BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
D. Tanggapan Pemuda dan Masyarakat Terhadap Kehadiran
Temuan terakhir yang peneliti temukan dilapangan adalah ketika FOSIMA menjalankan kegiatan di masyarakat yaitu respon dari masyarakat itu sendiri menjadi motivasi bagi para pengurus karena dukungan dan support dari masyarakat sangat antusias mendukung FOSIMA untuk menjalankan kegiatannya tersebut. Namun tidak terlepas dari kekurangan dan kelebihan para anggota dan pengurus FOSIMA.
Masyarakat pada umumnya sudah banyak mengetahui atau mengenal dan memberikan respon positif terhadap keberadaan FOSIMA. Demikian
pula dengan halnya unsur pemerintahan, respon mereka sangat positif dan mnedukung kegiatan FOSIMA, walaupun dukungan itu belum sepenuhnya dari seluruh jajaran aparatur pemerintahan.
Wawancara pribadi dengan Ust. Harry Hermawan (wakil ketua FOSIMA)
Respon masyarakat terhadap fosima sangat baik, itu bisa dilihat dari beberapa indikator.
Pertama, kehadiran jamaah yang menghadiri pengajian FOSIMA yang sangat antusias.
Kedua, waraga-warga sekitar banyak yang menyumbang kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam kegiatan FOSIMA seperti finansial, konsumsi, dan sebagainya.
Selain itu mereka juga sangat antusias sekali terutama untuk program pengobatan gratis. masyarakat terhdap Fosima secara umum sangatlah
antusias. Ini bisa kita lihat dengan kehadiran mereka dalam setiap kegiatan – kegiatan Fosima, entah itu pengajian, pengobatan gratis, maupun penyuluhan narkoba. Sementara itu kalau respon aparatur pemerintah juga berjalan baik – baik saja. Sinergitas antara Fosima dan aparatur pemerintahan berjalan dengan baik. Bahkan saat milad Fosima yang dihadiri oleh Bapak Walikota Depok beliau berkata sangat gembira sekali dengan adanya Fosima di Kecamatan Sawangan dan berharap FOSIMA bisa menjadi majlis ta‟lim tingkat Kota Depok.
Wawancara pribadi dengan Ust. Zarkasyi (dewan Pembina FOSIMA)
Berdasarkan penelitian dan temuan dilapangan, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam menjalankan kegiatan dakwahnya FOSIMA juga selalu menekankan kepada para pengurus untuk tidak keluar jalur dalam visi dan misi organisasi FOSIMA, selain itu juga, Kehadiran
FOSIMA bagi masyarakat merupakan suatu hal yang sangat positif bagi para pemuda dan pemudi yang ada di Sawangan. Dengan adanya forum yang mewadahi majlis-majlis se-Kecamatan ini bisa membuat para pemuda menjadi saling mengenal satu dengan yang lainnya, membentengi para pemuda dan pemudi dari hal-hal negatif serta menguatkan majlis-majlis ta’lim yang ada di lingkungan mereka masing-masing.
74
A. Strategi Dakwah FOSIMA dalam Pembinaan Akhlak Pemuda di Kecamatan Sawangan.
Strategi merupakan suatu cara atau taktik sebuah organisasi untuk mencapai sebuah tujuan yang telah diterapkan oleh suatu organisasi tertentu. Dalam konteks dakwah, dakwah juga sangat dibutuhkan terutama bagi organisasi dakwah seperti FOSIMA yang berdomisili di Kecamatan Sawangan ini, yang merupakan bagian dari organisasi dakwah yang jamaahnya terdiri dari pemuda dan pemudi se-Kecamatan.
Satrategi dakwah pengurus FOSIMA adalah merancang, membuat ide dan gagasan baru atau inovasi yang pantas untuk diterapkan dalam melaksanakan kegiatan dakwah. Adapun tahapan-tahapan strategi dakwah yang ditempuh oleh Forum Silaturrahim Majlis (FOSIMA) dalam Pembinaan Akhlak Pemuda di Kecamatan Sawangan, sesuai dengan hasil wawancara subjek penelitian, dokumentasi dan hasil observasi ke secretariat FOSIMA di Sawangan yang telah peneliti himpun yang kemudian peneliti analisis dan olah menjadi
suatu kesatuan yang padu hingga menjadi sebuah hasil penelitian adalah sebagai berikut:
a. Perumusan Strategi Dakwah Forum Silaturrahmi Majlis dalam (FOSIMA) dalam Pembinaan Akhlak Pemuda di Kecamatan Sawangan.
