• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANAMAN DAN FAKTOR

Dalam dokumen DASAR-DASAR AGRONOMI (Halaman 37-57)

LINGKUNGAN

ertumbuhan suatu tanaman dan hasil panen yang diperoleh pada dasarnya merupakan hasil kerja atau pengaruh yang saling berkaitan antara sifat genetik tanaman dan pengaruh faktor luar dimana tanaman tersebut tumbuh. Oleh karena itu untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil panen yang tinggi, pengetahuan mengenai faktor lingkungan tumbuh tanaman ini menjadi sangat penting agar kita dapat mengelola lingkungan tumbuh dangan sebaik-baiknya, dalam arti cocok bagi pertumbuhan tanaman yang diusahakan. Hal ini sejalan dengan hukum minimum dari Von Liebig yang menyatakan bahwa “apabila suatu proses dipengaruhi oleh beberapa faktor, maka keberhasilan dari proses tersebut ditentukan oleh salah satu faktor yang berada dalam keadaan terbatas”

Faktor lingkungan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, termasuk di dalamnya faktor biotic dan abiotik serta faktor pengelolaan yang dilakukan oleh manusia.

Kondisi tanah dan iklim termasuk ke dalam faktor abiotik sedangkan organisme lain baik yang sejenis (antar individu tanaman dalam suatu populasi) maupun yang berlainan jenis, misalnya: jenis tanaman lain dalam system tumpang sari, hama, penyakit dan gulma termasuk pada faktor biotic.

P

Faktor Abiotik Yang Mempengaruhi Tanaman Tanah Pengertian tentang tanah sangat beragam, tergantung dari segi mana orang melihatnya. Ahli pertanian menyebutkan tanah merupakan medium alam tempat tumbuhnya tumbuhan dan tanaman yang tersusun dari bahan-bahan padat, cair dan gas.

Bahan penyusun tanah dapat dibedakan atas partikel mineral, Bahan organic, Jasad hidup, Air dan Gas.

Untuk kehidupan tanaman, tanah mempunyai fungsi sebagai tempat berdiri tegak dan bertumpunya tanaman, medium tumbuh yang menyediakan hara dan pertukaran hara antara tanaman dengan tanah dan penyediaan dan gudangnya air bagi tanaman.

Pembentukan tanah merupakan proses yang terus-menerus. Ini dapat dilihat dari potongan vertical melalui tanah yang dangkal, dimana batuan induk hanya sedikit di bawah permukaan tanah. Ketiga gradasi yang agak nyata dari batuan induk ke “top soil” disebut horizon-horison. Morfologi dari horizon-horison inilah yang memungkinkan pengklasifikasian tanah dalam tipe-tipenya, supaya struktur dan kesuburan dapat diramalkan.

Pada saat kebanyakan tanah matang, terbentuklah 3 buah horizon penting A.B dan C. Horison D dimaksudkan untuk lapisan dibawahnya, biasanya dari batuan induk.

Horison A adalah zone pencucian (eluviasi). Banyak mengandung akar, bakteri, cendawan, dan binatang kecil (misal cacing/nematode). Miskin akan zat-zat terlarut dan telah kehilangan fraksi liat dan besi dan oksida alumunium.

Horizon B adalah zone penumpukan (iluviasi). Kurang banyak mengandung bahan hidup. Lebih tinggi kandungan liat, besi dan oksida alumunium, jadi lebih lengket bila basah dan lebih keras bila kering.

Horizon C terdiri dari bahan batuan terlapuk, sering merupakan batuan induk. Tidaklah semua profil menunjukan perkembangan lengkap, dan tanah-tanah yang telah digunakan untuk tujuan pertanian dalam waktu lama, terutama kekurangan satu atau lebih horison teratas. Gambaran yang paling menyolok adalah horizon bajak- horizon yang secara berulang terganggu oleh pembajakan, penggaruan dan pencangkulan.

Tanah terbentuk dari pecahan-pecahan batuan induk yang berlangsung terus menerus akibat faktor-faktor lingkungan. Faktor lingkungan itu adalah iklim, organisme, topografi dan waktu. Pecahan batuan induk itu berlangsung akibat pelapukan dan penghancuran melalui proses fisika, kimia dan biologi. Proses pelapukan fisika antara lain adalah desintegrasi akibat temperature, air, angin dan mahluk hidup atau desintegrasi akibat cuaca yang membekukan. Proses pelapukan kimia meliputi perubahan kimia dari bahan induk melalui berbagai macamproses seperti oksidadi, hidratasi dan karbonasi. Proses biologi berlangsung akibat eksudat- eksudat mikroba tanah dan akar tumbuhan yang mempunyai kemampuan merombak bahan organic menjadi bahan anorganik atau mentransformasi bahan-bahan anorganik.

