• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Tanaman Melon Varietas Clara dan Ivory

Tabel 2. Deskripsi Tanaman Melon Varietas Clara dan Ivory.

Sumber: PT. Agri Makmur Pertiwi (2012)

2.5 Hidroponik

Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan cara bercocok tanam tanpa tanah tetapi menggunakan bahan porous lainnya dengan pemberian unsur hara yang dibutuhkan tanaman (Handayani, 2003). Pada budidaya tanaman dengan sistem hidroponik, pemberian air dan pupuk dapat dilakukan secara bersamaan. Manajemen pemupukan dapat dilaksanakan secara terintegrasi dan manajemen irigasi yang selanjutnya disebut fertigasi (fertilization and irigation).

Perbedaan Clara Ivory

Pertumbuhan Kuat dan tegap Kuat dan tegap

Tempat Dataran rendah hingga

dataran menengah teutama di musim kemarau

Dataran rendah hingga dataran menengah teutama di musim kemarau

Buah Oval Lonjong

Kulit buah Net berwarna hijau Net berwarna hijau

Daging buah Hijau Hijau

Tekstur daging buah Keras Keras

Aroma Sedang Sedikit aroma

Kadar gula 11,5–12% (Brix) 10,8–13,1% (Brix)

Berat buah 1,8–2,4 kg 2,3–2,7 kg

Panen 68–69 hari setelah

pindah tanam

68–69 hari setelah pindah tanam Potensi hasil 39–54 ton/ha 41–58 ton/ha Kebutuhan benih 540–545 g/ha 500–505 g/ha

16

Dalam sistem hidroponik pengelolaan air dan hara difokuskan terhadap cara pemberianyang optimal sesuai dengan kebutuhan tanaman, umur tanaman, dan kondisi lingkungan (Susila, 2013).

Prinsip dasar hidroponik dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu hidroponik substrat dan NFT. Hidroponik substrat adalah teknik hidroponik yang tidak menggunakan air sebagai media, tetapi menggunakan media padat (bukan tanah) yang dapat menyerap atau menyediakan nutrisi, air, dan oksigen serta mendukung akar tanaman seperti halnya tanah. Hidroponik NFT (Nutrient film tecnique) adalah teknik hidroponik yang menggunakan model budidaya dengan meletakkan akar tanaman pada lapisan air yang dangkal. Air tersebut tersirkulasi dan

mengandung nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Perakaran dapat tumbuh dan berkembang didalam media air tersebut (Untung, 2001).

Sistem hidroponik menjadi pilihan dalam budidaya tanaman karena sistem ini memiliki banyak kelebihan. Menurut Lingga (1984), kelebihan sistem hidroponik sebagai berikut:

1. Keberhasilan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi lebih terjamin. 2. Perawatan lebih mudah dilakukan dan gangguan hama penyakit berkurang. 3. Pemakaian pupuk lebih efisien.

4. Mempermudah dalam proses penyulaman tanaman.

5. Tidak memerlukan banyak tenaga kerja karena bisa dikerjakan dengan mesin.

6. Kebersihan tanaman lebih terjaga dan mengurangi kerusakan pada tanaman.

17

7. Hasil produksi lebih tinggi dibandingkan bertanam di tanah.

8. Harga jual tanaman hidroponik lebih tinggi dibandingkan non-hidroponik. 9. Beberapa jenis tanaman bisa dibudidayakan di luar musim.

10. Tidak ada ketergantungan pada kondisi alam sehingga tidak takut kebanjiran, kekeringan, atau erosi.

11. Budidaya tanaman dengan teknik hidroponik dapat dilakukan pada lahan atau ruangan yang terbatas.

Meskipun memiliki banyak kelebihan namun sistem hidroponik juga memiliki kelemahan yang harus dipertimbangkan. Menurut Istiqomah (2000), kelemahan sistem hidroponik yaitu:

1. Perlunya pengontrolan yang intensif baik pengontrolan unsur hara maupun pengendalian hama dan penyakit yang menyerang.

