• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

4. Tanaman Obat dalam Penelitian

a. Rumput mutiara (Hedyotis corymbosa (L.) Lamk.)

Rumput mutiara tumbuh subur di tanah yang lembab, di kebun yang kosong yang basah, halaman rumah, pinggir jalan dan selokan (Gambar 3). Biji yang ditanam dapat hidup subur dimana saja asal mendapat sinar matahari yang cukup. Rumput mutiara berasal dari Afrika dan banyak tersebar di Ethiopia, Somalia, Sudan, Kenya, dan India. Di Jawa, tumbuh pada daerah dengan ketinggian 1-800 m dpl, dapat sampai daerah dengan ketinggian 1425 m dpl, di daerah terbuka banyak mendapat sinar matahari, daerah berbatu, di tepi jalan, halaman, parit dan taman (Sadasivan et al., 2008). Klasifikasi rumput mutiara menurut Backer dan Bakhuizen (1965) adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Rubiales Famili : Rubiaceae Genus : Hedyotis

Spesies : Hedyotis corymbosa (L.) Lamk. Rumput mutiara dikenal sebagai tumbuhan yang memiliki rasa manis, sedikit pahit dan lembut. Tumbuhan ini telah lama digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit, diantaranya tonsilis, bronkitis, gondongan, pneumonia, radang usus buntu, dan hepatitis. Kandungan yang terdapat dalam tanaman tersebut antara lain hentriacontane, stigmasterol, ursolic acid,oleanic acid,

betha-perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12

sitosterol, sitisterol-D-glucoside, p-coumaric acid, flavonoid glycosides, dan

oleanic acid. Selain itu juga mengandung enam iridoid, yaitu asperuloside,

scandoside methyl ester, asperulocid acid, geniposidic acid, scandoside dan

deacetylasperulosidic acid (Depkes, 2000). Rumput mutiara mengandung

flavonoid yang berkhasiat sebagai antikanker, antiradang (amandel), antibakteri, antijamur, dan diuretikum. Hasil penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa rumput mutiara menunjukkan aktivitas fagositosis makrofag pada mencit yang terinfeksi

Salmonella typhimurium (Sadasivan et al., 2006).

Gambar 3. Rumput mutiara (Depkes, 2000)

b. Daun ambre (Geranium radula Cavan.)

Ambre merupakan tanaman perdu yang batangnya berkayu berbentuk bulat dengan permukaan kasar dan berbulu. Bagian dari tanaman ini yang memiliki aktivitas terhadap bakteri adalah daunnya (Gambar 4). Daun ambre mengandung senyawa kimia yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan yang dapat mengurangi radikal bebas. Senyawa yang dikandung tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pengobatan baik tradisional maupun modern (Ambarwati, 2009). Klasifikasi tanaman ambre menurut Tjitrosoepomo (1994) adalah sebagai berikut :

commit to user Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Geraniales Famili : Geraniaceae Genus : Geranium

Spesies : Geranium radula Cavan.

Gambar 4. Daun ambre (Dalimartha, 2005)

Daun ambre berkhasiat sebagai obat rematik dan bahan baku kosmetika. Biasanya digunakan untuk pemakaian luar dengan cara mengoleskan hasil tumbukan daun pada bagian yang sakit. Ambre dapat menjadi disinfeksi kuman dan efektif menghilangkan bau tak sedap dan asap tembakau. Daun ambre mengandung saponin, flavonoida, tanin dan minyak atsiri. Senyawa kimia tersebut mempunyai aktivitas sebagai antioksidan untuk mengurangi radikal bebas dalam tubuh. Hasil penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa daun ambre mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Aeromonas hydrophila, Bacillus subtilis, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Enterobacter aerogenes (Zakaria, 2007).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14

c. Daun salam (Eugenia polyantha Wight.)

Tanaman salam merupakan salah satu tanaman obat yang banyak digunakan untuk mengobati diare, kolesterol dan tekanan darah tinggi. Bagian dari tanaman ini yang memiliki aktivitas terhadap bakteri adalah daunnya (Gambar 5). Beberapa riset ilmiah membuktikan bahwa daun salam mengandung minyak atsiri, tanin, flavonoid dan eugenol. Kandungan tanin dalam daun salam berperan penting dalam pengobatan diare (Purwati, 2004). Klasifikasi tanaman salam menurut Steenis (1992) adalah sebagai berikut :

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Genus : Eugenia

Spesies : Eugenia polyantha Wight.

Gambar 5. Daun salam (Dalimartha, 2005)

Penggunaan daun salam oleh masyarakat sebagai obat dalam skala kecil atau konsumsi harian bisa menggunakan daun segar atau daun yang telah kering. Pada skala yang lebih besar atau industri, cara yang lebih baik dilakukan adalah

commit to user

melakukan pengeringan bahan baku karena bahan baku yang tersedia tidak semuanya langsung digunakan. Kandungan senyawa aktif dalam tanaman obat dipengaruhi oleh lokasi tumbuh, perlakuan sebelum dan sesudah panen. Perlakuan setelah panen merupakan suatu tahap pengolahan dari bahan tanaman obat yang masih segar (fresh material) sampai menjadi bahan siap produksi. Setiap tahap pengolahan hasil panen tanaman obat harus dikontrol agar mutu produk akhir terjamin (Syukur dan Hernani, 2001).

d. Rimpang ganyong (Canna edulis Ker.)