Kesuburan tanah, diartikan sebagai kesanggupan tanah untuk menyediakan unsure hara bagi pertumbuhan tanaman.

Kesuburan tanah dipengaruhi oleh sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kesuburan fisik antara lain mencakup struktur, tekstur dan kemampuan tanah memegang air, kesuburan kimia terutama terkait dengan status nutrisi atau unsure hara dalam tanah serta sifat kemasaman tanah. Kesuburan biologi menyangkut adanya aktivitas mikroorganisme dalam tanah yang terkait erat dengan kandungan bahan organic tanah, karena kehidupan mikroorganisme tersebut membutuhkan bahan organic sebagai

makanannya. Dalam hal inilah peranan bahan organic tanah menjadi sangat penting dalam kaitannya dengan pemeliharaan kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Tanaman dapat menghasilkan secara maksimal bila tanaman itu tumbuh dalam keadaan subur dan faktor-faktor di luar kesuburan sekitar tanaman tersebut menunjang pertumbuhan tadi secara optimal. Tanah dinyatakan subur bila dapat menyediakan unsure hara dalam jumlah cukup dan seimbang serta mempunyai aerasi yang optimum.

Tingkat kesuburan kimiawi tanah terhadap kandungan unsure hara utama (N.P.K), kemasaman (pH), kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, kandungan bahan organic (c/n ratio) merupakan suatu petunjuk untuk menduga respon tanaman terhadap pemberian pupuk pada tanah tersebut. Demikian pula unsure-unsur yang bersifat meracuni akar dalam tanah akan menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan akar.

Tanaman memerlukan beberapa macam unsure dalam pertumbuhannya. Unsur-unsur tersebut dibutuhkan dalam jumlah besar (makro) dan dalam jumlah kecil (mikro). Unsur esensial makro berasal dari udara dan dari dalam tanah dan air.

Unsur makro yang diambil dari udara dan air adalah karbon, hydrogen dan oksigen. Sedangkan unsure esensial makro yang diambil dari dalam tanah adalah nitrogen, phosphor, kalium, kalsium, magnesium dan sulfur. Unsur esensial mikro yang semuanya diambil dari dalam tanah adalah Ferrum, mangan, molybdenum, cuprum, clor dan boron.

Pengelolaan tanah dengan demikian harus bertumpu kepada perbaikan dan pemeliharaan kesuburan tanah, baik fisik, kimia maupun biologi sehingga tanaman yang ditanam akan tumbuh baik dengan sendirinya. Adanya permasalahan lahan kritis di Indonesia yang semakin bertambah luas, baik karena

erosi maupun karena menurunnya tingkat kesuburan tanah sebagai akibat dari penggunaan pupuk kimiawi secara terus menerus, menunjukkan bahwa telah terjadi kesalahan yang mendasar dalam pengelolaan lahan pertanian selama ini.

Pengelolaan lahan yang semata-mata bertumpu pada perbaikan pertumbuhan tanaman dan peningkatan hasil panen dalam jangka pendek, tanpa memperhatikan dampaknya terhadap kesuburan tanah untuk jangka panjang. Namun dengan semakin populernya gerakan Organic farming syste” dan Sustainable agriculture system merupakan bukti langkah kongkrit upaya perbaikan system pengelolaan lahan yang salah selama ini.

a. Pergerakan hara ke akar tanaman

Berdasarkan penelitian para ahli fisiologi dan tanah menyatakan bahwa secara umum pergerakan hara ke akar tanaman adalah melalui pertukaran kontak, difusi ion dalam larutan tanah dan pergerakan ion bersama gerakan massal ( aliran massal ).

Pertukaran kontak, akar tanaman juga mempunyai kapasitas tukar kaiton seperti tanah. Kation-kation dari kompleks absorbsi tanah dapat dipertukarkan dengan kation-kation yang dihasilkan tanaman, misalnya H+. Pertukaran ini terjadi apabila ada kontak langsung antara kompleks absorbsi dengan bulu akar tanaman.