Menurut Fred R David. Perumusan merupkan pengembangan visi dan misi, identifikasi peluang dan ancaman eksternal suatu organisasi, kesadaran antara kekuatan dan kelemahan internal, penetapan tujuan jangka panjang, pencarian strategi-strategi alternatif dan pemilihan strategi tertentu untuk mencapai tujuan62.
Setiap organisasi, komunitas ataupun semacamnya, biasanya dibentuk atas dasar sebuah tujuan dan cita-cita yang mereka ingin capai. Untuk mencapai tujuan yang mereka harapkan diperlukan perumusan masalah sebuah metode dan strategi yang strategis agar semua yang mereka lakukan tidak berlawanan dengan segala macam aturan yang telah ditetapkan. Hal ini biasanya dilakukan untuk menghindari konflik, meskipun sebenarnya konflik tersebut tidak akan bisa dihilangkan dalam dinamika kehidupan yang selalu dinamis.
62 Fred R David, Manajemen Strategi Konsep, (Jakarta: Salemba empat, 2012), Cet. Ke 12, h 6
Tahap pembuatan atau perumusan sebuah strategi adalah tahap yang paling menentukan keberhasilan dalam pelaksanaan sebuah strategi. Inti pokok dari tahap ini adalah menghubungkan organisasi dengan lingkungannya dan menciptakan strategi-strategi yang cocok untuk mencapai misi organisasi.
FOSIMA secara khusus merumuskan strategi dalam menjalankan kegiatan dawahnya. Khususnya pada pembinaan akhlak pemuda di Kecamatan Sawangan dengan tujuan demi mewujudkan anak muda Sawangan yang unggul, membentuk generasi yang berakhlak dan membentengi mereka dari hal-hal negatif63.
Dalam konteks dakwah, strategi juga sangat dibutuhkan terutama bagi organisasi dakwah seperti FOSIMA yang merupakan kumpulan atau gabungan yang menjadi wadah majlis ta’lim pemuda se-Kecamatan Sawangan. Adapun dalam merumuskan strategi dakwahnya FOSIMA menggunakan strategi konvensional. Yang pertama, yakni melaksanakan pengajian rutin bulanan. Strategi utama FOSIMA yakni mengadakan pengajian. Kemudian strategi kedua adalah melaksanakan kegiatan penyuluhan anti narkoba, untuk menyampaikan bahaya narkoba di
63 Profil Forum Silaturahim Majelis (Fosima) Sawangan
kalangan pemuda dan masyarakat yang ada di Kecamatan Sawangan. Kemudian yang ketiga, dengan adanya program bakti sosial pengobatan gratis untuk para duafa. Strategi ini dilakukan agar para pemuda yang mengikuti pengajian ada output yang dihasilkan buat masyarakat, yakni peduli terhadap para duafa64.
Selain perumusan strategi menurut teori Fred R David adapun asas-asas teori Asmuni Syukur yang harus di perhatikan dalam strategi dakwah yaitu yang pertama asas filosofis. Cara yang dilakukan dalam menerapkan asas filosofis FOSIMA dalam pembinaan akhlak di khususkan kepada pemuda dengan pengenalan program-program yang selalu dijalankan setiap bulannya. Pengajian untuk membentuk pribadi pemuda-pemudi yang berakhlakul karimah dan mengedepankan iman dalam setiap tindakan.
Pengobatan gratis untuk menebar kemanfaatan di masyarakat dan syiar bahwa ada forum yang peduli terhadap kesehatan masyarakat sekitar. Penyuluhan untuk membentuk generasi muda yang paham dengan bahaya narkoba sehingga muncul rasa takut untuk mendekati terlebih lagi menjadi pengguna dan juga bagi orang tua agara mereka tahu mana yang obat biasa dan narkoba sehingga mereka dapat mengontrol anak-anak mereka. UKM untuk membentuk forum
64 Wawancara pribadi dengan Ust. Aditya Nur Pratama (ketua FOSIMA), sawangan 5 Maret 2020
yang mandiri agar di setiap acara tidak banyak mengajukan proposal, sekaligus memberikan pelajaran mengelola keuangan dan bisa bertanggung jawab bagi para anggota Fosima65.
Maka dapat dipahami bahwa pada asas filosofis yang diterapkan oleh FOSIMA adalah dalam proses awal pelaksanaan yaitu mengenalkan program-program dan tujuannya terlebih dahulu agar dapat menjadi acuan bagi seluruh pengurus FOSIMA.
