oleh seseorang selaras dengan nilai-nilai yang dapat diterimanya, sehingga sikap dan perbuatan itu seolah-olah telah menjadi ciri-ciri pelakunya.107
Afeksi adalah getaran refleksi108 disertai perubahan psikologis109 dan tendensi bertindak. Menurut Popham, ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran dihadapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu, semua pendidik harus mampu membangkitkan minat siswa untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Selain itu, ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, persaturn,
107
Ibid., hlm. 35-37
108
gerakan, pantulan di luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar. http://kbbi.web.id/
109
nasionalisme, dan sebaginya. Ruang lingkup afektif meliputi watak perilaku seseorang seperti :
a. Sikap
Menurut Fishbein dan Ajzen sikap suatu disposisi yang sipelajari untuk merespon secara positif atau negative terhadap suatu objek, situasi, konsep atau orang.
b. Minat
Minat adalah suatu disposisi yang teroganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khususu, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut KBBI minat atau keinginanan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum, minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensistas tinggi.
c. Konsep diri
Konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan terhadapkemampuan dan kelemahan yang dimiliki.
d. Nilai
Nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan siswa. informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan negative.
e. Moral
Moral bertujuan untuk mengungkap moral. Informasi moral seseorang dapat diperoleh melalui pengamatan terhadap perbuatan yang ditampilkan dan laporan diri melalui pengisian kuesioner.
Menurut Krathwohl tingkatan ranah afektif ada lima yaitu : a. Tingkat menerima (receiving)
Pada tingkat ini, siswa memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus.
b. Tingkat tanggapan (responding)
Merupakan partisipasi aktif siswa yaitu sebagai bagian perilakunya.
c. Tingkat menilai (valuing)
Melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen.
d. Tingkat organisasi (organization)
Nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesiakan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten.
e. Tingkat karakterisasi (characterization)
Tingkat ini adalah yang paling tertinggi, pada tingkat ini siswa memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup.
c. Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Afektif110
Model konsiderasi memiliki kelebihan-kelebihan, yaitu :
a) Strategi pembelajaran afektif mengembangkan pemikiran ke dalam, kea rah kematangan mental dan melibatkan emosi positif. b) Strategi pembelajaran afektif mampu menyeimbangkan antara
ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
c) Strategi pembelajaran afektif dapat membentuk karakter, sikap, dan mental siswa secara matang.
Kesimpulan dari kelebihan model konsiderasi siswa dituntut untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan pelajaran akidah akhlak yang diterima oleh siswa di sekolah.
Sementara kekurangan dari model konsiderasi adalah sebagai berikut :
a) Keberhasilan penerapan strategi pembelajaran afektif (pembentukan sikap) sulit dievaluasi dengan pasti. Berbeda dengan keberhasilan pembentukan kognisi dan aspek keterampilan
110
yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir.
b) Dibutuhkan waktu panjang untuk melatih sikap siswa, sehingga mengkristal menjadi karakter. Hal ini menuntut adanya pemantauan secara konsisten dalam waktu yang tidak dapat ditentukan.
c) Sikap siswa hasil bentukan strategi pembelajaran afektif sering kali berubah, bahkan bertolak jika situasi lingkungan dan kondisi tidak mendukung.
Kesimpulan dari kekurangan model konsiderasi yaitu butuh waktu lama untuk mengetahui sikap siswa untuk sesuai dengan pelajaran akidah akhlak di sekolah, lingkungan juga dapat mempengaruhi sikap siswa, baik lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.
d. Sejarah Model Konsiderasi
Untuk model strategi pembelajaran sikap, peneliti memilih model konsiderasi untuk diteliti lebih lanjut. Model konsiderasi (the consideration model) di kembangkan oleh Mc. Paul, seorang humanis111. Paul menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognitif yang rasional. Pembelajaran moral112 siswa menurutnya adalah pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual113. Oleh sebab itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Atas dasar asumsi di atas guru harus menjadi model114 di dalam kelas dalam memperlakukan setiap siswa dengan rasa hormat, menjahui sikap
111
penganut paham yang menganggap manusia sebagai objek terpenting
112
Moral : Akhlaq – Kesusilaan : budi pekerti dan perilaku yang mulia. Hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan yang baik sebagai “kewajiban, Sarana untuk mengukur benar tidaknya tindakan manusia, Pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan manusia. https://wawan laksito. Wordpress.com. diunduh tanggal 12 juli 2017, pukul 10:59
113
cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan
114
Uswatun Hasanah artinya teladan yang baik. Guru menjadi model di dalam kelas yaitu guru menjadi panutan untuk siswanya.
otoriter115. Guru perlu menciptakan kebersamaan, saling membantu, saling menghargai, dan sebaginya.