Difusi, pergerakan ion secara difusi terjadi karena ada perbedaan difusi atau akibat adanya perbedaan kegiatan ion. Hal ini terjadi sering pada H2 PO4, K+. Akar tanaman akan menyerap hara dari larutan di sekitar akar. Hasil gradient dalam pergerakan yang berkesinambungan akan menambah jumlah ion dalam akar, sehingga dapat diserap oleh akar tanaman.

Gerakan (aliran) massal, kejadian ini berlangsung bersama gerakan air ke akar tanaman terutama disebabkan oleh adanya transpirasi (penguapan). Gerakan ion NO3,Ca++,dan Mg++ terutama terjadi karena aliran massal. Pergerakan massal dan pergerakan ion secara difusi merupakan proses yang umum dilalui ion untuk sampai ke akar tanaman.

Ke tiga proses ini berhubungan erat dengan ruang bebas (ruang luas) dan ruang dalam pada akar. Difusi lebih cepat pada tanah yang bertekstur halus dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar, apabila jumlah air tanah yang tersedia sama.

Hal ini disebabkan oleh kemampuan tanah yang bertekstur halus lebih besar daripada tanah yang bertekstur kasar dalam hal menyerap hara pada kompleks absorspsi Kemampuan serapan hara pada tanah juga berhubungan dengan luas permukaan.

Penyerapan hara dapat terjadi dengan perpanjangan akar ketempat baru yang masih kaya hara. Dengan demikian laju penyerapan hara dapat ditingkatkan. Luas area difusi hara berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan hara. Apabila kecepatan penyerapan rendah, maka waktu untuk difusi lebih lama, sehingga ion-ion dapat berdifusi pada jarak yang jauh.

Makin besar permukaan penyerapan makin lambat kecepatan penyerapan yang diperlukan, agar jumlah hara yang sama dapat diserap.

Morfologi sistem perakaran mempunyai pengaruh besar terhadap penyerapan hara dari tanah. Akar yang kurus dan panjang mempunyai luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan akar yang tebal dan pendek, karena dapat menjelajahi lebih efektif pada sejumlah volume yang sama.

Pembentukan agregat tanah dan kebutuhan makanan mikroba tanah dapat berasal dari hasil eksudat akar tanaman, kemungkinan juga dapat berfungsi mempercepat mineralisasi

bagi hara yang immobil. Dengan demikian eksudat akar bermanfaat untuk proses penyerapan hara, tetapi juga merupakan racun bagi mikroba tanah, sehingga proses mobilisasi hara dari tanah ke akar tanaman terganggu.

b. Radiasi matahari

Radiasi matahari merupakan faktor utama diantara faktor iklim yang lain, tidak hanya sebagai sumber energi primer tetapi juga karena berpengaruh terhadap keadaan faktor-faktor iklim yang lain seperti suhu, kelembaban dan angin.

Respon tanaman terhadap radiasi matahari pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga aspek, yaitu intensitas, kualitas dan fotoperiodisitas. Ketiga aspek ini mempunyai pengaruh yang berbeda satu sama lain, demikian juga keadaannya di alam.

Intensitas radiasi matahari, adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan persatuan waktu. Biasanya diukur dengan satuan kal/cm /hari. Besarnya intensitas radiasi yang diterima oleh tanaman tidak sama untuk setiap tempat dan waktu, antara lain tergantung (1) Jarak antara matahari dan bumi,(2) Musim, dan (3) Letak geografis.

Berdasarkan kebutuhan dan adaptasi tanaman terhadap radiasi matahari, pada dasarnya tanaman dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu sciophytes/shade species/shade loving ( tahan naungan ) dan heliophytes/sun species/sun loving (peka naungan). Dengan demikian setiap jenis tanaman mempunyai kebutuhan intensitas radiasi yang berbeda-beda dan sebagai implikasinya di lapang dapat diatur dengan pembuatan naungan.

Ditinjau dari sifat fisiologis tanaman, intensitas radiasi matahari antara lain berpengaruh terhadap (1). Laju fotosintesis, (2). Laju transpirasi, (3). Pertumbuhan memanjang dan pertumbuhan menuju kearah datangnya sinar, serta (4)

Perkecambahan benih.