Asas filosofis adalah asas yang membicarakan masalah yang erat hubungannya dengan tujuan yang hendak dicapai, oleh karena itu penulis dapat menganalisis dari hasil di atas bahwa asas filosofis yang diterapkan FOSIMA bertujuan untuk menerapkan apa yang telah menjadi visi dan misi FOSIMA itu sendiri yaitu menjadikan pemuda sebagai agen perubahan pada masyarakat khususnya di masyarakat lingkungannya sendiri, membentuk generasi yang berakhlak, mencetak generasi yang kreatif dan inovatif serta membangun jiwa entrepreneur melalui ukm dan membangun jiwa kepemimpinan.
Kemudian yang kedua adalah asas sosiologis.
Dalam merumuskan strategi dakwah, FOSIMA juga
65 Wawancara Pribadi dengan Ust. Harry Hermawan (wakil ketua FOSIMA), Sawangan, 09 Januari 2019
melibatkan aparatur pemerintah, MUI, tokoh masyarakat, tokoh Agama, dan organisasi kepemudaan dan lainnya yang bersifat umum. Hal ini bertujuan agar kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh FOSIMA, strategi-strategi dakwah yang dilakukan, bisa secara massif didukung oleh seluruh stackholder terkait yang ada di kecamatan Sawangan. Karena FOSIMA dibentuk oleh rekan-rekan pemuda majelis ta’lim yang ada di Kecamatan Sawangan, pastinya target FOSIMA adalah dalam dakwah kepada para pemuda yang ada di Kecamatan Sawangan. Baik mereka yang sudah tergabung dalam pengajian majelis ta’lim ataupun yang belum tergabung dalam majelis ta’lim66.
Dewan Pembina pun senantiasa memberi masukan dalam kegiatan apapun, terutama berkaitan dengan dakwah, makna keistiqomahan harus di kedepankan, baik itu anggota maupun pengurus-pengurusnya. Dewan Pembina juga senantiasa mengingatkan bahwa yang namanya dakwah pasti ada rintangan-rintangannya. Maka dari itu dibutuhkan semangat yang tinggi serta niat yang tulus untuk berbuat dan selalu menekankan untuk menjaga persatuan dan kesatuan internal kepengurusan, Karena bagaimanapun semua program berjalan bila
66 Wawancara pribadi dengan Ust. Aditya Nur Pratama (ketua FOSIMA), sawangan 5 Maret 2020
internalnya baik. FOSIMA juga tidak bisa lepas majlis-majlis yang ada di tingkat Kelurahan dan kecamatan, maka dari itu langkah yang tepat dan utama adalah menjalin komunikasi setiap saat dengan forum-forum yang tergabung. Sebab apalah arti FOSIMA tanpa adanya majlis-majlis ditingkat Kelurahan. Selanjutnya adalah agar mereka (pengurus FOSIMA) tidak keluar dari jalur yang sudah ditetapkan dalam AD/ART FOSIMA itu sendiri 67.
Maka dapat disimpulkan dan dianalisis bahwa dalam proses pelaksanaan asas sosiologis FOSIMA selalu melibatkan aparatur pemerintah, MUI, tokoh masyarakat, tokoh Agama, dan organisasi kepemudaan dan lainnya yang bersifat umum, agar para pengurus serta anggota bisa aling berinterksi, berkomunikasi dengan baik serta menjalin silaturrahmi agar terwujudnya ukhuwah Islamiyah didalam organisasi FOSIMA.
Yang ketiga adalah asas keahlian dan kemampuan Da‟i. dalam menerapkan asas ini FOSIMA mempunyai dua penyampaian materi yaitu, materi umum dan kajian kitab tertentu. Dan terkadang materi pengajian disesuaikan dengan momentum yang ada dalam saat-saat tertentu, seperti peringatan hari
67 Wawancara pribadi dengan Ust. Zarkasyi (dewan Pembina FOSIMA), sawangan 10 mei 2020
besar Islam (PHBI), dan hari-hari nasional dan lain-lain. Adapun kitab yang menjadi kajian di FOSIMA adalah kitab Tasyriqul Kholaq yang membahas tentang akhlak, Tafsir Kautsar yang membahas tentang Tafsir Al-Qur‟an, Sulamul „Ibad yang membahas tentang Tasawuf dan kitab Arba‟in An-Nawawi yang membahas hadist-hadist. Kitab-kitab tersebut menjadi sumber rujukan yang digunakan oleh FOSIMA dan disampaikan pula oleh kiyai-kiyai yang sekaligus menjadi dewan Pembina FOSIMA68.