Ganyong termasuk dalam tanaman dua musim atau sampai beberapa tahun, mengalami masa istirahat dimana daun-daunnya mengering lalu tanaman menjadi hilang dari permukaan tanah. Pada musim hujan tunas akan keluar dari mata rimpang. Bagian dari tanaman ini yang memiliki aktivitas terhadap bakteri adalah rimpangnya (Gambar 6). Ganyong putih lebih kecil dan pendek, kurang tahan kena sinar tetapi tahan kekeringan. Hasil rimpang basah lebih kecil, tapi kadar patinya tinggi. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan dan tersebar dari Sabang sampai Merauke (Flanch dan Rumawas, 1996).

(a) (b)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16

Suku Cannnaceae merupakan suatu suku yang hanya terdiri atas satu marga yaitu Canna. Rimpang biasanya dimakan segar atau direbus. Klasifikasi tanaman ganyong menurut Tjitrosoepomo (1994) adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Zingiberales Famili : Cannaceae Genus : Canna

Spesies : Canna edulis Ker.

Rimpang merupakan batang yang tinggal di dalam tanah. Air rebusan rimpang segar ganyong digunakan untuk pengobatan penyakit hepatitis akut. Fermentasi rimpang ganyong ini dapat menghasilkan etanol. Serbuk dari ganyong digunakan untuk meringankan sakit kepala dan ekstrak hasil tumbukan rimpang digunakan sebagai obat disentri. Rimpang ganyong dapat bermanfaat sebagai antifiretik, diuretik, menurunkan tekanan darah (hipotensif), dan penenang (sedatif) (Nuryadin, 2008).

e. Umbi kimpul (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott.)

Kimpul merupakan tanaman menahun, tetapi seringkali ditanam sebagai tanaman semusim. Tunas hampir seluruhnya terdiri atas daun karena batang sebenarnya hanya sedikit berkembang di atas tanah. Daun berbentuk segitiga dengan penempelan tangkai daun pada bagian tepi helaian daun (Gambar 7). Tulang daun tepi menonjol pada setiap helaian daun tanaman kimpul

commit to user

(Anggarwulan et al., 2008). Klasifikasi tanaman kimpul menurut Backer dan Bakhuizen (1965) adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Arales Famili : Araceae Genus : Xanthosoma

Spesies : Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott.

(a) (b)

Gambar 7. Tanaman kimpul : (a) habitus; (b) umbi (Lingga, 1992)

Bagian dari tanaman ini yang memiliki aktivitas untuk pengobatan penyakit yaitu umbinya. Umbi kimpul selain sebagai sumber karbohidrat juga mengandung polifenol yang dapat mengobati penyakit diare (Goldsworthy and Fisher, 1992). Warna daging umbi induk dan umbi anakan paling banyak berwarna putih, tapi beberapa berwarna krem dan kuning. Hasil penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa umbi kimpul menunjukkan aktivitas antifungal terhadap Sclerotium rolfsii tetapi kurang efektif sebagai antibakteri (Kusumo

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18

f. Umbi uwi (Dioscorea alata L.)

Uwi merupakan salah satu marga dari famili Dioscoreaceae, tumbuhan liana yang tumbuhnya memanjat dan dapat mencapai panjang sampai 10 m. Rimpang-rimpangnya tebal, dan berukuran besar, kerap berbentuk seperti umbi. Bagian tanaman yang dimanfaatkan untuk penelitian adalah umbinya (Gambar 8). Banyak kultivarnya yang memiliki umbi berwarna ungu sehingga dikenal sebagai

purple yam. Masa panen dilakukan pada saat tanaman berumur 8-12 bulan

(Septianti, 2003). Klasifikasi tanaman uwi menurut Backer dan Bakhuizen (1965) adalah sebagai berikut :

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Lilopsida Ordo : Liliales

Famili : Dioscoreaceae Genus : Dioscorea

Spesies : Dioscorea alata L.

(a) (b)

commit to user

Di desa-desa, uwi dianggap sebagai sumber pangan. Penggunaan masa kini bahkan dipakai sebagai komponen rasa bagi es krim, susu, dan kue tart (Lingga, 1992). Umbi uwi selain sebagai sumber pangan juga dapat dimanfaatkan untuk obat bahkan dapat diambil senyawa diosgenin atau solasodinnya untuk bahan baku sintesa hormon steroid untuk obat konstrasepsi oral, hormon seks dan kortikosteroid (Lingga, 1992). Umbi uwi berkhasiat sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Hasil penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa pada genus

Dioscorea dilaporkan spesies D. sylvatica dan D. dregeana mempunyai aktivitas

antibakteri terhadap Escherichia coli, sedangkan D. alata kurang efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri tersebut (Onwueme, 1978).

Dokumen terkait