Kualitas radiasi matahari, diartikan sebagai proporsi panjang gelombang yang diterima pada suatu tempat dan waktu tertentu. Distribusi spectrum (panjang gelombang) dari sinar matahari yang diterima tanaman berbeda-beda tergantung kepada : (a). Sudut datang matahari atau jarak antara matahari dan bumi, secara harian tergantung kepada inklinasi matahari, (b). Letak daun pada tajuk

Pengaruh kualitas radiasi matahari biasanya terkait dengan sifat morfogenik tanaman, namun juga tidak terlepas dari proses fotosintesis sebagai proses dalam metabolisme tanaman. Proses fotosintesis hanya membutuhkan radiasi dengan panjang gelombang tertentu, antara 0,4 – 0,7 mikron yang disebut dengan istilah cahaya (visible light) atau PAR (photosintetic active radiation).

Kualitas radiasi matahari berpengaruh terhadap sifat morfogenetik tanaman seperti inisiasi bunga, perkecambahan benih, perpanjangan ruas (inter node) batang dan pembentukan pigmen Berbeda dengan pengaruh intensitas radiasi yang terkait dengan fotosintesis dimana klorofil memegang peranan penting, dalam kualitas radiasi matahari fitokhrom merupakan senyawa (pigmen) yang menentukan respon sifat morfogenetik tanaman tersebut.

Fitokhrom berupa senyawa tetrapirol seperti khlorophyl, terdiri dari khromofore dan protein. Khromofore inilah yang sangat peka terhadap kualitas radiasi dan bersifat reversible (dapat berubah-ubah) tergantung pada panjang gelombang radiasi yang mengenai fitokhrom tersebut.

Panjang hari (Fotoperiode), panjang hari didefenisikan sebagai panjang atau lamanya siang hari dihitung mulai dari matahari terbit sampai terbenam ditambah lamanya

keadaan remang-remang (selang waktu sebelum matahari berada pada posisi 6 di bawah cakrawala).

Respon tanaman terhadap panjang hari (fotoperiodisme) sering dihubungkan dengan pembungaan, namun sebenarnya banyak aspek pertumbuhan tanaman yang dipengaruhi oleh panjang hari, antara lain : (a) Inisiasi bunga, (b). Produksi dan kesuburan putik dan tepung sari, (c). Pembentukan umbi pada tanaman ubi-ubian, (d) Dormansi benih dan (e). Pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.

Berdasarkan respon tanaman terhadap panjang hari ini, tanaman dibagi dalam beberapa kelompok. Ada tanaman yang peka dan ada tanaman yang toleran (netral). Kelompok tanaman yang peka sering dibagi kedalam kelompok fotoperiode lemah yang berarti hanya memberikan pengaruh yang sedikit dibandingkan dengan kelompok fotoperiode kuat yang mempunyai respon tinggi. Dari kelompok fotoperiode kuat tanaman dapat dibedakan menjadi (1). Tanaman hari pendek, yaitu tanaman yang akan berbunga jika fotoperiode lebih pendek dari periode kritis tertentu , dan (2). Tanaman hari panjang.

Panjang hari kritis adalah panjang hari maksimum (untuk tanaman hari pendek) dan minimum (untuk tanaman hari panjang) dimana inisiasi pembungaan masih terjadi. Panjang hari kritis berbeda-beda menurut jenis tanaman dan bahkan varietas.

c. Suhu

Proses-proses fisik dan kimiawi dikendalikan oleh suhu, dan kemudian proses-proses ini mengendalikan reksi biologi yang berlangsung dalam tanaman. Misalnya, suhu menentukan laju difusi dari gas dan zat cair dalam tanaman. Apabila suhu

turun viskositas air naik. Begitu juga untuk gas-gas, energi kinetic dari karbondioksida, oksigen dan zat lain berubah sesuai dengan perubahan suhu.

Kelarutan berbagai zat tergantung suhu. Kelarutan karbondioksida dalam air dingin dua kali lipat kelarutannya dalam air panas. Kebalikannya berlaku untuk kebanyakan zat padat; kelarutan gula lebih besar dalam air panas daripada dalam air dingin.

Kecepatan reaksi dipengaruhi suhu, biasanya makin tinggi suhu, reaksi makin cepat. Jadi, suhu mempunyai efek penting dan tegas pada respirasi. Akan tetapi, hubungan suhu dan reaksi biokimia yang berlangsung dalam tanaman jarang barbanding langsung karena adanya faktor lain yang rumit.

Misalnya, hasil akhir yang dihasilkan, seperti gula, dapat menumpuk dan memblokir reksi selanjutnya. Dalam beberapa reaksi, ketersediaan bahan mentah dapat merupakan bahan pembatas.