Model konsiderasi dapat digolongkan ke dalam rumpun kepedulian moral. Kepedulian (caring) melibatkan emosi, apabila kita memperdulikan seseorang, kita akan merasa perlu memahami dan membantunya. Dengan demikian kepedulian ini lebih dari sekedar perasaan hangat dan spirit kasih saying, didalamnya terlibat suatu kualitas pemikiran dan penilaian seberapa jauh kita peduli dalam situasi tertentu, akan tergantung seberapa jauh kita memahami makna pengalaman orang laindan seberapa mungkin tindakan bantuan sebagai aksi kepedulian dan pemahaman kita.
Model ini dikembangkan oleh Mc. Paul atas dasar penelitiannya terhadap delapan ratus siswa m enengah pertama yang menyatakan bahwa kebutuhan manusia yang paling penting adalah bergaul dengan baik dengan orang lain, untuk mencintai dan dicintai. Asumsi yang mendasarinya antara lain :
1) Pendidikan moral harus memperhatikan kepribadian secara menyeluruh, khususnya yang berkaitan dengan interaksi kita , dengan orang lain, perilaku atau etika kita.
2) Siswa lebih banyak belajar moralitas dari bagaimana guru berperilaku dan siapa guru itu sebagai pribadi, dari apa yang diajarkannya.
3) Moralitas tidak dapat diajarkan melalui bujukan terhadap siswa secara rasional untuk menganalisis konflik nilai-nilai dalam membuat keputusan, kepada siswa harus diajarkan melalui peragaan.116
115
berkuasa sendiri; sewenang-wenang
116
Jurnal ini dilakukan oleh Gustini dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Konsiderasi Terhadap Sikap Siswa pada Pola Hidup Bersih dan Sehat. (Kuasi Eksperimen pada Konsep Pencemaran di SMK
e. Langkah-langkah Model Konsiderasi
Implementasi model konsiderasi guru dapat mengikuti tahap pembelajaran di bawah ini : 117
1) Menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ciptakan
situasi “seandainya siswa ada dalam masalah tersebut”.
2) Menyuruh siswa untuk menganalisis situasi masalah dengan melihat bukan hanya yang tampak, tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut, misalnya perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain.
3) Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menelaah perasaannya sendiri sebelum ia mendengar respon orang lain untuk dibandingkan.
4) Mengajak siswa untukmenganalisis respon orang lain serta membuat kategori dari setiap respon yang diberikan siswa.
5) Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa. dalam tahapan ini siswa diajak berpikir tentang segala kemungkinan yang akan timbul sehubungan dengan tindakannya. Guru perlu menjaga agar siswa dapat menjelaskan argumennya secara terbuka serta dapat saling menghargai pendapat orang lain. Diupayakan agar perbedaan pendpat tumbuh dengan baik sesuai dengan titik pandang yang berbeda.
6) Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang (indisipliner) untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
7) Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya
117
sendiri. guru hendaknya tidak menilai benar atau salah atas pilihan siswa. yang diperlukan adalah guru dapat membimbing mereka menetukan pilihan yang lebih matang sesuai dengan pertimbangannya sendiri.
f. Tujuan Model Konsiderasi
Tujuan Model Konsiderasi adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain. Kebutuhan yang fundamental pada manusia adalah bergaul secara harmonis dengan orang lain, saling memberi dan menerima dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dengan demikian, pembelajaran sikap pada dasarnya adalah membantu anak agar dapat mengembangkan kemampuan untuk bisa hidup bersama secara harmonis118, peduli, dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
4. Peran Aspek Afektif dalam Pembelajaran Akidah Akhlak
Afektif bila dijabarkan dari sikap rasulullah yaitu amanah. Indicator dari seseorang yang mempunyai kecerdasan ruhaniah119 adalah sikapnya yang selalu menampilkan sikap yang ingin dipercaya, dihormati, dan menghormati. Dalam pembelajaran akidah akhlak jika konsep pembelajaran terlalu menekankan pada aspek penalaran/hafalan akan berpengaruh terhadap sikap yang dimunculkan anak. Menghafal tentu ada gunanya namun kalau kemudian menjadi dominan dan seluruh mata pelajaran harus dihafal maka akan melahirkan anak-anak didik yang kurang kreatif dan berani mengungkap pendapatnya sendiri apabila proses menghafal tidak segera diperbaiki secara radikal120, siswa akan kesulitan untuk bersikap. Mengajarkan sikap lebih pada soal memberikan teladan121, bukan pada tataran teoritis122. Memang untuk mengajarkan anak bersikap
118
bersangkut paut dengan (mengenai) harmoni; seia sekata
119
berkaitan dengan roh atau rohaniah, Ibid.,
120
secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip).