Maka dapat disimpulkan dan dianalisis bahwa FOSIMA tidak sembarangan menentukan Da‟i, Karena seorang Da‟i harus memiliki pengetahuan yang luas tentang materi yang disampaikannya, khususnya dikalangan pemuda dan pemudi yang ada di kecamatan Sawangan.
Kemudian yang ke empat yaitu asas psikologis. Secara sederhana psikologi disebut sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang merupakan gejala dari jiwanya. Dakwah adalah mengajak manusia ke jalan Allah agar mereka berbahagia di dunia dan akhirat. Jadi psikologi dalam dakwah adalah ilmu yang mempelajari yang
68 Wawancara pribadi dengan Ust. Aditya Nur Pratama (ketua FOSIMA), sawangan 5 Maret 2020
merupakan gejala dari jiwanya untuk diajak kejalan Allah agar berbahagia di dunia dan di akhirat.
Dalam hal ini manusia adalah makhluk yang berbeda-beda baik dalam sikap dan sifat. Dalam mengatasi hal tersebut FOSIMA selalu memberikan kegiatan-kegiatan yang mengasah atau membiasakan pemuda selalu berkegiatan yang positif seperti hal nya dalam menjalankan program pengobatan grtais.
Meskipun penerima manfat bukan dari anggota FOSIMA dan anggota FOSIMA itu hanya sebagai fasilitator, akan tetapi FOSIMA mengaharapkan agar semua anggota atau jama’ah dapat menerapkan apa yang telah disampaikan oleh para guru-guru serta tolong menolong dalam kebaikan, menambah pengalaman, menjalin hubungan dengan majlis atau lembaga lain dan saling bersinergi satu dengan yang lainnya. FOSIMA juga mempunyai program penyuluhan narkoba yang bertujuan agar terciptanya sinergitas dengan BNN kota Depok dan dapat menambah pengalaman, para anggota diharapkan ikut serta dalam memberantas dan memerangi bahaya narkoba karena saat ini informasi dari BNN pusat setiap harinya 50 orang meninggal karena narkoba di Indonesia. untuk itulah perlunya FOSIMA turut serta dalam hal ini meskipun dalam skala yang kecil. Paling tidak FOSIMA bisa membentengi yang belum terkena
narkoba jangan sampai terkena narkoba dan yang sudah menjadi korban agar bisa kembali kepada jalan yang benar. Anggota FOSIMA juga sebagai audiens agar mereka tahu bahaya narkoba69.
Maka dapat disimpulkan dan dianalisis bahwa dalam asas psikologis FOSIMA lebih menekankan kepada anggota untuk saling bergotong royong, menerapkan prilaku kehidupan sehari-hari dengan apa yang telah disampaikan oleh guru-guru dan menekankan agar anggota FOSIMA selalu berkegiatan positif baik dalam forum maupun diluar organisasi FOSIMA.
Kemudian yang terakhir adalah asas efektifitas dan efisiensi dakwah. Dalam setiap mengadakan dakwahnya, FOSIMA selalu mempertimbangkan antara keadaan, mulai dari keadaan Da‟I maupun para anggota atau Mad‟u, lingkungan dan waktu yang tersedia, agar kegiatan yang yang dilakukan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang apa diharapkan para pengurus dan dewan Pembina FOSIMA.
Maka dapat disimpulkan dan dianalisis bahwa di setiap pelaksanaan kegiatan FOSIMA selalu menyeimbangkan antara kondisi para Da‟iyah dan
69 Wawancara pribadi dengan Ust. Aditya Nur Pratama (ketua FOSIMA), sawangan 5 Maret 2020
waktu yang dilaksanakan, oleh karena itu kegiatan FOSIMA selalu diadakan pada awal dan akhir bulan.
b. Implementasi Strategi Dakwah Forum Silaturrahmi Majlis dalam (FOSIMA) dalam Pembinaan Akhlak Pemuda di Kecamatan Sawangan.
Implementasi menurut teori Fred R David sering pula disebut sebagai tindakan atau tahap aksi dalam manajemen strategi, karena implementasi berarti memobilisasi srategi yang dirumuskan untuk menjadi sebuah tindakan, proses implementasi merupakan proes yang paling penting70.