Kuosien reaksi (Q10) ditunjukan oleh tingkat perubahan kegiatan reksi sebagai akibat setiap kali terjadi perubahan suhu 10ºC. Kecepatan reksi yang tidak dikatalisasi naik kira-kira 2,4 kali setiap kali suhu naik 10ºC. untuk proses pertumbuhan secara keseluruhan Q10 hanya berkisar 1,2 - 1,3 karena banyak faktor yang memperlambat kecepatan reksi kimia dalam sel dari sistem hidup.

Suhu mempengaruhi kestabilan system enzim. Pada suhu optimum, system enzim berfungsi baik dan tetap stabil untuk waktu lama. Pada suhu lebih dingin, mereka tetap stabil, tetapi tidak berfungsi, sementara pada suhu tinggi system enzim rusak sama sekali. Suatu system ensim yang tetap stabil pada suhu 20ºC dapat aktif hanya selama setengah jam pada suhu 30ºC dan hanya selama beberapa detik pada suhu 38ºC.

Kesetimbangan berbagai sistem dan persenyawaan merupakan fungsi dari suhu. Misalnya, kesetimbangan antara gula, pati dan lemak berubah bila suhu berubah. Selama musim gugur, dalam beberapa spesies tanaman, gula berkurang sedangkan pati dan lemak meningkat. Bila musim semi tiba, terdapat perubahan dari pati dan lemak ke gula, yang akan ditranslokasikan ke bagian-bagian tanaman yang tumbuh aktif.

Karena suhu mempunyai pengaruh kuat pada reaksi biokimia dan fisiologi tanaman, suhu juga akan menentukan tingkatan perbagai tugas tanaman, seperti absorpsi unsure mineral dan air. Bukan saja viskositas air kebih tinggi pada suhu rendah, tetapi membrane sitoplasma yang dilewati air rupanya kurang permeable. Fotosintesis lebih lambat pada suhu rendah, dan akibatnya laju pertumbuhan lebih lambat. Suhu juga mempengaruhi aliran sitoplasma di dalam sel.

Suhu maksimim dan minimum yang menyokong pertumbuhan tanaman biasanya berkisar antara 5º-35º C. Suhu dimana pertumbuhan optimum berlangsung berbeda-beda menurut tanamannya dan berbeda-beda sesuai tahap perkembangannya. Tambahan pula, berbagai bagian-bagian tanaman berbeda kepekaannya terhadap suhu minimum.

Tanaman yang telah menyesuaikan diri dengan iklim dingin, akarnya lebih peka terhadap suhu rendah daripada batangnya ; kuncup bunga lebih lemah daripada kuncup daun.

Sejumlah proses-prose pertumbuhan mempunyai hubungan kuantitatif dengan suhu. Diantaranya respirasi, sebagian dari reaksi fotosintesis dan berbagai gejala pendewasaan dan pematangan. Tambahan pula, proses-proses dalam tanaman seperti dormansi, pembungaan, pembentukan buah, sangatlah peka terhadap suhu. Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman tergantung pada spesies dan varietasnya,

dan pada tahap fisiologi khusus dari proses pertumbuhan.

Tanaman yang tumbuh di bawah suhu konstan dan seragam, tidak menghasilkan buah secepat tanaman yang tumbuh dengan suhu malam dan suhu siang yang berbeda-beda silih berganti.

Kebanyakan tanaman memerlukan suhu malam yang lebih rendah daripada suhu siang. Beberapa tanaman memerlukan suhu dingin untuk melengkapi lingkaran hidupnya.

Suhu yang ekstrem dapat merusak tanaman ; suhu terlalu dingin dan suhu terlalu tinggi dapat mematikan tanaman.

Kerusakan akibat suhu tinggi dapat dihubungkan dengan kekeringan (desikasi). Pembakaran tanaman selama cuaca panas luar biasa, biasanya merupakan akibat dari kehilangan air pada kegiatan transpirasi yang terlalu banyak bila dibandingkan dengan absorbsi air. Suhu udara yang sangat panas dapat mempunyai efek mematikan pada tanaman sebagai akibat dari koagulasi protein. Terhentinya pertumbuhan pada suhu tinggi merupakan merupakan suatu gambaran dari suatu keseimbangan metabolic yang terganggu. Bila kecepatan respirasi bertambah lebih cepat daripada kecepatan fotosintesis, maka akan terjadi kekurangan pangan dalam tubuh tanaman.