121
sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan sebagainya)
122
pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi.
seorang guru perlu memberikan pengetahuan sebagai landasan tetapi proses pemberian pengetahuan ini harus ditindak lanjuti dengan contoh. Sikap merupakan sesuatu yang kompleks karena sikap tidak bisa lepas dari komponen-komponen lainnya seperti kognitif dan psikomotor.123 Jadi dalam pembelajaran akidah akhlak, aspek afektif sangatlah diperlukan, karena untuk menindaklanjuti mata pelajaran akidah akhlak supaya dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Posisi Model Pembelajaran dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Model digunakan untuk dapat membantu memperjelas prosedur, hubungan serta keadaan keseluruhan dari apa yang didesain. Menurut Joyce dan Weil, ada beberapa kegunaan dari model, antara lain :
a. memperjelas hubungan fungsional diantara berbgai komponen, unsure atau elemen system tertentu.
b. Prosedur yang akan ditempuh dalam melaksanaan kegiatan dapat diidentifikasi secara tepat.
c. Dengan adanya model maka berbagai kegiatan yang dicakupnya dapat dikendalikan.
d. Model akan mempermudah para administrator untuk mengidentifikasi komponen, elemen yang mengalamani hambatan, jika kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan tidak efektif dan tidak produktif.
e. Mengidentifikasi secara tepat cara-cara untuk mengadakan perubahan jika pendapat ketidaksesuaian dari apa yang telah dirumuskan.
f. Dengan menggunakan model, guru dapat menyusun tugas-tugas siswa menjadi suatu keseluruhan yang terpadu.
Walaupun banyak kegunaan dari model, namun terdapat pula kelemahannya, yaitu dapat menjadikan seseorang kurang berinisiatif mengkreasikan kegiatan-kegiatan. Hal tersebut dapat diatasi jika sesuatu model dapat menjamin adanya fleksibilitas sehingga memungkinkan seseorang yang menggunakan model tertentu untuk mengadakan
123
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008, hlm.78-79
penyesuaian terhadap situasi atau kondisi secara lebih baik. Apalagi dalam menangani masalah-masalah pendidikan, yang dalam banyak hal sangat terpengaruh oleh perubahan variabel-variabel lain diluar bidang pendidikan tersebut. Oleh karena itu dalam melukiskan suatu model sebaiknya dimungkinkan adanya perubahan-perubahan dalam mengadakan penyesuaian terhadap kebutuhan yang ada.124
Kegunaan lain dari Model Pembelajaran yaitu :
a. Memudahkan dalam melaksanakan tugas pembelajaran sebab telah jelas langkah-langkah yang akan ditempuh sesuai dengan waktu yang tersedia, tujuan yang hendak dicapai, kemampuan daya serap siswa, serta ketersediaan media yang ada.
b. Dapat dijadikan sebagai alat untuk mendorong aktifitas siswa dalam pembelajaran.
c. Memudahkan untuk melakukan analisa terhadap perilaku siswa secara personal maupun kelompok dalam waktu relative singkat
d. Dapat membantu guru pengganti untuk melanjutkan pembelajaran siswa secara terarah dan memenuhi maksud dan tujuan yang sudah ditetapkan (tidak sekedar mengisi kekosongan).
e. Memudahkan untuk menyusun bahan pertimbangan dasar dalam merencanakan Penelitian Tindakan Kelas dalam rangka memperbaiki atau menyempurnakan kualitas pembelajaran.125
6. Mata Pelajaran Akidah Akhlak
a. Pengertian Pelajaran Akidah Akhlak
Secara etimologis, akidah berasal dari kata “aqada- ya’qidu -‘aqidatan”, berarti setepuk, ikatan perjanjian dan kokoh.126 Kata