Dalam mengimplementasikan strategi dakwah, FOSIMA mempunyai program-program yang sifatnya simboltan yang dilakukan terus-menerus dan seremonial. Yang simboltan adalah pengajian bulanan, penyuluhan anti narkoba, pengobatan gratis. Adapun yang seremonial, yakni kegiatan bakti sosial peduli untuk marbot masjid atau musholla yang ada di Kecamatan Sawangan. Kemudian, kegiatan seni budaya yakni parade hadroh dan marawis untuk
70 Fred R David, Manajemen Strategi Konsep, (Jakarta: Salemba empat, 2012), Cet. Ke 12, h 7
teman-teman majelis ta’lim yang ada di Kecamatan Sawangan dan sekitarnya71.
Dalam strategi yang dilakukan yaitu dengan program yang bersifat simboltan adalah pengajian bulanan, dengan adanya pengajian bulanan ini diharapkan dapat melatih mental keagamaan dan dapat menanamkan nilai-nilai positif keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua adalah penyuluhan narkoba, mengajarkan tentang betapa pentingnya hidup sehat dan memeberikan orientasi hidup agar tidak menjadi sasaran narkoba, maka dengan adanya FOSIMA dapat memberikan jalan dan solusi bagi para pemuda agar bisa bersama-sama menghindari hal-hal yang negative serta menyibukkan diri dengan hal-hal kebaikan atau melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Kemudian yang terakhir adalah pengobatan gratis kepada para dhuafa, membuat para pemuda belajar bertanggung jawab dan melatih kepekaan terhadap lingkungan sosial, selain itu program ini juga ingin memberikan kontribusi kepada para masyarakat yang kurang mampu sehigga program-program FOSIMA dapat menyentuh semua lapisan masyarakat.
Kemudian dengan program yang bersifat seremonial, yiatu bakti sosial, dengan adanya bakti sosial dapat melatih jiwa kepedulian, sebab peduli yang positif
71 Wawancara pribadi dengan Ust. Aditya Nur Pratama (ketua FOSIMA), sawangan 5 Maret 2020
tidak muncul secara tiba-tiba melainkan harus dilatih dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Kemudian, melakukan kegiatan seni budaya, dengan adanya kegiatan ini diharapkan para pemuda agar dapat membuat dirinya menjadi lebih berani tampil di masyarakat lebih luas dan berbagi kesenangan melalui seni dan budaya.
FOSIMA selain menjadi wadah dari 104 majlis yang tergabung, tetapi memiliki program kerja yang lebih terarah, terukur dan konsistensi terhadap maslaah membentengi pemuda dari hal-hal negatif dan membina akhlak pemuda di Kecamatan Sawangan dengan pengajian bulanannya yang bertujuan untuk membentuk pribadi pemuda-pemudi yang berakhlakul karimah dan mengedepankan iman dalam setiap tindakannya.
Jadi, penenliti dapat menyimpulkan bahwa FOSIMA tidak melulu dalam hal keagamaan saja, akan tetapi FOSIMA juga menekankan kepada seluruh anggota dalam hal sosial. Peran FOSIMA juga untuk membentuk karakter pemuda yang sedang mencari jati diri. Sesuai dengan visi dan misi yaitu untuk menjadi agen perubahan, membentengi pemuda dari hal-hal negative dan menjalin ukhuwah Islamiyah sesuai dengan namanya yaitu Forum Silaturrahim Majlis.
c. Evaluasi trategi Dakwah Forum Silaturrahmi Majlis dalam (FOSIMA) dalam Pembinaan Akhlak Pemuda di Kecamatan Sawangan.
Evaluasi strategi menurut Fred R David, adalah final dalam manajemen strategi. Dalam tahapan ini, sebuah strategi akan dilihat keberhasilannya tercapai atau tidak, dan dapat diukur kembali untuk penetapan tujuan berikutnya. Tiga aktivitas fundamental evaluasi strategi adalah meninjau faktor internal dan eksternal yang merupakan basis untuk strategi saat ini, mengukur kinerja dan mengambil tindakan korektif untuk dijadikan perbaikan72
Setiap organisasi tentu menginginkan hasil yang baik, sempurna dan sesuai dengan apa yang di inginkan oleh sebuah organisasi. Dalam organisasi tidak lepas dari sebuah strategi, oleh karena itu dalam strategi antara perumusannya dengan pelaksanaannya harus berkesinambungan. Strategi yang baik jika dalam penerapannya tidak sesuai dengan strategi yang telah dirumuskan. Maka hasil yang dicapai tidak akan terarah dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sebuah organisasi.
