Kedelai (Glycine max (L.) Merill) merupakan tanaman asli daratan Cina dan telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan berkembangnya perdagangan antarnegara yang terjadi pada awal abad ke-19, menyebabkan tanaman kedalai juga ikut tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan tersebut, yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di Pulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lainnya.
Kedelai merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang dapat digunakan sebagai sumber protein, lemak, vitamin, mineral dan serat. Menurut Pryde (1980) komposisi kedelai terdiri dari protein 40%, lipid 20%, selulosa dan hemi selulosa 17%, gula 7%, serat kasar 5%, dan abu 6%. Kacang kedelai mengandung sumber protein nabati yang kadar proteinnya tinggi yaitu sebesar 35% bahkan pada varietas unggul dapat mencapai 40-44%. Selain itu juga mengandung asam lemak essensial,
16
vitamin dan mineral yang cukup. Di samping protein, kacang kedelai mempunyai nilai hayati yang tinggi setelah diolah, karena kandungan susunan asam aminonya mendekati susunan asam amino pada protein hewani (Koswara, 1992).
Kedelai tumbuh baik pada dataran rendah dari 1 hingga 600 m diatas permukaan laut, curah hujan antara 150-200 mm/bulan, suhu antara 30-15°C pada berbagai jenis tanah yang drainasenya baik (Kasno et al., 1992). Iklim kering lebih cocok untuk tanaman kedelai dibandingkan dengan iklim lembab (Sudarni, 1994).
Tekstur tanahnya lempung berpasir dan liat, struktur gembur, pH nya diantara 5,5- 7, untuk optimal 6,8. (Direktorat Jendral Tanaman Pangan, 2011).
2.3.1 Klasifikasi Tanaman Kedelai
Pada awalnya kedelai dikenal dengan beberapa nama botani yaitu Glycine soja atau Soja max,tetapi pada tahun 1984 telah disepakati nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah yaitu Glycine max (L.) Merril. Menurut Adisarwanto (2008), klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rosales
Famili : Leguminosae
Genus : Glycine
Species : Glycine max (L.) Merril
17 2.3.2 Morfologi Tanaman Kedelai
Kedelai merupakan tanaman dikotil semusim dengan percabangan sedikit, sistem perakaran akar tunggang, dan batang berkambium. Kedelai dapat berubah penampilan menjadi tumbuhan setengah merambat dalam keadaan pencahayaan rendah (Rukmana dan Yuniarsih (1996). Kedelai memiliki akar tunggang, dan memiliki bintil-bintil akar yang merupakan koloni dari bakteri Rhizobium japonicum. Bakteri Rhizobium bekerja mengikat nitrogen dari udara yang kemudian dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Pada tanah gembur, akar tanaman kedelai dapat tumbuh sampai kedalaman 150 cm (Mursiani, 1993). Akar kedelai dapat mencapai kedalaman 150 cm dalam tanah, tetapi kebanyakan kedalaman perakaran hanya mencapai 60 cm. Sistem perakaran yang berada 15 cm lapisan atas tanah banyak berperan dalam mengabsorbsi air dan unsur hara (Singh, 1983).
Tanaman kedelai berbatang pendek (30 cm – 100 cm) memiliki 3-6 percabangan dan berbentuk tanaman perdu. Pada pertanaman yang rapat seringkali tidak terbentuk percabangan atau hanya bercabang sedikit. Batang tanaman kedelai berkayu, biasanya kaku dan tahan rebah, kecuali tanaman yang dibudidayakan di musim hujan atau tanaman yang hidup di tempat yang ternaungi (Pitojo, 2003).
Daun kedelai adalah daun majemuk berwarna hijau, hijau tua atau hijau kekuningan tergantung varietasnya. Daun kedelai memiliki ciri-ciri antara lain helai daun oval, dan tata letaknya pada tangkai daun bersifat majemuk berdaun tiga.
Umumnya, bentuk daun kedelai ada dua yaitu oval dan lancip. Kedua bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik (Rukmana, 1996).
Bunga kedelai berbentuk seperti kupu-kupu, terdiri atas kelopak, tajuk, benang sari (anteredium) dan kepala putik (stigma). Warna mahkota bunga kedelai
18
putih atau ungu tergantung varietasnya. Bunga jantan pada kedelai terdiri atas sembilan benang sari yang membentuk tabung benang sari. Bila bunga masih kuncup, kedudukan kepala sari berada di bawah kepala putik, tetapi pada saat kepala sari menjelang pecah tangkai sari memanjang sehingga kepala sari menyentuh kepala putik yang menyebabkan terjadinya pembuahan pada saat bunga masih tertutup menjelang mekar (Kasno et al., 1992).
Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endosperma. Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau, coklat tergantung varietasnya. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapi ada pula yang bundar atau bulat agak pipih. Besar biji bervariasi tergantung varietasnya. Di Indonesia besar biji bervariasi dari 6 –30 gram (Suprapto, 2001). Gambar tanaman kedelai dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril) (Mulyana, 2019)
19 2.3.3 Manfaat Tanaman Kedelai
Tanaman kedelai memiliki kapasitas yang besar untuk menyerap Cd pada tanah. Kadmium dalam jaringan tumbuhan berada dalam urutan akar > batang >
daun. Keadaan tersebut menunjukkan arah perjalanan Cd dalam sistem tanah – tanaman. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan penambahan Cd ke dalam media tanam 5 mg kg–1 menyebabkan akumulasi Cd pada jaringan tanaman kedelai meningkat, yang secara berurutan kandungan dalam akar 120,63±7,19 mg kg–1, batang 88,40±4,33 mg kg–1 dan daun 45,35±2,61 mg kg–1 (zhang et al., 2008).
Kedelai mempunyai kandungan protein sebesar 35% lebih tinggi dibandingkan padi yang hanya sebesar 7%. Selain itu kedelai juga mengandung asam amino seperti metionin, tripsin, dan lisin yang cukup tinggi sehingga dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan bahan pangan bagi manusia (Suprapto, 1997). Kedelai mengandung berbagai nutrisi, diantaranya mengandung senyawa antinutrient dan komponen lainnya seperti isoflavon yang memiliki efek menguntungkan pada kesehatan serta berfungsi sebagai fitoestrogen, selain itu kedelai mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat.
Senyawa antinutrient yang ada dalam kedelai diantaranya lectins, goitrogens, dan beberapa enzim penghambat digestive (Fehily, 2003), sedangkan isoflavon dalam kedelai berupa genistin, daidzin, dan glycitin (Evans et al., 2011).
Kandungan isoflavon dari kedelai sering dimanfaatkan untuk penanganan gejala/simptom menopause, kanker payudara, penyakit kardiovaskuler, osteoporosis, dan meningkatkan kinerja kognitif (Cassidy, 2004). Sejak dulu oleh bangsa Asia, kedelai digunakan untuk menghasilkan produk makanan penting seperti tahu, tempe, dan kecap (Fehily, 2003). Di dalam kedelai terkandung
20
metabolit sekunder yang dapat dimanfaatkan sebagai obat yang berperan dalam menjaga dan memperbaiki sistem fisiologi maupun mencegah penyakit (Asih.
2007). Menurut Rukmana (1995), tanaman kedelai memiliki fungsi sebagai bahan penurun kolesterol. Karena dalam kedelai terdapat serat maupun asam lemak tidak jenuh yang sanggat tinggi (Pitojo, 2003).