Untuk beberapa tanaman, waktu yang diperlukan untuk mencapai tahap panen dapat dinyatakan dalam nilai waktu suhu yang disebut satuan panas ( heat units ), yaitu dengan menghitung waktu yang bertalian dengan suhu di atas sesuatu minimum tertentu dalam pertumbuhannya. Dengan asumsi bahwa semua suhu di atas minimum memiliki pengaruh serupa kepada pertumbuhan, akan berkuranglah interval antara tanggal tanam dan panen selama musim berlalu dengan naiknya suhu.

d. Fungsi air bagi tanaman

Air sangat penting bagi tanaman karena berfungsi sebagai: (a) Bahan baku (sumber hydrogen) dalam proses fotosintesis, (b). Penyusun protoplasma, (c). Memelihara tekanan turgor, (d) Bahan atau media dalam proses transpirasi dan (e). Pelarut unsure hara dalam tanah dan tubuh tanaman serta sebagai media translokasi unsure hara dari dalam tanah ke akar untuk selanjutnya dikirim ke daun.

Tanaman mendapatkan air dari dalam tanah dan sedikit saja yang berasal dari udara, misalnya embun dan kabut, meskipun pada beberapa jenis tanaman yang tergolong xerophyt dapat hidup hanya dengan mengandalkan air dari udara ini.

Dalam tanah, tidak semua air tersedia bagi tanaman. Air yang tertinggal dalam tanah, yang tidak tersedia bagi tanaman dikenal sebagai air higroskopis. Tanaman yang tumbuh pada kondisi seperti ini akan mengalami layu permanent dan mati karena kekurangan air. Dalam hal ini kekurangan air bukan disebabkan oleh adanya transpirasi yang berlebihan karena intensitas radiasi tinggi melainkan karena tidak adanya absorbsi air oleh akar.

Air kapiler adalah air yang berada dalam kapiler tanah diantara partikel- partikel tanah. Air ini tersedia bagi tanaman dalam arti akar tanaman dapat menyerapnya. Namun tanaman yang tumbuh pada kondisi seperti ini ada kemungkinan masih mengalami kelayuan, terutama pada siang hari dimana intensitas radiasi tinggi. Tanaman dikatakan layu sementara karena pada sore dan malam harinya akan segar kembali. Kondisi layu di sini disebabkan oleh adanya transpirasi yang berlebihan yang tidak dapat diimbangi absorbsi air oleh akar. Pada sore hari, laju transpirasi berkurang dan absorbsi air oleh akar dapat mengimbanginya lagi.

Air gravitasi adalah air yang bergerak ke bawah meninggalkan partikel tanah pada lapisan olah sebagai akibat gaya gravitasi bumi. Dalam kondisi seperti ini dikatakan air berada pada kapasitas lapang, dengan pengertian adalah jumlah air maksimum yang tertinggal dalam tanah setelah air permukaan habis karena aliran permukaan dan setelah air yang keluar akibat gaya gravitasi juga habis.

Pemanfaatan air dari udara oleh tanaman bisa terjadi pada daerah kering, dimana air dalam tanah tidak pernah tersedia bagi tanaman. Bentuk air yang dapat dimanfaatkan adalah embun dan kabut yang diserap tanaman melalui proses transpirasi negative.

Faktor Biotik Yang Mempengaruhi Tanaman Hama, Penyakit Dan Gulma

Hama, penyakit dan gulma merupakan faktor lingkungan yang sangat menentukan tingkat dan kualitas hasil tanaman dan bahkan dapat menyebabkan gagalnya panen.

Didaerah tropis kerugian hasil sebagai akibat serangan hama dan penyakit pada umumnya lebih besar daripada daerah sub tropis, karena kondisi iklim di tropis yang lembab dan panas sangat menguntungkan bagi perkembangan dan penyebaran penyakit.

Penyakit tanaman adalah gangguan tanaman yang disebabkan oleh virus, bakteri atau cendawan. Ketiga macam organisme penyebab penyakit tersebut mempunyai sifat-sifat yang spesifik, demikian pula gangguannya terhadap tanaman.

Virus merupakan bentuk organisme yang paling sederhana diantara bakteri dan cendawan. Virus merupakan organisme yang non mobil dan masuk ke dalam sel tanaman melalui perantara serangga atau manusia.

Penyakit bakteri dapat menyebar luas melalui bagian tanaman yang terinfeksi dengan perantara serangga, atau dapat

Penyakit bakteri dapat menyebar luas melalui bagian tanaman yang terinfeksi dengan perantara serangga, atau dapat

Dalam dokumen DASAR-DASAR AGRONOMI (Halaman 37-57)

Dokumen terkait