• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nipah merupakan jenis mangrove yang banyak didapati di rawa-rawa air

payau dan di depan muara-muara sungai (Hyene, 1987). Pada ketinggian 0-200 m dpl, iklim basah dan mengandung cukup banyak bahan organik,

walaupun tergolong tumbuhan yang potensial pemanfaatan nipah secara konvensional masih sangat jarang dilakukan. Hal ini dikarenakan kurangnya referensi dan pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan nipah dan cara pengelolaannya.

Nipah telah dimanfaatkan oleh masyarakat dan sudah diusahakan secara turun temurun. Atap daun nipah banyak digunakan masyarakat Sumatera Selatan untuk atap rumah tradisional di kampung-kampung, untuk bedeng, kandang ternak atau membuat gubuk di sawah. Tangkai daun dan pelepahnya juga dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar dan pulp (bubur kertas). Lidinya dapat digunakan untuk pembuatan sapu lidi dan dapat digunakan sebagai anyaman (Alrasyid, 2001).

2.5.1. Syarat Tumbuh Tanaman Nipah (Nypa fruticans)

Menurut Harahap dan Nurhamni (2010), bahwa tumbuhan nipah tumbuh pada substrat halus, pada bagian tepi atas dari jalan air, memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi dan jarang terdapat diluar zona pantai.

Biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok, memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap pertumbuhan masukan air dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya.

Nipah tumbuh dibelakang hutan bakau, terutama di dekat aliran sungai yang memasok lumpur ke pesisir. Palem ini dapat tumbuh di wilayah yang berair agak tawar, sepanjang daerah tersebut masih terpengaruh pasang surut air laut yang mengantarkan buah-buahnya yang mengapung. Di tempat-tempat yang sesuai, tegakan nipah membentuk jalur lebar tak terputus kurang lebih sejajar dengan garis pantai. Nipah mampu hidup di atas lahan agak kering atau yang kering sementara air surut (Alrasyid, 2001).

2.5.2. Morfologi Tanaman Nipah (Nypa fruticans)

Nipah adalah jenis palem yang tumbuh di lingkungan hutan mangrove atau daerah pasang surut dekat tepi laut. Di beberapa negara lain, tumbuhan ini dikenal dengan nama Attap palm (Singapura), Nipa palm (Filipina) atau umumnya disebut Nipah palm. Nama ilmiahnya adalah Nypa fruticans dan diketahui sebagai satu-satunya anggota genus nipah, juga merupakan satu-satunya jenis palem dari wilayah mangrove. Fosil serbuk sari palem ini diketahui dari sekitar 70 juta tahun yang silam (Ditjenbun, 2006).

Buah nipah berbentuk gepeng dengan 2-3 rusuk dengan warna coklat kemerahan, terkumpul dalam kelompok rapat menyerupai bola berdiameter sekitar 13 cm. Struktur buah mirip dengan buah kelapa dengan eksokarp halus, mesokarp berupa sabut dan endokarp keras yang disebut tempurung. Biji dilindungi oleh tempurung dengan panjang antara 8-13 cm dan berbentuk kerucut. Dalam satu tandan buahnya mencapai antara 30-50 butir, berdempetan satu dengan yang lain membentuk kumpulan buah bundar.

Batang pohon nipah membentuk rimpang yang terendam oleh lumpur.

Akar serabutnya dapat mencapai panjang 13 cm, panjang anak daun dapat mencapai 100 cm dan lebar daun 4-7 cm. Daun nipah yang sudah tua berwarna kuning sedangkan daunnya yang masih muda berwarna hijau, banyaknya daun dalam tiap tandan mencapai 25-100 helai (Vernandos dan Huda, 2008).

Cairan manis yang dikandung nipah memiliki kadar gula (sucrosa) antara 15-17% (jumlah zat padat semu yang larut dalam gr setiap 100 gr larutan).

Dengan kandungan itu, maka nira nipah berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri bioetanol. Satu tangkai bunga nipah mampu memproduksi sekitar 3 liter nira per hari, setiap tangkai dapat dipanen terus menerus selama 20 hari. Setiap rumpun pohon nipah mampu menghasilkan sekitar 4 tangkai pada waktu bersamaan, dengan demikian satu pohon nipah dapat menghasilkan 12 liter nira per hari (Riyadi, 2010).

2.5.3. Sistematika Tanaman Nipah (Nypa fruticans)

Klasifikasi tanaman nipah menurut Backer dan Brink, 1968 : Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Klas : Liliopsida

Ordo : Arecales Family : Arecaceae

Genus : Nypa

Spesis : Nypa fruticans wurmb

2.5.4. Manfaat Tanaman Nipah (Nypa fruticans)

Menurut Endro dkk 2011, manfaat tanaman nipah adalah : a. Daun Nipah

Daun nipah yang telah tua banyak dimanfaatkan secara tradisional untuk membuat atap rumah yang daya tahannya mencapai 3-5 tahun, daun nipah yang masih muda mirip janur kelapa dapat dianyam untuk membuat dinding rumah yang disebut kajang. Daun nipah juga dapat dianyam untuk membuat tikar, tas, topi dan aneka keranjang anyaman. Di Sumatra, pada masa silam daun nipah yang muda (dinamai pucuk) dijadikan daun rokok, yaitu lembaran pembungkus untuk melinting tembakau setelah dikelupas kulit arinya yang tipis, dijemur kering, dikelantang untuk memutihkannya dan kemudian dipotong-potong sesuai ukuran rokok. Beberapa naskah lama Nusantara juga menggunakan daun nipah sebagai alas tulis, bukannya daun lontar.

b. Tangkai dan Pelepah Nipah

Tangkai daun dan pelepah nipah dapat digunakan sebagai bahan kayu bakar yang baik. Pelepah daun nipah juga mengandung selulosa yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pulp (bubur kertas). Lidinya dapat digunakan untuk sapu, bahan anyam-anyaman dan tali.

c. Tandan Bunga Nipah

Nipah dapat pula disadap niranya, yakni cairan manis yang diperoleh dari tandan bunga yang belum mekar. Nira yang dikeringkan dengan dimasak dipasarkan sebagai gula nipah (palm sugar), dari hasil oksidasi gula nipah dapat dihasilkan cuka. Di Pulau Rote dan Sawu, Nusa Tenggara Timur, nira nipah

diberikan ke ternak babi di musim kemarau. Konon, hal ini bisa memberikan rasa manis pada daging babi. Di Filipina dan juga di Papua, nira ini diperam untuk menghasilkan semacam tuak yang dinamakan tuba (dalam bahasa Filipina).

Fermentasi lebih lanjut dari tuba akan menghasilkan cuka. Di Malaysia, nira nipah dibuat sebagai bahan baku etanol yang dapat dijadikan bahan bakar nabati pengganti bahan bakar minyak bumi. Etanol yang dapat dihasilkan adalah sekitar 11.000 liter/Ha/tahun, jauh lebih unggul dibandingkan kelapa sawit (5.000 liter/Ha/tahun).

d. Umbut dan Buah Nipah

Umbut nipah dan buah yang muda dapat dimakan, biji buah nipah yang muda disebut tembatuk mirip dengan kolang-kaling (buah atep) dan juga diberi nama attap chee ("chee" berarti "biji" menurut dialek China tertentu).

Sedangkan buah yang sudah tua bisa ditumbuk untuk dijadikan tepung. Di Kalimantan arang dari akar nipah digunakan untuk obat sakit gigi dan sakit

kepala.

Dokumen terkait