72 Fred R David dan Forest R David, Manajemen Strategik; Suatu Pendekatan Keunggulan Bersaing-Konsep Edisi 15, (Jakarta: Salemba Empat, 2016), h. 3
Untuk menjaga keseimbangan diantara keduanya maka diperlukan evaluasi.. karena manfat adanya evaluasi dapat mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada, selain itu juga dapat memberikan penilaian terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi yang dilakukan pengurus FOSIMA dengan cara rapat antar pengurus setelah itu di musyawarahkan pada anggota.
Dalam hal ini FOSIMA mengadakan sebuah evasluasi tentang strategi dakwah dalam pembinaan akhlak pemuda diantaranya:
1. Hasil yang dicapai.
Mengenai respon yang didapat oleh FOSIMA dari jama’ah, disisi negative, FOSIMA belum pernah mendapatkannya, namun disisi lain positifnya memberikan pengaruh yang sangat besar, setiap kegiatan dakwah yang dilaksanakan FOSIMA untuk menyampaikan syiar Agama Islam.
Tingkat pemahaman para jama’ah atau angota tentu banyak perubahan yang terjadi pada mereka, para jama’ah pun sangat antusias sekali dalam setiap kegiatan-kegiatan, baik itu pengajian, pengobatan gratis, maupun penyuluhan narkoba. Sedikit demi sedikit
mereka mengalami perubahan positif setelah mengikuti kegiatan. Maka dari itu kita bisa melihat bagaimana tingkat pengetahuan terhadap ajaran Islam dan bagaimana pengalamannya walaupun terhadap kehidupannya sehari-harinya tidak mengetahui seutuhnya, terutama terhadap prilaku jama’ah atau anggota yang mengalami perubahan dari prilaku yang belum Islami menjadi Islami, seperti cara berpakaian yang sebelumnya belum menutup aurat dalam kesehariannya, menjaga sopan santun, lalu cara menghadapi permasalahan dalam memberikan pendapat dalam musyawarah dapat menyikapi permasalahan dengan baik, respon dari aparatur pemerintah juga berjalan dengan baik.
Bahkan pada saat milad FOSIMA yang di hadiri oleh Bapak Walikota Depok beliau berkata sangat gembira dengan adanya FOSIMA di Kecamatan Sawangan dan berharap FOSIMA bisa menjadi Majlis tingkat Kota Depok73.
73 Wawancara pribadi dengan Ust. Zarkasyi (dewan Pembina FOSIMA), sawangan 10 mei 2020
2. Sumber Daya Manusia.
Meninjau sumber daya manusia yang menjadi asumsi dasar pada penerapan strategi dakwah FOSIMA dalam pembinaan akhlak pemuda di Kecamatan Sawangan. Adapun kondisi, waktu dan lingkungan adalah masalah yang harus dipecahkan dan diselesaikan. Maka tindakan akan menjadi suatu harapan dari suatu pencapaian tujuan.
Dari berbagai strategi yang telah dilakukan FOSIMA di Kecamatan Sawangan, maka dapat dilihat apakah strategi itu sudah tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan atau belum mencapai tujuan dari program tersebut. Diantaranya evaluasi tentang penialaian program dan inovasi-inovasi yang memang harus lebih secara massif dilaksanakan oleh FOSIMA untuk dapat merangkul para pemuda dan pemudi yang ada di Kecamatan Sawangan74.
Adapun FOSIMA dalam membentuk pribadi muslim yang ber-akhlakul karimah, menjalin Ukhuwah Islamiyah sesama anggota dan masyarakat, meningkatkan kualitas dan
74 Wawancara pribadi dengan Ust. Aditya Nur Pratama (ketua FOSIMA), sawangan 5 Maret 2020
kuantitas sumber daya manusia yang mempunyai nilai-nilai keagamaan dan budi pekerti. Dalam hal ini dapat dilihat pada kegiatan bulanan FOSIMA di Kecamatan Sawangan, salah satunya adalah pengajian bulanan. Kegiatan pengajian bulanan di setiap bulannya da‟I yang menyampaikan materinya selalu berbeda-beda, hal ini tentu tentunya memperhatikan kondisi para da‟I yang akan menyampaikan materinya. Kemudian dari segi jama’ah atau anggota, ada beberapa alasan mengapa setiap kegiatan pengajian dilaksanakan di akhir bulan, karena untuk memaksimalkan kegiatan yang lainnya yang dilakukan FOSIMA yaitu pengobatan gratis dan penyuluhan narkoba.
Strategi dakwah bisa disebut efisien
Strategi dakwah bisa disebut efisien