2. Perlu dilakukan penyeterilan media tanam yang akan digunakan. 3. Pengairan yang diberikan harus teratur.

4. Ketersediaan dan perawatan perangkat hidroponik agak sulit.

5. Perlu keterampilan khusus untuk menimbang dan meramu bahan kimia. 6. Investasi awal yang mahal.

2.6 Boron (B)

Unsur mikro dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah kecil namun bukan berarti ini tidak penting untuk pertumbuhan tanaman. Kekurangan akibat unsur mikro essensial akan menimbulkan akibat yang hampir sama dengan kekurangan unsur

18

makro essensial. Karakteristik unsur mikro ialah keessensialannya dalam jumlah sedikit dan menjadi penyebab keracunan dalam jumlah banyak (Soepardi, 1990).

Tanaman menyerap boron terutama dalam bentuk asam borat tidak terdisosiasi (H3BO3). Bentuk anionnya (H2BO3-, HBO32-, BO32-, dan B4O72-) lebih mudah diserap tanaman, tetapi hanya terjadi pada pH > 7 (Havlinat al. 2005dalam Munawar 2011). Boron di tranportasikan dari larutan tanah ke akar tanaman melalui proses aliran masa dan difusi. Selain itu, boron sering terdapat dalam bentuk senyawa organik (Sutejo, 1987). Di dalam tanaman, B merupakan salah satu unsur mikro yang palingimobile, sehingga tidak mudah ditranslokasikan dari daun tua ke daun muda, ketika tanaman mengalami kekurangan (Munawar, 2011).

Konsentrasi B pada tanaman monokotil dan dikotil beragam, masing–masing antara 6–18 ppm dan 20–60 ppm (Havlinet al. 2005dalamMunawar 2011). Kekurangan sering terjadi jika tanaman mengandung < 20 ppm di dalam daun masak. Keracunan boron jarang terjadi, kecuali akibat pemupukan dengan dosis yang berlebih (Munawar, 2011).

Gejala defisiensi unsur boron tampak antara lain pertumbuhan titik tumbuh (meristem) abnormal. Titik tumbuh di pucuk akan kerdil dan akhirnya mati sehingga cabang tanaman berhenti memanjangkan diri. Oleh karena ada akumulasi zat pengatur tumbuh pada titik tumbuh maka daun dan ranting akan menjadi regas bila diremas. Titik tumbuh pada ujung akar membengkak, warna akan berubah dan akhirnya mati. Bagian dalam tanaman akan sering mengalami disintegrasi dengan gejalaheart rot. Daun memperlihatkan beberapa macam

19

gejala seperti menebal, regas, keriting, bercak klorosis, dan kemudian layu (Sutiyoso, 2003).

Dampak lainnya, laju proses fotosintesis tanaman akan menurun. Hal itu

disebabkan gula yang terbentuk dari karbohidrat hasil fotosintesis akan tertumpuk di daun. Daun muda warnanya menjadi kecokelatan dan membengkok. Selain itu, daun tumbuh pendek sehingga ujung pelepah melingkar (rounded front tip), anak daun pada ujung pelepah berubah bentuk menjadi kecil seperti rumput atau bristle tip, atau tumbuh rapat pendek seolah - olah bersatu dan padat (little leaf). Ketidaksempurnaan (malformation) bentuk daun itu berakibat pada terganggunya proses fotosintesis sehingga buah yang terbentuk sedikit, kecil, dan berkualitas rendah (Gusyana, 2011).

Kebutuhan B dan toleransi tanaman akan B beragam. Namun, pemberian B ke tanaman harus dilakukan dengan hati - hati, karena rentang konsentrasi antara kurang dan beracun lebih sempit daripada hara essensial yang lain, sehingga berpotensi racun. Dosis pemupukan B tergantung kepada uji tanah, konsentrasi B dalam jaringan tanaman, budidaya tanaman, kondisi cuaca, kandungan bahan organik tanah, dan cara pemberian. Rata-rata dosis pemberian B umumnya 0,5– 1 kg ha-1untuk pemberian lewat tanah, dan dosis 0,1–0,5 kg ha-1diberikan lewat daun (Prasad dan Power 1997dalamMunawar 2011).

Dokumen terkait